Gourmet Meal 589
tw // mention of murder plan , moral ambiguous .
ps. aku jelasin kematian di sini, jadi kalo ada yg gak nyaman bisa skip ato pelan2 ya bacanya. alur maju-mundur <3 psss. ini fiksi ya anak-anak, jangan ditelan mentah2. udah gede yu bisa yu (?)
Taehyung menatap kakaknya yang duduk di hadapannya dengan botol racun berada di hadapan mereka—jemari Taehyung memainkan benang tridatu yang melingkar di leher botol tanpa benar-benar menyadarinya.
Teringat hari ketika mereka merencanakannya, seperti dua orang penyihir yang penuh dendam—tidak lagi paham cara apa yang harus mereka gunakan untuk kabur dari rumah yang tidak lagi terasa rumah. Lakshmi yang terisak memohon maaf mengenai lamaran yang dirahasiakannya dari Taehyung; meminta maaf karena sempat begitu egois memikirkan dirinya sendiri dan Taehyung memaafkannya. Mereka merencanakan pembunuhan ayah mereka tanpa perasaan berat atau bersalah, terjebak perasaan ingin melepaskan diri yang tidak lagi masuk akal—tidak tertahankan.
Taehyung juga menceritakan semua tentang keluarga Devy; semua berita busuk yang mereka sebar tentang keluarga mereka, kelicikan ayah Devy serta jerat yang mengikat leher ayah mereka selama ini hingga sangat terobsesi menjadikan Taehyung Penglingsir. Itulah mengapa berita tentang mereka, khususnya Lakshmi—sasaran paling empuk Puri mereka, mereda ketika Taehyung bersikap baik pada Devy. Semakin reda ketika pernikahan mereka mendekat.
Ayah Devy yang selama ingin mengatur apinya—membesarkan dan meredupkannya kapan saja dia ingin.
Lakshmi pucat, rona lenyap dari wajahnya—bahkan bibirnya ketika Taehyung selesai menceritakan segala yang diketahuinya tentang keluarga Devy. Tidak sulit, dia hanya perlu mencari seseorang yang cukup tua untuk mengenal mereka berdua sejak kecil dan Taehyung mendapatkan segalanya dari kakek Hendra.
“Dia... melakukannya?” Bisik Lakshmi lirih, gemetar dan Taehyung meraih tangannya—merasakan betapa dingin telapaknya lalu meremasnya hangat. Kakaknya yang selama ini menjadi keset untuk keluarga mereka; terinjak-injak, mendapat perlakuan paling tidak adil, dipandang sebelah mata, dikucilkan.
Taehyung ingin mengorbankan apa saja demi memberikan sedikit saja kehormatan untuk Lakshmi—sedikit saja agar dia diperlakukan selayaknya manusia.
Lakshmi juga menunjukkan percakapannya dengan Jeongguk, meminta maaf pada Taehyung karena bersikap berlebihan dan Taehyung menggeleng. Menyadari bahwa Jeongguk sepertinya sedang tertekan dan marah, mengatakan hal-hal yang tidak terlalu dipikirkannya. Lakshmi benar, Taehyung tidak akan meninggalkan Lakshmi apa pun yang terjadi—tidak peduli bagaimana kakaknya menyikapi itu.
“Mbok Gek minta maaf karena sempat ingin meninggalkanmu sendirian, karena Mbok Gek tahu Tugung dan Turah akan kabur jadi Mbok Gek panik. Bagaimana dengan Mbok Gek? Apa Tugung sudah tidak memikirkan Mbok Gek lagi?”
Taehyung menatap kakaknya—lucu bagaimana dia memikirkan hal yang sama persis di hari dia melihat kakaknya mengenakan kebaya senada dengan ibunya di saat lamaran kemarin. Mereka hidup bersama, perbedaan usia yang hanya satu setengah tahun membuat keduanya dekat sekali—nyaris seperti kembar dan Taehyung bisa merasakan emosi kakaknya, begitu pula sebaliknya. Maka ketika dia berpikir Lakshmi mungkin mengkhianatinya, dia tidak dapat menelannya dengan benar.
Ternyata mereka hanya tengah saling ketakutan, saling merasa terkhianati. Maka mereka berbaikan dan menyusun rencana untuk membunuh ayah mereka sendiri—dibahanbakari kemuakan dengan kehidupan mereka, jalan pintas untuk kabur.
