Gourmet Meal 530
tw // domestic physical abuse , anxiety , frustration .
Jeongguk mengerang kecil ketika menyandarkan tubuhnya di mobil, dia menyentuh pipi kanannya yang nyeri—menyecap darah di dalam rongga mulutnya dan meringis.
Dia baru saja bangun, hendak mandi dan bersiap berangkat menjemput Taehyung ke Klungkung ketika pintu kamarnyamendadak terbuka dan ayahnya berdiri di depan pintu. Nampak murka, belum pernah semurka itu sebelumnya. Jeongguk belum sempat menanyakan apa pun bahkan mengerjapkan matanya ketika tangan ayahnya melayang dan menamparnya dengan punggung tangannya. Rasa tajam karat dan garam meledak di mulutnya ketika giginya melukai bagian dalam mulutnya.
“Apa yang kaulakukan?” Tanyanya menggeram sementara Jeongguk menyentuh wajahnya yang berdenyut, merasakan darah di dalam mulutnya dengan ngeri. Kantuknya lenyap seketika, diganti rasa mual dan ketakutan yang merayap dari dasar perutnya. “Apa yang kaulakukan pada Mirah?” Tanyanya lagi, kali ini semakin marah.
Perut Jeongguk mencelos, ayahnya baru tahu mengenai hubungannya dengan Mirah? Dengan panik, dia berpikir Mirah berjanji padanya akan mengatakan sesuatu tentang dialah alasan mengapa mereka tidak menikah. Sama sekali bukan Jeongguk. Lalu kenapa ayahnya marah padanya....?
Dan dia menyadari, bahkan jika Mirah meninggal sekali pun karena kesalahannya sendiri, ayah Jeongguk akan selalu menemukan cara untuk menyalahkan Jeongguk. Bagi ayahnya, semua hal di dunia ini adalah kesalahan Jeongguk.
“Ajung, ampura. Mirah...,” Jeongguk baru saja membuka mulutnya, hendak menjelaskan ketika tamparan lain mengenai sisi wajah satunya—kali ini jauh lebih menyakitkan hingga erangan lolos dari mulutnya ketika tubuhnya terangkat oleh pukulan itu. Kepalanya berdenyut, pipinya berdenyut—sakit sekali hingga dia nyaris mengumpat karenanya. Bersyukur dia segera menggigit lidahnya agar ayahnya tidak semakin murka.
Berengsek, pikirnya getir saat merasakan kedua sisi wajahnya berdenyut mengerikan.
“Ajung tidak percaya.” Geramnya, berdiri menjulang di depan anak sulungnya yang masih duduk di atas ranjangnya. Itu pukul lima pagi, Jeongguk baru saja bangun dan ayahnya sudah memutuskan untuk memberinya pelajaran. “Ajung tidak percaya dia mundur begitu saja! Kau pasti melakukan sesuatu yang membuatnya terluka dan memutuskan untuk membatalkan pernikahan!”
Jeongguk berjengit ketika tangan ayahnya terangkat, hendak memukulnya sekali lagi namun ayahnya menggeram dan, entah apa yang dipikirkannya, menurunkan tangannya. Nampak berusaha keras mengendalikan amarahnya saat memelototi anaknya yang menunduk. Jeogguk menelan semua darah yang terbit di mulutnya dengan pilu—sejenak memikirkan Taehyung dan merasakan ponselnya bergetar di bawah bantalnya. Taehyung pasti mencarinya, cemas karena dia tidak mengirim pesan namun Jeongguk terjebak.
Jika dia bergerak sekarang, ayahnya akan semakin marah. Hal yang dipelajarinya sejak kecil ketika ayahnya marah adalah diam dan mengiyakan. Dengan begitu, dia akan lebih cepat puas dengan amarahnya dan meninggalkan Jeongguk. Dia memejamkan mata, merasakan getaran ponselnya merambat di atas ranjang dan berdoa agar Taehyung tidak marah padanya hari ini. Jeongguk tidak akan bisa menangguhkannya.
