Untitled

Taehyung membanting pintunya tertutup, menyelotnya kencang lalu memutar kuncinya dua kali dengan tangannya yang dingin dan gemetar lalu bersandar di baliknya. Napasnya menderu dan menyakiti telinganya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri saat melihat apa yang dilihatnya dan sialnya lagi, Jungkook melihatnya.

Dia menahan napasnya, berusaha tetap tenang. Tidak, tidak! Itu hanya perasaannya saja. Jungkook tidak melihatnya. Jungkook tidak melihatnya. Jungkook tidak—

Ponselnya berdering, Taehyung nyaris berteriak kaget namun dia bergegas membekap mulutnya sendiri dan meraih ponsel di sakunya, nama Jungkook tertera di sana dalam panggilan suara. Taehyung nyaris menangis, dia tidak ingin menjawabnya. Sama sekali tidak.

Telepon mati dan digantikan dua chat: Tae. Kau melihatku ya.

Lalu ketukan di pintu.

Taehyung terkesirap tertahan, ponselnya lolos dari tangannya dan suara kelotakan ponsel itu terdengar sangat keras hingga menyakiti telinganya yang sensitif oleh ketegangan. Dia ingin berteriak, ketegangan mencekik otaknya dan paru-parunya. Dia berharap Jimin sudah menelepon polisi dan merutuki dirinya sendiri karena tidak mengabaikan saran Jimin untuk diam saja.

Bodoh, bodoh! Taehyung bodoh!

Ketukan kembali terdengar.

Taehyung berbalik perlahan dan mengintip dari lubang, terkesirap kaget saat melihat Jungkook menatap persis ke matanya dari lubang intip. Matanya dingin dengan senyuman di bibirnya; lubang intip itu satu arah tapi entah mengapa tatapan itu menelanjangi Taehyung dengan cara yang tidak masuk akal. Jungkook tidak mungkin tahu dia sedang mengintip lewat sana, kan?

“Aku tahu kau di dalam sana,” katanya dari luar, suaranya tenang sekali Taehyung merasa pusing karena kekurangan oksigen. “Keluarlah, Taehyung.”

PERGI KAU, BANGSAT PEMBUNUH!

Taehyung merosot di balik pintu, berusaha menenangkan diri dan bernapas melalui mulutnya. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran keras yang menuntut. Jungkook rupanya sudah tidak sabar meladeni permainan Taehyung.

Kebodohan Taehyung karena dia kemudian memilih untuk mendengarkan dengan saksama sebelum dia kemudian mendengar sayup-sayup suara gadis yang bicara, dia menunggu dan menghitung hingga dua puluh sebelum beranjak ke pintu dan mengintip dari lubang intip.

Lorong begitu hening dan sepi.

Dia membuka selot pintu dengan perlahan, mencoba dengan kuat agar tidak menimbulkan suara sebelum membuka pintu menjadi celah kecil dan berteriak tercekik seperti seekor tikus saat melihat apa yang dilakukan tetangganya.

Jungkook sedang menarik keluar kantung sampah hitam besar. Tidak aneh, tentu. Jika saja benda itu tidak terjatuh dari tangannya yang licin dan terbuka. Sepotong tangan terjatuh keluar dan Taehyung terkesirap. Terlalu keras karena Jungkook menoleh.

Mata mereka bertemu.

Itulah yang kemudian membuat Taehyung harus mengalami hal ini.

“Taehyung. Aku tahu kau di dalam.” ulang Jungkook dengan suara mendayu-dayunya yang manis, suara yang menurut Taehyung menggemaskan, namun tidak lagi.

Sama sekali tidak.

Taehyung ingin muntah.

Selama ini, psikopat yang membunuhi semua perempuan itu bercinta dengannya. Berbaring di ranjangnya. Membantunya orgasme dan memasakkannya makanan. Bagaimana mungkin pemuda baik, ramah dan semanis Jungkook adalah orang yang sama dengan pelaku pembunuhan berantai terencana?

Selama ini, gadis-gadis yang didengar Taehyung bercinta dengannya, gadis yang dianggapnya hanya satu—kekasih Jungkook ternyata ada banyak dan semuanya mati setelah mereka orgasme.

Mati setelah mendapatkan seks paling liar dalam hidup mereka.

Taehyung ingin muntah.

Kemudian pintunya didobrak paksa.

Taehyung terhuyung oleh momentum itu dan terjatuh di lantai. Dia merangkak menjauh dari pintu, menyambar ponselnya dan menekan nomor Jimin yang tersambung namun tidak diangkat. Air mata meleleh dari sudut mata Taehyung tanpa bisa dikenalikan, tubuhnya gemetaran hebat—inikah akhirnya? Taehyung akan mati karena rasa penasaran bodohnya?

Menyedihkan sekali.

Pintunya didobrak lagi. Lebih keras.

“Kau tidak bisa menghindariku, Taehyung. Kau sudah melihatku. Maka kau harus bergabung dengan mereka.”