eclairedelange

i write.

Notifikasi

Jungkook masih tidak habis pikir bagaimana Yugi akhirnya nampak begitu merana karena puasanya batal, sekarang sedang mengontemplasi tujuan hidupnya di kursi sebelah Jungkook setelah mereka makan siang dan siap kembali untuk kelas berikutnya.

“Yaa lagian kok bisa lupa, sih, Yug?? Kirain elo lagi ada situasi khusus apaa gitu jadi gak puasa, makanya gue diemin aja.... Maaf, ya?”

Yugi masih menatap jalanan dengan mata nanar, nampak begitu kecewa dan tidak memiliki tujuan hidup. “Ya, arep piye meneh...” katanya kemudian. “Mampir indomar, Jek,”

Jungkook memicingkan matanya. “Mau ngapain?” tanyanya, tak ayal menepi ke mini market terdekat yang mereka lewati ke arah fakultas hukum.

“Udah kepalang basah, nyebur aja sekalian, yakan? Mau es krim gak, Jek?” Yugi melepas sabuk pengamannya, sudah siap akan turun dari mobil dan Jungkook nyaris menyambit kepalanya dengan sepatu.

“Dosa lo udah banyak anjir??” kata Jungkook tidak habis pikir, benar kata Mingyu bisa gila Jungkook lama-lama.

“Salah itu manusiawi, Jek, khilaf jenenge. Gusti Allah pasti memaafkan umatnya yang khilaf, nah karena udah kadung batal ya udah sekalian aja. Besok puasaku tak lebihin sehari,” Yugi nyengir. “Kesalahan itu bukan untuk disesali, tapi dijadikan pembelajaran.”

“Sok bijak, astaga!” Jungkook tertawa, setengah hatinya ingin membenturkan kepalanya ke setir. “Yaudah, gue mau lemon water aja,”

“Siap, Pak bos,” Yugi nyengir, membuka pintu mobil dan bergegas beranjak ke mini market dengan langkahnya yang panjang.

Jungkook mengamati mini market yang ramai dan mendesah. Dia menarik laci dasbor, mengeluarkan pas foto yang diberikan Taehyung beberapa hari lalu; pas foto biasa saja dengan background merah yang dia persiapkan untuk sidang kelulusan yang nampaknya akan tertunda karena masalah ini. Tapi pembicaraan mereka hari sebelum Taehyung mengundurkan diri, dia mengklaim akan tetap mengerjakan skripsinya dan melakukan bimbingan daring dan hanya akan kembali ke Jogja untuk mengurus sidang dan sidang, selebihnya dia akan tetap di Bali hingga masalah selesai.

Walaupun Jungkook sama sekali tidak faham bagaimana melarikan diri ke Bali akan menyelesaikan masalah namun dia menghormati pilihan Taehyung. Dia tidak akan berkomentar jika tidak ditanya. Mungkin Taehyung memang butuh waktu sendiri sebelum menghadapi ayahnya, mungkin dia sedang terkena emosi sesaat dan ingin membuktikan pada ayahnya bahwa dia mampu sebelum akhirnya mengkonfrontasi keluarganya lebih lagi.

Entahlah Jungkook hanya bisa mengikuti permainan Taehyung karena dia sadar sepenuhnya, ini urusan Taehyung dan keluarganya. Jungkook hanya kebetulan berada di antara mereka.

Menyimpan kembali pas foto di tangannya, Jungkook menutup laci dasbor lalu meraih ponselnya. Dia melihat Yugi sudah mengantri di kasir dengan satu botol minuman isotonik dan satu cup es krim, jadi harusnya tidak lama lagi. Dia baru saja akan membuka Instagram saat pemberitahuan Whatsapp membuatnya menahan napas.

Itu Taehwan.

Taehwan

Jungkook mendadak mual, dia membungkus kembali makanannya dan meletakkannya di dalam Tupperware untuk dimakan kembali nanti jika dia masih berselera makan setelah kedatangan Taehwan. Dia menghela napas, apa yang diinginkan adik Taehyung padanya? Haruskah dia memberitahu Taehyung tentang ini?

Tapi Taehyung sudah terlalu banyak memikirkan hubungan mereka, sekarang dia harus memikirkan bagaimana memulai hidup baru yang mandiri tanpa ijazah dan Jungkook merasa dia sebaiknya tidak mempersulit keadaan Taehyung.

Dia akan menghadapi Taehwan sendiri.

Jadi, dia meraih jaketnya dan mengenakannya sebelum turun dan menemui Taehwan yang berdiri di dekat pos satpam kosan Jungkook, masih mengenakan seragam sekolahnya dengan tas ransel dan tas laptop.

“Loh? Kamu baru balik sekolah, Dek?” tanya Jungkook, terkejut melihat penampilan Taehwan yang nampak berantakan. Wajahnya sembab, matanya merah dan dia nampak lebih kurus; lesu dan tidak bergairah. Apakah dia sudah berbuka puasa?

“Aku ganggu Kak Jung, gak?” tanyanya kemudian dengan lemah.

Jungkook lekas menggeleng. “Engga kok engga, ayo sini ke kamar.” Ajaknya, meraih tangan Taehwan dan meremasnya hangat. Tidak peduli apa yang dilakukan ayah Taehyung, Taehwan bisa saja sama menderitanya dengan Taehyung. “Kamu udah buka puasa belum, Dek?”

“Belum, Kak, tadi aku pulang ekstrakulikuler langsung ke sini. Baru batalin pake air putih aja. Aku gak bilang Ayah ato Ibu. Naik gojek.” katanya mengekor Jungkook ke kamar dan mendudukan diri di kursi belajar Jungkook dan meletakkan ransel serta tas laptopnya di lantai sementara Jungkook bergegas membuatkannya minum teh manis hangat.

Jungkook memberikan satu roti bakarnya pada Taehwan yang langsung menerimanya dengan penuh rasa syukur. Berdoa tanpa suara, dia kemudian menyuap makanan itu dengan perlahan. “Makasih, ya, Kak, kirain Kakak gak mau ketemu aku...”

Jungkook menarik satu kursi lagi, duduk di hadapan Taehwan yang nampak serapuh kaca. “Enggak, lah. Kenapa juga harus benci? Bikin penyakit hati aja.” Dia tersenyum pada Taehwan.

Taehwan berhenti makan, dan Jungkook mendelik. Dia meraih tangan Taehwan dan mendesaknya untuk makan lagi. “Makan, ayo. Dihabisin dulu baru cerita-cerita, oke? Kamu habis puasa loh.”

Akhirnya Taehwan mengangguk, dengan lamat-lamat dia menghabiskan makanannya, meneguk teh hangat yang dibuatkan Jungkook lalu mendesah penuh syukur. Karena tidak ada sajadah, Jungkook mempersilakan Taehwan untuk sholat sebagaimana dia ingin.

Setelahnya, barulah mereka duduk berhadapan dan Taehwan nampak seolah akan menangis. Dia menatap Jungkook lalu menunduk, memainkan jemarinya; resah dan gelisah, dia membuat Jungkook merasa tidak enak hati.

“Kenapa kamu mau ketemu Kakak?” tanya Jungkook perlahan dan lembut, tidak ingin menakuti Taehwan.

“Kak gak marah sama aku?” tanyanya pertama dengan suara berbisik.

Jungkook mengerutkan alis. Hah? “Marah kenapa?”

“Emange Mas Tae gak cerita?”

“Cerita kok.”

“Berarti Kak tau, kan, yang bikin kalian.... ketauan itu aku?”

“Tau.”

Taehwan menatapnya, bibir bawahnya bergetar oleh tangis. “Kak gak marah?”

“Enggak.” balas Jungkook setenang samudera. Mungkin setelah lama bersama Taehyung, dia akhirnya belajar banyak hal tentang mengendalikan emosinya sendiri. Lagi pula, dia memang tidak pernah marah pada Taehwan. Anak itu tidak tahu apa-apa, dan tidak adil baginya jika Jungkook menyalahkan Taehwan atas masalah ini.

“Kami bakal ketauan kok, cepat atau lambat. Dengan ato tanpa bantuanmu, jadi yah... Mau gimana lagi, kan?” Jungkook menepuk tangan Taehwan lembut. “Jangan ngehukum diri sendiri, ya? Mas Tae ato Kakak gak marah sama kamu, serius deh.”

“Maaf, ya, Kak... Aku beneran gak tau.... Aku kira....”

“Gapapa,” kata Jungkook meremas bahunya. “Serius. Gak papa. Kamu gak tau, jadi rasanya gak fair kalo Kakak nyalahin kamu. Kami yg ceroboh, kami yang lupa jujur sama kamu. Gak papa.”

Taehwan menyeka air matanya. “Sebenere, tak pikir Mas di sini...,” bisiknya pecah. “Aku ndak tau harus nyari Mas ke mana. Aku tau alamat Kak Jung dari Mas Tae pas itu setelah Kak kenalan sama aku. Aku minta no WA Kak juga.... Maaf, ya, Kak kalo aku lancang.”

Jungkook meraihnya, memeluknya hangat dan membelai punggungnya. “Gak apa-apa,” katanya lembut. “Mas Tae kemarin emang di sini, tapi sekarang enggak lagi.”

“Mas ke mana, Kak?”

Jungkook berpikir sejenak lalu memejamkan mata. Membiarkan rasa sakit di hatinya menguar dan menjangkiti tiap celah hati dan organ di sekitarnya. Hanya dengan begitu, dia akan terbiasa dengan rasa sakit kenyataan ini. “Kakak gak bisa kasi tau, Mas yang minta. Jadi, kamu sabar, ya? Nanti Mas pasti balik.”

Menguraikan pelukan mereka, Jungkook menatap Taehwan yang nampak lemah dan letih. Postur tubuhnya merendah, sebuah gestur tidak sadar saat merasa lemah dan terekspos. Jungkook menggenggam tangannya yang dingin.

“Tapi..., Kakak sama Mas... beneran...?” tanyanya lamat-lamat dan Jungkook tersenyum. Pertanyaan ini sudah dijawabnya berkali-kali sejak memutuskan untuk come out bersama Mingyu.

