Menghindar?

Tidak ada yang dilakukan Jungkook. Tidak juga Taehyung.

Mereka menjaga jarak begitu saja karena hal itu terasa benar; terlalu takut menghadapi apa yang mungkin mereka miliki secara mutual dan mungkin juga... tidak? Satu terlalu takut untuk bertanya, dan satu terlalu takut akan jawabannya. Mereka hanya secara natural menjaga jarak, mundur dan menenangkan diri. Seperti dua medan yang saling tarik-menarik, terlalu takut untuk mendekat dan meledak.

Rasanya seperti ada dua batu besar yang menghimpit dada Jungkook tiap kali dia memikirkan Taehyung. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya, tidak yakin apakah yang dirasakannya cukup nyata untuk menjadi perasaan atau tidak. Atau dia hanya menghayal?

Dia menatap lautan yang terbentang di hadapannya, bersama Mingyu yang sedang asik bermain air dan dia yang memilih duduk di bawah naungan tebing yang membentuk gua alami. Mereka membawa cukup camilan dan berkunjung ke pantai pada hari kerja berarti memiliki semacam pantai pribadi tanpa manusia lain sejauh mata memandang. Dia menemukan pantai ini di sosial media dan memutuskan untuk mengunjunginya; melepas penat dan pikirannya yang menyakitkan.

Mamanya menelepon dan Jungkook meyakinkan beliau bahwa dia sedang sakit dan sudah ke dokter—Mingyu sudah menjaganya dengan baik. Mamanya tidak perlu tahu tentang kisah cinta beda dunia yang sedang dijalaninya. Dengan pangeran muda Jogjakarta yang bisa saja mewarisi tahta, yang kebetulan tidak beragama sama dengannya dan tidak memiliki orientasi seksual yang sama dengannya.

Jungkook menumpukan kepalanya di lututnya, bernapas dengan mulutnya—semakin di pikir, kehidupannya semakin terasa menyedihkan saja.

Bibirnya kemudian terasa geli saat dia mulai mengingat ciuman yang diberikan Taehyung tempo hari. Dia mengerang, berguling di pasir saat mengingat bagaimana malunya dia saat Taehyung menarik wajahnya; matanya yang sayu, wajahnya yang steril tanpa ekspresi. Jungkook tidak yakin apa yang pangeran muda itu pikirkan; apakah dia marah? Apakah dia bingung? Apakah dia memaknai ciuman itu sama seperti Jungkook? Apakah dia sadar apa yang baru saja dilakukannya?

Apakah dia marah? Apakah dia membenci Jungkook sekarang?

Tidak ada yang bisa dibaca Jungkook dari ekspresinya yang setenang permukan danau.

Jungkook belum sempat mengucapkan maaf atau apa pun, saat Taehyung menegakkan tubuhnya. Rahangnya mengencang, nampak takut dan mungkin juga.... jijik? Lalu dia berbalik, menggumamkan salam dan pergi.

Begitu saja.

Jungkook berdiri di tempatnya, membeku dengan bibirnya yang terasa menebal aneh; geli dan kebas akibat ciuman singkat mereka. Terlalu terkejut untuk bicara dan memproses kejadian itu. Otaknya terasa macet dan dia ingin menangis; ada sesuatu di rongga dadanya yang terasa seperti ditusuk sembilu; satu organ di balik paru-parunya. Apakah itu hatinya? Jungkook tidak yakin, tapi rasa sakit itu perlahan menyebar—mulai membuat paru-parunya kebas, lalu lehernya, lalu kepalanya dan matanya yang memanas.

Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya.

Otaknya memutar kalimat itu seperti mantra, begitu menyakitkan dan tiap kali memikirkannya rasa sakit dibalik paru-parunya semakin menjadi-jadi. Dan dalam posisi membeku, pintu terbuka, air mata di sudut matanya dan butiran apel menggelinding di lantailah Mingyu kemudian menemukannya.

Sahabatnya menenangkannya, bertanya apa yang terjadi dan Jungkook hanya berkata: “Taehyung mampir.” dengan suara gemetaran tanpa menjelaskan apa pun lebih lanjut dan Mingyu, cukup lama berteman dengannya sehingga dia menghela napas dan tidak bertanya lagi.

Dia tahu dia harus memberikan waktu untuk Jungkook sebelum bertanya.

“Lo ngapain sih, anjir? Guling-guling kek anjing laut gitu?”

Jungkook mengangkat lengannya dari atas wajahnya dan menemukan Mingyu dalam balutan celana pantai pendek dan kaus kutang hitam, tubuhnya lembab oleh udara asin pantai dan kacamata hitamnya penuh titik-titik air. “Gapapa,” sahut Jungkook menegakkan tubuhnya.

Taehyung jijik padanya.

Mingyu menatapnya sejenak lagi sebelum mendudukan dirinya di sebelah Jungkook. “Gue mau makan dong, laper banget. Ini panas gila anjir,” katanya meraih kantung plastik dengan logo minimarket dan merogoh ke dalamnya, mengeluarkan nasi kepal kemasan yang langsung dibukanya, dihabiskan dalam dua suapan raksasa.

“Gimana? Udah enakan?” tanyanya kemudian pada Jungkook yang menatap ke laut lepas dengan kacamata hitam. “Perasaan elo gimana? Ada yang mau di-share ke gue?”

Jungkook tersenyum, menggeleng perlahan lalu mengulurkan tangan, Mingyu membalasnya dengan salam persahabatan mereka. “Thanks, bro,” kata Jungkook dan Mingyu tersenyum lebar.

Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya.

“Anytime, bro.” katanya menepuk bahu Jungkook akrab.

Sinar matahari begitu menyilaukan dan deburan ombak memekakkan telinga dengan cipratan-cipatan kecil yang terbawa angin membasahi wajah Jungkook yang telanjang dan terasa panas terbakar matahari. Dia menghela udara lembap pantai itu, memenuhi paru-parunya dan tidak menatap Mingyu yang sedang meneguk minuman kemasannya yang berembun saat dia berkata,

“Menurut elo, Taehyung tertarik sama gue?”

Taehyung jijik padanya. Taehyung jijik padanya.

Mingyu berhenti minum dan menoleh, menghela napas. “Jek, kita udah bicarain ini, oke?” katanya lembut dan Jungkook masih menolak menatapnya.

“Menurut elo aja,” tukas Jungkook keras kepala. “Gue siap kok sama jawabannya.”

Taehyung jijik padanya.

Mingyu menghela napas, menatap sahabatnya lekat-lekat, mencoba menguraikan garis-garis wajahnya, menerka apa yang dirasakan sahabatnya dan menilai reaksinya.

“Menurut gue dari pas kita ketemu kemarin...,” bisik Mingyu nyaris tidak terdengar di balik suara deburan ombak yang meninggi. “Dia tertarik. Tertarik macam apa, gue gatau.” tambahnya buru-buru sebelum Jungkook menanggapinya dengan salah.

Taehyung jijik padanya.

“Tapi, ya.” katanya lagi, kali ini menatap lautan luas bersama sahabatnya. “Gue rasa dia tertarik.”

Taehyung jijik pada... nya?