eclairedelange

i write.

Galau

Jungkook berbaring di ranjangnya, enggan bergerak barang sesenti pun sejak semalam. Matanya terasa gatal dan panas setelah semalaman menangis ditemani Mingyu via telepon. Dia bersyukur hari ini dia tidak ada kelas jadi dia bisa menghabiskan waktunya untuk mengurung diri di kosannya.

Dia membersit, menendang selimutnya menjauh lalu mengaduh saat kakinya terantuk ujung lemari plastik yang diletakkannya di ujung kasur. Dia bangkit dan mengaduh keras, mengusap-usap kelingkingnya yang terantuk sebelum mendesah keras dan kembali melempar dirinya ke kasur.

Dia teringat percakapannya dengan Mingyu sesaat sebelum dia berangkat menjemput Taehyung. Bagaimana sahabatnya itu berusaha untuk mengingatkannya tentang posisi Taehyung dan posisinya sendiri. Hanya karena Jungkook sudah come-out pada keluarganya sejak dia SMA lalu disusul oleh Mingyu, dia kemudian merasa semua orang sudah oke dengan homoseksualitasnya.

Dia benar-benar lupa dimana dia hidup dan bagaimana komunitasnya baru saja bergerak, menggeliat berusaha melawan tekanan berlabel “normal” yang abu-abu dari masyarakat.

Mereka juga sudah mengatakan pada orangtua mereka bahwa mereka tidak pacaran. Dan karena itulah Jungkook merasa di atas awan, tidak menyadari bahwa bagaimana pun positifnya reaksi orangtuanya, ada banyak orang yang belum terlalu familiar dengan konsep homoseksualitas.

Apalagi pemuda sekelas Taehyung.

Jungkook mengerang, meraih ponselnya dan melihat notifikasi dari Mingyu yang mengatakan dia akan menyusul ke Jogja. Sesuai percakapan terakhir mereka. Mingyu belum memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya dan memilih untuk membantu bisnis ayahnya sebelum melanjutkan kuliahnya.

Jungkook membalas pesan Mingyu lalu terseok-seok membawa dirinya ke kamar mandi untuk membasuh diri. Setelah mandi yang lama dengan air hangat kuku, Jungkook merasa lebih baik. Dengan handuk, dia mengeringkan rambutnya lalu kembali ke ranjang. Memutuskan untuk menyeduh minuman seraya menanti makanan yang dikirim Mingyu via ojek daring.

Kabur

Kemudian, semuanya terasa kabur. Persis seperti film bisu hitam-putih saat dobrakan di pintunya berhenti, suara klik-klik pistol dikokang dan suara keras otoriter seorang petugas meminta Jungkook untuk menjauh dengan tangan terangkat di atas kepalanya.

Taehyung tidak bisa merasakan atau mendengar apa pun saat pintu apartemennya terbuka, dia sedang meringkuk seperti bola di dekat sofa, mencoba melindungi dirinya sendiri dan terisak ketakutan.

Jimin. Suara Jimin yang pertama dikenalinya, sahabatnya itu merengkuhnya. Aroma Jimin begitu menenangkan dan familiar di indera penciumannya dan dia membalas pelukan Jimin, terlalu syok untuk mengatakan apa pun selain menangis.

Jungkook dibawa ke mobil patroli dengan tangan diborgol beserta barang bukti dan mayat perempuan yang belum sempat dibereskannya. Dia menatap Taehyung yang terbalut selimut dalam rangkulan ketat Jimin, tatapannya nampak sedih dan bersalah.

Atau mungkin Taehyung hanya berkhayal.

Setelahnya, setelah malam itu, Jimin tinggal bersamanya di apartemen Taehyung.

Garis polisi masih dipasang di depan pintu apartemen Jungkook sementara berita tentangnya disiarkan di saluran televisi nasional. Dia terbukti mengidap gangguan mental sehingga hukumannya diproses dan kuasa hukumnya mengajukan banding. Jungkook dikarantina di rumah sakit rehabilitasi dalam pengawasan dua puluh empat jam yang ketat jauh dari masyarakat.

Psikiater yang mengurusnya menyatakan bahwa gangguan kejiwaan Jungkook adalah ketidakmampuannya mengontrol emosi. Dia memiliki fantasy seksual bercinta sambil mencekik pasangannya dan lepas kendali hingga membunuhnya. Dalam hasil wawancara hipnosisnya, Jungkook mengakui bahwa dia tidak sengaja dan menangis.

Kejadian pertamanya adalah hari kepindahan Taehyung ke apartemen.

Dia terlalu lepas kendali hingga kekasihnya meninggal namun setelahnya menemukan sebuah fantasy tentang bagaimana hubungan seksual itu terasa begitu exciting.

Taehyung muntah saat Jimin menonton berita itu sehingga Jimin mematikan televisi dan memijatnya.

Taehyung teringat bagaimana Jungkook gemar sekali mencekiknya saat akan mencapai orgasme—dia menganggap hal itu seksi. Sebuah fantasy sex yang menyenangkan dan menggairahkan. Dia lelaki dengan tenaga lebih kuat dari Jungkook, dia bisa menghalau Jungkook. Tapi gadis-gadis itu mungkin tidak.

Jimin menemaninya semalaman, terjaga tiap kali Taehyung terbangun ketakutan membayangkan ada suara perempuan tercekik dari apartemen sebelah dan Jimin harus memeluknya hingga tertidur.

Di hari ke-30, Taehyung menyerah dan memilih tinggal bersama Jimin untuk sementara hingga suasana kembali tenang.