Tatapan itu; kikuk dan tidak nyaman. Namun Jungkook tahu bahwa Taehwan merasa tidak nyaman karena takut dia mungkin bertanya hal yang tidak sopan. Takut melangkahi norma kesopanan dan personal space Jungkook.

“Ya. Bener.” balas Jungkook mulus, tidak ada keraguan di bibirnya. Dan setelahnya dia merasa begitu lega, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya dan dia bertanya-tanya mengapa mereka tidak sejak awal memberitahu Taehwan tentang ini?

“Aku tau, kok,” Taehwan mengangguk pelan-pelan. “Pas hari itu, pas Kak main ke rumah yang terus aku dilarang Mas turun ketemu Kakak? Itu... aku turun.” Dia menunduk, tidak berani menatap Jungkook. “Terus aku denger.... Kak sama Mas... ngobrolin itu.”

Hati Jungkook mencelos. Apakah Taehwan menceritakan semua pembicaraan mereka ke ayah Taehyung??

“Tapi terus aku gak bilang apa-apa ke Ayah, Kak, demi Allah!” katanya cepat-cepat, mendongak menatap Jungkook dengan tatapan liar dan ketakutan. Dia menggeleng hingga Jungkook takut kepalanya akan lepas dari lehernya. “Aku cuma cerita ke Ayah kalo temen Mas Tae itu asik, jurusan Hukum juga, aku pengen banyak ngobrol cuma pas Kak Jung main, lagi ngerjain tugas sama Mas Tae. Aku sayang Mas, kalo dia gak pengen Ayah tau berarti aku gak boleh cerita apa-apa....”

Taehwan menghela napas. “Terus aku denger si Mbak yang cerita ke Ayah. Ayah nanya, berapa kali temen Mas Tae dateng, si Mbak jawab dua kali. Yang pertama pas rumah kosong dan di ruang kerja, pintunya dikunci katanya mau nugas terus habistu rapat sama temen setim Mas Tae kayak biasa. Terus kedua pas makan bareng aku dan... Ayah tau gitu aja....”

Jungkook menghela napas dalam-dalam. Mereka memang seharusnya dari awal tidak ke rumah Taehyung. Mereka seharusnya ke kosan Jungkook saja; lebih aman. Tidak banyak orang usil, tidak banyak orang yang ingin tahu. Mereka sudah salah sejak awal dan untuk sekarang, Jungkook mengesampingkan pikirannya pada kesalahan itu. Ada masalah yang lebih besar untuk dipikirkan sekarang alih-alih hanya fokus pada kesalahan mereka kemarin.

Tidak ada gunanya.

Ini tanda bahwa kedepannya, mereka harus lebih matang dalam memperhitungkan langkah mereka.

“Gak apa-apa, ini bukan salah siapa-siapa kok,” kata Jungkook tersenyum lemah. “Emang udah waktunya ketauan aja, gapapa kamu gak usah ngerasa bersalah ato apa, ya? Gapapa. Seriusan.”

Taehwan mengangguk. “Di rumah suasananya keruh, Kak...” katanya. “Ayah jadi gampang marah, suka menyendiri, gak mau ngobrol sama orang-orang lagi. Lebih sering di pabrik, jarang makan. Tapi pas ditanya Ibu mau kontak Mas Tae gak? Ayah marah. Ngamuk. Aku sampe kaget, Ayah gak pernah marah kayak gitu. Terus beliau pergi, balik tadi pagi. Keliatan capek, jadi langsung tidur... Aku gak betah di rumah....”

Ternyata keputusan jahat itu pun memberikan efek yang keras pada ayah Taehyung. Sepedas apa pun kalimat orangtua pada anaknya, mereka pasti tetap menyesalinya. Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua, maka Jungkook selalu merasa dia bisa memaafkan sikap-sikap keliru orangtuanya. Bahkan orangtua Taehyung—sekarang, setelah dia mendengar bagaimana keadaan rumah tanpa Taehyung. Mereka di sini sama-sama belajar menjadi manusia, sama-sama tidak memiliki petunjuk bagaimana menjadi manusia yang baik dan benar. Kesalahan adalah hal wajar.

“Ayah itu.... sayang banget sama Mas Tae.” bisik Taehwan lagi. “Tapi gak tau kenapa, gak pernah akur. Kalo ke aku, Ayah selalu banggain Mas Tae. Ayah seneng Mas Tae kerja di PR, seneng tiap liat televisi ada wajah Mas Tae. Seneng, seneng banget. Ayah bangga sama Mas Tae, Ayah selalu bilang ke aku; 'nanti contoh Mas-mu, ya, Dek, liat tuh jadi berguna buat kota ini.'

“Tapi Mas juga keliatan capek, Ayah gak pernah muji Mas di depan Mas. Selalu dibelakangnya. Kata Ayah, itu buat mendidik mental. Katanya biar Mas gak sombong karena dipuji terus. Tapi aku gak pernah faham bagian ini... Bukannya kalo Ayah muji Mas, Mas malah akan makin semangat kerja? Gak tau, aku gak tau Ayah mikir gimana....

“Dan pas Kak Jung sama Mas Tae,” Taehwan menatapnya sejenak lalu kembali menunduk. “Mas keliatan beda banget. Gak kayak Mas biasanya yang tenang, lembut dan... gak tau, buatku selalu ada jarak antara aku dan Mas. Dia keliatan... terlalu sempurna. Jauh. Kayak... aku gak bakal bisa jadi sekeren Mas Tae. Tapi sama Kak Jung, Mas keliatan.... jauh lebih kayak manusia. Ketawa, marah, kesel, kecewa.... Mas jarang marah, jarang ketawa keras, jarang bercanda; pembawaannya selalu tenang, berwibawa....

“Kak Jung bikin Mas Tae jadi lebih baik. Aku seneng.... Makanya...., makanya....” Taehwan menyeka air matanya dan Jungkook menyambar kotak tisu, memberikan dua lembar pada Taehwan yang menyeka air matanya perlahan. “Makanya... aku cerita ke Ayah. Aku kasih tau Ayah gimana Kak Jung dan gimana Mas setelah kenal Kak Jung...”

Dia mulai terisak hingga Jungkook meraihnya dalam pelukannya lagi. “Aku gak nyangka, endingnya gini. Maksudku gak kayak gini, Kak, sumpah demi Allah, enggak. Aku gak niat nyakitin Kak Jung ato Mas Tae.... Aku... aku...”

Dan Taehwan meledak dalam tangisannya, Jungkook memejamkan mata. Kisah yang didengarnya hari ini adalah sebuah plot-twist dari keseluruhan cerita. Bagaimana ayah Taehyung begitu menyayangi Taehyung, berharap banyak padanya dan dipukul telak di ulu hatinya dengan fakta bahwa Taehyung mungkin tidak sebaik apa yang diharapkannya.

Tidak tumbuh seperti apa yang diharapkannya dan kekecewaan itu membuatnya meradang.

“Gak papa,” bisik Jungkook di kepala Taehwan yang terisak di dadanya. “Gak papa, nangis aja. Nangis abisin, ya? Nanti rasanya enakan....”

Ya Tuhan, pikir Jungkook hampa. Bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah ini?

“Kalo kamu kesepian, main ke sini aja, ya?” kata Jungkook saat melepaskan Taehwan di gerbang kosan.

Remaja tanggung itu mengangguk, menggunakan helm ojek daring yang dipesannya dan melambai kecil. “Maaf, ya, Kak?” katanya. “Nanti aku karang alasan sama Ayah dan ngapus nomor Kakak dari hapeku.”

“Gapapa, gausah minta maaf. Gak ada yang perlu dimaafin, kok. Kamu baik-baik, ya? Hati-hati di jalan, jangan mikirin macem-macem, tenang aja.” Jungkook membalas lambaian tangan Taehwan yang menaiki motor lalu berlalu seraya melambai lagi.

Anak manis, Taehwan itu.

Setelahnya, Jungkook mencuci wajahnya dan berbaring di ranjang. Kepalanya berdenyut-denyut dan dia memutuskan untuk sejenak merahasiakan kedatangan Taehwan dari Taehyung. Dia berdoa untuk Taehwan semoga alasannya cukup kuat untuk membuat ayahnya percaya dan memutuskan untuk mengiriminya pesan besok pagi saat dia yakin anak itu sedang di sekolah.

Jungkook memejamkan mata, berusaha untuk menghentikan pikirannya yang masih bergerak liar; terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari hingga otaknya yang malang kesulitan memproses semuanya dengan baik. Dia mendesah keras, menumpangkan lengannya di atas kedua matanya yang tertutup.

Kesulitan untuk hari ini cukuplah untuk hari ini, Jungkook, pikirnya sebelum akhirnya terlelap.

Keputusan

Jungkook sedang berada di awang-awang, tidak yakin apakah dia sedang sadar atau tidak saat dibalik awan gelap yang samar-samar menutupi matanya, dia melihat Taehyung bangkit dari sisinya nyaris tanpa suara dan beranjak ke pantry kecilnya di sudut ruangan, meraih tasnya dan mengeluarkan sebungkus mie instan.

Kebingungan, dengan kepala berat dan rasa kantuk yang mustahil dilawan, dia mencoba bangkit dari selubung yang membelenggunya lalu bertanya dengan suara seperti sedang berkumur: “Ng'pain?”

Taehyung menoleh lalu tersenyum. Wajahnya nampak bengkak akibat tangisan dan amarah, pucat pasi dan bibirnya pecah-pecah. Dia terlihat begitu menyedihkan dan anehnya begitu manusiawi; lebih manusia dari Taehyung yang dikenal Jungkook berlindung di balik topeng ketenangan dan kelembutan surgawinya. Sekarang dia nampak kacau, seperti seonggok zombie yang tidak memiliki kehidupan. Apakah dia akan tetap nampak seperti itu besok pagi? Jungkook merasakan sengatan rasa perih di hatinya.

