eclairedelange

i write.

tw // implied domestic abuse . ps. excuse typo it's so hard for me to concentrate lately x


Jeongguk menghela napas berat saat dia membanting pintu mobilnya menutup dengan lelah. Dia tidak sempat menceritakan apa pun yang dikatakan Hendra pada Taehyung karena lelaki itu terburu-buru; menyesali bagaimana Jeongguk menghabiskan waktu mereka yang berharga untuk meledakkan amarahnya. Dia mengusap wajahnya ketika meraih tasnya yang terisi pakaian kotor di jok belakang dengan resah—dokumen mereka juga sudah disimpannya di sana, akan diamankan di kamarnya setelah ini.

Taehyung hanya sempat menceritakan bagaimana hari itu dia menemani Devy ke salon tempat mereka menyewa pakaian untuk pernikahan mereka. Sesi foto pra-pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah resepsi. Juga mengeluhkan bagaimana orang-orang berpikir bahwa Devy sudah hamil, itulah alasan mengapa mereka terburu-buru menikah dan membicarakan perbedaan usia mereka. Jeongguk mendengarkan sambil mengemudi, tidak yakin apa yang harus dirasakannya sekarang dengan begitu banyak informasi berkecamuk di kepalanya.

Apa yang ingin kaukatakan tentang Hendra?” Tanya Taehyung kemudian setelah dia selesai bercerita ketika Jeongguk mengemudi di jalan utama Denpasar-Karangasem yang mulai lenggang.

Dia baru menarik napas, hendak menceritakan apa yang dikatakan Hendra ketika dia mendengar Taehyung terkesiap keras. Dia bergidik saat suara ayah Taehyung terdengar dari seberang.

Tidur.” Hanya itu yang dikatakannya, dengan kekuatan dominasi yang tiba hingga ke seberang sambungan telepon.

Jeongguk mengencangkan genggamannya di roda kemudi hingga buku-buku jemarinya memutih. Umpatan apa pun sudah sama sekali tidak bisa mewakili amarah yang bergolak di dasar perutnya, menyakiti ulu hatinya.

Telepon pekerjaan, sebentar.” Sahut Taehyung, terdengar tegang dan... ketakutan. Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Aku akan segera menyelesaikannya.” Tambahnya lalu hanya untuk menambah kengeriannya, Taehyung berkata padanya dengan nada kering: “Baiklah, Hoseok. Kau bisa memberi tahuku segalanya besok. Saya harus mengerjakan sesuatu. Terima kasih. Selamat malam.” Dan mematikan panggilan mereka.

Pesan muncul semenit kemudian: “Ajung tidak akan pergi sebelum aku mematikan ponsel. Maaf.”

Jeongguk mendesah frustrasi. Haruskah dia menghubungi Lakshmi walaupun hatinya menolak percaya pada perempuan itu? Memberi tahunya segala hal tentang Devy yang selama ini menyusup ke keluarga mereka seperti domba betina? Atau... apakah Devy tahu segala rencana ayahnya ini? Kenapa dia bisa sangat.... terobsesi pada Taehyung?

Dia melangkah melewati jalan setapak dari garasi ke halaman rumahnya yang sunyi sambil memijat pelipisnya dengan lelah. Kedua orang tuanya pasti sudah tidur dan dia menoleh ke kamar Yugyeom, menemukan lampunya menyala dan pintunya terkuak sedikit. Hatinya terasa sedikit ringan, ada Yugyeom. Setidaknya ada satu hal yang normal di hidupnya—camilan malam dengan Yugyeom.

Dia tersenyum, menjentikkan lidahnya ke langit-langit mulutnya—menciptakan suara 'tok!' nyaring sebagai isyarat memanggil Yugyeom. Jeongguk terhibur ketika melihat pintu bergegas dibuka dan adiknya menatapnya—ceria dengan rambut kusut dan senyuman lebar. Yugyeom melambai, nampak sangat senang melihatnya pulang.

Jeongguk lelah sekali hari itu dan memutuskan menggunakan adiknya untuk mengubur kelelahan itu, mengalihkan pikirannya dari segala kesintingan hari itu. Taehyung tidak menghubunginya lagi dan pesan yang dikirim Jeongguk padanya tidak terkirim. Dia meletakkan tasnya di kasur, menyimpan ponselnya di atas nakas lalu keluar kamarnya persis ketika Yugyeom berlari menyeberangi halaman rumah mereka ke arahnya. Jeongguk tersenyum, merangkul adiknya. Dia tidak ingin memikirkan Taehyung, sejenak saja karena dia sungguh kelelahan dengan isi kepalanya sendiri.

Mereka akan kabur dua hari lagi namun Jeongguk tidak merasa mereka dekat dengan siap. Termasuk bagaimana Taehyung jarang menghubunginya. Dia mendesah, menggelengkan kepalanya dan memfokuskan dirinya pada Yugyeom di sisinya. Pemuda itu sudah beraroma keringat dewasa dan parfum maskulin, tidak lagi aroma bayi dan minyak telonnya yang sejak dulu menempel di Jeongguk. Adiknya sudah sangat dewasa dan Jeongguk bangga karenanya.

“Sudah membeli kornet?” Tanyanya, mengusap sayang rambut adiknya yang sedikit lagi sudah akan tumbuh menyamai tinggi badannya.

“Sudah!” Yugyeom terkekeh, melangkah di sisinya dengan tas belanja di tangannya yang terisi mie instan, kornet, dan sosis.

Sejak dia tahu kakaknya akan meninggalkannya, Yugyeom bersikap sangat manja padanya. Selalu berada di sekitarnya, selalu bertanya apakah dia pulang malam itu, tidak akan tidur sebelum kakaknya pulang. Itu membuat Jeongguk merasa semakin berat meninggalkan adiknya. Namun Jeongguk jika tidak bisa bertahan di tempat yang membuatnya tidak bahagia demi orang lain yang bukan dirinya sendiri. Yugyeom mungkin harus belajar untuk mengikhlaskan bahwa dalam hidup, dia tidak bisa memiliki segala yang diinginkannya.

Mereka mengendap ke dapur lalu Yugyeom mengeluarkan dua bungkus mie instan dari kantung belanja. Jeongguk menyiapkan panci di atas kompor dan menyiapkan bahan tambahan dalam mie instan mereka: sayuran dan cabai. Yugyeom di sisinya, menolak menunggu seperti biasanya dan membantu kakaknya mengerjakan makanan ilegal mereka. Dia meletakkan dua mangkuk di atas meja makan, menuang bumbu instan ke dalamnya dan memotong-motong cabai.

“Apa yang kaulakukan seharian?” Tanya Jeongguk seraya menunggu air mendidih.

“Mencari pekerjaan.” Gerutu Yugyeom dan Jeongguk terkekeh. Adiknya sempat magang di Kementerian Pariwisata namun ayah mereka tidak mengizinkannya bekerja di sana dan fakta itu membuat Yugyeom jengkel sekali.

“Melamar di tempat bagus?” Tanyanya lagi.

Yugyeom mengangguk. “Ada beberapa, tapi aku tidak yakin mendapatkan panggilan.” Dia mengerutkan alis.

Be gentle on yourself,” Jeongguk mengusap kepalanya sayang. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Mungkin tempat-tempat itu tidak akan memberikanmu pelajaran sehingga Tuhan menjauhkannya.”

Yugyeom mencibir, masih tidak terima namun mengangguk seraya membawa sayuran ke bawah air untuk dicuci. Jeongguk tergelak saat air di dalam panci menggelegak. Maka dia memasukkan dua mie mereka ke dalam air yang mendidih ketika seseorang berdeham. Mereka terkesiap keras dan menoleh bersamaan, menemukan ayah mereka berdiri di pintu masuk dengan pakaian tidur dan rambut yang menempel di sisi kepalanya—baru bangun.

Keduanya menahan napas, saling melirik dan Jeongguk sudah meraih tangan adiknya—hendak melindunginya, mengakui bahwa itu semua salahnya. Ada dua mangkuk terisi bumbu dan potongan cabai di meja makan. Jeongguk merebus mie dan Yugyeom mencuci sayuran. Ayah mereka tahu apa yang mereka lakukan, tidak ada cara untuk menghindar.

Namun ayah mereka melangkah ke dispenser di kulkas. “Ajung tahu kalian melakukan ini setiap malam.” Katanya setengah mengantuk dan mengisi gelas dengan air hangat. “Tidak apa-apa, bereskan setelah memasak agar Biang tidak tahu.” Dia meneguk airnya sebelum meletakkan gelas di bak cuci dan menguap seraya melangkah keluar.

Dia berhenti di depan pintu dan tersenyum tipis, menatap Jeongguk persis di matanya hingga Jeongguk berjengit kaget, jantungnya mencelos dan Yugyeom menggenggam tangannya di balik punggung mereka.

Namun ayah mereka hanya menguap kecil dan melirik panci di kompor, airnya mendidih. “Awas mienya lepah, Gung.” Kemudian berlalu dari sana, tanpa menoleh lagi.

Jeongguk berdiri di sana, terbelalak kaget. Itu pertama kalinya ayah mereka bicara padanya dengan nada lembut dan bergurau dengannya. Otaknya tidak bisa memproses ekspresi ayahnya sama sekali, tatapannya dan nada suaranya. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menjadi perhatian dan lembut padanya persis dua hari sebelum Jeongguk kabur?

“Wow. Itu sungguh Ajung?” Bisik Yugyeom setelah mereka bersidiam beberapa menit yang terasa panjang. “Kenapa dia...?”

Jeongguk menggeleng, karena dia juga sama sekali tidak paham. “Entahlah.” Bisiknya, merasakan hentakan aneh di hatinya—memikirkan dalam dua hari, dia tidak akan ada di rumah ini lagi. Meninggalkan segala identitas dan jati dirinya.

Juga orang tuanya.

“Entahlah.” Bisiknya, masih terpana.


Jeongguk membongkar dokumen mereka malam itu setelah membereskan makan malam mereka sebelum mandi: semuanya lengkap. Mereka memiliki nama baru, KTP baru, SIM A dan C. Dia duduk di kasurnya, menatap akta lahir baru mereka dengan perasaan tidak menentu.

Ayahnya bersikap lembut padanya tadi mengguncangkan pertahanan dirinya. Apakah dia menyadari Jeongguk sebentar lagi akan hengkang dari rumah ini sehingga dia bersikap lembut? Apakah alam bawah sadarnya menyadari niat Jeongguk? Menyadari bahwa dia mungkin tidak akan bertemu anak sulungnya lagi?

Jeongguk menatap wajah Taehyung di KTP-nya. Jeongguk memilihkan nama untuk Taehyung: Yudistira. Kakak tertua dalam Pandawa Lima, kakak Jeongguk dan berharap Taehyung tidak akan membuat keputusan yang sama seperti Yudistira saat mempertaruhkan istri dan kerajaannya di meja judi. Sementara Jeongguk menggunakan nama kakeknya, Raka. Tidak banyak kenangan tentang kakeknya namun Jeongguk selalu ingat bagaimana kakeknya menawarinya makan setiap dia melewati rumah kakeknya.

“Gung, sudah makan? Ayo, makan.”

Tidak peduli berapa kali Jeongguk lewat di depan rumahnya, kakeknya akan terus menawarinya hal yang sama. Jeongguk menyesal dia hanya pernah makan di dapur kakeknya sekali sebelum beliau meninggal. Tapi sekali lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dia menatap nama baru Taehyung, Yudistira Mahattma dan nama barunya, Raka Satria. Mereka mengambil nama belakang, menghilangkan nama keluarga dan gelar bangsawan mereka. Bahkan tidak menggunakan nama Bali. Karena dia mengundurkan diri dari Amankila secara baik-baik, dia mungkin akan menggunakan kesempatan itu untuk melamar di properti Aman lain. Dia belum tahu mengenai Taehyung; apakah dia sudah mengundurkan diri? Taehyung jauh lebih senior dari Jeongguk, dia akan lebih mudah mendapat pekerjaan karena jam terbangnya.

Jeongguk menggertakkan giginya. Semakin dekat dengan hari keberangkatan, Jeongguk malah semakin menyadari bahwa ada banyak sekali hal yang mereka belum selesaikan dan itu membuatnya cemas serta gugup. Mengingat cerita Hendra, Jeongguk tidak mau Taehyung terjebak dalam pernikahan itu—tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan dilakukan ayah Devy pada Taehyung.

Atau apakah kematian akan menghentikan Taehyung dari membalaskan dendamnya pada Devy.

Jeongguk memijat pelipisnya. Mereka tidak bisa gagal sekarang. Mereka harus kabur dan Jeongguk merasa mual memikirkannya. Kepalanya berdenyut; Taehyung yang menjaga jarak, persiapan mereka yang alih-alih semakin lengkap malah semakin berkurang, kegelisahannya pada perpindahan mendadak mereka—adaptasi di tempat baru, mencari pekerjaan lagi, membangun hidup baru...

Jeongguk bisa meledak.

Dia meraih ponselnya, menghela napas ketika tidak melihat pemberitahuan dari Taehyung namun tetap membuka ruang obrolannya dengan kekasihnya. Dia menatap wajah kekasihnya di foto dengan resah dan mencoba menekan perasaan gelisah di otaknya. Apakah mereka akan baik-baik saja? Bisakah mereka melakukan ini? Mengapa perasaan berat aneh ini menggelayuti Jeongguk terus menerus?

Haruskah mereka melakukannya....?

Jeongguk mengetik dengan perasaan hampa: Alih-alih semakin siap, aku merasa semakin ragu. Bagaimana ini?


*Lepah: terlalu matang, lembek

tw // mention of bully , anxiety , manipulation , revenge , anger , mention of domestic and physical abuse .

ps. baca pelan-pelan yaa, this one is disgusting :( take care of yourself! <3


Jeongguk menatap Hendra dengan alis berkerut, mengamati wajahnya yang berkerut oleh ekspresi jijik yang membuat perutnya mual. “Apa... Ada apa di antara mereka?” Tanyanya, mendesak.

Hendra melirik jalanan, “Ceritanya lumayan panjang. Jika kau mau, kita bisa duduk di dalam. Akan kubuatkan minum, lebih nyaman” Dia menatap Jeongguk yang menggeleng tegas, dia mengulurkan tangan dan menyalakan lampu kabin lalu membuka pintu mobilnya.

“Tidak perlu repot-repot. Ceritakan saja di sini.” Dia mematikan mesin mobilnya, siap mendengarkan. Mengepalkan tangannya di atas dokumen penting mereka, kertas yang akan mengantarkan mereka dengan selamat keluar dari Bali.

Hendra mengikuti gerakannya dengan membuka pintu mobilnya juga, duduk di atas kursi penumpang sementara udara malam menyusup ke dalam menggantikan fungsi penyejuk. Dia berdeham, sejenak tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan Jeongguk menunggu—menatapnya lekat hingga dia sejenak rikuh.

“Jadi,” Hendra berdeham. “Kakekku sudah mengenal mereka berdua sejak kecil. Kau tahu, lingkungan ini kecil sekali. Kakekku kenal dengan kakek Taehyung, orang tuaku kenal dengan mereka. Mereka dulu bersekolah di tempat yang sama,” dia melirik Jeongguk yang tidak menatapnya—dia menatap lurus ke jalanan, mencoba mencerna cerita itu dengan perlahan.

“Ada banyak cerita mengenai mereka berdua, salah satunya adalah bagaimana ayah Devy selalu membuli ayah Taehyung.”

