Gourmet Meal 551

ps. kookgyeom moment for y'all! <3


” ... Oke?”

Yugyeom terhenyak, menatap kakaknya yang duduk di hadapannya. “Apa...?”

Mereka berdua berada di kamar Yugyeom, Jeongguk mendatanginya setelah makan malam bersama keluarga mereka. Ayah mereka tidak menganggap Jeongguk ada sama sekali sejak Mirah membatalkan pernikahan mereka dan Jeongguk sama sekali tidak keberatan. Malah memang sebaiknya begitu karena dia sebentar lagi akan hengkang dari rumah ini, memberikan kuasa pewaris pada Yugyeom seperti apa yang ayahnya selama ini inginkan.

Jeongguk baru saja memberi tahu Yugyeom rencananya bersama Taehyung untuk pertama kalinya. Memberi Yugyeom mobilnya untuk digunakan dan juga uang untuk membalik nama STNK serta BPKB-nya. Jeongguk akan menyiapkan surat kuasa dan juga meninggalkan KTP-nya untuk Yugyeom—dia akan memiliki KTP baru, KTP lamanya sudah tidak berguna.

Tidak ada perasaan sedih di hati Jeongguk saat ini. Mungkin untuk Yugyeom karena mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama. Jeongguk menyaksikan Yugyeom bertumbuh, menemaninya melewati seluruh fase kehidupannya lebih dari apa yang ayah mereka lakukan. Dia hanya tidak ingin adiknya memiliki masa kecil yang sama dengan Jeongguk; dia memastikan Yugyeom selalu dilimpahi perhatian dan kasih sayang dari sosok lelaki yang bisa dijadikannya panutan.

Menatap adiknya yang sudah akan berusia 23 tahun, Jeongguk merasa dia sudah bisa menentukan apa yang diinginkannya. Dia sudah tidak membutuhkan Jeongguk sebanyak dahulu, ayah mereka menyayangi Yugyeom—dia akan baik-baik saja tanpa Jeongguk. Faktanya, Jeongguk bertahan di rumah ini demi Yugyeom. Sekarang dia bisa melepaskan hal yang menyiksanya dengan tenang karena Yugyeom akan baik-baik saja.

“Kau bisa mengunjungiku.” Jeongguk mengulurkan tangan, menyisiri rambut Yugyeom lembut—teringat hari pertama dia menatap wajah bulat pucat adiknya di dalam tempat tidur bayinya dengan takjub. Dia menghabiskan seluruh hidupnya berusaha menjaga Yugyeom, menerima semua hukuman ayahnya agar Yugyeom tidak merasakan apa yang dirasakannya—terasing dan diabaikan.

Sekarang dia memiliki Taehyung sebagai sosok ayah yang lenyap di masa pertumbuhannya. Lelaki yang menghargai keberadaannya, mengapresiasi bantuannya, dan membuat Jeongguk merasa layak. Membuat Jeongguk merasa dicintai—akhirnya.

“Wiktu akan menghubungimu dengan nomor baru. Hanya jika kau berjanji tidak akan memberi tahu Ajung. Apa pun yang terjadi.” Katanya lembut. Sebenarnya dia dan Taehyung sudah sepakat untuk memutus segala hubungan dengan kehidupan lama mereka namun Jeongguk tidak yakin dia bisa melepaskan ikatannya dengan Yugyeom.

Yugyeom mengerjap. “Wiktu tidak akan.... pulang?” Bisiknya, masih syok.

Jeongguk menggeleng. “Tidak.” Katanya, tersenyum pahit melihat ekspresi kaget adiknya. “Wiktu akan pergi dari sini, tidak akan pernah pulang lagi.”

Yugyeom kembali terhenyak menatap kakaknya. “Sama sekali...?” Bisiknya lirih, hatinya yang patah terdengar begitu keras dan Jeongguk menghela napas. Dia paham perasaan Yugyeom, itulah yang dirasakannya ketika Taehyung meninggalkannya pertama kali.