Dia tidak pernah melihat Taehyung menunjukkan emosi lain selain ketenangan dan kelembutan, ketika melihatnya, Jungkook merasakan sakit seolah dirinya sendiri yang telah melukai Taehyung. Bagaimana bisa ada manusia yang menyakiti orang lain dengan cara seperti ini? Dan lebih buruknya lagi, dia adalah ayah kandung Taehyung.

Pemuda itu meletakkan kemasan mie instannya di pantry lalu beranjak ke sisi Jungkook, duduk di sisinya dan membelai kepalanya dengan lembut, menggiring selubung kantuk kembali menjalari otaknya yang macet. “Maaf, Mas bangunin kamu, ya? Mas cuma mau sahur, kamu tidur lagi aja.”

”'Pa?”

Taehyung terkekeh dalam suara parau yang terdengar seperti monster rawa. “Sahur. Mas sahur, hari ini puasa. Udah kamu tidur aja,” katanya menepuk kepala Jungkook, menggumamkan nada menenangkan hingga akhirnya Jungkook pasrah pada kegelapan yang menangkupnya; terlelap.

Dan saat dia terbangun setelahnya, Taehyung baru aja menyelesaikan sholatnya. Masih mengenakan sarung dan pecinya. Cahaya matahari menyusup dari jendela yang hanya dibuka setengah tirainya, sudah lumayan terik. Suara-suara berisik gedebuk-gedebuk khas kosan lelaki terdengar sayup-sayup dari kamar-kamar sekitar Jungkook. Ada suara musik Linkin Park dan Maroon 5 yang saling tumpang-tindih, siulan, guyuran air. Dunia sudah beraktivitas dan normal.

Menyisakan Jungkook yang masih kebingungan. Sejenak tidak mengenali kamarnya sendiri dan bertanya-tanya mengapa Taehyung ada di kamarnya? Dan nampak begitu nyaman? Lalu dia teringat masalah mereka semalam; pukulan Taehyung ke dinding, air matanya, suara gemetarnya yang lemah saat bercerita.

'Maka kamu tidak diterima lagi di sini. Selesai. Buat Ayah kamu mati.'

Jungkook langsung terduduk saat hantaman memori itu membuat seluruh sarafnya seketika siaga. “Ini jam berapa?” tanyanya nyaris panik dan Taehyung terkekeh.

Di atas meja belajar Jungkook sudah ada laptop yang menyala dengan pekerjaan, dua ponsel Taehyung dan beberapa buku. Taehyung sedang mengerjakan skripsinya saat Jungkook masih tertidur pulas. Taehyung melepas sarung dan pecinya, melipat sajadah yang dibawanya dan meletakkannya dengan rapi di pojokan kasur Jungkook.

“Jam 12, Mas baru kelar sholat. Kamu tidur lama banget jadi Mas gak bangunin. Kamu kalo mau makan pesen aja, ya? Mas puasa soalnya.” Taehyung melangkah ke meja belajar Jungkook lalu berhenti. “Oh, ya, tadi habis subuhan Mas coba bersihin dindingnya pake air sama lap, bisa. Tapi gak bersih-bersih banget, sih...”

Jungkook menoleh ke dinding yang semalam harus menanggung amarah Taehyung dan melihat bercak kecokelatan pudar tempat punggung tangan Taehyung menghantamnya. “Gpapa,” katanya pusing. “Nanti aku bilang ke pengurus kos.”

“Mandi dulu, gih.” kata Taehyung tenang, menarik kursinya dan kembali menenekuni pekerjaannya di layar. “Kamu pasti capek.”

Memandangi punggung Taehyung yang membungkuk ke laptop, bagaimana dia bekerja dengan ekspresi wajah tenang yang steril seperti Taehyung yang biasanya mengirimkan rasa nyeri aneh ke hati Jungkook.

Apakah dia sudah kembali menjadi Taehyung dengan topeng emosi lamanya?

“Mas?”

Taehyung menoleh. “Ya?”

Jungkook menatapnya dalam-dalam. “Emangnya Mas gak capek?”

“Capek? Capek ap—”

Jungkook menyelanya dengan gema, “Bersikap tenang.” katanya. “Lembut. Kalem. Mas berhak marah, Mas berhak sedih. Mas berhak ambil satu hari untuk istirahat dari kerjaan dan apa pun yang Mas lagi kerjakan. Semua emosi yang Mas rasakan itu valid; Mas gak butuh validasi siapa-siapa buat ngerasain itu. Gak validasiku dan jelas bukan validasi keluarga Mas.”

Taehyung menatapnya lalu menghela napas dalam-dalam. “Hei, hei,” katanya. “Kenapa kamu jadi marah-marah, to? Mas gak apa-apa, Mas gak suka marah-marah. Bikin kepala jadi pusing, kalo bisa ditenangkan mending Mas menenangkan diri. Kan udah marah-marahnya kemarin, masa mau marah-marah terus?”

Jungkook terduduk di sana, tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki di hadapannya bersikap begitu jauh dari standar manusia yang dimiliki Jungkook. Bagaimana dia bisa bersikap begitu tenang bahkan di dalam kondisi seperti ini? Tidakkah dia takut? Kebingungan? Marah? Sedih?

“Mas sedih, Mas marah; tapi Mas gak yakin emosi itu bisa membantu Mas buat saat ini, kan?”

Mengehela napas, Jungkook menyerah. Mungkin benar kata orang jika tidak semua orang harus menyelesaikan masalahnya dengan cara Jungkook. Mereka punya waktu dan cara sendiri; punya coping mechanism yang beragam. Mingyu selalu mengingatkan Jungkook tentang ini; untuk tidak memaksakan coping mechanism-nya sendiri ke orang lain yang jelas-jelas memiliki cara mereka sendiri. Jungkook akhirnya mengendikkan bahu, menyerah berusaha meminta Taehyung melampiaskan amarahnya. Ya sudahlah, pikirnya.

“Tapi, terima kasih.” kata Taehyung kemudian, terenyum tulus dan begitu tampan. Jika saja tidak sedang puasa, Jungkook ingin sekali memeluknya; menenangkannya, meyakinkannya bahwa apa pun yang terjadi, bahkan jika seluruh dunia memalingkan wajah dari Taehyung, Jungkook akan tetap di sisinya. Mencintainya dan mendukung segala keputusannya.

“Terima kaih sudah menemani Mas kemarin malam, Mas seneng karena Mas melakukan hal yang benar dengan dateng ke kamu.”

Jungkook membuka mulutnya, akan menjawab dengan ceria betapa dia tidak keberatan untuk direpotkan. Bagaimana Taehyung adalah kekasihnya dan sudah sepantasnya pasangan bersikap saling mendukung dalam keadaan bagaimana pun. Jungkook hanya menjalankan bagiannya dalam hubungan mereka. Dia senang bisa membantu; dan dia akan terus membantu Taehyung sepanjang perjuangan ini. Sampai ayahnya kembali menerimanya menjadi anak.

Jungkook berjanji.

Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Taehyung melanjutkan, “Hari ini Mas mau ke kantor, agak sorean nanti. Mas mau nyerahin surat pengunduran diri, mau minta akun Twitter di-take down.” Taehyung kembali fokus ke pekerjaannya dan sebelum Jungkook sempat menjawab lagi, dia melanjutkan, menolak menatap Jungook saat kembali bicara, kali ini dengan getar luka di suaranya:

“Setelahnya Mas berangkat ke Bali. Mas gak bisa terus di sini, cuma bakal gangguin kamu belajar aja. Kita... pisah sebentar, ya?”

Ayah

“Dari mana, Mas?”

Taehyung menutup pintu mobilnya dan langsung bertemu wajah dengan ayahnya yang menunggu di depan pintu rumah dengan kain sarung dan sedang menyemprotkan air ke burung peliharaannya di dalam sangkar-sangkar tanam yang mengapit pintu masuk rumah mereka.

Taehyung mengeluarkan ponselnya dan menelaah beberapa pemberitahuan tentang pekerjaan yang akan dikerjakannya setelah mandi, dia begitu lelah tapi bahagia. Besok dia akan masuk kantor sebagai orang baru yang segar oleh emosi dan rasa bahagia. Dia tersenyum saat beranjak ke depan pintu, ke arah ayahnya.

“Habis jalan sama teman, Ayah. Ayah sudah makan?” tanyanya meraih tangan lelaki paruh baya itu dan menyentuhkan punggung tangan ayahnya ke keningnya dengan penuh penghormatan. “Sudah mandi?”

Ayahnya menatapnya dengan wajah tak terbaca yang sudah akrab dengan Taehyung. Tatapan mata itu mengirimkan reaksi tidak nyaman ke dasar perutnya. Taehyung sudah terbiasa dengan tatapan itu, artinya hanya satu;

Taehyung baru saja melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan ayahnya.

Membuatnya bingung karena dua malam lalu dia sudah bicara dengan ayahnya tentang keputusannya untuk mengajukan pengunduran diri di Tim PR Jogja dan memutuskan untuk fokus di pabrik batik seperti apa yang diinginkan ayahnya. Dia juga sudah mulai terjun ke pabrik, menerima beberapa pekerjaan kecil yang diberikan ayahnya sebagai semacam inisiasi sebelum terjun menjadi kepala perusahaan.

Dia sudah menuruti ayahnya sejak kecil; apa pun yang beliau inginkan akan selalu dibawakan Taehyung ke mejanya. Semuanya kecuali dua hal; menikah dan sebelum dua hari ini, menjadi kepala pabrik. Taehyung tidak pernah memutuskan apa pun di dalam hidupnya seperti bagaimana dia memutuskan untuk menolak perjodohan ayahnya dan menolak tanggung jawab menjadi kepala pabrik.

Dia menikmati saat berada di sekitar wisatawan, menjelaskan tentang Jogja dan mengapa mereka harus kembali ke Jogja. Dia menyukai tantangan pekerjaannya dan ayahnya tidak bisa memahami itu. Dan Taehyung kini sudah menuruti keinginannya, menjadi pemilik pabrik.

Apa lagi salah Taehyung sekarang?

“Teman kamu yang mana?” tanya ayahnya, kali ini kembali menoleh ke peliharaannya dengan ketenangan yang membuat Taehyung mengkerut menjadi anak kecil lima tahun yang tertangkap sedang bermain alih-alih belajar.

