Curhat
“Sini, sini cerita sama gue,”
Jungkook berbaring di kasur sebelah Mingyu yang nampak lelah setelah perjalanan dadakan menuju Jogjakarta walaupun dia sendiri berpendapat bahwa Jogja terasa jauh lebih ramah dan lenggang dari Jakarta dan dia menikmati perjalanannya.
“Ya, cuma kayak yang gue bilang kemarin aja sih, Ming. Gue juga salah gak bener-bener nanggepin nasihat elo kemarin yang ngingetin gue kalo dia itu public figure, perhatian orang-orang nempel di dia dan gue malah bersikap gegabah dengan terus-terusan ngejar-ngejar dia kayak orang gak punya malu.”
Mingyu menatapnya, menepuk kepalanya lembut. “Elo emang gak punya malu sih, gue udah gak kaget lagi.” Lalu mengaduh saat Jungkook memukul perutnya dengan kepalan tangannya. “Sakit, Babi!” seru Mingyu, berguling menjauh dari Jungkook yang mendelik padanya.
“Terus sekarang elo ada kontakan sama si Taehyung gak?” tanya Mingyu mengusap-usap perutnya yang nampaknya akan memar keesokan harinya.
Jungkook di sisinya, menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Dia berbaring dengan lengannya sebagai bantal dan nampak begitu merana. Mingyu tahu apa yang dirasakan sahabatnya; mereka sudah begitu lama bersama dan menghadapi tatapan-tatapan judgemental orang-orang di sekitar mereka karena orientasi seksual mereka.
Tidak terhitung orang-orang yang menolak mereka dengan jijik saat mereka menyatakan perasaan mereka. Pengalaman-pengalaman pahit yang alih-alih membuat mereka semakin kuat, terkadang membuat Jungkook jauh lebih rapuh pada penolakan. Jungkook jarang menaruh perasaan pada siapa pun semenjak terakhir kali dia mendapatkan penolakan, dia selalu percaya bahwa semua lelaki akan menolaknya.
Maka dari itu, saat Jungkook mulai berbicara tentang Raden Mas, Mingyu sudah menyiapkan diri untuk menjadi sandaran ketika akhirnya tidak baik. Demi Tuhan, Mingyu sempat berpikir lelaki ini setidaknya akan memperlakukan Jungkook dengan sopan.
Tapi mau bagaimana lagi? Mingyu seharusnya tidak percaya pada manusia.
“Engga, gue gak kontak. Biasanya emang gue yang kontak duluan, sih,” Jungkook kemudian meringis. “Gue kayak thirsty banget gasih? Malu-maluin.”
Jungkook tertawa, namun lengannya yang bebas menutupi matanya dan Mingyu tahu, sahabatnya mulai menangis lagi. Jadi dia bergesar, merangkul Jungkook dan meremas bahunya sayang.
“It's OK, it's OK, you got me.” katanya.
Saat Jungkook akhirnya tertidur kembali karena kelelahan menangis, Mingyu meraih ponselnya dan membuka Twitter. Mencoba mencari tahu apa yang sedang dilakukan Taehyung. Namun menyerah frustasi karena isi Twitter-nya sama sekali tidak menunjukkan jejak personalized dari pemiliknya; terlalu formal dan berjarak. Seperti isi Twitter Pak Presiden.
Dia baru saja meletakkan ponselnya di atas meja belajar Jungkook, memutuskan untuk mandi saat ponsel Jungkook berdenting tanda pesan dan notifikasinya membuat Mingyu terkekeh.