Dia menyerah dan meminta bantuan pada psikiater untuk menyembuhkan PTSD-nya dan rutin mengikuti kelas-kelas yoga untuk menenangkan pikirannya.

Singkat kata, dia mulai menyembuhkan diri.

Dari tetangganya, Jungkook.

Untitled

Taehyung membanting pintunya tertutup, menyelotnya kencang lalu memutar kuncinya dua kali dengan tangannya yang dingin dan gemetar lalu bersandar di baliknya. Napasnya menderu dan menyakiti telinganya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri saat melihat apa yang dilihatnya dan sialnya lagi, Jungkook melihatnya.

Dia menahan napasnya, berusaha tetap tenang. Tidak, tidak! Itu hanya perasaannya saja. Jungkook tidak melihatnya. Jungkook tidak melihatnya. Jungkook tidak—

Ponselnya berdering, Taehyung nyaris berteriak kaget namun dia bergegas membekap mulutnya sendiri dan meraih ponsel di sakunya, nama Jungkook tertera di sana dalam panggilan suara. Taehyung nyaris menangis, dia tidak ingin menjawabnya. Sama sekali tidak.

Telepon mati dan digantikan dua chat: Tae. Kau melihatku ya.

Lalu ketukan di pintu.

Taehyung terkesirap tertahan, ponselnya lolos dari tangannya dan suara kelotakan ponsel itu terdengar sangat keras hingga menyakiti telinganya yang sensitif oleh ketegangan. Dia ingin berteriak, ketegangan mencekik otaknya dan paru-parunya. Dia berharap Jimin sudah menelepon polisi dan merutuki dirinya sendiri karena tidak mengabaikan saran Jimin untuk diam saja.

Bodoh, bodoh! Taehyung bodoh!

Ketukan kembali terdengar.

Taehyung berbalik perlahan dan mengintip dari lubang, terkesirap kaget saat melihat Jungkook menatap persis ke matanya dari lubang intip. Matanya dingin dengan senyuman di bibirnya; lubang intip itu satu arah tapi entah mengapa tatapan itu menelanjangi Taehyung dengan cara yang tidak masuk akal. Jungkook tidak mungkin tahu dia sedang mengintip lewat sana, kan?

“Aku tahu kau di dalam sana,” katanya dari luar, suaranya tenang sekali Taehyung merasa pusing karena kekurangan oksigen. “Keluarlah, Taehyung.”

PERGI KAU, BANGSAT PEMBUNUH!

Taehyung merosot di balik pintu, berusaha menenangkan diri dan bernapas melalui mulutnya. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran keras yang menuntut. Jungkook rupanya sudah tidak sabar meladeni permainan Taehyung.

Kebodohan Taehyung karena dia kemudian memilih untuk mendengarkan dengan saksama sebelum dia kemudian mendengar sayup-sayup suara gadis yang bicara, dia menunggu dan menghitung hingga dua puluh sebelum beranjak ke pintu dan mengintip dari lubang intip.

Lorong begitu hening dan sepi.

Dia membuka selot pintu dengan perlahan, mencoba dengan kuat agar tidak menimbulkan suara sebelum membuka pintu menjadi celah kecil dan berteriak tercekik seperti seekor tikus saat melihat apa yang dilakukan tetangganya.

Jungkook sedang menarik keluar kantung sampah hitam besar. Tidak aneh, tentu. Jika saja benda itu tidak terjatuh dari tangannya yang licin dan terbuka. Sepotong tangan terjatuh keluar dan Taehyung terkesirap. Terlalu keras karena Jungkook menoleh.

Mata mereka bertemu.

Itulah yang kemudian membuat Taehyung harus mengalami hal ini.

“Taehyung. Aku tahu kau di dalam.” ulang Jungkook dengan suara mendayu-dayunya yang manis, suara yang menurut Taehyung menggemaskan, namun tidak lagi.

Sama sekali tidak.

Taehyung ingin muntah.

Selama ini, psikopat yang membunuhi semua perempuan itu bercinta dengannya. Berbaring di ranjangnya. Membantunya orgasme dan memasakkannya makanan. Bagaimana mungkin pemuda baik, ramah dan semanis Jungkook adalah orang yang sama dengan pelaku pembunuhan berantai terencana?

Selama ini, gadis-gadis yang didengar Taehyung bercinta dengannya, gadis yang dianggapnya hanya satu—kekasih Jungkook ternyata ada banyak dan semuanya mati setelah mereka orgasme.

Mati setelah mendapatkan seks paling liar dalam hidup mereka.

Taehyung ingin muntah.

Kemudian pintunya didobrak paksa.

Taehyung terhuyung oleh momentum itu dan terjatuh di lantai. Dia merangkak menjauh dari pintu, menyambar ponselnya dan menekan nomor Jimin yang tersambung namun tidak diangkat. Air mata meleleh dari sudut mata Taehyung tanpa bisa dikenalikan, tubuhnya gemetaran hebat—inikah akhirnya? Taehyung akan mati karena rasa penasaran bodohnya?

Menyedihkan sekali.

Pintunya didobrak lagi. Lebih keras.

“Kau tidak bisa menghindariku, Taehyung. Kau sudah melihatku. Maka kau harus bergabung dengan mereka.”

Silence

Taehyung menatap laptopnya yang kosong. Dia tidak sedang merevisi tugas akhirnya, tidak juga bimbingan daring seperti apa yang dikatakannya pada Jungkook dan Jimin.

