Gourmet Meal 579

tw // frustration , financial problems , suicidal thoughts , mention of murder plan , self-blaming . cw // penjelasan tentang upacara kematian, just in case ada yg gak nyaman <3


Taehyung duduk di atas ranjangnya, mendengarkan jarum jam yang berdetak perlahan dan suara napas teratur Jeongguk di sisinya.

Sudah mulai pagi, dia bisa mendengar kakaknya mulai menyapu halaman dan ayam jantan berkokok di kejauhan. Hidup tetap berjalan ternyata, tidak berhenti atau berjungkir balik. Dan Taehyung, sialnya, masih hidup. Dia menatap jendelanya yang tertutup, mendengar para bapak yang semalam terjaga sekarang sedang menguap dan mengobrol rendah, menahan kantuk. Kekasihnya lelap di kaki ranjang dengan setengah kakinya menggantung di tepian kasur, nampak lelah dengan rambut kusut di atas bantalnya—mendengkur lembut. Dari posisi kaki Taehyung di atas pangkuannya, Taehyung menyadari Jeongguk memijat kakinya semalaman.

Sebelum Jeongguk kembali, Taehyung sudah terlelap dan sepertinya dia menghabiskan ranjangnya sehingga Jeongguk akhirnya berbaring di hilir dengan posisi yang sama sekali tidak nyaman. Dia menarik kakinya dari genggaman Jeongguk dengan lembut sebelum turun dan meraih kedua kaki Jeongguk yang tergantung di pinggir ranjang. Kekasihnya mengerang kecil, parau dan Taehyung berhenti, namun dia tidak terbangun. Maka Taehyung memindahkan kakinya ke ranjang sehingga dia berbaring lurus lalu membenahi posisi bantal kepalanya.

Taehyung menarik napas dalam-dalam, menatap Jeongguk yang seketika kembali lelap seraya berusaha menenangkan jantungnya dan perasaannya yang kacau. Dia memijat kulit kepalanya, berusaha mengenyahkan denyut mengerikan di bawah tengkoraknya ketika menyadari keadaan mereka sekarang.

Ayah mereka meninggal.

Hari yang selalu membuatnya bermimpi buruk dan gelisah akhirnya tiba dan Taehyung sama sekali tidak siap.

Taehyung memejamkan mata. Mendudukkan dirinya di dekat kepala Jeongguk, menumpukan sikunya di lututnya dan membenamkan kepalanya ke dalam kedua telapak tangannya. Dia bernapas dari mulutnya; memikirkan segala kekacauan yang terjadi dalam satu hari.

Jeongguk sudah tidak lagi bekerja dan hari ini adalah hari terakhir Taehyung bekerja—dia seharusnya membereskan barang-barangnya hari ini dengan HRD. Dia belum menghubungi hotel tapi semalam dia sudah bertemu Mingyu yang datang setelah bekerja—mendapat informasi dari Jeongguk dan sudah menyampaikan ke manajemen. Mereka seharusnya berangkat ke bandara malam ini lalu memulai kehidupan baru di tempat asing.

Namun tidak. Ayahnya meninggal dan keluarga Puri mendesak Taehyung membiayai segalanya sendirian.

Dia punya tabungan, motornya juga baru saja terjual dengan harga yang masuk akal namun semua uang itu seharusnya digunakannya untuk memulai hidup baru dengan Jeongguk—menggelontorkannya demi rumah baru mereka sebelum salah satu dari mereka memiliki pekerjaan. Taehyung bahkan berpikir dia tidak keberatan bekerja di level di bawah Executive, dia hanya ingin memiliki gaji tetap lagi untuk kehidupan mereka.

Namun sekarang semua uangnya harus dialokasikan ke upacara ayahnya yang tidak menyedot biaya sedikit. Belum lagi hutang ayahnya yang menyentuh angka ratusan juta. Taehyung sudah membicarakan ini dengan Lakshmi dan setuju mereka akan membayarnya berdua karena Puri menolak turun tangan membantu mereka. Taehyung tercekik sekarang, oleh biaya tidak terduga yang membuatnya terkesiap keras. Biaya rumah sakit ayahnya, syukurnya ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan ada lumayan uang yang bisa dicairkan ibu mereka setelah ini. Namun Taehyung tidak ingin mengambilnya: ibunya membutuhkan uang itu.