“Apa yang kaulakukan?” Geramnya, suara ayahnya yang berat menjalar di permukaan kulitnya dan membuatnya semakin mual. Sakit yang berdenyut di tulang pipinya tidak ada artinya dibanding ketakutan yang berpusar di dasar perutnya.
Apa yang harus dikatakannya sekarang? Karena dia memang mengacau sehingga Mirah memutuskan untuk membatalkan pertunangan mereka—mengalah karena Jeongguk memilih Taehyung dibanding dirinya. Lalu alasan apa yang bisa diberikan Jeongguk?
“Gung tidak mau mengekang Mirah,” bisiknya lemah, tidak berani menaikkan suaranya. Berharap Mirah menggunakan alasan yang sama dengannya sekarang karena dia sungguh tidak bertanya. “Jika dia memang ingin berangkat ke Australia untuk bekerja maka Gung izinkan. Kami sepakat....” Dia kemudian berjengit, mengencangkan rahangnya—siap menerima pukulan lain dari ayahnya.
Namun tidak ada pukulan lain. Maka Jeongguk perlahan membuka matanya dan melirik ayahnya yang berdiri di depannya—bahunya naik turun dengan kuat ketika dia berusaha mengatur emosinya sendiri. Jeongguk berharap ayahnya menerima alasannya. Dia lupa bertanya pada Mirah alasan apa yang digunakan gadis itu untuk membohongi ayahnya dan ayah Jeongguk. Dia bodoh karena tidak bersikap hati-hati. Semoga Mirah menggunakan alasan yang sama. Jeongguk memejamkan matanya dengan pedih.
“Kau memang selalu mengacau.” Kata ayahnya kemudian setelah diam sejenak, terdengar penuh racun hingga Jeongguk berjengit oleh kekuatan omongannya. Jeongguk sudah biasa dikatai sejak dia kecil. Dianggap tidak pantas, dianggap kurang, tidak pernah dipuji, tidak pernah diapresiasi—hidup yang jauh lebih menyulitkan dari hidup adiknya yang serba berkecukupan, khususnya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Namun mendengarkan kata-kata yang sama dari ayahnya bertahun-tahun, tidak pernah membuat kalimat itu terasa lebih ringan. Tikamannya semakin dan semakin dalam di hatinya. Meninggalkan bekas luka tajam yang mustahil sembuh. Jeongguk menggertakkan rahangnya, mengabaikan rasa sakit yang terbit di geliginya karena sakit di hatinya jauh lebih menyiksa.
“Dari dulu, kau selalu mengacaukan segalanya!” Kata ayahnya lagi, tanpa ampun. “Tidak bisakkah kau menurut sekali saja? Melakukan apa yang Ajung inginkan? Kau ini sudah tua! Pikirkan masa depanmu, berhenti main-main!”
Jeongguk memejamkan matanya—menggeleng mengenyahkan ingatan itu, menggertakkan giginya lalu mengerang keras ketika merasakan nyeri di giginya. Dia menatap wajahnya di spion tengah mobilnya. Ada memar di pipinya, mulai kebiruan dan dia mendesah. Apakah giginya patah karena tamparan ayahnya? Dia meraih cermin di balik penghalang sinar di atas kemudi dan mengecek mulutnya—gusinya berdarah. Dia akan mampir ke dokter gigi nanti sepulang bekerja, pikirnya sambil lalu seraya meraih botol minum dan berkumur. Dia menelan air kumurannya, tidak ingin melihat betapa merah air itu oleh darahnya.
Taehyung dulu, pikirnya seraya mendesis menahan sakit di wajahnya. Dia tidak sempat mengecek ponselnya karena begitu ayahnya puas dan pergi dari kamarnya, dia bergegas melompat ke kamar mandi untuk bersiap-siap kerja. Jeongguk hanya ingin segera pergi dari rumahnya, kabur dari ayahnya.