Kekuatan dominasi ayahnya secara fisik dan emosi selalu membuat Taehyung lemah. Serangan yang selalu mengoyak mentalnya dengan cara paling tidak manusiawi. Dia sejenak teringat bagaimana ayah Jungkook tadi mengapresiasi pilihan anaknya, menghormati kebahagiaan Jungkook dan bahkan ikut berbahagia bersamanya.

Rasa iri yang menyeruak di hatinya tidak akan pernah membaik setelah ini.

Jutaan 'bagaimana jika' yang mulai membayangi kepalanya seperti ribuan lebah yang mendenging di telinganya; bagaimana jika orangtuanya adalah orangtua Jungkook? Bagaimana jika dia memiliki kehidupan normal sebagai orang biasa dan bukan keturunan ningrat? Bagaimana jika dia bisa memilih kemana dia ingin membawa hidupnya? Bagaimana jika dia bukan Raden Mas Taehyung? Bagaimana jika....

Bagaimana jika.... Bagaimana jika....

Namun sebuah 'bagaimana jika' akan tetap menjadi 'bagaimana jika'. Begitulah hidup, sayangnya, bekerja dalam keadilan. Maka Taehyung menghela napas dalam-dalam, menjaga pandangannya tetap ke dada ayahnya saat menjawab dengan suara yang tidak dikenali telinganya sendiri.

“Teman kuliah, Ayah.”

“Hm.” sahut ayahnya dingin. “Teman kuliahmu yang Jungkook itu?”

Jantung Taehyung mencelos hingga ke dasar perutnya. Ini pasti Taehwan. Entah sengaja atau tidak telah menceritakan tentang Jungkook pada ayahnya; mengingat siapa Taehwan, Taehyung yakin adiknya menceritakan Jungkook pada ayahnya karena Jungkook menyita perhatiannya dengan jurusan kuliahnya. Adiknya selalu dekat dengan ayahnya, tidak mendapatkan didikan setiran Taehyung karena dia adalah anak bungsu. Di punggung Taehyung-lah nama Pragowoaji sedang dipertaruhkan, bukan pada punggung adiknya.

Taehyung-lah yang harus meneruskan usaha mereka. Taehyung yang harus menjaga kehormatan keluarga mereka.

Taehyung.

Dan selalu Taehyung.

Adiknya adalah burung bebas yang disayangi dan diperlakukan dengan penuh kelembutan. Mendapatkan segala pilihan yang diinginkannya, menjadi bebas dan dirinya sendiri. Tidak ada kecaman atas setiap emosi yang dirasakannya, tidak ada kecaman atas pilihan-pilihannya.

Adiknya adalah seseorang yang selalu Taehyung harapkan dirinya sendiri menjadi.

“Iya, Ayah.” sahutnya kemudian, masih berusaha untuk menjaga nada suaranya.

Ayahnya menatapnya lalu meletakkan alat siramnya dan melangkah masuk. Taehyung mengikutinya dengan taat, menanti hingga ayahnya duduk di sofa dan berdiri di hadapannya dengan pandangan ke arah karpet. Sebagian kecil dirinya yang berusia muda, yang selalu ketakutan pada ayahnya, muncul membesar di kepalanya dan mencengkram otaknya dengan rasa trauma yang menyesakkan.

Taehyung... takut. Selalu takut jika ini tentang ayahnya.

“Kamu sama Jungkook ini, berteman?”

“Iya, Ayah.”

“Seberapa dekat?”

“Cukup dekat, Ayah.”

“Siapa dia?”

Taehyung menelan gumpalan pahit di kerongkongannya sebelum menjawab dengan suara kecil. “Teman kuliah, Ayah.”

“Kamu tau maksud pertanyaan Ayah, Mas.”

Tahu, Taehyung tahu tapi dia menolak memahaminya. Menolak menjawabnya. Dia tidak mau, dia tidak mau, dia tidak mau! Taehyung ingin berteriak marah saat ini juga, dia tidak suka rahasianya diusik, tapi dia akhirnya menjawab dengan suara gemetar halus, “Orang Jakarta, Ayah. Maba UGM jurusan Hukum, Taehwan suka ngobrol sama dia.”

“Dan?”

Taehyung tidak bisa berkilah sama sekali. “Dia Kristen.”

“Oh. Dan?”

“Kami bersahabat.”

“Bersahabat tapi berdua di dalam ruang kerja dengan pintu dikunci? Jawab Ayah, kalian ngapain?”

Ulu hati Taehyung terasa seperti ditonjok dan dia membungkuk beberapa senti merespon rasa sakit tak kasat mata itu, mulutnya terbuka dan dia bernapas melalui mulutnya; berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang berdentam dengan gila. Taehwan.

TAEHWAN!

Dia lupa untuk memberitahu adiknya, dia lupa. Dia lalai. Dia begitu bodoh. Dia ceroboh dan sekarang dia telah menghancurkan semua strateginya untuk merahasiakan hubungan mereka karena akhirnya, ayahnya tahu.

Ayahnya tahu. Dia pasti tahu.

“Jawab Ayah, Taehyung.”

Taehyung memejamkan matanya. “Ayah...” katanya, mencicit seperti seekor tikus yang ketakutan. Dia ingin kabur, ingin berlindung di balik sesuatu. Dia tidak mau menghadapi amarah ayahnya. Sama sekali tidak.

Tapi hal yang bisa membuatnya menghindari amarah itu adalah hal yang tidak diinginkannya.

“Akhiri.”

Gamblang, dingin dan nyaris melumpuhkan bagaimana kata itu menghantam kepala Taehyung dengan kekuatannya dan rasa nyeri yang membuat otaknya kesemutan seketika itu juga. Dia mendongak dengan mulut terbuka, menatap ayahnya yang berwajah murka.

“Apa?”

“Ayah tau. Ayah tau.” Ayahnya nampak kesakitan, dia menyentuh ulu hatinya dengan tangannya. Begitu kesakitan dan menderita, panik dan bingung. “Akhiri. Sebelum jadi parah. Itu bisa diobati. Ayah akan cari caranya. Kamu bisa sembuh, gapapa. Gak bakal ada yang tau, kita rahasiakan.”

”... Apa?” bisik Taehyung. “Apa? Apa kata Ayah? Apa?” Dia merasa seperti robot rusak, mengulang kata itu berkali-kali tanpa suara hanya karena otaknya terasa membeku oleh rasa amarah dan sakit hati mendengar kalimat ayahnya.

Ayahnya menganggapnya sakit, ayahnya menganggapnya tidak normal, ayahnya menganggapnya sampah. Menganggap perasaannya pada Jungkook adalah tidak normal, adalah dosa, adalah kesalahan. Taehyung pening. Ayahnya. Ayahnya. Lelaki yang selalu Taehyung jadikan panduan, jadikan pegangan arah; ayahnya....

“Saya sayang Jungkook.”

“STOP!”

Sekarang ayahnya meraung dan berdiri, nampak berusaha bernapas melalui mulutnya. Wajahnya berkerut oleh emosi dan rasa sakit, nampak begitu tersiksa hingga Taehyung terpukul mundur oleh rasa takut kanak-kanaknya telah melukai ayahnya sebegitu rupa.

“Ayah gak mau dengar. Oke? Ayah gak mau dengar. Putus sekarang juga, tinggalkan dia. Kita cari cara nyembuhin kamu. Ayah gak mau dengar apa-apa lagi, kalo kamu masih sayang Ayah, turuti mau ayah.”

Begitu, pikir Taehyung hampa dan kosong.

Selalu begitu. Kartu AS yang dikeluarkan ayahnya tiap kali Taehyung mendebatnya; jika Taehyung sayang ayahnya maka Taehyung harus menurut. Jika Taehyung sayang, jika Taehyung sayang....

Taehyung muak.

“Kalo gak mau?” balasnya kemudian, dingin dan mengejutkan dirinya sendiri karena berani menatap ayahnya langsung dengan keberanian anyar yang tidak dikenalinya.

Ayahnya balas menatapnya. Mereka berpandangan sejenak sebelum ayahnya menghela napas.

“Maka kamu tidak diterima lagi di sini. Selesai. Buat Ayah kamu mati.”

Taehyung berbatuk, menyamarkan isak tangisny sendiri lalu menelan tangisannya dalam-dalam. Membiarkan amarah dan dendam bergumul naik memenuhi kerongkongannya, terasa seperti asam lambung dan siap dimuntahkan. “Baik.” balasnya tenang. Ajaib bagaimana dia masih berhasil mengendalikan suaranya bahkan saat amarah terasa begitu pahit di mulutnya.

“Baik, saya pergi. Semoga Ayah selalu bahagia.”

Lalu mereka bertatapan, ayah Taehyung memejamkan mata dan kembali duduk. Dan Taehyung menggunakan waktu itu untuk beranjak ke kamarnya sendiri, mengemas bajunya di dalam ransel dan menyambar semua surat-surat kendaraan dan ijazahnya karena mobilnya adalah miliknya; itu tabungannya sendiri ayahnya tidak punya sepeserpun andil di dalamnya.

Saat dia keluar kamar, adiknya berdiri di depan pintu kamarnya. Nampak begitu rapuh dan wajah memerah akibat tangis.

“Mas, maaf...” bisiknya. “Aku... ndak tau....”

Taehyung memejamkan matanya, perih luka di hatinya terasa nyata. Emosinya, hatinya, seluruh dirinya terasa koyak. Dia ingin marah, ingin mengamuk. Ingin menendang atau memukul sesuatu. Ingin melampiaskan rasa amarah ini pada sesuatu; menonjok ayahnya akan terasa seperti kemewahan dan moralnya sendiri tidak mengizinkannya jadi dia harus melampiaskannya pada hal lain. Dia begitu murka. Dia benar-benar marah hingga kata 'marah' itu sendiri terasa begitu remeh untuk emosinya sekarang.

