Gourmet Meal 546
tw // anxiety , frustration , suicidal thoughts .
“Wigung, Wigung, tolong!”
Jeongguk nyaris tersandung kakinya sendiri saat berusaha mengejar Taehyung yang tiba-tiba saja bangkit dari ranjang setelah seks mereka.
Dia baru saja selesai memberikan Taehyung aftercare, memastikan tubuh dan emosinya nyaman lalu bangkit untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Ketika dia keluar, Taehyung sedang bergegas mengenakan celana jins panjangnya dengan teror di wajahnya. Jeongguk belum pernah melihat Taehyung setakut itu—dia pucat pasi, matanya nanar menatap dengan panik dan bibir bawahnya gemetar.
“Wigung??” Panggilnya, panik dan bingung saat kekasihnya dengan tatapan liar bergegas membereskan barang-barangnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Taehyung atau apa yang mungkin saja dibacanya. Maka dia menghambur ke kekasihnya yang berusaha mengenakan pakaiannya.
“Aku harus pulang. Aku harus kembali.” Taehyung menggeleng, panik ketika menjejalkan seluruh bawaannya ke dalam tasnya.
Jantung Jeongguk mencelos, dia menatap Taehyung yang mengenakan pakaiannya dengan hati remuk. Teringat kata-kata Felix tentang menjelaskan pada Taehyung bahwa kabur dari Puri bukanlah masalah sama sekali untuknya—dia siap membuang segalanya demi Taehyung. Namun dia menyadari, jika itu mudah baginya, belum tentu juga mudah bagi Taehyung.
Jeongguk mungkin dendam dengan keluarganya, sama seperti Jimin yang memutuskan untuk membuang mereka demi kehidupan yang lebih stabil dan nyaman. Namun bukan berarti semua orang bisa melakukannya. Taehyung jelas tidak bisa melakukannya—belum. Taehyung bangkit, membuka pintu kamar Jeongguk dan melangkah ke garasi.
“Wigung, sebentar!” Serunya tertahan, melirik rumah utama—takut ayahnya mendengar keributan ini. Dia menyambar tangan Taehyung yang sudah setengah jalan ke arah garasi, mencekalnya keras. “Sayang, Sayang. Tunggu!” Desisnya ketika Taehyung berusaha memelintir tangannya lepas dari genggaman Jeongguk.
Wajahnya pucat pasi dan Jeongguk merasa perutnya diaduk-aduk karena ekspresi itu. “Aku harus pulang.” Gumamnya, matanya menerawang. “Kacau, semua orang kacau.” Dia melirik gelisah ke sekitarnya dan hati Jeongguk terasa dipelintir karenanya.
“Kenapa? Aku melakukan sesuatu?” Tanyanya, menggenggam bahu Taehyung erat—mendorongnya lembut bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat dari rumah utama.
“Ajung,” dia menggeleng perlahan. “Ajung akan memukul semua orang jika aku tidak pulang. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menanggung apa yang kulakukan. Aku tidak.... Aku....” Suaranya lenyap dan Jeongguk merasakan Taehyung gemetar di dalam genggamannya.
Bertahun-tahun hidup bersama orangtua yang memanipulasi emosinya, memanfaatkan kasih sayangnya untuk keuntungannya sendiri jelas tidak memiliki efek yang bagus untuk mental Taehyung. Dia terbiasa diancam: jika tidak menurut, maka orang lain yang akan menanggungnya. Berbeda dengan Jeongguk yang menanggung semua konsekuensi tindakannya sendiri. Ayahnya memukul Jeongguk jika dia marah padanya.
Jeongguk tidak bisa membayangkan bagaimana jika ayahnya memukul Yugyeom atau ibunya untuk menghukum Jeongguk seperti yang dilakukan ayah Taehyung.
Jeongguk menghela napas, “Baiklah. Akan kuantar pulang.” Dia meremas bahu Taehyung lembut—tidak tega memberi tahunya mengenai undangan pernikahan yang sudah disebarkan, tidak tega untuk menanyakannya tentang rencana kabur ketika dia sedang dalam kondisi linglung dimakan rasa bersalah.
Amarah menggelegak di dasar perutnya, mereka bisa kabur sekarang jika saja Jimin tidak dengan ceroboh mengatakan apa pun itu yang dikatakannya ke Taehyung hingga membuatnya berubah pikiran. Jeongguk menggertakkan rahangnya, menelan amarahnya.