Dia mengecek ponselnya, mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dan merasa hatinya dipelintir ketika membaca pesan Taehyung yang panik. Dia bergegas menekan nomor Taehyung, mengerang kecil ketika gerakan rahangnya menyakiti pipinya. Dia akan mengenakan masker hari ini ketika bekerja, menutupi memar dan luka di sudut mulutnya agar tidak mengundang perhatian orang-orang.
Semoga Taehyung tidak marah karena dia tidak mengangkat telepon, pikir Jeongguk seraya menunggu dering diangkat seraya mengusap wajahnya dengan ujung jemari—meringis ketika ujung jemarinya sendiri mengirim perih ke memar di pipinya. Ada luka di bagian dalam pipinya, tergigit giginya sendiri saat ayahnya menamparnya. Jeongguk mengingatkan dirinya agar membeli obat sebelum pulang nanti.
Telepon tidak diangkat oleh Taehyung, Jeongguk melirik jam tangannya dan menyadari ini sudah pukul enam pagi—Taehyung pasti sudah dalam perjalanan ke tempat kerjanya. Dia baru hendak menurunkan ponselnya, memutus sambungan ketika Taehyung mengangkat teleponnya.
“Wiktu!?” Serunya, ditingkahi suara deru angin dan motor, Jeongguk menyadari Taehyung menepi di pinggir jalan untuk mengangkat teleponnya dan entah mengapa itu membuatnya senang. “Wiktu?! Wiktu???” Tanyanya panik, menuntut dan Jeongguk memejamkan mata—menikmati kekhawatiran Taehyung.
Taehyung yang dulu pasti akan marah jika dia tidak membalas pesannya. Perubahan emosi Taehyung ini membuatnya senang—merasa diinginkan, merasa dibutuhkan. Perasaan baru yang membuatnya berdesir nyaman. Taehyung membutuhkannya sebesar apa Jeongguk membutuhkan Taehyung. Dia tidak lagi berjuang sendirian, dia tidak lagi berusaha sendirian—Taehyung berjuang bersamanya sekarang. Taehyung takut kehilangannya seperti Jeongguk takut kehilangan Taehyung. Perasaan mereka bertemu, saling terkait dan Jeongguk senang. Walaupun giginya berdenyut, dia tersenyum. Menikmati suara khawatir Taehyung.
“Hei, halo.” Sahut Jeongguk, menyandarkan kepalanya di tempat duduknya dan mendesah panjang—menyadari betapa banyak energi yang disuntikkan suara Taehyung yang khawatir ke pembuluh darahnya. “Maaf, maaf.” Bisiknya, mendadak merasa sangat lelah dengan keadaan mereka.
“Gung? Kau baik-baik saja??” Terdengar suara derum mobil, sejenak mengalahkan suara Taehyung dan Jeongguk merintih—merindukan Taehyung. Ingin lelaki itu berada di sisinya, memeluknya dan mengusap sakit di wajahnya—sakit di hatinya, lelah di tubuhnya. “Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?? Ada apa?? Kau sakit?!”
“Wigung?” Bisiknya, lengan menutupi matanya yang perih karena cahaya. Napasnya memburu ketika kelelahan menyeruak di dadanya dan menghimpitnya. Dia mendengar lalu lintas di sekitar Taehyung di seberang sana, merasa dia sebaiknya tidak membuat Taehyung berhenti di pinggir jalan lama-lama.
Dia sangat mencintai Taehyung.
“Ya?? Kau butuh sesuatu? Kau di mana sekarang??”
Jeongguk tersenyum lalu meringis ketika senyuman itu menyakiti pipinya, “Tunggu aku tempat biasa, kita bertemu sebentar.”
“Apa yang—!” Taehyung bergegas memarkir motornya.
