Gourmet Meal 560

tw // insecurity , anxiety . ps. unedited, excuse typo qiqiqi x


Jeongguk tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya sama sekali belakangan ini. Otaknya terbelah memikirkan masa depan mereka dan Taehyung yang belakangan ini semakin sulit dihubungi. Mereka belum pernah bertatap muka lagi sejak terakhir mereka bertemu, sejak terakhir Jeongguk menurunkannya di Puri pada pukul dua pagi.

Itu kali terakhir Jeongguk menatapnya, menyentuhnya, menangis bersamanya, dan menciumnya. Setelahnya hubungan mereka terasa begitu rapuh, seperti kulit ari salak yang siap robek kapan saja. Jeongguk masih menghubunginya, berusaha meneleponnya namun tiap kali mereka tersambung; entah melalui Whatsapp atau telepon konvensional pulsa, ayah Taehyung selalu mengetahuinya. Sekali bahkan ayah Taehyung mendatangi kamarnya dan Taehyung terkesiap keras, mematikan sambungan mereka secara sepihak. Hubungan mereka membuat Jeongguk frustrasi sementara dokumen mereka sudah siap.

Hari ini Jeongguk akan bertemu dengan teman Taehyung yang mengurusnya sekalian mengirimkan harga dari semua dokumen mereka—yang sama sekali tidak murah. Di titik inilah Jeongguk merasa sedikit bersyukur dia tinggal bersama orang tuanya sehingga pengeluaran untuk tempat tinggal bisa ditekan, menyisakan banyak uang yang bisa disisihkan dari gajinya. Taehyung juga sudah mulai mengiklankan motornya—sudah banyak yang menawar karena motornya yang lumayan klasik. Uangnya akan mereka gunakan untuk memulai hidup di tempat baru nantinya.

Jeongguk memijat pelipisnya, dia sedang duduk di ruangannya sementara di dapur semua commis sedang mempersiapkan bahan baku untuk makan malam nanti. Jeongguk hanya memiliki satu sesi show kitchen hari ini, nanti petang dengan tamu penting—dia akan memasak makanan mereka langsung di pinggir kolam renang. Setelahnya dia akan pergi ke Klungkung untuk mengambil dokumennya.

Dia meraih ponselnya, tidak menemukan pesan dari Taehyung sama sekali dan merasa resah. Bagaimana kekasihnya sekarang terdengar jauh lebih tenang dan menjaga jarak darinya membuat Jeongguk gelisah. Dia merasa terancam, apakah Taehyung akan membatalkan segalanya dan melakukan apa yang orang tuanya inginkan pada akhirnya? Apakah Taehyung berubah pikiran?

Taehyung terasa menjauh sekarang, tiap mereka mengobrol di telepon pun dia terdengar seolah sedang melamun—pikirannya berada di semua tempat selain di percakapannya dengan Jeongguk. Pesan-pesannya juga berjarak, membuat Jeongguk semakin dan semakin resah. Dia tidak berani ke Puri Taehyung setelah terakhir kali seseorang mengetahui plat nomor mobilnya dan menghubungi Lakshmi juga tidak ada gunanya.

Tengkuk Jeongguk sakit sekali belakangan ini karena tegang memikirkan rencana mereka yang sudah begitu dekat. Juga pernikahan Taehyung. Jeongguk meraih undangan yang disimpannya di laci kerjanya—sederhana dengan warna hijau lembut serta emas. Dia menggertakkan rahang, meremukkannya di tangannya.

Apa yang sebenarnya dipikirkan Taehyung...?

“Chef?”

Jeongguk mengerjap, mendongak dan menemukan Namjoon balas menatapnya—melirik undangan yang remuk di tangannya. Jeongguk berdeham, menghela napas dan meletakkan benda itu kembali ke lacinya. “Ya?” Tanyanya parau.

Namjoon menatapnya sejenak sebelum tersenyum kecil, “Show kitchen sudah disiapkan, Chef ingin mengeceknya?” Tanyanya—melembutkan suaranya dan Jeongguk berterima kasih atas itu.

Dia mengangguk, berdiri dan merapikan pakaiannya. “Baiklah.” Dia kemudian keluar dari mejanya dan melangkah ke arah Namjoon. Sous Chef-nya menepuk bahunya ketika dia lewat, hangat.