“Aku akan mengambil jaketku sebentar, oke?” Bisiknya, mengusap rambut Taehyung sayang. “Tunggu saja di mobilku.” Dia menjejalkan kunci mobilnya ke telapak tangan Taehyung, tidak mungkin membiarkannya berdiri di sini sementara Jeongguk ke kamar—tidak mau mengambil risiko ayahnya menemukan Taehyung.
Dia bergegas berlari ke kamarnya, meninggalkan Taehyung untuk menyambar jaket di kapstok di balik pintunya dan mengunci kamarnya—dia belum membereskan bukti-bukti kehadiran Taehyung dari kamarnya, dia tidak bisa membiarkannya terbuka. Dia bahkan belum membuang kondom yang mereka gunakan tadi. Jeongguk menggertakkan gigi—bukan masalah berkendara di dini hari mengantar Taehyung pulang, namun apa dampak dari kejadian ini pada segalanya.
Mereka kembali ke nol sekarang, Taehyung akan semakin sulit dibujuk untuk kabur lagi jika dia memutuskan untuk pulang. Jeongguk mengumpat dalam hati, menyadari sepenuhnya bahwa dia ingin Taehyung kabur bersamanya dengan kesadaran penuh—bukan karena manipulasi emosi. Namun jika dia kembali sekarang dengan pernikahan yang hanya berjarak tujuh hari dari sekarang, maka dia akan terjebak dalam pernikahan itu.
Kepala Jeongguk berdenyut. Segala dokumen yang mereka butuhkan untuk kabur termasuk identitas baru yang tidak datang dengan harga murah sudah akan selesai lima hari lagi. Mereka sudah bisa kabur secepatnya, Jeongguk tinggal menghubungi Verdio. Memintanya memberi mereka tempat bernaung sebentar.
Mereka juga sudah membicarakan pengunduran dirinya pada General Manager masing-masing. Jeongguk mendapatkan izin namun tidak dengan Taehyung. Jika keputusan belum diambil maka mereka akan mengundurkan diri dengan tidak terhormat. Mereka akan menggunakan nama baru, tidak akan ada masalah walaupun kedua hotel mereka memberikan rekomendasi buruk.
Namun, jika Taehyung menikahi Devy....
Jeongguk menghembuskan napas dengan keras, bergegas berlari ke arah mobilnya dan menemukan Taehyung di dalam—bergelung di atas kursi penumpang. Dia akan memikirkan ini lagi nanti, ketika suasana sudah tenang. Berpikir dengan getir, akankah suasana menenang setelah ini? Dia membuka gerbang garasi, perlahan agar tidak mengeluarkan suara keras sebelum bergegas ke mobilnya. Ayahnya akan mendengar ini, dia sebaiknya menyiapkan alasan yang masuk akal karena Land Rover ayahnya terparkir di sisi mobilnya.
Jeongguk membanting pintunya, mengulurkan tangan dan mengusap kepala Taehyung sayang sebelum bergegas menyalakan mesin mobilnya. Dia berjengit ketika mobil menderum—suaranya memantul di garasi dengan keras. Ayahnya pasti mendengar ini. Jeongguk memasukkan persneling, memundurkan mobilnya dan memutar kemudi dengan sedikit terlalu kuat hingga mobil menghadap ke jalan arah Denpasar.
Dia menutup garasi, akan meminta Yugyeom menggemboknya dari dalam nanti jika Yugyeom belum tidur. Dia kemudian menginjak gas, mobil mendengus keras dan meluncur di jalan. Jeongguk menoleh ke arah Taehyung sebentar.
“Kau ingin memberi tahuku apa yang terjadi?” Bisiknya lembut, meraih tangan Taehyung dan meremasnya sambil mentap jalanan yang sepi. “Aku akan mencoba membantumu.”
Taehyung sama sekali tidak menatapnya, dia gelisah menatap jalan di depan mereka yang sangat sepi dan gelap—suara ayam berkokok terdengar sesekali di kejauhan. Hanya mobil Jeongguk yang melaju di jalanan, semua orang masih bergelung di dalam selimut di rumah mereka—lelap, beristirahat sejenak dari segala permasalahan kehidupan mereka. Bersembunyi dalam ketidaksadaran mereka. Jeongguk menyalakan penyejuk mobil dengan kekuatan terkecil karena udara lumayan dingin belakangan ini. Dengan lalu lintas sesepi ini, mereka akan tiba di Klungkung jauh lebih cepat.