Namun sekarang, ketika ayah mereka meninggal; mereka bersyukur mereka belum sempat melakukannya.
Taehyung di masa sekarang mendorong botol itu. “Akan Tugung buang,” katanya parau dan Lakshmi mengangguk. Ibu mereka sudah lama tidur dan Jeongguk sudah pulang ke Puri-nya, hanya ada mereka di sana.
“Botolnya dibakar saja agar tidak ada yang menemukan.” Sahut Lakshmi, berbisik—mereka bersila di atas kasur Taehyung setelah menenangkan diri karena kedatangan Devy.
Mereka keluar kamar Taehyung, pergi ke sudut rumah. Suasana rumah hening, masih sedikit mencekam setelah kematian dan pemakaman—membuat angin yang berdesir terasa lebih dingin. Mereka melangkah di rumah mereka sendiri, ketakutan karena sempat merencanakan pembunuhan dan sedang membawa barang buktinya. Mereka membelinya di Karangasem, seorang balian di Perasi. Taehyung sendiri yang pergi ke sana, merahasiakannya dari Jeongguk sama sekali karena dia takut pada apa yang kekasihnya mungkin pikirkan tentangnya.
Menjaga jarak dari Jeongguk karena takut Jeongguk mungkin mengetahuinya. Dia juga tidak ingin melibatkan kekasihnya dalam urusan keluarganya: berpikir dengan tegas bahwa ini urusannya. Dia akan menyelesaikan ini, berharap setelah ayahnya meninggal dia dan Lakshmi akan terbebas. Lakshmi akhirnya bisa menikah dan Taehyung bisa melepaskan posisi pewaris yang tidak diinginkannya.
Namun malam itu, ketika ayahnya mendadak kumat, Taehyung merasa kehidupan surut dari tubuhnya—disedot habis. Dia mengemudi ke Sanglah dengan Lakshmi di sisinya, pucat pasi. Memikirkan racun yang telah mereka beli sehari sebelumnya. Jika mereka menggunakannya, maka merekalah yang bersalah.
Dendam itu mati seperti lampu—begitu saja ketika Taehyung mendengar ibunya menjerit memanggil namanya, memintanya membawa ayahnya ke Sanglah. Kepanikan malam itu membuat Taehyung mati rasa—dia bergerak, tidak benar-benar menyadari ke mana dia bergerak. Otaknya terpaku ke racun yang disembunyikannya di lemari dan merasa malu, berdosa karena telah berpikir untuk membunuh ayahnya.
Mereka berdiri di sudut gelap rumah mereka, lampu sudut rumah nyaris tidak menyinari mereka namun sinar bulan cembung yang temaram sudah cukup. Keduanya saling menatap sebelum Taehyung membuka tutup botol itu. Mengapa mereka bisa berpikir sehina dan sejahat itu?
Mata keduanya terpancang ke botol itu ketika Taehyung perlahan menunggingkannya, menyaksikan cairan itu meluruh ke mulut botol dan meluncur ke tanah. Suaraya gemericik lembut ketika menghantam tanah sebelum perlahan menyerap ke dalam—menyiksakan noda gelap yang melebar. Kedua saudara itu menatap cairan bening tanpa aroma itu larut ke tanah di tengah heningnya malam; membuang segala kekhilafan mereka bersama air yang larut, berharap suatu hari nanti mereka bisa melepaskan rasa bersalah karena sempat merencanakan pembunuhan atas orang tua mereka sendiri.
“Jika...,” bisik Lakshmi saat Taehyung menyalakan pematik, membakar botol itu di tanah. Keduanya berjongkok di sana, menyaksikan nyala api perlahan melahap plastik basah itu—mendesis marah tiap kali menguapkan sisa air yang menghalanginya. “Jika saja Ajung tidak dibuli, jika saja dia tidak... mengenal ayah Devy, mungkinkah hidup kita tetap begini?”
Taehyung diam, menatap api yang bergolak di depannya seraya memainkan pematik di tangannya yang mengenakan cincinnya bersama Jeongguk. Memikirkan kemungkinan mustahil karena itu terjadi jauh sebelum mereka dilahirkan. Botol itu meleleh, plastik panas menetes ke tanah—tetes api yang menempel di sana sejenak mendesis sebelum perlahan padam.
