Bicara
Taehyung menatap pemuda di hadapannya yang sedang menyuap makanannya. Di hadapan mereka, di meja makan dengan bagian roda yang bisa diputar, tersaji pelbagai macam makanan yang dimasakkan ART untuk mereka. Jungkook dipersilakan makan karena Taehyung menjemputnya setelah kelasnya selesai, sebelum sempat membeli makanan.
Ini kali kedua Jungkook mampir ke kediaman Taehyung yang ramah, ART mereka juga sudah mengenalinya saat Jungkook turun dari mobil dan membuatkannya teh jahe hangat dengan gula batu alih-alih wedhang uwuh seperti kali pertama mereka berkunjung dan Jungkook menatap Taehyung, sudah tahu bahwa dialah yang memiliki andil di pergantian menu minuman Jungkook ini.
Mereka sedang di ruang makan yang menyatu ke dapur, ada bar kecil di bagian utara dapur yang terisi sekeranjang buah-buahan segar dan kudapan kecil yang membuat Jungkook tergoda untuk meraih setoples nastar keju yang nampak berkilau oleh lapisan mentega dan kuning telurnya.
“Jadi,” kata Taehyung berdeham dan Jungkook mendongak dari piringnya. “Gak mau kasih tau Mas kamu kenapa?”
Jungkook menelan makanannya lalu meletakkan sendoknya. “Emang gapapa kalo ngobrol di sini?” dia melirik ke dapur, tempat ART mereka, Mbak Wan, lenyap beberapa menit lalu. “Maksudnya tar kalo adik atau orangtua Mas pulang gimana?”
“Bener juga,” desah Taehyung, menyugar rambutnya rikuh dan mendorong piringnya menjauh. Nampak kikuk dan tidak nyaman sehingga hal itu mengirimkan rasa berat ke hati Jungkook.
Dia kemudian mengalihkan pembicaraan. “Aku pengen minta maaf, sih,” katanya dan Taehyung mendongak. “Karena salah faham sama Mas?” katanya.
“Salah faham?”
“Mas ternyata bukan Pangeran?”
“Oh itu,” Taehyung terkekeh. “Gak apa-apa, mudah salah persepsi kalo nama Mas ada gelar ningratnya. Sebenernya kalo mau dijelaskan, bakal panjang dan ngejelimet, jadi biasanya kalo ada yang panggil Pangeran, Pangeran gitu ya Mas biarin aja. Gak merugikan siapa-siapa juga. Kalo orang Jogja asli, tau silsilah keluarga utama, pasti tau Mas cuma bantu-bantu gitu. Kalo orang pendatang ya pasti ngertinya pangeran karena keliaran di Kraton padahal cuma bantu-bantu,”
Dia kemudian menatap ke kain batik di balik kepala Jungkook. “Mungkin udah saatnya Mas mundur dari pemerintahan dan bantu Ayah di pabrik aja, kali, ya?” katanya kemudian lalu menatap lurus ke mata Jungkook. “Jadi, gak terlalu.... mengundang kalo kita jalan bareng?”
Jungkook diam. “Maksudnya?” katanya bingung, tidak yakin pada arah pembicaraan mereka.
“Mas lagi mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari Tim PR dan bantu di pabrik batik aja sama Ayah, menghindari lampu sorot. Capek juga sebenernya harus terus-terusan bersikap ramah dan baik hati, gak bisa bebas. Mungkin kalo kerja di pabrik, lebih leluasa? Secara emosional maksud Mas,”
Jungkook terpana, “Maksudnya... Mas mau ngelepas kerjaan di Kraton buat.... aku?”
Taehyung tersenyum. “Nah, you put it that way it sounds a lot better and simpler.” Dia kemudian terkekeh kecil, kembali menunduk ke piringnya yang terisi makanan. “Toh Mas juga emang harus mewarisi pabrik itu, kok, jadi lebih cepat aja. Mungkin bisa banyak belajar dulu, Ayah juga udah minta Mas ambil S2 manajemen.”
Jungkook masih diam, tidak sanggup memproses kata-kata Taehyung. “Emang.... gak apa-apa?” tanyanya lagi, mencicit seperti seekor tikus dalam cengkraman kucing. Sama ketakutannya, sama kecilnya; hanya saja Jungkook meras sangat bersalah karena lelaki di hadapannya harus mengorbankan sesuatu demi dirinya.
Sesuatu yang sangat dinikmatinya. Atau mungkin tidak.
“Ya, ndak papa,” balas Taehyung, nyengir. “Mas udah lama mikirin ini kok, sejak Ayah kena diabetes melitus dan mulai gak senerjik dulu, Mas emang udah didesak buat mundur dari kerjaan dan bantu Ayah di pabrik, jadi mungkin kamu alasan terbaik buat itu.”
Jungkook terpana. 'Kamu alasan terbaik buat itu.' Dan dia belum sempat menjawab saat seseorang meneriakkan Assalamualaikum dari pintu depan dan masuk dengan suara gedebak-gedebuk berisik yang dibuat-buat.
“Mas!”