“Aku tidak bisa membiarkan orang lain menghadapi kemarahan Ajung atas namaku.” Taehyung menggertakkan giginya. Dia memejamkan matanya: sebenci apa pun dia pada ayahnya, membayangkan tinggal di Puri itu tanpa ayahnya membuatnya bergidik. “Aku tidak bisa.” Dia menarik napas berat, memijat kepalanya.
Jeongguk sejenak diam lalu membuka mulutnya, “Wigung....” Bisiknya, hendak mengingatkan Taehyung mengenai rencana mereka. Taehyung tidak bisa terus memikirkan orang lain di atas segalanya. Bagaimana rencana kita? “Kau baik-baik saja?”
Taehyung menggeleng, memijat kepalanya. Perasaan bersalah tengah melahapnya hingga dia gemetar—bagaimana jika selama empat hari ini ibunya atau kakaknya menjadi sasaran amukan ayahnya karena Taehyung bertingkah? Kenapa dia bisa begitu bodoh? Dia mengernyit, menggertakkan geliginya ketika rasa sakit itu menjerat kepalanya hingga tengkuknya terasa nyeri. Bagaimana keadaan kakaknya sekarang? Ibunya?
Jimin sudah berulang kali memberi tahunya tentang betapa beracun keluarganya dan betapa Taehyung harus pergi meninggalkan mereka jika ingin mendapatkan kehidupan yang lebih layak secara emosional. Dan berkali-kali juga, Taehyung pikir dia bisa dan siap untuk melepaskan mereka—memotong habis koneksi mereka namun berkali-kali juga ketika ayahnya memukulnya dan dia menyadari apa yang harus ditanggung ibu dan kakaknya untuknya, Taehyung mundur.
Dia memejamkan mata, memijat pelipisnya—tidak berani menatap Jeongguk yang mengemudi di sisinya, sesekali melepaskan tangan dari persneling dan meremas pahanya lembut, mengusapnya. Dia takut pada konflik dalam dirinya sendiri melepaskan keluarganya atau melepaskan Jeongguk—dia tidak bisa menangguhkan keduanya.
Haruskah dia menikahi Devy agar semua orang senang lalu kabur bersama Jeongguk? Bisakah dia menjadi sekuat Jimin menahan diri untuk tidak menghubungi keluarganya—bersikap seolah mereka semua sudah mati?
Keputusan.
Taehyung memijat kepalanya, dia harus memutuskan ini. Dia tidak bisa menahan Jeongguk tanpa kejelasan sementara hatinya terbelah. Bisakah dia kembali membenci keluarganya seperti kemarin? Dia berusia tiga puluh tujuh, namun tetap merasa tidak sanggup memutuskan hal dalam hidupnya—dia merasa kecil dan tidak berdaya sama sekali. Terbiasa memiliki orang lain memutuskan segala hal untuk dirinya membuat kemampuan memutuskan Taehyung mati.
“Jeongguk?”
Jeongguk menoleh, mengulurkan tangan dan memijat pahanya lembut. “Kau oke?” Tanyanya, sesekali melirik jalanan yang sepi—lampu APILL bahkan belum kembali beroperasi.
Taehyung berdeguk, merasa mual. Bagaimana ini....? Dia menatap lurus ke jalanan yang sepi dan gelap, semakin dekat dengan rumah semakin buruk perasaannya. Dia akan meninggalkan Jeongguk, rasa sedih karena menyadari dia akan bangun sendirian di ranjangnya setelah ini membuatnya mual. Namun memikirkan apa yang mungkin dihadapi kakaknya karena kelakuannya membuat kepalanya sakit.
Perasaannya terbelah antara ingin kembali ke kamar Jeongguk, bersembunyi berharap masalahnya terselesaikan begitu saja tanpa perlu keputusan apa pun dari Taehyung dan keharusannya kembali ke rumah jika tidak ingin semua orang menanggung konsekuensi dari tindakannya.