“Chef baik-baik saja?” Tanyanya lirih, nyaris tenggelam dalam kesibukan dapur dan Jeongguk menghela napas—merasakan desakan untuk menangis memikirkan hubungannya saat ini; segala kemungkinan yang sekarang melayang di hadapan mereka, dekat namun tak teraih.

“Jika Chef ingin pulang lebih awal, saya yang akan menggantikan sesinya.” Tambah Namjoon, menatapnya cemas dan Jeongguk menggeleng—ini tamu penting, GM sendiri yang meminta agar Jeongguk yang memasak maka dia harus bertanggung jawab.

Lagi pula belakangan ini Jeongguk lebih suka overtime di tempat kerja sehingga ketika dia pulang, dia sudah terlalu lelah untuk memikirkan sikap Taehyung yang menjauh dan hubungan mereka yang kusut. Jeongguk lebih banyak tidur sekarang, menderita kelelahan yang tidak memiliki obat sama sekali.

Jeongguk takut, jika Taehyung berubah pikiran sepenuhnya dan meninggalkannya sekarang—setelah Jeongguk mempersiapkan begitu banyak hal untuk masa depan mereka. Termasuk mencari rumah yang cocok untuk mereka di Kepulauan Riau sana melalui Verdio—meminjam namanya untuk naik di sertifikat tanah dan rumah dengan perjanjian Verdio tidak bisa menjualnya tanpa surat kuasa bermaterai dari Jeongguk. Persiapan mereka telah sejauh ini, Jeongguk tidak bisa gagal.

“Tidak,” katanya parau. “Akan saya kerjakan.” Dia mengangguk lalu melangkah melewati Namjoon—tidak lagi menoleh karena takut jika dia menatap rasa kasihan dan simpati di matanya, Jeongguk akan menangis.

Dia menggertakkan rahangnya ketika melangkah ke arah public area. Cuaca belakangan ini dingin sekali, matahari bersinar terik namun angin yang berdesir terasa dingin. Dia menyeberangi jembatan melayang Amankila, bertemu beberapa staf yang mengangguk padanya dan tiba di kolam renang utama mereka yang menatap lepas samudra. Angin yang bertiup terasa lembab dan dingin hingga sejenak Jeongguk bergidik dalam balutan jaket chef-nya yang lumayan tebal dan ditambah kaus dalam.

Jeongguk menuruni tangga, tersenyum pada beberapa Front Office yang menyapanya dan menghampiri show kitchen yang sedang disiapkan beberapa anak Banquet dan FB Service. Deburan air yang pasang terdengar keras dan angin juga berhembus lumayan kencang, Jeongguk takut angin akan merusak pengalaman makan tamu mereka.

“Apakah tidak ada lokasi yang tidak terlalu terbuka?” Tanyanya pada staf, melirik meja makan yang taplak mejanya berhamburan. “Saya khawatir dengan anginnya.”

FB Captain yang berada di dekatnya mengerutkan alis, jelas memikirkan hal yang sama. “Mereka pribadi memilih tempat ini, Chef.” Katanya dan Jeongguk mengernyit—merasakan apronnya yang membelit kakinya karena angin yang bertiup kencang.

“Nanti akan saya bicarakan,” Jeongguk mengangguk karena tidak mungkin mereka bisa makan dengan nyaman dalam kondisi angin yang bertiup kencang seperti ini tanpa membuat rambut mereka berhamburan dan ujung taplak meja memukul meja.

Menu hari ini tidak sulit, hanya three meal fine dining yang bisa dikerjakan sendiri oleh Jeongguk. Pembukanya dengan sup asparagus dengan daging kepiting, menu utamanya steak dengan sayuran dan mashed potato serta penutup dengan deconstructed apple crumble pie. Jeongguk bisa mengerjakan semuanya sendiri, namun dia akan ditemani CDP-nya hari ini untuk memastikan bahan bakunya siap dan segar.

Show kitchen-nya hanya berupa meja panjang bertaplak meja hitam dengan kompor portable, satu frying pan dan satu sauce pan untuk mengerjakan makanannya. Semua bahan baku akan dibawa naik dalam boks berpendingin untuk menjaga kesegarannya sementara untuk dessert, Jeongguk hanya perlu melakukan plating dari makanan yang diberikan Pastry.