“Gapapa, Mas gak marah, kok, Mas tau kamu ndak sengaja.” Dia berhasil menjawab lalu menepuk kepala adiknya lembut sementara amarah liar mulai bergolak di perutnya dan membuatnya mual. Dia menahannya. “Mas tinggal sebentar, ya? Sik rajin belajarnya. Nanti Mas balik, gak tau kapan. Kontak Mas terus,”

Dan itulah terakhir kalinya Taehyung berada di rumahnya, dia tidak menatap ayahnya yang duduk di sofa. Hanya merasakan tatapan ibunya di tubuhnya saat dia berlalu melewati mereka. Dia bisa mendengar adiknya kembali menangis, dia seharusnya mengajari adiknya untuk menahan tangisnya tapi kemudian teringat bahwa inklusivitas emosi itu hanya dimiliki oleh adiknya; Taehyung-lah yang harus belajar keras mengontrol emosinya.

Kepalanya berdentam-dentam saat dia menuruni tangga, dia merasakan pandangannya yang kabur oleh emosi dan begitu asing dengan perasaan itu. “Assalamualaikum.” katanya dingin pada ibunya, hanya ibunya lalu pergi dari sana.

Walaupun dia tidak yakin ibunya tidak berpandangan sama dengan ayahnya tentang hubungannya bersama Jungkook. Mau apa lagi? Mereka dijodohkan bahkan saat baru lahir dan langsung jatuh cinta saat dikenalkan. Mereka tidak mengenal perasaan yang Taehyung rasakan.

Melempar tasnya ke dalam mobil dan melaju dengan amarah yang bergumul di dasar perutnya seperti binatang buas ke satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya setiap saat dan setiap waktu, tempat dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus dikoreksi dan merasa nyaman atas itu;

Jungkook.

Lari _

You and I just have a dream to find our love a place, where we can hide away. You and I were just made to love each other now, forever and a day. _

Saat mendengar derum mobil Taehyung yang khas, Jungkook langsung melompat bangun dan berlari ke arah pintu, membantingnya terbuka lalu menuruni tangga dua-dua menuju lantai bawah seperti seorang sprinter yang hidupnya tergantung oleh apakah dia memenangkan perlombaan ini.

Tiba di pintu utama gedung kosan, dia melihat Taehyung sedang menarik ranselnya keluar dan nampak.... murka. Ekspresi itu membuat Jungkook berhenti mendadak, nyaris terantuk langkahnya sendiri dan terjerembab. Terlalu terkejut dengan bagaimana ekspresi anyar itu nampak sangat natural di wajah Taehyung. Rahangnya keras dan nampak siap menghantamkan tinjunya ke siapa saja yang berani menganggunya atau bahkan bernapas terlalu dekat dengannya.

Jungkook belum pernah melihat Taehyung semarah ini. Bahkan kata 'murka' sendiri melemahkan emosi yang terpampang di wajah Taehyung saat ini.

Untuk pertama kalinya semenjak mengenal dan berpacaran dengan Taehyung, Jungkook merasakan rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya. Terasa seperti seember air es yang disiramkan ke punggungnya, Jungkook terasa mengkerut saat dia menyingkir dari pintu, menatap wajah keras Taehyung yang menatapnya.

“Mas... oke?” tanyanya, praktis mencicit ketakutan oleh kemurkaan Taehyung yang asing dan nyaris seperti... binatang buas yang teritorinya diganggu.

Emosi itu nampak begitu asing dan eksotis di wajah Taehyung yang selalu penuh ketenangan dan kelembutan. Begitu mengerikan apa yang bisa dilakukan amarah pada seseorang yang selalu sabar dan tenang. Jungkook bersumpah dia akan berusaha menjaga perdebatan-perdebatan mereka di masa depan dalam lingkup diskusi berkepala dingin.

“Gak.” balas Taehyung lalu meraih tangannya, mencengkram tangan Jungkook lebih tepatnya dan menariknya naik. Beberapa anak kos yang sedang asik di ruang tamu menoleh lalu memalingkan wajah dengan sopan.

Di kamar, Taehyung melempar tasnya ke lantai hingga Jungkook berjengit kaget lalu melakukan hal paling manusiawi selanjutnya ke dinding kamar Jungkook; menghantamkan kepalan tangannya ke sana hingga dinding bergetar dan kulit arinya sobek. Suara dentuman dan jejak darah yang muncul di dinding itu kemudian akan menjadi masalah antara Jungkook dan pengelola kos, tapi itu bukan masalah utama malam ini.

“Maaf,” desahnya dan Jungkook memijat kepalanya. Bahkan dia masih sempat meminta maaf atas emosinya sendiri? Hal yang begitu konyol. Kenapa dia harus meminta maaf atas emosinya? Atas perasaannya? Apakah ini yang dilakukan orang-orang? Menghapuskan jati diri seseorang dengan melarangnya merasakan emosi? Menyalahkan mereka atas amarah mereka?

Jungkook benar-benar muak.

“Jangan minta maaf, silakan marah.” kata Jungkook tenang, mendudukan dirinya di ranjang mengamati Taehyung yang berdiri di tengah ruangan; aura amarahnya mendominasi dan mengungkung Jungkook dalam udara yang terasa berat dan beraroma tengik amarah mentah. “Aku tunggu.”

Taehyung memejamkan mata, menghela napas dalam-dalam, nampak begitu kesakitan dengan emosinya yang tidak bisa dilampiaskannya. Entah karena dia begitu bermoral untuk marah atau apa, Jungkook tidak faham. Wajahnya berkerut-kerut penuh rasa nyeri yang mengirimkan rasa sakit ke hati Jungkook hingga akhirnya dia berdiri.

Meraih Taehyung ke dalam pelukannya, membiarkan emosi Taehyung lumer seperti cokelat yang dipanaskan; lengket di setiap jengkal tubuh Jungkook.

“Gapapa, gapapa. Dilepasin aja. Gapapa, marah aja.” bisik Jungkook sementara Taehyung mengaitkan tangannya ke pinggangnya, gemetar dan kebingungan. Asing akan emosinya sendiri, perasaan aneh yang menjalari punggungnya dan membuat kepalanya terasa kesemutan dan pusing. “Kalo ditahan tar jadi penyakit.”

Setelah akhirnya Taehyung agak tenang, Jungkook mengajaknya duduk di ranjang. Meraih tangannya dan mendesah saat kerusakannya ternyata jauh lebih parah dari yang diperkirakannya. Tangan Taehyung kurus dan panjang, hingga hantaman minimal sekali pun bisa membuka kulitnya hingga tulangnya nampak.

Jungkook menatap Taehyung. “Mas mau cerita?” tanyanya lembut. “Aku obatin dulu, ya,” dia bangkit lalu meraih kotak obat pribadinya yang dibuatkan ibunya lalu mengeluarkan pembersih luka, kain kasa, perekat serta obat merah.

“Maaf,” bisik Taehyung parau.

“No need,” balas Jungkook seketika itu juga, tersenyum lembut. “Mas berhak marah. Berhak merasakan emosi apa pun yang Mas rasakan. Gak boleh minta maaf atas emosi-emosi Mas sendiri, oke? Itu valid.” Dia meraih tangan Taehyung dengan perlahan, meletakannya di pahanya sendiri lalu mulai mengobatinya.

“Take your time, aku tunggu sampe Mas siap cerita. Aku maksa kalo yang ini, karena masalahnya kita, kalo masalahnya cuma tentang Mas dan Ayah, aku mungkin bakal diem dan biarin Mas kelarin sendiri senyaman Mas.” Jungkook meletakkan kapas bekas yang digunakannya untuk membersihkan luka Taehyung lalu menatapnya.

“Jadi, mari bekerja sama.”

Dinner

Jungkook mendesah kekenyangan saat akhirnya mereka kembali memasuki mobil setelah makan malam dengan begitu lezat. Dia tidak menyangka bahwa hari ini akan berakhir dengan sangat indah.

Tadi, saat ibunya terkejut oleh salam Taehyung, Jungkook bersyukur bahwa ibunya tidak seketika itu menampakkan ketidaksetujuannya. Alih-alih mereka mengobrol dengan akrab, seperti teman lama. Ibunya nampak menikmati pembicaraan mereka namun dari pesan yang dikirimkan ayah Jungkook, dia tahu ibunya tetap saja terkejut mengenai fakta agama Taehyung.

Syukurlah orangtua Jungkook sudah menerima begitu banyak kejutan dari anaknya sehingga mereka menyikapi perbedaan agama ini dengan lebih kalem. Teringat bagaimana ayahnya nampak kaget, terluka dan kebingungan saat Jungkook muncul di hadapannya, mengaku dengan tegas bahwa dia seorang homoseksual.

Mereka tidak bicara selama satu bulan penuh dan Jungkook memilih untuk tinggal bersama Mingyu daripada berada di bawah satu atap dengan orangtuanya yang menatapnya seolah Jungkook sudah meninggal. Lalu entah apa yang terjadi, ayahnya menghubunginya. Meminta maaf atas sikapnya yang tidak menghormati pilihan Jungkook lalu memintanya kembali pulang.

Butuh satu minggu hingga akhirnya Jungkook kembali, dan ayahnya memeluknya erat. Mengatakan padanya bahwa dia salah karena tidak menghormati pilihan anaknya, lupa bahwa anaknya adalah juga individu dengan perasaan yang valid dan mandiri. Jungkook tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya, sungguh karena kemudian dia menyerahkan kebahagiaan Jungkook di tangan Jungkook.

“Papah hanya akan berdiri di sini, kalo Adek salah dan ingin pulang, maka pintu rumah akan selalu terbuka untuk Adek kembali.”

Namun yang menjadi masalahnya sekarang bukan lagi orangtua Jungkook, melainkan orangtua Taehyung.

Pikiran ini mengirimkan rasa mual ke dasar perut Jungkook dan dia menoleh pada Taehyung yang memasuki mobil, membenahi spion tengah mobil dan tersenyum cerah padanya. Hari ini dia nampak ceria; jauh lebih manusiawi daripada hari pertama Jungkook bertemu dengannya.