“Apa yang harus kulakukan?” Dia mendongak, menatap Jeongguk dengan kepala berdentam-dentam semakin mengerikan—dia harus memutuskan sesuatu dan keharusan itu membuat rasa cemasnya melonjak memualkan.
Jeongguk menatapnya cemas, namun Taehyung bisa melihat kekecewaan di matanya—setitik, namun cukup untuk membuat rasa cemas melilit perut Taehyung. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya lembut dan Taehyung semakin merasa bersalah—Jeongguk kecewa padanya, mungkin juga siap memaksa Taehyung memutuskan sesuatu tentang rencana mereka namun tidak. Dia malah memfokuskan energinya memastikan Taehyung baik-baik saja.
Dia menggeleng perlahan, “Apa yang harus kulakukan?” Bisiknya lemah: haruskah dia menikahi Devy agar ayahnya berhenti menyakiti semua orang atas kesalahannya? Atau haruskah dia menutup mata atas semuanya dan kabur bersama Jeongguk?
Jeongguk menghela napas, memasang sein dan menepikan mobilnya di tepi pantai Candidasa. Taehyung bisa mendengar deburan ombaknya dari kejauhan saat Jeongguk menoleh ke arahnya, menyalakan lampu belakang sehingga Taehyung bisa menatap wajahnya. Jeongguk menghela napas lalu mengusap pipinya lembut.
“Apa yang hatimu inginkan? Dia pasti memiliki jawaban.” Jeongguk menatapnya dan Taehyung tahu jawaban apa yang diinginkan Jeongguk saat ini—semuanya berkilau di matanya, Jeongguk pikir dia pandai dalam menyembunyikan emosinya.
Masalahnya hatinya tidak pernah memberikannya jawaban apa pun. Dia selalu diam—bahkan ketika Taehyung meneriakinya agar memberinya jawaban, hatinya bergeming. Dia memejamkan mata, merasa tarikan kencang di tengkuknya karena rasa cemas. Dia harus memutuskan sekarang dan semakin dia berusaha memutuskan, semakin sakit kepalanya terasa. Dia mengerang kecil dan Jeongguk bergegas menyentuhnya—memastikan dia baik-baik saja, memastikannya utuh.
“Kau ingin menginap di sini saja?” Tanya Jeongguk lembut, terdengar sangat jauh sekarang. Taehyung menyadari secercah harapan di sana, Jeongguk tidak ingin dia pulang.
Taehyung menggertakkan rahangnya. Jika dia tidak pulang sekarang, Tuhan tahu apa yang ayahnya bisa lakukan pada ibu dan kakaknya. Dia sudah sempat menjawab ayahnya tentang pernikahannya dengan Devy—bagaimana menikahi seorang Brahmana akan membuatnya otomatis tidak bisa mewarisi Puri. Dia harus menikahi perempuan yang berasal dari kasta yang sama, Anak Agung atau Cokorda. Dan yang didapatkannya adalah pukulan di wajahnya, maka Taehyung diam. Ayahnya menjadi pewaris walaupun istrinya seorang Sudra menjelaskan segalanya—mengapa Taehyung repot-repot bertanya?
Taehyung kebingungan.
Dan Jeongguk bisa melihatnya.
Dia mengulurkan tangan, mengusap sisi wajah Taehyung yang memejamkan mata. Jeongguk paham kebingungan Taehyung, dia tahu seberapa kuat keluarganya telah memanipulasi Taehyung hingga ke batas tidak wajar. Bagaimana Taehyung selalu mementingkan mereka di atas segalanya, memanipulasi perasaan sayangnya untuk kepentingan mereka—seperti Lakshmi yang ternyata tidak ada bedanya dengan keluarga mereka.
Mungkin, jika Jeongguk berkenan untuk berhenti dan memikirkannya—Lakshmi memang sangat ingin melarikan diri dari tempat itu, sama seperti Taehyung. Dia sudah lelah bertahan sama seperti Taehyung. Sayangnya tidak ada jalan keluar yang bisa membebaskan mereka berdua, salah satu harus menanggung langit di bahunya agar yang lain bisa membebaskan diri. Jeongguk tahu posisi Taehyung yang terhimpit dari segala arah dan dia menghela napas.