Alis Jeongguk berkerut, dia melirik Hendra yang balas menatapnya dan mengedikkan bahunya perlahan. “Menurut kakekku, ayah Devy bersikap angkuh karena berasal dari griya besar di wilayah ini. Membuatnya merasa bahwa semua orang harus tunduk padanya. Sementara ayah Taehyung itu adalah anak lelaki kedua, dia bukan pewaris. Walaupun berasal dari Puri besar, dia bukan pewaris sementara ayah Devy adalah pewaris. Menurut ayah Devy, status sosial mereka berebeda.

“Jadi begitulah hubungan mereka dimulai. Ayah Devy terlalu banyak mengatakan hal-hal yang tidak perlu pada ayah Taehyung. Mengejeknya, mengata-katainya. Hal-hal semacam itu, kau tahu bagaimana bajingan bersikap. Kata kakekku, ayah Taehyung itu anak yang pendiam dan pemalu sejak dulu—dia anak kecil yang lebih banyak diam membantu orang tuanya, penurut dan mudah diberi tahu. Tidak banyak bicara, tidak pernah menangis juga.”

Jeongguk teringat satu-satunya kenangannya tentang ayah Taehyung, ketika dia tergencet di bawah ranjang Taehyung—mendengarkan suara dan keberadaannya yang sangat mendominasi, mustahil diabaikan lalu menyadari bagaimana gambaran masa mudanya terdengar sama sekali tidak seperti dirinya sekarang. Apa yang dilakukannya hingga dia bisa menjadi seperti sekarang....?

“Mereka menghabiskan masa muda dalam keadaan itu, ayah Devy merasa di atas awan karena ayah Taehyung tidak pernah melawan. Namun sekali waktu, ayah Taehyung memukulnya—mungkin karena sudah muak berdiam diri dan lelah direndahkan.”

Jeongguk menatap Hendra yang meringis. “Memukul yang kumaksud di sini bukanlah pukulan anak muda yang bisa sembuh dalam empat hari. Dia benar-benar memukul ayah Devy—begitu kuatnya hingga hidungnya patah.”

Napas Jeongguk tercekat, dia percaya itu jika menilai memar di wajah Taehyung tiap kali ayahnya marah atau juga memar di perutnya ketika ayahnya menendangnya. Dia paham mungkin betapa diamnya dia adalah pertanda bahwa dia memiliki isu serius tentang amarahnya—persis Taehyung di masa awal mereka berkenalan. Diam, serius, dan hanya akan membuka mulut untuk membentak atau mengeluarkan umpatan.

Bersyukur Taehyung menyelamatkan dirinya tepat waktu.

“Dari sana hubungan mereka semakin menjadi-jadi. Ayah Devy yang tersinggung karena pukulan itu malah semakin membulinya. Mengerahkan semua teman-temannya untuk memojokkan ayah Taehyung—mengeroyoknya.” Hendra melanjutkan, suranya mulai semakin memelan. “Kakekku tidak menjelaskannya dengan detail. Kemudian karena ayah Taehyung karena menyadari dia tidak bisa menjadi pewaris, melakukan segala yang diinginkannya termasuk menghamili ibu Taehyung dan menikahinya.

“Dia tidak peduli anak pertamanya Astra, toh dia bukan pewaris. Dia sudah siap pergi dari Puri, keluar dengan keluarganya ketika kakak ayah Taehyung meninggal dalam kecelakaan tunggal sebelum menikah dan dia melihat sebuah kesempatan.

“Maka dia menciptakan keributan dengan memaksakan kehendaknya menjadi pewaris. Dia mendebat semua orang, bahkan ayahnya sendiri dan mendesak mereka menjadikannya pewaris. Puri sempat ribut ketika itu. Kurasa usia Taehyung dan kakaknya mungkin baru 12 dan 11 tahun. Dan beberapa tahun kemudian, ayah Devy dikeluarkan dari griya, tidak bisa menjadi pewaris karena menikahi perempuan yang bukan Brahmana.”

Apa?” Sela Jeongguk, mengerutkan alis. “Setahuku ibu Devy itu... Brahmana? Devy memanggilnya Biang?”

Hendra menggeleng, “Itu hanya akal-akalan ayah Devy karena selama ini menyombongkan diri pada semua orang dia adalah pewaris. Dia akan menjadi pedanda dan semacamnya. Mungkin harga dirinya tidak terima jika dia harus keluar dari griya maka dia memanipulasi hidupnya sesuai dengan kehidupan yang diinginkannya. Semacam membohongi dirinya sendiri.”

Dia menarik napas, “Kabar lain yang beredar, Devy itu Astra.”

Jeongguk menahan napasnya, menatap Hendra yang mengangguk—nampak serius dan sama sekali tidak bercanda. “Apa-apaan....?”

“Kabarnya dia menikahi istrinya dalam keadaan hamil tiga minggu—belum terlalu besar untuk dilihat dari perutnya. Tidak ada yang tahu selain bidan yang membantunya melahirkan. Dia menghitung kehamilannya. Mereka bilang kelahirannya prematur padahal sebenarnya terlambat beberapa hari.”

“Devy....” Jeongguk menggeleng, berusaha memproses segalanya. “Astra?” Dia tidak mengenali suaranya sendiri ketika mengatakannya. Devy selama ini... Astra?

Hendra mengangguk.

“Tapi dia...,” Jeongguk mengerutkan alisnya—otaknya tidak bisa memikirkannya. “Namanya Ida Ayu?”

Hendra kembali mengangguk seperti boneka di dasbor mobil. “Itu hanyalah salah satu dari agenda yang digunakan ayahnya untuk membentuk kehidupan yang diidamkannya. Dia memberi nama anaknya Ida Ayu walaupun dia dan istrinya tahu anak mereka Astra.” Dia menarik napas. “Membuat kehidupannya seolah mereka berada di griya, hidup sebagai keluarga Brahmana. Lalu kemudian dia menyadari bahwa dia bisa mendapatkan posisi di masyarakat—setidaknya anaknya, melalui ayah Taehyung.”

Jeongguk tahu arah pembicaraan ini dan dia tidak menyukainya. Wajahnya pasti menampakkan isi hatinya karena di hadapannya Hendra juga meringis. “Aku tahu,” gumamnya setuju dengan lirih.

“Dan dari sanalah semuanya bermula. Kata kakekku, ayah Devy mengancam ayah Taehyung. Namun kau tahu bagaimana mereka saling menonjok, 'kan? Ayah Taehyung tidak lagi terpengaruh. Dia sekarang berani melawan dan sudah menjadi pewaris, juga tahu bahwa ayah Devy tidak lagi memiliki posisi untuk menjatuhkannya.

“Maka ayah Devy melakukan cara kotor dengan menyebarkan berita-berita.”

Jeongguk bersandar di kursinya, bernapas melalui mulutnya karena merasa mual. Semua berita tentang Lakshmi, semua berita tentang keluarga Taehyung—semua kabar busuk yang beredar lalu mereda ketika Taehyung bertunangan dengan Devy. Semuanya mulai perlahan terkait dengan perlahan. Jeongguk memijat keningnya—apakah Taehyung mengetahui ini?

“Kabar lainnya, ayah Taehyung juga terlilit hutang besar.” Lanjut Hendra sementara kepala Jeongguk berdenyut mengerikan. Suaranya terdengar sayup-sayup seolah sedang bicara dari kejauhan. “Aku tidak tahu untuk apa dan berapa banyak hutang ini, namun ayah Devy menggunakan hutang itu selama bertahun-tahun sebagai tali laso ayah Taehyung—menarik dan mengendurkannya kapan saja dia ingin.”

“Kau mungkin bertanya, kenapa dia tidak berusaha membayarnya?” Lanjut Hendra sebelum Jeongguk sempat menanggapi kalimatnya. “Tentu saja sudah, ayah Taehyung dengan dua anak bekerja dengan level executive? Tentu saja bisa. Namun entah bagaimana ayah Devy selalu berhasil menolak uang itu dan membalikkan keadaan—hutang ayah Taehyung hanya akan lunas jika anak mereka menikah.

“Dengan begitu, dia akan memiliki posisi lagi di masyarakat. Anaknya akan menjadi istri pewaris Puri besar Klungkung, harga dirinya akan naik. Dan dia memastikan—memaksa ayah Taehyung untuk memastikan Taehyung akan menjadi pewaris.

“Dan menurut kakekku, kurasa ancaman ini sudah berlangsung cukup lama karena ayah Taehyung terkenal ke sekitar sini memaksakan anaknya menjadi pewaris ketika dia sama sekali tidak memenuhi kriteria—ibunya Sudra, kakaknya Astra. Sepupunya yang harusnya menjadi pewaris, namun ayah Taehyung bersikeras—menciptakan kekacauan Puri lagi.”

“Dan semuanya,” Jeongguk memijat keningnya—merasa mual, dia butuh berbaring dan memejamkan mata untuk memproses segalanya. “Semuanya karena ayah Devy ingin anaknya memiliki posisi...?”

Hendra mengangguk perlahan. “Dia tidak ingin anaknya menyadari bahwa dia seorang Astra. Tidak ada yang tahu memang dan dia ingin memberikan posisi penting untuk anaknya di masyarakat—ingin memposisikan dirinya di atas kembali.”

Jeongguk menelan asam lambungnya. Sudahkah dia makan hari ini? Makanan apa yang terakhir ditelannya selain kekhawatiran karena Taehyung belum menghubunginya? Dan sekarang semua informasi dari Hendra membuat isi perutnya memberontak ingin keluar. Selama ini mereka semua dimanipulasi, Taehyung secara harfiah dijual oleh ayahnya pada lelaki yang memandangnya tidak lebih sebagai cara untuk mengembalikan drajatnya di masyarakat. Membohonginya tentang status Astra anaknya demi itu. Bangsat manipulatif yang berhalusinasi tentang kehidupan yang sudah bukan miliknya.

Jeongguk mual.

“Dia menekan semua orang untuk itu dan aku tidak paham kenapa ayah Taehyung tidak melakukan apa pun....” Bisik Hendra dan Jeongguk menggeleng—dia tahu.

Ayah Taehyung selama ini dibungkam, dibuli oleh ayah Devy—sejak mereka muda. Dan tidak mungkin jika dia tidak trauma atas itu lalu memproyeksikan rasa sakit hatinya pada Taehyung—melampiaskan segala ketakutan dan kemarahannya karena tidak bisa melawan ke anak-anaknya. Dia melemparkan semua amarahnya pada ayah Devy ke keluarganya—anak dan istrinya. Dia monster rusak dengan isu emosional dan menciptakan monster yang sama pada anaknya. Kebenciannya pada ayah Devy diturunkan ke Taehyung, membuatnya sama pahit dan getir dengan ayahnya.

Ayah Devy juga mungkin tidak menyadari bahwa dia baru saja melemparkan anaknya ke kandang singa. Pada binatang buas penuh luka yang siap mencabik siapa saja yang berada dalam jangkauannya—dia pernah mencabik-cabik Jeongguk, meremukkannya di kedua tangannya. Dan Jeongguk tidak ingin membayangkan apa yang mungkin dilakukan Taehyung pada Devy untuk membalaskan dendamnya pada ayahnya. Siklus yang harus dihentikan jika tidak ingin ada korban emosional yang sama. Mereka saling melampiaskan dendam dan amarah pada orang yang salah.

Namun kemudian Jeongguk berhenti. Apakah ayah Taehyung sengaja menciptakan monster untuk menikahi Devy dengan tujuan membalaskan dendamnya pada ayah Devy...?

Jeongguk berdeguk, asam lambungnya mulai terasa di rongga mulutnya.

Hendra di sisinya menghela napas, “Sudah kukatakan...,” bisiknya lirih. “It's pretty disgusting.”

Dia akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya.

Jeongguk mual. Tidakkah mereka menyadari apa yang sedang mereka lakukan sekarang kepada kedua anak mereka? Tidakkah mereka menyadari kerusakan emosional apa yang mereka lakukan pada Taehyung selama ini? Membuatnya menderita karena pertikaian yang bahkan tidak diketahuinya? Membuat Lakshmi harus menjalani hari-harinya dalam hinaan yang sama sekali tidak dipahaminya? Dia percaya bahwa dia Astra yang tidak memiliki harga diri karenanya dan hal yang lebih menjijikkan bagaimana dia merasa lebih rendah dari Devy yang ternyata juga seorang Astra.

Tidakkah mereka menyadari bahwa bayaran atas pertikaian kekanak-kanakan mereka terlalu mahal??

Jeongguk menghubungi Taehyung setelahnya, seraya meluncur dengan kecepatan di atas biasanya dengan rasa amarah menggelegak di dasar perutnya. Keterlaluan. Orang tua Taehyung dan Devy benar-benar keterlaluan! Jeongguk melempar ponselnya dengan marah ke kursi penumpang ketika Taehyung tidak mengangkatnya.

“Bangsat!” Ludahnya penuh emosi, membelok ke arah jalan utama dengan emosi yang membumbung seperti api. “Bangsat, bangsat!” Jeongguk memukul roda kemudinya dengan kepalan tangan, membuat klaksonnya menjerit lebih keras. Beberapa pengemudi sepeda motor terlonjak dan bergegas menyingkir sambil meneriakinya dengan umpatan tapi Jeongguk tidak peduli.

Dia membelok ke arah rumah Taehyung, tidak benar-benar memerhatikan. Beberapa meter dari Puri Taehyung, dia sudah bisa melihat pepohonan raksasa dan atap rumahnya ketika mendadak amarahnya padam seperti lampu yang dimatikan. Jeongguk mengangkat kakinya dari pedal gas, membiarkan mobilnya bergulir memelan dan meluncur ke tepi jalan.

Jeongguk melayangkan pukulan ke roda kemudinya sekali lagi hingga terdengar suara duk! keras dan rasa sakit menjalar di buku jemarinya sebelum menumpukan keningnya di sana—bernapas melalui mulutnya. Dia memejamkan matanya—dia tidak bisa mengorbankan segalanya sekarang. Jika dia muncul di Puri Taehyung maka ayahnya akan mengetahui kedatangannya.

Dia tidak mau mengacaukan rencana Taehyung.

Namun dia juga ingin Taehyung tahu apa yang diketahuinya.

Dia mengerang panjang di mobil yang menyala di pinggir jalan dan memijat kepalanya yang terasa berdenyut mengerikan. Jeongguk kelelahan, cemas dan belum makan. Dia merasa tubuhnya tercabik-cabik dan remuk karenanya.

Ponselnya berdenting dan kepalanya terangkat, menoleh dengan mata buram oleh air mata ke layar ponselnya yang menyala. Dia membersit kecil, mengerjapkan mata untuk mengenyahkan air mata dari matanya saat mengulurkan tangan meraih ponselnya. Dia mengerjap beberapa kali menjernihkan pandangannya sebelum berhasil membaca notifikasi.

Taehyung.

Aku punya tiga puluh menit, ayo telepon. Aku sangat merindukanmu, demi Tuhan aku bisa mati.

*

tw // insecurity , anxiety . ps. unedited, excuse typo qiqiqi x


Jeongguk tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya sama sekali belakangan ini. Otaknya terbelah memikirkan masa depan mereka dan Taehyung yang belakangan ini semakin sulit dihubungi. Mereka belum pernah bertatap muka lagi sejak terakhir mereka bertemu, sejak terakhir Jeongguk menurunkannya di Puri pada pukul dua pagi.