Jeongguk menghabiskan masa mudanya terombang-ambing, tidak memiliki siapa pun sebagai panutan. Kehilangan sosok ayahnya dan tidak memiliki seorang kakak, sementara dia harus memberikan contoh kepada Yugyeom. Menjadi pegangan Yugyeom. Ketika Taehyung memasuki layar, Jeongguk menggenggamnya begitu erat seperti pelampung—menjadikannya panutan. Maka ketika Taehyung pertama kali memberikannya silent treatment selama dua tahun, Jeongguk remuk.

Hubungannya dan Taehyung jauh dari kata sehat, Jeongguk paham. Mereka saling menyakiti, saling menghancurkan. Taehyung yang agresif memeras Jeongguk seperti jeruk dan menggunakan Jeongguk sebagai alas kakinya, melampiaskan segala luka psikologisnya kepada Jeongguk yang selalu menerima karena terbiasa dijadikan pelampiasan. Mereka saling merusak. Hanya karena Taehyung sekarang menyadari apa yang dilakukannya dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik bersama Jeongguk-lah, mereka optimis tentang kabur bersama.

Setelah dia memiliki Taehyung, segalanya yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup, maka dia tidak lagi ragu melepaskan identitas lamanya. Dia tidak masalah melangkah pergi dari rumah yang selama ini mencekiknya.

“Sama sekali.” Tandas Jeongguk lembut. “Kau harus paham bahwa ini berarti kau akan menjadi pewaris, semua tanggung jawab Puri akan menjadi urusanmu. Tidak apa-apa, Ajung akan membantumu. Semuanya akan membantumu.” Dia mengusap rambut Yugyeom.

“Nantinya, aku akan lenyap dari cerita keluarga ini. Dilupakan.” Jeongguk tersenyum. “Tidak akan pernah ada aku di rumah ini.”

Memikirkannya membuat Jeongguk merasa lebih baik dan ringan. Tidak akan ada yang merindukannya membuat keputusan ini semakin ringan. Ayahnya akan melupakannya dengan segera, mungkin juga dengan senang hati mengantarkannya ke pintu keluar karena dia memiliki Yugyeom—anak kesayangannya.

“Ajung pasti sedih.” Kata Yugyeom dengan wajah berkerut penuh kesedihan dan penyesalan, masih belum bisa memproses informasi yang diberikan kakaknya barusan.

“Ajung mungkin yang akan paling bersemangat mengadakan upacara pemakamanku.” Jeongguk tersenyum separuh, menyadari betapa benar kalimat itu—ayahnya membencinya, sangat membencinya.

Jika saja ayahnya tahu bahwa tidak ada yang bisa membenci Jeongguk sebesar dia membenci dirinya sendiri. Ayahnya boleh berusaha.

Mereka akan baik-baik saja tanpa Jeongguk, malah akan jauh lebih baik daripada ketika Jeongguk masih bersama mereka. Dia terbiasa diabaikan, dikeluarkan dari semua foto keluarga dan tidak pernah dianggap. Hanya Yugyeom yang selalu secara konstan memberikannya perhatian dan menyayanginya—cukup untuk Jeongguk. Yugyeom satu-satunya keluarga untuknya.

“Tidak perlu berusaha menghiburku,” Jeongguk tersenyum. “Kita semua tahu betapa Ajung membenci caraku bertumbuh selama ini.” Dia mengusap kepala Yugyeom lalu menurunkan tangannya—menatap adiknya yang sudah mulai dewasa.

“Wiktu akan pergi dengan Wigung?” Tanyanya, nampak tidak menyukai fakta bahwa dia akan kehilangan kedua kakak lelakinya sekaligus dan Jeongguk sejenak merasa bersalah karena memisahkan kekasihnya dengan adiknya karena ikatan mereka sangat erat.

“Ya.” Jeongguk mengangguk. “Kami akan mencari tempat di mana cinta kami lebih dihormati orang-orang. Di mana kami bisa berbahagia memiliki satu sama lain secara lebih terbuka.” Dia menatap adiknya yang sejenak diam namun kemudian perlahan mengangguk—dia paham kesulitan Jeongguk dan Taehyung.

