eclairedelange

i write.

Bicara

Taehyung menatap pemuda di hadapannya yang sedang menyuap makanannya. Di hadapan mereka, di meja makan dengan bagian roda yang bisa diputar, tersaji pelbagai macam makanan yang dimasakkan ART untuk mereka. Jungkook dipersilakan makan karena Taehyung menjemputnya setelah kelasnya selesai, sebelum sempat membeli makanan.

Ini kali kedua Jungkook mampir ke kediaman Taehyung yang ramah, ART mereka juga sudah mengenalinya saat Jungkook turun dari mobil dan membuatkannya teh jahe hangat dengan gula batu alih-alih wedhang uwuh seperti kali pertama mereka berkunjung dan Jungkook menatap Taehyung, sudah tahu bahwa dialah yang memiliki andil di pergantian menu minuman Jungkook ini.

Mereka sedang di ruang makan yang menyatu ke dapur, ada bar kecil di bagian utara dapur yang terisi sekeranjang buah-buahan segar dan kudapan kecil yang membuat Jungkook tergoda untuk meraih setoples nastar keju yang nampak berkilau oleh lapisan mentega dan kuning telurnya.

“Jadi,” kata Taehyung berdeham dan Jungkook mendongak dari piringnya. “Gak mau kasih tau Mas kamu kenapa?”

Jungkook menelan makanannya lalu meletakkan sendoknya. “Emang gapapa kalo ngobrol di sini?” dia melirik ke dapur, tempat ART mereka, Mbak Wan, lenyap beberapa menit lalu. “Maksudnya tar kalo adik atau orangtua Mas pulang gimana?”

“Bener juga,” desah Taehyung, menyugar rambutnya rikuh dan mendorong piringnya menjauh. Nampak kikuk dan tidak nyaman sehingga hal itu mengirimkan rasa berat ke hati Jungkook.

Dia kemudian mengalihkan pembicaraan. “Aku pengen minta maaf, sih,” katanya dan Taehyung mendongak. “Karena salah faham sama Mas?” katanya.

“Salah faham?”

“Mas ternyata bukan Pangeran?”

“Oh itu,” Taehyung terkekeh. “Gak apa-apa, mudah salah persepsi kalo nama Mas ada gelar ningratnya. Sebenernya kalo mau dijelaskan, bakal panjang dan ngejelimet, jadi biasanya kalo ada yang panggil Pangeran, Pangeran gitu ya Mas biarin aja. Gak merugikan siapa-siapa juga. Kalo orang Jogja asli, tau silsilah keluarga utama, pasti tau Mas cuma bantu-bantu gitu. Kalo orang pendatang ya pasti ngertinya pangeran karena keliaran di Kraton padahal cuma bantu-bantu,”

Dia kemudian menatap ke kain batik di balik kepala Jungkook. “Mungkin udah saatnya Mas mundur dari pemerintahan dan bantu Ayah di pabrik aja, kali, ya?” katanya kemudian lalu menatap lurus ke mata Jungkook. “Jadi, gak terlalu.... mengundang kalo kita jalan bareng?”

Jungkook diam. “Maksudnya?” katanya bingung, tidak yakin pada arah pembicaraan mereka.

“Mas lagi mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari Tim PR dan bantu di pabrik batik aja sama Ayah, menghindari lampu sorot. Capek juga sebenernya harus terus-terusan bersikap ramah dan baik hati, gak bisa bebas. Mungkin kalo kerja di pabrik, lebih leluasa? Secara emosional maksud Mas,”

Jungkook terpana, “Maksudnya... Mas mau ngelepas kerjaan di Kraton buat.... aku?”

Taehyung tersenyum. “Nah, you put it that way it sounds a lot better and simpler.” Dia kemudian terkekeh kecil, kembali menunduk ke piringnya yang terisi makanan. “Toh Mas juga emang harus mewarisi pabrik itu, kok, jadi lebih cepat aja. Mungkin bisa banyak belajar dulu, Ayah juga udah minta Mas ambil S2 manajemen.”

Jungkook masih diam, tidak sanggup memproses kata-kata Taehyung. “Emang.... gak apa-apa?” tanyanya lagi, mencicit seperti seekor tikus dalam cengkraman kucing. Sama ketakutannya, sama kecilnya; hanya saja Jungkook meras sangat bersalah karena lelaki di hadapannya harus mengorbankan sesuatu demi dirinya.

Sesuatu yang sangat dinikmatinya. Atau mungkin tidak.

“Ya, ndak papa,” balas Taehyung, nyengir. “Mas udah lama mikirin ini kok, sejak Ayah kena diabetes melitus dan mulai gak senerjik dulu, Mas emang udah didesak buat mundur dari kerjaan dan bantu Ayah di pabrik, jadi mungkin kamu alasan terbaik buat itu.”

Jungkook terpana. 'Kamu alasan terbaik buat itu.' Dan dia belum sempat menjawab saat seseorang meneriakkan Assalamualaikum dari pintu depan dan masuk dengan suara gedebak-gedebuk berisik yang dibuat-buat.

“Mas!”

Taehyung mendesah dan memutar bola matanya, “Mbok ya nek muleh ki salame sik apik, ulang,” katanya memutar tubuhnya menghadap ke pintu dan perut Jungkook mengejang saat melihat seorang remaja lelaki dengan seragam putih-abu SMA sedang melangkah masuk dengan tas laptop dan tas gendong besar di bahunya.

Dia nampak masam. “Ya opo sih, uwis kok. Assalamualaikum,” ulangnya dengan nada yang masih sama ketusnya hingga Taehyung terkekeh. “Kesel aku, Mas, wis to ah.”

“Iyo, iyo, rasah sengit.” katanya lalu melambai. “Kene tak kenalke mbek kancaku,” tambahnya menoleh pada Jungkook yang wajahnya setegang penggaris papan tulis. “Tenang aja, ndak papa,” Taehyung tersenyum lembut.

“Ini adikku, Taehwan,” kata Taehyung meremas bahu adiknya yang masih memberengut seraya menaikkan kacamatanya. Dia nampak mirip sekali dengan Taehyung kecuali bagaimana dia nampak lebih muda dan masam sepanjang waktu, kontras dengan Taehyung yang nampak segar dan ceria.

“Halo, Tekwan,” kata Jungkook melambai kecil pada anak remaja masam itu lalu mengerjap. “Eh, bukan, bukan. Taehwan. Halo. Maaf, keseleo.” Jungkook mengutuki dirinya sendiri karena sekarang wajah Taehwan nampak semakin masam dan memberengut permanen.

Taehyung terkekeh. “Gak papa, dia emang selalu dipanggil gitu sama Bunda,” katanya lalu mengaduh saat Taehwan menjambak rambutnya kesal. “Heh, ra sopan karo masmu og kepiye,” dia mendelik pada Taehwan yang balas melotot. “Taehwan, ini temen Mas, Jungkook. Anak UGM Hukum, isolah yo tanya-tanya, kan kamu pengen masuk hukukm, to? Ayo, kasi salam sik bener to ah, ngisin-ngisini tenan.”

Begitu mendengar bahwa Jungkook anak hukum, wajah Taehwan berubah jadi cerah dan ramah. Jungkook berhenti makan, karena saat dia tersenyum mereka terlihat kembar; kakak-beradik itu, kecuali bahwa jejak kedewasaan terpampang nyata di wajah Taehyung. Mereka berdiri berdampingan; satu dalam balutan seragam, satu dalam balutan pakaian semi-formal dan Jungkook pangling oleh kemiripan mereka.

“Halo, Kak, Assalamualaikum,” katanya ramah, meletakkan tas laptop di lantai lalu mengulurkan tangan pada Jungkook yang melirik Taehyung meminta pertolongan. “Kakak anak Hukum? Keren! Dulu Kakak SMA jurusan apa? Masuk UGM jalur apa.....”

“Ngene wae ramah koe, cah,” gerutu Taehyung lalu menunduk kembali ke makanannya dan makan dengan tenang. “Kono ganti baju sik, terus ngobrolnya nanti.”

Taehwan menatapnya sengit sebelum tersenyum ramah pada Jungkook. “Bentar, ya, Kak!” katanya ceria lalu meraih tasnya dan berlari menyeberangi ruang keluarga di depan meja makan, menaiki tangga melingkar menuju lantai atas seraya bersenandung.

“Maaf, ya, dia emang gitu. Kalo ada yang menarik perhatiannya, baru deh dia bener-bener peduli,” Taehyung terkekeh dan Jungkook tersenyum.

“Namanya juga anak remaja,” lalu dia berdeham. “Tapi... emang gapapa?”

Taehyung menoleh dengan alis terangkat. “Gapapa..., apa?”

Jungkook balas menatapnya dengan wajah berkerut-kerut. “Dikenalin ke adikmu? Nanti kalo dia... tau?”

“Tau...?” Taehyung nampak kebingungan dan Jungkook terus menatapnya dalam-dalam hingga akhirnya pemahaman melintas di matanya. “Ah, itu.” Dia kemudian berdeham kikuk, seolah baru memikirkannya.

Jungkook ingin berguling dan meringkuk di lantai lalu menangis saja karena bagaimana sikap Taehyung yang terkadang lupa bahwa mereka ini dianggap tidak wajar dan bagaimana orang-orang terkadang menyikapi itu dapat menyakiti perasaan mereka berdua, khususnya Jungkook. Dan bagaimana walaupun Taehyung bukan seorang pangeran resmi, posisinya yang lumayan penting juga akan memandang hal ini aneh.

Jungkook benar-benar tidak habis pikir.

“Yaudah kalo makanmu udah, kita ke ruang kerja Mas aja.” kata Taehyung kemudian dan Jungkook yang memang selera makannya sudah lenyap entah kemana sejak pembicaraan tentang mengundurkan diri dan pabrik batik dibawa naik, mendorong piring makanannya dan berdiri.

“Dek!” seru Taehyung ke lantai atas. “Mas mau bicara sik sama temen Mas garap tugas, nek mau ganggu nanti aja ya!” Lalu tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Taehyung meraih tangan Jungkook dan mengajaknya ke ruang kerjanya.

FLASHBACK: Raden Mas *Author's note: please listen to Marina's “About Love” while reading this part.

/I don't really know a lot about love.

“Ini putri teman ayah, Raden Ajeng...”

Taehyung berhenti mendengarkan bahkan sebelum ayahnya mulai bicara, dia mengangguk sopan pada perempuan yang dikenalkan padanya, menjabat tangannya singkat lalu berhenti memerhatikan. Bukan karena gadis itu tidak cantik, dia sangat cantik—jenis kecantikan yang begitu purba dan lembut; jenis kecantikan yang akan cocok untuk mengisi singgasana seorang Ratu. Lembut, mengayomi, sabar dan penuh tata-krama.