Itu kali terakhir Jeongguk menatapnya, menyentuhnya, menangis bersamanya, dan menciumnya. Setelahnya hubungan mereka terasa begitu rapuh, seperti kulit ari salak yang siap robek kapan saja. Jeongguk masih menghubunginya, berusaha meneleponnya namun tiap kali mereka tersambung; entah melalui Whatsapp atau telepon konvensional pulsa, ayah Taehyung selalu mengetahuinya. Sekali bahkan ayah Taehyung mendatangi kamarnya dan Taehyung terkesiap keras, mematikan sambungan mereka secara sepihak. Hubungan mereka membuat Jeongguk frustrasi sementara dokumen mereka sudah siap.

Hari ini Jeongguk akan bertemu dengan teman Taehyung yang mengurusnya sekalian mengirimkan harga dari semua dokumen mereka—yang sama sekali tidak murah. Di titik inilah Jeongguk merasa sedikit bersyukur dia tinggal bersama orang tuanya sehingga pengeluaran untuk tempat tinggal bisa ditekan, menyisakan banyak uang yang bisa disisihkan dari gajinya. Taehyung juga sudah mulai mengiklankan motornya—sudah banyak yang menawar karena motornya yang lumayan klasik. Uangnya akan mereka gunakan untuk memulai hidup di tempat baru nantinya.

Jeongguk memijat pelipisnya, dia sedang duduk di ruangannya sementara di dapur semua commis sedang mempersiapkan bahan baku untuk makan malam nanti. Jeongguk hanya memiliki satu sesi show kitchen hari ini, nanti petang dengan tamu penting—dia akan memasak makanan mereka langsung di pinggir kolam renang. Setelahnya dia akan pergi ke Klungkung untuk mengambil dokumennya.

Dia meraih ponselnya, tidak menemukan pesan dari Taehyung sama sekali dan merasa resah. Bagaimana kekasihnya sekarang terdengar jauh lebih tenang dan menjaga jarak darinya membuat Jeongguk gelisah. Dia merasa terancam, apakah Taehyung akan membatalkan segalanya dan melakukan apa yang orang tuanya inginkan pada akhirnya? Apakah Taehyung berubah pikiran?

Taehyung terasa menjauh sekarang, tiap mereka mengobrol di telepon pun dia terdengar seolah sedang melamun—pikirannya berada di semua tempat selain di percakapannya dengan Jeongguk. Pesan-pesannya juga berjarak, membuat Jeongguk semakin dan semakin resah. Dia tidak berani ke Puri Taehyung setelah terakhir kali seseorang mengetahui plat nomor mobilnya dan menghubungi Lakshmi juga tidak ada gunanya.

Tengkuk Jeongguk sakit sekali belakangan ini karena tegang memikirkan rencana mereka yang sudah begitu dekat. Juga pernikahan Taehyung. Jeongguk meraih undangan yang disimpannya di laci kerjanya—sederhana dengan warna hijau lembut serta emas. Dia menggertakkan rahang, meremukkannya di tangannya.

Apa yang sebenarnya dipikirkan Taehyung...?

“Chef?”

Jeongguk mengerjap, mendongak dan menemukan Namjoon balas menatapnya—melirik undangan yang remuk di tangannya. Jeongguk berdeham, menghela napas dan meletakkan benda itu kembali ke lacinya. “Ya?” Tanyanya parau.

Namjoon menatapnya sejenak sebelum tersenyum kecil, “Show kitchen sudah disiapkan, Chef ingin mengeceknya?” Tanyanya—melembutkan suaranya dan Jeongguk berterima kasih atas itu.

Dia mengangguk, berdiri dan merapikan pakaiannya. “Baiklah.” Dia kemudian keluar dari mejanya dan melangkah ke arah Namjoon. Sous Chef-nya menepuk bahunya ketika dia lewat, hangat.

“Chef baik-baik saja?” Tanyanya lirih, nyaris tenggelam dalam kesibukan dapur dan Jeongguk menghela napas—merasakan desakan untuk menangis memikirkan hubungannya saat ini; segala kemungkinan yang sekarang melayang di hadapan mereka, dekat namun tak teraih.

“Jika Chef ingin pulang lebih awal, saya yang akan menggantikan sesinya.” Tambah Namjoon, menatapnya cemas dan Jeongguk menggeleng—ini tamu penting, GM sendiri yang meminta agar Jeongguk yang memasak maka dia harus bertanggung jawab.

Lagi pula belakangan ini Jeongguk lebih suka overtime di tempat kerja sehingga ketika dia pulang, dia sudah terlalu lelah untuk memikirkan sikap Taehyung yang menjauh dan hubungan mereka yang kusut. Jeongguk lebih banyak tidur sekarang, menderita kelelahan yang tidak memiliki obat sama sekali.

Jeongguk takut, jika Taehyung berubah pikiran sepenuhnya dan meninggalkannya sekarang—setelah Jeongguk mempersiapkan begitu banyak hal untuk masa depan mereka. Termasuk mencari rumah yang cocok untuk mereka di Kepulauan Riau sana melalui Verdio—meminjam namanya untuk naik di sertifikat tanah dan rumah dengan perjanjian Verdio tidak bisa menjualnya tanpa surat kuasa bermaterai dari Jeongguk. Persiapan mereka telah sejauh ini, Jeongguk tidak bisa gagal.

“Tidak,” katanya parau. “Akan saya kerjakan.” Dia mengangguk lalu melangkah melewati Namjoon—tidak lagi menoleh karena takut jika dia menatap rasa kasihan dan simpati di matanya, Jeongguk akan menangis.

Dia menggertakkan rahangnya ketika melangkah ke arah public area. Cuaca belakangan ini dingin sekali, matahari bersinar terik namun angin yang berdesir terasa dingin. Dia menyeberangi jembatan melayang Amankila, bertemu beberapa staf yang mengangguk padanya dan tiba di kolam renang utama mereka yang menatap lepas samudra. Angin yang bertiup terasa lembab dan dingin hingga sejenak Jeongguk bergidik dalam balutan jaket chef-nya yang lumayan tebal dan ditambah kaus dalam.

Jeongguk menuruni tangga, tersenyum pada beberapa Front Office yang menyapanya dan menghampiri show kitchen yang sedang disiapkan beberapa anak Banquet dan FB Service. Deburan air yang pasang terdengar keras dan angin juga berhembus lumayan kencang, Jeongguk takut angin akan merusak pengalaman makan tamu mereka.

“Apakah tidak ada lokasi yang tidak terlalu terbuka?” Tanyanya pada staf, melirik meja makan yang taplak mejanya berhamburan. “Saya khawatir dengan anginnya.”

FB Captain yang berada di dekatnya mengerutkan alis, jelas memikirkan hal yang sama. “Mereka pribadi memilih tempat ini, Chef.” Katanya dan Jeongguk mengernyit—merasakan apronnya yang membelit kakinya karena angin yang bertiup kencang.

“Nanti akan saya bicarakan,” Jeongguk mengangguk karena tidak mungkin mereka bisa makan dengan nyaman dalam kondisi angin yang bertiup kencang seperti ini tanpa membuat rambut mereka berhamburan dan ujung taplak meja memukul meja.

Menu hari ini tidak sulit, hanya three meal fine dining yang bisa dikerjakan sendiri oleh Jeongguk. Pembukanya dengan sup asparagus dengan daging kepiting, menu utamanya steak dengan sayuran dan mashed potato serta penutup dengan deconstructed apple crumble pie. Jeongguk bisa mengerjakan semuanya sendiri, namun dia akan ditemani CDP-nya hari ini untuk memastikan bahan bakunya siap dan segar.

Show kitchen-nya hanya berupa meja panjang bertaplak meja hitam dengan kompor portable, satu frying pan dan satu sauce pan untuk mengerjakan makanannya. Semua bahan baku akan dibawa naik dalam boks berpendingin untuk menjaga kesegarannya sementara untuk dessert, Jeongguk hanya perlu melakukan plating dari makanan yang diberikan Pastry.

Jeongguk menatap lautan lepas, memikirkan permohonan pengunduran dirinya yang sudah disetujui dan mulai over-handling pekerjaannya kepada Namjoon yang akan dipromosikan menjadi head chef setelah dia keluar. GM secara personal mendoakan karirnya kedepan dan menawarkan bantuan jika Jeongguk ingin pindah ke properti Aman lain. Jeongguk belum memikirkannya, namun berpikir dia mungkin bisa mengambil kesempatan itu—setelah duduk tenang dan segalanya damai bersama Taehyung.

Sekarang semuanya sedang kacau balau dan tumpang tindih, Jeongguk tidak yakin harus melakukan apa atau memikirkan hal lebih kompleks lagi. Dia hanya ingin secepatnya pergi dari Bali, menjauh dari segala hal yang membuatnya tidak bahagia.

Jeongguk menatap dagingnya yang mendesis di atas frying pan sementara tamu mereka menikmati wine yang dituangkan ke gelas mereka oleh FB Captain yang menjadi butler mereka hari ini. Angin ternyata mereda persis satu jam sebelum acara makan malam mereka sehingga set up bisa dilanjutkan. Dengan lilin-lilin mungil di sepanjang tepian kolam renang, lilin-lilin di atas air, mereka menikmati makan malam intim bersama dengan Jeongguk berada sekitar 20 meter jauhnya.

Jeongguk menambahkan rosemary dan bawang putih ke frying pan dan mendesah ketika aroma herba Italia membuatnya nyaman. Menggunakan sendok, dia menyiramkan campuran mentega dan minyak alami daging ke atas potongan dagingnya—memastikan campuran itu meresap sempurna ke dagingnya sebelum mengangkatnya ke transfer plate. Dia menyajikannya ke atas piring, menata makanan pendampingnya lalu mengelap pinggiran piring setelah menambahkan saus ke atasnya dan mempersilakan FB Captain menyajikannya.

Otaknya sibuk, membuatnya tidak memikirkan Taehyung yang hingga sekarang belum menghubunginya—berusaha berpikir bahwa kekasihnya sedang sibuk bekerja. Dia akan mencoba menelepon Taehyung nanti sebelum berangkat mengambil dokumen mereka. Jeongguk membereskan mejanya lalu mengangkat wajahnya, memastikan tamu mereka makan dengan nyaman. Dia punya waktu hingga waktunya menyiapkan makanan penutup.

“Syukurlah tidak hujan, ya, Chef.” CDP-nya memulai percakapan dan Jeongguk mengangguk, menatap langit yang cerah dengan bintang kemerlip di kejauhan.

“Cerah,” sahutnya setuju—walaupun hatinya berbanding terbalik dengan cuaca di sekitar mereka. Dia merindukan Taehyung, mencemaskan Taehyung, dan mengkhawatirkan hubungan mereka. Dia menghela napas. “Maaf harus menahanmu hingga malam.” Katanya pada CDP-nya yang tersenyum.

“Tidak masalah, Chef.” Sahutnya lugas. “Lagi pula saya tidak memiliki kesibukan lain setelah ini.” Dia tersenyum dan Jeongguk balas tersenyum—menyadari bahwa dia memperpanjang jam bekerjanya dengan alasan yang sama.

“Chef belakangan ini kelihatan banyak pikiran, saya harap masalah apa pun yang Chef hadapi bisa diselesaikan dengan baik.” Katanya kemudian tanpa terduga dan Jeongguk mendenguskan senyuman, memindahkan frying pan ke keranjang yang akan diangkut Steward ke bawah.

Jeongguk mengangguk, “Trims.” Dia mengerling CDP-nya sebelum kembali bekerja, tersenyum tulus.

Senyumannya pudar ketika Taehyung tidak mengangkat teleponnya.

Dia menghela napas berat—berdiri di sisi mobilnya dengan resah. Ke mana Taehyung seharian? Dia mulai berpikir ke sana kemari namun berusaha keras, menahan semuanya. Dia memasuki mobilnya, lebih baik dia pergi mengambil dokumen mereka dan mencoba menghubungi Taehyung lagi nanti.

Jeongguk melaju di jalan menuju Klungkung dengan musik sayup-sayup dari radio mobilnya—otaknya memikirkan Taehyung. Dia setuju tentang meninggalkan keluarga dalam keadaan damai, namun jika menilik siapa keluarganya, Jeongguk tidak yakin mereka akan bisa meninggalkan rumah itu dengan damai. Dia mulai tidak paham pada obsesi Taehyung yang ingin sekali menyelamatkan kakaknya padahal dia jelas tidak bisa melakukannya.

Lalu lintas mulai lenggang, Jeongguk harus berkonsentrasi karena teman perjalanannya adalah truk-truk bermuatan pasir dan batu dari Karangasem menuju Denpasar. Dia harus menghindari berada di belakang mereka terlalu lama, khususnya di kawasan berkelok Sang Hyang Ambu. Setelah lolos dari jalanan berkelok bukit itu, Jeongguk meluncur di jalan Klungkung dan membelok ke arah kota.

Dia mengecek peta digitalnya, mereka bertemu di rumahnya yang berada di Banjarangkan. Jeongguk menyalakan petanya, membiarkan suara monotun perempuan dari Google membimbingnya hingga tiba di rumah teman Taehyung. Dia seorang PNS di pengadilan tinggi Klungkung, mempermudah segala syarat mereka untuk mendapatkan berkas-berkas itu.

“Halo?” Sapanya di telepon. “Saya sudah di depan.” Katanya sebelum menuntup telepon dan bersandar di kursinya—rumahnya lenggang dan terang, nampak sepi sementara di jalanan depan ramai beberapa anak muda yang sedang terawa-tawa.

Jeongguk kembali menunggu, menatap ponselnya yang hening. Taehyung bahkan belum membaca pesannya tadi mengucapkan selamat pagi. Apakah Alila sangat sibuk hingga Taehyung tidak sempat melihat ponselnya? Jeongguk mendesah, ponselnya mati dan otomatis terkunci. Dia memijit tombol kuncinya, membuat layar menyala dan memandang layar kuncinya—foto tangan Taehyung dengan cincin mereka melingkar di jarinya. Digunakan Jeongguk sebagai pengingat bahwa Taehyung miliknya—apa pun yang terjadi.

Namun sekarang, foto itu tidak lagi melakukan tugasnya karena Jeongguk merasa lemah oleh perasaan gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan mereka? Taehyung terus menolak menjelaskan rencananya dan bersikeras memberi tahu Jeongguk bahwa dia yang harus melakukannya sendirian.

Jeongguk menghela napas berat, memijat pelipisnya. Sudut matanya menangkap gerakan dan dia bergegas menegakkan tubuh—menoleh ke rumah itu, dia melihat seorang lelaki menghampiri mobilnya dengan map cokelat yang penuh di tangannya. Jeongguk membuka kunci mobilnya dan pemuda itu bergegas memasuki mobil, membawa aroma jalanan yang dingin ke dalam kabin mobilnya.

“Halo, Gung.” Sapanya sedikit terengah, “Maaf, saya agak lama.” Dia bergegas menyerahkan map ke Jeongguk yang menerimanya. “Semua sudah di sana, termasuk KTP baru setelah perekaman data kemarin.” Dia tersenyum mempersilakan Jeongguk mengecek dokumennya.

“Tidak masalah, santai saja.” Jeongguk membalas senyumannya lalu membuka mapnya, mengecek semua dokumen mereka: akta kelahiran baru, KTP, SIM A dan C, dan surat keputusan sidang penggantian nama yang akan digunakan hanya jika dibutuhkan.

