Taehwan
Jungkook mendadak mual, dia membungkus kembali makanannya dan meletakkannya di dalam Tupperware untuk dimakan kembali nanti jika dia masih berselera makan setelah kedatangan Taehwan. Dia menghela napas, apa yang diinginkan adik Taehyung padanya? Haruskah dia memberitahu Taehyung tentang ini?
Tapi Taehyung sudah terlalu banyak memikirkan hubungan mereka, sekarang dia harus memikirkan bagaimana memulai hidup baru yang mandiri tanpa ijazah dan Jungkook merasa dia sebaiknya tidak mempersulit keadaan Taehyung.
Dia akan menghadapi Taehwan sendiri.
Jadi, dia meraih jaketnya dan mengenakannya sebelum turun dan menemui Taehwan yang berdiri di dekat pos satpam kosan Jungkook, masih mengenakan seragam sekolahnya dengan tas ransel dan tas laptop.
“Loh? Kamu baru balik sekolah, Dek?” tanya Jungkook, terkejut melihat penampilan Taehwan yang nampak berantakan. Wajahnya sembab, matanya merah dan dia nampak lebih kurus; lesu dan tidak bergairah. Apakah dia sudah berbuka puasa?
“Aku ganggu Kak Jung, gak?” tanyanya kemudian dengan lemah.
Jungkook lekas menggeleng. “Engga kok engga, ayo sini ke kamar.” Ajaknya, meraih tangan Taehwan dan meremasnya hangat. Tidak peduli apa yang dilakukan ayah Taehyung, Taehwan bisa saja sama menderitanya dengan Taehyung. “Kamu udah buka puasa belum, Dek?”
“Belum, Kak, tadi aku pulang ekstrakulikuler langsung ke sini. Baru batalin pake air putih aja. Aku gak bilang Ayah ato Ibu. Naik gojek.” katanya mengekor Jungkook ke kamar dan mendudukan diri di kursi belajar Jungkook dan meletakkan ransel serta tas laptopnya di lantai sementara Jungkook bergegas membuatkannya minum teh manis hangat.
Jungkook memberikan satu roti bakarnya pada Taehwan yang langsung menerimanya dengan penuh rasa syukur. Berdoa tanpa suara, dia kemudian menyuap makanan itu dengan perlahan. “Makasih, ya, Kak, kirain Kakak gak mau ketemu aku...”
Jungkook menarik satu kursi lagi, duduk di hadapan Taehwan yang nampak serapuh kaca. “Enggak, lah. Kenapa juga harus benci? Bikin penyakit hati aja.” Dia tersenyum pada Taehwan.
Taehwan berhenti makan, dan Jungkook mendelik. Dia meraih tangan Taehwan dan mendesaknya untuk makan lagi. “Makan, ayo. Dihabisin dulu baru cerita-cerita, oke? Kamu habis puasa loh.”
Akhirnya Taehwan mengangguk, dengan lamat-lamat dia menghabiskan makanannya, meneguk teh hangat yang dibuatkan Jungkook lalu mendesah penuh syukur. Karena tidak ada sajadah, Jungkook mempersilakan Taehwan untuk sholat sebagaimana dia ingin.
Setelahnya, barulah mereka duduk berhadapan dan Taehwan nampak seolah akan menangis. Dia menatap Jungkook lalu menunduk, memainkan jemarinya; resah dan gelisah, dia membuat Jungkook merasa tidak enak hati.
“Kenapa kamu mau ketemu Kakak?” tanya Jungkook perlahan dan lembut, tidak ingin menakuti Taehwan.
“Kak gak marah sama aku?” tanyanya pertama dengan suara berbisik.
Jungkook mengerutkan alis. Hah? “Marah kenapa?”
“Emange Mas Tae gak cerita?”
“Cerita kok.”
“Berarti Kak tau, kan, yang bikin kalian.... ketauan itu aku?”
“Tau.”
Taehwan menatapnya, bibir bawahnya bergetar oleh tangis. “Kak gak marah?”
“Enggak.” balas Jungkook setenang samudera. Mungkin setelah lama bersama Taehyung, dia akhirnya belajar banyak hal tentang mengendalikan emosinya sendiri. Lagi pula, dia memang tidak pernah marah pada Taehwan. Anak itu tidak tahu apa-apa, dan tidak adil baginya jika Jungkook menyalahkan Taehwan atas masalah ini.
“Kami bakal ketauan kok, cepat atau lambat. Dengan ato tanpa bantuanmu, jadi yah... Mau gimana lagi, kan?” Jungkook menepuk tangan Taehwan lembut. “Jangan ngehukum diri sendiri, ya? Mas Tae ato Kakak gak marah sama kamu, serius deh.”
“Maaf, ya, Kak... Aku beneran gak tau.... Aku kira....”
“Gapapa,” kata Jungkook meremas bahunya. “Serius. Gak papa. Kamu gak tau, jadi rasanya gak fair kalo Kakak nyalahin kamu. Kami yg ceroboh, kami yang lupa jujur sama kamu. Gak papa.”