Nampak begitu... membosankan.

“Kamu ndak tertarik sama anak itu?” tanya ayahnya di meja makan, usia Taehyung sudah dua puluh satu tahun, mungkin karena itu mereka mulai merecokinya dengan jodoh dan pembicaraan tentang pernikahan seolah satu-satunya prestasi yang bisa dilakukan Taehyung dalam hidup untuk membanggakan mereka hanyalah menikah dan memiliki keturunan.

Khususnya anak laki-laki.

“Ndak, Ayah,” balasnya sopan, menatap piringnya dan mencoba menelan makanan yang sekarang terasa seperti buah simalakama. “Mungkin belum.” katanya kemudian. “Saya ingin kuliah dulu lalu ikut dalam pemerintahan, belum terpikirkan tentang jodoh.”

Darah biru mereka berasal dari keluarga jauh dari pihak Kanjeng Ratu yang saking jauhnya hingga tidak ada yang terlalu memerhatikan keluarga mereka sehingga akhirnya mereka lebih terkenal sebagai pengusaha batik tulis yang terkenal hingga mancanegara, tidak ada yang memerhatikan bahwa keluarga mereka terkait dengan keluarga royal manapun. Namun, Taehyung bergabung dengan tim PR Yogyakarta sejak remaja untuk mempromosikan Yogyakarta ke khalayak banyak.

Ayahnya menatapnya dan menghela napas menyerah untuk kesekian kalinya. “Ya sudah, terserah kamu saja.” katanya dan Taehyung menghela napas—pembicaraan tentang pernikahan setidaknya berhenti.

Sejenak.

* /Started in the strangest way, didn't see it coming

Ruangan kerja Tim PR terasa sunyi. Mereka sedang merancang beberapa acara yang nantinya akan diunggah ke linimasa akun sosial media Taehyung sebagai “Face of Yogyakarta”. Taehyung sudah duduk di mejanya seharian, sudah minum dua gelas kopi dan merasa sangat suntuk hingga akhirnya dia bangkit.

“Saya mau jalan-jalan dulu,” katanya kemudian sebelum beranjak keluar dan mengemudikan mobilnya menuju Kraton.

Entah mengapa, tiap kali dia mengunjungi tempat ini, dia bisa melepas penatnya yang selama ini menggantung. Dia akan menyapa beberapa wisatawan, mengobrol dengan mereka, menyarankan tempat-tempat lain untuk dikunjungi dan merasakan energi positif disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya.

Maka itulah yang dilakukannya sekarang.

Taehyung tersenyum, meluncur mulus melewati lorong panjang dan mengamati ledakan jumlah wisatawan di Kraton pada hari libur sebelum memulai perkuliahan. Senang menemukan alasan untuk kabur dari pekerjaan dan pembicaraan tentang masa depan yang membuatnya malas. Beberapa Abdi Dalem yang mengenalnya menghormat sopan padannya dan Taehyung melambai ramah.

Entah bagaimana, seorang wisatawan mengenalinya dan Taehyung mendesah, dia tidak terlalu suka saat ini terjadi. Warga Jogja asli selalu menghormati personal space-nya dan tidak mengerumuninya. Namun wisatawan luar tidak terlalu bisa melakukannya dan sedihnya lagi, malah pada merekalah Taehyung harus bersikap ramah dan tenang. Berusaha mempertahankan senyuman ramahnya saat beberapa orang mulai mengerumuninya seperti semut mengerubungi gula; dia mengangguk ramah dan menyalami beberapa orang dengan sibuk.

“Beliau merupakan Raden Mas Taehyung BP, salah satu anggota kerajaan...”

Taehyung mendesah jengkel dalam hati, kenapa dia harus diperkenalkannya dengan pengeras suara? Dan dia bahkan bukan anggota kerajaan, dia hanya salah satu personil tim PR kota ini dan hanya didaulat sebagai wajah Yogyakarta untuk memperkenalkan daerah-daerah wisata. Dia mengangkat wajahnya, sejenak suntuk oleh kerumunan manusia saat mereka beradu pandang—atau setidaknya, melalui lensa kameranya yang sedang diarahkan pada Taehyung.

Lelaki itu memegang kamera, nampak sedang mengamati kerumunan yang mengerubunginya dari balik lensa. Wajahnya ramah dan menarik, manis dan menggemaskan, dia memiliki jenis senyum yang begitu tulus, terbuka dan polos hingga Taehyung tersentuh; dia baru saja akan menghampirinya saat kerumunan lain menghampirinya dan dia nyaris saja terjungkal olehnya.

Dan dia kehilangan lelaki itu.

Dia memanggil beberapa Abdi Dalem yang seketika itu juga membantunya untuk membubarkan massa, Taehyung mengucapkan terima kasih dan meminta kerjasama mereka untuk tidak mengerubunginya. Dia melirik ke balik kerumunan, tidak menemukan wajah itu lagi.

Merasa frustasi sampai akhirnya kerumunan membubarkan diri dan dia langsung berlari kecil menjauhi tempat itu. Ke mana? Ke mana lelaki itu?

* /Think about the time it took for our paths to cross; I was found and lost

Ketemu.

Taehyung berhenti di pintu ganda museum koleksi batik tulis para Ratu, salah satu ruang favoritnya di tempat ini dan menemukan pemuda itu sedang mengarahkan kameranya ke koleksi-koleksi rapuh di hadapannya walaupun sudah jelas ada sebuah tanda di depannya yang menyatakan bahwa di sana dilarang mengambil gambar.

Mengatur napasnya yang terengah-engah setelah mengitari Kraton berusaha menemukan tas besar, kaus hitam kebesaran dan leather jeans pemuda itu sebelum akhirnya dia menemukannya di tempat terakhir yang terletak di pojok Kraton; dia tidak menyangka tempat ini menarik perhatian pemuda itu.

Dia menghela napas lalu menghampirinya, berharap keringatnya tidak mengacaukan aroma parfumnya dan berkata lembut saat berada di sisinya, cukup dalam jangkauan dengarnya; “Mas, mohon maaf, dilarang mengambil gambar njih, di sini.”

Pemuda itu menoleh dan Taehyung menahan napasnya; tatapan matanya yang sejernih rusa, bibirnya yang terkuak kaget, tangannya yang menggantung kikuk di udara dengan kamera yang menyala serta semburat kemerahan yang terbit di wajahnya karena ditegur membuat Taehyung merasa gemas.

Untuk pertama kali di hidupnya, dia menemukan seseorang yang mengundang hatinya untuk tersenyum dan berdesir oleh emosi yang menyejukkan.

“Panjenengan tau siapa saya, to?” sahutnya dan pemuda itu masih menatapnya; tidak sama sekali berusaha untuk menyembunyikan keterpesonaannya pada pembawaan Taehyung. “Tapi saya bukan pangeran,”

Jantung pemuda itu berdebar; perasaan aneh ini membuatnya kebingungan.

”... Masa calon suami sendiri gak tahu?”

Dalam waktu yang berbeda dan dengan orang yang berbeda, Taehyung mungkin akan marah mendengarnya namun cara lelaki itu menatapnya dengan begitu terpesona dan terpesona serta bagaimana bibirnya terkuak penuh rasa kagum membuat reaksi Taehyung adalah tawa.

“Mas, lo tau gak persamaan gue sama rakyat lo?”

Taehyung menatapnya, masih tersenyum dengan hati berdesir dengan cara yang sama sekali tidak dikenali seluruh sistemnya. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak biasa namun terasa menenangkan dan benar.

Sebenarnya secara teknis Taehyung tidak memiliki rakyat, dia bukan raja, bukan juga pangeran yang mewarisi tahta, tapi dia menjawab, “Apa?” tanyanya lembut.

“Sama-sama butuh dibimbing ke arah yang lebih baik.”

* /Now I'm all caught up in the highs and the lows; it's a shock to my system

Taehyung mengaitkan jam tangannya dan melangkah panjang-panjang menuju gerbang Kraton yang ditutup, dia mendorong pintu gandanya yang tertutup dan menemukannya. Dia berada di Kraton untuk rapat dengan beberapa orang hingga terlalu malam dan memutuskan untuk ikut shalat bersama sebelum pergi menemui Jungkook.

Lelaki itu berjongkok di depan gerbang, sedang menunduk ke tanah seperti anak taman kanak-kanak yang menanti jemputan orangtuanya dalam balutan celana baggy besar, hoodie dan bucket hat. Taehyung terkekeh saat melihatnya lalu menoleh pada Abdi Dalem, memberi pesan untuk mengunci pintunya karena dia akan pulang lewat belakang lalu menghampiri pemuda yang sekarang bersila di tanah.

“Maaf ya, Dek, aku ndak tau kamu bakal langsung mangkat habis WA,” katanya dan pemuda itu mendongak; dia nampak begitu menggemaskan di bawah temaramnya lampu Kraton dan senyuman lebarnya membuat Taehyung terguncang.

Apakah aneh jika Taehyung memeluknya sekarang?

“Ayo, makan,” ajaknya dan mereka berjalan menyusuri jalanan yang sekarang kosong menuju Alun-alun yang penuh dengan pengunjung dan wisatawan. Beberapa orang menyapa Taehyung ramah dan pemuda itu mengamatinya; masih dengan kekaguman gamblang di wajahnya.

Tidakkah dia bisa bersikap sedikit kalem? Subtle?

Taehyung menghampirinya setelah memesan makanan dan sebelum dia sempat membenahi tempat duduknya, pemuda di sisinya mendongak: “Mas, kalo pangeran berarti gak bisa nikah sama orang biasa, dong?”

“Ya bolehlah,” sahut Taehyung, bersumpah jantungnya baru saja berhenti berdetak selama satu detik yang terasa lama. Apa maksud pertanyaan ini? “Kanjeng Ratu aja nikahnya sama orang biasa. Kenapa?” Lagi pula Taehyung bukan pangeran.

Jawabannya bukanlah sesuatu yang dibayangkan Taehyung.

“Berarti elo nikah sama gue boleh dong?”

Dan jawaban Taehyung juga bukanlah sesuatu yang dibayangkan Taehyung sendiri akan diucapkannya.

“Lho kita kan sama-sama cowok, masa nikah, sih, Dek?”

Dan Taehyung menyadarinya dengan begitu terlambat bahwa itu adalah jawaban yang salah.