“Kartu Keluarga bisa diurus sendiri dengan dokumen ini, tenang saja.” Pemuda itu menepuk surat keputusan sidang di genggaman Jeongguk. “Ini kartu sakti kalian menghadapi administrasi Indonesia. Tapi jika tidak dibutuhkan, tidak perlu dikeluarkan untuk meminimalisir nama asli kalian ketahuan.”

Jeongguk mengangguk. Bersyukur dia tidak bertanya kenapa Jeongguk dan Taehyung kabur—yang diketahuinya mereka berdua akan kabur ke tempat berbeda, bukan bersama-sama. Dan mendapat cukup uang untuk tidak bersikap usil pada urusan pribadi mereka dan menurut Taehyung, berhutang budi besar pada Taehyung sehingga dia setuju melakukannya tanpa bertanya.

“Terima kasih,” katanya dan pemuda itu mengangguk, “Sama-sama, Gung. Tidak masalah.” Sahutnya.

Jeongguk kemudian mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi M-Banking miliknya dan mentransfer jumlah yang mereka setujui di depan pemuda itu, lalu memperlihatkan tanda pemindahan dana berhasil padanya. Pemuda itu merogoh sakunya, mengecek aplikasinya sendiri dan mengangguk—memberi tahu Jeongguk dia sudah menerima mutasi dananya.

“Terima kasih banyak.” Tutupnya, memberi gestur bahwa dia akan kembali sekarang. “Jika begitu, saya pamit dulu.” Dia merapikan dokumennya, meletakkannya di pangkuannya.

Namun pemuda itu bergeming, dia menatap Jeongguk sejenak sebelum berdeham. “Saya menerima undangan pernikahan Tjok Tae,” katanya perlahan. “Saya paham saya dibayar untuk tutup mulut dan tidak usil mengenai ini, namun saya tidak bisa tidak memberi tahu kalian.”

Jeongguk berhenti dalam kegiatannya memasang sabuk pengaman dan menoleh kembali ke teman Taehyung. Dia tidak mungkin berusia kurang dari empat puluh, setidaknya satu-dua tahun lebih tua dari Taehyung. Rambutnya disisir rapi, tidak memiliki jenggot atau kumis. Penampilannya seperti PNS pada umumnya, rapi dan membosankan. Jika tidak salah, namanya Hendra—Jeongguk tidak mendengarkan.

“Memberi tahu....?” Ulangnya perlahan. “Apakah ada sesuatu pada berkas kami?” Tanyanya, tidak sengaja menaikkan suaranya karena anxiety yang melonjak di dalam perutnya.

Hendra seketika panik dan menggeleng, “Tidak, tidak. Bukan itu!” Katanya menenangka Jeongguk.

Mereka berdua di mobil Jeongguk yang terparkir di bawah lampu jalan remang-remang dan Jeongguk tidak yakin apa yang pemuda ini inginkan darinya. Namun Jeongguk siap melayangkan pukulan jika dia melakukan hal-hal yang membuat Jeongguk tidak nyaman. Dia mengerutkan alisnya, menatap Hendra yang gelisah.

“Lalu?” Tanyanya perlahan, tangan kanannya terkepal dan terkunci—siap memukul jika Hendra melakukan hal yang tidak dikehendakinya sedikit saja.

“Tentang calon istrinya.” Hendra berbisik, terdengar sedikit gelisah. “Tidak banyak yang tahu ini, tapi kakekku kenal mereka berdua—ayah Tjok Tae dan Pak Gus Adnyana, ayah Dayu Devy.” Dia melirik jalanan. “Kakekku membaca undangan mereka ketika tiba dan berkata, 'oh, dia akhirnya mendapat apa yang diinginkannya'.”

Kepalan tangan Jeongguk mengendur, jantungnya melonjak kuat—memukul rusuknya hingga nyeri ketika dia menyadari apa yang akan Hendra berikan untuknya. Air dingin terasa mengalir di punggungnya sekarang, membuatnya bergidik.

Mendapat apa yang diinginkannya. Napas Jeongguk memburu, memikirkan apa yang mungkin diinginkan keluarga Devy atas keluarga Taehyung. Dia pikir semuanya sesederhana Devy yang sudah menyukai Taehyung sejak lama, merengek pada ayahnya agar dia bisa menikahi lelaki idamannya—khas skenario flim Indonesia.

“Lalu aku bertanya pada kakekku,” Hendra menatapnya, Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Ada apa di antara kedua keluarga itu.”

“Apa...,” Jeongguk berdeham, tidak yakin. “Apa yang kauketahui tentang keluarganya?”

Hendra menatapnya, nampak sedikit jijik. “Oh, kau tidak akan suka ini.” Gumamnya.

*

ps. kookgyeom moment for y'all! <3


” ... Oke?”

Yugyeom terhenyak, menatap kakaknya yang duduk di hadapannya. “Apa...?”

Mereka berdua berada di kamar Yugyeom, Jeongguk mendatanginya setelah makan malam bersama keluarga mereka. Ayah mereka tidak menganggap Jeongguk ada sama sekali sejak Mirah membatalkan pernikahan mereka dan Jeongguk sama sekali tidak keberatan. Malah memang sebaiknya begitu karena dia sebentar lagi akan hengkang dari rumah ini, memberikan kuasa pewaris pada Yugyeom seperti apa yang ayahnya selama ini inginkan.

Jeongguk baru saja memberi tahu Yugyeom rencananya bersama Taehyung untuk pertama kalinya. Memberi Yugyeom mobilnya untuk digunakan dan juga uang untuk membalik nama STNK serta BPKB-nya. Jeongguk akan menyiapkan surat kuasa dan juga meninggalkan KTP-nya untuk Yugyeom—dia akan memiliki KTP baru, KTP lamanya sudah tidak berguna.

Tidak ada perasaan sedih di hati Jeongguk saat ini. Mungkin untuk Yugyeom karena mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama. Jeongguk menyaksikan Yugyeom bertumbuh, menemaninya melewati seluruh fase kehidupannya lebih dari apa yang ayah mereka lakukan. Dia hanya tidak ingin adiknya memiliki masa kecil yang sama dengan Jeongguk; dia memastikan Yugyeom selalu dilimpahi perhatian dan kasih sayang dari sosok lelaki yang bisa dijadikannya panutan.

Menatap adiknya yang sudah akan berusia 23 tahun, Jeongguk merasa dia sudah bisa menentukan apa yang diinginkannya. Dia sudah tidak membutuhkan Jeongguk sebanyak dahulu, ayah mereka menyayangi Yugyeom—dia akan baik-baik saja tanpa Jeongguk. Faktanya, Jeongguk bertahan di rumah ini demi Yugyeom. Sekarang dia bisa melepaskan hal yang menyiksanya dengan tenang karena Yugyeom akan baik-baik saja.

“Kau bisa mengunjungiku.” Jeongguk mengulurkan tangan, menyisiri rambut Yugyeom lembut—teringat hari pertama dia menatap wajah bulat pucat adiknya di dalam tempat tidur bayinya dengan takjub. Dia menghabiskan seluruh hidupnya berusaha menjaga Yugyeom, menerima semua hukuman ayahnya agar Yugyeom tidak merasakan apa yang dirasakannya—terasing dan diabaikan.

Sekarang dia memiliki Taehyung sebagai sosok ayah yang lenyap di masa pertumbuhannya. Lelaki yang menghargai keberadaannya, mengapresiasi bantuannya, dan membuat Jeongguk merasa layak. Membuat Jeongguk merasa dicintai—akhirnya.

“Wiktu akan menghubungimu dengan nomor baru. Hanya jika kau berjanji tidak akan memberi tahu Ajung. Apa pun yang terjadi.” Katanya lembut. Sebenarnya dia dan Taehyung sudah sepakat untuk memutus segala hubungan dengan kehidupan lama mereka namun Jeongguk tidak yakin dia bisa melepaskan ikatannya dengan Yugyeom.

Yugyeom mengerjap. “Wiktu tidak akan.... pulang?” Bisiknya, masih syok.

Jeongguk menggeleng. “Tidak.” Katanya, tersenyum pahit melihat ekspresi kaget adiknya. “Wiktu akan pergi dari sini, tidak akan pernah pulang lagi.”

Yugyeom kembali terhenyak menatap kakaknya. “Sama sekali...?” Bisiknya lirih, hatinya yang patah terdengar begitu keras dan Jeongguk menghela napas. Dia paham perasaan Yugyeom, itulah yang dirasakannya ketika Taehyung meninggalkannya pertama kali.

Jeongguk menghabiskan masa mudanya terombang-ambing, tidak memiliki siapa pun sebagai panutan. Kehilangan sosok ayahnya dan tidak memiliki seorang kakak, sementara dia harus memberikan contoh kepada Yugyeom. Menjadi pegangan Yugyeom. Ketika Taehyung memasuki layar, Jeongguk menggenggamnya begitu erat seperti pelampung—menjadikannya panutan. Maka ketika Taehyung pertama kali memberikannya silent treatment selama dua tahun, Jeongguk remuk.

Hubungannya dan Taehyung jauh dari kata sehat, Jeongguk paham. Mereka saling menyakiti, saling menghancurkan. Taehyung yang agresif memeras Jeongguk seperti jeruk dan menggunakan Jeongguk sebagai alas kakinya, melampiaskan segala luka psikologisnya kepada Jeongguk yang selalu menerima karena terbiasa dijadikan pelampiasan. Mereka saling merusak. Hanya karena Taehyung sekarang menyadari apa yang dilakukannya dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik bersama Jeongguk-lah, mereka optimis tentang kabur bersama.

Setelah dia memiliki Taehyung, segalanya yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup, maka dia tidak lagi ragu melepaskan identitas lamanya. Dia tidak masalah melangkah pergi dari rumah yang selama ini mencekiknya.

“Sama sekali.” Tandas Jeongguk lembut. “Kau harus paham bahwa ini berarti kau akan menjadi pewaris, semua tanggung jawab Puri akan menjadi urusanmu. Tidak apa-apa, Ajung akan membantumu. Semuanya akan membantumu.” Dia mengusap rambut Yugyeom.

“Nantinya, aku akan lenyap dari cerita keluarga ini. Dilupakan.” Jeongguk tersenyum. “Tidak akan pernah ada aku di rumah ini.”

Memikirkannya membuat Jeongguk merasa lebih baik dan ringan. Tidak akan ada yang merindukannya membuat keputusan ini semakin ringan. Ayahnya akan melupakannya dengan segera, mungkin juga dengan senang hati mengantarkannya ke pintu keluar karena dia memiliki Yugyeom—anak kesayangannya.

“Ajung pasti sedih.” Kata Yugyeom dengan wajah berkerut penuh kesedihan dan penyesalan, masih belum bisa memproses informasi yang diberikan kakaknya barusan.

“Ajung mungkin yang akan paling bersemangat mengadakan upacara pemakamanku.” Jeongguk tersenyum separuh, menyadari betapa benar kalimat itu—ayahnya membencinya, sangat membencinya.

Jika saja ayahnya tahu bahwa tidak ada yang bisa membenci Jeongguk sebesar dia membenci dirinya sendiri. Ayahnya boleh berusaha.

Mereka akan baik-baik saja tanpa Jeongguk, malah akan jauh lebih baik daripada ketika Jeongguk masih bersama mereka. Dia terbiasa diabaikan, dikeluarkan dari semua foto keluarga dan tidak pernah dianggap. Hanya Yugyeom yang selalu secara konstan memberikannya perhatian dan menyayanginya—cukup untuk Jeongguk. Yugyeom satu-satunya keluarga untuknya.

“Tidak perlu berusaha menghiburku,” Jeongguk tersenyum. “Kita semua tahu betapa Ajung membenci caraku bertumbuh selama ini.” Dia mengusap kepala Yugyeom lalu menurunkan tangannya—menatap adiknya yang sudah mulai dewasa.

“Wiktu akan pergi dengan Wigung?” Tanyanya, nampak tidak menyukai fakta bahwa dia akan kehilangan kedua kakak lelakinya sekaligus dan Jeongguk sejenak merasa bersalah karena memisahkan kekasihnya dengan adiknya karena ikatan mereka sangat erat.

“Ya.” Jeongguk mengangguk. “Kami akan mencari tempat di mana cinta kami lebih dihormati orang-orang. Di mana kami bisa berbahagia memiliki satu sama lain secara lebih terbuka.” Dia menatap adiknya yang sejenak diam namun kemudian perlahan mengangguk—dia paham kesulitan Jeongguk dan Taehyung.

Yugyeom diam, nampak memikirkan keputusan kakaknya perlahan. Mereka makan mie instan, kebiasaan mereka yang pasti akan dirindukan Jeongguk suatu hari nanti. Memasakkan Yugyeom setiap makanan yang dilihatnya lezat di Instagram, membuat mie instan setiap malam sebelum tidur dengan sayuran serta potongan cabai, kabur diam-diam membeli semua makanan yang dilarang orang tua mereka. Menonton film bersama sampai malam...

“Jika aku merindukanmu?” Bisik Yugyeom, mendongak menatap Jeongguk yang mengencangkan rahangnya—air mata menyengatnya dan dia berdeham, merasakan gumpalan pahit di tenggorokkannya.

“Maka kau akan menghubungiku tanpa sepengetahuan Ajung.” Dia mendorong mangkuk mie instan mereka menjauh—aroma bumbu mie instan masih menggantung rendah, gurih dan adiktif. “Aku butuh bantuanmu, untuk terakhir kalinya.” Tambahnya dan tersenyum ketika adiknya bereaksi pada kata 'terakhir kali'.

Yugyeom tidak menyukai frasa itu sama sekali. “Apa yang harus kulakukan?” Tanyanya, pelan dan patah hati.

“Antar Wiktu ke Candidasa tanggal 26 malam. Aku akan berangkat ke Tanjung Pinang tanggal 27 malam jadi harus bersiaga di dekat Klungkung.” Katanya dan Yugyeom mengernyit—tidak menyukai bagaimana ringan dan pastinya Jeongguk menjelaskan kepergiannya.

“Ogik temani.” Katanya tegas dan menambahkan saat Jeongguk membuka mulut, “Tidak. Aku akan menemani Wiktu di Candidasa, lalu mengantar ke bandara atau mana saja yang Wiktu inginkan.” Dan dari tatapannya, Jeongguk tahu adiknya tidak akan bisa didebat.

“Bagaimana dengan Ajung?” Tanya Jeongguk kemudian, tidak mungkin dia membawa adiknya—bagaimana jika Ajung mencari adiknya? “Kau lebih baik menurunkan Wiktu lalu kembali—”

“Tidak.” Sela Yugyeom tegas, menatap kakaknya dengan tekad di matanya. “Aku akan menemani Wiktu dan melepas Wiktu di bandara. Titik.”

“Ogik,” Jeongguk menatapnya. “Jika kau menemani kami ke bandara, alasan apa yang akan kauberikan ke Ajung ketika dia tahu aku hilang keesokan paginya? Kau terpaksa berbohong dan kau tahu Ajung tidak mudah dibohongi. Jika kau menurunkanku di Klungkung lalu pulang diam-diam, kau bisa berpura-pura tidak tahu dengan lebih mudah. Bilang saja kau tidur, tidak tahu apa-apa. Mudah.”

