Kabur

Kemudian, semuanya terasa kabur. Persis seperti film bisu hitam-putih saat dobrakan di pintunya berhenti, suara klik-klik pistol dikokang dan suara keras otoriter seorang petugas meminta Jungkook untuk menjauh dengan tangan terangkat di atas kepalanya.

Taehyung tidak bisa merasakan atau mendengar apa pun saat pintu apartemennya terbuka, dia sedang meringkuk seperti bola di dekat sofa, mencoba melindungi dirinya sendiri dan terisak ketakutan.

Jimin. Suara Jimin yang pertama dikenalinya, sahabatnya itu merengkuhnya. Aroma Jimin begitu menenangkan dan familiar di indera penciumannya dan dia membalas pelukan Jimin, terlalu syok untuk mengatakan apa pun selain menangis.

Jungkook dibawa ke mobil patroli dengan tangan diborgol beserta barang bukti dan mayat perempuan yang belum sempat dibereskannya. Dia menatap Taehyung yang terbalut selimut dalam rangkulan ketat Jimin, tatapannya nampak sedih dan bersalah.

Atau mungkin Taehyung hanya berkhayal.

Setelahnya, setelah malam itu, Jimin tinggal bersamanya di apartemen Taehyung.

Garis polisi masih dipasang di depan pintu apartemen Jungkook sementara berita tentangnya disiarkan di saluran televisi nasional. Dia terbukti mengidap gangguan mental sehingga hukumannya diproses dan kuasa hukumnya mengajukan banding. Jungkook dikarantina di rumah sakit rehabilitasi dalam pengawasan dua puluh empat jam yang ketat jauh dari masyarakat.

Psikiater yang mengurusnya menyatakan bahwa gangguan kejiwaan Jungkook adalah ketidakmampuannya mengontrol emosi. Dia memiliki fantasy seksual bercinta sambil mencekik pasangannya dan lepas kendali hingga membunuhnya. Dalam hasil wawancara hipnosisnya, Jungkook mengakui bahwa dia tidak sengaja dan menangis.

Kejadian pertamanya adalah hari kepindahan Taehyung ke apartemen.

Dia terlalu lepas kendali hingga kekasihnya meninggal namun setelahnya menemukan sebuah fantasy tentang bagaimana hubungan seksual itu terasa begitu exciting.

Taehyung muntah saat Jimin menonton berita itu sehingga Jimin mematikan televisi dan memijatnya.

Taehyung teringat bagaimana Jungkook gemar sekali mencekiknya saat akan mencapai orgasme—dia menganggap hal itu seksi. Sebuah fantasy sex yang menyenangkan dan menggairahkan. Dia lelaki dengan tenaga lebih kuat dari Jungkook, dia bisa menghalau Jungkook. Tapi gadis-gadis itu mungkin tidak.

Jimin menemaninya semalaman, terjaga tiap kali Taehyung terbangun ketakutan membayangkan ada suara perempuan tercekik dari apartemen sebelah dan Jimin harus memeluknya hingga tertidur.

Di hari ke-30, Taehyung menyerah dan memilih tinggal bersama Jimin untuk sementara hingga suasana kembali tenang.

Dia menyerah dan meminta bantuan pada psikiater untuk menyembuhkan PTSD-nya dan rutin mengikuti kelas-kelas yoga untuk menenangkan pikirannya.

Singkat kata, dia mulai menyembuhkan diri.

Dari tetangganya, Jungkook.