Confusion

Jungkook menatap dirinya di cermin, merasa seperti bocah SMA yang akan kencan dengan kakak tingkatnya. Dia menyugar rambutnya, menyemprotkan parfum favoritnya kemudian mendesah. Bukankah dia sudah terbiasa dengan Taehyung? Kenapa sekarang terasa begitu berat dan aneh? Kikuk? Tegang?

Dia meraih jam tangannya, mengaitkannya di pergelangan tangannya lalu mulai mengemas buku kuliahnya ke dalam tas lalu tepat saat dia meraih ponselnya, benda itu berdering; Taehyung meneleponnya.

“Halo?” sapanya, menahan napas.

“Halo, Dek, Mas udah di depan.”

Jungkook tidak bisa menahan cengirannya. “Siap, aku turun.” katanya lalu mematikan sambungan dan menyelipkan dompet serta ponselnya di saku celana, menyambar kunci kosannya dan mengunci kosannya sebelum berlari menuruni tangga kosan ke arah sedan hitam yang menanti di depan kosan.

Satpam kosan menyapanya dan Jungkook melambai sebelum menghampiri sedan itu. Jendela penumpang turun dan Jungkook bertemu pandang dengan wajah Taehyung yang nampak bersih dan cerah dengan senyuman di bibirnya. Rambutnya disisir rapi, dia mengenakan kemeja putihnya yang biasa dan tumpukan kertas di jok belakang.

“Pagi?” sapa pemuda itu seraya membuka kunci pintu penumpang.

“Pagi,” balas Jungkook, membuka pintu dan menyelipkan tubuhnya ke kursi penumpang lalu menutup pintunya. “Tidurnya nyenyak, ga?” tanyanya kemudian memalingkan wajah, merasa bodoh dengan pertanyaan aneh itu.

Taehyung tertawa kecil sambil mengunci pintu mobil dan memasukkan perseneling dan mulai menjalankan mobilnya. “Nyenyak,” balasnya. “Kok tumben awkward? Biasanya ngoceh terus?”

Jungkook meliriknya dan Taehyung tersenyum setenang samudra; aroma parfumnya dan juga secercah aroma khas Taehyung membuat Jungkook tenang, merilekskan seluruh syarafnya yang tegang. “Ini sebenernya yang homo aku atau Mas, sih? Kok kayaknya Mas kalem banget?” tanyanya kemudian dan Taehyung tersentak geli.

Dia menoleh pada Jungkook saat berhenti di lampu merah pertama mereka. “Entah? Mungkin karena Mas ngerasa nyaman? Ya, kalo mau jujur, kadang kalo mau tidur, Mas masih suka kepikiran; kayak mengingatkan diri sendiri bahwa.... kamu itu cowok, Mas itu cowok. Agak aneh sih rasanya.” Dia tersenyum maklum.

Jungkook menatapnya yang sedang fokus ke jalan raya dengan tangan di kemudi, mencengkram erat benda itu seolah ingin meremukkannya. “Gapapa,” bisik Jungkook menyentuh pahanya. “Dulu aku juga gitu awal-awal nyadar kalo aku gay dan come out ke orangtua barengan Mingyu,”

Jungkook menatap ke jalanan. “Kadang masih suka nanya ke Mingyu, 'kita kenapa gini, ya?', kadang ngerasa gak normal, kadang pas stres ngerasa harusnya naksir cewek aja ya? Dan sempet tak coba, tapi gatau kenapa? Gak ada feeling-nya. Aku sama Mingyu di awal-awal fase sering nyoba kencan buta sama cewek, tapi gak ada yang nyantol. Gatau kenapa,” Jungkook tertawa getir dan Taehyung menepuk tangan di pahanya lembut. “Kemudian akhirnya, we decided to fuck it and live as we want to.”

“Kadang aneh,” Taehyung setuju, meremas tangan Jungkook lembut dan menenangkan. “Kadang pas kita kayak gini, Mas masih ngerasa agak aneh tapi perasaan sayang Mas ke kamu, perasaan ingin ngelindungin kamu, perasaan pengen deket kamu terus; nyamannya bareng kamu, ketawamu, humormu; Rasanya.... benar. Aneh tapi nyaman?”

“Belum terbiasa aja,” Jungkook tersenyum. “Nanti juga terbiasa. Aku bantuin dan bimbing Mas terus,”

Taehyung tersenyum. “Makasih udah mau sabar?”

“Anytime,” balas Jungkook, nyengir.