Dia terlalu malas menurunkan mobilnya dari garasi dan berharap angin pagi akan membuatnya tenang. Taehyung pergi tanpa sarapan, menolak bicara pada siapa pun di rumahnya—bahkan Lakshmi. Khususnya Lakshmi.
Semua rasa percayanya pada kakaknya sudah lenyap detik dia melihat kakaknya berdiri di sisi ibunya dengan kebaya senada yang membungkus tubuhnya. Taehyung tahu dia tidak bisa lagi mempercayai siapa pun di rumahnya, bahkan tidak kakaknya yang selama ini selalu berusaha dilindunginya—selalu diutamakannya. Dia merasa asing di rumahnya sendiri, tidak lagi merasa bahwa tempat itu adalah tempat beristirahat untuknya. Dia merasa seperti kepingan puzzle yang salah, dipaksa untuk mengisi tempat yang kosong.
Pulang, terasa begitu berat dan menyesakkan. Dia ingin pergi ke tempat lain, ingin berhenti menyebut tempat itu rumahnya. Dia tidak mengenal siapa pun lagi di rumah itu: dia membenci semua orang. Bahkan kakaknya, khususnya kakaknya. Taehyung lelah, hatinya mengerut kelelahan. Dia ingin segalanya berhenti, cukup. Dia sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk melanjutkan kehidupan jika itu berarti dia harus terjebak di keluarga yang tidak pernah mencintainya sama sekali.
Angin pagi yang menggigit wajahnya karena berkendara dengan sepeda motor membuat perasaannya lebih baik, mengalihkan saraf rasa sakitnya dari dada ke wajahnya. Membuatnya merasa nyaman. Setidaknya sakit yang dirasakannya sekarang adalah sakit fisik yang bisa lenyap jika diberi obat. Berbeda sekali dengan sakit di hatinya yang tidak bisa disembuhkan dengan obat apa pun.
Dia sedang melaju di bypass ketika ponsel di sakunya bergetar panjang dan lama, menyadari itu telepon dia bergegas menepi untuk mengangkat telepon Jeongguk. Dia kemudian menatap layar ponselnya setelah Jeongguk memutus sambungan telepon mereka, mengerutkan alis. Apakah terjadi sesuatu pada kekasihnya? Kenapa suaranya terdengar seolah sedang berkumur-kumur?
Taehyung mendongak, menatap sinar matahari yang bersemburat keemasan di Timur dan mendesah. Meletakkan tangannya di atas tangki motornya, merasa kelelahan. Kapan mereka akan bahagia? Apakah mereka memiliki bahagia? Seberapa mahal bahagia itu untuk mereka?
Atau memang sejak awal tidak pernah ada bahagia untuk mereka?
Sekarang dia menunggu beberapa meter dari Alila, titik tengah antara Alila dan Amankila. Di pertigaan persis sebelum tanjakan ke arah Amankila; ada tanah lapang di sana di sebelah pura, di bawah pohon beringin yang lumayan rindang. Tidak ada yang terlalu memedulikan tempat itu. Motor berlalu-lalang, tidak menoleh sama sekali ke halaman pura tempat Taehyung menunggu.
Taehyung duduk di atas motornya yang mati, helm masih terpasang di kepalanya seraya menatap ponselnya—bersiaga jika Jeongguk meneleponnya lagi. Dia menatap jalan di depannya, arah Karangasem. Berharap dengan cemas Yaris Jeongguk segera muncul di kejauhan. Taehyung melepaskan helmnya, masih tidak melihat mobil Jeongguk dan tidak mendapat pesan apa pun. Dia meletakkan helmnya di atas tangki, satu kakinya menjejak tanah. Matanya menatap jalan raya, mengabaikan semua orang yang mengamatinya.