Yugyeom diam sejenak, memikirkan kalimat kakaknya. Jeongguk sudah mengecek semuanya, memastikan Yugyeom bersih dari rencana mereka karena dia tahu apa akibatnya jika ayah mereka tahu Yugyeom terlibat—dia butuh ayah mereka tetap mempercayai Yugyeom dan menyayanginya. Dia tidak mau adiknya berakhir sama sepertinya. Jeongguk harus menjauhkan Yugyeom dari rencana ini. Mungkin dia sebaiknya meminta Mingyu yang menjemputnya tanggal 26 malam setelah ayahnya melihatnya di rumah diam-diam tanpa sepengetahuan Yugyeom.

Jeongguk tidak tega meninggalkan Yugyeom tanpa perpisahan, tanpa menatapnya untuk terakhir kalinya. Bertahun-tahun mereka hidup bersama, memiliki satu sama lain, berbagi begitu banyak tangis dan tawa. Dihukum bersama, tertawa bersama, tidur di kamar mandi kedinginan bersama. Jeongguk tidak ingin melepas adiknya tanpa mengucapkan selamat tinggal. Dia cukup egois untuk itu kali ini. Maka dia berpikir, adiknya bisa mengucapkan selamat tinggal namun tidak boleh mengantarnya—Yugyeom harus terbebaskan dari tuduhan.

“Ikut.” Tandasnya, menggeleng tegas. “Ogik ikut.”

Jeongguk menghela napas. Dia akan memikirkan cara untuk menahan Yugyeom hari itu agar tidak mengikutinya karena Jeongguk sungguh tidak mau Yugyeom terlibat. “Baiklah,” katanya kalem—hanya agar adiknya diam untuk saat ini, tidak ingin bertengkar.

“Wiktu?” Bisik Yugyeom kemudian, suaranya bergetar dan Jeongguk menatap adiknya. “Wiktu tidak bahagia di rumah?”

Jeongguk tersenyum tipis. “Tidak.” Katanya karena memang itulah keadaannya. Dia memang tidak bahagia di rumah ini. “Tapi setidaknya, aku memilikimu.” Dia mengusap kepala adiknya sayang. “Hidup Wiktu jadi lebih menyenangkan semenjak kau dilahirkan. Ogik alasan Wiktu bertahan selama ini.”

Air mata terbit di sudut mata Yugyeom, di dekat tahi lalat mungilnya. “Maaf,” bisiknya pecah dan parau. “Maaf karena Ogik menahan Wiktu di tempat di mana Wiktu tidak lagi merasa bahagia.”

Jeongguk mendesah panjang dan merengkuh adiknya, memeluknya hangat dan mengecup puncak kepalanya. Dalam pelukannya, Yugyeom mulai terisak—bahunya berguncang lembut saat dia berusaha menahan isakannya agar tidak terlalu keras.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Bisiknya, menyandarkan kepalanya di kepala Yugyeom—menghirup aroma Yugyeom. “Kau tidak bersalah apa pun, aku yang memutuskan untuk bertahan. Kau tidak memaksaku bertahan.” Dia mengusap punggung adiknya lembut.

Teringat semua memori yang mereka bagi bersama di rumah ini. Layangan pertama mereka, teringat bagaimana dia meminta Yugyeom untuk memegang layangan mereka dan berjalan mundur untuk menaikkannya. Yugyeom terantuk dan jatuh, meneriaki Jeongguk yang terbahak karena merasa dikerjai. Mereka menonton layangan yang berayun tinggi di langit. Lalu adiknya menangis keras sekali ketika layangan mereka putus. Maka Jeongguk menyisihkan uang jajannya seminggu setelahnya, membelikan Yugyeom layangan baru untuk mereka bermain.

Kursus bersepeda pertama Yugyeom, lalu motor dan mobil. Jeongguk yang mengajarinya, dengan sabar dan telaten sementara Jeongguk belajar semuanya sendiri. Dia ingat Yugyeom terbahak liar dengan gigi depan yang busuk di lapangan Candra Bhuana di samping Puri saat berhasil menjaga keseimbangannya di atas sepeda roda dua dengan ban bantuan barunya. Rambutnya berkibar, berseru keras dan Jeongguk berlari di belakangnya, tergelak dan bersorak karena adiknya berhasil menaiki sepedanya.

Jeongguk ingat sore ketika dia mengangkat sepeda itu di lengannya, menyanyi bersama adiknya yang kotor karena terjerembab di tanah. Dia tidak menangis sat kepalanya menghantam tanah dan Jeongguk bergegas mengejarnya—menyadari dengan tenang adiknya tidak terluka. Tangan mereka bertautan dengan erat, menyanyikan lagu anak-anak Made Cenik* yang membuat Yugyeom jengkel karena terlalu sulit dihafalkan menyusuri jalanan naik ke arah Puri. Mereka mandi setelahnya sebelum makan malam.

Yugyeom selalu mengganggunya belajar, bertanya hal-hal yang tidak dipahaminya dan Jeongguk selalu memiliki kesabaran unuk meladeninya. Mungkin dari sanalah Jeongguk belajar untuk tenang dan bersabar, menghadapi adik lelaki umur tiga tahun yang tidak bisa diam.

Adiknya praktis dibesarkan oleh Jeongguk. Ibunya jarang mengurus mereka, membiarkan Jeongguk mengambil alih setelah Yugyeom tidak lagi perlu ASI dan MPASI. Adiknya juga selalu memilih Jeongguk dibanding kedua orang tua mereka sejak dia kecil; nama 'Wiktu' adalah nama pertama yang diteriakkannya tiap kali dia menangis dan ibu mereka menganggap itu sebuah keberuntungan karena tidak harus repot menenangkan anaknya.

Berpisah dengan Yugyeom jauh lebih berat bagi Jeongguk, sungguh amat berat. Dia mengeratkan pelukannya pada adiknya. Sebelum Taehyung, adiknya adalah dunianya. Sekarang hatinya mengembang, menjadi dua kali lipat lebih besar demi menampung cintanya untuk Yugyeom dan Taehyung. Adiknya akan baik-baik saja, dia lelaki yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang kakaknya. Dia akan menjadi ayah yang baik nantinya, memutus pola didik ayah mereka yang salah.

Air mata Yugyeom merembes di pakaian Jeongguk, menyengat kulit telanjangnya di bawah lapisan pakaiannya dan Jeongguk menghela napas. “Kau tetap memiliki Wiktu, kau tidak sendiri.”

Jeongguk mengusap punggung adiknya, merasakan nyeri yang menyeruak di dadanya karena memikirkan perpisahan ini. Berharap suatu hari nanti, ketika ayah mereka yang tiran telah tiada, dia bisa kembali ke Puri ini untuk bertemu adiknya. Tanpa beban dan rasa bersalah atau dendam pada ayahnya. Jeongguk berharap hidup akan lebih mudah saat itu—untuknya dan Yugyeom.

“Ogik sayang Wiktu.”

Jeongguk tergelak, merasakan air mata meluruh di wajahnya sendiri. Dia sudah mendengar kalimat itu berjuta kali selama mereka hidup bersama dan entah mengapa, kali ini dia menangis. Menyadari bahwa mungkin dia tidak bisa memeluk Yugyeom lagi setelah ini, mendengar anak itu berceloteh mengomentari pekerjaannya—mengganggu Jeongguk.

Rasa rindu meledak di hatinya, bahkan sebelum dia benar-benar meninggalkan Yugyeom. Adiknya akan baik-baik saja, ayah mereka menyayanginya. Semua orang Puri sayang padanya, dia akan menjadi pewaris yang jauh lebih baik dari Jeongguk.

“Wiktu juga sayang sekali pada Ogik.” Balasnya gemetar, memeluk adiknya semakin erat.

Bertahun-tahun, mereka hanya memiliki satu sama lain di rumah ini dan Jeongguk terpaksa harus mencabut hal paling berharga di hidup Yugyeom—dirinya sendiri.

“Tidak selamanya, nanti Wiktu akan kembali.” Dia menyandarkan kepalanya di kepala Yugyeom, membiarkan air mata meleleh dari sudut matanya dan meluncur di pipinya sebelum mendarat di rambut Yugyeom.

“Wiktu janji, Wiktu akan pulang—suatu hari nanti.”

*

hehe :(

Glosarium:

  • Made Cenik, lagu Bali yang dinyanyikan anak-anak kelahiran 90'an. Liriknya saling menyambung dengan kata terakhir dari baris di atasnya. Silakan didengarkan di Youtube!

Setauku lagu ini juga dipake untuk mengiringi tari sakral, namanya Tari Sanghyang di Desa Adat Bugbug, Karangasem (cmiiw, bapakku udah tidur WKWKWK) yang hanya boleh ditarikan gadis yang belum menstruasi. Pada lirik akhir: “Tepuk api dong ceburin” (trans: jika melihat api, lompatlah) biasanya penari sudah kesurupan dan masuk ke bara api untuk menari. Semacam debus gitu laah sksks aku belum pernah nonton :(

Kalo hafal lagu ini sampe akhir, rasanya keren banget pas zamanku hahahaha i'm still singing that casually <3

tw // anxiety , frustration , suicidal thoughts .


“Wigung, Wigung, tolong!”

Jeongguk nyaris tersandung kakinya sendiri saat berusaha mengejar Taehyung yang tiba-tiba saja bangkit dari ranjang setelah seks mereka.

Dia baru saja selesai memberikan Taehyung aftercare, memastikan tubuh dan emosinya nyaman lalu bangkit untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Ketika dia keluar, Taehyung sedang bergegas mengenakan celana jins panjangnya dengan teror di wajahnya. Jeongguk belum pernah melihat Taehyung setakut itu—dia pucat pasi, matanya nanar menatap dengan panik dan bibir bawahnya gemetar.

“Wigung??” Panggilnya, panik dan bingung saat kekasihnya dengan tatapan liar bergegas membereskan barang-barangnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Taehyung atau apa yang mungkin saja dibacanya. Maka dia menghambur ke kekasihnya yang berusaha mengenakan pakaiannya.

“Aku harus pulang. Aku harus kembali.” Taehyung menggeleng, panik ketika menjejalkan seluruh bawaannya ke dalam tasnya.

Jantung Jeongguk mencelos, dia menatap Taehyung yang mengenakan pakaiannya dengan hati remuk. Teringat kata-kata Felix tentang menjelaskan pada Taehyung bahwa kabur dari Puri bukanlah masalah sama sekali untuknya—dia siap membuang segalanya demi Taehyung. Namun dia menyadari, jika itu mudah baginya, belum tentu juga mudah bagi Taehyung.

Jeongguk mungkin dendam dengan keluarganya, sama seperti Jimin yang memutuskan untuk membuang mereka demi kehidupan yang lebih stabil dan nyaman. Namun bukan berarti semua orang bisa melakukannya. Taehyung jelas tidak bisa melakukannya—belum. Taehyung bangkit, membuka pintu kamar Jeongguk dan melangkah ke garasi.

“Wigung, sebentar!” Serunya tertahan, melirik rumah utama—takut ayahnya mendengar keributan ini. Dia menyambar tangan Taehyung yang sudah setengah jalan ke arah garasi, mencekalnya keras. “Sayang, Sayang. Tunggu!” Desisnya ketika Taehyung berusaha memelintir tangannya lepas dari genggaman Jeongguk.

Wajahnya pucat pasi dan Jeongguk merasa perutnya diaduk-aduk karena ekspresi itu. “Aku harus pulang.” Gumamnya, matanya menerawang. “Kacau, semua orang kacau.” Dia melirik gelisah ke sekitarnya dan hati Jeongguk terasa dipelintir karenanya.

“Kenapa? Aku melakukan sesuatu?” Tanyanya, menggenggam bahu Taehyung erat—mendorongnya lembut bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat dari rumah utama.

“Ajung,” dia menggeleng perlahan. “Ajung akan memukul semua orang jika aku tidak pulang. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menanggung apa yang kulakukan. Aku tidak.... Aku....” Suaranya lenyap dan Jeongguk merasakan Taehyung gemetar di dalam genggamannya.

Bertahun-tahun hidup bersama orangtua yang memanipulasi emosinya, memanfaatkan kasih sayangnya untuk keuntungannya sendiri jelas tidak memiliki efek yang bagus untuk mental Taehyung. Dia terbiasa diancam: jika tidak menurut, maka orang lain yang akan menanggungnya. Berbeda dengan Jeongguk yang menanggung semua konsekuensi tindakannya sendiri. Ayahnya memukul Jeongguk jika dia marah padanya.

Jeongguk tidak bisa membayangkan bagaimana jika ayahnya memukul Yugyeom atau ibunya untuk menghukum Jeongguk seperti yang dilakukan ayah Taehyung.

Jeongguk menghela napas, “Baiklah. Akan kuantar pulang.” Dia meremas bahu Taehyung lembut—tidak tega memberi tahunya mengenai undangan pernikahan yang sudah disebarkan, tidak tega untuk menanyakannya tentang rencana kabur ketika dia sedang dalam kondisi linglung dimakan rasa bersalah.

Amarah menggelegak di dasar perutnya, mereka bisa kabur sekarang jika saja Jimin tidak dengan ceroboh mengatakan apa pun itu yang dikatakannya ke Taehyung hingga membuatnya berubah pikiran. Jeongguk menggertakkan rahangnya, menelan amarahnya.

“Aku akan mengambil jaketku sebentar, oke?” Bisiknya, mengusap rambut Taehyung sayang. “Tunggu saja di mobilku.” Dia menjejalkan kunci mobilnya ke telapak tangan Taehyung, tidak mungkin membiarkannya berdiri di sini sementara Jeongguk ke kamar—tidak mau mengambil risiko ayahnya menemukan Taehyung.

Dia bergegas berlari ke kamarnya, meninggalkan Taehyung untuk menyambar jaket di kapstok di balik pintunya dan mengunci kamarnya—dia belum membereskan bukti-bukti kehadiran Taehyung dari kamarnya, dia tidak bisa membiarkannya terbuka. Dia bahkan belum membuang kondom yang mereka gunakan tadi. Jeongguk menggertakkan gigi—bukan masalah berkendara di dini hari mengantar Taehyung pulang, namun apa dampak dari kejadian ini pada segalanya.

Mereka kembali ke nol sekarang, Taehyung akan semakin sulit dibujuk untuk kabur lagi jika dia memutuskan untuk pulang. Jeongguk mengumpat dalam hati, menyadari sepenuhnya bahwa dia ingin Taehyung kabur bersamanya dengan kesadaran penuh—bukan karena manipulasi emosi. Namun jika dia kembali sekarang dengan pernikahan yang hanya berjarak tujuh hari dari sekarang, maka dia akan terjebak dalam pernikahan itu.

Kepala Jeongguk berdenyut. Segala dokumen yang mereka butuhkan untuk kabur termasuk identitas baru yang tidak datang dengan harga murah sudah akan selesai lima hari lagi. Mereka sudah bisa kabur secepatnya, Jeongguk tinggal menghubungi Verdio. Memintanya memberi mereka tempat bernaung sebentar.

Mereka juga sudah membicarakan pengunduran dirinya pada General Manager masing-masing. Jeongguk mendapatkan izin namun tidak dengan Taehyung. Jika keputusan belum diambil maka mereka akan mengundurkan diri dengan tidak terhormat. Mereka akan menggunakan nama baru, tidak akan ada masalah walaupun kedua hotel mereka memberikan rekomendasi buruk.

Namun, jika Taehyung menikahi Devy....