Yugyeom diam, nampak memikirkan keputusan kakaknya perlahan. Mereka makan mie instan, kebiasaan mereka yang pasti akan dirindukan Jeongguk suatu hari nanti. Memasakkan Yugyeom setiap makanan yang dilihatnya lezat di Instagram, membuat mie instan setiap malam sebelum tidur dengan sayuran serta potongan cabai, kabur diam-diam membeli semua makanan yang dilarang orang tua mereka. Menonton film bersama sampai malam...

“Jika aku merindukanmu?” Bisik Yugyeom, mendongak menatap Jeongguk yang mengencangkan rahangnya—air mata menyengatnya dan dia berdeham, merasakan gumpalan pahit di tenggorokkannya.

“Maka kau akan menghubungiku tanpa sepengetahuan Ajung.” Dia mendorong mangkuk mie instan mereka menjauh—aroma bumbu mie instan masih menggantung rendah, gurih dan adiktif. “Aku butuh bantuanmu, untuk terakhir kalinya.” Tambahnya dan tersenyum ketika adiknya bereaksi pada kata 'terakhir kali'.

Yugyeom tidak menyukai frasa itu sama sekali. “Apa yang harus kulakukan?” Tanyanya, pelan dan patah hati.

“Antar Wiktu ke Candidasa tanggal 26 malam. Aku akan berangkat ke Tanjung Pinang tanggal 27 malam jadi harus bersiaga di dekat Klungkung.” Katanya dan Yugyeom mengernyit—tidak menyukai bagaimana ringan dan pastinya Jeongguk menjelaskan kepergiannya.

“Ogik temani.” Katanya tegas dan menambahkan saat Jeongguk membuka mulut, “Tidak. Aku akan menemani Wiktu di Candidasa, lalu mengantar ke bandara atau mana saja yang Wiktu inginkan.” Dan dari tatapannya, Jeongguk tahu adiknya tidak akan bisa didebat.

“Bagaimana dengan Ajung?” Tanya Jeongguk kemudian, tidak mungkin dia membawa adiknya—bagaimana jika Ajung mencari adiknya? “Kau lebih baik menurunkan Wiktu lalu kembali—”

“Tidak.” Sela Yugyeom tegas, menatap kakaknya dengan tekad di matanya. “Aku akan menemani Wiktu dan melepas Wiktu di bandara. Titik.”

“Ogik,” Jeongguk menatapnya. “Jika kau menemani kami ke bandara, alasan apa yang akan kauberikan ke Ajung ketika dia tahu aku hilang keesokan paginya? Kau terpaksa berbohong dan kau tahu Ajung tidak mudah dibohongi. Jika kau menurunkanku di Klungkung lalu pulang diam-diam, kau bisa berpura-pura tidak tahu dengan lebih mudah. Bilang saja kau tidur, tidak tahu apa-apa. Mudah.”

Yugyeom diam sejenak, memikirkan kalimat kakaknya. Jeongguk sudah mengecek semuanya, memastikan Yugyeom bersih dari rencana mereka karena dia tahu apa akibatnya jika ayah mereka tahu Yugyeom terlibat—dia butuh ayah mereka tetap mempercayai Yugyeom dan menyayanginya. Dia tidak mau adiknya berakhir sama sepertinya. Jeongguk harus menjauhkan Yugyeom dari rencana ini. Mungkin dia sebaiknya meminta Mingyu yang menjemputnya tanggal 26 malam setelah ayahnya melihatnya di rumah diam-diam tanpa sepengetahuan Yugyeom.

Jeongguk tidak tega meninggalkan Yugyeom tanpa perpisahan, tanpa menatapnya untuk terakhir kalinya. Bertahun-tahun mereka hidup bersama, memiliki satu sama lain, berbagi begitu banyak tangis dan tawa. Dihukum bersama, tertawa bersama, tidur di kamar mandi kedinginan bersama. Jeongguk tidak ingin melepas adiknya tanpa mengucapkan selamat tinggal. Dia cukup egois untuk itu kali ini. Maka dia berpikir, adiknya bisa mengucapkan selamat tinggal namun tidak boleh mengantarnya—Yugyeom harus terbebaskan dari tuduhan.

