Galau
Jungkook berbaring di ranjangnya, enggan bergerak barang sesenti pun sejak semalam. Matanya terasa gatal dan panas setelah semalaman menangis ditemani Mingyu via telepon. Dia bersyukur hari ini dia tidak ada kelas jadi dia bisa menghabiskan waktunya untuk mengurung diri di kosannya.
Dia membersit, menendang selimutnya menjauh lalu mengaduh saat kakinya terantuk ujung lemari plastik yang diletakkannya di ujung kasur. Dia bangkit dan mengaduh keras, mengusap-usap kelingkingnya yang terantuk sebelum mendesah keras dan kembali melempar dirinya ke kasur.
Dia teringat percakapannya dengan Mingyu sesaat sebelum dia berangkat menjemput Taehyung. Bagaimana sahabatnya itu berusaha untuk mengingatkannya tentang posisi Taehyung dan posisinya sendiri. Hanya karena Jungkook sudah come-out pada keluarganya sejak dia SMA lalu disusul oleh Mingyu, dia kemudian merasa semua orang sudah oke dengan homoseksualitasnya.
Dia benar-benar lupa dimana dia hidup dan bagaimana komunitasnya baru saja bergerak, menggeliat berusaha melawan tekanan berlabel “normal” yang abu-abu dari masyarakat.
Mereka juga sudah mengatakan pada orangtua mereka bahwa mereka tidak pacaran. Dan karena itulah Jungkook merasa di atas awan, tidak menyadari bahwa bagaimana pun positifnya reaksi orangtuanya, ada banyak orang yang belum terlalu familiar dengan konsep homoseksualitas.
Apalagi pemuda sekelas Taehyung.
Jungkook mengerang, meraih ponselnya dan melihat notifikasi dari Mingyu yang mengatakan dia akan menyusul ke Jogja. Sesuai percakapan terakhir mereka. Mingyu belum memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya dan memilih untuk membantu bisnis ayahnya sebelum melanjutkan kuliahnya.
Jungkook membalas pesan Mingyu lalu terseok-seok membawa dirinya ke kamar mandi untuk membasuh diri. Setelah mandi yang lama dengan air hangat kuku, Jungkook merasa lebih baik. Dengan handuk, dia mengeringkan rambutnya lalu kembali ke ranjang. Memutuskan untuk menyeduh minuman seraya menanti makanan yang dikirim Mingyu via ojek daring.