“Entahlah, Mbok Gek.” Bisik Taehyung lirih, matanya menatap lekat botol yang setengah terbakar dengan tetesan plastik panas meleleh ke tanah. Karena dia sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi jika kehidupan mereka berbeda dan tidak ingin memikirkannya—hanya akan membuat Taehyung semakin tidak ingin menatap masa depannya sendiri.
Mereka berjongkok di sana, menatap api dalam diam—seperti ketika mereka kecil, dihukum oleh ayah mereka. Dimasukkan ke kamar mandi, disiram air dan dikunci dari luar tanpa makanan. Mereka akan bermain berdua dalam diam, dengan kondisi menggigil kedinginan—berusaha membuat tubuh mereka hangat. Tidak boleh menangis karena jika mereka menangis, ayah mereka akan semakin murka. Lakshmi akan mengajak Taehyung bermain suit, duduk di lantai kamar mandi yang dingin berusaha mengabaikan pakaian mereka yang basah dan perut mereka yang lapar.
Pernah juga malam ketika mereka dihukum tidak boleh makan, mereka mengendap ke dapur mencuri sepiring nasi dan sepotong ikan tongkol goreng untuk makan diam-diam. Lakshmi menyisihkan lebih banyak nasi dan lauk untuk Taehyung ketika mereka berjongkok di bawah meja makan dapur, terburu-buru makan hingga Taehyung tersedak dan terbatuk keras. Mereka langsung membeku, melirik pintu masuk dengan ketakutan. Namun tidak ada yang terjadi, maka mereka makan dengan cepat sebelum berlari kembali ke kamar dalam gelap—akhirnya bisa tidur nyenyak setelah perut mereka terisi.
Bagaimana jika hidup mereka berbeda?
Ayah mereka keluar dari Puri, mereka hidup di rumah mereka sendiri—tidak ada tanggung jawab berat di bahu Taehyung, tidak ada yang peduli Lakshmi seorang Astra, ayahnya tidak ditekan orang sinting....
Taehyung menggertakkan giginya, menggelengkan kepala—mengenyahkan isi kepalanya. Dia tidak mau memikirkannya, dia lebih memilih fokus pada keadaannya saat ini alih-alih memikirkan 'apa yang terjadi jika....'
“Setelah cuntaka, Mbok Gek akan langsung dilamar Wisnu.” Katanya sementara api meredup dan angin dingin berdesir, sejenak membuat Lakshmi bergidik dan merapatkan pashmina di bahunya. “Selama Tugung masih Penglingsir, maka Tugung akan mengeluarkan Mbok Gek secepatnya.”
Taehyung masih menatap api saat melanjutkan, “Tugung akan kabur secepatnya, begitu Ngeroras Ajung selesai. Jika boleh, menikahlah secara adat dulu dengan Wisnu—pergi dari sini secepatnya.” Dia menatap kakaknya yang mengerjap, nampak pucat seperti bulan purnama. “Kita tidak punya banyak waktu, kita tidak tahu hingga kapan mereka berbelas kasih pada kita di Puri ini jika sejak awal mereka menganggap kita hama.”
Lakshmi merapatkan pashmina-nya, bergidik ketika menatap api yang mulai meredup—berusaha keras mencari sisa plastik untuk dilahap dan mempertahankan kobarannya. “Ibu bagaimana?” Tanyanya berbisik.
Taehyung menghela napas. “Ibu tidak mau pergi dari sini.”
Lakshmi meringis. “Lalu siapa yang menjaga Ibu?”
Taehyung mengedikkan bahu, resah. “Aku sempat meminta Ibu pulang ke rumah Ninik, tapi dia tidak mau.” Taehyung menatap noda gelap di tanah sisa air dan plastik yang meleleh.
“Kita tinggalkan Ibu?” Bisik Lakshmi perlahan.
Taehyung menghela napas. “Ibu sendiri yang ingin tinggal di sini, padahal tahu bagaimana semua orang membenci kita. Buatnya, inilah harga dirinya. Dia tidak mau melepaskan hidup ini maka....,” dia melirik Lakshmi; dia sudah berusaha, tapi jika orang yang ingin ditolongnya tidak ingin dibantu untuk apa dia berusaha terus?
Mereka kembali diam. Malam berdesir lirih, membelai kulit Taehyung yang terbuka. Langit cerah perlahan berubah kebiruan seraya menyongsong dini hari. Namun suasana masih mencekam dan hening, tidak ada satu kendaraan pun yang lewat di depan rumah mereka. Kedua saudara itu tetap berjongkok di sana walaupun api mereka telah lama redup dan mati, mengabaikan dingin yang semakin menggigit dan suasana yang semakin mencekam dihantui sisa kematian ayah mereka.