Jeongguk menatap lautan lepas, memikirkan permohonan pengunduran dirinya yang sudah disetujui dan mulai over-handling pekerjaannya kepada Namjoon yang akan dipromosikan menjadi head chef setelah dia keluar. GM secara personal mendoakan karirnya kedepan dan menawarkan bantuan jika Jeongguk ingin pindah ke properti Aman lain. Jeongguk belum memikirkannya, namun berpikir dia mungkin bisa mengambil kesempatan itu—setelah duduk tenang dan segalanya damai bersama Taehyung.

Sekarang semuanya sedang kacau balau dan tumpang tindih, Jeongguk tidak yakin harus melakukan apa atau memikirkan hal lebih kompleks lagi. Dia hanya ingin secepatnya pergi dari Bali, menjauh dari segala hal yang membuatnya tidak bahagia.

Jeongguk menatap dagingnya yang mendesis di atas frying pan sementara tamu mereka menikmati wine yang dituangkan ke gelas mereka oleh FB Captain yang menjadi butler mereka hari ini. Angin ternyata mereda persis satu jam sebelum acara makan malam mereka sehingga set up bisa dilanjutkan. Dengan lilin-lilin mungil di sepanjang tepian kolam renang, lilin-lilin di atas air, mereka menikmati makan malam intim bersama dengan Jeongguk berada sekitar 20 meter jauhnya.

Jeongguk menambahkan rosemary dan bawang putih ke frying pan dan mendesah ketika aroma herba Italia membuatnya nyaman. Menggunakan sendok, dia menyiramkan campuran mentega dan minyak alami daging ke atas potongan dagingnya—memastikan campuran itu meresap sempurna ke dagingnya sebelum mengangkatnya ke transfer plate. Dia menyajikannya ke atas piring, menata makanan pendampingnya lalu mengelap pinggiran piring setelah menambahkan saus ke atasnya dan mempersilakan FB Captain menyajikannya.

Otaknya sibuk, membuatnya tidak memikirkan Taehyung yang hingga sekarang belum menghubunginya—berusaha berpikir bahwa kekasihnya sedang sibuk bekerja. Dia akan mencoba menelepon Taehyung nanti sebelum berangkat mengambil dokumen mereka. Jeongguk membereskan mejanya lalu mengangkat wajahnya, memastikan tamu mereka makan dengan nyaman. Dia punya waktu hingga waktunya menyiapkan makanan penutup.

“Syukurlah tidak hujan, ya, Chef.” CDP-nya memulai percakapan dan Jeongguk mengangguk, menatap langit yang cerah dengan bintang kemerlip di kejauhan.

“Cerah,” sahutnya setuju—walaupun hatinya berbanding terbalik dengan cuaca di sekitar mereka. Dia merindukan Taehyung, mencemaskan Taehyung, dan mengkhawatirkan hubungan mereka. Dia menghela napas. “Maaf harus menahanmu hingga malam.” Katanya pada CDP-nya yang tersenyum.

“Tidak masalah, Chef.” Sahutnya lugas. “Lagi pula saya tidak memiliki kesibukan lain setelah ini.” Dia tersenyum dan Jeongguk balas tersenyum—menyadari bahwa dia memperpanjang jam bekerjanya dengan alasan yang sama.

“Chef belakangan ini kelihatan banyak pikiran, saya harap masalah apa pun yang Chef hadapi bisa diselesaikan dengan baik.” Katanya kemudian tanpa terduga dan Jeongguk mendenguskan senyuman, memindahkan frying pan ke keranjang yang akan diangkut Steward ke bawah.

Jeongguk mengangguk, “Trims.” Dia mengerling CDP-nya sebelum kembali bekerja, tersenyum tulus.

Senyumannya pudar ketika Taehyung tidak mengangkat teleponnya.

Dia menghela napas berat—berdiri di sisi mobilnya dengan resah. Ke mana Taehyung seharian? Dia mulai berpikir ke sana kemari namun berusaha keras, menahan semuanya. Dia memasuki mobilnya, lebih baik dia pergi mengambil dokumen mereka dan mencoba menghubungi Taehyung lagi nanti.