Dia ingin mengetes sesuatu dan sangat berharap bahwa apa yang dipikirkannya salah. Dia menarik kursinya mendekat ke meja dan meraih gelas yang diletakkannya di atas meja, bukan untuk minum air tapi untuk mendengarkan lewat dinding.

Dia mendengar suara tawa perempuan di lorong dan menyadari bahwa Jungkook sudah pulang. Terdengar suara berisik percakapan mereka yang sayup-sayup dan denting pintu apartemen yang terbuka. Taehyung menahan napasnya, entah kenapa. Dia berusaha meminimalisir suara apa pun yang bisa mendistraksi perhatiannya dari mendengarkan apa yang tetangganya sedang lakukan.

Taehyung menempelkan gelas di dinding dan mendengarkan lewat pantulan gelas.

Tidak terdengar apa pun selain suara obrolan sayup-sayup sebelum satu desahan keras dan semuanya hening.

Taehyung bernapas melewati bibirnya yang terbuka, menahan suaranya agar tidak terlalu keras. Suasana kamar begitu hening hingga Taehyung takut apakah dia ketahuan? Atau apa?

Lama tidak terdengar apa pun, Taehyung akhirnya menarik dirinya mundur dari dinding dan meletakkan gelas di meja. Merasa konyol karena telah mencurigai tetangganya yang manis, ramah, menggemaskan dan gemar memberikannya makanan. Taehyung memutar bola matanya, bernapas lega seraya menyandarkan tubuhnya di kursi lalu memejamkan mata.

Mungkin dia harus beli makanan atau dia bisa menyeduh teh dengan banyak susu dan gula batu untuk dimakan bersama seboks scones buatan tangan Jungkook.

Merasa bahwa itu ide yang bagus, Taehyung akhirnya berdiri, meregangkan tubuhnya dan menguap lebar. Terkekeh karena telah curiga tanpa landasan sama sekali pada Jungkook. Mungkin hanya kebetulan Jungkook harus keluar tiap kali terjadi pembunuhan; dunia ini, kan, luas dan kebetulan itu bukan lagi hal yang aneh.

Bisa saja, kan? Tidak ada yang tahu.

Taehyung beranjak ke dapur, menyalakan kompor untuk membuat air hangat. Dia membuka kabinet di atas, mengambil stoples kaca terisi daun teh dan menuang beberapa jumput ke dalam mugnya dan mengambil gula batu.

Menambahkan dua butir, dia kemudian berdiri menatap kompor yang sedang mendidihkan air panasnya dengan keadaan setengah mengantuk.

Airnya mendidih, Taehyung mematikan kompor dan meraih teko yang digunakannya untuk membuat air panas. Menuang air panas ke dalam mugnya saat dia mendengar suara itu.

Jelas dan keras.

Suara perempuan yang tercekik.

Attempt 3

Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang membuat telinganya berdenging. Dia menyelinap keluar dari pintu apartemennya, memosisikan dirinya pada blind spot kamera CCTV di lorong saat berjalan ke arah apartemen Jungkook.

Dia berdiri menempel di tembok, mencoba untuk bersembunyi dari CCTV agar tidak merekam dirinya dan memasukan kode masuk ke apartemen Jungkook. Pintunya berdenting terbuka dan Taehyung menahan napasnya; menunggu seseorang bereaksi terhadap suara itu namun hening.

Semua pintu mengeluarkan suara itu sehingga Taehyung yakin tidak ada penghuni yang terlalu memikirkan suara itu. Taehyung membuka pintu terbuka dan mengintip ke dalam, gelap total.

Taehyung menatap lorong, menanti siapa saja yang mungkin lewat sebelum dia menyelinap masuk ke dalam kamar Jungkook dan menutup pintu di belakangnya. Dia belum pernah masuk ke sini, Jungkook yang selalu mampir ke apartemennya selama ini dan Taehyung juga tidak menemukan masalah kenapa dia harus ngotot bertamu ke kamar Jungkook.

Tangannya bergerak di dinding sebelah pintu dan menemukan saklar lampu, dia menekannya.

Lampu LED menyala dan menerangi seluruh ruangan.

Kamar Jungkook persis dengan kamarnya dengan satu ranjang besar, sofa, televisi, dapur kecil dan meja belajar. Aroma vanili menggantung rendah di ruangan itu, menandakan kesukaan Jungkook memanggang kue selama berada di ruangan. Ada apron dan kemeja chef tersampir di ujung kasur yang berantakan, nama Jungkook dibordir di sisi kirinya dalam benang merah dan nama sekolah tinggi pastry cukup terkenal tempatnya bersekolah.

Ada sisa makanan di atas meja, ramyun yang Taehyung yakin akan beraroma tidak enak dalam besok. Di rak atas dapurnya, berjejer beragam jenis tepung dan bahan membuat kue yang lebih lengkap dari mini market mana pun yang Taehyung datangi. Ada alat-alat memasak, dijejalkan dengan rapi di rak bawah yang terbuka setengah; tidak bisa sepenuhnya menutup. Cangkir dan gelas-gelas berjejer di dalam rak di sisi bak cuci piring, dapurnya nampak lebih rapi daripada keseluruhan ruangan.

Taehyung terkekeh, dasar anak kulinari.

Taehyung tidak menemukan hal yang aneh sama sekali di tempat Jungkook. Memberanikan diri dan memasang telinganya baik-baik mengantisipasi seseorang kembali—mungkin Jungkook yang tidak membalas pesannya selama dua hari ini, dia melangkah masuk dari pintu. Dia menuju lorong ke arah kamar mandi dan menyentuh handle pintu dan memutarnya, tangannya mendorong pintu terbuka.

