Gourmet Meal 534
ps. im not confident with this one AT ALL but well, here we go.
Alis ayah Jeongguk berkerut dan Jeongguk menahan napasnya.
Mereka sedang duduk di meja makan rumah utama, Mirah duduk di sebelah Jeongguk dengan senyuman di bibirnya namun Jeongguk bisa melihat bibir bawahnya bergetar sedikit menahan tangisan. Dia berusaha nampak tegar selama pertemuan, Jeongguk tahu seberapa kuat dia berusaha.
Jeongguk ingin menyemangatinya namun tidak berani melakukan apa pun karena dialah alasan mengapa hati Mirah berserakan dan dia tidak yakin dia bisa melakukan sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik. Dia sebaiknya diam saja.
Ayah Mirah menatap Jeongguk, nampak kecewa namun lebih bisa mengendalikan emosinya. Jeongguk tahu dia menyukai Jeongguk, sangat berharap bisa memiliki Jeongguk sebagai menantunya. Mengangkat derajat keluarganya karena anaknya menikahi pewaris salah satu Puri besar Bali. Hidup pastilah sudah sangat rapi baginya sebelum Mirah memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.
Jika saja dia tahu, betapa sempurnanya hidup juga terasa bagi anaknya ketika bertemu Jeongguk sebelum dia menyadari calon suaminya adalah seorang homoseksual.
Orang tua mereka diam ketika Mirah menjelaskan alasannya membatalkan pernikahan mereka, tidak memberi kesempatan untuk Jeongguk menolongnya. Ayah Jeongguk mengerutkan alisnya semakin dan semakin dalam saat mendengarkan Mirah, tidak memahami alasan mengapa gadis itu membatalkan pernikahan mereka—yang akan memberikan keuntungan bagi kedua belah keluarga.
“Kau ingin melajang dan bekerja?” Tanya ayah Jeongguk sekali lagi dan Jeongguk menahan napasnya—ayahnya yang kolot tidak akan memahami konsep bekerja bagi perempuan. Dan dia tidak akan cocok menjadi mertua bagi gadis feminis moderen seperti Mirah. “Kau bisa menikah sebelum berangkat ke Australia, tidak ada bedanya.”
“Tidak, Ajik.” Sela Mirah, kali ini tegas dan Jeongguk kagum bagaimana dia bisa tetap mempertahankan suaranya tetap tenang di depan ayah Jeongguk walaupun dia sudah hampir menangis. “Saya ingin bekerja dulu, ingin berkarir sebelum menikah.” Dia kemudian menoleh ke Jeongguk yang membalas tatapannya, menyadari air mata di sudut mata Mirah. “Jika kami berjodoh, kami akan bertemu lagi.”
Dia mengangkat tangannya dan Jeongguk seketika membalik tangannya di atas meja, membiarkan telapak tangan Mirah di tangannya. Dia menyelipkan jemarinya ke jemari Mirah, meremasnya hangat dan menyadari bagaimana Mirah tersentak kecil oleh sentuhannya. Tidak masalah, Jeongguk ingin menenangkannya. Taehyung tidak akan marah.
Mata kedua ayah mereka mengamati tangan mereka sebelum mendesah, tidak memahami alasan Mirah sama sekali. Jeongguk melirik gadis di sisinya, menurunkan tangan mereka dari meja dan meremasnya di bawah meja—berusaha menenangkannya walaupun dia bisa merasakan Mirah gemetar dalam genggamannya.
“Tapi kau mencintai Gung Wah.” Ayah Jeongguk menyelanya, tidak bertanya. Dia menyatakannya dengan keras dan Jeongguk bisa merasakan Mirah berjengit kecil karena kalimat itu.
“Ya.” Sahut Mirah jernih dan jelas. Jeongguk menahan napasnya, dia tidak bisa mendengarkan deklarasi cinta Mirah sekali lagi sekarang tanpa merasakan remasan luar biasa di hatinya tentang bagaimana gadis itu merelakan hatinya sendiri remuk demi membantu Jeongguk meraih cintanya sendiri.
Merelakan dirinya sendiri terinjak-injak.