Dia tidak lagi mengenakan topeng ketenangan dan kelembutan ningrat yang digunakannya sejak dahulu. Dia lebih banyak tertawa, lebih banyak tersenyum, menjadi jujur tentang emosi-emosinya; menikmati waktu yang dengan cara manusia normal. Nampak kebingungan, nampak ketakutan. Emosi-emosi yang membuat Jungkook tersentuh.

Taehyung akhirnya memecahkan cangkang stigma yang mengungkungnya selama puluhan tahun dan menjadi jauh lebih manusia daripada sebelumnya.

Emosi-emosi baru itu menciptakan banyak ekspresi baru yang jauh lebih memesona di wajahnya, menciptakan banyak percikan-percikan baru di dada Jungkook; dia kembali jatuh cinta, lagi dan lagi pada setiap emosi baru yang muncul di wajah Taehyung.

Bagaimana bibirnya membentuk persegi panjang saat tersenyum, matanya yang menyipit, wajahnya yang memerah.... Taehyung nampak lebih vulgar dengan emosi barunya, jauh dari sterilisasi keturunan ningratnya namun nampak jauh lebih tampan dan memesona.

“I love you,” kata Jungkook meraih tangan Taehyung di perseneling dan meremasnya lembut. “Makasih udah bawa aku ke tempat-tempat baru yang keren.”

“I love you too,” balas Taehyung membalik telapak tangannya hingga tangan Jungkook berada dalam genggamannya lalu meremasnya lembut. “Maaf tadi Mas keceplosan sama Mama, serius Mas kira kamu udah cerita ke ortu. Harusnya Mas tanya dulu, ya?”

Jungkook terkekeh kecil. “Gapapa, Mama emang gitu tapi tar juga baikan kalo beliau tau betapa baiknya Mas, betapa bertanggung jawab dan pedulinya Mas ke aku. Orangtua mana yang gak berbahagia atas kebahagiaan anaknya?”

Taehyung menatapnya dengan tatapan lembut yang begitu menyihir Jungkook lalu membawa tangan Jungkook ke wajahnya, membenamkannya di telapak tangan Jungkook lalu menghirup aromanya dalam-dalam. Gestur intim yang selalu mengirimkan ledakan ke dasar perut Jungkook.

“Makasih.”

“Kembali kasih.”

“Karena sudah datang ke kehidupan Mas dan membuatnya jauh lebih baik.”

Jungkook ingin waktu berhenti saat itu juga lagi, dengan wajah ceria Taehyung di sisinya, lagu Scorpions bermain di audio mobil, suasana malam jalanan Jogja yang magis, tangan mereka bertautan, pembicaraan kecil tentang masa depan yang tidak nyata...

Jungkook bahagia, sangat bahagia. Hingga dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dan mungkin pikiran sekilas itulah yang kemudian membuat kebahagiaannya retak lalu hancur berantakan. Dia mungkin seharusnya mendengarkan Mingyu dengan berhenti. Put a stop in his racing mind about everything. Tapi dia tidak memahaminya, masih tidak.

Saat Taehyung menurunkannya di kosan dan melambai padanya. Berlalu meninggalkan Jungkook yang penuh oleh rasa bahagia tapi anxious, takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Rasa anxious itu juga yang menghantui tiap langkahnya menuju kamar, langkahnya saat mandi dan segalanya. Dia berusaha menenangkan diri, mencoba berhenti memikirkan hal buruk.

Taehyung akan tiba di rumah dengan selamat. Tidak akan terjadi apa-apa. Dia bahkan mulai menulis jurnal hal-hal yang akan dilakukannya saat Mingyu akhirnya kembali berkunjung ke Jogja, membayangkan hal-hal seru yang mereka bisa lakukan; lava tour, rafting, mendaki Merapi.... Jungkook akan bertemu Taehyung lagi besok, sama bahagia dan sama penuh cintanya. Jungkook berdoa untuk kebahagiaan mereka berdua, untuk kehidupan yang jauh lebih nyaman dan menyenangkan.

Dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Namun permintaan yang salah.

Video Call Bucans

Taehyung menurunkan ponselnya, menatap layarnya yang tersambung ke nomor Jungkook namun dengan pemberitahuan bahwa Jungkook sedang berada di panggilan lain. Taehyung mendesah, melirik jam tangannya dengan kecewa. Mereka tidak akan mencapai tempat yang direncakanannya tepat waktu jika begini.

Berusaha untuk tetap tenang, Taehyung akhirnya memarkir mobilnya di halaman parkir kos ekslusif Jungkook dan keluar. Para satpam yang sudah mengenalnya langsung menyapanya.

“Pak, Jungkook kamar 2-B ada, njih?” katanya seraya menutup pintu mobil.

“Ada, Mas, ada.” sahut satpam itu. “Langsung mawon naik, Mas, dari tadi belum keluar lagi, kok dari kamarnya.”

Taehyung mengangguk dan tersenyum berterima kasih sebelum memasuki gedung kosan dan menaiki tangga menuju lantai dua, kamar Jungkook. Setibanya di depan pintu kamar, Taehyung mengetuk pintu kamar Jungkook dengan lembut. Setelah kunjungan ketiga akhirnya para satpam kosan mengenal akrab Taehyung sehingga tiap kali dia berkunjung maka para satpam akan langsung mengizinkannya naik ke kamar Jungkook tanpa perlu dijemput oleh penghuni kos yang bersangkutan.

Tidak ada yang menjawab ketukan Taehyung tapi dia bisa mendengar sayup-sayup suara Jungkook di dalam kamar, jadi dia membuka pintu perlahan dan langsung bertemu mata dengan Jungkook yang sedang menerima panggilan video di atas ranjangnya.

Jungkook bergegas melambaikan tangannya, meminta Taehyung menunggu jadi Taehyung akhirnya menutup pintu lalu menunggu di meja belajar Jungkook yang terisi buku-buku kuliah.

“Mama, udah dulu, ya? Adek mau keluar nih.” kata Jungkook pada ponselnya dan Taehyung terkekeh mendengar nada bicara Jungkook yang manis. Dia dengan sopan mengalihkan pandangannya dari Jungkook, memberikan privasi bagi pembicaraan ibu dan anak itu.

Sebagian hati Taehyung ingin mengobrol dengan ibu Jungkook, apalagi setelah mendengar bahwa Jungkook sudah come out sejak lama kepada kedua orangtuanya. Taehyung ingin dikenalkan sebagai kekasih Jungkook, ingin dikenalkan sebagai seseorang yang menjaga Jungkook di Jogja.

Tapi dia juga menghormati keputusan Jungkook; jika dia belum ingin, maka Taehyung tidak akan memaksanya. Semuanya butuh waktu.

“Sama siapa?” tanya Mama Jungkook dari seberang sana dan Taehyung melirik ke arah Jungkook yang balas meliriknya dari atas ponsel yang digenggamnya. “Sama pacar Adek, ya? Teyung?”

“Taehyung, Ma,” ulang Jungkook melirik Taehyung lagi.

“Lagi di kosan Adek, ya? Mama boleh ngobrol?”

'Astaghfirullah,' pikir Taehyung kemudian dengan tenggorokan tercekat. Dia memang baru saja berharap bisa bicara dengan ibu Jungkook, tapi tidak dengan cara seperti ini. Terlalu cepat, Taehyung bahkan tidak yakin pada apa yang harus dikatakannya pada ibu Jungkook. Pasangan itu diam, saling melirik dengan kikuk—tidak yakin pada apa yang harus mereka lakukan.

“Dek?” ulang ibu Jungkook dengan nada tidak sabar. “Gak boleh, ya?” Sepercik nada sedih yang membuat wajah Jungkook berkerut oleh rasa tidak enak dan kesedihan karena tidak memberikan apa yang ibunya inginkan.

Jungkook mengendikkan dagu pada Taehyung, memintanya mendekat dan pemuda itu akhirnya mendesah dan berdiri, “Sini,” katanya dengan kelembutan darah ningratnya yang membuat Jungkook terpesona jutaan tahun lalu.

Ini memang haru dihadapi, pikir Taehyung teringat nada sedih perempuan paruh baya itu dan bagaimana hal itu mengirimkan rasa sedih ke Jungkook juga. Mereka memang sudah terlambat ke lokasi yang diinginkan Taehyung, jadi ya sudah. Sekalian saja.

Dia berdiri di sisi Jungkook dan mengulurkan tangan, meminta ponsel Jungkook yang masih menyala, menayangkan wajah kebingungan ibunda Jungkook. Jungkook mendongak, menatapnya sejenak dan Taehyung mengangguk—menyemangatinya sehingga akhirnya pemuda manis itu mendesah panjang.

“Yaudah, ini. Tapi, jangan galak-galak, loh,” kata Jungkook memberengut manja ke ibunya yang menjawab 'Iya, iya,' dengan nada gemas penuh sayang sebelum menyerahkan ponsel ke Taehyung yang menghela napas dalam-dalam dan tersenyum pada wajah di ponsel.

Dia nampak seperti Jungkook, cantik dan menenangkan. Jenis wajah yang akan membuatmu seketika merasa semuanya baik-baik saja, jenis wajah keibuan yang akan memasakkan makanan kesukaanmu tiap kali kau memenangkan lomba, yang akan menemanimu hingga tertidur. Aura keibuan kuat yang membuat Taehyung terenyuh. Gurat usia nampak di wajahnya, namun dengan senyuman ramah di bibirnya, dia nampak awet muda. Persis Jungkook; senyumnya, binar matanya, garis wajahnya...

“Halo, Taehyung.” sapa perempuan paruh baya di hadapannya dan Taehyung tersenyum ramah.

Jungkook menatap interaksi itu dengan perut mengejang cemas. Apakah akan baik-baik saja? Apakah ini benar-benar saat yang tepat untuk keduanya bertemu? Ataukah Jungkook seharusnya menunggu lebih lama lagi sebelum mengenalkan keduanya? Apakah seharusnya Jungkook mem-briefing Taehyung sebelum menerima teleponnya?