Hatinya berdenyut oleh kekecewaan yang hebat ketika dia menarik napas, “Akan kuantarkan kau pulang. Setelahnya,” dia berdeham, merasa air mata menyengat bola matanya. “Kita bicarakan lagi segalanya.” Dia mengusap pipi Taehyung sayang.
“Tapi percayalah, aku tidak pernah ragu untuk membuang segalanya demi dirimu dan aku tidak memaksamu untuk melakukan hal yang sama—lakukan hanya jika kau benar-benar menginginkannya. Bukan karena kau membalas apa yang kulakukan untukmu.”
Taehyung menatapnya, rahangnya menegang dan wajahnya memucat—nampak begitu tertekan hingga Jeongguk tidak tega memberi tahunya apa pun namun dia harus. Taehyung harus dipersiapkan menghadapi apa pun yang menunggunya di rumah.
“Dan,” dia merogoh sakunya mengeluarkan ponselnya—Taehyung tidak perlu tahu bagaimana Lakshmi menyikapi hal ini karena dia tahu Taehyung tahu namun masih merasa keterikatan kuat pada keluarganya. “Aku tidak yakin tapi kurasa kau harus tahu.”
Dia membuka gambar undangan digital Taehyung dan menghela napas, “Mereka sudah...,” dia membalik ponselnya ke Taehyung yang mengerjap sebelum benar-benar mengamati. “Menyebar undangan pernikahan kalian. Menentukan tanggal dan segalanya, tanpa memberi tahumu apa pun.”
Reaksi keterkejutan Taehyung begitu lemah hingga Jeongguk merasa seseorang baru saja menyurukkan air asam ke hidungnya. Napas Taehyung menderu, terdengar berdenging lebih keras dari biasanya dan Taehyung merogoh tasnya seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata terpejam, tarikan napasnya berat dan beresing keras. Jeongguk bergegas membantunya, melempar ponselnya ke dasbor di hadapannya dan merogoh tas Taehyung, mencari inhaler-nya. Dia menggoyangkan benda itu sebelum menyelipkan ujungnya ke antara kedua gigi Taehyung.
“Gigit, Sayang. Ayo.” Bisiknya, sudah tidak lagi panik menghadapi asma Taehyung sekarang ketika dia merangkulkan lengannya di bahu Taehyung, menyangganya lembut. Dia merasakan tarikan napas Taehyung memberat. “Siap?” Bisiknya lalu menekan tombol 'Release'-nya. Mendengar suara desisan ketika inhaler melepaskan obat ke dalam mulut Taehyung yang seketika menghirup napas dalam-dalam.
“Maaf,” bisiknya menumpukan keningnya di bahu Taehyung yang memejamkan mata—menunggu obatnya bekerja. “Maaf, maaf. Maaf.” Gumamnya berulang-ulang, mendengarkan napas dan detak jantung Taehyung. Berpikir dengan sinting bahwa dia sebaiknya menyerah pada Taehyung sebelum semuanya terlambat seperti sekarang.
Tangan Taehyung membelai bahunya. Mereka di sana, di dalam mobil yang terpakir di pinggir jalan yang sunyi pukul setengah dua pagi—menangis bersama memikirkan posisi mereka yang terjebak dan terhimpit. Tidak ada jalan keluar sama sekali. Jeongguk bernapas dari mulutnya, berusaha keras agar tidak terisak sementara dia merasakan tubuh Taehyung berguncang di bawahnya—menangis.
”... Mati?” Bisik Taehyung, pecah.
Jeongguk tergelak kecil di sela deru napasnya, paru-parunya mengerut. “Kau ingin mati?” Tanyanya berbisik pada Taehyung yang membelai bahunya, Jeongguk menempelkan telapak tangannya di pinggul Taehyung.
“Aku tidak bisa berpikir,” gumam Taehyung, terdengar mabuk—suaranya jauh dan kecil. “Aku ingin semua ini berhenti. Berakhir sekarang. Sakit yang tidak bisa kujangkau ini, kelelahan ini....”
Jeongguk memejamkan matanya. “Setuju.” Bisiknya lirih, merasakan frustrasi kental yang membuat kepalanya perih. Tangannya menemukan tangan Taehyung dalam gelap dan menyelipkan jemarinya ke antara jemari Taehyung—menggenggamnya erat.