Jeongguk melaju di jalan menuju Klungkung dengan musik sayup-sayup dari radio mobilnya—otaknya memikirkan Taehyung. Dia setuju tentang meninggalkan keluarga dalam keadaan damai, namun jika menilik siapa keluarganya, Jeongguk tidak yakin mereka akan bisa meninggalkan rumah itu dengan damai. Dia mulai tidak paham pada obsesi Taehyung yang ingin sekali menyelamatkan kakaknya padahal dia jelas tidak bisa melakukannya.

Lalu lintas mulai lenggang, Jeongguk harus berkonsentrasi karena teman perjalanannya adalah truk-truk bermuatan pasir dan batu dari Karangasem menuju Denpasar. Dia harus menghindari berada di belakang mereka terlalu lama, khususnya di kawasan berkelok Sang Hyang Ambu. Setelah lolos dari jalanan berkelok bukit itu, Jeongguk meluncur di jalan Klungkung dan membelok ke arah kota.

Dia mengecek peta digitalnya, mereka bertemu di rumahnya yang berada di Banjarangkan. Jeongguk menyalakan petanya, membiarkan suara monotun perempuan dari Google membimbingnya hingga tiba di rumah teman Taehyung. Dia seorang PNS di pengadilan tinggi Klungkung, mempermudah segala syarat mereka untuk mendapatkan berkas-berkas itu.

“Halo?” Sapanya di telepon. “Saya sudah di depan.” Katanya sebelum menuntup telepon dan bersandar di kursinya—rumahnya lenggang dan terang, nampak sepi sementara di jalanan depan ramai beberapa anak muda yang sedang terawa-tawa.

Jeongguk kembali menunggu, menatap ponselnya yang hening. Taehyung bahkan belum membaca pesannya tadi mengucapkan selamat pagi. Apakah Alila sangat sibuk hingga Taehyung tidak sempat melihat ponselnya? Jeongguk mendesah, ponselnya mati dan otomatis terkunci. Dia memijit tombol kuncinya, membuat layar menyala dan memandang layar kuncinya—foto tangan Taehyung dengan cincin mereka melingkar di jarinya. Digunakan Jeongguk sebagai pengingat bahwa Taehyung miliknya—apa pun yang terjadi.

Namun sekarang, foto itu tidak lagi melakukan tugasnya karena Jeongguk merasa lemah oleh perasaan gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan mereka? Taehyung terus menolak menjelaskan rencananya dan bersikeras memberi tahu Jeongguk bahwa dia yang harus melakukannya sendirian.

Jeongguk menghela napas berat, memijat pelipisnya. Sudut matanya menangkap gerakan dan dia bergegas menegakkan tubuh—menoleh ke rumah itu, dia melihat seorang lelaki menghampiri mobilnya dengan map cokelat yang penuh di tangannya. Jeongguk membuka kunci mobilnya dan pemuda itu bergegas memasuki mobil, membawa aroma jalanan yang dingin ke dalam kabin mobilnya.

“Halo, Gung.” Sapanya sedikit terengah, “Maaf, saya agak lama.” Dia bergegas menyerahkan map ke Jeongguk yang menerimanya. “Semua sudah di sana, termasuk KTP baru setelah perekaman data kemarin.” Dia tersenyum mempersilakan Jeongguk mengecek dokumennya.

“Tidak masalah, santai saja.” Jeongguk membalas senyumannya lalu membuka mapnya, mengecek semua dokumen mereka: akta kelahiran baru, KTP, SIM A dan C, dan surat keputusan sidang penggantian nama yang akan digunakan hanya jika dibutuhkan.

“Kartu Keluarga bisa diurus sendiri dengan dokumen ini, tenang saja.” Pemuda itu menepuk surat keputusan sidang di genggaman Jeongguk. “Ini kartu sakti kalian menghadapi administrasi Indonesia. Tapi jika tidak dibutuhkan, tidak perlu dikeluarkan untuk meminimalisir nama asli kalian ketahuan.”