* /I don't wanna run away so I stay

Tidak ada notifikasi dari aplikasi Whatsapp-nya. Dan sudah tiga hari.

Taehyung meletakkan ponselnya di meja dan mendesah; di layar laptop ada Bab 4 skripsinya sedang terbuka, dia sudah berusaha mengerjakannya sejak pagi tadi namun tidak berhasil melakukan apa pun. Otaknya macet, dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Tidak ingin makan, tidak ingin jalan-jalan; Taehyung kehilangan segala minatnya pada hal-hal yang selama ini membuat hidupnya menarik dan membuatnya bersemangat.

Lucu bagaimana Taehyung menunggu pesan dari pemuda itu, menunggu pesan-pesan tidak pentingnya yang selalu menghibur Taehyung. Dia juga tidak muncul di fakultas Taehyung seperti hari itu.

Jawabannya beberapa hari silam tentulah teramat salah.

Taehyung mengerang, merasa bodoh karena terus menunggu tanpa melakukan apa pun, dia meraih ponselnya. Membuka ruang obrolannya dengan pemuda itu lalu menghela napas.

Haruskah dia meneleponnya? Atau itu akan jadi terlalu agresif?

Akhirnya Taehyung mengetik beberapa kata lalu mengirimkannya, namun balasan yang didapatkannya sama sekali bukan dari nomor yang diinginkannya. Itu orang lain.

“Saya Mingyu, sahabatnya. Bagaimana jika besok, saya ajak dia ke Kraton, ketemu kami di sana, jadi kalian bisa bicara?”

* /But you're in my head, you're in my blood And it feels so good, it hurts so much

Taehyung melayangkan tendangan ke dinding tidak bersalah di hadapannya dengan frustasi, berharap tidak ada seorang pun yang menyadari suara benturan teredamnya dan bagaimana noda sepatu mengotori dinding itu. Di sisinya, sahabat pemuda itu berdiri dan dengan sopan mengalihkan pandangan darinya. Taehyung menyugar rambutnya, berusaha kuat mengendalikan rasa frustasi yang menggelegak di lambungnya terasa seperti asam lambung yang sepat, bergulung-gulung naik ke rongga mulutnya.

Kakinya berdenyut, namun dikalahkan oleh denyutan di kepala dan hatinya. Dia kemudian mendesah keras, mengangkat kepalanya lalu berusaha mempertahankan senyuman di bibirnya saat berkata: “Ayo, tak antarkan balik ke kosnya,” katanya dengan getaran amarah di sudut bibirnya.

Mingyu balas menatapnya, nampak menilai ekspresinya dengan sopan. “Yakin gapapa, Mas?” tanyanya. “Kalo emang mau istirahat dulu gapapa, saya naik ojol aja.”

Taehyung menggeleng. “Ndak papa, ayo tak antar.” katanya lalu mengangguk agar Mingyu mengikutinya ke dalam rumah lalu ke garasi dan mengeluarkan mobilnya. Mereka bersidiam selama perjalanan sampai akhirnya Taehyung berkata, “Maaf, saya ndak tau alamat kosnya?”

Mingyu terkekeh kikuk, “Saya juga sih, Mas, bentar tak tanyain,” dia mengetik pesan pada pemuda itu selama beberapa lama sampai akhirnya dia sudah mengeset peta daring yang mengarahkan mereka ke kosannya. “Mas, maaf.” kata Mingyu kemudian, dari ekspresinya Taehyung tahu apa yang akan dikatakannya.

Dan Taehyung tidak menyukainya.

Cengkraman Taehyung di roda kemudi mengencang dan dia berusaha kuat mempertahankan ketenangannya di permukaan saat menjawab, “Ya?” dengan nada paling kering yang pernah digunakannya.

“Katanya... Mas gak boleh ikut datang,”

Taehyung rasanya ingin memukul sesuatu.

“Oke, gak apa-apa, yang penting kamu pulang.”

Hening sejenak.

“Mas, saya boleh minta nomor WA?”

“Untuk?”

“Saya punya ide.”

* /My head gets messy when I try to hide The things I love about you in my mind

“Ngapain lo ke sini?”

Taehyung menghela napas, mengerahkan seluruh pengendalian dirinya yang rapuh dan menatap pemuda di hadapannya; dalam balutan pakaian rumahan dan wajahnya yang sembab, fakta itu mengirimkan tusukan ke ulu hati Taehyung bahwa dia mungkin saja adalah penyebabnya.

Bodoh, bodoh sekali Taehyung.

“Gapapa,” katanya tenang walaupun dia bisa merasakan getaran di ujung kalimatnya dan bagaimana rasa bersalah membuat ludahnya terasa pahit dan lambungnya bergolak dengan cara tidak manusiawi. “Tak pikir kamu sakit....” Dia meletakkan plastik buah di lantai dan menatap pemuda itu.

“Mas sudah tau,” katanya kemudian dan mengamati reaksi pemuda di hadapannya. “Memangnya cowok normal bakal ngegombalin cowok lain dan terus-terusan bilang temennya itu, apa? Ganteng banget sampe bikin pusing?”

Taehyung kemudian membiarkan hatinya yang berbicara, memohon pengampunan memohon pemuda itu untuk mengembalikan kehidupan normal mereka, memaafkannya, kembali menjadi temannya. Memohon untuk diberikan kesempatan, memohon... Memohonnya kembali, kembali pada Taehyung karena selama ini tanpanya, Taehyung merasa kacau dan kehilangan kendali.

Apa yang terjadi padanya? Taehyung tidak tahu. Namun dia selalu berharap pemuda itu ada di sisinya, tersenyum padanya, tertawa bersamanya, membagi suka dan dukanya, mengandalkan Taehyung dan hanya Taehyung. Meletakkan bahagianya di tangan Taehyung sehingga Taehyung bisa memberikannya seluruh dunia; apa saja agar dia tetap tersenyum, tetap menatap Taehyung dengan matanya yang berbinar dan senyumannya yang cerah.

Apa saja, apa saja agar dia tetap bahagia.

Taehyung mungkin sudah gila, tapi dia sama sekali tidak keberatan menjadi gila jika kewarasan berarti dia tidak bisa memiliki pemuda ini, memiliki Jungkook.

Dan saat pemuda itu melenting ke arahnya seperti busur panah yang dilepaskan, Taehyung menyambutnya ke dalam pelukannya. Punggungnya yang menghantam pintu tidak lagi terasa sakit saat beban tubuh Jungkook ada di dalam kedua lengannya. Bagaimana tubuhnya menempel dengan tubuh Taehyung dengan tepat seolah tiap lekukan tubuhnya dipahat untuk memenuhi lekukan tubuh Taehyung sendiri; mereka menyatu dalam pelukan yang terasa begitu intim dan hangat.

Taehyung merasa dirinya utuh; sesempurna apa yang mungkin tidak bisa dibayangkannya selama ini.

“Astaghfirullah,” bisiknya gemetar dengan tubuh Jungkook di pelukannya, terasa sempurna, hangat dan berdenyut oleh kehidupan. Rasa cinta membanjiri seluruh sistemnya; membuatnya nyaris muntah. Dia membenamkan wajahnya di rambut Jungkook, menghirup aromanya dalam-dalam dan berbisik, “Aku mencintaimu, aku mencintaimu....”

Walaupun dia tahu Jungkook tidak akan mendengarnya.

Lalu saat pemuda itu menguraikan pelukan mereka dan menatapnya, Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menakupkan kedua tangannya di wajah Jungkook yang hangat lalu menciumnya.

Ledakan adrenalin membuncah di dalam tubuhnya, Taehyung merasa pusing. Bibir Jungkook membelai bibirnya dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya sama sekali. Taehyung ingin terus menciumnya, membelai seluruh tubuhnya, membuatnya bahagia, membuatnya tersenyum, mencintainya dengan cara paling sempurna hingga Jungkook tidak akan pernah dicintai oleh orang lain sehebat cara Taehyung mencintainya.

* /I don't really know a lot about love

“GKI Gejayan, Mas tau?”

Taehyung mengangguk sementara dia meraih kunci mobilnya. “Ini Mas udah mau berangkat, kamu yakin dia di dalam?”

“Dia anak gereja Mas, gak bakal pernah telat kalo kebaktian. Dia udah di gereja,”

Taehyung menggenggam erat kuncinya dan meluncur ke garasi. Jantungnya berdebar dengan cara yang tidak familar sama sekali; begitu banyak hal tidak familiar terjadi pada tubuh Taehyung semenjak dia mengenal Jungkook. Terasa aneh namun nyaman. Taehyung menikmati reaksi-reaksi itu.

“Mas di perjalanan, tolong pastikan dia tetap di sana sampe ketemu Mas, oke?”

“Siap, Mas.”

Taehyung membanting pintu sedannya menutup dengan telepon genggam masih menempel di telinganya, “Mingyu?”

“Ya, Mas?”

“Terima kasih.”

Kekehan serak, “Anytime, Mas.”

* /But you're in my head, you're in my blood And it feels so good, it hurts so much

Taehyung mengucapkan pamit ke pendeta yang diajaknya bicara karena dia memiliki janji dengan orang lain. Dia tiba di gereja tepat sebelum kebaktian dimulai dan disambut oleh pendeta yang kebingungan karena seseorang yang mengaku sebagai Tim PR Kraton meminta izin untuk mengikuti ibadah Paskah mereka.

Namun Taehyung berhasil meyakinkan mereka bahwa ini berbeda dan akhirnya Taehyung berhasil masuk dan duduk di kursi paling depan. Dia menemukan Jungkook detik pertama dia memasuki ruangan; wajahnya, matanya dan bibirnya tidak pernah meninggalkan kepala Taehyung sehingga saat dia menyapukan pandangannya ke ruangan yang besar itu, dia langsung menemukannya.

Menatap ke arahnya dengan ekspresi syok yang menggemaskan.

Taehyung mungkin sudah gila bagaimana dia merasakan perasaan yang seharusnya dirasakannya pada perempuan, ke pemuda manis yang menjungkir-balikkan dunia normalnya. Menjadikan normal sesuatu yang membosankan, menjadikan adrenalin adalah candu yang membuat Taehyung terus dan terus kembali padanya.

Taehyung mungkin sudah gila. Tapi dia tidak membutuhkan kewarasannya sama sekali.

“Ayo sarapan,” katanya pada Jungkook yang mendongak padanya; tatapan matanya membuat hati Taehyung terasa diremas-remas; dia begitu mencintai pemuda ini hingga dia siap menghadang peluru sekali pun.

