Ginger Cookies

Taehyung menghela napasnya dalam-dalam, mengenggam paperbag Havest di tangannya dan bersiap untuk memasang poker face-nya menghadapi tetangga barunya. Tadi dia dengar suara tetangganya sedang mandi, membayangkan pemuda itu pasti sedang membereskan sisa 'permaiann' panasnya semalam.

Taehyung mendenguskan tawa lagi sebelum akhirnya membuka selot pintunya dan menarik gagang terbuka. Dia melangkah ke luar dan langsung di hadapkan pada pemuda manis yang balas menatapnya dengan ekspresi kaget yang menggemaskan. Dia membawa sebuah kaleng merah di tangannya dan menggunakan kaus band metal yang lusuh dan celana pendek.

“Oh, eh, halo?” sapa Taehyung kaget dan pemuda itu bahkan lebih kaget lagi.

“Halo, kau Taehyung?” balasnya dengan suara mendayu-dayu yang manis.

Taehyung mengerjap. “Iya, dan... kau?”

Pemuda itu terkekeh, saat melakukannya hidungnya berkerut dan wajahnya nampak selucu kelinci. “Halo, aku Jungkook. Tetangga barumu. Aku bertemu dengan temanmu tadi pagi saat turun membuang sampah. Dan dia bilang penghuni baru apartemen sebelahku bernama Taehyung.”

“Oh, kau!” kata Taehyung lalu mengulurkan tangannya yang bebas. Jungkook membalas jabatannya dengan kuat dan tegas, jenis jabatan tangan yang disukai Taehyung. “Halo, Jungkook. Aku Taehyung.”

Jungkook mengulaskan senyuman manisnya. “Halo, Taehyung. Senang berkenalan denganmu.” Dia lalu menyerahkan kaleng di tangannya. “Aku membuat kue pagi ini, kuharap kau suka?”

Taehyung menatap makanan di tangan Jungkook dan menatap pemuda itu—berulang kali hingga Jungkook terkekeh. “Ini buatanmu?” katanya.

“Yep,” balas Jungkook, kembali menghadiahi Taehyung senyuman dengan kerutan hidung itu. “Aku sedang kuliah di jurusan pastry, aku sering mempraktikkan resep yang kudapatkan di kelas. Senang akhirnya aku bisa memberikannya ke orang-orang.”

“Wow.” kata Taehyung menerima kaleng itu lalu teringat bawaannya sendiri. “Aku membelikanmu kue, kuharap kau suka cokelat?”

“Oh, tentu!” seru Jungkook ceria dan menerima paperbag yang diserahkan Taehyung. “Kau mengeluarkan banyak uang demi ini.” komentarnya saat mengenali merek dagang di bagian sudut bawah tasnya.

“Ah, tidak. Hanya karena aku tidak bisa memanggang kue sendiri, jadi menurutku Harvest oke,” dia mengendikkan kaleng di tangannya. “Kau mau mampir ke apartemenku? Kita buat kopi dulu atau?”

Jungkook nampak memikirkannya sejenak lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah, tidak masalah. Aku punya kelas jam satu hari ini. Kau?” tanyanya saat Taehyung memimpin mereka kembali ke apartemennya.

Taehyung memasukkan delapan digit kode akses masuk apartemennya dan mendorong pintu terbuka, mempersilakan Jungkook memasuki ruangan itu dengan menyingkir ke pinggir pintu. “Hari ini aku libur dan berencana membereskan sisa cucian kotor pindahan kemarin.”

Jungkook mengamati ruangan sementara Taehyung beranjak ke dapur untuk membuatkan mereka berdua kopi. “Wow. Kau menata tempatmu dengan baik, aku iri.” katanya melemparkan senyuman ramah pada Taehyung yang sedang berkutat dengan Nescafe Dolce Gusto-nya. “Aku harus belajar darimu,”

“Ah, terima kasih.” kata Taehyung. “Silakan duduk, anggap saja rumahmu sendiri.” katanya setelah berhasil mengoperasikan mesin pembuat kopi instannya. “Aku hanya melihat gambar-gambar di Pinterest dan memutuskan untuk mengadaptasinya.”

Jungkook mengangguk-angguk, masih mengamati ruangan dengan ketertarikan sopan yang menggemaskan. Seperti seekor kelinci gendut yang beradaptasi dengan lingkungan barunya. “Kau kuliah di jurusan apa?” tanyanya.

“Bisnis,” kata Taehyung. “Aku sedang mengurus tugas akhir jadi jamku agak longgar.” Dia membawa dua mug ke ruang tamu dan menyerahkan satu pada Jungkook yang menerimanya dengan penuh syukur.

Aroma kopi yang pekat dan segar menguar memenuhi ruangan itu, Taehyung menghirup isi mugnya sebelum menyesap dengan lega. Cairan itu lolos melalui kerongkongannya dengan mulus, menyisakan jalur hangat yang manis.

“Wow. Apakah kau adalah peran utama cerita fiksi yang mewarisi bisnis bsar ayahnya?” Jungkook terkekeh setelah menelan tegukan pertama kopinya.

“Tidak, tidak,” Taehtung terkekeh. “Aku sedang menjalankan bisnis sendiri sebenarnya, tapi masih dalam tahap perencanaan dengan beberapa temanku.”

Jungkook menoleh dari mugnya. “Benarkah? Keren. Bisnis apa?”

“Coffee shop,” Taehyung tersenyum. “Bagaimana menurutmu?”

“Menurutku?” balas Jungkook menggaruk alisnya seraya menerawang jauh saat memikirkan jawabannya. “Menurutku lebih baik membuat coffee and eatery. Maksudku, luaskan cakupannya. Coffee shop tidak akan bertahan lama, tapi jika kau berhasil punya tempat dengan makanan yang enak dan lokasi yang nyaman, maka orang-orang akan kembali.”

“Banyak coffee shop yang salah menjalankan bisnis karena hanya mengandalkan lokasi yang estetik, instagramable tapi lupa memperhitungkan aspek makanannya. Kafe lucu akan ramai, tentu. Hanya ramai oleh orang-orang penasaran yang ingin berfoto, jika makananmu tidak enak, mereka tidak akan kembali.”

Taehyung pasti memasang wajah aneh karena kemudian Jungkook merona dan tergagap. “Maaf,” katanya mencicit. “Aku terlalu banyak bicara, ya?”

“Tidak, tidak. Point of view-mu menarik. Kau tertarik bergabung dengan timku? Sebagai chef tentu.”