“Ikut.” Tandasnya, menggeleng tegas. “Ogik ikut.”

Jeongguk menghela napas. Dia akan memikirkan cara untuk menahan Yugyeom hari itu agar tidak mengikutinya karena Jeongguk sungguh tidak mau Yugyeom terlibat. “Baiklah,” katanya kalem—hanya agar adiknya diam untuk saat ini, tidak ingin bertengkar.

“Wiktu?” Bisik Yugyeom kemudian, suaranya bergetar dan Jeongguk menatap adiknya. “Wiktu tidak bahagia di rumah?”

Jeongguk tersenyum tipis. “Tidak.” Katanya karena memang itulah keadaannya. Dia memang tidak bahagia di rumah ini. “Tapi setidaknya, aku memilikimu.” Dia mengusap kepala adiknya sayang. “Hidup Wiktu jadi lebih menyenangkan semenjak kau dilahirkan. Ogik alasan Wiktu bertahan selama ini.”

Air mata terbit di sudut mata Yugyeom, di dekat tahi lalat mungilnya. “Maaf,” bisiknya pecah dan parau. “Maaf karena Ogik menahan Wiktu di tempat di mana Wiktu tidak lagi merasa bahagia.”

Jeongguk mendesah panjang dan merengkuh adiknya, memeluknya hangat dan mengecup puncak kepalanya. Dalam pelukannya, Yugyeom mulai terisak—bahunya berguncang lembut saat dia berusaha menahan isakannya agar tidak terlalu keras.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Bisiknya, menyandarkan kepalanya di kepala Yugyeom—menghirup aroma Yugyeom. “Kau tidak bersalah apa pun, aku yang memutuskan untuk bertahan. Kau tidak memaksaku bertahan.” Dia mengusap punggung adiknya lembut.

Teringat semua memori yang mereka bagi bersama di rumah ini. Layangan pertama mereka, teringat bagaimana dia meminta Yugyeom untuk memegang layangan mereka dan berjalan mundur untuk menaikkannya. Yugyeom terantuk dan jatuh, meneriaki Jeongguk yang terbahak karena merasa dikerjai. Mereka menonton layangan yang berayun tinggi di langit. Lalu adiknya menangis keras sekali ketika layangan mereka putus. Maka Jeongguk menyisihkan uang jajannya seminggu setelahnya, membelikan Yugyeom layangan baru untuk mereka bermain.

Kursus bersepeda pertama Yugyeom, lalu motor dan mobil. Jeongguk yang mengajarinya, dengan sabar dan telaten sementara Jeongguk belajar semuanya sendiri. Dia ingat Yugyeom terbahak liar dengan gigi depan yang busuk di lapangan Candra Bhuana di samping Puri saat berhasil menjaga keseimbangannya di atas sepeda roda dua dengan ban bantuan barunya. Rambutnya berkibar, berseru keras dan Jeongguk berlari di belakangnya, tergelak dan bersorak karena adiknya berhasil menaiki sepedanya.

Jeongguk ingat sore ketika dia mengangkat sepeda itu di lengannya, menyanyi bersama adiknya yang kotor karena terjerembab di tanah. Dia tidak menangis sat kepalanya menghantam tanah dan Jeongguk bergegas mengejarnya—menyadari dengan tenang adiknya tidak terluka. Tangan mereka bertautan dengan erat, menyanyikan lagu anak-anak Made Cenik* yang membuat Yugyeom jengkel karena terlalu sulit dihafalkan menyusuri jalanan naik ke arah Puri. Mereka mandi setelahnya sebelum makan malam.