Aroma basah dan aneh menyapa penciumannya. Dia menghela napas, menahannya dan mendorong pintu itu semakin terbuka. Engselnya sedikit macet sehingga Taehyung harus mengeluarkan sedikit lebih banyak tenaga; pintu berderit terbuka dan....

Teleponnya berdering nyaring.

“Bangsat!” seru Taehyung terkejut, relfeks menutup kembali pintu kamar mandi dengan suara debum keras mengejutkan dan bergegas merogoh ponsel di sakunya.

Nama Jungkook terpampang di sana dengan pemberitahuan Whatsapp bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang.

Attempt 1

Gedoran di pintu membuat Taehyung yang sedang mengunyah makanan nyaris tersedak, dia bergegas menyeka bibirnya dengan tisu dan meluncur ke pintu. Dari lubang intip dia melihat pengurus apartemen dengan beberapa orang polisi. Taehyung sudah menduga akan begini ujungnya karena mayat-mayat itu ditemukan di sekitar wilayah apartemen mereka dan apartemen adalah semacam hotel gratis.

Taehyung membuka pintunya. “Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” katanya ramah pada rombongan di depannya.

Seorang polisi maju ke depan dan menunjukkan lencana polisinya. “Selamat siang, Kim Taehyung,” katanya dengan nada formal. “Saya dari pihak kepolisian dengan surat tugas dan izin akan melakukan penggeledahan di apartemen Anda.”

Taehyung menatap surat yang disodorkan ke arahnya dan merasa tidak bisa lagi mendebat, akhirnya tersenyum. “Silakan,” katanya menyingkir dan mempersilakan polisi memasuki apartemennya. Toh dia tidak memiliki hal-hal melanggar hukum yang disembunyikannya di apartemennya.

“Maaf atas ketidaknyamanannya, ya, Mas.” kata pengurus gedung dan Taehyung tersenyum ramah padanya sementara dua polisi mulai menggeledah isi apartemennya. “Tidak, Pak. Ini, kan, demi ketenangan bersama juga.” balasnya lalu mengangguk pada polisi perempuan yang menghampirinya.

“Selamat siang, Kim Taehyung, saya boleh menanyakan beberapa pertanyaan terkait keberadaan Anda?”

Taehyung mengangguk, “Silakan.”

“Di mana Anda berada pada hari Minggu pukul 7 hingga 9 malam?” tanyanya menatap buku catatan di tangannya sebelum menatap Taehyung lekat-lekat di matanya.

“Saya di kamar, bersama rekan saya Park Jimin. Saya yakin dia bisa menjadi saksi dari alibi saya karena kami menghabiskan malam menonton televisi dan dia menginap di sini.” Taehyung lalu memberikan nomor telepon Jimin pada petugas untuk mengecek kebenaran alibinya.

“Rekaman CCTV juga menunjukkan bahwa Anda tidak pergi ke mana pun pada hari itu selain menerima kedatangan dua orang, yakni kawan Anda Park Jimin pada pukul enam sore dan seorang pengantar makanan pada pukul tujuh lewat lima belas menit.” Petugas itu membacakan isi catatannya yang membuat Taehyung lega bahwa CCTV sudah berhasil merekamnya sehingga alibinya valid.

Polisi yang tadi berada di dalam ruangan Taehyung akhirnya keluar dan mengangguk pada Taehyung. “Bersih,” katanya pada polisi perempuan lalu menatap Taehyung. “Terima kasih atas bantuan dan kerjasama Anda,” dia mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya hangat.

“Kembali kasih, Pak.” balasnya.

Kemudian para polisi pamit dan bergeser ke kamar Jungkook yang kosong.

“Penghuninya sedang keluar,” kata Taehyung pada rombongan itu. “Apakah Anda bisa menunggu sebentar? Saya akan coba kontak untuk menanyakan izin untuk membuka kamarnya dengan kunci master.” Taehyung melesat ke dalam untuk meraih ponselnya dan menelepon nomor Jungkook.

Tidak ada jawaban.

Taehyung mengetik pesan dan kembali mencoba meneleponnya.

Tetap tidak ada jawaban.

Taehyung menatap para polisi dan mendesah. “Tidak ada jawaban,” katanya dengan perasaan sedikit bersalah karena tidak bisa membantu situasi menjadi kondusif serta bertanya-tanya kemana kiranya Jungkook.

“Bagaimana, Pak?” tanya salah satu anak buahnya sementara atasan mereka menatap pintu yang tertutup dengan pandangan tidak terjelaskan dan pengurus gedung di sisinya, siap dengan kunci master.

“Kita akan kembali lagi ke sini nanti,” akhirnya pemimpin mereka memutuskan lalu akhirnya berbalik, memimpin anak buahnya untuk pergi sambil berbicara. Tidak cukup jauh atau pun pelan karena Taehyung masih bisa mendengarnya dengan jelas;

“Karena penghuni kamar ini tercatat meninggalkan unitnya berulang kali selama durasi terduga terjadinya pembunuhan.”

Taehyung mengerjap: apa?

Morning After Sex

”.... Polisi masih berusaha untuk mencari bukti-bukti dan keterangan lebih lanjut dari warga sekitar lokasi penemuan mayat perempuan ketiga dalam satu bulan ini. Pemerintah lokal telah menetapkan ini sebagai sebuah kejadian luar biasa dan meminta masyarakat untuk selalu waspada, khususnya bagi para perempuan yang pekerjaannya mengharuskannya pulang larut malam. Agar selalu siaga pada lelaki-lelaki mencurigakan yang mungkin menggoda mereka dalam perjalanan pulang.