“Saya sangat mencintai Bli Gung, mungkin itulah mengapa saya berpikir hubungan ini tidak sehat.” Mirah meringis, mencengkeram tangan Jeongguk hingga kukunya meninggalkan bekas berupa bulan-bulan sabit mungil di atas kulit Jeongguk. Namun dia masih mempertahankan wajah tenangnya walaupun di dalam genggamannya, tangan Mirah terasa dingin. “Apa pun yang berlebihan itu tidak baik.”
Ayah Mirah menghela napas keras, nampak sangat kecewa pada pilihan putri semata wayangnya. Mungkin beliau juga sama sekali tidak memahami logika yang digunakan Mirah dalam memutuskan segalanya. Namun apa pun itu, dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menatap anaknya, pasrah.
“Mirah sudah yakin?” Sela ibu Jeongguk lembut, mendayu-dayu sebelum ayah Jeongguk sempat mengatakan isi kepalanya dan Mirah mengangguk—bergegas melepaskan tangan Jeongguk dan entah mengapa, gestur itu membuat Jeongguk terluka.
Dia tidak terbiasa melihat orang lain terluka karenanya, instingnya ingin memperbaiki perasaan itu. Ingin meminta maaf, ingin menghiburnya. Namun dalam masalahnya dengan Mirah, dia tidak bisa memperbaikinya sama sekali karena hatinya telah memilih dengan siapa Jeongguk ingin menghabiskan hidupnya. Dan jika dia tetap bertahan dengan Mirah, dia hanya akan semakin menyakiti gadis itu. Cepat atau lambat, Jeongguk memang akan mengakhiri hubungan mereka. Dia bisa saja menikahi Mirah, membuat semua orang senang dan melakukan apa yang disukainya setelahnya namun dia sadar itu sama sekali tidak adil bagi Mirah.
Mereka memang harus mengakhiri hubungan ini.
“Sudah, Biang.” Sahut Mirah tegas, mengulaskan senyumannya yang biasa—senyuman yang membuat wajahnya berpendar seperti bulan purnama. “Tidak apa-apa, lagi pula saya juga tidak enak jika memaksa Bli Gung menunggu. Jadi kami sepakat sebaiknya kami membatalkan saja pernikahan ini.”
“Apa tidak sebaiknya ditunda saja?” Desak ayah Jeongguk lagi, mengerutkan alis di kepala meja dan Yugyeom di sisi kanannya melirik kakaknya. Dia tahu segalanya dan sama terjebaknya dengan Jeongguk di meja makan mereka. “Kalian bisa tetap bertunangan dan menikah jika nanti kau berubah pikiran.”
Mirah tertawa kecil, “Ajik,” katanya lembut. “Bli Gung sudah mendesak saya melakukan hal yang sama, bahkan memohon.” Dia tersenyum dan Jeongguk berjengit dalam hati—dia tidak mengatakan apa pun.
Namun dia menyadari dengan Mirah mengatakannya, dia meletakkan Jeongguk di posisi yang aman. Tidak bersalah karena dia sudah berusaha, dia tidak melepaskan Mirah begitu saja. Mirah sekali lagi, menyelamatkan Jeongguk. Berkali-kali hingga rasanya hutang Jeongguk padanya menumpuk dan terus menumpuk.
Dia merasakan tatapan ayahnya membakar sisi wajahnya namun dia memilih menatap Mirah, memainkan peran sebagai lelaki terluka yang akan ditinggalkan kekasihnya dengan dada bergemuruh. Tidak yakin bagaimana perasaannya tentang pembatalan ini: senang karena dia bisa menyusun rencana kaburnya dengan Taehyung dan fokus pada masalah Taehyung. Namun juga tidak bisa melihat Mirah terluka. Dia melirik jam dinding, memikirkan kekasihnya yang menunggu mereka.
Taehyung sedang di kamarnya, menunggu mereka selesai untuk bicara dengan Mirah. Mudah menyelundupkan Taehyung di rumahnya yang terlalu besar ini, Taehyung bisa memarkir motornya di rumah teman Yugyeom yang berada di Barat rumah mereka lalu mengendap ke Puri—menyelip masuk dan tidak ada yang menyadari keberadaan Taehyung.