Yugyeom selalu mengganggunya belajar, bertanya hal-hal yang tidak dipahaminya dan Jeongguk selalu memiliki kesabaran unuk meladeninya. Mungkin dari sanalah Jeongguk belajar untuk tenang dan bersabar, menghadapi adik lelaki umur tiga tahun yang tidak bisa diam.

Adiknya praktis dibesarkan oleh Jeongguk. Ibunya jarang mengurus mereka, membiarkan Jeongguk mengambil alih setelah Yugyeom tidak lagi perlu ASI dan MPASI. Adiknya juga selalu memilih Jeongguk dibanding kedua orang tua mereka sejak dia kecil; nama 'Wiktu' adalah nama pertama yang diteriakkannya tiap kali dia menangis dan ibu mereka menganggap itu sebuah keberuntungan karena tidak harus repot menenangkan anaknya.

Berpisah dengan Yugyeom jauh lebih berat bagi Jeongguk, sungguh amat berat. Dia mengeratkan pelukannya pada adiknya. Sebelum Taehyung, adiknya adalah dunianya. Sekarang hatinya mengembang, menjadi dua kali lipat lebih besar demi menampung cintanya untuk Yugyeom dan Taehyung. Adiknya akan baik-baik saja, dia lelaki yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang kakaknya. Dia akan menjadi ayah yang baik nantinya, memutus pola didik ayah mereka yang salah.

Air mata Yugyeom merembes di pakaian Jeongguk, menyengat kulit telanjangnya di bawah lapisan pakaiannya dan Jeongguk menghela napas. “Kau tetap memiliki Wiktu, kau tidak sendiri.”

Jeongguk mengusap punggung adiknya, merasakan nyeri yang menyeruak di dadanya karena memikirkan perpisahan ini. Berharap suatu hari nanti, ketika ayah mereka yang tiran telah tiada, dia bisa kembali ke Puri ini untuk bertemu adiknya. Tanpa beban dan rasa bersalah atau dendam pada ayahnya. Jeongguk berharap hidup akan lebih mudah saat itu—untuknya dan Yugyeom.

“Ogik sayang Wiktu.”

Jeongguk tergelak, merasakan air mata meluruh di wajahnya sendiri. Dia sudah mendengar kalimat itu berjuta kali selama mereka hidup bersama dan entah mengapa, kali ini dia menangis. Menyadari bahwa mungkin dia tidak bisa memeluk Yugyeom lagi setelah ini, mendengar anak itu berceloteh mengomentari pekerjaannya—mengganggu Jeongguk.

Rasa rindu meledak di hatinya, bahkan sebelum dia benar-benar meninggalkan Yugyeom. Adiknya akan baik-baik saja, ayah mereka menyayanginya. Semua orang Puri sayang padanya, dia akan menjadi pewaris yang jauh lebih baik dari Jeongguk.

“Wiktu juga sayang sekali pada Ogik.” Balasnya gemetar, memeluk adiknya semakin erat.

Bertahun-tahun, mereka hanya memiliki satu sama lain di rumah ini dan Jeongguk terpaksa harus mencabut hal paling berharga di hidup Yugyeom—dirinya sendiri.

“Tidak selamanya, nanti Wiktu akan kembali.” Dia menyandarkan kepalanya di kepala Yugyeom, membiarkan air mata meleleh dari sudut matanya dan meluncur di pipinya sebelum mendarat di rambut Yugyeom.

“Wiktu janji, Wiktu akan pulang—suatu hari nanti.”

*

hehe :(

Glosarium:

Setauku lagu ini juga dipake untuk mengiringi tari sakral, namanya Tari Sanghyang di Desa Adat Bugbug, Karangasem (cmiiw, bapakku udah tidur WKWKWK) yang hanya boleh ditarikan gadis yang belum menstruasi. Pada lirik akhir: “Tepuk api dong ceburin” (trans: jika melihat api, lompatlah) biasanya penari sudah kesurupan dan masuk ke bara api untuk menari. Semacam debus gitu laah sksks aku belum pernah nonton :(

Kalo hafal lagu ini sampe akhir, rasanya keren banget pas zamanku hahahaha i'm still singing that casually <3