Jeongguk menghembuskan napas dengan keras, bergegas berlari ke arah mobilnya dan menemukan Taehyung di dalam—bergelung di atas kursi penumpang. Dia akan memikirkan ini lagi nanti, ketika suasana sudah tenang. Berpikir dengan getir, akankah suasana menenang setelah ini? Dia membuka gerbang garasi, perlahan agar tidak mengeluarkan suara keras sebelum bergegas ke mobilnya. Ayahnya akan mendengar ini, dia sebaiknya menyiapkan alasan yang masuk akal karena Land Rover ayahnya terparkir di sisi mobilnya.

Jeongguk membanting pintunya, mengulurkan tangan dan mengusap kepala Taehyung sayang sebelum bergegas menyalakan mesin mobilnya. Dia berjengit ketika mobil menderum—suaranya memantul di garasi dengan keras. Ayahnya pasti mendengar ini. Jeongguk memasukkan persneling, memundurkan mobilnya dan memutar kemudi dengan sedikit terlalu kuat hingga mobil menghadap ke jalan arah Denpasar.

Dia menutup garasi, akan meminta Yugyeom menggemboknya dari dalam nanti jika Yugyeom belum tidur. Dia kemudian menginjak gas, mobil mendengus keras dan meluncur di jalan. Jeongguk menoleh ke arah Taehyung sebentar.

“Kau ingin memberi tahuku apa yang terjadi?” Bisiknya lembut, meraih tangan Taehyung dan meremasnya sambil mentap jalanan yang sepi. “Aku akan mencoba membantumu.”

Taehyung sama sekali tidak menatapnya, dia gelisah menatap jalan di depan mereka yang sangat sepi dan gelap—suara ayam berkokok terdengar sesekali di kejauhan. Hanya mobil Jeongguk yang melaju di jalanan, semua orang masih bergelung di dalam selimut di rumah mereka—lelap, beristirahat sejenak dari segala permasalahan kehidupan mereka. Bersembunyi dalam ketidaksadaran mereka. Jeongguk menyalakan penyejuk mobil dengan kekuatan terkecil karena udara lumayan dingin belakangan ini. Dengan lalu lintas sesepi ini, mereka akan tiba di Klungkung jauh lebih cepat.

“Aku tidak bisa membiarkan orang lain menghadapi kemarahan Ajung atas namaku.” Taehyung menggertakkan giginya. Dia memejamkan matanya: sebenci apa pun dia pada ayahnya, membayangkan tinggal di Puri itu tanpa ayahnya membuatnya bergidik. “Aku tidak bisa.” Dia menarik napas berat, memijat kepalanya.

Jeongguk sejenak diam lalu membuka mulutnya, “Wigung....” Bisiknya, hendak mengingatkan Taehyung mengenai rencana mereka. Taehyung tidak bisa terus memikirkan orang lain di atas segalanya. Bagaimana rencana kita? “Kau baik-baik saja?”

Taehyung menggeleng, memijat kepalanya. Perasaan bersalah tengah melahapnya hingga dia gemetar—bagaimana jika selama empat hari ini ibunya atau kakaknya menjadi sasaran amukan ayahnya karena Taehyung bertingkah? Kenapa dia bisa begitu bodoh? Dia mengernyit, menggertakkan geliginya ketika rasa sakit itu menjerat kepalanya hingga tengkuknya terasa nyeri. Bagaimana keadaan kakaknya sekarang? Ibunya?

Jimin sudah berulang kali memberi tahunya tentang betapa beracun keluarganya dan betapa Taehyung harus pergi meninggalkan mereka jika ingin mendapatkan kehidupan yang lebih layak secara emosional. Dan berkali-kali juga, Taehyung pikir dia bisa dan siap untuk melepaskan mereka—memotong habis koneksi mereka namun berkali-kali juga ketika ayahnya memukulnya dan dia menyadari apa yang harus ditanggung ibu dan kakaknya untuknya, Taehyung mundur.

Dia memejamkan mata, memijat pelipisnya—tidak berani menatap Jeongguk yang mengemudi di sisinya, sesekali melepaskan tangan dari persneling dan meremas pahanya lembut, mengusapnya. Dia takut pada konflik dalam dirinya sendiri melepaskan keluarganya atau melepaskan Jeongguk—dia tidak bisa menangguhkan keduanya.

Haruskah dia menikahi Devy agar semua orang senang lalu kabur bersama Jeongguk? Bisakah dia menjadi sekuat Jimin menahan diri untuk tidak menghubungi keluarganya—bersikap seolah mereka semua sudah mati?

Keputusan.

Taehyung memijat kepalanya, dia harus memutuskan ini. Dia tidak bisa menahan Jeongguk tanpa kejelasan sementara hatinya terbelah. Bisakah dia kembali membenci keluarganya seperti kemarin? Dia berusia tiga puluh tujuh, namun tetap merasa tidak sanggup memutuskan hal dalam hidupnya—dia merasa kecil dan tidak berdaya sama sekali. Terbiasa memiliki orang lain memutuskan segala hal untuk dirinya membuat kemampuan memutuskan Taehyung mati.

“Jeongguk?”

Jeongguk menoleh, mengulurkan tangan dan memijat pahanya lembut. “Kau oke?” Tanyanya, sesekali melirik jalanan yang sepi—lampu APILL bahkan belum kembali beroperasi.

Taehyung berdeguk, merasa mual. Bagaimana ini....? Dia menatap lurus ke jalanan yang sepi dan gelap, semakin dekat dengan rumah semakin buruk perasaannya. Dia akan meninggalkan Jeongguk, rasa sedih karena menyadari dia akan bangun sendirian di ranjangnya setelah ini membuatnya mual. Namun memikirkan apa yang mungkin dihadapi kakaknya karena kelakuannya membuat kepalanya sakit.

Perasaannya terbelah antara ingin kembali ke kamar Jeongguk, bersembunyi berharap masalahnya terselesaikan begitu saja tanpa perlu keputusan apa pun dari Taehyung dan keharusannya kembali ke rumah jika tidak ingin semua orang menanggung konsekuensi dari tindakannya.

“Apa yang harus kulakukan?” Dia mendongak, menatap Jeongguk dengan kepala berdentam-dentam semakin mengerikan—dia harus memutuskan sesuatu dan keharusan itu membuat rasa cemasnya melonjak memualkan.

Jeongguk menatapnya cemas, namun Taehyung bisa melihat kekecewaan di matanya—setitik, namun cukup untuk membuat rasa cemas melilit perut Taehyung. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya lembut dan Taehyung semakin merasa bersalah—Jeongguk kecewa padanya, mungkin juga siap memaksa Taehyung memutuskan sesuatu tentang rencana mereka namun tidak. Dia malah memfokuskan energinya memastikan Taehyung baik-baik saja.

Dia menggeleng perlahan, “Apa yang harus kulakukan?” Bisiknya lemah: haruskah dia menikahi Devy agar ayahnya berhenti menyakiti semua orang atas kesalahannya? Atau haruskah dia menutup mata atas semuanya dan kabur bersama Jeongguk?

Jeongguk menghela napas, memasang sein dan menepikan mobilnya di tepi pantai Candidasa. Taehyung bisa mendengar deburan ombaknya dari kejauhan saat Jeongguk menoleh ke arahnya, menyalakan lampu belakang sehingga Taehyung bisa menatap wajahnya. Jeongguk menghela napas lalu mengusap pipinya lembut.

“Apa yang hatimu inginkan? Dia pasti memiliki jawaban.” Jeongguk menatapnya dan Taehyung tahu jawaban apa yang diinginkan Jeongguk saat ini—semuanya berkilau di matanya, Jeongguk pikir dia pandai dalam menyembunyikan emosinya.

Masalahnya hatinya tidak pernah memberikannya jawaban apa pun. Dia selalu diam—bahkan ketika Taehyung meneriakinya agar memberinya jawaban, hatinya bergeming. Dia memejamkan mata, merasa tarikan kencang di tengkuknya karena rasa cemas. Dia harus memutuskan sekarang dan semakin dia berusaha memutuskan, semakin sakit kepalanya terasa. Dia mengerang kecil dan Jeongguk bergegas menyentuhnya—memastikan dia baik-baik saja, memastikannya utuh.

“Kau ingin menginap di sini saja?” Tanya Jeongguk lembut, terdengar sangat jauh sekarang. Taehyung menyadari secercah harapan di sana, Jeongguk tidak ingin dia pulang.

Taehyung menggertakkan rahangnya. Jika dia tidak pulang sekarang, Tuhan tahu apa yang ayahnya bisa lakukan pada ibu dan kakaknya. Dia sudah sempat menjawab ayahnya tentang pernikahannya dengan Devy—bagaimana menikahi seorang Brahmana akan membuatnya otomatis tidak bisa mewarisi Puri. Dia harus menikahi perempuan yang berasal dari kasta yang sama, Anak Agung atau Cokorda. Dan yang didapatkannya adalah pukulan di wajahnya, maka Taehyung diam. Ayahnya menjadi pewaris walaupun istrinya seorang Sudra menjelaskan segalanya—mengapa Taehyung repot-repot bertanya?

Taehyung kebingungan.

Dan Jeongguk bisa melihatnya.

Dia mengulurkan tangan, mengusap sisi wajah Taehyung yang memejamkan mata. Jeongguk paham kebingungan Taehyung, dia tahu seberapa kuat keluarganya telah memanipulasi Taehyung hingga ke batas tidak wajar. Bagaimana Taehyung selalu mementingkan mereka di atas segalanya, memanipulasi perasaan sayangnya untuk kepentingan mereka—seperti Lakshmi yang ternyata tidak ada bedanya dengan keluarga mereka.

Mungkin, jika Jeongguk berkenan untuk berhenti dan memikirkannya—Lakshmi memang sangat ingin melarikan diri dari tempat itu, sama seperti Taehyung. Dia sudah lelah bertahan sama seperti Taehyung. Sayangnya tidak ada jalan keluar yang bisa membebaskan mereka berdua, salah satu harus menanggung langit di bahunya agar yang lain bisa membebaskan diri. Jeongguk tahu posisi Taehyung yang terhimpit dari segala arah dan dia menghela napas.

Hatinya berdenyut oleh kekecewaan yang hebat ketika dia menarik napas, “Akan kuantarkan kau pulang. Setelahnya,” dia berdeham, merasa air mata menyengat bola matanya. “Kita bicarakan lagi segalanya.” Dia mengusap pipi Taehyung sayang.

“Tapi percayalah, aku tidak pernah ragu untuk membuang segalanya demi dirimu dan aku tidak memaksamu untuk melakukan hal yang sama—lakukan hanya jika kau benar-benar menginginkannya. Bukan karena kau membalas apa yang kulakukan untukmu.”

Taehyung menatapnya, rahangnya menegang dan wajahnya memucat—nampak begitu tertekan hingga Jeongguk tidak tega memberi tahunya apa pun namun dia harus. Taehyung harus dipersiapkan menghadapi apa pun yang menunggunya di rumah.

“Dan,” dia merogoh sakunya mengeluarkan ponselnya—Taehyung tidak perlu tahu bagaimana Lakshmi menyikapi hal ini karena dia tahu Taehyung tahu namun masih merasa keterikatan kuat pada keluarganya. “Aku tidak yakin tapi kurasa kau harus tahu.”

Dia membuka gambar undangan digital Taehyung dan menghela napas, “Mereka sudah...,” dia membalik ponselnya ke Taehyung yang mengerjap sebelum benar-benar mengamati. “Menyebar undangan pernikahan kalian. Menentukan tanggal dan segalanya, tanpa memberi tahumu apa pun.”

Reaksi keterkejutan Taehyung begitu lemah hingga Jeongguk merasa seseorang baru saja menyurukkan air asam ke hidungnya. Napas Taehyung menderu, terdengar berdenging lebih keras dari biasanya dan Taehyung merogoh tasnya seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata terpejam, tarikan napasnya berat dan beresing keras. Jeongguk bergegas membantunya, melempar ponselnya ke dasbor di hadapannya dan merogoh tas Taehyung, mencari inhaler-nya. Dia menggoyangkan benda itu sebelum menyelipkan ujungnya ke antara kedua gigi Taehyung.

“Gigit, Sayang. Ayo.” Bisiknya, sudah tidak lagi panik menghadapi asma Taehyung sekarang ketika dia merangkulkan lengannya di bahu Taehyung, menyangganya lembut. Dia merasakan tarikan napas Taehyung memberat. “Siap?” Bisiknya lalu menekan tombol 'Release'-nya. Mendengar suara desisan ketika inhaler melepaskan obat ke dalam mulut Taehyung yang seketika menghirup napas dalam-dalam.

“Maaf,” bisiknya menumpukan keningnya di bahu Taehyung yang memejamkan mata—menunggu obatnya bekerja. “Maaf, maaf. Maaf.” Gumamnya berulang-ulang, mendengarkan napas dan detak jantung Taehyung. Berpikir dengan sinting bahwa dia sebaiknya menyerah pada Taehyung sebelum semuanya terlambat seperti sekarang.

Tangan Taehyung membelai bahunya. Mereka di sana, di dalam mobil yang terpakir di pinggir jalan yang sunyi pukul setengah dua pagi—menangis bersama memikirkan posisi mereka yang terjebak dan terhimpit. Tidak ada jalan keluar sama sekali. Jeongguk bernapas dari mulutnya, berusaha keras agar tidak terisak sementara dia merasakan tubuh Taehyung berguncang di bawahnya—menangis.

”... Mati?” Bisik Taehyung, pecah.

Jeongguk tergelak kecil di sela deru napasnya, paru-parunya mengerut. “Kau ingin mati?” Tanyanya berbisik pada Taehyung yang membelai bahunya, Jeongguk menempelkan telapak tangannya di pinggul Taehyung.

“Aku tidak bisa berpikir,” gumam Taehyung, terdengar mabuk—suaranya jauh dan kecil. “Aku ingin semua ini berhenti. Berakhir sekarang. Sakit yang tidak bisa kujangkau ini, kelelahan ini....”

Jeongguk memejamkan matanya. “Setuju.” Bisiknya lirih, merasakan frustrasi kental yang membuat kepalanya perih. Tangannya menemukan tangan Taehyung dalam gelap dan menyelipkan jemarinya ke antara jemari Taehyung—menggenggamnya erat.

Mereka begitu dekat dengan air, samudera yang dalam dan pasang. Jika Jeongguk berkendara melewati pembatas di sisi mereka maka selesai semuanya. Dia tidak akan ingin berusaha menyelamatkan diri. Suara deburan ombak begitu dekat dan suasana jalanan begitu hening. Tidak akan ada yang menyadari mereka hingga terlambat.

Jeongguk berpikir dengan pilu, pernahkah kedua orang tua mereka memikirkan ini? Bagaimana keadaan anak mereka—apakah mereka baik-baik saja? Atau mereka sibuk memikirkan cara untuk mengambil keuntungan dari mereka—memanipulasi emosi anak-anak mereka? Berpikir anak adalah sebuah aset, anak adalah investasi masa tua mereka. Sama sekali bukan manusia yang memiliki kehidupan dan pikirannya sendiri. Memiliki masa depannya sendiri, keluarga dan keinginan sendiri.

“Kita dekat dengan kebebasan,” bisik Jeongguk kemudian, memikirkan bahagia yang sudah berdenyut dekat dengan genggaman mereka. Mereka tidak bisa menyerah sekarang.

“Dekat sekali, Wigung. Kau hanya perlu untuk berani dan memikirkan dirimu sendiri.” Dia meremas tangan Taehyung dan merasakan kekasihnya balas meremas tangannya. “Aku akan membuatmu sangat bahagia hingga semua lukamu selama ini tidak lagi terasa dan berdenyut.”

