Pembicaraan

Selama perjalanan, Jungkook menahan napas. Dia berpikir akan melihat jalanan Kraton yang ramah oleh wisatawan, penjual souvenir dan pedagang asongan yang dilewatinya pada hari pertama datang ke Kraton dan juga hari saat dia menjemput Taehyung untuk makan malam mereka. Namun tidak, mereka melewati jalan yang berbeda. Tidak melewati jalan yang sama, Taehyung mengarahkan mobilnya ke jalanan lain yang lumayan lenggang tidak mengarah ke Kraton sama sekali, alih-alih meluncur ke jalanan yang belum pernah dilihat Jungkook selama tinggal di Jogja.

Mobil kemudian meluncur masuk ke dalam halaman belakang rumah seseorang, masuk ke garasi dan diparkir di sebelah mobil mewah lain tapi Jungkook tidak mengenali arsitektur tempat ini sama sekali; nampak mewah dan tidak... seperti Kraton. Mereka sebenarnya kemana?

Taehyung menarik rem tangannya lalu membuka sabuk pengamannya, rambutnya acak-acakan dan dia menoleh pada Jungkook. “Yuk,” ajaknya, menanti Jungkook melepas sabuk pengamannya yang langsung dilakukan Jungkook dengan kikuk dan kaget.

Taehyung kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah yang besar dan megah, halamannya luas dengan tanaman-tanaman hias yang berwarna hijau cerah sehabis disiram, aroma lembut wewangian Jawa menyapa indera penciuman Jungkook. Dia sudah berada di dalam rumah megah dengan langit-langit tinggi, ada guci-guci mahal di beberapa sudut ruangan, aroma menyan lembut tercium dari seluruh penjuru ruangan, tercampur dengan aroma buatan cairan pembersih lantai. Ruangan terasa luas dengan jendela-jendela besar yang terbuka, suara gemericik air dari tebing buatan yang dialiri air yang diangkat dengan pompa menarik perhatian Jungkook.

Rumah itu terasa begitu terbuka dan menyenangkan, terasa hangat dan nyaman. Jungkook yakin jika dia berbaring di sofa maka dia akan terlelap begitu saja.

“Ini.... dimana?” tanyanya.

Taehyung tersenyum. “Kamu selalu ketemu Mas pas lagi di Kraton, ya? Ini rumah Mas yang asli, di kawasan Prawirotaman. Kebetulan hari ini semua sedang keluar, ayah Mas punya hubungan darah dengan orang sana tapi terlalu jauh jadi gak terlalu disorot masyarakat kecuali karena Mas bantu di pemerintahan sebagai tim PR,”

“Jadi, yah, teknisnya Mas bukan pangeran beneran, cuma sekadar berdarah biru.” Dia nyengir seraya membuka sepatunya di rak depan pintu ganda yang terbuka lebar. “Orang-orang salah ngira Mas pangeran karena sering di Kraton bantu-bantu, padahal sebenernya engga juga. Hubungan darah kerajaan itu rumit; bisa aja hubungan darahnya karena selir atau apa, ya kan?”

“Ayah Mas kerja?” tanya Jungkook kemudian, baru menyadari bahwa dia tidak pernah bertanya apa pun tentang kehidupan Taehyung sebelumnya. Sekarang dia menyadari bahwa dia tidak tahu apa pun tentangnya selain bahwa dia pangeran dan itu juga merupakan hal yang keliru karena garis keturunannya tidak sedekat itu.

“Eksportir kain batik,” Taehyung melambai ke hiasan dinding di rumah mereka yang berupa kain-kain batik tulis eksotis tua yang dibingkai dengan rapi. “Bisnis lagi bagus, jadi Ayah lebih sering di pabrik. Kapan-kapan Mas ajak ke pabrik ketemu pengerajin ya, boleh bikin batikmu sendiri juga. Ajak Yugi sama Mingyu,”

Taehyung meletakkan kunci mobil di guci kecil dekat pintu masuk lalu mengucapkan salam yang langsung dibalas oleh salah seorang asisten rumah tangga. “Sepatumu di taruh di sana saja,” dia kemudian meminta asisten rumah tangga itu untuk membuatkan minum. “Diantarkan ke ruangan kerja saya, njih,” tambahnya.