Kepalanya berdenyut. Memikirkan bagaimana mengalokasikan dana termasuk menyisihkan untuk masa depan mereka. Dia melirik Jeongguk yang mendengkur lirih; sejak kapan kulit pucatnya menggelap di bawah matanya? Sejak kapan dia nampak sangat kelelahan? Jeongguk nampak lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu dan Taehyung menyadari hidup ini membuat mereka berdua tertekan.

Hidup mereka jungkir balik, meluncur bebas ke jurang curam—semua rencana yang mereka susun berantakan. Dan Taehyung tidak berani mengatakannya pada Jeongguk tentang uang mereka. Dia menggertakkan rahangnya dan memijat kepalanya—mengurutnya kuat-kuat hingga jemarinya perih namun sakit kepalanya tidak juga lenyap.

Dia paham bahwa Puri tidak menyukai keluarganya, khususnya ayahnya karena memaksakan kehendaknya dengan sangat bebal dan menyebalkan. Taehyung selalu dihantui ketakutan jika hari ayahnya meninggal tiba: dia bisa saja 37 tahun namun mentalnya tidak pernah siap menghadapi kebencian seluruh Puri untuknya. Namun Taehyung tidak menyangka bahwa kebencian itu hingga ke titik di mana mereka tidak mau membantu prosesi Ngaben ayahnya sama sekali—khususnya secara finansial.

Semalam ketika mereka berdiskusi, Taehyung sudah menyerahkan posisi Penglingsir kepada pamannya—yang berhak menerima posisi itu sebelum ayahnya merebutnya. Namun lelaki paruh baya itu seketika menolaknya, menghibahkan semua tanggung jawab pada Taehyung.

“Jika Jung Alit mempermasalahkan biaya Ngaben, Tugung siap menanggung semuanya. Tugung hanya ingin melepaskan posisi Penglingsir.” Katanya tegas, walaupun kepalanya berdenyut memikirkan uang yang seharusnya digunakannya untuk membangun hidup baru dengan Jeongguk.

Namun pamannya menggeleng tegas, didukung beberapa saudara jauh ayahnya. “Itu urusanmu. Kami tidak ikut campur.”

Dan Taehyung kalah telak dalam diskusi itu, sendirian dari posisi yang dibenci seluruh keluarganya. Dia duduk di sudut balai, bersila dengan seluruh keluarganya setidaknya satu meter jauhnya seolah Taehyung menularkan penyakit mematikan. Memojokkannya. Taehyung Kecil di kepalanya menggigil ketakutan, ingin berlari dan bersembunyi di balik punggung ayahnya lagi—apa saja agar dia tidak harus menghadapi keluarganya sendiri.

“Sekarang selesaikan urusanmu dengan Gus Adnyana.” Tambah pamannya dan Taehyung menghela napas, mengangguk—dia memang harus melakukan ini seraya menghibur diri bahwa dia akan segera lepas dari tempat ini. Dia harus bersabar sedikit lagi.

Taehyung menghela napas berat dan mengangkat wajahnya. Matanya terpaku ke sebotol air di meja bekerjanya—diikat dengan benang tridatu dengan liontin dari uang kepeng. Racun yang dibelinya bersama Lakshmi untuk ayah mereka—kegilaan yang sekarang disesalinya. Airnya berwarna jernih, jauh lebih jernih dari air mineral dan nampak nyaris seperti arak. Mereka sudah akan mengganti botolnya dan memberikannya kepada ayah mereka—begitu dekat.

Kematian adalah hal yang sangat berbeda jika dipikirkan dalam keadaan nyaman dan hangat.

Dia menoleh ke Jeongguk yang masih lelap. Haruskah mereka yang meneguknya...? Sekali lagi, kabur dari segala permasalahan yang terasa semakin dan semakin mencekik mereka. Merindukan hari di mana segalanya sesederhana apakah Taehyung mencintai Jeongguk atau tidak.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh wajah Jeongguk yang terlelap dengan mulut terkuak kecil. Jemarinya menyentuh hidung Jeongguk tanpa benar-benar menyentuhnya—menarik garis lembut ke pangkalnya lalu di atas alisnya yang tebal. Jika mereka mati, akankah hidup lebih mudah?

Tangannya bergerak di wajah Jeongguk, merasakan suhu tubuhnya yang hangat dan aromanya yang sangat akrab dengan keseluruhan sistem pernapasan Taehyung. Dia merangkak ke sisinya, menyelipkan dirinya ke dalam pelukan Jeongguk—putus asa menginginkan rasa aman dan nyaman. Jeongguk terkesiap kecil ketika Taehyung menyusup ke pelukannya dan dia bisa mendengar kekasihnya terbangun.