Dia menunggu di sana, berharap-harap cemas apa yang terjadi pada kekasihnya. Taehyung selalu merasa overprotektif pada Jeongguk, merasa sangat memilikinya—ingin menancapkan jemarinya ke Jeongguk. Memiliki lelaki itu untuk dirinya sendiri. Rasanya nyaris tidak tertahankan.Dia melihat Yaris Jeongguk beberapa saat kemudian dan menegakkan tubuhnya, menyeka anak rambut yang meluruh ke keningnya. Mobil itu memelan, menepi di dekat motornya sebelum meluncur menuruni jalan ke arah halaman pura mendekat ke Taehyung dan menurunkan jendelanya.
Jantung Taehyung mencelos ketika melihat wajah Jeongguk.
Ada memar besar di pipi kanannya, sudut bibirnya terluka dan sobek. Melihat wajahnya sendiri babak belur mungkin adalah hal biasa bagi Taehyung namun melihat wajah Jeongguk yang biasanya selalu tenang dan steril, indah dan meneduhkan, remuk oleh luka adalah hal yang baru. Dan Taehyung takkan pernah terbiasa melihatnya. Dia menarik kakinya, menuruni motor seraya mencabut kuncinya dan bergegas menghambur memasuki mobil Jeongguk dengan panik. Membanting pintu, dia mengulurkan tangan, menarik bahu Jeongguk agar menatapnya dan mengamati memar di wajahnya.
“Apa yang...?” Bisiknya lirih, di dalam mobil yang tertutup. Tidak peduli apa yang dipikirkan orang melihat Yaris terparkir di halaman pura, dengan motor di sisinya. Orang mungkin berpikir mereka menumpang parkir dan mengabaikannya.
Dia hendak menyentuh wajah Jeongguk, namun tidak tega menyakiti kekasihnya. “Apa yang....?” Suaranya pecah, bahkan di telinganya sendiri. Hatinya berdenyut mengerikan sekarang, memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Jeongguk. “Siapa...?”
Taehyung tahu ini pasti ayah Jeongguk, namun dia tetap bertanya. Berharap dirinya salah. Dan ketika Jeongguk mengulaskan senyuman dengan wajah lelahnya, hati Taehyung terasa dipelintir melihat ekspresinya yang jauh dari Jeongguk biasanya.
Kekasihnya yang selalu nampak tenang, hangat, dan optimis, sekarang nampak kelelahan. Kerlip matanya redup dan Taehyung benci melihatnya. “Ajung baru tahu masalah Mirah.” Katanya dengan nada menyerah yang begitu lemah.
Hati Taehyung terasa nyeri, dia tahu ini pasti ayah Jeongguk. Namun dia tetap saja merasa pedih. Dengan ibu jarinya, dia mengusap memar kebiruan di tulang pipi Jeongguk dan menatap kekasihnya yang memejamkan mata di bawah sentuhannya. Mobil beraroma seperti sabun mandi dan parfum Jeongguk, aroma yang selama ini membuat Taehyung merasa aman dan damai. Jeongguk mulai rileks di bawah sentuhannya, menggenggam tangannya yang menyentuh wajahnya dengan lembut.
Inikah yang dirasakan Jeongguk tiap kali dia menghampiri Taehyung dan mendapati wajahnya babak belur? Perasaan hancur ini? Perasaan hampa dan terluka karena tidak bisa melindungi orang yang mereka cintai dari rasa sakit? Merasa gagal dan tidak berguna? Perasaan yang jauh lebih mengerikan daripada rasa hampa yang dirasakannya untuk dirinya sendiri. Taehyung menghela napas tajam, mengencangkan otot perutnya—menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya.
Dia begitu mencintai Jeongguk hingga dia merasa sebentar lagi dia akan sinting karena perasaan ini. Taehyung menatap Jeongguk yang memejamkan mata, meraih tangannya dan mengecup pergelangan tangannya—bernapas dengan lembut di sana. Seolah sedang menghisap kehidupan yang dibutuhkannya untuk melanjutkan hidup.
