Gourmet Meal 561

tw // mention of bully , anxiety , manipulation , revenge , anger , mention of domestic and physical abuse .

ps. baca pelan-pelan yaa, this one is disgusting :( take care of yourself! <3


Jeongguk menatap Hendra dengan alis berkerut, mengamati wajahnya yang berkerut oleh ekspresi jijik yang membuat perutnya mual. “Apa... Ada apa di antara mereka?” Tanyanya, mendesak.

Hendra melirik jalanan, “Ceritanya lumayan panjang. Jika kau mau, kita bisa duduk di dalam. Akan kubuatkan minum, lebih nyaman” Dia menatap Jeongguk yang menggeleng tegas, dia mengulurkan tangan dan menyalakan lampu kabin lalu membuka pintu mobilnya.

“Tidak perlu repot-repot. Ceritakan saja di sini.” Dia mematikan mesin mobilnya, siap mendengarkan. Mengepalkan tangannya di atas dokumen penting mereka, kertas yang akan mengantarkan mereka dengan selamat keluar dari Bali.

Hendra mengikuti gerakannya dengan membuka pintu mobilnya juga, duduk di atas kursi penumpang sementara udara malam menyusup ke dalam menggantikan fungsi penyejuk. Dia berdeham, sejenak tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan Jeongguk menunggu—menatapnya lekat hingga dia sejenak rikuh.

“Jadi,” Hendra berdeham. “Kakekku sudah mengenal mereka berdua sejak kecil. Kau tahu, lingkungan ini kecil sekali. Kakekku kenal dengan kakek Taehyung, orang tuaku kenal dengan mereka. Mereka dulu bersekolah di tempat yang sama,” dia melirik Jeongguk yang tidak menatapnya—dia menatap lurus ke jalanan, mencoba mencerna cerita itu dengan perlahan.

“Ada banyak cerita mengenai mereka berdua, salah satunya adalah bagaimana ayah Devy selalu membuli ayah Taehyung.”

Alis Jeongguk berkerut, dia melirik Hendra yang balas menatapnya dan mengedikkan bahunya perlahan. “Menurut kakekku, ayah Devy bersikap angkuh karena berasal dari griya besar di wilayah ini. Membuatnya merasa bahwa semua orang harus tunduk padanya. Sementara ayah Taehyung itu adalah anak lelaki kedua, dia bukan pewaris. Walaupun berasal dari Puri besar, dia bukan pewaris sementara ayah Devy adalah pewaris. Menurut ayah Devy, status sosial mereka berebeda.

“Jadi begitulah hubungan mereka dimulai. Ayah Devy terlalu banyak mengatakan hal-hal yang tidak perlu pada ayah Taehyung. Mengejeknya, mengata-katainya. Hal-hal semacam itu, kau tahu bagaimana bajingan bersikap. Kata kakekku, ayah Taehyung itu anak yang pendiam dan pemalu sejak dulu—dia anak kecil yang lebih banyak diam membantu orang tuanya, penurut dan mudah diberi tahu. Tidak banyak bicara, tidak pernah menangis juga.”

Jeongguk teringat satu-satunya kenangannya tentang ayah Taehyung, ketika dia tergencet di bawah ranjang Taehyung—mendengarkan suara dan keberadaannya yang sangat mendominasi, mustahil diabaikan lalu menyadari bagaimana gambaran masa mudanya terdengar sama sekali tidak seperti dirinya sekarang. Apa yang dilakukannya hingga dia bisa menjadi seperti sekarang....?

“Mereka menghabiskan masa muda dalam keadaan itu, ayah Devy merasa di atas awan karena ayah Taehyung tidak pernah melawan. Namun sekali waktu, ayah Taehyung memukulnya—mungkin karena sudah muak berdiam diri dan lelah direndahkan.”

Jeongguk menatap Hendra yang meringis. “Memukul yang kumaksud di sini bukanlah pukulan anak muda yang bisa sembuh dalam empat hari. Dia benar-benar memukul ayah Devy—begitu kuatnya hingga hidungnya patah.”

Napas Jeongguk tercekat, dia percaya itu jika menilai memar di wajah Taehyung tiap kali ayahnya marah atau juga memar di perutnya ketika ayahnya menendangnya. Dia paham mungkin betapa diamnya dia adalah pertanda bahwa dia memiliki isu serius tentang amarahnya—persis Taehyung di masa awal mereka berkenalan. Diam, serius, dan hanya akan membuka mulut untuk membentak atau mengeluarkan umpatan.

