Gourmet Meal 569
tw // implied domestic abuse . ps. excuse typo it's so hard for me to concentrate lately x
Jeongguk menghela napas berat saat dia membanting pintu mobilnya menutup dengan lelah. Dia tidak sempat menceritakan apa pun yang dikatakan Hendra pada Taehyung karena lelaki itu terburu-buru; menyesali bagaimana Jeongguk menghabiskan waktu mereka yang berharga untuk meledakkan amarahnya. Dia mengusap wajahnya ketika meraih tasnya yang terisi pakaian kotor di jok belakang dengan resah—dokumen mereka juga sudah disimpannya di sana, akan diamankan di kamarnya setelah ini.
Taehyung hanya sempat menceritakan bagaimana hari itu dia menemani Devy ke salon tempat mereka menyewa pakaian untuk pernikahan mereka. Sesi foto pra-pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah resepsi. Juga mengeluhkan bagaimana orang-orang berpikir bahwa Devy sudah hamil, itulah alasan mengapa mereka terburu-buru menikah dan membicarakan perbedaan usia mereka. Jeongguk mendengarkan sambil mengemudi, tidak yakin apa yang harus dirasakannya sekarang dengan begitu banyak informasi berkecamuk di kepalanya.
“Apa yang ingin kaukatakan tentang Hendra?” Tanya Taehyung kemudian setelah dia selesai bercerita ketika Jeongguk mengemudi di jalan utama Denpasar-Karangasem yang mulai lenggang.
Dia baru menarik napas, hendak menceritakan apa yang dikatakan Hendra ketika dia mendengar Taehyung terkesiap keras. Dia bergidik saat suara ayah Taehyung terdengar dari seberang.
“Tidur.” Hanya itu yang dikatakannya, dengan kekuatan dominasi yang tiba hingga ke seberang sambungan telepon.
Jeongguk mengencangkan genggamannya di roda kemudi hingga buku-buku jemarinya memutih. Umpatan apa pun sudah sama sekali tidak bisa mewakili amarah yang bergolak di dasar perutnya, menyakiti ulu hatinya.
“Telepon pekerjaan, sebentar.” Sahut Taehyung, terdengar tegang dan... ketakutan. Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Aku akan segera menyelesaikannya.” Tambahnya lalu hanya untuk menambah kengeriannya, Taehyung berkata padanya dengan nada kering: “Baiklah, Hoseok. Kau bisa memberi tahuku segalanya besok. Saya harus mengerjakan sesuatu. Terima kasih. Selamat malam.” Dan mematikan panggilan mereka.
Pesan muncul semenit kemudian: “Ajung tidak akan pergi sebelum aku mematikan ponsel. Maaf.”
Jeongguk mendesah frustrasi. Haruskah dia menghubungi Lakshmi walaupun hatinya menolak percaya pada perempuan itu? Memberi tahunya segala hal tentang Devy yang selama ini menyusup ke keluarga mereka seperti domba betina? Atau... apakah Devy tahu segala rencana ayahnya ini? Kenapa dia bisa sangat.... terobsesi pada Taehyung?
Dia melangkah melewati jalan setapak dari garasi ke halaman rumahnya yang sunyi sambil memijat pelipisnya dengan lelah. Kedua orang tuanya pasti sudah tidur dan dia menoleh ke kamar Yugyeom, menemukan lampunya menyala dan pintunya terkuak sedikit. Hatinya terasa sedikit ringan, ada Yugyeom. Setidaknya ada satu hal yang normal di hidupnya—camilan malam dengan Yugyeom.
Dia tersenyum, menjentikkan lidahnya ke langit-langit mulutnya—menciptakan suara 'tok!' nyaring sebagai isyarat memanggil Yugyeom. Jeongguk terhibur ketika melihat pintu bergegas dibuka dan adiknya menatapnya—ceria dengan rambut kusut dan senyuman lebar. Yugyeom melambai, nampak sangat senang melihatnya pulang.
Jeongguk lelah sekali hari itu dan memutuskan menggunakan adiknya untuk mengubur kelelahan itu, mengalihkan pikirannya dari segala kesintingan hari itu. Taehyung tidak menghubunginya lagi dan pesan yang dikirim Jeongguk padanya tidak terkirim. Dia meletakkan tasnya di kasur, menyimpan ponselnya di atas nakas lalu keluar kamarnya persis ketika Yugyeom berlari menyeberangi halaman rumah mereka ke arahnya. Jeongguk tersenyum, merangkul adiknya. Dia tidak ingin memikirkan Taehyung, sejenak saja karena dia sungguh kelelahan dengan isi kepalanya sendiri.