“Hai,” sapanya parau dan menguap kecil sebelum mengecup kepala Taehyung yang berada dalam pelukannya. Dia mengeluarkan suara menghela napas berat, mengantuk dan kelelahan. “Hai, Sayang.” Katanya lagi.

Taehyung membelitkan lengannya di pinggang Jeongguk, menyusupkan kepalanya di bawah dagu Jeongguk dengan kaki membelit kakinya—menggigil menginginkan rasa aman, ingin menghindari rasa cemas yang menjalar dari punggungnya dan membuat tengkuknya tegang. Dia menghirup aroma leher Jeongguk, berusaha menyerapnya sebanyak mungkin—menenangkan dirinya, seperti pecandu.

Jeongguk terkantuk-kantuk, mengusap punggungnya hangat dan perlahan—napasnya berat saat dia berusaha terjaga, melawan kantuknya. Taehyung memejamkan matanya, ingin kembali mengantuk namun otaknya berputar cepat di dalam tengkoraknya; menyengatnya dengan begitu banyak hal untuk dicemaskan. Taehyung memejamkan matanya kuat-kuat, ingin menghalau isi kepalanya sendiri.

Dan Jeongguk menyadari tubuhnya menegang. Dia meremas bahu Taehyung hangat—suhu tubuhnya menyengat kulit Taehyung. “Hei, kenapa?” Bisiknya parau, mulutnya beraroma sisa kopi yang tercampur asam lambung. “Kau tegang sekali.” Bisiknya lalu memijat leher Taehyung lembut.

Taehyung memejamkan matanya, tidak berani mengungkapkan bagaimana uangnya terkuras habis secara mendadak untuk upacara Ngaben ayahnya. Dia akan terpaksa bergantung pada Jeongguk sekarang. Tidak berani mengungkapkan betapa lemahnya dia sekarang, terekspos dan kebingungan. Dia ingin selalu nampak kuat di hadapan Jeongguk—bagaimana pun dia lebih tua dari Jeongguk.

Dia takut mengatakan bagaimana rencana mereka hancur dan sekarang Taehyung terancam jatuh miskin karena sudah keluar dari pekerjaannya, ditambah membiayai upacara ayahnya sendirian. Dia masih punya satu kali gaji, berharap uang itu setidaknya bisa diam di rekeningnya tidak digunakan untuk kebutuhan Ngaben. Dia belum mengecek tabungannya dan Lakshmi juga bersikeras membantunya membayar segalanya.

“Sayang?” Bisik Jeongguk lirih, sekarang terdengar cemas. “Ada apa? Kau sakit?”

Taehyung menggeleng, setidaknya bukan fisiknya yang sakit tapi otaknya. Jeongguk membelai punggungnya lagi, hangat dan mendekapnya—pelukannya terasa menenangkan. Taehyung ingin terus berada dalam pelukannya dan menghindari dunia.

“Kau bisa cerita padaku jika kau mau,” bisik Jeongguk lagi, mengecup puncak kepalanya. “Kita harus bekerja sama sekarang.”

Taehyung menggertakkan giginya—rasa bersalah menyengatnya ketika memikirkan bagaimana Jeongguk sekarang. Dia harus bertahan tanpa pekerjaan karena hidup Taehyung mendadak berubah. Taehyung tidak menyalahkan ayahnya karena meninggal, tidak. Dia hanya merasa bersalah karena... entahlah, dia merasa sangat bersalah atas kondisi Jeongguk sekarang.

Belum lagi dia tahu bagaimana perjuangan juru masak muda itu mendaki hingga ke posisi Executive dan sekarang semuanya lenyap begitu saja. Taehyung merasa sangat bertanggung jawab atas kekacauan mereka karena masalah ini darinya. Taehyung bergumul dengan isi kepalanya sendiri, berusaha mengalahkan rasa cemas dan tidak nyamannya hingga kepalanya berdenyut mengerikan.

Jeongguk menghela napas, “Sayang,” bisiknya di rambut Taehyung. “Semua ini bukan kesalahanmu.”

Taehyung membeku, jantungnya mencelos dan kepalanya seketika berdenyut jauh lebih mengerikan—mengirimkan rasa terharu aneh yang menyengat matanya.

Semua ini bukan kesalahanmu.

“Aku yang memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku, kau tidak pernah memaksaku. Kita sepakat melakukannya.” Jeongguk menggumam, napasnya hangat di kulit kepala Taehyung. “Kau tidak pernah memaksaku melakukan apa pun, aku yang melakukannya sendiri.”

