Kunjungan

Jungkook langsung melompat berdiri, mundur dari pintu sementara keturunan ningrat itu melepaskan sepatunya dan berdiri dengan kantung plastik makanan di tangannya. Dia berdiri setenang karang, dalam balutan polo shirt berwarna kalem yang memeluk tubuhnya dengan sempurna dan celana jins pudar; dia nampak begitu indah dan menenangkan hingga Jungkook ingin menangis.

Bagaimana bisa Tuhan memberikannya cobaan sekejam ini?

Keheningan yang menyelimuti mereka setelahnya terasa kikuk dan asing—seolah mereka belum pernah mengenal satu sama lain sebelum ini. Setelah Taehyung secara sadar maupun tidak telah menggambar sebuah garis pembatas dalam hubungan mereka dan memukul telak Jungkook mundur.

“Ngapain lo ke sini?” tanya Jungkook tanpa bisa mengendalikan suaranya sendiri dan terdengar begitu bengis dan dingin. Dia langsung menutup mulutnya setelah mengatakan itu, merasa bersalah. Namun pangeran di hadapannya tidak berjengit sama sekali oleh nada suaranya.

“Gak apa-apa,” balas Taehyung tenang lalu meletakkan plastiknya di lantai dengan lembut.

Entah mengapa, apa saja yang dilakukan Taehyung terasa begitu lembut dan penuh perhitungan. Dia tenang, kalem dan begitu baik. Sebuah kontras pada Jungkook yang ceria dan hingar-bingar, tidak bisa diam.

“Cuma bawa buah-buahan, tak pikir kamu sakit atau apa.” Dia kemudian menatap Jungkook dalam-dalam. Mengela napas dan, “Kalo Mas ada salah, tolong diceritakan. Kita cari solusinya bersama. Kalo kamu diem kayak gini, Mas juga gak tau Mas salah apa. Masalahnya juga gak kelar, kan?”

Dia mendekat selangkah, Jungkook secara sinkron mundur selangkah.

Gerakan itu membuat Taehyung berhenti dan akhirnya mundur dengan posisi menyerah. “Maaf,” katanya berbisik dengan sorot mata yang anehnya nampak terluka. “Mungkin ada kata-kata Mas pas kita jalan di Alun-alun itu yang bikin kamu tersinggung? Kalo masalah orientasi seksualmu...,” dia berhenti sejenak, menatap Jungkook, mengamati bagaimana reaksinya saat kata itu dibawa naik.

Jungkook bergeming, menatapnya. Tidak bereaksi sama sekali kecuali perasaan benci yang hebat terhadap dirinya sendiri karena telah dengan begitu bodoh menolak melihat bahwa Taehyung bukanlah ikan di kolamnya. Bukanlah bintang di langitnya. Bukan kaumnya. Sesuatu yang nampak begitu dekat namun tidak teraih; sebuah bayangan. Jungkook benci mengakui bahwa dia sudah bersikap ceroboh tentang hatinya sendiri.

Mungkin dia seharusnya kuliah di Jakarta saja.

“Mas sudah tau,” katanya kemudian membuat Jungkook terkesirap kecil. “Jelas,” tambah Taehyung tersenyum lembut. “Memangnya cowok normal bakal ngegombalin cowok lain dan terus-terusan bilang temennya itu, apa? Ganteng banget sampe bikin pusing?”

Jungkook mengeluarkan suara tercekik malu karena bersikap begitu terbuka pada Taehyung seolah-olah seluruh Indonesia Raya ini faham tentang homoseksualitas dan menerima mereka begitu saja dengan tangan terbuka.

Beberapa orang tentu tidak. Taehyung contohnya.

“Apa mungkin Mas membuat komentar yang bikin tersinggung?” tanya Taehyung lagi, masih berdiri setenang karang di depan pintu yang terbuka dengan kharisma kepemimpinannya yang menyilaukan. “Kalo iya, Mas minta maaf. Maaf sekali, apa pun yang Mas bilang, Mas gak pernah bermaksud bikin kamu tersinggung. Mungkin Mas yang kurang sensitif pada emosi-emosimu dan—”

Tidak perlu dilanjutkan, karena Jungkook kemudian meluncur ke arahnya, tidak benar-benar memahami serangan impulsif yang menguasainya lalu menubruk Taehyung yang terhuyung dan membentur pintu hingga tertutup; kedua lengannya otomatis memeluk Jungkook dan menahan tubuh mereka berdua agar tidak jatuh terjungkal ke belakang. Lengannya terasa kurus dan kuat memeluk Jungkook.

“Astaghfirullah,” bisik pemuda itu di rambut Jungkook dan Jungkook tidak mau mengangkat wajahnya sama sekali—biarkan dia begini, sebentar saja. Jungkook tidak akan meminta apa pun lagi. Bahkan jika memang setelah ini dia tidak boleh bertemu Taehyung lagi, maka Jungkook akan melakukannya. Jungkook seharusnya tahu dia tidak bisa bermain api dengan pangeran, seorang public figure yang dihormati di tanah yang ditumpanginya ini.

Jungkook merasa begitu rendah dan tidak memiliki harga diri—seperti Cinderella yang tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri bahwa dia jatuh cinta pada pangeran, pada seseorang yang tidak seharusnya. Tapi, masih beruntung Cinderella adalah perempuan. Masalah selesai semudah lamaran dan menikah.

Masalah Jungkook jelas tidak bisa diselesaikan dengan lamaran dan pernikahan.

Taehyung berbisik di rambutnya, Jungkook tidak bisa mendengarnya karena desiran darahnya sendiri di telinganya. Debaran jantungnya begitu kencang, bertalu-talu di rusuknya hingga Jungkook merasa rusuknya mungkin akan patah setelah ini.

Lalu saat dia mulai menguraikan lengannya di punggung Taehyung, menarik dirinya perlahan dengan kepala tertunduk dan siap menghadapi rasa malu yang akan menghantuinya seumur hidup, Taehyung meraihnya lalu mendaratkan ciuman.

Persis di bibirnya.