Mereka akan kabur dua hari lagi namun Jeongguk tidak merasa mereka dekat dengan siap. Termasuk bagaimana Taehyung jarang menghubunginya. Dia mendesah, menggelengkan kepalanya dan memfokuskan dirinya pada Yugyeom di sisinya. Pemuda itu sudah beraroma keringat dewasa dan parfum maskulin, tidak lagi aroma bayi dan minyak telonnya yang sejak dulu menempel di Jeongguk. Adiknya sudah sangat dewasa dan Jeongguk bangga karenanya.
“Sudah membeli kornet?” Tanyanya, mengusap sayang rambut adiknya yang sedikit lagi sudah akan tumbuh menyamai tinggi badannya.
“Sudah!” Yugyeom terkekeh, melangkah di sisinya dengan tas belanja di tangannya yang terisi mie instan, kornet, dan sosis.
Sejak dia tahu kakaknya akan meninggalkannya, Yugyeom bersikap sangat manja padanya. Selalu berada di sekitarnya, selalu bertanya apakah dia pulang malam itu, tidak akan tidur sebelum kakaknya pulang. Itu membuat Jeongguk merasa semakin berat meninggalkan adiknya. Namun Jeongguk jika tidak bisa bertahan di tempat yang membuatnya tidak bahagia demi orang lain yang bukan dirinya sendiri. Yugyeom mungkin harus belajar untuk mengikhlaskan bahwa dalam hidup, dia tidak bisa memiliki segala yang diinginkannya.
Mereka mengendap ke dapur lalu Yugyeom mengeluarkan dua bungkus mie instan dari kantung belanja. Jeongguk menyiapkan panci di atas kompor dan menyiapkan bahan tambahan dalam mie instan mereka: sayuran dan cabai. Yugyeom di sisinya, menolak menunggu seperti biasanya dan membantu kakaknya mengerjakan makanan ilegal mereka. Dia meletakkan dua mangkuk di atas meja makan, menuang bumbu instan ke dalamnya dan memotong-motong cabai.
“Apa yang kaulakukan seharian?” Tanya Jeongguk seraya menunggu air mendidih.
“Mencari pekerjaan.” Gerutu Yugyeom dan Jeongguk terkekeh. Adiknya sempat magang di Kementerian Pariwisata namun ayah mereka tidak mengizinkannya bekerja di sana dan fakta itu membuat Yugyeom jengkel sekali.
“Melamar di tempat bagus?” Tanyanya lagi.
Yugyeom mengangguk. “Ada beberapa, tapi aku tidak yakin mendapatkan panggilan.” Dia mengerutkan alis.
“Be gentle on yourself,” Jeongguk mengusap kepalanya sayang. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Mungkin tempat-tempat itu tidak akan memberikanmu pelajaran sehingga Tuhan menjauhkannya.”
Yugyeom mencibir, masih tidak terima namun mengangguk seraya membawa sayuran ke bawah air untuk dicuci. Jeongguk tergelak saat air di dalam panci menggelegak. Maka dia memasukkan dua mie mereka ke dalam air yang mendidih ketika seseorang berdeham. Mereka terkesiap keras dan menoleh bersamaan, menemukan ayah mereka berdiri di pintu masuk dengan pakaian tidur dan rambut yang menempel di sisi kepalanya—baru bangun.
Keduanya menahan napas, saling melirik dan Jeongguk sudah meraih tangan adiknya—hendak melindunginya, mengakui bahwa itu semua salahnya. Ada dua mangkuk terisi bumbu dan potongan cabai di meja makan. Jeongguk merebus mie dan Yugyeom mencuci sayuran. Ayah mereka tahu apa yang mereka lakukan, tidak ada cara untuk menghindar.
Namun ayah mereka melangkah ke dispenser di kulkas. “Ajung tahu kalian melakukan ini setiap malam.” Katanya setengah mengantuk dan mengisi gelas dengan air hangat. “Tidak apa-apa, bereskan setelah memasak agar Biang tidak tahu.” Dia meneguk airnya sebelum meletakkan gelas di bak cuci dan menguap seraya melangkah keluar.
Dia berhenti di depan pintu dan tersenyum tipis, menatap Jeongguk persis di matanya hingga Jeongguk berjengit kaget, jantungnya mencelos dan Yugyeom menggenggam tangannya di balik punggung mereka.
Namun ayah mereka hanya menguap kecil dan melirik panci di kompor, airnya mendidih. “Awas mienya lepah, Gung.” Kemudian berlalu dari sana, tanpa menoleh lagi.