Bersyukur Taehyung menyelamatkan dirinya tepat waktu.

“Dari sana hubungan mereka semakin menjadi-jadi. Ayah Devy yang tersinggung karena pukulan itu malah semakin membulinya. Mengerahkan semua teman-temannya untuk memojokkan ayah Taehyung—mengeroyoknya.” Hendra melanjutkan, suranya mulai semakin memelan. “Kakekku tidak menjelaskannya dengan detail. Kemudian karena ayah Taehyung karena menyadari dia tidak bisa menjadi pewaris, melakukan segala yang diinginkannya termasuk menghamili ibu Taehyung dan menikahinya.

“Dia tidak peduli anak pertamanya Astra, toh dia bukan pewaris. Dia sudah siap pergi dari Puri, keluar dengan keluarganya ketika kakak ayah Taehyung meninggal dalam kecelakaan tunggal sebelum menikah dan dia melihat sebuah kesempatan.

“Maka dia menciptakan keributan dengan memaksakan kehendaknya menjadi pewaris. Dia mendebat semua orang, bahkan ayahnya sendiri dan mendesak mereka menjadikannya pewaris. Puri sempat ribut ketika itu. Kurasa usia Taehyung dan kakaknya mungkin baru 12 dan 11 tahun. Dan beberapa tahun kemudian, ayah Devy dikeluarkan dari griya, tidak bisa menjadi pewaris karena menikahi perempuan yang bukan Brahmana.”

Apa?” Sela Jeongguk, mengerutkan alis. “Setahuku ibu Devy itu... Brahmana? Devy memanggilnya Biang?”

Hendra menggeleng, “Itu hanya akal-akalan ayah Devy karena selama ini menyombongkan diri pada semua orang dia adalah pewaris. Dia akan menjadi pedanda dan semacamnya. Mungkin harga dirinya tidak terima jika dia harus keluar dari griya maka dia memanipulasi hidupnya sesuai dengan kehidupan yang diinginkannya. Semacam membohongi dirinya sendiri.”

Dia menarik napas, “Kabar lain yang beredar, Devy itu Astra.”

Jeongguk menahan napasnya, menatap Hendra yang mengangguk—nampak serius dan sama sekali tidak bercanda. “Apa-apaan....?”

“Kabarnya dia menikahi istrinya dalam keadaan hamil tiga minggu—belum terlalu besar untuk dilihat dari perutnya. Tidak ada yang tahu selain bidan yang membantunya melahirkan. Dia menghitung kehamilannya. Mereka bilang kelahirannya prematur padahal sebenarnya terlambat beberapa hari.”

“Devy....” Jeongguk menggeleng, berusaha memproses segalanya. “Astra?” Dia tidak mengenali suaranya sendiri ketika mengatakannya. Devy selama ini... Astra?

Hendra mengangguk.

“Tapi dia...,” Jeongguk mengerutkan alisnya—otaknya tidak bisa memikirkannya. “Namanya Ida Ayu?”

Hendra kembali mengangguk seperti boneka di dasbor mobil. “Itu hanyalah salah satu dari agenda yang digunakan ayahnya untuk membentuk kehidupan yang diidamkannya. Dia memberi nama anaknya Ida Ayu walaupun dia dan istrinya tahu anak mereka Astra.” Dia menarik napas. “Membuat kehidupannya seolah mereka berada di griya, hidup sebagai keluarga Brahmana. Lalu kemudian dia menyadari bahwa dia bisa mendapatkan posisi di masyarakat—setidaknya anaknya, melalui ayah Taehyung.”

Jeongguk tahu arah pembicaraan ini dan dia tidak menyukainya. Wajahnya pasti menampakkan isi hatinya karena di hadapannya Hendra juga meringis. “Aku tahu,” gumamnya setuju dengan lirih.

“Dan dari sanalah semuanya bermula. Kata kakekku, ayah Devy mengancam ayah Taehyung. Namun kau tahu bagaimana mereka saling menonjok, 'kan? Ayah Taehyung tidak lagi terpengaruh. Dia sekarang berani melawan dan sudah menjadi pewaris, juga tahu bahwa ayah Devy tidak lagi memiliki posisi untuk menjatuhkannya.