“Nanti tim PR akan datang,” katanya lagi sementara Jungkook meletakkan sepatunya di rak bersisian dengan sepatu Taehyung, berusaha keras untuk tidak membuat suara sekecil apa pun selama dia bergerak. Berusaha untuk menyatu dengan latar belakang. Namun karena memang dasarnya Jungkook anak yang berisik, dia tidak sengaja mengayunkan sepatunya terlalu keras hingga membentur guci di dekat rak sepatu.

Dan menimbulkan suara dentang keras yang membuat Jungkook sendiri berteriak kaget tertahan. Dan dua orang yang sedang berdiskusi dua meter darinya menoleh, sama kagetnya dengan suara dentang keras itu.

“Tenang, tenang!” serunya otomatis dan membuat ibu ART berjengit kaget. Menilai dari volume suara Taehyung, nampaknya tidak ada yang bersuara keras di rumah ini. “Gucinya gapapa, tenang semua tenang.” Dia langsung mengusap-usap guci di depannya dan mundur. Wajahnya memerah hingga ke telinganya dan dia tidak berani menatap Taehyung. Dia bergegas meletakkan sepatunya, berpura-pura tidak terjadi apa pun sementara dia mendengar Taehyung mendenguskan tawa kecil.

“Pancen cah pecicilan,” katanya geli sebelum kembali fokus ke ART mereka yang masih nampak berusaha menahan diri agar tidak tertawa. “Kalo pintu ruang kerja saya belum dibuka, tolong diminta menunggu, njih saya ada urusan sebentar dengan teman saya. Nanti ketuk dulu, njih.”

Dia lalu menatap Jungkook yang berusaha berdiri di sudut, berharap semua orang melupakan eksistensinya yang tidak berguna sama sekali. Taehyung terkekeh.

“Udah, ndak papa, wong gucinya juga gapapa kok. Ayo, sini.” katanya melangkah memasuki rumah dan Jungkook mengangguk pada ibu ART yang sekarang tersenyum ramah padanya.

“Njih, ndak apa-apa kok, Mas.” katanya menenangkan Jungkook yang tersenyum menyesal padanya. “Maaf, ya, Mbak,” katanya kikuk dan si ibu terkekeh.

“Mas mau minum apa? Disamakan dengan Aden atau?” tanya si ibu dan Jungkook sejenak menatap Taehyung yang sedang menerima telepon di depan pintu masuk ruangan yang terbuka.

“Iya, gapapa, Bu, disamakan aja.” sahutnya kemudian, terlalu takut untuk meminta hal-hal aneh dan si ibu mengangguk sebelum mundur pamit undur diri.

“Ayo,” Taehyung menyimpan ponselnya, menoleh pada Jungkook yang masih mengamati rumah Taehyung yang dipenuhi cahaya matahari yang melimpah. “Mau jalan-jalan sekitar rumah dulu?” ajaknya.

Jungkook lekas menggeleng, “Engga, engga,” dia mengamati batik-batik dan lukisan abstrak yang digantung di dinding. “Siapa yang suka lukisan?”

Taehyung menatap lukisan itu. “Mas,” katanya tersenyum. “Itu karya pelukis Bali yang besar di Jogja, sekarang sudah almarhum tapi Mas masih suka kontakan sama istrinya, anaknya kuliah di ISI, jurusan apa ya kemarin,” Taehyung membimbing Jungkook melangkah melewati ruang keluarga yang lenggang menuju ruangan-ruangan lain yang tertutup. “Oh, etnomusikologi. Musik etno, kamu harus denger dia main musik, keren.”

Taehyung mendorong pintu di hadapannya terbuka dan mempersilakan Jungkook masuk dan Taehyung menutup pintu di belakang mereka. Ruangan itu minimalis, namun dengan penataan barang yang baik, nampak luas dan nyaman. Ada satu meja kerja dengan laptop di atasnya, beberapa map dan kertas-kertas revisian skripsi. Rak buku di letakkan di dinding kanan, penuh dengan koleksi buku tebal. Ada seperangkat sofa di kiri ruangan, tidak besar tapi cukup untuk membuat ruangan penuh dengan nyaman. Ada jendela besar di dinding kiri sebelah sofa, menghadap ke halaman belakang yang luas dengan palem-palem di pinggirannya.