Dia siap melemparkan dirinya ke api dan membiarkan Jungkook menyaksikannya terbakar menjadi abu jika itu bisa membuatnya bahagia. Taehyung tidak peduli lagi pada apa pun; status sosialnya, agamanya—karena Jungkook telah mengajarinya bagaimana menjadi manusia.

Menjadi Taehyung yang sebenarnya, bukan status sosialnya dan bukan juga agamanya.

Jungkook tertawa geli, Taehyung menatapnya seperti orang buta yang baru menatap matahari untuk pertama kalinya. “Oke. Agak krinj tapi aku approve, karena itu kan, segel terkuat di dunia.”

Tidak bisa menahan dirinya sendiri, Taehyung mendesah lalu menunduk dan mencium Jungkook; kali ini lebih lembut dan lebih dalam, mengekspresikan cinta unik mereka yang mungkin tidak akan diterima semua orang. Mungkin akan dihina, dianggap menjijikkan dan dikucilkan. Perjalanan mereka akan berat—berat sekali. Taehyung tahu itu, dengan status sosialnya dan agama mereka dan bumi dimana mereka berdiri; ini akan jadi sebuah perjalanan panjang yang berat.

Tapi tidak masalah, selama Jungkook menerimanya—maka Taehyung akan baik-baik saja. Mereka akan menghadapi ini bersama.

Untuk sekarang, untuk detik ini; Taehyung bahagia. Jauh lebih bahagia dari kebahagiaan mana pun yang pernah dirasakannya selama dia hidup.

Dan semuanya sesederhana mencintai Jungkook.

*

Confusion

Jungkook menatap dirinya di cermin, merasa seperti bocah SMA yang akan kencan dengan kakak tingkatnya. Dia menyugar rambutnya, menyemprotkan parfum favoritnya kemudian mendesah. Bukankah dia sudah terbiasa dengan Taehyung? Kenapa sekarang terasa begitu berat dan aneh? Kikuk? Tegang?

Dia meraih jam tangannya, mengaitkannya di pergelangan tangannya lalu mulai mengemas buku kuliahnya ke dalam tas lalu tepat saat dia meraih ponselnya, benda itu berdering; Taehyung meneleponnya.

“Halo?” sapanya, menahan napas.

“Halo, Dek, Mas udah di depan.”

Jungkook tidak bisa menahan cengirannya. “Siap, aku turun.” katanya lalu mematikan sambungan dan menyelipkan dompet serta ponselnya di saku celana, menyambar kunci kosannya dan mengunci kosannya sebelum berlari menuruni tangga kosan ke arah sedan hitam yang menanti di depan kosan.

Satpam kosan menyapanya dan Jungkook melambai sebelum menghampiri sedan itu. Jendela penumpang turun dan Jungkook bertemu pandang dengan wajah Taehyung yang nampak bersih dan cerah dengan senyuman di bibirnya. Rambutnya disisir rapi, dia mengenakan kemeja putihnya yang biasa dan tumpukan kertas di jok belakang.

“Pagi?” sapa pemuda itu seraya membuka kunci pintu penumpang.

“Pagi,” balas Jungkook, membuka pintu dan menyelipkan tubuhnya ke kursi penumpang lalu menutup pintunya. “Tidurnya nyenyak, ga?” tanyanya kemudian memalingkan wajah, merasa bodoh dengan pertanyaan aneh itu.

Taehyung tertawa kecil sambil mengunci pintu mobil dan memasukkan perseneling dan mulai menjalankan mobilnya. “Nyenyak,” balasnya. “Kok tumben awkward? Biasanya ngoceh terus?”

Jungkook meliriknya dan Taehyung tersenyum setenang samudra; aroma parfumnya dan juga secercah aroma khas Taehyung membuat Jungkook tenang, merilekskan seluruh syarafnya yang tegang. “Ini sebenernya yang homo aku atau Mas, sih? Kok kayaknya Mas kalem banget?” tanyanya kemudian dan Taehyung tersentak geli.

Dia menoleh pada Jungkook saat berhenti di lampu merah pertama mereka. “Entah? Mungkin karena Mas ngerasa nyaman? Ya, kalo mau jujur, kadang kalo mau tidur, Mas masih suka kepikiran; kayak mengingatkan diri sendiri bahwa.... kamu itu cowok, Mas itu cowok. Agak aneh sih rasanya.” Dia tersenyum maklum.

Jungkook menatapnya yang sedang fokus ke jalan raya dengan tangan di kemudi, mencengkram erat benda itu seolah ingin meremukkannya. “Gapapa,” bisik Jungkook menyentuh pahanya. “Dulu aku juga gitu awal-awal nyadar kalo aku gay dan come out ke orangtua barengan Mingyu,”

Jungkook menatap ke jalanan. “Kadang masih suka nanya ke Mingyu, 'kita kenapa gini, ya?', kadang ngerasa gak normal, kadang pas stres ngerasa harusnya naksir cewek aja ya? Dan sempet tak coba, tapi gatau kenapa? Gak ada feeling-nya. Aku sama Mingyu di awal-awal fase sering nyoba kencan buta sama cewek, tapi gak ada yang nyantol. Gatau kenapa,” Jungkook tertawa getir dan Taehyung menepuk tangan di pahanya lembut. “Kemudian akhirnya, we decided to fuck it and live as we want to.”

“Kadang aneh,” Taehyung setuju, meremas tangan Jungkook lembut dan menenangkan. “Kadang pas kita kayak gini, Mas masih ngerasa agak aneh tapi perasaan sayang Mas ke kamu, perasaan ingin ngelindungin kamu, perasaan pengen deket kamu terus; nyamannya bareng kamu, ketawamu, humormu; Rasanya.... benar. Aneh tapi nyaman?”

“Belum terbiasa aja,” Jungkook tersenyum. “Nanti juga terbiasa. Aku bantuin dan bimbing Mas terus,”

Taehyung tersenyum. “Makasih udah mau sabar?”

“Anytime,” balas Jungkook, nyengir.

“Tolong ajari Mas, ya? Selama ini Mas gak pernah punya pacar, kirain karena Mas memang sibuk jadi males cari pacar. Dan dengan posisi sebagai Tim PR, kayaknya cewek-cewek lebih liat jabatan itu daripada pribadi Mas sebagai individu,”

“Belum pernah pacaran?” Jungkook menoleh, kaget luar biasa. “Muka cakep kayak Mas belum pernah pacaran? Kegilaan macam apa ini??”

Taehyung terkekeh. “Seriusan. Sebenernya karena emang gak ada waktu sih, tapi mungkin karena.... cewek itu gak menarik di mata Mas. Cantik, tapi yaudah gitu aja. Gak ada perasaan ingin memiliki, cuma sayang sebagai teman. Selebihnya kayak... menakutkan?” Dia mengendikkan bahu.

“Menakutkan,” ulang Jungkook perlahan, merasakan kata itu di lidahnya dengan perlahan, mencecapnya. Terasa aneh saat diucapkan oleh Taehyung yang emosinya steril seperti alat operasi. “Tapi aku gak pernah liat Mas beremosi lain selain tenang dan tenang.”

Taehyung tersenyum lebar saat membelok ke gedung Fakultas Hukum, “Didikan keluarga?” balasnya. “Mungkin Mas memang gay dari sananya? Makanya gak pernah pacaran? Dan baru kamu yang akhirnya menyadarkan itu? Gak tau. Mas gak mau terlalu memikirkan alasannya, terlalu rumit. Mas cuma mau hidup untuk saat ini; menikmati tiap menit yang bisa Mas habiskan bareng kamu. Segitu aja. Sisanya dan kedepannya, kita akan hadapi bersama, oke?”

Kalimat terakhir Taehyung mengirim sensasi tidak menyenangkan ke dasar perut Jungkook. Mereka bisa saja saling mencintai, bisa saja saling menjaga; namun mereka tetap memiliki perbedaan fundamental hasil keisengan manusia dalam mengklasifikasi dan mengotak-kotakkan kaumnya sendiri; status sosial dan agama. Landasannya pun tidak pernah jelas di mata Jungkook; jika dia ingin bersikap kasar dan tidak peduli, Jungkook dan Taehyung sekali pun tidak pernah memilih untuk terlahir dengan status sosial mereka dan juga agama yang mereka anut.

Namun, hidup tidak bekerja dengan cara itu.

Dia menelan gumpalan pahit di mulutnya dan tersenyum. “Bener,” katanya berusaha menjaga wajahnya tetap tenang agar Taehyung tidak membaca emosinya. Mobil berhenti.

“Nah, silakan,” kata Taehyung membuka kunci pintu Jungkook dan tersenyum. “Nanti kalo udah kelar kuliah, WA aja, ya? Mas kayaknya lumayan lama di kampus.”

“Okidoki,” balas Jungkook, nyengir lalu meraih tasnya, menyampirkannya di bahunya lalu menoleh akan mengucapkan perpisahaan saat Taehyung menyondongkan tubuhnya melewati kursi dan mengecup bibirnya kecil.

Jungkook bersyukur kepada Tuhan segala umat bahwa jendela mobil Taehyung dilapisi kaca film dua-arah karena mereka sedang di lingkungan kampus, demi Tuhan.

“Wow.” bisik Jungkook saat Taehyung mundur. Bibirnya terasa geli aneh lagi, seperti kali pertama Taehyung menciumnya. “Kayaknya aku gak bakal bisa terbiasa dengan sikap kayak gitu....”

Taehyung mendesah, nampak tidak memahami dirinya sendiri dan Jungkook menatapnya dengan perasaan yang terbelah oleh setengah rasa penuh cinta dan setengahnya lagi khawatir pada hubungan mereka. “You put me under your spell, you can just throw me into the flames. I will take a bullet for you.” Matanya nampak bening dan berkilauan, penuh tekad.

Apakah Taehyung melakukan hal yang benar dengan memacarinya? Karena dia nampak... kebingungan.

“Gombal,” kata Jungkook kering lalu membuka pintu. “Kuliah dulu, ya?” katanya dan melambai sambil keluar dari mobil. “See you!”

Taehyung menatapnya dengan tatapan frustasi yang membuat perut Jungkook semakin mual menggelisahkan. “See you,” bisiknya tersenyum separo lalu Jungkook menutup pintu mobil, mundur saat mobil itu memutar dan berlalu.

Jungkook menatap hingga mobil itu berlalu dan membelok ke jalan raya: Ya Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Pembicaraan 2

“Agaknya, Mas jatuh cinta sama kamu.”

Jungkook yakin dia baru saja bermimpi. Dia diam, tidak berani bergerak, tidak berani bernapas. Takut dia akan terbangun dan menertawai ini sebagai mimpi yang menyedihkan. Namun cara Taehyung mengucapkannya, begitu tenang dan jelas. Tegas seperti pembawaannya.