Taehwan menyeka air matanya. “Sebenere, tak pikir Mas di sini...,” bisiknya pecah. “Aku ndak tau harus nyari Mas ke mana. Aku tau alamat Kak Jung dari Mas Tae pas itu setelah Kak kenalan sama aku. Aku minta no WA Kak juga.... Maaf, ya, Kak kalo aku lancang.”
Jungkook meraihnya, memeluknya hangat dan membelai punggungnya. “Gak apa-apa,” katanya lembut. “Mas Tae kemarin emang di sini, tapi sekarang enggak lagi.”
“Mas ke mana, Kak?”
Jungkook berpikir sejenak lalu memejamkan mata. Membiarkan rasa sakit di hatinya menguar dan menjangkiti tiap celah hati dan organ di sekitarnya. Hanya dengan begitu, dia akan terbiasa dengan rasa sakit kenyataan ini. “Kakak gak bisa kasi tau, Mas yang minta. Jadi, kamu sabar, ya? Nanti Mas pasti balik.”
Menguraikan pelukan mereka, Jungkook menatap Taehwan yang nampak lemah dan letih. Postur tubuhnya merendah, sebuah gestur tidak sadar saat merasa lemah dan terekspos. Jungkook menggenggam tangannya yang dingin.
“Tapi..., Kakak sama Mas... beneran...?” tanyanya lamat-lamat dan Jungkook tersenyum. Pertanyaan ini sudah dijawabnya berkali-kali sejak memutuskan untuk come out bersama Mingyu.
Tatapan itu; kikuk dan tidak nyaman. Namun Jungkook tahu bahwa Taehwan merasa tidak nyaman karena takut dia mungkin bertanya hal yang tidak sopan. Takut melangkahi norma kesopanan dan personal space Jungkook.
“Ya. Bener.” balas Jungkook mulus, tidak ada keraguan di bibirnya. Dan setelahnya dia merasa begitu lega, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya dan dia bertanya-tanya mengapa mereka tidak sejak awal memberitahu Taehwan tentang ini?
“Aku tau, kok,” Taehwan mengangguk pelan-pelan. “Pas hari itu, pas Kak main ke rumah yang terus aku dilarang Mas turun ketemu Kakak? Itu... aku turun.” Dia menunduk, tidak berani menatap Jungkook. “Terus aku denger.... Kak sama Mas... ngobrolin itu.”
Hati Jungkook mencelos. Apakah Taehwan menceritakan semua pembicaraan mereka ke ayah Taehyung??
“Tapi terus aku gak bilang apa-apa ke Ayah, Kak, demi Allah!” katanya cepat-cepat, mendongak menatap Jungkook dengan tatapan liar dan ketakutan. Dia menggeleng hingga Jungkook takut kepalanya akan lepas dari lehernya. “Aku cuma cerita ke Ayah kalo temen Mas Tae itu asik, jurusan Hukum juga, aku pengen banyak ngobrol cuma pas Kak Jung main, lagi ngerjain tugas sama Mas Tae. Aku sayang Mas, kalo dia gak pengen Ayah tau berarti aku gak boleh cerita apa-apa....”
Taehwan menghela napas. “Terus aku denger si Mbak yang cerita ke Ayah. Ayah nanya, berapa kali temen Mas Tae dateng, si Mbak jawab dua kali. Yang pertama pas rumah kosong dan di ruang kerja, pintunya dikunci katanya mau nugas terus habistu rapat sama temen setim Mas Tae kayak biasa. Terus kedua pas makan bareng aku dan... Ayah tau gitu aja....”
Jungkook menghela napas dalam-dalam. Mereka memang seharusnya dari awal tidak ke rumah Taehyung. Mereka seharusnya ke kosan Jungkook saja; lebih aman. Tidak banyak orang usil, tidak banyak orang yang ingin tahu. Mereka sudah salah sejak awal dan untuk sekarang, Jungkook mengesampingkan pikirannya pada kesalahan itu. Ada masalah yang lebih besar untuk dipikirkan sekarang alih-alih hanya fokus pada kesalahan mereka kemarin.
Tidak ada gunanya.
Ini tanda bahwa kedepannya, mereka harus lebih matang dalam memperhitungkan langkah mereka.
“Gak apa-apa, ini bukan salah siapa-siapa kok,” kata Jungkook tersenyum lemah. “Emang udah waktunya ketauan aja, gapapa kamu gak usah ngerasa bersalah ato apa, ya? Gapapa. Seriusan.”
Taehwan mengangguk. “Di rumah suasananya keruh, Kak...” katanya. “Ayah jadi gampang marah, suka menyendiri, gak mau ngobrol sama orang-orang lagi. Lebih sering di pabrik, jarang makan. Tapi pas ditanya Ibu mau kontak Mas Tae gak? Ayah marah. Ngamuk. Aku sampe kaget, Ayah gak pernah marah kayak gitu. Terus beliau pergi, balik tadi pagi. Keliatan capek, jadi langsung tidur... Aku gak betah di rumah....”