Jeongguk sudah memberi tahu Mirah ketika gadis itu duduk di sisinya untuk makan, berbisik rendah bahwa Taehyung ingin bertemu dengannya setelah acara selesai. Dan meskipun wajahnya memucat saat Jeongguk menyebut nama Taehyung, gadis itu mengulaskan senyuman dan mengangguk.
Dia dan Taehyung sudah membelikan sesuatu untuk Mirah. Mereka menyempatkan diri mampir ke Denpasar, setelah sesi pertama Taehyung yang berjalan lancar dan penuh amarah (Jeongguk menunggu di depan rumah Thia dan berjengit tiap kali Taehyung menaikkan suaranya. Namun ketika keduanya keluar, Jeongguk menyadari Thia nampak sama sekali tidak terganggu oleh amarah Taehyung dan malah senang Taehyung melampiaskannya) demi membelikan sesuatu untuk Mirah. Jeongguk membiarkan kekasihnya memilih hadiah itu sendiri dan setuju ketika dia menanyakan pendapat Jeongguk.
Hadiah itu berada bersama Taehyung, terbungkus rapi.
Jeongguk tidak yakin Mirah akan menyukai hadiahnya, tetapi Taehyung nampak senang karena bisa memilihnya. Dia ingin berdamai dengan gadis itu, ingin menjalin pertemanan karena Mirah telah sangat menolong mereka. Jeongguk tidak yakin dia ingin menjadi penjahat dengan merusak keinginan Taehyung, dia ragu sekali Mirah ingin menjalin pertemanan apa pun dengan mereka setelah ini.
Dia tetap mengiyakan Taehyung, apa saja agar Taehyung senang. Berharap Mirah akan setidaknya menerima hadiah itu, tidak peduli apa yang akan gadis itu lakukan pada benda itu setelahnya.
“Tapi tidak.” Mirah kembali bicara dengan jernih. Menyadarkan Jeongguk mengapa dia bisa memenangkan banyak sekali bisnis untuk perusahaannya, dia punya kemampuan bicara persuasif yang baik. Tertata dan tenang. Dia menatap gadis itu, menyadari seberapa banyak potensi yang mereka miliki jika bersama dan menghela napas—dia tidak bisa mencintai Mirah, tidak peduli seberapa mudah pun itu terasa.
“Sebelum perjodohan ini pun saya memang akan mengejar karir sebelum menikah. Kesempatan bekerja di perusahaan ini tidak akan saya lepaskan, tidak akan datang dua kali dan tidak adil jika saya mengorbankan Bli Gung dalam hubungan ini.” Dia menatap Jeongguk sekilas sebelum menatap ayah Jeongguk lagi—langsung ke matanya.
“Jadi saya rasa, perpisahan adalah satu-satunya jalan keluar.”
Taehyung tahu Mirah takut atau bahkan membencinya.
Namun dia tetap berusaha. Dia merogoh sakunya, menyentuh hadiah mereka dan menghela napas. Mirah sempat membuatnya merasa tidak nyaman, benci, dan cemburu. Membuat Taehyung mempertanyakan orientasi seksualnya sendiri, mempertanyakan motif Jeongguk padanya.
Hal yang disadari Taehyung adalah Mirah-lah sebenarnya alasan mengapa dia kemudian menerima perasaannya sendiri: bahwa dia tidak menginginkan orang lain membuat Jeongguk bahagia selain dirinya sendiri. Membuat Taehyung ingin berjuang bersama Jeongguk, ingin membahagiakan Jeongguk.
Mirah memberikannya pandangan bagaimana masa depan Jeongguk tanpa Taehyung dan bagaimana masa depan Taehyung tanpa Jeongguk. Dia melihat bagaimana hidup Jeongguk akan sangat mudah bersama Mirah, melihat betapa Jeongguk nyaman bersamanya dan tidak menyukai itu. Serta menyadari bagaimana dia tidak menginginkan masa depan mana pun tanpa Jeongguk di dalamnya.