“Agaknya,” ulang Jungkook tanpa sadar dan Taehyung berdeham.

“Oh, iya, maaf.” katanya, kikuk.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan ini mengenal Taehyung, akhirnya Jungkook berkesempatan mendengarkan emosi lain selain ketenangan tidak manusiawinya. Dia nampak kikuk dan rikuh, telinganya memerah dan dia menggaruk tengkuknya; gestur gugup yang membuat Jungkook gemas.

“Sebenarnya setelah... Mas mampir ke kosmu, akhirnya Mas memutuskan untuk berpikir dulu. Mas gak mau kalo ternyata Mas hanya impulsif atau apa dan jatuhnya malah mengejek orientasi seksualmu...” Dia menalan ludah dengan keras. “Maksudnya..., sejak kamu datang ke kehidupan Mas, rasanya.... berbeda? Kamu jujur tentang dirimu sendiri, gak malu tentang pandangan orang lain; jadi dirimu sendiri dan hal itu bukan sesuatu yang Mas sering rasakan.

“Sebagai keluarga berdarah biru dan diserahi tugas sebagai tim PR, Mas selalu ngerasa ada sebuah image diri yang harus Mas jaga, tapi kamu....” Tangannya terkepal di atas lututnya sebelum kemudian meraih tangan Jungkook dan meremasnya dengan lembut. “Kamu kayak ngajarin Mas gimana caranya menjadi diri sendiri, menerima bahwa kamu berbeda, ya hal itu gak masalah. Kamu berbeda dan kamu oke atas itu. Mas bener-bener salut....

“Kalo kamu tersinggung masalah ciuman itu, Mas minta maaf. Mungkin seharusnya gak... nyium duluan tapi... ndak tau? Mas selalu gak faham kenapa tiap di dekatmu, Mas ngerasa bisa jadi manusia yang normal, sebagai Taehyung yang bukan anggota Kraton yang harus selalu ramah dan baik hati.

“Mungkin karena kamu selalu menerima orang-orang sebagaimana mereka sebenarnya tanpa menilai, tanpa nge-judge mereka, selalu merengkuh perbedaan mereka dan selalu ramah.... Kamu ndak pernah terlalu meninggikan Mas, kamu selalu menganggap Mas setara denganmu....

“Mas nyaman. Nyaman banget sampe Mas ngerasa Mas gak normal? Tapi kemudian, pas Mas nyadar bahwa kamu.... gay, Mas ngerasa; apakah aku juga? Ketertarikan yang Mas rasain ini apa? Apa sama dengan yang kamu rasain? Mas berpikir terus sampe akhirnya Mas berpikir,

“You only live once. Jadi..., Mas ajak kamu ketemu dan jelaskan semuanya.”

“Mas, tau gak cintaku ke Mas sebesar apa?”

Taehyung mengerjap, sejenak kebingungan sebelum terkekeh—menyadari bagaimana self-defense mechanism Jungkook bekerja saat dia kikuk dan malu. “Ndak tau, emang sebesar apa?” tanyanya, masih dengan tangan Jungkook dalam genggamannya, membelai punggung tangannya dengan lembut.

Sekarang setelah semuanya dibicarakan, Taehyung merasa hatinya begitu lega. Lapang dan damai, setelah akhirnya dia menyerah pada perasaannya sendiri bahwa dia memang jatuh cinta pada pemuda cerewet dari Jakarta yang sejak awal pertemuan selalu membuat Taehyung tertawa oleh tingkahnya, bagaimana dia selalu berusaha menjadi dirinya sendiri, bagaimana dia mengajak Taehyung untuk menerima segala kekurangannya....

Hal yang sama sekali tidak familiar dalam kehidupannya sebagai seorang anggota kerajaan.

Jungkook mengajarinya tentang emosi, tentang bagaimana menjadi manusia yang manusiawi. Tentang bagaimana berhenti bersikap menjadi robot dan menikmati hidup, tentang bagaimana untuk tidak takut bersikap seperti apa yang Taehyung inginkan.

Tentang bagaimana mencintai dengan ketulusan walaupun dianggap tidak wajar, tentang bagaimana cinta selalu memiliki bentuk yang tidak terduga.

Tentang diri Taehyung sendiri. Tentang kehidupan. Tentang Jungkook.

Dan tentang mereka berdua.

“Sebesar daun kelor.”

Taehyung mengernyit, bingung. “Lha? Kecil banget dong?” katanya agak kecewa namun lelaki di hadapannya, yang semanis gula jawa, tersenyum lebar.

“Tapi, kan, banyak.”

Dan untuk pertama kalinya dalam satu minggu, dan mungkin selama hidupnya, Taehyung tertawa terbahak-bahak—lepas dan bebas. Tidak peduli lagi pada aturan dan tata krama sebelum kemudian menatap Jungkook yang menatapnya dengan mata berbinarnya. Taehyung membawa tangan Jungkook ke wajahnya lalu mencium bagian dalam telapak tangan Jungkook dengan lembut dan intim hingga Jungkook merona hingga ke telinganya.

“Cinta Mas ke kamu, tau gak sekuat apa?” tanyanya kemudian, masih di telapak tangan Jungkook.

“Apa? Kalo krinj, aku gak approve.”

“Segel sosis.”

Jungkook tertawa geli sekaligus miris oleh selera humor Taehyung yang sekarang resmi rusak semenjak dekat dengannya. “Oke. Agak krinj tapi aku approve, karena itu kan, segel terkuat di dunia.”

Tidak bisa menahan dirinya sendiri, Taehyung mendesah lalu menunduk dan mencium Jungkook; kali ini lebih lembut dan lebih dalam, mengekspresikan cinta unik mereka yang mungkin tidak akan diterima semua orang. Mungkin akan dihina, dianggap menjijikkan dan dikucilkan. Perjalanan mereka akan berat—berat sekali. Taehyung tahu itu, dengan status sosialnya dan agama mereka dan bumi dimana mereka berdiri; ini akan jadi sebuah perjalanan panjang yang berat.

Tapi tidak masalah, selama Jungkook menerimanya—maka Taehyung akan baik-baik saja. Mereka akan menghadapi ini bersama.

Pembicaraan

Selama perjalanan, Jungkook menahan napas. Dia berpikir akan melihat jalanan Kraton yang ramah oleh wisatawan, penjual souvenir dan pedagang asongan yang dilewatinya pada hari pertama datang ke Kraton dan juga hari saat dia menjemput Taehyung untuk makan malam mereka. Namun tidak, mereka melewati jalan yang berbeda. Tidak melewati jalan yang sama, Taehyung mengarahkan mobilnya ke jalanan lain yang lumayan lenggang tidak mengarah ke Kraton sama sekali, alih-alih meluncur ke jalanan yang belum pernah dilihat Jungkook selama tinggal di Jogja.

Mobil kemudian meluncur masuk ke dalam halaman belakang rumah seseorang, masuk ke garasi dan diparkir di sebelah mobil mewah lain tapi Jungkook tidak mengenali arsitektur tempat ini sama sekali; nampak mewah dan tidak... seperti Kraton. Mereka sebenarnya kemana?

Taehyung menarik rem tangannya lalu membuka sabuk pengamannya, rambutnya acak-acakan dan dia menoleh pada Jungkook. “Yuk,” ajaknya, menanti Jungkook melepas sabuk pengamannya yang langsung dilakukan Jungkook dengan kikuk dan kaget.

Taehyung kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah yang besar dan megah, halamannya luas dengan tanaman-tanaman hias yang berwarna hijau cerah sehabis disiram, aroma lembut wewangian Jawa menyapa indera penciuman Jungkook. Dia sudah berada di dalam rumah megah dengan langit-langit tinggi, ada guci-guci mahal di beberapa sudut ruangan, aroma menyan lembut tercium dari seluruh penjuru ruangan, tercampur dengan aroma buatan cairan pembersih lantai. Ruangan terasa luas dengan jendela-jendela besar yang terbuka, suara gemericik air dari tebing buatan yang dialiri air yang diangkat dengan pompa menarik perhatian Jungkook.

Rumah itu terasa begitu terbuka dan menyenangkan, terasa hangat dan nyaman. Jungkook yakin jika dia berbaring di sofa maka dia akan terlelap begitu saja.

“Ini.... dimana?” tanyanya.

Taehyung tersenyum. “Kamu selalu ketemu Mas pas lagi di Kraton, ya? Ini rumah Mas yang asli, di kawasan Prawirotaman. Kebetulan hari ini semua sedang keluar, ayah Mas punya hubungan darah dengan orang sana tapi terlalu jauh jadi gak terlalu disorot masyarakat kecuali karena Mas bantu di pemerintahan sebagai tim PR,”

“Jadi, yah, teknisnya Mas bukan pangeran beneran, cuma sekadar berdarah biru.” Dia nyengir seraya membuka sepatunya di rak depan pintu ganda yang terbuka lebar. “Orang-orang salah ngira Mas pangeran karena sering di Kraton bantu-bantu, padahal sebenernya engga juga. Hubungan darah kerajaan itu rumit; bisa aja hubungan darahnya karena selir atau apa, ya kan?”

“Ayah Mas kerja?” tanya Jungkook kemudian, baru menyadari bahwa dia tidak pernah bertanya apa pun tentang kehidupan Taehyung sebelumnya. Sekarang dia menyadari bahwa dia tidak tahu apa pun tentangnya selain bahwa dia pangeran dan itu juga merupakan hal yang keliru karena garis keturunannya tidak sedekat itu.

“Eksportir kain batik,” Taehyung melambai ke hiasan dinding di rumah mereka yang berupa kain-kain batik tulis eksotis tua yang dibingkai dengan rapi. “Bisnis lagi bagus, jadi Ayah lebih sering di pabrik. Kapan-kapan Mas ajak ke pabrik ketemu pengerajin ya, boleh bikin batikmu sendiri juga. Ajak Yugi sama Mingyu,”

Taehyung meletakkan kunci mobil di guci kecil dekat pintu masuk lalu mengucapkan salam yang langsung dibalas oleh salah seorang asisten rumah tangga. “Sepatumu di taruh di sana saja,” dia kemudian meminta asisten rumah tangga itu untuk membuatkan minum. “Diantarkan ke ruangan kerja saya, njih,” tambahnya.