'Sejauh ini, yang bisa kami simpulkan adalah bahwa pelaku merupakan predator seksual yang mengincar perempuan bertubuh mungil dan kurus. Hasil otopsi yang keluar menunjukkan cidera pada bagian vagina korban dan petugas juga menemukan pola bahwa keempat korban yang memiliki postur tubuh yang hampir sama yakni 155cm dengan berat badan maksimal 45kg.'”

“Isn't scary?” bisik Taehyung serak seraya memeluk Jungkook yang masih mendengkur halus di dadanya. Tangannya membelai bahu telanjang Jungkook dengan pola-pola menenangkan yang membuat pemuda itu membuka sebelah mata mengantuknya.

”'Pa?” tanyanya parau.

Taehyung mengendikkan kepalanya ke televisi. “Berita tentang perempuan-perempuan di tong sampah itu.” Dia kembali menatap televisi, menatap bagaimana tim mengangkat kantung jenazah ke ambulan dan penyelidikan dilanjutkan.

“Kenapa kau harus menonton berita menyeramkan begitu pagi-pagi, sih?” gerutu Jungkook, menyugar rambutnya dan menatap Taehyung. “Kau harusnya hanya menatapku dan aku,”

Taehyung terkekeh. “Lihat dirimu,” keluhnya. “Kupikir kau seorang player yang mematahkan hati banyak perempuan, tapi ternyata selembek bubur bayi di ranjangku,” dia merunduk, mengecup ujung hidung Jungkook dan terkekeh saat pemuda itu merespon ciumannya.

Jungkook mengalungkan tangannya ke leher Taehyung. “Ayo, bercinta denganku,” katanya parau.

“Kedengaran seperti, 'ayo pesan makan cepat saji',” balas Taehyung terkekeh lalu mengaduh saat Jungkook mencubit perutnya. “Kau berisik sekali saat menginginkan sesuatu,”

Jungkook menggeliat lalu berguling menindih Taehyung, selimut mereka jatuh dan memaparkan tubuh telanjang mereka ke udara dan cahaya matahari hangat yang mengintip dari tirai. Jungkook merunduk, mencium bibir Taehyung dan Taehyung melenguh.

Taehyung nampaknya harus membatalkan janjinya hari ini.

Berita

Taehyung menguap lebar saat bangkit dari ranjang, melipat selimutnya lalu membuka tirai jendelannya. Dia beranjak ke kamar mandi, mencuci mukanya dan menyikat giginya. Hari ini dia tidak punya janji bimbingan, jadi dia akan mengurus proses pembangunan bisnisnya saja via Whatsapp dan email bersama arsitek yang direkrutnya.

Dia benar-benar mempertimbangkan saran Jungkook untuk menjadikan tempat itu sebuah eatery. Dia sudah memberitahu ke teman-teman setimnya bahwa mereka juga harus mencari tim kitchen yang oke dan merekomendasikan Jungkook ke dalamnya. Tidak terasa, sudah sebulan Taehyung tinggal di apartemennya dan berteman dengan Jungkook yang rajin membawakannya makana-makana hasil pekerjaannya di kelas dan percobaan dapurnya sendiri.

Anak manis, Jungkook itu. Tersenyum, Taehyung menyalakan televisi sebelum menuju dapur untuk membuat kopi. Dia menempelkan telinga di dinding, mencoba mendengarkan apartemen sebelah dan tidak mendengarkan apa pun. Terkekeh, dia kembali memfokuskan dirinya pada kopi dan mendengarkan berita terbaru.

Jungkook pasti belum mandi.

Semalam Taehyung tidur dengan musik yang dinyalakan sedikit kencang demi meredam suara seks Jungkook yang berisik. Entah kenapa pemuda itu nampak gemar sekali membawa perempuan-perempuan berisik tiap kali butuh pelepasan dan Taehyung memutar bola matanya.

”... Hari ini kembali ditemukan jenazah perempuan berusia dua puluh satu tahun di tempat pembuangan sampah...”

Taehyung berhenti mengaduk kopinya dan menoleh, membawa mugnya ke konter dan mengamati layar televisi yang menampilkan video para petugas menarik sebuah kantung hitam besar keluar dari timbunan sampah.

“Polisi masih berusaha melacak pola pembunuhan ini dan mulai mencurigai pembunuhan berantai dan terencana. Masyarakat diharap untuk waspada....”

Taehyung mengamati headline berita dan tersentak saat melihat alamatnya berada di area apartemennya. “Manusia memang sudah gila,” katanya lalu membawa mug kopinya ke sofa dan memindahkan saluran saat pembawa acara di lapangan mewawancara polisi yang memimpin penyelidikan.

Dia mendengar suara pintu dibuka dan tersenyum. Jungkook sudah bangun rupanya, dia bergegas meletakkan gelasnya di meja dan beranjak ke pintu. Berdiri sejenak, dia mendengarkan suara Jungkook berpamitan dengan pacarnya. Sayup-sayup sebelum mengatakan perpisahan.

Taehyung menghitung hingga sepuluh sebelum membuka pintu dan mengejutkan Jungkook yang sedang menarik kantung sampah. “Hai!” serunya ceria dan Jungkook menatapnya masih dengan kekagetan di matanya.