Maka Taehyung mempelajari satu-dua hal dari cara gadis itu mengapresiasi Jeongguk. Dia ingin membahagiakan Jeongguk, dia ingin Jeongguk merasa nyaman dan ringan di sekitarnya—sama seperti bagaimana dia ketika berada di sekitar Mirah. Bahkan lebih. Dan Taehyung cukup egois untuk ini.
Hingga sebenci apa pun mereka pada satu sama lain, Taehyung tetap ingin mengucapkan terima kasih. Jika bukan karena Mirah, Taehyung tidak akan pernah memiliki cukup keberanian untuk merengkuh Jeongguk menjadi miliknya. Dia duduk di atas ranjang Jeongguk, menunggu pertemuan keluarga mereka berakhir.
Dia mengerjap, mendengar dengung percakapan di kejauhan. Apakah mereka sudah selesai? Dia menajamkan pendengarannya dan berdiri ketika mendengar suara Jeongguk dan Mirah mendekat. Taehyung merogoh sakunya dan mengeluarkan hadiah mereka—tidak yakin bagaimana harus menghadapi Mirah sekarang setelah menyadari bahwa gadis itu tahu hubungan mereka. Dia menghela napas, menahannya ketika pintu berderak dan daunnya mengayun terbuka.
Wajah Jeongguk adalah yang pertama dilihatnya dan Taehyung mendesah, merindukan Jeongguk—sangat merindukannya. Kekasihnya tersenyum dan seketika ketakutan, kebingungan, dan keraguan Taehyung menguap. Dia menatapnya, begitu lembut dan penuh kasih hingga Taehyung berdesir karenanya. Jeongguk kemudian menyingkir, mempersilakan Mirah memasuki ruangan dan menutup pintunya, menyisakan celah kecil.
Taehyung berdiri di sana, jauh lebih tinggi dari Mirah yang tidak berani menatapnya. Gadis itu melirik ke arah kanan, menghindari mata Taehyung dan dia menyadari betapa pucat wajah Mirah. Taehyung menoleh pada Jeongguk yang mengangguk, menyemangatinya. Sebelum Taehyung sempat mengatakan sesuatu, Yugyeom mendesak masuk dan Jeongguk mendesah keras.
“Maaf!” Seru Yugyeom karena semua orang di ruangan berjengit kaget ketika dia mendesak masuk secara mendadak. “Kalian tegang sekali, maafkan aku!” Dia meringis, merona karena membuat semua orang terkejut.
“Maaf,” desah Jeongguk, mentap Taehyung. “Aku harus membawanya. Ajung tidak tahu kau di kamarku, jika aku hanya kemari bersama Mirah mereka akan curiga. Jadi Yugyeom akan menemani kita.” Dia menatap Taehyung yang mengerjap, sejenak disorientasi namun kemudian mengangguk—tidak masalah, Yugyeom bukan masalah.
“Aku tidak akan ikut campur.” Tambah Yugyeom, mengangguk dan Taehyung menyadari anak itu sama sekali tidak ingin berada di sana, namun terjebak. Sama seperti mereka semua. Hanya saja, Yugyeom bisa menyelesaikannya hanya dengan melangkah pergi dari kamar Jeongguk.
Sementara Jeongguk dan Taehyung? Bagaimana caranya melangkah dari kehidupan mereka sendiri?
“Tidak apa-apa,” katanya dengan nada biasa namun suaranya membuat Mirah berjengit kaget. Taehyung berdeham, menyadari suaranya jika dibandingkan suara Jeongguk yang halus dan lembut pastilah terdengar kasar dan serak. “Maaf.” Katanya sekali lagi dan Mirah kembali berjengit.
Dia mengulurkan tangannya ke arah Mirah. Dan secara mengejutkan, gadis itu menanggapinya dengan tersentak kecil—seolah Taehyung akan memukulnya. Dia menjauhkan wajahnya dari tangan Taehyung dengan mata terpejam, mundur selangkah dari Taehyung. Gestur itu membuat hati Taehyung terkoyak—apakah dia memang semengerikan itu hingga reaksi pertama gadis ini adalah melindungi diri darinya?