Setelah ini, hidup mereka akan berubah. Lakshmi akan menikahi lelaki yang menghormatinya sepenuh hati, dia akan berbahagia di sana menilik bagaimana keluarga Wisnu selalu menerimanya dengan tangan terbuka. Sementara Taehyung akan menyambut bahagianya sendiri bersama Jeongguk.
“Apakah Tugung akan pulang ke Bali lagi suatu hari nanti?” Tanya Lakshmi lirih. Seekor ayam berkokok di kejauhan, menandai bahwa pagi mungkin akan menjelang sebentar lagi.
Taehyung menggeleng. Dia tentu tidak akan kembali ke tempat di mana dia dilukai, dia tidak akan bisa menyembuhkan diri. “Tidak.” Katanya tegas, Jeongguk pun pasti berpikiran sama tentang ini. “Kami tidak akan kembali.”
Lakshmi menunduk. “Begitu.” Bisiknya.
Dia menoleh ke kakaknya, mengulurkan tangan dan merangkulnya—Lakshmi bersandar di bahunya, memejamkan mata saat Taehyung mengusap rambutnya sayang. “Hiduplah dengan bahagia,” bisiknya di rambut Lakshmi. “Lupakan hidup Mbok Gek di rumah ini, anggap tidak ada yang pernah terjadi. Berbahagialah hingga tidak ada ruang untuk rasa sedih merayap kembali.”
“Kita berdua berhak bahagia setelah semua ini.”
Taehyung merasakan Lakshmi tersenyum di pelukannya. “Setuju.” Bisiknya lirih. Dia mengulurkan lengannya, memeluk Taehyung sayang. “Mbok Gek akan sangat merindukan Tugung. Sangat merindukan Tugung setelah ini.” Suaranya parau, terdengar seolah sedang berusaha menelan gumpalan pahit di tenggorokannya.
“Tapi setidaknya, Mbok Gek senang karena Tugung sedang bersama satu-satunya orang yang Tugung inginkan. Seseorang yang akan menjaga dan membuat Tugung bahagia, maka Mbok Gek tidak akan khawatir lagi.”
Taehyung tersenyum, merasakan panas menjalar di ulu hatinya—naik mencekik lehernya dan membuat matanya panas oleh air mata. Mereka sebentar lagi akan berpisah; menyongsong bahagia masing-masing yang selama ini mati-matian mereka perjuangkan, bahkan sempat berpikir tidak akan pernah ada bahagia untuk mereka.
Jika ingin picik, kematian ayah mereka membuat ikatan kencang di dada mereka melonggar dan lepas. Segala hal terbongkar, semuanya terselesaikan hingga mereka bisa melangkah keluar Puri dengan lebih ringan. Kakaknya bisa menikah, Taehyung tidak perlu menikahi gadis yang dibencinya dan tidak ada yang bisa mengontrol mereka lagi sekarang.
“Maka Mbok Gek juga harus berbahagia.” Bisik Taehyung lembut dan Lakshmi tergelak sebelum terisak lirih dalam pelukannya. “Karena Tugung pasti sedang berbahagia ketika Mbok Gek berbahagia.”
Haruskah Taehyung bersyukur atas kematian ayahnya....?
Dia memeluk kakaknya yang masih terisak lembut. Ini perpisahan, mereka menyadarinya. Setelah berpuluh-puluh tahun bersama, berbagi sakit, tangis, dan tawa sekarang mereka akan hidup terpisah bersama orang yang akan menjaga dan membahagiakan mereka. Menjauh dari masa lalu yang mencekik mereka selama ini.
Taehyung mendongak, menatap bulan yang semakin redup karena matahari mulai kembali naik. Memikirkan betapa surealnya kebahagiaan yang sedang melangkah ke arah mereka sekarang, berharap tidak ada sandungan apa pun lagi di jalan mereka karena cukup tiga puluh delapan tahun ini mereka berdua menderita dan menatap bahagia yang tergantung di hadapan mereka; dekat namun tak teraih.
Mereka berdua akan menyongsong masa depan, merengkuh bahagia yang selama ini direnggut dari tangan mereka oleh orang tua mereka sendiri. Dan Taehyung tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi, dia bersumpah.
*