Kekhawatiran Jungkook terjawab saat Taehyung melemparkan senyuman memesona sejuta watt-nya yang menyilaukan lalu menjawab sapaan ibu Jungkook dengan kalimat yang sangat normal jika saja tidak dalam konteks saat ini, namun mengingatkan Jungkook tentang detail kecil fundamental ini:

“Assalamualaikum, Tante.”

Ibunya belum tahu bahwa Taehyung itu muslim.

Tamasya #2

“Maaf, ya, tak tinggal sholat,”

Jungkook mendongak dari kesibukannya memfoto pemandangan di hadapannya dan tersenyum pada Taehyung yang sedang mengelap tangannya di saputangan dengan wajah segar sehabis wudhu dan dengan ujung-ujung rambut bagian depannya basah oleh air. Dia nampak begitu menyejukkan di bawah sinar matahari yang terik, nyaris sesejuk udara yang sejak tadi membelai wajahnya.

“Mas,” kata Jungkook saat Taehyung duduk di hadapannya, beraroma lembut sabun mandi yang mungkin digunakannya untuk cuci tangan setelah sholat tadi di mushola.

“Ya?” tanya Taehyung, yang sejenak tadi terdistraksi oleh pesan di ponsel esia hidayahnya. “Kenapa?” tanyanya mendongak lalu mengerjap, menunggu jawaban Jungkook.

Jungkook mengamati dengan lekat bentuk wajah Taehyung yang kurus dan runcing; bagaimana rambutnya yang setengah basah oleh air wudhu disisir naik dengan tangannya, beberapa anak rambut menjuntai di keningnya yang tinggi, titik-titik air yang tidak dihapus menghiasi keningnya, wajahnya yang memerah oleh suhu, bibirnya yang merah dan basah, matanya yang berbinar lembut, ekspresinya yang menenangkan.

Jungkook sungguh bisa gila.

“Kamu kok ganteng ya abis sholat?” bisiknya dengan tatapan terpesona yang lemah pada Taehyung.

Taehyung mengerjap, diam sejenak lalu tertawa tanpa suara. “Iya? Ganteng aja ato ganteng banget?” tanyanya juga berisik.

Jungkook tersenyum simpul. “Banget. Gak pake bohong.”

Taehyung mengulurkan tangan dan menepuk tangan Jungkook di meja dengan hangat dan cepat sebelum ada seseorang yang mengamati mereka. “Udahan? Ayo kita cari makan siang,” dia melirik jam tangannya.

“Hah?” ulang Jungkook saat Taehyung berdiri, merogoh saku belakang jins pudarnya yang dirobek modis di bagian lututnya dan mengeluarkan dompet. “Mau pulang?” tanyanya dengan wajah sedih.

Jungkook masih ingin bersama Taehyung.

Taehyung tersenyum, berdiri membelakangi Gunung Merapi yang gagah nampak begitu menyejukkan, ramah dan tenang menatap Jungkook. “Engga, kita pindah cari makan di bawah.”

“Bawah?”

“Bukan bawah di kasir loh, ya, maksudnya,” Taehyung terkekeh kecil karena saat ini mereka menikmati kopi dan sepiring tempe mendoan di lantai dua warung Kopi Merapi. “Kita turun ke Cangkringan.”

Jungkook belum benar-benar memikirkan arti perkataan Taehyung saat pemuda itu berbalik dan menuruni tangga sempit menuju kasir yang terletak di lantai satu. Mau tidak mau, Jungkook bergegas berdiri dan menyusulnya. Mereka kembali ke mobil setelah membayar makanan yang hanya menghabiskan lima puluh ribu rupiah dengan Jungkook yang menghabiskan dua piring mendoan lalu melanjutkan perjalanan.

Taehyung mengizinkan Jungkook membuka jendela dan membiarkan udara Kaliurang yang sejuk dan segar memenuhi kabin mobil. Jungkook memandang ke luar, membiarkan hidungnya diterpa udara segar yang sejuk. Mengamati Gunung Merapi yang perlahan menjauh dan mereka memasuki wilayah Kaliurang yang padat penduduk lagi.

Karena udara sudah mulai memanas memasuki kawasan pemukiman, Jungkook menaikkan jedelanya menutup lalu mengatur suhu penyejuk kabin dan bersandar, menikmati perjalanan mereka diiringi musik kekinian yang melantun di radio mobil.

Taehyung mengulurkan tangan, meremas tangan Jungkook lembut sejenak sebelum memindahkan gigi perseneling mobil.

Kemudian, Taehyung membelok ke jalan aspal kecil dengan palang “Kopi Klotok” berwarna kuning. Jungkook menoleh ke Taehyung yang mengemudi dengan tenang, ujung rambutnya masih sedikit basah dan dia masih nampak segar.

“Kenapa?” tanya Taehyung saat menghentikan mobilnya, membunyikan klakson pada penjaga parkir yang memintanya berhenti sejenak karena ada mobil yang akan keluar dan jalan yang mereka lewati terlalu sempit untuk dua mobil berpapasan dua arah.

“Mas,” kata Jungkook dan Taehyung menoleh, saat dia membuka mulut untuk bicara, Jungkook meraih bagian belakang kepalanya dan membenamkan bibirnya ke bibir Taehyung yang membuka.

Rasanya manis dan pahit, seperti kopi. Dengan sedikit jejak saliva Taehyung dan Jungkook sendiri. Bibirnya bergerak dengan lembut, Taehyung membalasnya. Menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Jungkook yang mengerang kecil dan merengek; tangannya meremas bagian rambut di tengkuk Taehyung, berusaha menarik Taehyung lebih dekat lagi...

Lebih dekat.... Lebih dan lebih dekat lagi...

“Mas?!”

Keduanya tersentak dan mundur, seorang tukang parkir berdiri di pintu Taehyung, berusaha mengintip ke dalam mobil yang syukurnya berjendela gelap dan mengetuk jendelanya lembut.

“Maju, Mas,” katanya dan Taehyung bergegas mengusap bibirnya lalu menurunkan jendelanya sedikit.

“Siap, Mas,” balasnya. “Maaf, njih.” katanya tersenyum ramah pada tukang parkir yang balas tersenyum lalu maju, mengarahkan mobilnya ke dalam tempat parkir warung sederhana yang lebih nampak seperti rumah seseorang alih-alih restoran seperti yang dikatakan Taehyung.

Hal yang Jungkook heran adalah tempat parkirannya begitu penuh. Mobil diparkir begitu dekat dengan satu sama lain, motor-motor berjejer penuh sesak. Manusia-manusia berjejalan di ruang sempit yang tersedia dan Jungkook menoleh ke Taehyung yang masih fokus memarkir mobilnya diarahkan oleh tukang parkir yang berteriak di belakangnya.

Ada sebuah halaman lapang di bagian belakang rumah itu, terisi oleh tikar-tikar anyaman yang terisi beberapa rombongan yang sedang tertawa dan bercengkrama dengan makanan di dalam lingkaran mereka. Jungkook mengamati bagaimana asri dan sejuk tempat itu terasa; ramah dan begitu terbuka. Mengundang siapa saja untuk merasakan atmosfir “homey” yang menenangkan. Seolah jika Jungkook mengintip ke dapur, dia akan menemukan neneknya seseorang yang ramah dan baik hati sedang memasak telur dadar favoritnya.

“Ini... rame banget?” katanya sedikit kebingungan pada Taehyung yang menarik rem tangannya. “Makan apa di sini?”

Taehyung terkekeh. “Selamat datang di Kopi Klotok,” katanya kalem. “Mas suka nongkrong di sini dulu sama anak-anak. Kamu harus cobain pisang gorengnya dulu, baru komentar, oke?” dia kemudian membuka pintunya. “Ayo, kita makan siang.”

Jungkook bergegas mengikutinya.

Rumah itu bahkan lebih ramai lagi di bagian dalam. Orang-orang berdesakan hingga mustahil bisa berjalan tanpa bergesekan dengan orang lain. Jungkook menyambar bagian belakang kaus Taehyung yang berjalan mulus melewati orang-orang dan menuju halaman belakang yang berupa teras terbuka ke arah persawahan yang sedang terisi padi yang mulai rimbun.

Taehyung, syukurnya menemukan meja kosong dan meminta Jungkook duduk di sana. “Kamu mau minum apa? Ada kopi klotok, ada teh tubruk. Mau makan juga?”

Jungkook terpana. “Hah?” katanya, tidak memahami bahasa yang digunakan Taehyung. Lalu pemuda itu tertawa. “Oh, maaf, maaf,” katanya tersenyum. “Kamu kan tadi udah ngopi ya, Mas pesenin es teh ya? Sama pisang goreng.”

Tanpa menunggu jawaban Jungkook, Taehyung memanggil seorang pelayan yang nampak seperti akan pingsan kelelahan dan memesan minuman sebelum memberi tanda pada Jungkook.

“Mas ambil makan dulu, ya? Kamu diem di sana. Jagain kursinya.”

Jungkook membuka mulut untuk protes, namun Taehyung sudah lenyap ke dalam rumah penuh sesak itu. Tidak punya pilihan lain, Jungkook bersandar ke kursinya dan memberengut. Kebingungan, kelaparan dan kesal. Kemudian Taehyung kembali dengan dua piring di tangannya terisi makanan dengan lauk lengkap.

“Ini... dari mana?” tanya Jungkook saat makanan di letakkan di hadapannya.

“Di Jogja emang gini,” Taehyung tersenyum. “Banyak tempat-tempat makan yang punya konsep rumahan kayak gini. Jadi kamu tar ambil sendiri aja makanannya, terus bayar dan makan deh. Makanannya prasmanan di meja tadi di dalem, kayaknya kamu gak liat. Mas taunya kamu gak suka lele? Jadi Mas ambilin tempe sama ini ada sayur lodeh dan telur krispi yang enak banget.”

Jungkook menatap Taehyung yang sedang membenahi posisi duduknya, keringat terbit di keningnya. Mungkin karena berdesakan mengambil makanan untuk Jungkook. Dia mengusap keringatnya dengan punggung tangan, nyaris tidak menyadari gerakan itu sementara meraih ponselnya yang berdering. Dia membaca pesannya, lalu mengabaikannya.