Jeongguk menangkap atmosfer itu dengan cepat dan menyentuh bahu Mirah lembut, Taehyung menggertakkan rahangnya ketika melihat tangan Jeongguk mendarat di bahu Mirah—berusaha keras agar tidak menggeram ketika miliknya menyentuh orang lain. Namun dia juga paham Jeongguk berusaha menenangkan gadis itu. Taehyung menarik napas perlahan, mengatur emosinya—dia tidak bisa mengamuk pada Jeongguk sepanjang waktu.
“Tidak apa-apa, Mirah. Dia hanya ingin memberikanmu sesuatu.” Bisik Jeongguk, melirik Taehyung dengan cemas. Memastikan kekasihnya tidak terluka karena gestur Mirah itu.
Terlambat, Taehyung sudah terluka namun dia bergegas menelan sakit hatinya. Dia terbiasa pada tatapan takut orang-orang padanya, memang itulah kesan yang ingin ditinggalkannya pada semua orang. Namun entah mengapa ketika Mirah terkesiap dan bersikap defensif hanya karena Taehyung mengangkat tangannya membuat hatinya terluka. Dia mengulurkan telapak tangannya, membiarkan kantung beledu itu berada di atas tangannya.
“Maaf, jika aku mengagetkanmu.” Katanya, menyadari betapa parau suaranya jika dibandingkan suara Jeongguk. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah melindungi Jeongguk, karena telah menyelamatkan kami. Telah memikirkan Jeongguk. Terima kasih.” Dia melirik Jeongguk yang mengangguk, menyemangatinya.
“Walaupun kau bisa lihat bagaimana ayahnya menyikapi pembatalan pernikahan kalian, tapi aku tidak menyalahkanmu.” Dia bergegas menambahkan, dengan sedikit panik agar Mirah tidak berjengit lagi—merasa Taehyung menyalahkannya karena dia mengklaim diri akan memasang badannya melindungi Jeongguk. “Terkadang, kita tidak bisa melindungi orang yang kita cintai sepanjang waktu.” Tambahnya, setengah berbisik.
Jeongguk mengerjap, menatapnya—jelas kaget mendengar bagaimana Taehyung memosisikan dirinya ketika bicara dengan Mirah. Dan Taehyung juga melihat gadis itu mendongak menatapnya, untuk pertama kalinya. Dia membalas tatapan Mirah, mengulaskan senyuman. Mereka punya persamaan, Taehyung dan Mirah, mereka mencintai Jeongguk dan siap terluka demi melindungi Jeongguk. Perbedaannya hanyalah siapa yang Jeongguk pilih.
“I think very highly of you,” Taehyung menatapnya, memperlembut suaranya—berharap Mirah tidak takut padanya. “Sejak pertama aku mengenalmu. Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami, menyelamatkan Jeongguk. Terima kasih karena telah... melakukan segalanya demi Jeongguk.”
Mirah menurunkan pandangannya, menatap kantung di tangan Taehyung dan terkesiap kecil menyadari apa yang diberikan Taehyung untuknya. Taehyung tersenyum kecil, melirik Jeongguk dengan sedikit gelisah—Mirah akan menyukainya, 'kan? Dia memilih sendiri hadiah itu.
“Itu,” bisik Mirah menatap kantung di tangan Taehyung. “Terlalu mahal, tidak.” Dia menggeleng, mendongak menatap Taehyung. “Bli Tjok tidak perlu membelikanku...” Dia menelan ludahnya dengan sulit, gugup.
Taehyung mengedikkan bahunya kalem. “Tidak masalah, aku ingin memberikanmu sesuatu. Bantuanmu tidak akan bisa diuangkan jadi benda ini tidak ada artinya sama sekali selain bahwa aku berharap setelah ini, kau bisa sedikit... menganggap kami temanmu.” Taehyung menatapnya dan Mirah mengerjap.