“Maka ayah Devy melakukan cara kotor dengan menyebarkan berita-berita.”

Jeongguk bersandar di kursinya, bernapas melalui mulutnya karena merasa mual. Semua berita tentang Lakshmi, semua berita tentang keluarga Taehyung—semua kabar busuk yang beredar lalu mereda ketika Taehyung bertunangan dengan Devy. Semuanya mulai perlahan terkait dengan perlahan. Jeongguk memijat keningnya—apakah Taehyung mengetahui ini?

“Kabar lainnya, ayah Taehyung juga terlilit hutang besar.” Lanjut Hendra sementara kepala Jeongguk berdenyut mengerikan. Suaranya terdengar sayup-sayup seolah sedang bicara dari kejauhan. “Aku tidak tahu untuk apa dan berapa banyak hutang ini, namun ayah Devy menggunakan hutang itu selama bertahun-tahun sebagai tali laso ayah Taehyung—menarik dan mengendurkannya kapan saja dia ingin.”

“Kau mungkin bertanya, kenapa dia tidak berusaha membayarnya?” Lanjut Hendra sebelum Jeongguk sempat menanggapi kalimatnya. “Tentu saja sudah, ayah Taehyung dengan dua anak bekerja dengan level executive? Tentu saja bisa. Namun entah bagaimana ayah Devy selalu berhasil menolak uang itu dan membalikkan keadaan—hutang ayah Taehyung hanya akan lunas jika anak mereka menikah.

“Dengan begitu, dia akan memiliki posisi lagi di masyarakat. Anaknya akan menjadi istri pewaris Puri besar Klungkung, harga dirinya akan naik. Dan dia memastikan—memaksa ayah Taehyung untuk memastikan Taehyung akan menjadi pewaris.

“Dan menurut kakekku, kurasa ancaman ini sudah berlangsung cukup lama karena ayah Taehyung terkenal ke sekitar sini memaksakan anaknya menjadi pewaris ketika dia sama sekali tidak memenuhi kriteria—ibunya Sudra, kakaknya Astra. Sepupunya yang harusnya menjadi pewaris, namun ayah Taehyung bersikeras—menciptakan kekacauan Puri lagi.”

“Dan semuanya,” Jeongguk memijat keningnya—merasa mual, dia butuh berbaring dan memejamkan mata untuk memproses segalanya. “Semuanya karena ayah Devy ingin anaknya memiliki posisi...?”

Hendra mengangguk perlahan. “Dia tidak ingin anaknya menyadari bahwa dia seorang Astra. Tidak ada yang tahu memang dan dia ingin memberikan posisi penting untuk anaknya di masyarakat—ingin memposisikan dirinya di atas kembali.”

Jeongguk menelan asam lambungnya. Sudahkah dia makan hari ini? Makanan apa yang terakhir ditelannya selain kekhawatiran karena Taehyung belum menghubunginya? Dan sekarang semua informasi dari Hendra membuat isi perutnya memberontak ingin keluar. Selama ini mereka semua dimanipulasi, Taehyung secara harfiah dijual oleh ayahnya pada lelaki yang memandangnya tidak lebih sebagai cara untuk mengembalikan drajatnya di masyarakat. Membohonginya tentang status Astra anaknya demi itu. Bangsat manipulatif yang berhalusinasi tentang kehidupan yang sudah bukan miliknya.

Jeongguk mual.

“Dia menekan semua orang untuk itu dan aku tidak paham kenapa ayah Taehyung tidak melakukan apa pun....” Bisik Hendra dan Jeongguk menggeleng—dia tahu.

Ayah Taehyung selama ini dibungkam, dibuli oleh ayah Devy—sejak mereka muda. Dan tidak mungkin jika dia tidak trauma atas itu lalu memproyeksikan rasa sakit hatinya pada Taehyung—melampiaskan segala ketakutan dan kemarahannya karena tidak bisa melawan ke anak-anaknya. Dia melemparkan semua amarahnya pada ayah Devy ke keluarganya—anak dan istrinya. Dia monster rusak dengan isu emosional dan menciptakan monster yang sama pada anaknya. Kebenciannya pada ayah Devy diturunkan ke Taehyung, membuatnya sama pahit dan getir dengan ayahnya.

