Berita
Taehyung menguap lebar saat bangkit dari ranjang, melipat selimutnya lalu membuka tirai jendelannya. Dia beranjak ke kamar mandi, mencuci mukanya dan menyikat giginya. Hari ini dia tidak punya janji bimbingan, jadi dia akan mengurus proses pembangunan bisnisnya saja via Whatsapp dan email bersama arsitek yang direkrutnya.
Dia benar-benar mempertimbangkan saran Jungkook untuk menjadikan tempat itu sebuah eatery. Dia sudah memberitahu ke teman-teman setimnya bahwa mereka juga harus mencari tim kitchen yang oke dan merekomendasikan Jungkook ke dalamnya. Tidak terasa, sudah sebulan Taehyung tinggal di apartemennya dan berteman dengan Jungkook yang rajin membawakannya makana-makana hasil pekerjaannya di kelas dan percobaan dapurnya sendiri.
Anak manis, Jungkook itu. Tersenyum, Taehyung menyalakan televisi sebelum menuju dapur untuk membuat kopi. Dia menempelkan telinga di dinding, mencoba mendengarkan apartemen sebelah dan tidak mendengarkan apa pun. Terkekeh, dia kembali memfokuskan dirinya pada kopi dan mendengarkan berita terbaru.
Jungkook pasti belum mandi.
Semalam Taehyung tidur dengan musik yang dinyalakan sedikit kencang demi meredam suara seks Jungkook yang berisik. Entah kenapa pemuda itu nampak gemar sekali membawa perempuan-perempuan berisik tiap kali butuh pelepasan dan Taehyung memutar bola matanya.
”... Hari ini kembali ditemukan jenazah perempuan berusia dua puluh satu tahun di tempat pembuangan sampah...”
Taehyung berhenti mengaduk kopinya dan menoleh, membawa mugnya ke konter dan mengamati layar televisi yang menampilkan video para petugas menarik sebuah kantung hitam besar keluar dari timbunan sampah.
“Polisi masih berusaha melacak pola pembunuhan ini dan mulai mencurigai pembunuhan berantai dan terencana. Masyarakat diharap untuk waspada....”
Taehyung mengamati headline berita dan tersentak saat melihat alamatnya berada di area apartemennya. “Manusia memang sudah gila,” katanya lalu membawa mug kopinya ke sofa dan memindahkan saluran saat pembawa acara di lapangan mewawancara polisi yang memimpin penyelidikan.
Dia mendengar suara pintu dibuka dan tersenyum. Jungkook sudah bangun rupanya, dia bergegas meletakkan gelasnya di meja dan beranjak ke pintu. Berdiri sejenak, dia mendengarkan suara Jungkook berpamitan dengan pacarnya. Sayup-sayup sebelum mengatakan perpisahan.
Taehyung menghitung hingga sepuluh sebelum membuka pintu dan mengejutkan Jungkook yang sedang menarik kantung sampah. “Hai!” serunya ceria dan Jungkook menatapnya masih dengan kekagetan di matanya.
“Maafkan aku!” kata Taehyung terkekeh. “Lihat wajahmu!” serunya menggoda dan Jungkook mendengus keras lalu meraih kantung sampahnya yang jatuh saat dia tersentak oleh suara pintu Taehyung yang menjeblak terbuka tanpa peringatan.
“Cewekmu sudah pulang?” tanyanya ramah. “Kau mau kubantu?” tawarnya kemudian saat Jungkook membawa kantung sampahnya. “Kau habis membuat pesta, ya?”
Jungkook memutar bola matanya. “Diam.” katanya dan Taehyung terkekeh. Jungkook membawa kantung sampahnya ke saluran pembuangan dan melemparnya ke sana lalu menarik tuas untuk menurunkan sampahnya. Kantung itu terjatuh dengan suara gedebuk berisik sebelum hening.
“Kau mau kopi? Aku lelah bertanya, berikan aku jawaban.”
“Kau berisik,” Jungkook terkekeh. “Aku mungkin ingin diberikan morning sex jika tidak keberatan,”
Taehyung mengulaskan senyuman separonya. “Oh, kau belum puas yang semalam?” tanyanya.
Hal ini dirahasiakannya dari Jimin. Saat suatu malam Jungkook menggedor pintu apartemennya dalam keadaan setengah mabuk, lalu mengajaknya berhubungan seksual seolah dia sedang mengajak Taehyung untuk pergi main ke taman. Dan mereka berakhir di ranjang Taehyung, telanjang tapi puas.
Jungkook memang seliar apa yang Taehyung dengar.
“Mungkin,” kata Jungkook menghampirinya dengan rambut mencuat-cuat berantakan, kaus oblong beraroma hangat dirinya dan celana bokser longgar, dia kemudian meraih Taehyung ke pintu dan mendorongnya masuk.
Tanpa aba-aba, mencium Taehyung yang terkekeh.
“Wah, sabar, Sayang,” kata Taehyung serak menghindari ciuman Jungkook yang merengek akibatnya. Taehyung menyelot pintu apartemennya sebelum meraih Jungkook ke pelukannya, mengaitkan kaki pemuda itu di pinggangnya dan menggendongnya. “Kau tidak lelah?” katanya.
Jungkook menggeleng, wajahnya merah padam dan Taehyung mengerang saat akhirnya mencium bibirnya dalam. Pemuda itu melenguh kecil saat Taehyung membaringkannya di ranjang, membelai tubuhnya dengan lembut dari bagian luar kausnya dan terkekeh serak saat mengusap dadanya yang tegang. Jungkook terengah, bibirnya terbuka dan merengek seperti bayi.
“Menurutmu, apa yang dipikirkan pacarmu saat melihatmu berbaring di bawahku pasrah begini, hm?”
Jungkook menjawabnya dengan desahan keras saat Taehyung membawa tangannya ke bagian tubuh Jungkook yang menebal oleh gairah lalu membelainya lembut.
“Oh, sayangku,” bisik Taehyung di telinga Jungkook lalu mengulumnya. “You're playing with the wrong person.”
Pagi itu, Taehyung mendapatkan sarapan yang jauh lebih lezat dari ekspektasinya.