“Maafkan aku!” kata Taehyung terkekeh. “Lihat wajahmu!” serunya menggoda dan Jungkook mendengus keras lalu meraih kantung sampahnya yang jatuh saat dia tersentak oleh suara pintu Taehyung yang menjeblak terbuka tanpa peringatan.

“Cewekmu sudah pulang?” tanyanya ramah. “Kau mau kubantu?” tawarnya kemudian saat Jungkook membawa kantung sampahnya. “Kau habis membuat pesta, ya?”

Jungkook memutar bola matanya. “Diam.” katanya dan Taehyung terkekeh. Jungkook membawa kantung sampahnya ke saluran pembuangan dan melemparnya ke sana lalu menarik tuas untuk menurunkan sampahnya. Kantung itu terjatuh dengan suara gedebuk berisik sebelum hening.

“Kau mau kopi? Aku lelah bertanya, berikan aku jawaban.”

“Kau berisik,” Jungkook terkekeh. “Aku mungkin ingin diberikan morning sex jika tidak keberatan,”

Taehyung mengulaskan senyuman separonya. “Oh, kau belum puas yang semalam?” tanyanya.

Hal ini dirahasiakannya dari Jimin. Saat suatu malam Jungkook menggedor pintu apartemennya dalam keadaan setengah mabuk, lalu mengajaknya berhubungan seksual seolah dia sedang mengajak Taehyung untuk pergi main ke taman. Dan mereka berakhir di ranjang Taehyung, telanjang tapi puas.

Jungkook memang seliar apa yang Taehyung dengar.

“Mungkin,” kata Jungkook menghampirinya dengan rambut mencuat-cuat berantakan, kaus oblong beraroma hangat dirinya dan celana bokser longgar, dia kemudian meraih Taehyung ke pintu dan mendorongnya masuk.

Tanpa aba-aba, mencium Taehyung yang terkekeh.

“Wah, sabar, Sayang,” kata Taehyung serak menghindari ciuman Jungkook yang merengek akibatnya. Taehyung menyelot pintu apartemennya sebelum meraih Jungkook ke pelukannya, mengaitkan kaki pemuda itu di pinggangnya dan menggendongnya. “Kau tidak lelah?” katanya.

Jungkook menggeleng, wajahnya merah padam dan Taehyung mengerang saat akhirnya mencium bibirnya dalam. Pemuda itu melenguh kecil saat Taehyung membaringkannya di ranjang, membelai tubuhnya dengan lembut dari bagian luar kausnya dan terkekeh serak saat mengusap dadanya yang tegang. Jungkook terengah, bibirnya terbuka dan merengek seperti bayi.

“Menurutmu, apa yang dipikirkan pacarmu saat melihatmu berbaring di bawahku pasrah begini, hm?”

Jungkook menjawabnya dengan desahan keras saat Taehyung membawa tangannya ke bagian tubuh Jungkook yang menebal oleh gairah lalu membelainya lembut.

“Oh, sayangku,” bisik Taehyung di telinga Jungkook lalu mengulumnya. “You're playing with the wrong person.”

Pagi itu, Taehyung mendapatkan sarapan yang jauh lebih lezat dari ekspektasinya.

Ginger Cookies

Taehyung menghela napasnya dalam-dalam, mengenggam paperbag Havest di tangannya dan bersiap untuk memasang poker face-nya menghadapi tetangga barunya. Tadi dia dengar suara tetangganya sedang mandi, membayangkan pemuda itu pasti sedang membereskan sisa 'permaiann' panasnya semalam.

Taehyung mendenguskan tawa lagi sebelum akhirnya membuka selot pintunya dan menarik gagang terbuka. Dia melangkah ke luar dan langsung di hadapkan pada pemuda manis yang balas menatapnya dengan ekspresi kaget yang menggemaskan. Dia membawa sebuah kaleng merah di tangannya dan menggunakan kaus band metal yang lusuh dan celana pendek.

“Oh, eh, halo?” sapa Taehyung kaget dan pemuda itu bahkan lebih kaget lagi.

“Halo, kau Taehyung?” balasnya dengan suara mendayu-dayu yang manis.

Taehyung mengerjap. “Iya, dan... kau?”

Pemuda itu terkekeh, saat melakukannya hidungnya berkerut dan wajahnya nampak selucu kelinci. “Halo, aku Jungkook. Tetangga barumu. Aku bertemu dengan temanmu tadi pagi saat turun membuang sampah. Dan dia bilang penghuni baru apartemen sebelahku bernama Taehyung.”

“Oh, kau!” kata Taehyung lalu mengulurkan tangannya yang bebas. Jungkook membalas jabatannya dengan kuat dan tegas, jenis jabatan tangan yang disukai Taehyung. “Halo, Jungkook. Aku Taehyung.”

Jungkook mengulaskan senyuman manisnya. “Halo, Taehyung. Senang berkenalan denganmu.” Dia lalu menyerahkan kaleng di tangannya. “Aku membuat kue pagi ini, kuharap kau suka?”

Taehyung menatap makanan di tangan Jungkook dan menatap pemuda itu—berulang kali hingga Jungkook terkekeh. “Ini buatanmu?” katanya.

“Yep,” balas Jungkook, kembali menghadiahi Taehyung senyuman dengan kerutan hidung itu. “Aku sedang kuliah di jurusan pastry, aku sering mempraktikkan resep yang kudapatkan di kelas. Senang akhirnya aku bisa memberikannya ke orang-orang.”

“Wow.” kata Taehyung menerima kaleng itu lalu teringat bawaannya sendiri. “Aku membelikanmu kue, kuharap kau suka cokelat?”