“Aku akan membuatmu sangat...,” dia tercekat dan mendengar isakan Taehyung meloloskan diri. “Sangat bahagia hingga kau tidak pernah merasakan sakit apa pun lagi. Hingga kau tidak pernah berpikir bahwa kematianlah satu-satunya jalan keluar dari segalanya.

“Hingga kau berpikir bahwa hidup adalah sesuatu yang layak untuk dijalani. Menyadari bahwa kau layak hidup, kau layak berbahagia. Aku akan membuatmu.... sangat,” dia menggertakkan giginya—merasakan remasan Taehyung di jemarinya hingga memutus aliran darahnya dan membuatnya kesemutan.

“Sangat... sangat bahagia. Aku bersumpah.” Dia menelan ludah, tercekat oleh isakannya sendiri. “Maka, beranilah untuk kita. Untuk dirimu sendiri. Untukku.”

Mereka bersisian, menangis dalam diam memikirkan posisi mereka—memikirkan hidup yang tidak kunjung lelah menghajar mereka dengan berbagai macam jenis ujian. Jeongguk mendengarkan suara tangisan Taehyung dan deburan ombak di sisi mereka. Pagi mulai menggeliat, beberapa orang melewati jalanan di sisi mereka—berangkat ke pasar beberapa meter dari sana untuk berjualan. Hidup berlanjut untuk orang lain sementara di dalam mobil itu, ada dua orang manusia yang tidak lagi menginginkan kehidupan.

Jeongguk menunggu, terus menunggu hingga akhirnya Taehyung menarik napas tajam.

“Kita kembali ke Puri-ku.” Katanya parau dan jantung Jeongguk mencelos, begitu kuatnya perasaan itu hingga sejenak dia mual serta limbung.

Dia mendongak, menatap Taehyung yang berwajah merah padam setelah menangis. Taehyung menyeka air matanya, binar tekad menyala di matanya dan Jeongguk menahan napas—dia sudah memutuskan. Jeongguk menguraikan genggaman tangan mereka dan menarik dirinya.

Taehyung sudah memutuskan.

“Kita kembali ke Puri-ku.” Ulangnya, kali ini lebih jernih dan tegas—menikam hati Jeongguk dengan belati panas yang bergerigi.

Hatinya patah, lagi. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya. Jeongguk menarik napas, mengencangkan otot perutnya demi menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. Akankah dia selamat dari sakit ini? Sakit luar biasa yang memukul telak di ulu hatinya ini? Akankah dia berhasil berenang ke permukaan setelah ini? Setelah Taehyung mencampakkannya?

Jeongguk linglung, berusaha mengatur dirinya sendiri untuk menjawab namun Taehyung melanjutkan dengan tegas dan jernih.

“Akan kuselesaikan masalahku di rumah sialan itu dan kita pergi dari sini.”

*

cie. kirain kharam yhaaaaa qiqiqiqi

ps. im not confident with this one AT ALL but well, here we go.


Alis ayah Jeongguk berkerut dan Jeongguk menahan napasnya.

Mereka sedang duduk di meja makan rumah utama, Mirah duduk di sebelah Jeongguk dengan senyuman di bibirnya namun Jeongguk bisa melihat bibir bawahnya bergetar sedikit menahan tangisan. Dia berusaha nampak tegar selama pertemuan, Jeongguk tahu seberapa kuat dia berusaha.

Jeongguk ingin menyemangatinya namun tidak berani melakukan apa pun karena dialah alasan mengapa hati Mirah berserakan dan dia tidak yakin dia bisa melakukan sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik. Dia sebaiknya diam saja.

Ayah Mirah menatap Jeongguk, nampak kecewa namun lebih bisa mengendalikan emosinya. Jeongguk tahu dia menyukai Jeongguk, sangat berharap bisa memiliki Jeongguk sebagai menantunya. Mengangkat derajat keluarganya karena anaknya menikahi pewaris salah satu Puri besar Bali. Hidup pastilah sudah sangat rapi baginya sebelum Mirah memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.

Jika saja dia tahu, betapa sempurnanya hidup juga terasa bagi anaknya ketika bertemu Jeongguk sebelum dia menyadari calon suaminya adalah seorang homoseksual.

Orang tua mereka diam ketika Mirah menjelaskan alasannya membatalkan pernikahan mereka, tidak memberi kesempatan untuk Jeongguk menolongnya. Ayah Jeongguk mengerutkan alisnya semakin dan semakin dalam saat mendengarkan Mirah, tidak memahami alasan mengapa gadis itu membatalkan pernikahan mereka—yang akan memberikan keuntungan bagi kedua belah keluarga.

“Kau ingin melajang dan bekerja?” Tanya ayah Jeongguk sekali lagi dan Jeongguk menahan napasnya—ayahnya yang kolot tidak akan memahami konsep bekerja bagi perempuan. Dan dia tidak akan cocok menjadi mertua bagi gadis feminis moderen seperti Mirah. “Kau bisa menikah sebelum berangkat ke Australia, tidak ada bedanya.”

“Tidak, Ajik.” Sela Mirah, kali ini tegas dan Jeongguk kagum bagaimana dia bisa tetap mempertahankan suaranya tetap tenang di depan ayah Jeongguk walaupun dia sudah hampir menangis. “Saya ingin bekerja dulu, ingin berkarir sebelum menikah.” Dia kemudian menoleh ke Jeongguk yang membalas tatapannya, menyadari air mata di sudut mata Mirah. “Jika kami berjodoh, kami akan bertemu lagi.”

Dia mengangkat tangannya dan Jeongguk seketika membalik tangannya di atas meja, membiarkan telapak tangan Mirah di tangannya. Dia menyelipkan jemarinya ke jemari Mirah, meremasnya hangat dan menyadari bagaimana Mirah tersentak kecil oleh sentuhannya. Tidak masalah, Jeongguk ingin menenangkannya. Taehyung tidak akan marah.

Mata kedua ayah mereka mengamati tangan mereka sebelum mendesah, tidak memahami alasan Mirah sama sekali. Jeongguk melirik gadis di sisinya, menurunkan tangan mereka dari meja dan meremasnya di bawah meja—berusaha menenangkannya walaupun dia bisa merasakan Mirah gemetar dalam genggamannya.

“Tapi kau mencintai Gung Wah.” Ayah Jeongguk menyelanya, tidak bertanya. Dia menyatakannya dengan keras dan Jeongguk bisa merasakan Mirah berjengit kecil karena kalimat itu.

“Ya.” Sahut Mirah jernih dan jelas. Jeongguk menahan napasnya, dia tidak bisa mendengarkan deklarasi cinta Mirah sekali lagi sekarang tanpa merasakan remasan luar biasa di hatinya tentang bagaimana gadis itu merelakan hatinya sendiri remuk demi membantu Jeongguk meraih cintanya sendiri.

Merelakan dirinya sendiri terinjak-injak.

“Saya sangat mencintai Bli Gung, mungkin itulah mengapa saya berpikir hubungan ini tidak sehat.” Mirah meringis, mencengkeram tangan Jeongguk hingga kukunya meninggalkan bekas berupa bulan-bulan sabit mungil di atas kulit Jeongguk. Namun dia masih mempertahankan wajah tenangnya walaupun di dalam genggamannya, tangan Mirah terasa dingin. “Apa pun yang berlebihan itu tidak baik.”

Ayah Mirah menghela napas keras, nampak sangat kecewa pada pilihan putri semata wayangnya. Mungkin beliau juga sama sekali tidak memahami logika yang digunakan Mirah dalam memutuskan segalanya. Namun apa pun itu, dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menatap anaknya, pasrah.

“Mirah sudah yakin?” Sela ibu Jeongguk lembut, mendayu-dayu sebelum ayah Jeongguk sempat mengatakan isi kepalanya dan Mirah mengangguk—bergegas melepaskan tangan Jeongguk dan entah mengapa, gestur itu membuat Jeongguk terluka.

Dia tidak terbiasa melihat orang lain terluka karenanya, instingnya ingin memperbaiki perasaan itu. Ingin meminta maaf, ingin menghiburnya. Namun dalam masalahnya dengan Mirah, dia tidak bisa memperbaikinya sama sekali karena hatinya telah memilih dengan siapa Jeongguk ingin menghabiskan hidupnya. Dan jika dia tetap bertahan dengan Mirah, dia hanya akan semakin menyakiti gadis itu. Cepat atau lambat, Jeongguk memang akan mengakhiri hubungan mereka. Dia bisa saja menikahi Mirah, membuat semua orang senang dan melakukan apa yang disukainya setelahnya namun dia sadar itu sama sekali tidak adil bagi Mirah.

Mereka memang harus mengakhiri hubungan ini.

“Sudah, Biang.” Sahut Mirah tegas, mengulaskan senyumannya yang biasa—senyuman yang membuat wajahnya berpendar seperti bulan purnama. “Tidak apa-apa, lagi pula saya juga tidak enak jika memaksa Bli Gung menunggu. Jadi kami sepakat sebaiknya kami membatalkan saja pernikahan ini.”

“Apa tidak sebaiknya ditunda saja?” Desak ayah Jeongguk lagi, mengerutkan alis di kepala meja dan Yugyeom di sisi kanannya melirik kakaknya. Dia tahu segalanya dan sama terjebaknya dengan Jeongguk di meja makan mereka. “Kalian bisa tetap bertunangan dan menikah jika nanti kau berubah pikiran.”

Mirah tertawa kecil, “Ajik,” katanya lembut. “Bli Gung sudah mendesak saya melakukan hal yang sama, bahkan memohon.” Dia tersenyum dan Jeongguk berjengit dalam hati—dia tidak mengatakan apa pun.

Namun dia menyadari dengan Mirah mengatakannya, dia meletakkan Jeongguk di posisi yang aman. Tidak bersalah karena dia sudah berusaha, dia tidak melepaskan Mirah begitu saja. Mirah sekali lagi, menyelamatkan Jeongguk. Berkali-kali hingga rasanya hutang Jeongguk padanya menumpuk dan terus menumpuk.

Dia merasakan tatapan ayahnya membakar sisi wajahnya namun dia memilih menatap Mirah, memainkan peran sebagai lelaki terluka yang akan ditinggalkan kekasihnya dengan dada bergemuruh. Tidak yakin bagaimana perasaannya tentang pembatalan ini: senang karena dia bisa menyusun rencana kaburnya dengan Taehyung dan fokus pada masalah Taehyung. Namun juga tidak bisa melihat Mirah terluka. Dia melirik jam dinding, memikirkan kekasihnya yang menunggu mereka.

Taehyung sedang di kamarnya, menunggu mereka selesai untuk bicara dengan Mirah. Mudah menyelundupkan Taehyung di rumahnya yang terlalu besar ini, Taehyung bisa memarkir motornya di rumah teman Yugyeom yang berada di Barat rumah mereka lalu mengendap ke Puri—menyelip masuk dan tidak ada yang menyadari keberadaan Taehyung.

Jeongguk sudah memberi tahu Mirah ketika gadis itu duduk di sisinya untuk makan, berbisik rendah bahwa Taehyung ingin bertemu dengannya setelah acara selesai. Dan meskipun wajahnya memucat saat Jeongguk menyebut nama Taehyung, gadis itu mengulaskan senyuman dan mengangguk.

Dia dan Taehyung sudah membelikan sesuatu untuk Mirah. Mereka menyempatkan diri mampir ke Denpasar, setelah sesi pertama Taehyung yang berjalan lancar dan penuh amarah (Jeongguk menunggu di depan rumah Thia dan berjengit tiap kali Taehyung menaikkan suaranya. Namun ketika keduanya keluar, Jeongguk menyadari Thia nampak sama sekali tidak terganggu oleh amarah Taehyung dan malah senang Taehyung melampiaskannya) demi membelikan sesuatu untuk Mirah. Jeongguk membiarkan kekasihnya memilih hadiah itu sendiri dan setuju ketika dia menanyakan pendapat Jeongguk.

Hadiah itu berada bersama Taehyung, terbungkus rapi.

Jeongguk tidak yakin Mirah akan menyukai hadiahnya, tetapi Taehyung nampak senang karena bisa memilihnya. Dia ingin berdamai dengan gadis itu, ingin menjalin pertemanan karena Mirah telah sangat menolong mereka. Jeongguk tidak yakin dia ingin menjadi penjahat dengan merusak keinginan Taehyung, dia ragu sekali Mirah ingin menjalin pertemanan apa pun dengan mereka setelah ini.

Dia tetap mengiyakan Taehyung, apa saja agar Taehyung senang. Berharap Mirah akan setidaknya menerima hadiah itu, tidak peduli apa yang akan gadis itu lakukan pada benda itu setelahnya.

“Tapi tidak.” Mirah kembali bicara dengan jernih. Menyadarkan Jeongguk mengapa dia bisa memenangkan banyak sekali bisnis untuk perusahaannya, dia punya kemampuan bicara persuasif yang baik. Tertata dan tenang. Dia menatap gadis itu, menyadari seberapa banyak potensi yang mereka miliki jika bersama dan menghela napas—dia tidak bisa mencintai Mirah, tidak peduli seberapa mudah pun itu terasa.

“Sebelum perjodohan ini pun saya memang akan mengejar karir sebelum menikah. Kesempatan bekerja di perusahaan ini tidak akan saya lepaskan, tidak akan datang dua kali dan tidak adil jika saya mengorbankan Bli Gung dalam hubungan ini.” Dia menatap Jeongguk sekilas sebelum menatap ayah Jeongguk lagi—langsung ke matanya.

“Jadi saya rasa, perpisahan adalah satu-satunya jalan keluar.”


Taehyung tahu Mirah takut atau bahkan membencinya.

Namun dia tetap berusaha. Dia merogoh sakunya, menyentuh hadiah mereka dan menghela napas. Mirah sempat membuatnya merasa tidak nyaman, benci, dan cemburu. Membuat Taehyung mempertanyakan orientasi seksualnya sendiri, mempertanyakan motif Jeongguk padanya.

Hal yang disadari Taehyung adalah Mirah-lah sebenarnya alasan mengapa dia kemudian menerima perasaannya sendiri: bahwa dia tidak menginginkan orang lain membuat Jeongguk bahagia selain dirinya sendiri. Membuat Taehyung ingin berjuang bersama Jeongguk, ingin membahagiakan Jeongguk.

Mirah memberikannya pandangan bagaimana masa depan Jeongguk tanpa Taehyung dan bagaimana masa depan Taehyung tanpa Jeongguk. Dia melihat bagaimana hidup Jeongguk akan sangat mudah bersama Mirah, melihat betapa Jeongguk nyaman bersamanya dan tidak menyukai itu. Serta menyadari bagaimana dia tidak menginginkan masa depan mana pun tanpa Jeongguk di dalamnya.

Maka Taehyung mempelajari satu-dua hal dari cara gadis itu mengapresiasi Jeongguk. Dia ingin membahagiakan Jeongguk, dia ingin Jeongguk merasa nyaman dan ringan di sekitarnya—sama seperti bagaimana dia ketika berada di sekitar Mirah. Bahkan lebih. Dan Taehyung cukup egois untuk ini.

Hingga sebenci apa pun mereka pada satu sama lain, Taehyung tetap ingin mengucapkan terima kasih. Jika bukan karena Mirah, Taehyung tidak akan pernah memiliki cukup keberanian untuk merengkuh Jeongguk menjadi miliknya. Dia duduk di atas ranjang Jeongguk, menunggu pertemuan keluarga mereka berakhir.