Jungkook menatap ke luar jendela, menemukan sumber suara gemericik air di sudut taman—kolam dan tebing buatan ditata dengan taman kecil yang penuh bunga bougenvil yang berwarna cerah. Rumah Taehyung nyaman sekali.

“Kadang gue lupa lo masih mahasiswa,” kata Jungkook mendudukkan diri di sofa, menatap sekelilingnya.

Taehyung melirik revisian skripsinya di meja. “Mas masuk kuliah terlambat, kok,” katanya kemudian membuat Jungkook menoleh. “Baru masuk pas umur 21 apa, ya? Setelah tamat SMA, sibuk bantu urusan pemerintahan dulu terus sebelum akhirnya Kanjeng ngingetin Mas buat kuliah,”

Jungkook terpana mendengarnya, pantas saja pembawaanya sedikit terlalu dewasa untuk ukuran mahasiswa, bagaimana dia bersikap begitu tenang, begitu berwibawa dan sebagainya; tidak seperti bagaimana mahasiswa biasanya walaupun sebenarnya Jungkook rasa anak-anak FISIP selalu bersikap tenang karena mereka, kan, anak politik. Namun Taehyung adalah kasus yang berbeda, sekarang semua pertanyaannya terjawab.

Mereka sejenak diam saat ART membawa minuman ke dalam ruangan, Jungkook mengamati saat beliau meletakkan dua cangkir terisi minuman berwarna merah kejinggaan dengan banyak dedaunan kering di dalamnya dan... Jungkook menunduk ke gelas, apakah itu serutan kayu?

Taehyung terkekeh, “Itu kayu secang, supaya warnanya jadi merah. Minuman ini namanya wedhang uwuh alias 'sampah' makanya isinya macem-macem, to? itu kesukaan Mas sih, ndak tau kamu suka ato gak, tapi coba diminum dulu,” katanya kemudian menutup pintu dan memberi pesan pada ART untuk tidak menganggu mereka dulu. “Kalo ndak suka, nanti biar diganti.”

Jungkook menyesap minumannya yang harum cengkeh dan terasa hangat. Rasanya tidak seaneh apa yang dipikirkannya; hangat dan harum. Dengan gula batu didasar gelas yang diaduknya hingga larut. Dia memejamkan mata namun menyadari kehadiran Taehyung di sisinya. Dia meletakkan cangkirnya di atas meja dan menghela napas, dalam hati membisikkan doa pada Tuhan dan memohon agar semua perbuatan baiknya yang tidak seberapa itu dapat ditukar dengan keajaiban.

“Jadi,” kata Taehyung, entah Jungkook hanya membayangkannya atau tidak, suara Taehyung sedikit bergetar walaupun dia berusaha mengontrolnya.

Mereka duduk bersisian, saling bersidiam. Tidak yakin bagaimana harus memulai pembicaraan mereka walaupun mereka tahu jelas apa yang seharusnya mereka bicarakan. Jungkook tidak berani menatap Taehyung dan dia juga merasakan Taehyung di sisinya tidak menatapnya sama sekali. Kaki mereka bersebelahan, bergeming. Begitu hening, hanya sayup-sayup suara para pengunjung Kraton dikejauhan.

Jungkook tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia langsung saja mengatakan maaf dan meminta Taehyung melupakan semuanya lalu hidup berdampingan sebagai manusia beradab? Lupakan bahwa Jungkook mungkin jatuh cinta padanya karena dia tahu dia tidak layak untuk Taehyung.

Apakah Taehyung tahu Jungkook jatuh cinta padanya? Harusnya iya; sikap Jungkook selama ini sudah cukup menjelaskan semuanya.

Ya Tuhan, tolong Jungkook. Tolong Jungkook. Tolong Jungkook...

“Agaknya Mas...” Taehyung berdeham dan menelan dengan sulit, nampak jauh dari kesan tenang penuh percaya dirinya yang biasa, Jungkook melirik dan melihatnya mengaitkan kedua tangannya di atas pangkuannya dengan kikuk. Itu baru dan tidak familiar di mata Jungkook. Tapi membuat Taehyung nampak jauh lebih manusiawi.

“Jatuh cinta sama kamu.”