“Oh, tentu!” seru Jungkook ceria dan menerima paperbag yang diserahkan Taehyung. “Kau mengeluarkan banyak uang demi ini.” komentarnya saat mengenali merek dagang di bagian sudut bawah tasnya.

“Ah, tidak. Hanya karena aku tidak bisa memanggang kue sendiri, jadi menurutku Harvest oke,” dia mengendikkan kaleng di tangannya. “Kau mau mampir ke apartemenku? Kita buat kopi dulu atau?”

Jungkook nampak memikirkannya sejenak lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah, tidak masalah. Aku punya kelas jam satu hari ini. Kau?” tanyanya saat Taehyung memimpin mereka kembali ke apartemennya.

Taehyung memasukkan delapan digit kode akses masuk apartemennya dan mendorong pintu terbuka, mempersilakan Jungkook memasuki ruangan itu dengan menyingkir ke pinggir pintu. “Hari ini aku libur dan berencana membereskan sisa cucian kotor pindahan kemarin.”

Jungkook mengamati ruangan sementara Taehyung beranjak ke dapur untuk membuatkan mereka berdua kopi. “Wow. Kau menata tempatmu dengan baik, aku iri.” katanya melemparkan senyuman ramah pada Taehyung yang sedang berkutat dengan Nescafe Dolce Gusto-nya. “Aku harus belajar darimu,”

“Ah, terima kasih.” kata Taehyung. “Silakan duduk, anggap saja rumahmu sendiri.” katanya setelah berhasil mengoperasikan mesin pembuat kopi instannya. “Aku hanya melihat gambar-gambar di Pinterest dan memutuskan untuk mengadaptasinya.”

Jungkook mengangguk-angguk, masih mengamati ruangan dengan ketertarikan sopan yang menggemaskan. Seperti seekor kelinci gendut yang beradaptasi dengan lingkungan barunya. “Kau kuliah di jurusan apa?” tanyanya.

“Bisnis,” kata Taehyung. “Aku sedang mengurus tugas akhir jadi jamku agak longgar.” Dia membawa dua mug ke ruang tamu dan menyerahkan satu pada Jungkook yang menerimanya dengan penuh syukur.

Aroma kopi yang pekat dan segar menguar memenuhi ruangan itu, Taehyung menghirup isi mugnya sebelum menyesap dengan lega. Cairan itu lolos melalui kerongkongannya dengan mulus, menyisakan jalur hangat yang manis.

“Wow. Apakah kau adalah peran utama cerita fiksi yang mewarisi bisnis bsar ayahnya?” Jungkook terkekeh setelah menelan tegukan pertama kopinya.

“Tidak, tidak,” Taehtung terkekeh. “Aku sedang menjalankan bisnis sendiri sebenarnya, tapi masih dalam tahap perencanaan dengan beberapa temanku.”

Jungkook menoleh dari mugnya. “Benarkah? Keren. Bisnis apa?”

“Coffee shop,” Taehyung tersenyum. “Bagaimana menurutmu?”

“Menurutku?” balas Jungkook menggaruk alisnya seraya menerawang jauh saat memikirkan jawabannya. “Menurutku lebih baik membuat coffee and eatery. Maksudku, luaskan cakupannya. Coffee shop tidak akan bertahan lama, tapi jika kau berhasil punya tempat dengan makanan yang enak dan lokasi yang nyaman, maka orang-orang akan kembali.”

“Banyak coffee shop yang salah menjalankan bisnis karena hanya mengandalkan lokasi yang estetik, instagramable tapi lupa memperhitungkan aspek makanannya. Kafe lucu akan ramai, tentu. Hanya ramai oleh orang-orang penasaran yang ingin berfoto, jika makananmu tidak enak, mereka tidak akan kembali.”

Taehyung pasti memasang wajah aneh karena kemudian Jungkook merona dan tergagap. “Maaf,” katanya mencicit. “Aku terlalu banyak bicara, ya?”

“Tidak, tidak. Point of view-mu menarik. Kau tertarik bergabung dengan timku? Sebagai chef tentu.”

Tetangga Baru

Taehyung bersungut-sungut sementara Jimin sedang mengunyah pizza-nya, berbaring di sofa lembut ruang tamu menonton televisi. Dia sedang menunggu ojek daringnya yang sedang membeli makanan tambahan mereka yang Taehyung yakin dilupakan Jimin untuk membelinya. Tidak ada alasan lain saat Jimin muncul di depan pintu dengan tangan kosong dan mengatakan, “Aku lupa, kita pesan daring saja, ya?” dengan cengiran tanpa dosanya.

Taehyung mengalah dan akhirnya setuju untuk membelinya via layanan daring. Mereka akhirnya duduk berdampingan di sofa, menonton televisi dan menikmati pizza yang Taehyung beli.

“Kau masih ngambek?”

Taehyung memutar bola matanya. “Tidak juga,” katanya meraih sepotong pizza lagi dan menyuapnya besar. “Memangnya kapan aku bisa marah padamu lebih dari satu jam?”

Jimin nyengir. “Aku tidak sengaja sungguh, terlalu fokus mencari alamat barumu dan baru ingat aku harus membeli makanan tambahannya saat aku memencet tombol lift. Serius. Aku tidak bohong.”

Taehyung terkekeh, menyuap sisa pizanya lalu mengusap rambut Jimin lembut. “Tenang saja, kau dimaafkan.” katanya kalem lalu bersandar lebih dalam di sofanya yang selembut bulu angsa. “Kau akan menginap malam ini?” tanyanya kemudian.