“Nanti tim PR akan datang,” katanya lagi sementara Jungkook meletakkan sepatunya di rak bersisian dengan sepatu Taehyung, berusaha keras untuk tidak membuat suara sekecil apa pun selama dia bergerak. Berusaha untuk menyatu dengan latar belakang. Namun karena memang dasarnya Jungkook anak yang berisik, dia tidak sengaja mengayunkan sepatunya terlalu keras hingga membentur guci di dekat rak sepatu.

Dan menimbulkan suara dentang keras yang membuat Jungkook sendiri berteriak kaget tertahan. Dan dua orang yang sedang berdiskusi dua meter darinya menoleh, sama kagetnya dengan suara dentang keras itu.

“Tenang, tenang!” serunya otomatis dan membuat ibu ART berjengit kaget. Menilai dari volume suara Taehyung, nampaknya tidak ada yang bersuara keras di rumah ini. “Gucinya gapapa, tenang semua tenang.” Dia langsung mengusap-usap guci di depannya dan mundur. Wajahnya memerah hingga ke telinganya dan dia tidak berani menatap Taehyung. Dia bergegas meletakkan sepatunya, berpura-pura tidak terjadi apa pun sementara dia mendengar Taehyung mendenguskan tawa kecil.

“Pancen cah pecicilan,” katanya geli sebelum kembali fokus ke ART mereka yang masih nampak berusaha menahan diri agar tidak tertawa. “Kalo pintu ruang kerja saya belum dibuka, tolong diminta menunggu, njih saya ada urusan sebentar dengan teman saya. Nanti ketuk dulu, njih.”

Dia lalu menatap Jungkook yang berusaha berdiri di sudut, berharap semua orang melupakan eksistensinya yang tidak berguna sama sekali. Taehyung terkekeh.

“Udah, ndak papa, wong gucinya juga gapapa kok. Ayo, sini.” katanya melangkah memasuki rumah dan Jungkook mengangguk pada ibu ART yang sekarang tersenyum ramah padanya.

“Njih, ndak apa-apa kok, Mas.” katanya menenangkan Jungkook yang tersenyum menyesal padanya. “Maaf, ya, Mbak,” katanya kikuk dan si ibu terkekeh.

“Mas mau minum apa? Disamakan dengan Aden atau?” tanya si ibu dan Jungkook sejenak menatap Taehyung yang sedang menerima telepon di depan pintu masuk ruangan yang terbuka.

“Iya, gapapa, Bu, disamakan aja.” sahutnya kemudian, terlalu takut untuk meminta hal-hal aneh dan si ibu mengangguk sebelum mundur pamit undur diri.

“Ayo,” Taehyung menyimpan ponselnya, menoleh pada Jungkook yang masih mengamati rumah Taehyung yang dipenuhi cahaya matahari yang melimpah. “Mau jalan-jalan sekitar rumah dulu?” ajaknya.

Jungkook lekas menggeleng, “Engga, engga,” dia mengamati batik-batik dan lukisan abstrak yang digantung di dinding. “Siapa yang suka lukisan?”

Taehyung menatap lukisan itu. “Mas,” katanya tersenyum. “Itu karya pelukis Bali yang besar di Jogja, sekarang sudah almarhum tapi Mas masih suka kontakan sama istrinya, anaknya kuliah di ISI, jurusan apa ya kemarin,” Taehyung membimbing Jungkook melangkah melewati ruang keluarga yang lenggang menuju ruangan-ruangan lain yang tertutup. “Oh, etnomusikologi. Musik etno, kamu harus denger dia main musik, keren.”

Taehyung mendorong pintu di hadapannya terbuka dan mempersilakan Jungkook masuk dan Taehyung menutup pintu di belakang mereka. Ruangan itu minimalis, namun dengan penataan barang yang baik, nampak luas dan nyaman. Ada satu meja kerja dengan laptop di atasnya, beberapa map dan kertas-kertas revisian skripsi. Rak buku di letakkan di dinding kanan, penuh dengan koleksi buku tebal. Ada seperangkat sofa di kiri ruangan, tidak besar tapi cukup untuk membuat ruangan penuh dengan nyaman. Ada jendela besar di dinding kiri sebelah sofa, menghadap ke halaman belakang yang luas dengan palem-palem di pinggirannya.

Jungkook menatap ke luar jendela, menemukan sumber suara gemericik air di sudut taman—kolam dan tebing buatan ditata dengan taman kecil yang penuh bunga bougenvil yang berwarna cerah. Rumah Taehyung nyaman sekali.

“Kadang gue lupa lo masih mahasiswa,” kata Jungkook mendudukkan diri di sofa, menatap sekelilingnya.

Taehyung melirik revisian skripsinya di meja. “Mas masuk kuliah terlambat, kok,” katanya kemudian membuat Jungkook menoleh. “Baru masuk pas umur 21 apa, ya? Setelah tamat SMA, sibuk bantu urusan pemerintahan dulu terus sebelum akhirnya Kanjeng ngingetin Mas buat kuliah,”

Jungkook terpana mendengarnya, pantas saja pembawaanya sedikit terlalu dewasa untuk ukuran mahasiswa, bagaimana dia bersikap begitu tenang, begitu berwibawa dan sebagainya; tidak seperti bagaimana mahasiswa biasanya walaupun sebenarnya Jungkook rasa anak-anak FISIP selalu bersikap tenang karena mereka, kan, anak politik. Namun Taehyung adalah kasus yang berbeda, sekarang semua pertanyaannya terjawab.

Mereka sejenak diam saat ART membawa minuman ke dalam ruangan, Jungkook mengamati saat beliau meletakkan dua cangkir terisi minuman berwarna merah kejinggaan dengan banyak dedaunan kering di dalamnya dan... Jungkook menunduk ke gelas, apakah itu serutan kayu?

Taehyung terkekeh, “Itu kayu secang, supaya warnanya jadi merah. Minuman ini namanya wedhang uwuh alias 'sampah' makanya isinya macem-macem, to? itu kesukaan Mas sih, ndak tau kamu suka ato gak, tapi coba diminum dulu,” katanya kemudian menutup pintu dan memberi pesan pada ART untuk tidak menganggu mereka dulu. “Kalo ndak suka, nanti biar diganti.”

Jungkook menyesap minumannya yang harum cengkeh dan terasa hangat. Rasanya tidak seaneh apa yang dipikirkannya; hangat dan harum. Dengan gula batu didasar gelas yang diaduknya hingga larut. Dia memejamkan mata namun menyadari kehadiran Taehyung di sisinya. Dia meletakkan cangkirnya di atas meja dan menghela napas, dalam hati membisikkan doa pada Tuhan dan memohon agar semua perbuatan baiknya yang tidak seberapa itu dapat ditukar dengan keajaiban.

“Jadi,” kata Taehyung, entah Jungkook hanya membayangkannya atau tidak, suara Taehyung sedikit bergetar walaupun dia berusaha mengontrolnya.

Mereka duduk bersisian, saling bersidiam. Tidak yakin bagaimana harus memulai pembicaraan mereka walaupun mereka tahu jelas apa yang seharusnya mereka bicarakan. Jungkook tidak berani menatap Taehyung dan dia juga merasakan Taehyung di sisinya tidak menatapnya sama sekali. Kaki mereka bersebelahan, bergeming. Begitu hening, hanya sayup-sayup suara para pengunjung Kraton dikejauhan.

Jungkook tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia langsung saja mengatakan maaf dan meminta Taehyung melupakan semuanya lalu hidup berdampingan sebagai manusia beradab? Lupakan bahwa Jungkook mungkin jatuh cinta padanya karena dia tahu dia tidak layak untuk Taehyung.

Apakah Taehyung tahu Jungkook jatuh cinta padanya? Harusnya iya; sikap Jungkook selama ini sudah cukup menjelaskan semuanya.

Ya Tuhan, tolong Jungkook. Tolong Jungkook. Tolong Jungkook...

“Agaknya Mas...” Taehyung berdeham dan menelan dengan sulit, nampak jauh dari kesan tenang penuh percaya dirinya yang biasa, Jungkook melirik dan melihatnya mengaitkan kedua tangannya di atas pangkuannya dengan kikuk. Itu baru dan tidak familiar di mata Jungkook. Tapi membuat Taehyung nampak jauh lebih manusiawi.

“Jatuh cinta sama kamu.”

Menghindar?

Tidak ada yang dilakukan Jungkook. Tidak juga Taehyung.

Mereka menjaga jarak begitu saja karena hal itu terasa benar; terlalu takut menghadapi apa yang mungkin mereka miliki secara mutual dan mungkin juga... tidak? Satu terlalu takut untuk bertanya, dan satu terlalu takut akan jawabannya. Mereka hanya secara natural menjaga jarak, mundur dan menenangkan diri. Seperti dua medan yang saling tarik-menarik, terlalu takut untuk mendekat dan meledak.

Rasanya seperti ada dua batu besar yang menghimpit dada Jungkook tiap kali dia memikirkan Taehyung. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya, tidak yakin apakah yang dirasakannya cukup nyata untuk menjadi perasaan atau tidak. Atau dia hanya menghayal?

Dia menatap lautan yang terbentang di hadapannya, bersama Mingyu yang sedang asik bermain air dan dia yang memilih duduk di bawah naungan tebing yang membentuk gua alami. Mereka membawa cukup camilan dan berkunjung ke pantai pada hari kerja berarti memiliki semacam pantai pribadi tanpa manusia lain sejauh mata memandang. Dia menemukan pantai ini di sosial media dan memutuskan untuk mengunjunginya; melepas penat dan pikirannya yang menyakitkan.

Mamanya menelepon dan Jungkook meyakinkan beliau bahwa dia sedang sakit dan sudah ke dokter—Mingyu sudah menjaganya dengan baik. Mamanya tidak perlu tahu tentang kisah cinta beda dunia yang sedang dijalaninya. Dengan pangeran muda Jogjakarta yang bisa saja mewarisi tahta, yang kebetulan tidak beragama sama dengannya dan tidak memiliki orientasi seksual yang sama dengannya.

Jungkook menumpukan kepalanya di lututnya, bernapas dengan mulutnya—semakin di pikir, kehidupannya semakin terasa menyedihkan saja.

Bibirnya kemudian terasa geli saat dia mulai mengingat ciuman yang diberikan Taehyung tempo hari. Dia mengerang, berguling di pasir saat mengingat bagaimana malunya dia saat Taehyung menarik wajahnya; matanya yang sayu, wajahnya yang steril tanpa ekspresi. Jungkook tidak yakin apa yang pangeran muda itu pikirkan; apakah dia marah? Apakah dia bingung? Apakah dia memaknai ciuman itu sama seperti Jungkook? Apakah dia sadar apa yang baru saja dilakukannya?