Dia mengerjap, mendengar dengung percakapan di kejauhan. Apakah mereka sudah selesai? Dia menajamkan pendengarannya dan berdiri ketika mendengar suara Jeongguk dan Mirah mendekat. Taehyung merogoh sakunya dan mengeluarkan hadiah mereka—tidak yakin bagaimana harus menghadapi Mirah sekarang setelah menyadari bahwa gadis itu tahu hubungan mereka. Dia menghela napas, menahannya ketika pintu berderak dan daunnya mengayun terbuka.

Wajah Jeongguk adalah yang pertama dilihatnya dan Taehyung mendesah, merindukan Jeongguk—sangat merindukannya. Kekasihnya tersenyum dan seketika ketakutan, kebingungan, dan keraguan Taehyung menguap. Dia menatapnya, begitu lembut dan penuh kasih hingga Taehyung berdesir karenanya. Jeongguk kemudian menyingkir, mempersilakan Mirah memasuki ruangan dan menutup pintunya, menyisakan celah kecil.

Taehyung berdiri di sana, jauh lebih tinggi dari Mirah yang tidak berani menatapnya. Gadis itu melirik ke arah kanan, menghindari mata Taehyung dan dia menyadari betapa pucat wajah Mirah. Taehyung menoleh pada Jeongguk yang mengangguk, menyemangatinya. Sebelum Taehyung sempat mengatakan sesuatu, Yugyeom mendesak masuk dan Jeongguk mendesah keras.

“Maaf!” Seru Yugyeom karena semua orang di ruangan berjengit kaget ketika dia mendesak masuk secara mendadak. “Kalian tegang sekali, maafkan aku!” Dia meringis, merona karena membuat semua orang terkejut.

“Maaf,” desah Jeongguk, mentap Taehyung. “Aku harus membawanya. Ajung tidak tahu kau di kamarku, jika aku hanya kemari bersama Mirah mereka akan curiga. Jadi Yugyeom akan menemani kita.” Dia menatap Taehyung yang mengerjap, sejenak disorientasi namun kemudian mengangguk—tidak masalah, Yugyeom bukan masalah.

“Aku tidak akan ikut campur.” Tambah Yugyeom, mengangguk dan Taehyung menyadari anak itu sama sekali tidak ingin berada di sana, namun terjebak. Sama seperti mereka semua. Hanya saja, Yugyeom bisa menyelesaikannya hanya dengan melangkah pergi dari kamar Jeongguk.

Sementara Jeongguk dan Taehyung? Bagaimana caranya melangkah dari kehidupan mereka sendiri?

“Tidak apa-apa,” katanya dengan nada biasa namun suaranya membuat Mirah berjengit kaget. Taehyung berdeham, menyadari suaranya jika dibandingkan suara Jeongguk yang halus dan lembut pastilah terdengar kasar dan serak. “Maaf.” Katanya sekali lagi dan Mirah kembali berjengit.

Dia mengulurkan tangannya ke arah Mirah. Dan secara mengejutkan, gadis itu menanggapinya dengan tersentak kecil—seolah Taehyung akan memukulnya. Dia menjauhkan wajahnya dari tangan Taehyung dengan mata terpejam, mundur selangkah dari Taehyung. Gestur itu membuat hati Taehyung terkoyak—apakah dia memang semengerikan itu hingga reaksi pertama gadis ini adalah melindungi diri darinya?

Jeongguk menangkap atmosfer itu dengan cepat dan menyentuh bahu Mirah lembut, Taehyung menggertakkan rahangnya ketika melihat tangan Jeongguk mendarat di bahu Mirah—berusaha keras agar tidak menggeram ketika miliknya menyentuh orang lain. Namun dia juga paham Jeongguk berusaha menenangkan gadis itu. Taehyung menarik napas perlahan, mengatur emosinya—dia tidak bisa mengamuk pada Jeongguk sepanjang waktu.

“Tidak apa-apa, Mirah. Dia hanya ingin memberikanmu sesuatu.” Bisik Jeongguk, melirik Taehyung dengan cemas. Memastikan kekasihnya tidak terluka karena gestur Mirah itu.

Terlambat, Taehyung sudah terluka namun dia bergegas menelan sakit hatinya. Dia terbiasa pada tatapan takut orang-orang padanya, memang itulah kesan yang ingin ditinggalkannya pada semua orang. Namun entah mengapa ketika Mirah terkesiap dan bersikap defensif hanya karena Taehyung mengangkat tangannya membuat hatinya terluka. Dia mengulurkan telapak tangannya, membiarkan kantung beledu itu berada di atas tangannya.

“Maaf, jika aku mengagetkanmu.” Katanya, menyadari betapa parau suaranya jika dibandingkan suara Jeongguk. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah melindungi Jeongguk, karena telah menyelamatkan kami. Telah memikirkan Jeongguk. Terima kasih.” Dia melirik Jeongguk yang mengangguk, menyemangatinya.

“Walaupun kau bisa lihat bagaimana ayahnya menyikapi pembatalan pernikahan kalian, tapi aku tidak menyalahkanmu.” Dia bergegas menambahkan, dengan sedikit panik agar Mirah tidak berjengit lagi—merasa Taehyung menyalahkannya karena dia mengklaim diri akan memasang badannya melindungi Jeongguk. “Terkadang, kita tidak bisa melindungi orang yang kita cintai sepanjang waktu.” Tambahnya, setengah berbisik.

Jeongguk mengerjap, menatapnya—jelas kaget mendengar bagaimana Taehyung memosisikan dirinya ketika bicara dengan Mirah. Dan Taehyung juga melihat gadis itu mendongak menatapnya, untuk pertama kalinya. Dia membalas tatapan Mirah, mengulaskan senyuman. Mereka punya persamaan, Taehyung dan Mirah, mereka mencintai Jeongguk dan siap terluka demi melindungi Jeongguk. Perbedaannya hanyalah siapa yang Jeongguk pilih.

I think very highly of you,” Taehyung menatapnya, memperlembut suaranya—berharap Mirah tidak takut padanya. “Sejak pertama aku mengenalmu. Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami, menyelamatkan Jeongguk. Terima kasih karena telah... melakukan segalanya demi Jeongguk.”

Mirah menurunkan pandangannya, menatap kantung di tangan Taehyung dan terkesiap kecil menyadari apa yang diberikan Taehyung untuknya. Taehyung tersenyum kecil, melirik Jeongguk dengan sedikit gelisah—Mirah akan menyukainya, 'kan? Dia memilih sendiri hadiah itu.

“Itu,” bisik Mirah menatap kantung di tangan Taehyung. “Terlalu mahal, tidak.” Dia menggeleng, mendongak menatap Taehyung. “Bli Tjok tidak perlu membelikanku...” Dia menelan ludahnya dengan sulit, gugup.

Taehyung mengedikkan bahunya kalem. “Tidak masalah, aku ingin memberikanmu sesuatu. Bantuanmu tidak akan bisa diuangkan jadi benda ini tidak ada artinya sama sekali selain bahwa aku berharap setelah ini, kau bisa sedikit... menganggap kami temanmu.” Taehyung menatapnya dan Mirah mengerjap.

“Aku,” dia menghela napas dan mendongak—menatap Jeongguk yang masih terkejut karena kalimatnya tadi. “Aku pernah membencimu, aku tidak akan bohong mengenai ini.” Dia menatap Mirah yang berjengit kecil mendengarnya. Taehyung merasa tidak ada gunanya lagi membenci gadis itu ketika Jeongguk sudah dengan jelas menunjukkan siapa yang dipilihnya.

“Kau tahu aku pernah membencimu dan aku juga yakin kau pernah atau bahkan masih membenciku, itu manusiawi sekali. Aku tidak akan melarangmu membenciku,” lanjut Taehyung tergelak lembut. Dia menghabiskan hidupnya dibenci keluarganya sendiri, dibenci Mirah tidak akan menambahkan apa pun pada hatinya.

“Malah,” Taehyung membuka kantung di tangannya dan meraih tangan Mirah, dia mengenggam lembut tangan mungil gadis itu, senang gadis itu tidak berjengit oleh sentuhannya. Taehyung membaliknya hingga bagian dalam telapak tangannya menghadap ke atas sebelum menggoyangkan kantung turkuis itu hingga isinya jatuh ke tangan Mirah.

Kalung perak dengan permata safir mungil membalas tatapan Mirah yang terkesiap lebih keras.

“Aku ingin memberimu ruang untuk membenciku.” Bisiknya lirih dan menyadari Jeongguk yang bergerak mendekat ke arahnya, menyentuh bahunya—memberikannya tenaga untuk melanjutkan. “Bencilah aku sepuasmu. Habiskan semua kebencianmu. Tidak masalah.” Dia tersenyum menatap Mirah yang menunduk menatap tangannya.

Permata safir di kalung perak Tiffany & Co itu menurut Taehyung akan sangat sesuai dengan nama Mirah. Harganya lumayan, tapi Taehyung tidak mempermasalahkannya. Bantuan Mirah tidak bisa dihargai dengan uang sama sekali. Mereka membayar kalung itu berdua karena Jeongguk memaksa. Mirah membantu mereka berdua, maka mereka berdua yang membayarnya. Taehyung bergegas mengiyakan, tidak ingin berdebat karena dia lelah setelah sesi pertamanya dengan Thia.

“Itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku sangat berterima kasih padamu, sungguh amat berterima kasih karena telah menyelamatkan Jeongguk.” Dia mengulaskan senyuman lain pada Mirah yang mendongak kaget ketika menyadari isi kantung turkuis yang diserahkan Taehyung. “Kau tidak perlu menggunakannya sekarang. Atau silakan menjualnya jika kau ingin.” Dia mengedikkan bahunya.

“Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu untuk mengekspresikan rasa terima kasihku dan mengingatkanmu bahwa apa pun yang terjadi, aku dan Jeongguk adalah temanmu.”

Taehyung paham Mirah tidak akan bisa menatap mereka sebagai temannya sekarang—hanya gadis psikopat yang bisa melakukannya. Dia pasti membenci Taehyung, tidak ingin melihatnya. Tidak ingin bertemu orang yang dipilih Jeongguk karena Taehyung pernah berada di posisinya. Cemburu dan benci pada Mirah karena dia adalah pilihan orang tua Jeongguk. Dia memiliki waktu ketika dia tidak ingin menatap Mirah, memikirkan namanya saja mampu membuat Taehyung gusar sepanjang waktu.

Dia paham posisi Mirah, dia merasakan posisi itu.

Mirah menatap kalung di tangannya dan menghela napas sebelum mendongak menatap Taehyung yang mengerjap karena gadis itu menatapnya. Mereka bertatapan sejenak dalam diam. Mirah kemudian tersenyum dan mengulurkan kalung itu pada Taehyung. Sejenak, Taeyung berpikir dia tidak mau menerimanya dan sudah akan mendesaknya untuk menerima hadiah itu ketika dia membuka mulutnya.

“Bli Tjok,” bisiknya lirih dan Taehyung bisa mendengarnya gemetar, namun mengendalikan dirinya dengan amat baik. Dia menyeka rambutnya, membawanya ke depan sebelum berputar sedikit, memberikan ruang terbuka di lehernya.

“Tolong pakaikan kalungnya.”

*

tw // domestic physical abuse , anxiety , frustration .


Jeongguk mengerang kecil ketika menyandarkan tubuhnya di mobil, dia menyentuh pipi kanannya yang nyeri—menyecap darah di dalam rongga mulutnya dan meringis.

Dia baru saja bangun, hendak mandi dan bersiap berangkat menjemput Taehyung ke Klungkung ketika pintu kamarnyamendadak terbuka dan ayahnya berdiri di depan pintu. Nampak murka, belum pernah semurka itu sebelumnya. Jeongguk belum sempat menanyakan apa pun bahkan mengerjapkan matanya ketika tangan ayahnya melayang dan menamparnya dengan punggung tangannya. Rasa tajam karat dan garam meledak di mulutnya ketika giginya melukai bagian dalam mulutnya.

“Apa yang kaulakukan?” Tanyanya menggeram sementara Jeongguk menyentuh wajahnya yang berdenyut, merasakan darah di dalam mulutnya dengan ngeri. Kantuknya lenyap seketika, diganti rasa mual dan ketakutan yang merayap dari dasar perutnya. “Apa yang kaulakukan pada Mirah?” Tanyanya lagi, kali ini semakin marah.

Perut Jeongguk mencelos, ayahnya baru tahu mengenai hubungannya dengan Mirah? Dengan panik, dia berpikir Mirah berjanji padanya akan mengatakan sesuatu tentang dialah alasan mengapa mereka tidak menikah. Sama sekali bukan Jeongguk. Lalu kenapa ayahnya marah padanya....?

Dan dia menyadari, bahkan jika Mirah meninggal sekali pun karena kesalahannya sendiri, ayah Jeongguk akan selalu menemukan cara untuk menyalahkan Jeongguk. Bagi ayahnya, semua hal di dunia ini adalah kesalahan Jeongguk.

“Ajung, ampura. Mirah...,” Jeongguk baru saja membuka mulutnya, hendak menjelaskan ketika tamparan lain mengenai sisi wajah satunya—kali ini jauh lebih menyakitkan hingga erangan lolos dari mulutnya ketika tubuhnya terangkat oleh pukulan itu. Kepalanya berdenyut, pipinya berdenyut—sakit sekali hingga dia nyaris mengumpat karenanya. Bersyukur dia segera menggigit lidahnya agar ayahnya tidak semakin murka.

Berengsek, pikirnya getir saat merasakan kedua sisi wajahnya berdenyut mengerikan.

“Ajung tidak percaya.” Geramnya, berdiri menjulang di depan anak sulungnya yang masih duduk di atas ranjangnya. Itu pukul lima pagi, Jeongguk baru saja bangun dan ayahnya sudah memutuskan untuk memberinya pelajaran. “Ajung tidak percaya dia mundur begitu saja! Kau pasti melakukan sesuatu yang membuatnya terluka dan memutuskan untuk membatalkan pernikahan!”

Jeongguk berjengit ketika tangan ayahnya terangkat, hendak memukulnya sekali lagi namun ayahnya menggeram dan, entah apa yang dipikirkannya, menurunkan tangannya. Nampak berusaha keras mengendalikan amarahnya saat memelototi anaknya yang menunduk. Jeogguk menelan semua darah yang terbit di mulutnya dengan pilu—sejenak memikirkan Taehyung dan merasakan ponselnya bergetar di bawah bantalnya. Taehyung pasti mencarinya, cemas karena dia tidak mengirim pesan namun Jeongguk terjebak.

Jika dia bergerak sekarang, ayahnya akan semakin marah. Hal yang dipelajarinya sejak kecil ketika ayahnya marah adalah diam dan mengiyakan. Dengan begitu, dia akan lebih cepat puas dengan amarahnya dan meninggalkan Jeongguk. Dia memejamkan mata, merasakan getaran ponselnya merambat di atas ranjang dan berdoa agar Taehyung tidak marah padanya hari ini. Jeongguk tidak akan bisa menangguhkannya.

“Apa yang kaulakukan?” Geramnya, suara ayahnya yang berat menjalar di permukaan kulitnya dan membuatnya semakin mual. Sakit yang berdenyut di tulang pipinya tidak ada artinya dibanding ketakutan yang berpusar di dasar