“Aku,” dia menghela napas dan mendongak—menatap Jeongguk yang masih terkejut karena kalimatnya tadi. “Aku pernah membencimu, aku tidak akan bohong mengenai ini.” Dia menatap Mirah yang berjengit kecil mendengarnya. Taehyung merasa tidak ada gunanya lagi membenci gadis itu ketika Jeongguk sudah dengan jelas menunjukkan siapa yang dipilihnya.
“Kau tahu aku pernah membencimu dan aku juga yakin kau pernah atau bahkan masih membenciku, itu manusiawi sekali. Aku tidak akan melarangmu membenciku,” lanjut Taehyung tergelak lembut. Dia menghabiskan hidupnya dibenci keluarganya sendiri, dibenci Mirah tidak akan menambahkan apa pun pada hatinya.
“Malah,” Taehyung membuka kantung di tangannya dan meraih tangan Mirah, dia mengenggam lembut tangan mungil gadis itu, senang gadis itu tidak berjengit oleh sentuhannya. Taehyung membaliknya hingga bagian dalam telapak tangannya menghadap ke atas sebelum menggoyangkan kantung turkuis itu hingga isinya jatuh ke tangan Mirah.
Kalung perak dengan permata safir mungil membalas tatapan Mirah yang terkesiap lebih keras.
“Aku ingin memberimu ruang untuk membenciku.” Bisiknya lirih dan menyadari Jeongguk yang bergerak mendekat ke arahnya, menyentuh bahunya—memberikannya tenaga untuk melanjutkan. “Bencilah aku sepuasmu. Habiskan semua kebencianmu. Tidak masalah.” Dia tersenyum menatap Mirah yang menunduk menatap tangannya.
Permata safir di kalung perak Tiffany & Co itu menurut Taehyung akan sangat sesuai dengan nama Mirah. Harganya lumayan, tapi Taehyung tidak mempermasalahkannya. Bantuan Mirah tidak bisa dihargai dengan uang sama sekali. Mereka membayar kalung itu berdua karena Jeongguk memaksa. Mirah membantu mereka berdua, maka mereka berdua yang membayarnya. Taehyung bergegas mengiyakan, tidak ingin berdebat karena dia lelah setelah sesi pertamanya dengan Thia.
“Itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku sangat berterima kasih padamu, sungguh amat berterima kasih karena telah menyelamatkan Jeongguk.” Dia mengulaskan senyuman lain pada Mirah yang mendongak kaget ketika menyadari isi kantung turkuis yang diserahkan Taehyung. “Kau tidak perlu menggunakannya sekarang. Atau silakan menjualnya jika kau ingin.” Dia mengedikkan bahunya.
“Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu untuk mengekspresikan rasa terima kasihku dan mengingatkanmu bahwa apa pun yang terjadi, aku dan Jeongguk adalah temanmu.”
Taehyung paham Mirah tidak akan bisa menatap mereka sebagai temannya sekarang—hanya gadis psikopat yang bisa melakukannya. Dia pasti membenci Taehyung, tidak ingin melihatnya. Tidak ingin bertemu orang yang dipilih Jeongguk karena Taehyung pernah berada di posisinya. Cemburu dan benci pada Mirah karena dia adalah pilihan orang tua Jeongguk. Dia memiliki waktu ketika dia tidak ingin menatap Mirah, memikirkan namanya saja mampu membuat Taehyung gusar sepanjang waktu.
Dia paham posisi Mirah, dia merasakan posisi itu.
Mirah menatap kalung di tangannya dan menghela napas sebelum mendongak menatap Taehyung yang mengerjap karena gadis itu menatapnya. Mereka bertatapan sejenak dalam diam. Mirah kemudian tersenyum dan mengulurkan kalung itu pada Taehyung. Sejenak, Taeyung berpikir dia tidak mau menerimanya dan sudah akan mendesaknya untuk menerima hadiah itu ketika dia membuka mulutnya.
“Bli Tjok,” bisiknya lirih dan Taehyung bisa mendengarnya gemetar, namun mengendalikan dirinya dengan amat baik. Dia menyeka rambutnya, membawanya ke depan sebelum berputar sedikit, memberikan ruang terbuka di lehernya.
“Tolong pakaikan kalungnya.”
*