“Bukankah kalian akan bertemu hari Jumat?” Tanya Taehyung lembut, tidak lagi peduli pada jam kerjanya. Persetan terlambat, dia tidak perduli. Jeongguk jauh lebih penting dari pekerjaannya.
Jeongguk mengangguk, menumpukan keningnya di tangan Taehyung—menempelkan wajahnya di telapak tangan Taehyung. Bernapas di sana, menggelitik bagian dalam tangan Taehyung dengan napasnya yang berat. “Ajung memutuskan untuk bertanya padaku alasan yang sebenarnya.” Bibirnya mengusap telapak tangan Taehyung.
“Lalu...?” Bisiknya.
Jeongguk mengedikkan bahunya, “Menurutmu apa jawabanku?” Dia mengangkat wajahnya dan Taehyung menahan napasnya, menatap memar di wajah Jeongguk. Mereka tahu apa jawaban Jeongguk.
“Mirah sudah berjanji dia akan menggunakan alasan yang akan melindungimu,” bisik Taehyung lagi—sedikit jengkel, berpikir Mirah telah membohongi mereka dengan alasannya hingga Jeongguk harus menerima pukulan ayahnya. Merasakan kebencian mulai menyeruak di dasar perutnya: pahit dan getir.
“Memang.” Jeongguk mengecup tangannya lagi, menciumi setiap buku jemarinya dengan lembut dan tiap kecupannya membuat perut Taehyung melilit—namun sama sekali bukan karena pedih atau marah.
Jeongguk mendesah kecil dan Taehyung merasa baru saja ditonjok mendengar suara lirih itu. “Tapi Ajung tentu saja tidak menelannya mentah-mentah.” Dia berbisik dengan bibir menempel di jemari Taehyung. “Kau tahu ayah kita berdua.” Guraunya lemah.
Taehyung bersyukur Jeongguk memarkir mobilnya membelakangi jalan raya, sehingga kaca depan Jeongguk yang tidak digelapkan menghadap ke tembok pura. Tidak akan ada yang melihat mereka. Tidak akan ada yang melihat Jeongguk menciumi tangannya seperti seorang vampir yang membutuhkan darahnya untuk bertahan hidup. Dan Taehyung merasa perutnya melilit oleh gairah karena ciuman-ciuman kecil itu, napas Jeongguk di telapak tangannya, dan dengkurannya yang membuatnya bergidik.
“Tapi dia akhirnya percaya?” Tanya Taehyung, mengamati kekasihnya yang menciumi jemarinya dengan lembut—tiap kecupan membuat Taehyung bergidik.
Jeongguk mengedikkan bahu, “Tidak tahu.” Bisiknya lemah. “Dia pergi begitu saja dari kamar, tidak yakin apakah dia menerima alasanku atau tidak.” Dia kemudian mengangkat wajahnya. “Yang mengingatkanku, aku harus menghubungi Mirah.”
Alis Taehyung berkerut, gairah yang tadi membumbung di dalam dirinya seketika padam oleh rasa tidak suka. Seperti lampu yang dimatikan. “Kenapa?” Tanyanya terganggu dan Jeongguk pasti menyadari perubahan nada suaranya karena dia kemudian mengecupi punggung tangan Taehyung lagi, mendengkur di sana—merayu.
“Karena aku harus berkoordinasi dengannya mengenai alasan dia membatalkan pertunangan kami.” Dia melirik Taehyung dari bawah bulu matanya yang lentik, dengan tatapan matanya yang dalam dan teduh, bibirnya menempel di buku jemari Taehyung. “Kami harus memberikan alasan yang sama, 'kan?” Dengkurnya lembut.
Taehyung tidak yakin apakah dia memang memahami penjelasan Jeongguk atau terhipnotis tatapan mata Jeongguk karena dia kemudian mengangguk. “Baiklah,” katanya menatap bibir Jeongguk di tangannya.