Jeongguk berdiri di sana, terbelalak kaget. Itu pertama kalinya ayah mereka bicara padanya dengan nada lembut dan bergurau dengannya. Otaknya tidak bisa memproses ekspresi ayahnya sama sekali, tatapannya dan nada suaranya. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menjadi perhatian dan lembut padanya persis dua hari sebelum Jeongguk kabur?
“Wow. Itu sungguh Ajung?” Bisik Yugyeom setelah mereka bersidiam beberapa menit yang terasa panjang. “Kenapa dia...?”
Jeongguk menggeleng, karena dia juga sama sekali tidak paham. “Entahlah.” Bisiknya, merasakan hentakan aneh di hatinya—memikirkan dalam dua hari, dia tidak akan ada di rumah ini lagi. Meninggalkan segala identitas dan jati dirinya.
Juga orang tuanya.
“Entahlah.” Bisiknya, masih terpana.
Jeongguk membongkar dokumen mereka malam itu setelah membereskan makan malam mereka sebelum mandi: semuanya lengkap. Mereka memiliki nama baru, KTP baru, SIM A dan C. Dia duduk di kasurnya, menatap akta lahir baru mereka dengan perasaan tidak menentu.
Ayahnya bersikap lembut padanya tadi mengguncangkan pertahanan dirinya. Apakah dia menyadari Jeongguk sebentar lagi akan hengkang dari rumah ini sehingga dia bersikap lembut? Apakah alam bawah sadarnya menyadari niat Jeongguk? Menyadari bahwa dia mungkin tidak akan bertemu anak sulungnya lagi?
Jeongguk menatap wajah Taehyung di KTP-nya. Jeongguk memilihkan nama untuk Taehyung: Yudistira. Kakak tertua dalam Pandawa Lima, kakak Jeongguk dan berharap Taehyung tidak akan membuat keputusan yang sama seperti Yudistira saat mempertaruhkan istri dan kerajaannya di meja judi. Sementara Jeongguk menggunakan nama kakeknya, Raka. Tidak banyak kenangan tentang kakeknya namun Jeongguk selalu ingat bagaimana kakeknya menawarinya makan setiap dia melewati rumah kakeknya.
“Gung, sudah makan? Ayo, makan.”
Tidak peduli berapa kali Jeongguk lewat di depan rumahnya, kakeknya akan terus menawarinya hal yang sama. Jeongguk menyesal dia hanya pernah makan di dapur kakeknya sekali sebelum beliau meninggal. Tapi sekali lebih baik daripada tidak sama sekali.
Dia menatap nama baru Taehyung, Yudistira Mahattma dan nama barunya, Raka Satria. Mereka mengambil nama belakang, menghilangkan nama keluarga dan gelar bangsawan mereka. Bahkan tidak menggunakan nama Bali. Karena dia mengundurkan diri dari Amankila secara baik-baik, dia mungkin akan menggunakan kesempatan itu untuk melamar di properti Aman lain. Dia belum tahu mengenai Taehyung; apakah dia sudah mengundurkan diri? Taehyung jauh lebih senior dari Jeongguk, dia akan lebih mudah mendapat pekerjaan karena jam terbangnya.
Jeongguk menggertakkan giginya. Semakin dekat dengan hari keberangkatan, Jeongguk malah semakin menyadari bahwa ada banyak sekali hal yang mereka belum selesaikan dan itu membuatnya cemas serta gugup. Mengingat cerita Hendra, Jeongguk tidak mau Taehyung terjebak dalam pernikahan itu—tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan dilakukan ayah Devy pada Taehyung.
Atau apakah kematian akan menghentikan Taehyung dari membalaskan dendamnya pada Devy.
Jeongguk memijat pelipisnya. Mereka tidak bisa gagal sekarang. Mereka harus kabur dan Jeongguk merasa mual memikirkannya. Kepalanya berdenyut; Taehyung yang menjaga jarak, persiapan mereka yang alih-alih semakin lengkap malah semakin berkurang, kegelisahannya pada perpindahan mendadak mereka—adaptasi di tempat baru, mencari pekerjaan lagi, membangun hidup baru...
Jeongguk bisa meledak.
Dia meraih ponselnya, menghela napas ketika tidak melihat pemberitahuan dari Taehyung namun tetap membuka ruang obrolannya dengan kekasihnya. Dia menatap wajah kekasihnya di foto dengan resah dan mencoba menekan perasaan gelisah di otaknya. Apakah mereka akan baik-baik saja? Bisakah mereka melakukan ini? Mengapa perasaan berat aneh ini menggelayuti Jeongguk terus menerus?
Haruskah mereka melakukannya....?
Jeongguk mengetik dengan perasaan hampa: Alih-alih semakin siap, aku merasa semakin ragu. Bagaimana ini?
*Lepah: terlalu matang, lembek