Taehyung mendesah dan memutar bola matanya, “Mbok ya nek muleh ki salame sik apik, ulang,” katanya memutar tubuhnya menghadap ke pintu dan perut Jungkook mengejang saat melihat seorang remaja lelaki dengan seragam putih-abu SMA sedang melangkah masuk dengan tas laptop dan tas gendong besar di bahunya.
Dia nampak masam. “Ya opo sih, uwis kok. Assalamualaikum,” ulangnya dengan nada yang masih sama ketusnya hingga Taehyung terkekeh. “Kesel aku, Mas, wis to ah.”
“Iyo, iyo, rasah sengit.” katanya lalu melambai. “Kene tak kenalke mbek kancaku,” tambahnya menoleh pada Jungkook yang wajahnya setegang penggaris papan tulis. “Tenang aja, ndak papa,” Taehyung tersenyum lembut.
“Ini adikku, Taehwan,” kata Taehyung meremas bahu adiknya yang masih memberengut seraya menaikkan kacamatanya. Dia nampak mirip sekali dengan Taehyung kecuali bagaimana dia nampak lebih muda dan masam sepanjang waktu, kontras dengan Taehyung yang nampak segar dan ceria.
“Halo, Tekwan,” kata Jungkook melambai kecil pada anak remaja masam itu lalu mengerjap. “Eh, bukan, bukan. Taehwan. Halo. Maaf, keseleo.” Jungkook mengutuki dirinya sendiri karena sekarang wajah Taehwan nampak semakin masam dan memberengut permanen.
Taehyung terkekeh. “Gak papa, dia emang selalu dipanggil gitu sama Bunda,” katanya lalu mengaduh saat Taehwan menjambak rambutnya kesal. “Heh, ra sopan karo masmu og kepiye,” dia mendelik pada Taehwan yang balas melotot. “Taehwan, ini temen Mas, Jungkook. Anak UGM Hukum, isolah yo tanya-tanya, kan kamu pengen masuk hukukm, to? Ayo, kasi salam sik bener to ah, ngisin-ngisini tenan.”
Begitu mendengar bahwa Jungkook anak hukum, wajah Taehwan berubah jadi cerah dan ramah. Jungkook berhenti makan, karena saat dia tersenyum mereka terlihat kembar; kakak-beradik itu, kecuali bahwa jejak kedewasaan terpampang nyata di wajah Taehyung. Mereka berdiri berdampingan; satu dalam balutan seragam, satu dalam balutan pakaian semi-formal dan Jungkook pangling oleh kemiripan mereka.
“Halo, Kak, Assalamualaikum,” katanya ramah, meletakkan tas laptop di lantai lalu mengulurkan tangan pada Jungkook yang melirik Taehyung meminta pertolongan. “Kakak anak Hukum? Keren! Dulu Kakak SMA jurusan apa? Masuk UGM jalur apa.....”
“Ngene wae ramah koe, cah,” gerutu Taehyung lalu menunduk kembali ke makanannya dan makan dengan tenang. “Kono ganti baju sik, terus ngobrolnya nanti.”
Taehwan menatapnya sengit sebelum tersenyum ramah pada Jungkook. “Bentar, ya, Kak!” katanya ceria lalu meraih tasnya dan berlari menyeberangi ruang keluarga di depan meja makan, menaiki tangga melingkar menuju lantai atas seraya bersenandung.
“Maaf, ya, dia emang gitu. Kalo ada yang menarik perhatiannya, baru deh dia bener-bener peduli,” Taehyung terkekeh dan Jungkook tersenyum.
“Namanya juga anak remaja,” lalu dia berdeham. “Tapi... emang gapapa?”
Taehyung menoleh dengan alis terangkat. “Gapapa..., apa?”
Jungkook balas menatapnya dengan wajah berkerut-kerut. “Dikenalin ke adikmu? Nanti kalo dia... tau?”
“Tau...?” Taehyung nampak kebingungan dan Jungkook terus menatapnya dalam-dalam hingga akhirnya pemahaman melintas di matanya. “Ah, itu.” Dia kemudian berdeham kikuk, seolah baru memikirkannya.
Jungkook ingin berguling dan meringkuk di lantai lalu menangis saja karena bagaimana sikap Taehyung yang terkadang lupa bahwa mereka ini dianggap tidak wajar dan bagaimana orang-orang terkadang menyikapi itu dapat menyakiti perasaan mereka berdua, khususnya Jungkook. Dan bagaimana walaupun Taehyung bukan seorang pangeran resmi, posisinya yang lumayan penting juga akan memandang hal ini aneh.
Jungkook benar-benar tidak habis pikir.
“Yaudah kalo makanmu udah, kita ke ruang kerja Mas aja.” kata Taehyung kemudian dan Jungkook yang memang selera makannya sudah lenyap entah kemana sejak pembicaraan tentang mengundurkan diri dan pabrik batik dibawa naik, mendorong piring makanannya dan berdiri.
“Dek!” seru Taehyung ke lantai atas. “Mas mau bicara sik sama temen Mas garap tugas, nek mau ganggu nanti aja ya!” Lalu tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Taehyung meraih tangan Jungkook dan mengajaknya ke ruang kerjanya.