Apakah dia marah? Apakah dia membenci Jungkook sekarang?

Tidak ada yang bisa dibaca Jungkook dari ekspresinya yang setenang permukan danau.

Jungkook belum sempat mengucapkan maaf atau apa pun, saat Taehyung menegakkan tubuhnya. Rahangnya mengencang, nampak takut dan mungkin juga.... jijik? Lalu dia berbalik, menggumamkan salam dan pergi.

Begitu saja.

Jungkook berdiri di tempatnya, membeku dengan bibirnya yang terasa menebal aneh; geli dan kebas akibat ciuman singkat mereka. Terlalu terkejut untuk bicara dan memproses kejadian itu. Otaknya terasa macet dan dia ingin menangis; ada sesuatu di rongga dadanya yang terasa seperti ditusuk sembilu; satu organ di balik paru-parunya. Apakah itu hatinya? Jungkook tidak yakin, tapi rasa sakit itu perlahan menyebar—mulai membuat paru-parunya kebas, lalu lehernya, lalu kepalanya dan matanya yang memanas.

Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya.

Otaknya memutar kalimat itu seperti mantra, begitu menyakitkan dan tiap kali memikirkannya rasa sakit dibalik paru-parunya semakin menjadi-jadi. Dan dalam posisi membeku, pintu terbuka, air mata di sudut matanya dan butiran apel menggelinding di lantailah Mingyu kemudian menemukannya.

Sahabatnya menenangkannya, bertanya apa yang terjadi dan Jungkook hanya berkata: “Taehyung mampir.” dengan suara gemetaran tanpa menjelaskan apa pun lebih lanjut dan Mingyu, cukup lama berteman dengannya sehingga dia menghela napas dan tidak bertanya lagi.

Dia tahu dia harus memberikan waktu untuk Jungkook sebelum bertanya.

“Lo ngapain sih, anjir? Guling-guling kek anjing laut gitu?”

Jungkook mengangkat lengannya dari atas wajahnya dan menemukan Mingyu dalam balutan celana pantai pendek dan kaus kutang hitam, tubuhnya lembab oleh udara asin pantai dan kacamata hitamnya penuh titik-titik air. “Gapapa,” sahut Jungkook menegakkan tubuhnya.

Taehyung jijik padanya.

Mingyu menatapnya sejenak lagi sebelum mendudukan dirinya di sebelah Jungkook. “Gue mau makan dong, laper banget. Ini panas gila anjir,” katanya meraih kantung plastik dengan logo minimarket dan merogoh ke dalamnya, mengeluarkan nasi kepal kemasan yang langsung dibukanya, dihabiskan dalam dua suapan raksasa.

“Gimana? Udah enakan?” tanyanya kemudian pada Jungkook yang menatap ke laut lepas dengan kacamata hitam. “Perasaan elo gimana? Ada yang mau di-share ke gue?”

Jungkook tersenyum, menggeleng perlahan lalu mengulurkan tangan, Mingyu membalasnya dengan salam persahabatan mereka. “Thanks, bro,” kata Jungkook dan Mingyu tersenyum lebar.

Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya.

“Anytime, bro.” katanya menepuk bahu Jungkook akrab.

Sinar matahari begitu menyilaukan dan deburan ombak memekakkan telinga dengan cipratan-cipatan kecil yang terbawa angin membasahi wajah Jungkook yang telanjang dan terasa panas terbakar matahari. Dia menghela udara lembap pantai itu, memenuhi paru-parunya dan tidak menatap Mingyu yang sedang meneguk minuman kemasannya yang berembun saat dia berkata,

“Menurut elo, Taehyung tertarik sama gue?”

Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya.

Mingyu berhenti minum dan menoleh, menghela napas. “Jek, kita udah bicarain ini, oke?” katanya lembut dan Jungkook masih menolak menatapnya.

“Menurut elo aja,” tukas Jungkook keras kepala. “Gue siap kok sama jawabannya.”

Taehyung jijik padanya.

Mingyu menghela napas, menatap sahabatnya lekat-lekat, mencoba menguraikan garis-garis wajahnya, menerka apa yang dirasakan sahabatnya dan menilai reaksinya.

“Menurut gue dari pas kita ketemu kemarin...,” bisik Mingyu nyaris tidak terdengar di balik suara deburan ombak yang meninggi. “Dia tertarik. Tertarik macam apa, gue gatau.” tambahnya buru-buru sebelum Jungkook menanggapinya dengan salah.

Taehyung jijik padanya.

“Tapi, ya.” katanya lagi, kali ini menatap lautan luas bersama sahabatnya. “Gue rasa dia tertarik.”

Taehyung jijik pada... nya?

Kunjungan

Jungkook langsung melompat berdiri, mundur dari pintu sementara keturunan ningrat itu melepaskan sepatunya dan berdiri dengan kantung plastik makanan di tangannya. Dia berdiri setenang karang, dalam balutan polo shirt berwarna kalem yang memeluk tubuhnya dengan sempurna dan celana jins pudar; dia nampak begitu indah dan menenangkan hingga Jungkook ingin menangis.

Bagaimana bisa Tuhan memberikannya cobaan sekejam ini?

Keheningan yang menyelimuti mereka setelahnya terasa kikuk dan asing—seolah mereka belum pernah mengenal satu sama lain sebelum ini. Setelah Taehyung secara sadar maupun tidak telah menggambar sebuah garis pembatas dalam hubungan mereka dan memukul telak Jungkook mundur.

“Ngapain lo ke sini?” tanya Jungkook tanpa bisa mengendalikan suaranya sendiri dan terdengar begitu bengis dan dingin. Dia langsung menutup mulutnya setelah mengatakan itu, merasa bersalah. Namun pangeran di hadapannya tidak berjengit sama sekali oleh nada suaranya.

“Gak apa-apa,” balas Taehyung tenang lalu meletakkan plastiknya di lantai dengan lembut.

Entah mengapa, apa saja yang dilakukan Taehyung terasa begitu lembut dan penuh perhitungan. Dia tenang, kalem dan begitu baik. Sebuah kontras pada Jungkook yang ceria dan hingar-bingar, tidak bisa diam.

“Cuma bawa buah-buahan, tak pikir kamu sakit atau apa.” Dia kemudian menatap Jungkook dalam-dalam. Mengela napas dan, “Kalo Mas ada salah, tolong diceritakan. Kita cari solusinya bersama. Kalo kamu diem kayak gini, Mas juga gak tau Mas salah apa. Masalahnya juga gak kelar, kan?”

Dia mendekat selangkah, Jungkook secara sinkron mundur selangkah.

Gerakan itu membuat Taehyung berhenti dan akhirnya mundur dengan posisi menyerah. “Maaf,” katanya berbisik dengan sorot mata yang anehnya nampak terluka. “Mungkin ada kata-kata Mas pas kita jalan di Alun-alun itu yang bikin kamu tersinggung? Kalo masalah orientasi seksualmu...,” dia berhenti sejenak, menatap Jungkook, mengamati bagaimana reaksinya saat kata itu dibawa naik.

Jungkook bergeming, menatapnya. Tidak bereaksi sama sekali kecuali perasaan benci yang hebat terhadap dirinya sendiri karena telah dengan begitu bodoh menolak melihat bahwa Taehyung bukanlah ikan di kolamnya. Bukanlah bintang di langitnya. Bukan kaumnya. Sesuatu yang nampak begitu dekat namun tidak teraih; sebuah bayangan. Jungkook benci mengakui bahwa dia sudah bersikap ceroboh tentang hatinya sendiri.

Mungkin dia seharusnya kuliah di Jakarta saja.

“Mas sudah tau,” katanya kemudian membuat Jungkook terkesirap kecil. “Jelas,” tambah Taehyung tersenyum lembut. “Memangnya cowok normal bakal ngegombalin cowok lain dan terus-terusan bilang temennya itu, apa? Ganteng banget sampe bikin pusing?”

Jungkook mengeluarkan suara tercekik malu karena bersikap begitu terbuka pada Taehyung seolah-olah seluruh Indonesia Raya ini faham tentang homoseksualitas dan menerima mereka begitu saja dengan tangan terbuka.

Beberapa orang tentu tidak. Taehyung contohnya.

“Apa mungkin Mas membuat komentar yang bikin tersinggung?” tanya Taehyung lagi, masih berdiri setenang karang di depan pintu yang terbuka dengan kharisma kepemimpinannya yang menyilaukan. “Kalo iya, Mas minta maaf. Maaf sekali, apa pun yang Mas bilang, Mas gak pernah bermaksud bikin kamu tersinggung. Mungkin Mas yang kurang sensitif pada emosi-emosimu dan—”

Tidak perlu dilanjutkan, karena Jungkook kemudian meluncur ke arahnya, tidak benar-benar memahami serangan impulsif yang menguasainya lalu menubruk Taehyung yang terhuyung dan membentur pintu hingga tertutup; kedua lengannya otomatis memeluk Jungkook dan menahan tubuh mereka berdua agar tidak jatuh terjungkal ke belakang. Lengannya terasa kurus dan kuat memeluk Jungkook.

“Astaghfirullah,” bisik pemuda itu di rambut Jungkook dan Jungkook tidak mau mengangkat wajahnya sama sekali—biarkan dia begini, sebentar saja. Jungkook tidak akan meminta apa pun lagi. Bahkan jika memang setelah ini dia tidak boleh bertemu Taehyung lagi, maka Jungkook akan melakukannya. Jungkook seharusnya tahu dia tidak bisa bermain api dengan pangeran, seorang public figure yang dihormati di tanah yang ditumpanginya ini.

Jungkook merasa begitu rendah dan tidak memiliki harga diri—seperti Cinderella yang tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri bahwa dia jatuh cinta pada pangeran, pada seseorang yang tidak seharusnya. Tapi, masih beruntung Cinderella adalah perempuan. Masalah selesai semudah lamaran dan menikah.

Masalah Jungkook jelas tidak bisa diselesaikan dengan lamaran dan pernikahan.

Taehyung berbisik di rambutnya, Jungkook tidak bisa mendengarnya karena desiran darahnya sendiri di telinganya. Debaran jantungnya begitu kencang, bertalu-talu di rusuknya hingga Jungkook merasa rusuknya mungkin akan patah setelah ini.

Lalu saat dia mulai menguraikan lengannya di punggung Taehyung, menarik dirinya perlahan dengan kepala tertunduk dan siap menghadapi rasa malu yang akan menghantuinya seumur hidup, Taehyung meraihnya lalu mendaratkan ciuman.

Persis di bibirnya.

