Attempt 1
Gedoran di pintu membuat Taehyung yang sedang mengunyah makanan nyaris tersedak, dia bergegas menyeka bibirnya dengan tisu dan meluncur ke pintu. Dari lubang intip dia melihat pengurus apartemen dengan beberapa orang polisi. Taehyung sudah menduga akan begini ujungnya karena mayat-mayat itu ditemukan di sekitar wilayah apartemen mereka dan apartemen adalah semacam hotel gratis.
Taehyung membuka pintunya. “Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” katanya ramah pada rombongan di depannya.
Seorang polisi maju ke depan dan menunjukkan lencana polisinya. “Selamat siang, Kim Taehyung,” katanya dengan nada formal. “Saya dari pihak kepolisian dengan surat tugas dan izin akan melakukan penggeledahan di apartemen Anda.”
Taehyung menatap surat yang disodorkan ke arahnya dan merasa tidak bisa lagi mendebat, akhirnya tersenyum. “Silakan,” katanya menyingkir dan mempersilakan polisi memasuki apartemennya. Toh dia tidak memiliki hal-hal melanggar hukum yang disembunyikannya di apartemennya.
“Maaf atas ketidaknyamanannya, ya, Mas.” kata pengurus gedung dan Taehyung tersenyum ramah padanya sementara dua polisi mulai menggeledah isi apartemennya. “Tidak, Pak. Ini, kan, demi ketenangan bersama juga.” balasnya lalu mengangguk pada polisi perempuan yang menghampirinya.
“Selamat siang, Kim Taehyung, saya boleh menanyakan beberapa pertanyaan terkait keberadaan Anda?”
Taehyung mengangguk, “Silakan.”
“Di mana Anda berada pada hari Minggu pukul 7 hingga 9 malam?” tanyanya menatap buku catatan di tangannya sebelum menatap Taehyung lekat-lekat di matanya.
“Saya di kamar, bersama rekan saya Park Jimin. Saya yakin dia bisa menjadi saksi dari alibi saya karena kami menghabiskan malam menonton televisi dan dia menginap di sini.” Taehyung lalu memberikan nomor telepon Jimin pada petugas untuk mengecek kebenaran alibinya.
“Rekaman CCTV juga menunjukkan bahwa Anda tidak pergi ke mana pun pada hari itu selain menerima kedatangan dua orang, yakni kawan Anda Park Jimin pada pukul enam sore dan seorang pengantar makanan pada pukul tujuh lewat lima belas menit.” Petugas itu membacakan isi catatannya yang membuat Taehyung lega bahwa CCTV sudah berhasil merekamnya sehingga alibinya valid.
Polisi yang tadi berada di dalam ruangan Taehyung akhirnya keluar dan mengangguk pada Taehyung. “Bersih,” katanya pada polisi perempuan lalu menatap Taehyung. “Terima kasih atas bantuan dan kerjasama Anda,” dia mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya hangat.
“Kembali kasih, Pak.” balasnya.
Kemudian para polisi pamit dan bergeser ke kamar Jungkook yang kosong.
“Penghuninya sedang keluar,” kata Taehyung pada rombongan itu. “Apakah Anda bisa menunggu sebentar? Saya akan coba kontak untuk menanyakan izin untuk membuka kamarnya dengan kunci master.” Taehyung melesat ke dalam untuk meraih ponselnya dan menelepon nomor Jungkook.
Tidak ada jawaban.
Taehyung mengetik pesan dan kembali mencoba meneleponnya.
Tetap tidak ada jawaban.
Taehyung menatap para polisi dan mendesah. “Tidak ada jawaban,” katanya dengan perasaan sedikit bersalah karena tidak bisa membantu situasi menjadi kondusif serta bertanya-tanya kemana kiranya Jungkook.
“Bagaimana, Pak?” tanya salah satu anak buahnya sementara atasan mereka menatap pintu yang tertutup dengan pandangan tidak terjelaskan dan pengurus gedung di sisinya, siap dengan kunci master.
“Kita akan kembali lagi ke sini nanti,” akhirnya pemimpin mereka memutuskan lalu akhirnya berbalik, memimpin anak buahnya untuk pergi sambil berbicara. Tidak cukup jauh atau pun pelan karena Taehyung masih bisa mendengarnya dengan jelas;
“Karena penghuni kamar ini tercatat meninggalkan unitnya berulang kali selama durasi terduga terjadinya pembunuhan.”
Taehyung mengerjap: apa?