Ayah Devy juga mungkin tidak menyadari bahwa dia baru saja melemparkan anaknya ke kandang singa. Pada binatang buas penuh luka yang siap mencabik siapa saja yang berada dalam jangkauannya—dia pernah mencabik-cabik Jeongguk, meremukkannya di kedua tangannya. Dan Jeongguk tidak ingin membayangkan apa yang mungkin dilakukan Taehyung pada Devy untuk membalaskan dendamnya pada ayahnya. Siklus yang harus dihentikan jika tidak ingin ada korban emosional yang sama. Mereka saling melampiaskan dendam dan amarah pada orang yang salah.

Namun kemudian Jeongguk berhenti. Apakah ayah Taehyung sengaja menciptakan monster untuk menikahi Devy dengan tujuan membalaskan dendamnya pada ayah Devy...?

Jeongguk berdeguk, asam lambungnya mulai terasa di rongga mulutnya.

Hendra di sisinya menghela napas, “Sudah kukatakan...,” bisiknya lirih. “It's pretty disgusting.”

Dia akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya.

Jeongguk mual. Tidakkah mereka menyadari apa yang sedang mereka lakukan sekarang kepada kedua anak mereka? Tidakkah mereka menyadari kerusakan emosional apa yang mereka lakukan pada Taehyung selama ini? Membuatnya menderita karena pertikaian yang bahkan tidak diketahuinya? Membuat Lakshmi harus menjalani hari-harinya dalam hinaan yang sama sekali tidak dipahaminya? Dia percaya bahwa dia Astra yang tidak memiliki harga diri karenanya dan hal yang lebih menjijikkan bagaimana dia merasa lebih rendah dari Devy yang ternyata juga seorang Astra.

Tidakkah mereka menyadari bahwa bayaran atas pertikaian kekanak-kanakan mereka terlalu mahal??

Jeongguk menghubungi Taehyung setelahnya, seraya meluncur dengan kecepatan di atas biasanya dengan rasa amarah menggelegak di dasar perutnya. Keterlaluan. Orang tua Taehyung dan Devy benar-benar keterlaluan! Jeongguk melempar ponselnya dengan marah ke kursi penumpang ketika Taehyung tidak mengangkatnya.

“Bangsat!” Ludahnya penuh emosi, membelok ke arah jalan utama dengan emosi yang membumbung seperti api. “Bangsat, bangsat!” Jeongguk memukul roda kemudinya dengan kepalan tangan, membuat klaksonnya menjerit lebih keras. Beberapa pengemudi sepeda motor terlonjak dan bergegas menyingkir sambil meneriakinya dengan umpatan tapi Jeongguk tidak peduli.

Dia membelok ke arah rumah Taehyung, tidak benar-benar memerhatikan. Beberapa meter dari Puri Taehyung, dia sudah bisa melihat pepohonan raksasa dan atap rumahnya ketika mendadak amarahnya padam seperti lampu yang dimatikan. Jeongguk mengangkat kakinya dari pedal gas, membiarkan mobilnya bergulir memelan dan meluncur ke tepi jalan.

Jeongguk melayangkan pukulan ke roda kemudinya sekali lagi hingga terdengar suara duk! keras dan rasa sakit menjalar di buku jemarinya sebelum menumpukan keningnya di sana—bernapas melalui mulutnya. Dia memejamkan matanya—dia tidak bisa mengorbankan segalanya sekarang. Jika dia muncul di Puri Taehyung maka ayahnya akan mengetahui kedatangannya.

Dia tidak mau mengacaukan rencana Taehyung.

Namun dia juga ingin Taehyung tahu apa yang diketahuinya.

Dia mengerang panjang di mobil yang menyala di pinggir jalan dan memijat kepalanya yang terasa berdenyut mengerikan. Jeongguk kelelahan, cemas dan belum makan. Dia merasa tubuhnya tercabik-cabik dan remuk karenanya.

Ponselnya berdenting dan kepalanya terangkat, menoleh dengan mata buram oleh air mata ke layar ponselnya yang menyala. Dia membersit kecil, mengerjapkan mata untuk mengenyahkan air mata dari matanya saat mengulurkan tangan meraih ponselnya. Dia mengerjap beberapa kali menjernihkan pandangannya sebelum berhasil membaca notifikasi.

Taehyung.

Aku punya tiga puluh menit, ayo telepon. Aku sangat merindukanmu, demi Tuhan aku bisa mati.

*