Mereka begitu dekat dengan air, samudera yang dalam dan pasang. Jika Jeongguk berkendara melewati pembatas di sisi mereka maka selesai semuanya. Dia tidak akan ingin berusaha menyelamatkan diri. Suara deburan ombak begitu dekat dan suasana jalanan begitu hening. Tidak akan ada yang menyadari mereka hingga terlambat.
Jeongguk berpikir dengan pilu, pernahkah kedua orang tua mereka memikirkan ini? Bagaimana keadaan anak mereka—apakah mereka baik-baik saja? Atau mereka sibuk memikirkan cara untuk mengambil keuntungan dari mereka—memanipulasi emosi anak-anak mereka? Berpikir anak adalah sebuah aset, anak adalah investasi masa tua mereka. Sama sekali bukan manusia yang memiliki kehidupan dan pikirannya sendiri. Memiliki masa depannya sendiri, keluarga dan keinginan sendiri.
“Kita dekat dengan kebebasan,” bisik Jeongguk kemudian, memikirkan bahagia yang sudah berdenyut dekat dengan genggaman mereka. Mereka tidak bisa menyerah sekarang.
“Dekat sekali, Wigung. Kau hanya perlu untuk berani dan memikirkan dirimu sendiri.” Dia meremas tangan Taehyung dan merasakan kekasihnya balas meremas tangannya. “Aku akan membuatmu sangat bahagia hingga semua lukamu selama ini tidak lagi terasa dan berdenyut.”
“Aku akan membuatmu sangat...,” dia tercekat dan mendengar isakan Taehyung meloloskan diri. “Sangat bahagia hingga kau tidak pernah merasakan sakit apa pun lagi. Hingga kau tidak pernah berpikir bahwa kematianlah satu-satunya jalan keluar dari segalanya.
“Hingga kau berpikir bahwa hidup adalah sesuatu yang layak untuk dijalani. Menyadari bahwa kau layak hidup, kau layak berbahagia. Aku akan membuatmu.... sangat,” dia menggertakkan giginya—merasakan remasan Taehyung di jemarinya hingga memutus aliran darahnya dan membuatnya kesemutan.
“Sangat... sangat bahagia. Aku bersumpah.” Dia menelan ludah, tercekat oleh isakannya sendiri. “Maka, beranilah untuk kita. Untuk dirimu sendiri. Untukku.”
Mereka bersisian, menangis dalam diam memikirkan posisi mereka—memikirkan hidup yang tidak kunjung lelah menghajar mereka dengan berbagai macam jenis ujian. Jeongguk mendengarkan suara tangisan Taehyung dan deburan ombak di sisi mereka. Pagi mulai menggeliat, beberapa orang melewati jalanan di sisi mereka—berangkat ke pasar beberapa meter dari sana untuk berjualan. Hidup berlanjut untuk orang lain sementara di dalam mobil itu, ada dua orang manusia yang tidak lagi menginginkan kehidupan.
Jeongguk menunggu, terus menunggu hingga akhirnya Taehyung menarik napas tajam.
“Kita kembali ke Puri-ku.” Katanya parau dan jantung Jeongguk mencelos, begitu kuatnya perasaan itu hingga sejenak dia mual serta limbung.
Dia mendongak, menatap Taehyung yang berwajah merah padam setelah menangis. Taehyung menyeka air matanya, binar tekad menyala di matanya dan Jeongguk menahan napas—dia sudah memutuskan. Jeongguk menguraikan genggaman tangan mereka dan menarik dirinya.
Taehyung sudah memutuskan.
“Kita kembali ke Puri-ku.” Ulangnya, kali ini lebih jernih dan tegas—menikam hati Jeongguk dengan belati panas yang bergerigi.
Hatinya patah, lagi. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya. Jeongguk menarik napas, mengencangkan otot perutnya demi menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. Akankah dia selamat dari sakit ini? Sakit luar biasa yang memukul telak di ulu hatinya ini? Akankah dia berhasil berenang ke permukaan setelah ini? Setelah Taehyung mencampakkannya?
Jeongguk linglung, berusaha mengatur dirinya sendiri untuk menjawab namun Taehyung melanjutkan dengan tegas dan jernih.
“Akan kuselesaikan masalahku di rumah sialan itu dan kita pergi dari sini.”
*
cie. kirain kharam yhaaaaa qiqiqiqi