Tetangga Baru
Taehyung bersungut-sungut sementara Jimin sedang mengunyah pizza-nya, berbaring di sofa lembut ruang tamu menonton televisi. Dia sedang menunggu ojek daringnya yang sedang membeli makanan tambahan mereka yang Taehyung yakin dilupakan Jimin untuk membelinya. Tidak ada alasan lain saat Jimin muncul di depan pintu dengan tangan kosong dan mengatakan, “Aku lupa, kita pesan daring saja, ya?” dengan cengiran tanpa dosanya.
Taehyung mengalah dan akhirnya setuju untuk membelinya via layanan daring. Mereka akhirnya duduk berdampingan di sofa, menonton televisi dan menikmati pizza yang Taehyung beli.
“Kau masih ngambek?”
Taehyung memutar bola matanya. “Tidak juga,” katanya meraih sepotong pizza lagi dan menyuapnya besar. “Memangnya kapan aku bisa marah padamu lebih dari satu jam?”
Jimin nyengir. “Aku tidak sengaja sungguh, terlalu fokus mencari alamat barumu dan baru ingat aku harus membeli makanan tambahannya saat aku memencet tombol lift. Serius. Aku tidak bohong.”
Taehyung terkekeh, menyuap sisa pizanya lalu mengusap rambut Jimin lembut. “Tenang saja, kau dimaafkan.” katanya kalem lalu bersandar lebih dalam di sofanya yang selembut bulu angsa. “Kau akan menginap malam ini?” tanyanya kemudian.
“Jika kau mengizinkan?”
“Tentu.”
Jimin mengendikkan bahu, meraih salah salah satu side dish di dalam boks piza dan mulai menyuapnya. “Maka aku akan tinggal,” katanya. “Kau punya nasi tidak? Aku lapar.”
“Kau, kan, sedang makan?”
“Spageti tidak akan mengeyangkanku, aku butuh nasi.”
Taehyung mendenguskan suara serupa tawa geli. “Aku belum masak apa pun, menurutmu kenapa aku memilih memesan lewat layanan daring? Kau harus puas dengan ini saja.”
Jimin menyuap spagetinya dengan lahap. “Aku akan pesan makanan lain setelah pesanan kita datang,” katanya dengan penuh tekad dan Taehyung terkekeh.
Suara bel pintu membuat mereka berdua menoleh dan Taehyung menggeliat sebentar sebelum menarik dirinya menjauh dari sofa yang nyaman dan berseru. “Sebentar,” pada orang di balik pintu.
Terseok-seok, dia menghampiri pintu dan mengintip dari peeking hole, menemukan seorang pengendara ojek daring berdiri di depan pintu dengan canggung membawa tas plastik minimarket yang penuh dengan belanjaan.
Taehyung membuka selot pintu dan membukanya. Pengemudi itu nampak tenang dan lega. “Taehyung?” tanyanya dan Taehyung mengangguk. “Ya, saya, Pak.” balas Taehyung.
“Ini belanjaannya, ya, Kak.” kata pengemudi itu menyerahkan plastik di tangannya.
Taehyung menerimanya. “Terima kasih, ya, Pak. Pembayarannya via aplikasi, ya?” sahutnya dengan plastik berkeresak di tangannya; terasa berat oleh soda dan bir dalam botol kaca.
“Ya, Kak. Terima kasih kembali.” Pengemudi itu mengangguk lalu berlalu sambil menatap ponselnya, menyelesaikan proses transaksi.
“Ini minumannya,” seru Taehyung ke dalam apartemen seraya mengintip ke dalam plastik untuk mengecek belanjaannya. Dia baru saja akan menutup pintu saat suara pintu lain berdenting terbuka.
Dia mengurungkan niatnya lalu menjulurkan tubuhnya keluar, hendak menyapa tetangganya sekaligus memperkenalkan diri sebagai tetangga baru dan akhirnya mengurungkan niatnya. Karena dia melihat tetangganya sedang sibuk menciumin gadis di pelukannya dengan suara kecupan berisik yang basah. Taehyung mengerjap, terlalu kaget selama beberapa detik adegan itu sebelum pemuda yang dipikir adalah tetangganya karena dia yang memasukkan kode ke pintu, mendorong pintu terbuka dengan kakinya dan menarik gadis itu ke dalam.
Taehyung bergegas menarik tubuhnya masuk kembali ke dalam apartemen dan menutup pintunya dengan suara sedikit terlalu keras.
“Calm down, bish. Kenapa, sih?” tanya Jimin terkejut oleh suara bantingan pintu tadi.
Taehyung menggeleng, berusaha menahan histeria yang meledak di perutnya namun gagal karena kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Jimin menoleh ke arahnya dengan piza di tangannya.
“Mau berbagi leluconnya?” tanya Jimin dengan alis terangkat sebelah.
“Kau tahu,” kata Taehyung berusaha menenangkan tawanya sebelum menjawab. Wajahnya memerah dan air mata turun di sudut matanya, dia menyekanya dengan punggung tangan lalu menghela napas dalam-dalam. “Sebentar lagi kita akan dapat pertunjukan siaran langsung.”
“Maksudmu?” tanya Jimin, semakin kebingungan. “Kau memang selalu aneh, tapi belum pernah seaneh ini, Bung.”
Alih-alih menjelaskan, pemuda kurus itu meraih remote televisi dan menjeda suara film yang sedang mereka tonton. “Sssh, dengarkan.” katanya, meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Jimin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun urung saat suara lain membuat mereka terdiam, lalu membekap mulut masing-masing agar tidak terbahak-bahak.
Suara desahan.
“Wow.” bisik Jimin tertawa tanpa suara hingga perutnya sakit. “Woow, dengarkan itu!” katanya dan Taehyung merosot turun berlutut di lantai saat suara gadis itu terdengar semakin kuat disertai suara dinding yang heboh.
“Bung, tetanggamu punya permainan yang panas. Pasti panas sekali. Wow. Dengarkan itu,” Jimin berbisik lalu tertawa lagi. “Wow. Don't you want to be pounded hard like that?”
“Shut up!” desis Taehyung dan kembali tertawa, gemetar di lantai.
“Your neighbor got a very nice dick game, I guarantee you. Dengarkan suara itu,” Jimin terkekeh. “Sudah, sudah. Ayo nonton film lagi, aku tidak tertarik mendengarkan kehidupan seks orang lain serius.”
Taehyung mendengarkan sebentar lagi sebelum akhirnya menghela napas, lelah akibat tertawa dan kembali menyalakan suara televisi. “Besok akan jadi hari yang awkward saat berkenalan.” Dia mengenyakkan pantatnya di sofa, kelelahan akibat tawa dan perutnya terasa kram.
Jimin terkekeh. “Usahakan untuk memasang poker face andalanmu, oke? Katakan sesuatu seperti, 'tidak, aku tidak dengar apa pun semalam tapi aku tau, you got a nice dick game'.”
Mereka kembali tertawa.