Jeongguk mengangguk. Bersyukur dia tidak bertanya kenapa Jeongguk dan Taehyung kabur—yang diketahuinya mereka berdua akan kabur ke tempat berbeda, bukan bersama-sama. Dan mendapat cukup uang untuk tidak bersikap usil pada urusan pribadi mereka dan menurut Taehyung, berhutang budi besar pada Taehyung sehingga dia setuju melakukannya tanpa bertanya.

“Terima kasih,” katanya dan pemuda itu mengangguk, “Sama-sama, Gung. Tidak masalah.” Sahutnya.

Jeongguk kemudian mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi M-Banking miliknya dan mentransfer jumlah yang mereka setujui di depan pemuda itu, lalu memperlihatkan tanda pemindahan dana berhasil padanya. Pemuda itu merogoh sakunya, mengecek aplikasinya sendiri dan mengangguk—memberi tahu Jeongguk dia sudah menerima mutasi dananya.

“Terima kasih banyak.” Tutupnya, memberi gestur bahwa dia akan kembali sekarang. “Jika begitu, saya pamit dulu.” Dia merapikan dokumennya, meletakkannya di pangkuannya.

Namun pemuda itu bergeming, dia menatap Jeongguk sejenak sebelum berdeham. “Saya menerima undangan pernikahan Tjok Tae,” katanya perlahan. “Saya paham saya dibayar untuk tutup mulut dan tidak usil mengenai ini, namun saya tidak bisa tidak memberi tahu kalian.”

Jeongguk berhenti dalam kegiatannya memasang sabuk pengaman dan menoleh kembali ke teman Taehyung. Dia tidak mungkin berusia kurang dari empat puluh, setidaknya satu-dua tahun lebih tua dari Taehyung. Rambutnya disisir rapi, tidak memiliki jenggot atau kumis. Penampilannya seperti PNS pada umumnya, rapi dan membosankan. Jika tidak salah, namanya Hendra—Jeongguk tidak mendengarkan.

“Memberi tahu....?” Ulangnya perlahan. “Apakah ada sesuatu pada berkas kami?” Tanyanya, tidak sengaja menaikkan suaranya karena anxiety yang melonjak di dalam perutnya.

Hendra seketika panik dan menggeleng, “Tidak, tidak. Bukan itu!” Katanya menenangka Jeongguk.

Mereka berdua di mobil Jeongguk yang terparkir di bawah lampu jalan remang-remang dan Jeongguk tidak yakin apa yang pemuda ini inginkan darinya. Namun Jeongguk siap melayangkan pukulan jika dia melakukan hal-hal yang membuat Jeongguk tidak nyaman. Dia mengerutkan alisnya, menatap Hendra yang gelisah.

“Lalu?” Tanyanya perlahan, tangan kanannya terkepal dan terkunci—siap memukul jika Hendra melakukan hal yang tidak dikehendakinya sedikit saja.

“Tentang calon istrinya.” Hendra berbisik, terdengar sedikit gelisah. “Tidak banyak yang tahu ini, tapi kakekku kenal mereka berdua—ayah Tjok Tae dan Pak Gus Adnyana, ayah Dayu Devy.” Dia melirik jalanan. “Kakekku membaca undangan mereka ketika tiba dan berkata, 'oh, dia akhirnya mendapat apa yang diinginkannya'.”

Kepalan tangan Jeongguk mengendur, jantungnya melonjak kuat—memukul rusuknya hingga nyeri ketika dia menyadari apa yang akan Hendra berikan untuknya. Air dingin terasa mengalir di punggungnya sekarang, membuatnya bergidik.

Mendapat apa yang diinginkannya. Napas Jeongguk memburu, memikirkan apa yang mungkin diinginkan keluarga Devy atas keluarga Taehyung. Dia pikir semuanya sesederhana Devy yang sudah menyukai Taehyung sejak lama, merengek pada ayahnya agar dia bisa menikahi lelaki idamannya—khas skenario flim Indonesia.

“Lalu aku bertanya pada kakekku,” Hendra menatapnya, Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Ada apa di antara kedua keluarga itu.”

“Apa...,” Jeongguk berdeham, tidak yakin. “Apa yang kauketahui tentang keluarganya?”

Hendra menatapnya, nampak sedikit jijik. “Oh, kau tidak akan suka ini.” Gumamnya.

*