“Tolong ajari Mas, ya? Selama ini Mas gak pernah punya pacar, kirain karena Mas memang sibuk jadi males cari pacar. Dan dengan posisi sebagai Tim PR, kayaknya cewek-cewek lebih liat jabatan itu daripada pribadi Mas sebagai individu,”

“Belum pernah pacaran?” Jungkook menoleh, kaget luar biasa. “Muka cakep kayak Mas belum pernah pacaran? Kegilaan macam apa ini??”

Taehyung terkekeh. “Seriusan. Sebenernya karena emang gak ada waktu sih, tapi mungkin karena.... cewek itu gak menarik di mata Mas. Cantik, tapi yaudah gitu aja. Gak ada perasaan ingin memiliki, cuma sayang sebagai teman. Selebihnya kayak... menakutkan?” Dia mengendikkan bahu.

“Menakutkan,” ulang Jungkook perlahan, merasakan kata itu di lidahnya dengan perlahan, mencecapnya. Terasa aneh saat diucapkan oleh Taehyung yang emosinya steril seperti alat operasi. “Tapi aku gak pernah liat Mas beremosi lain selain tenang dan tenang.”

Taehyung tersenyum lebar saat membelok ke gedung Fakultas Hukum, “Didikan keluarga?” balasnya. “Mungkin Mas memang gay dari sananya? Makanya gak pernah pacaran? Dan baru kamu yang akhirnya menyadarkan itu? Gak tau. Mas gak mau terlalu memikirkan alasannya, terlalu rumit. Mas cuma mau hidup untuk saat ini; menikmati tiap menit yang bisa Mas habiskan bareng kamu. Segitu aja. Sisanya dan kedepannya, kita akan hadapi bersama, oke?”

Kalimat terakhir Taehyung mengirim sensasi tidak menyenangkan ke dasar perut Jungkook. Mereka bisa saja saling mencintai, bisa saja saling menjaga; namun mereka tetap memiliki perbedaan fundamental hasil keisengan manusia dalam mengklasifikasi dan mengotak-kotakkan kaumnya sendiri; status sosial dan agama. Landasannya pun tidak pernah jelas di mata Jungkook; jika dia ingin bersikap kasar dan tidak peduli, Jungkook dan Taehyung sekali pun tidak pernah memilih untuk terlahir dengan status sosial mereka dan juga agama yang mereka anut.

Namun, hidup tidak bekerja dengan cara itu.

Dia menelan gumpalan pahit di mulutnya dan tersenyum. “Bener,” katanya berusaha menjaga wajahnya tetap tenang agar Taehyung tidak membaca emosinya. Mobil berhenti.

“Nah, silakan,” kata Taehyung membuka kunci pintu Jungkook dan tersenyum. “Nanti kalo udah kelar kuliah, WA aja, ya? Mas kayaknya lumayan lama di kampus.”

“Okidoki,” balas Jungkook, nyengir lalu meraih tasnya, menyampirkannya di bahunya lalu menoleh akan mengucapkan perpisahaan saat Taehyung menyondongkan tubuhnya melewati kursi dan mengecup bibirnya kecil.

Jungkook bersyukur kepada Tuhan segala umat bahwa jendela mobil Taehyung dilapisi kaca film dua-arah karena mereka sedang di lingkungan kampus, demi Tuhan.

“Wow.” bisik Jungkook saat Taehyung mundur. Bibirnya terasa geli aneh lagi, seperti kali pertama Taehyung menciumnya. “Kayaknya aku gak bakal bisa terbiasa dengan sikap kayak gitu....”

Taehyung mendesah, nampak tidak memahami dirinya sendiri dan Jungkook menatapnya dengan perasaan yang terbelah oleh setengah rasa penuh cinta dan setengahnya lagi khawatir pada hubungan mereka. “You put me under your spell, you can just throw me into the flames. I will take a bullet for you.” Matanya nampak bening dan berkilauan, penuh tekad.

Apakah Taehyung melakukan hal yang benar dengan memacarinya? Karena dia nampak... kebingungan.

“Gombal,” kata Jungkook kering lalu membuka pintu. “Kuliah dulu, ya?” katanya dan melambai sambil keluar dari mobil. “See you!”

Taehyung menatapnya dengan tatapan frustasi yang membuat perut Jungkook semakin mual menggelisahkan. “See you,” bisiknya tersenyum separo lalu Jungkook menutup pintu mobil, mundur saat mobil itu memutar dan berlalu.

Jungkook menatap hingga mobil itu berlalu dan membelok ke jalan raya: Ya Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?