“Jika kau mengizinkan?”

“Tentu.”

Jimin mengendikkan bahu, meraih salah salah satu side dish di dalam boks piza dan mulai menyuapnya. “Maka aku akan tinggal,” katanya. “Kau punya nasi tidak? Aku lapar.”

“Kau, kan, sedang makan?”

“Spageti tidak akan mengeyangkanku, aku butuh nasi.”

Taehyung mendenguskan suara serupa tawa geli. “Aku belum masak apa pun, menurutmu kenapa aku memilih memesan lewat layanan daring? Kau harus puas dengan ini saja.”

Jimin menyuap spagetinya dengan lahap. “Aku akan pesan makanan lain setelah pesanan kita datang,” katanya dengan penuh tekad dan Taehyung terkekeh.

Suara bel pintu membuat mereka berdua menoleh dan Taehyung menggeliat sebentar sebelum menarik dirinya menjauh dari sofa yang nyaman dan berseru. “Sebentar,” pada orang di balik pintu.

Terseok-seok, dia menghampiri pintu dan mengintip dari peeking hole, menemukan seorang pengendara ojek daring berdiri di depan pintu dengan canggung membawa tas plastik minimarket yang penuh dengan belanjaan.

Taehyung membuka selot pintu dan membukanya. Pengemudi itu nampak tenang dan lega. “Taehyung?” tanyanya dan Taehyung mengangguk. “Ya, saya, Pak.” balas Taehyung.

“Ini belanjaannya, ya, Kak.” kata pengemudi itu menyerahkan plastik di tangannya.

Taehyung menerimanya. “Terima kasih, ya, Pak. Pembayarannya via aplikasi, ya?” sahutnya dengan plastik berkeresak di tangannya; terasa berat oleh soda dan bir dalam botol kaca.

“Ya, Kak. Terima kasih kembali.” Pengemudi itu mengangguk lalu berlalu sambil menatap ponselnya, menyelesaikan proses transaksi.

“Ini minumannya,” seru Taehyung ke dalam apartemen seraya mengintip ke dalam plastik untuk mengecek belanjaannya. Dia baru saja akan menutup pintu saat suara pintu lain berdenting terbuka.

Dia mengurungkan niatnya lalu menjulurkan tubuhnya keluar, hendak menyapa tetangganya sekaligus memperkenalkan diri sebagai tetangga baru dan akhirnya mengurungkan niatnya. Karena dia melihat tetangganya sedang sibuk menciumin gadis di pelukannya dengan suara kecupan berisik yang basah. Taehyung mengerjap, terlalu kaget selama beberapa detik adegan itu sebelum pemuda yang dipikir adalah tetangganya karena dia yang memasukkan kode ke pintu, mendorong pintu terbuka dengan kakinya dan menarik gadis itu ke dalam.

Taehyung bergegas menarik tubuhnya masuk kembali ke dalam apartemen dan menutup pintunya dengan suara sedikit terlalu keras.

“Calm down, bish. Kenapa, sih?” tanya Jimin terkejut oleh suara bantingan pintu tadi.

Taehyung menggeleng, berusaha menahan histeria yang meledak di perutnya namun gagal karena kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Jimin menoleh ke arahnya dengan piza di tangannya.

“Mau berbagi leluconnya?” tanya Jimin dengan alis terangkat sebelah.

“Kau tahu,” kata Taehyung berusaha menenangkan tawanya sebelum menjawab. Wajahnya memerah dan air mata turun di sudut matanya, dia menyekanya dengan punggung tangan lalu menghela napas dalam-dalam. “Sebentar lagi kita akan dapat pertunjukan siaran langsung.”

“Maksudmu?” tanya Jimin, semakin kebingungan. “Kau memang selalu aneh, tapi belum pernah seaneh ini, Bung.”

Alih-alih menjelaskan, pemuda kurus itu meraih remote televisi dan menjeda suara film yang sedang mereka tonton. “Sssh, dengarkan.” katanya, meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

Jimin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun urung saat suara lain membuat mereka terdiam, lalu membekap mulut masing-masing agar tidak terbahak-bahak.

Suara desahan.

“Wow.” bisik Jimin tertawa tanpa suara hingga perutnya sakit. “Woow, dengarkan itu!” katanya dan Taehyung merosot turun berlutut di lantai saat suara gadis itu terdengar semakin kuat disertai suara dinding yang heboh.

“Bung, tetanggamu punya permainan yang panas. Pasti panas sekali. Wow. Dengarkan itu,” Jimin berbisik lalu tertawa lagi. “Wow. Don't you want to be pounded hard like that?”

“Shut up!” desis Taehyung dan kembali tertawa, gemetar di lantai.

“Your neighbor got a very nice dick game, I guarantee you. Dengarkan suara itu,” Jimin terkekeh. “Sudah, sudah. Ayo nonton film lagi, aku tidak tertarik mendengarkan kehidupan seks orang lain serius.”

Taehyung mendengarkan sebentar lagi sebelum akhirnya menghela napas, lelah akibat tertawa dan kembali menyalakan suara televisi. “Besok akan jadi hari yang awkward saat berkenalan.” Dia mengenyakkan pantatnya di sofa, kelelahan akibat tawa dan perutnya terasa kram.

Jimin terkekeh. “Usahakan untuk memasang poker face andalanmu, oke? Katakan sesuatu seperti, 'tidak, aku tidak dengar apa pun semalam tapi aku tau, you got a nice dick game'.”

Mereka kembali tertawa.