Ternyata keputusan jahat itu pun memberikan efek yang keras pada ayah Taehyung. Sepedas apa pun kalimat orangtua pada anaknya, mereka pasti tetap menyesalinya. Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua, maka Jungkook selalu merasa dia bisa memaafkan sikap-sikap keliru orangtuanya. Bahkan orangtua Taehyung—sekarang, setelah dia mendengar bagaimana keadaan rumah tanpa Taehyung. Mereka di sini sama-sama belajar menjadi manusia, sama-sama tidak memiliki petunjuk bagaimana menjadi manusia yang baik dan benar. Kesalahan adalah hal wajar.
“Ayah itu.... sayang banget sama Mas Tae.” bisik Taehwan lagi. “Tapi gak tau kenapa, gak pernah akur. Kalo ke aku, Ayah selalu banggain Mas Tae. Ayah seneng Mas Tae kerja di PR, seneng tiap liat televisi ada wajah Mas Tae. Seneng, seneng banget. Ayah bangga sama Mas Tae, Ayah selalu bilang ke aku; 'nanti contoh Mas-mu, ya, Dek, liat tuh jadi berguna buat kota ini.'
“Tapi Mas juga keliatan capek, Ayah gak pernah muji Mas di depan Mas. Selalu dibelakangnya. Kata Ayah, itu buat mendidik mental. Katanya biar Mas gak sombong karena dipuji terus. Tapi aku gak pernah faham bagian ini... Bukannya kalo Ayah muji Mas, Mas malah akan makin semangat kerja? Gak tau, aku gak tau Ayah mikir gimana....
“Dan pas Kak Jung sama Mas Tae,” Taehwan menatapnya sejenak lalu kembali menunduk. “Mas keliatan beda banget. Gak kayak Mas biasanya yang tenang, lembut dan... gak tau, buatku selalu ada jarak antara aku dan Mas. Dia keliatan... terlalu sempurna. Jauh. Kayak... aku gak bakal bisa jadi sekeren Mas Tae. Tapi sama Kak Jung, Mas keliatan.... jauh lebih kayak manusia. Ketawa, marah, kesel, kecewa.... Mas jarang marah, jarang ketawa keras, jarang bercanda; pembawaannya selalu tenang, berwibawa....
“Kak Jung bikin Mas Tae jadi lebih baik. Aku seneng.... Makanya...., makanya....” Taehwan menyeka air matanya dan Jungkook menyambar kotak tisu, memberikan dua lembar pada Taehwan yang menyeka air matanya perlahan. “Makanya... aku cerita ke Ayah. Aku kasih tau Ayah gimana Kak Jung dan gimana Mas setelah kenal Kak Jung...”
Dia mulai terisak hingga Jungkook meraihnya dalam pelukannya lagi. “Aku gak nyangka, endingnya gini. Maksudku gak kayak gini, Kak, sumpah demi Allah, enggak. Aku gak niat nyakitin Kak Jung ato Mas Tae.... Aku... aku...”
Dan Taehwan meledak dalam tangisannya, Jungkook memejamkan mata. Kisah yang didengarnya hari ini adalah sebuah plot-twist dari keseluruhan cerita. Bagaimana ayah Taehyung begitu menyayangi Taehyung, berharap banyak padanya dan dipukul telak di ulu hatinya dengan fakta bahwa Taehyung mungkin tidak sebaik apa yang diharapkannya.
Tidak tumbuh seperti apa yang diharapkannya dan kekecewaan itu membuatnya meradang.
“Gak papa,” bisik Jungkook di kepala Taehwan yang terisak di dadanya. “Gak papa, nangis aja. Nangis abisin, ya? Nanti rasanya enakan....”
Ya Tuhan, pikir Jungkook hampa. Bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah ini?
“Kalo kamu kesepian, main ke sini aja, ya?” kata Jungkook saat melepaskan Taehwan di gerbang kosan.
Remaja tanggung itu mengangguk, menggunakan helm ojek daring yang dipesannya dan melambai kecil. “Maaf, ya, Kak?” katanya. “Nanti aku karang alasan sama Ayah dan ngapus nomor Kakak dari hapeku.”
“Gapapa, gausah minta maaf. Gak ada yang perlu dimaafin, kok. Kamu baik-baik, ya? Hati-hati di jalan, jangan mikirin macem-macem, tenang aja.” Jungkook membalas lambaian tangan Taehwan yang menaiki motor lalu berlalu seraya melambai lagi.
Anak manis, Taehwan itu.
Setelahnya, Jungkook mencuci wajahnya dan berbaring di ranjang. Kepalanya berdenyut-denyut dan dia memutuskan untuk sejenak merahasiakan kedatangan Taehwan dari Taehyung. Dia berdoa untuk Taehwan semoga alasannya cukup kuat untuk membuat ayahnya percaya dan memutuskan untuk mengiriminya pesan besok pagi saat dia yakin anak itu sedang di sekolah.
Jungkook memejamkan mata, berusaha untuk menghentikan pikirannya yang masih bergerak liar; terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari hingga otaknya yang malang kesulitan memproses semuanya dengan baik. Dia mendesah keras, menumpangkan lengannya di atas kedua matanya yang tertutup.
Kesulitan untuk hari ini cukuplah untuk hari ini, Jungkook, pikirnya sebelum akhirnya terlelap.