Taehyung bernapas melalui mulutnya, merasakan hatinya nyeri—begitu nyeri hingga dia harus menekannya ke tubuh Jeongguk. Merasakan ledakan rasa lega luar biasa di hatinya ketika mendengar Jeongguk mengatakannya: semua ini bukan kesalahan Taehyung.

Kalimat sederhana itu mengangkat rasa bersalah Taehyung nyaris lima puluh persen, menyuntikkan rasa lega dan optimis ke dalam tubuhnya yang seketika bergidik. Hatinya nyeri karena terbelah oleh rasa memaafkan dirinya yang baru dan rasa bersalah lamanya—kebingungan. Dia memeluk Jeongguk semakin erat, merasakan sayang dan cintanya untuk Jeongguk membanjiri dadanya membuatnya hangat.

“Tenanglah, ya?” Bisik Jeongguk lembut, mengecup pelipisnya. “Semua ini bukan salahmu. Bukan salah siapa-siapa. Terkadang sesuatu terjadi karena memang harus terjadi—tidak perlu mencari siapa yang salah, kita jalani saja bersama.”

Taehyung menghela napas keras, berusaha menelan isakan tangisnya. Bersyukur memiliki Jeongguk dalam pelukannya sekarang ketika hidupnya jungkir balik dibenci oleh seluruh orang yang dilabeli hidup sebagai keluarganya. Dia menggenggam erat Jeongguk, tidak sudi melepaskannya—tidak peduli bagaimana hidup berusaha memisahkan mereka.

“Ayo, mandi dan bersiap. Kita memiliki hari yang panjang sekarang.” Bisik Jeongguk, menguap tertahan dan meregangkan tubuhnya dengan lembut. “Lalu aku akan menemanimu ke Griya, meminta hari baik lalu memesan bade dan lembu jika dibutuhkan. Aku akan menemanimu seharian, kau tidak perlu menghadapinya sendiri.”

Kau tidak perlu menghadapinya sendiri.

Taehyung menghela napas dalam-dalam dan mengangkat wajahnya. Di luar sana, Puri mulai bangkit—Jeongguk benar, mereka harus bersiap. Pagi ini mereka akan ke Pantai Goa Lawah untuk menghanyutkan abu ayah Taehyung sebelum kemudian Taehyung harus mengurus segala perlengkapan Ngaben-nya. Jeongguk menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung, meremasnya hangat.

“Kau tidak sendirian, kau memilikiku. Jangan lupa itu.” Dia mengecup hidung Taehyung, mengusap kepalanya dengan tangannya yang bebas. “Kau punya dua bahu tambahan untuk memikul bebanmu, dua tangan tambahan untuk membantumu, dan satu kepala tambahan untuk berpikir—manfaatkanlah aku.”

Taehyung menatapnya lalu mencondongkan wajahnya, mencium Jeongguk di bibirnya. Rasanya sepat, aroma napas baru bangun mereka mungkin bukan aroma terbaik saat ini namun ini Jeongguk. Dia sudah melihat Taehyung dalam keadaan jauh lebih buruk daripada napas yang bau.

Jeongguk tergelak lembut lalu membalas ciumannya, melumat bibirnya lembut seraya mengusap lengan atasnya hangat—membelainya dengan pemujaan yang luar biasa, membuat Taehyung merasa sangat utuh. Ciumannya lembut, mendayu-dayu dan hangat; persis seperti Jeongguk.

“Ada aku bersamamu.” Bisiknya ketika menarik wajahnya dari Taehyung, yang masih memejamkan mata—gemetar karena kehangatan Jeongguk lenyap. “Kau tidak sendirian.”

Mungkin, pikir Taehyung ketika menatap Jeongguk dalam pelukannya. Kekasihnya tersenyum, menyeka rambutnya ke balik telinganya—menyisirnya dengan jemari.

“Ayo bersiap, hari ini panjang.” Dia mengecup kening Taehyung.

Mungkin Taehyung bisa membicarakan masalah uang mereka nanti, setelah ini.


Glosarium:

ps. nanti aku crosscheck sama bapakku lagi qiqiqi kita lihat di prosesinya nanti ato aku skip aja untuk menghindari miskomunikasi <3 pss. kalo kepo sama Ngaben Puri, silakan cek di Youtube Ngaben Puri Ubud, kurang lebih begitu. Bade, menara yang digunakan utk wadah peti itu tingginya menyesuaikan dg posisi almarhum di masyarakat—semakin tinggi posisinya, semakin tinggi bade-nya.