Bolehkah mereka membolos bekerja saja dan menginap? Dia ingin memeluk Jeongguk, ingin menyusup di bawah lengannya dan lelap—dia tidak bisa tidur semalaman, rasa sakit terkhianati menggerogoti hatinya. Dia ingin berbaring di sisi Jeongguk, dalam dekapannya dan tidak ingin bangun lagi kecuali jika bahagia sudah menjadi milik mereka.
“Bagaimana menurutmu jika kita membolos saja hari ini?” Tanya Taehyung kemudian dan Jeongguk tersenyum.
“Maaf, Sayang, ada reservasi penting hari ini.” Bisiknya dan mengecup telapak tangan Taehyung lembut. “Tapi kau bisa menemaniku ke dokter gigi sepulang bekerja? Sepertinya gigi atau gusiku ada yang terluka karena Ajung.” Dia kemudian menatap Taehyung, ragu sejenak sebelum menambahkan. “Mungkin juga ikut pulang bersamaku? Jika ada tamu, Ajung tidak akan berani memukulku.”
Taehyung menghela napas, mengusap wajah Jeongguk lembut dengan tangannya yang bebas. Menyisir rambutnya ke belakang, mengusap kening dan sisi kirinya sementara Jeongguk bersandar di telapak tangan kanannya—memejamkan mata, menikmati waktunya.
“Baiklah,” katanya kemudian, menghela napas. Dia harus hidup hari ini ternyata, tidak bisa membolos dari kehidupannya menjadi Taehyung dengan bersembunyi di dalam pelukan Jeongguk. “Kau akan menjemputku sepulang bekerja?”
Jeongguk mengangguk, masih memejamkan matanya. Nampak lebih rileks ketika Taehyung mengiyakan ajakannya untuk pulang ke Puri bersamanya. Taehyung juga tidak ingin pulang ke rumahnya sendiri, peduli setan ayahnya mengamuk. Taehyung muak dengan rumahnya sendiri.
“Pukul lima tepat.” Jeongguk mengecup buku jemarinya.
Taehyung tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya. “Beri aku satu ciuman.” Bisiknya dan Jeongguk mendongak, mengusapkan bibirnya cepat ke bibir Taehyung.
“Maaf, Sayang,” dia mengusap bibir Taehyung yang terkuak dengan ibu jarinya, matanya melekat pada bibir Taehyung dan itu menyadarkannya bahwa Jeongguk juga menginginkan Taehyung. Namun mereka menyadari bahwa mereka memiliki kehidupan yang walaupun mereka benci, harus dijalani. “Kita di luar.” Tambahnya lembut—tidak ada yang pernah bicara pada Taehyung selembut apa yang dilakukan Jeongguk. Dan Taehyung kecanduan.
“Dan mengingatkanku,” Jeongguk menegakkan tubuh, tersenyum menyesal. “Kita akan terlambat jika tidak bergegas.” Dia melirik jam tangannya, memperlihatkan pada Taehyung bahwa sekarang pukul tujuh empat puluh lima.
“Sialan,” Taehyung mendesah panjang, terganggu. Dia kurang tidur, dia terkhianati keluarganya sendiri, dan mendapati kekasihnya babak belur sebagai pemandangan pertama di pagi hari.
Taehyung berada dalam suasana hati paling buruk sepanjang hidupnya. Dia berdoa semoga tidak ada yang bersikap menyebalkan hari ini. Atau jika memang mereka sangat ingin Taehyung melampiaskan amarahnya pada mereka, maka Taehyung akan melakukannya dengan senang hati.
Dia punya banyak sekali amarah yang bisa dilampiaskannya. Kesalahan sekecil apa pun cukup untuk menarik pelatuknya.
Hidup sebaiknya tidak menguji kesabarannya hari ini.
ps. kalian yg tau lokasi mereka ketemu di manggis sana, you're the real MVP HAHAHAHAHAH kalo besok lewat sana jangan cengar cengir yaa <3