Dramatis

Jungkook meletakkan ponselnya dan berbaring nyalang menatap langit-langit kamarnya, masih menolak untuk bangkit dan menolak ajakan Mingyu untuk lari pagi bersama. Sahabatnya itu memang tidak betah berdiam diri dan Jungkook merasa tidak dalam suasana hati yang baik untuk berolahraga walaupun dia tahu keringat mungkin akan membuatnya merasa lebih baik.

Namun dia tidak ingin merasa lebih baik.

Seharian berjalan-jalan menemani Mingyu membuat perasaannya sedikit lebih baik namun rasa sakit aneh itu masih mengganjal di hatinya. Seperti gatal yang tidak bisa digaruk. Jungkook menghela napas lagi, meraih bantal dan memeluknya erat. Mencoba mengenyahkan bayangan tentang Taehyung yang ramah.

Bagaimana wajah bingungnya saat Jungkook berkunjung ke Kraton lagi bersama Mingyu hari itu. Dia berdiri di halaman, menerima beberapa wartawan yang sedang mewawancarainya tentang acara Jogja yang akan datang. Wajahnya secerah matahari—seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesayangannya dan mencoba menyelesaikan wawancaranya dengan cepat sementara Jungkook bersikap seperti kecoa dengan menghindarinya.

Mereka akhirnya bertemu di ruangan itu, ruangan batik tempat mereka bertama kali bertemu. Mingyu menyingkir dengan mulus, meninggalkan Jungkook dan saat pemuda itu berusaha mengajaknya bersikap manusiawi dan dewasa, Jungkook malah kabur.

Seperti anak kecil.

Jungkook menghela napas dalam-dalam lalu pintu kamarnya diketuk. Dia mengerang, “Masuk aja, Babi, gak dikunci,” serunya berpikir itu adalah Mingyu yang baru pulang berolahraga.

“Oh, oke.”

Suara itu bukan Mingyu.

Jungkook langsung terduduk tegak di kasurnya, mengumpat keras saat darah mengalir turun dari otaknya dengan tiba-tiba dan menoleh ke pintu yang terbuka.

“Assalamualaikum.”

Itu Taehyung.

The Royal Palace

“Kenapa sih anjir kita harus ke sini?”

Mingyu menurunkan kacamata hitamnya. “Ya, karena gue belum pernah ke sini?” katanya lalu menghampiri loket tiket dan membayar untuk dua orang; berjengit kaget saat ibu-ibu loket tiket meneriakkan jumlah tiketnya lewat TOA.

Mau tidak mau, Jungkook terkekeh.

Mereka memasuki Kraton dan Jungkook menghela napas. “Gue gasuka ke sini,” gerutunya sementara Mingyu asik memoto sekitarnya dengan ponselnya. Melihat sahabatnya menikmati waktu jalan-jalannya, dia akhirnya menyerah dan menemaninya.

“Ya, terserah? Gue suka, kok.” balas Mingyu hingga Jungkook yakin dia bisa saja melempas sepatunya dan melempar kepala Mingyu dengan itu jika saja dia tidak begitu sayang pada Mingyu.

Saat memasuki gerbang utama menuju bagian dalam, Jungkook tidak tahan untuk tidak menoleh ke rumah kediaman para keluarga dan terkesirap saat melihat seseorang yang berdiri di halaman dengan tiga wartawan mengelilinginya dengan alat perekam suara.

Mata mereka bertemu.

Taehyung mengulaskan senyuman ramahnya yang begitu cerah hingga Jungkook ingin meminjam kacamata hitam Mingyu karenannya. Dia melambaikan tangannya dan menggerakkannya, meminta Jungkook menunggu di tempatnya sementara dia menerima serentetan pertanyaan dari wartawan di hadapannya.

Jungkook mengabaikannya, dia menarik Mingyu menjauh dengan jantung berdebar. Tidak ingin menoleh dan mengabaikan Mingyu yang menyerukan protes karena gambarnya goyang karena kaget.

“Apa, sih?” tanya Mingyu membuka kacamata hitamnya. “Lo liat setan apa gimana?”

Jungkook membuka suaranya untuk bicara saat suara lain menyela mereka dengan setengah terengah-engah.

“Dek, kok kabur sih?”

Sial. Cepat sekali dia mengejar Jungkook.

Jungkook tidak ingin menoleh, sama sekali tidak. Dia ingin kabur. Menjauh dari aroma parfum yang akrab ini, suara halus itu, aura pemimpinnya yang menenangkan; bagaimana dia memegang kendali atas seluruh akal sehat Jungkook....

“Oh halo,” Mingyu mengulurkan tangan. “Mingyu.” katanya ramah. “Saya sahabatnya Jungkook dari Jakarta. Mas ini?” tanyanya.

Jungkook merasakan Taehyung membalas jabatan tangan Mingyu dengan ramah. “Halo, saya Taehyung. Temannya Jungkook. Njenengan sahabatnya to? Datang kapan?”

Mingyu nyengir. “Baru kemarin, ini minta diajak jalan-jalan mumpung ke Jogja. Mas ini... pangeran itu, ya? Yang Twitter-nya sering di-mention Jungkook?”

Jungkook ingin melempar Mingyu dengan sepatunya.

“Iya, itu saya. Tapi sebenarnya bukan.... pangeran juga sih, tapi mudahnya begitu.” balas Taehyung dengan keramahan ala kaum ningratnya yang sempat membuat Jungkook meleleh dan terombang-ambing pesonanya. Sebelum dia akhirnya tersadar bahwa Taehyung ramah pada semua orang.

Dia sama sekali tidak istimewa.

“Dek,” Taehyung sekarang menoleh ke arahnya. “Kenapa kok ndak bales chatnya?”

Mingyu berdeham berisik lalu menyingkir dengan perlahan. Jungkook ingin sekali menyorokkan pemuda itu ke dalam sumur di depannya. Taehyung berdiri di depannya, beraroma lembut batik tulis apak yang anehnya tercium seperti rumah, sejumput sandalwood kering dan wewangian khas barang-barang antik yang membuat Jungkook mabuk.

“Ngambek, Mas,” kata Mingyu dan Jungkook mendelik padanya, Mingyu meringis lalu bersiul-siul menjauh. Bajingan sial, kutuk Jungkook dalam hati.

“Hah?” Kebingungan Taehyung terasa begitu murni dan tulus hingga Jungkook merasa hatinya teremas-remas. “Kamu ngambek kenapa? Mas ada salah, po?”

Jungkook memejamkan matanya lalu bicara tanpa menatap Taehyung. “Elo gak punya apa gitu yang harus diurus? Kenapa nyariin gue? Star syndrome lo bingung karna gak ada lagi yang clingy nanya-nanyain elo apa gimana? Emang hidup gue isinya cuma clingy nanyain elo dimana lagi apa 24/7 padahal ditanggepin aja engga? Dih.”

Dan saat melihat ekspresi Mingyu di hadapannya, Jungkook tahu kalimatnya sangat salah. Kemudian, Jungkook melakukan hal paling konyol dan memalukan yang pasti akan disesalinya seumur hidup dengan berbalik dan kabur.

Mengabaikan panggilan Taehyung dan Mingyu.

Curhat

“Sini, sini cerita sama gue,”

Jungkook berbaring di kasur sebelah Mingyu yang nampak lelah setelah perjalanan dadakan menuju Jogjakarta walaupun dia sendiri berpendapat bahwa Jogja terasa jauh lebih ramah dan lenggang dari Jakarta dan dia menikmati perjalanannya.

“Ya, cuma kayak yang gue bilang kemarin aja sih, Ming. Gue juga salah gak bener-bener nanggepin nasihat elo kemarin yang ngingetin gue kalo dia itu public figure, perhatian orang-orang nempel di dia dan gue malah bersikap gegabah dengan terus-terusan ngejar-ngejar dia kayak orang gak punya malu.”

Mingyu menatapnya, menepuk kepalanya lembut. “Elo emang gak punya malu sih, gue udah gak kaget lagi.” Lalu mengaduh saat Jungkook memukul perutnya dengan kepalan tangannya. “Sakit, Babi!” seru Mingyu, berguling menjauh dari Jungkook yang mendelik padanya.

“Terus sekarang elo ada kontakan sama si Taehyung gak?” tanya Mingyu mengusap-usap perutnya yang nampaknya akan memar keesokan harinya.

Jungkook di sisinya, menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Dia berbaring dengan lengannya sebagai bantal dan nampak begitu merana. Mingyu tahu apa yang dirasakan sahabatnya; mereka sudah begitu lama bersama dan menghadapi tatapan-tatapan judgemental orang-orang di sekitar mereka karena orientasi seksual mereka.

Tidak terhitung orang-orang yang menolak mereka dengan jijik saat mereka menyatakan perasaan mereka. Pengalaman-pengalaman pahit yang alih-alih membuat mereka semakin kuat, terkadang membuat Jungkook jauh lebih rapuh pada penolakan. Jungkook jarang menaruh perasaan pada siapa pun semenjak terakhir kali dia mendapatkan penolakan, dia selalu percaya bahwa semua lelaki akan menolaknya.

Maka dari itu, saat Jungkook mulai berbicara tentang Raden Mas, Mingyu sudah menyiapkan diri untuk menjadi sandaran ketika akhirnya tidak baik. Demi Tuhan, Mingyu sempat berpikir lelaki ini setidaknya akan memperlakukan Jungkook dengan sopan.

Tapi mau bagaimana lagi? Mingyu seharusnya tidak percaya pada manusia.

“Engga, gue gak kontak. Biasanya emang gue yang kontak duluan, sih,” Jungkook kemudian meringis. “Gue kayak thirsty banget gasih? Malu-maluin.”

Jungkook tertawa, namun lengannya yang bebas menutupi matanya dan Mingyu tahu, sahabatnya mulai menangis lagi. Jadi dia bergesar, merangkul Jungkook dan meremas bahunya sayang.

“It's OK, it's OK, you got me.” katanya.

Saat Jungkook akhirnya tertidur kembali karena kelelahan menangis, Mingyu meraih ponselnya dan membuka Twitter. Mencoba mencari tahu apa yang sedang dilakukan Taehyung. Namun menyerah frustasi karena isi Twitter-nya sama sekali tidak menunjukkan jejak personalized dari pemiliknya; terlalu formal dan berjarak. Seperti isi Twitter Pak Presiden.

Dia baru saja meletakkan ponselnya di atas meja belajar Jungkook, memutuskan untuk mandi saat ponsel Jungkook berdenting tanda pesan dan notifikasinya membuat Mingyu terkekeh.