Dramatis
Jungkook meletakkan ponselnya dan berbaring nyalang menatap langit-langit kamarnya, masih menolak untuk bangkit dan menolak ajakan Mingyu untuk lari pagi bersama. Sahabatnya itu memang tidak betah berdiam diri dan Jungkook merasa tidak dalam suasana hati yang baik untuk berolahraga walaupun dia tahu keringat mungkin akan membuatnya merasa lebih baik.
Namun dia tidak ingin merasa lebih baik.
Seharian berjalan-jalan menemani Mingyu membuat perasaannya sedikit lebih baik namun rasa sakit aneh itu masih mengganjal di hatinya. Seperti gatal yang tidak bisa digaruk. Jungkook menghela napas lagi, meraih bantal dan memeluknya erat. Mencoba mengenyahkan bayangan tentang Taehyung yang ramah.
Bagaimana wajah bingungnya saat Jungkook berkunjung ke Kraton lagi bersama Mingyu hari itu. Dia berdiri di halaman, menerima beberapa wartawan yang sedang mewawancarainya tentang acara Jogja yang akan datang. Wajahnya secerah matahari—seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesayangannya dan mencoba menyelesaikan wawancaranya dengan cepat sementara Jungkook bersikap seperti kecoa dengan menghindarinya.
Mereka akhirnya bertemu di ruangan itu, ruangan batik tempat mereka bertama kali bertemu. Mingyu menyingkir dengan mulus, meninggalkan Jungkook dan saat pemuda itu berusaha mengajaknya bersikap manusiawi dan dewasa, Jungkook malah kabur.
Seperti anak kecil.
Jungkook menghela napas dalam-dalam lalu pintu kamarnya diketuk. Dia mengerang, “Masuk aja, Babi, gak dikunci,” serunya berpikir itu adalah Mingyu yang baru pulang berolahraga.
“Oh, oke.”
Suara itu bukan Mingyu.
Jungkook langsung terduduk tegak di kasurnya, mengumpat keras saat darah mengalir turun dari otaknya dengan tiba-tiba dan menoleh ke pintu yang terbuka.
“Assalamualaikum.”
Itu Taehyung.