“Ayo, makan,” katanya pada Jungkook yang sedang mengamatinya. “Malah bengong,” tambahnya terkekeh lalu meraih sendoknya sendiri dan mulai makan. “Enak loh, makanannya. Mas suka.” Dia mengunyah dengan khidmat dan lahap. “Pisang gorengnya Mas pesenin empat piring, soalnya bener-bener enak. Mas yakin kamu suka,”

Jungkook meraih piringnya dan mulai makan juga mengikuti Taehyung. “Pst, Mas!” katanya dan Taehyung mendongak dari kesibukannya memotong-motong telur agar Jungkook lebih mudah memakannya.

“Ya?” sahutnya.

“I love you.” bisik Jungkook lalu nyengir. “Makasih udah bawa aku ke tempat-tempat baru kayak gini.”

Taehyung tersenyum. “Kembali kasih,” balasnya. “Besok kalo mau nyium,” katanya memelankan suaranya hingga dia yakin hanya Jungkook yang mendengarnya di tengah kebisingan Kopi Klotok yang ramai. “Tolong jangan pas lagi mau parkir, ya?”

Jungkook tertawa ceria. “Maaf, habis siapa suruh ganteng,” balasnya tersenyum lebar dan Taehyung tidak bisa tidak membalas senyumannya.

“Dimaafkan.” katanya setenang samudera. “Ayo, dihabisin maemnya.”

Jungkook ingin sekali masa-masa indah ini abadi, tidak berlalu sama sekali. Dia ingin waktu berhenti saat ini, saat Taehyung memotong-motong telur mereka agar mudah dimakan Jungkook, saat Taehyung membantunya makan, saat Taehyung begitu melayaninya dengan sepenuh hati.

Saat Taehyung menatapnya penuh cinta, memberikan segalanya yang mungkin Jungkook butuhkan, memberikan seluruh dunianya pada Jungkook.

Jungkook ingin mereka selamanya begini; sederhana dan bahagia.

“Amin,” bisik Jungkook lalu kembali makan. Seperti kata Mingyu, Jungkook harus hidup di masa sekarang dan menikmati segala yang dimilikinya hari ini. Maka, dia akan menikmati hari ini dengan penuh kebahagiaan hingga kesedihan apa pun tidak akan bisa menyakitinya.

Tamasya #1

Jungkook nyengir saat melihat mobil Taehyung memasuki halaman fakultasnya, dia bergegas menghampiri mobil dan melambai pada Yugi yang sedang asik mengunyah batagor yang dibelinya dari tukang batagor keliling yang selalu berjualan di depan fakultas hukum.

Yugi melambaikan tusukan makanannya dengan pipi menggelembung terisi makanan dan tersenyum lebar saat Taehyung membunyikan klaksonnya lembut tanda mengenalinya. “Yo, ati-ati, ya!” serunya dengan mulut penuh.

Jungkook membuka pintu penumpang dan tersenyum lebar pada lelaki di balik kemudi yang nampak segar dan cerah setelah mandi; aroma sabun dan aftershave-nya memenuhi udara mobil, Jungkook menyondongkan tubuhnya untuk memeluknya serta menghirup aroma Taehyung dalam-dalam.

“Gimana kelasmu?” tanya Taehyung memutar mobil dan sekali lagi membunyikan klakson pada Yugi yang masih berdiri di parkiran, sekarang mengobrol dengan temannya masih mengunyah batagor. Yugi melambai ceria membalas klakson Taehyung. “Lancar?”

Jungkook mengangguk, mengeluarkan ponsel dan dompet dari tasnya lalu melemparnya ke jok belakang. “Lancar-lancar aja, banyak tugas lumayan. Kayaknya karna bentar lagi UTS jadi pada gencar ngasih tugas,” Jungkook mengulurkan tangan ke radio di dalam mobil Taehyung dan mulai mencari-cari siaran radio.

“Oh, ya, bentar lagi puasa, ya?” kata Jungkook saat iklan Ramadhan menggema di saluran radio lokal kesukaannya. “Biasanya ada acara apa yang khas di Jogja?”

Taehyung yang mengemudi sejenak berpikir. “Paling ya buka bersama di Masjid Gedhe Kauman ato di Jogokaryan. Kenapa? Oh iya, nyari takjil tuh seru di pasar sore Jogokaryan ato Kauman. Besok Mas ajak, ya?” Dia menoleh sejenak dan tersenyum. “Legend banget itu buat wisatawan, kayak belum lengkap hidup di Jogja kalo belum ke sana pas bulan Puasa.”

“Oke!” serunya ceria. “Ajak Taehwan juga, ya??”

“Biasanya dia gasuka sih, tapi ya gapapa coba aja. Dia anaknya mageran kalo diajak desek-desekan gitu. Tapi kalo kamu yang ngajak kali aja mau anaknya,” Taehyung menoleh dan tersenyum.

“Siap,” Jungkook tersenyum hingga kerutan menggemaskan muncul di pangkal hidungnya. “Btw kita mau kemana, Mas?” tanyanya ceria.

“Ini?” tanya Taehyung mengemudi lurus ke utara, membelah Jalan Kaliurang mendekat ke lereng Gunung Merapi. “Kita mau ngopi,” katanya terkekeh.

“Ngopi?” ulang Jungkook. “Ngopi mah di Jakal banyak kali Mas, buat apa ke sini?” Jungkook mengamati jalanan di sekitarnya, mereka mulai meninggalkan hiruk-pikuk Jalan Kaliurang yang padat dan sumpek dan menuju ke jalanan yang lebih kecil dan halus, dihiasi oleh hamparan sawah dan semak.

“Aku baru pernah ke sini,” aku Jungkook kemudian, dengan wajah menempel di jendela, mengamati pemandangan baru ini. “Ini masih Jakal??” tanyanya. “Kok sepi?”

“Lha, jelas. Ini kilometer 10 ke atas,” kekeh Taehyung mengemudi dengan mulus di jalanan sempit dua arah. “Belum pernah naik ke Jakal, to? Ini nanti ujungnya di lereng Merapi, ada banyak wahana wisata sebenernya, tapi Mas mau ngajak kamu kulineran dulu. Sisanya bisa belakangan lah kalo kamu libur.”

“Ada apa emangnya?” tanya Jungkook, masih mengamati hamparan sawah di sisi jalanan.

“Ada lava tour, kamu naik jeep gitu diajak menelusuri jalur laharnya Merapi, asik. Off-road. Full tour-nya bisa ke rumahnya Mbah Marjan di kaki Merapi persis,” kata Taehyung memasukkan perseneling dan menginjak gas lebih dalam karena jalanan mereka mulai menanjak. “Bungker Kaliadem, Museum Mini yang isinya barang-barang peninggalan letusan Merapi; banyak. Tar next kita main, ya?”

“Naik jip?”

“Yap. Tar diajak off-road di Kalikuning juga sampe basah. Seru banget.”

Tidak ada jawaban, jadi Taehyung menoleh dan terkekeh melihat Jungkook yang menatapnya dengan mata berbinar. Melepaskan tangan dari roda kemudi, Taehyung mengulurkan tangan dan mengusap lembut kepala Jungkook.

“Nanti, ya, kalo kamu libur. Ajak Yugi sama Mingyu juga. Rame-rame. Jipnya muat untuk enam orang sampe supir, kok. Oke?”

“Janji?”

Taehyung terkekeh. “Janji.”

Mereka melewati gerbang retribusi dan melanjutkan perjalanan setelah Taehyung membayar harga karcis masuk. Jalanan semakin sepi dan hijau, begitu pula suhu yang menurun karena mereka memasuki kawasan daratan tinggi. Setelah melewati satu lagi gerbang retribusi, mereka membelok ke jalan yang rusak.

“Ini... seriusan, jalannya??” tanya Jungkook berpegangan erat saat mobil Taehyung melaju perlahan di jalanan yang rusak dengan bebatuan tajam. “Hati-hati, loh, Mas, kasian bannya.”

“Ya, namanya juga jalan buat jip, jelas rusak,” kata Taehyung santai, mengemudi dengan perlahan agar ban mobil mereka tidak mengenai bebatuan yang tajam dan membiarkan jip menyalip mereka. “Tuh, kayak gitu tuh, lava tour.” Taehyung memberi tanda ke jip yang menyalip mereka.

Ada lima orang di atas mobil, satu duduk di sisi pengemudi dan tiga lainnya berdiri di bagian belakang jip. Menggunakan standar keselamatan helm dan masker, mereka diajak untuk melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang rusak. Jeritan penuh adrenalin mereka lolos hingga ke dalam mobil dan Jungkook terserang rasa iri yang teramat sangat. Jip sengaja dikemudikan dengan kecepatan tinggi, menerjang jalur yang tidak rata hingga berguncang-guncang dan begitu menegangkan. Jungkook mengamati bagaimana penumpang di belakang berpegangan erat pada besi jip, menjerit dan tertawa.

JUNGKOOK. JUGA. MAU.

“Iya, sabar.” kekeh Taehyung dan Jungkook merona karena dia pasti tidak sengaja menyuarkan pikirannya keras-keras hingga Taehyung menjawabnya dengan geli. “Itu enaknya pagi, jadi udaranya dingin dan debunya gak banyak. Jam segini panas, nanti kamu sakit.”

Jungkook mengamati jip-jip yang melewati mereka dengan perasaan iri hati yang kental lalu menoleh saat mobil mereka berhenti. Taehyung menarik rem tangan. “Sudah sampai,” kata Taehyung mengendikkan dagunya pada warung kecil di depan mereka.

“Ini Kopi Merapi,” kata Taehyung bersiap turun. “Biasa aja? Emang. Tapi kopinya juara, belum lagi...,” dia menekan tombol di pintu kendali dan membuat jendela di sisi Jungkook turun dan menampilkan pemandangan menakjubkan Gunung Merapi dari puncak hingga kaki. “Pemandangannya.”

Jungkook menoleh dan terpana. Satu karena hawa panas yang sejuk menerpa wajahnya hingga dia terkesirap kaget sejenak. Matahari bersinar terik tapi udara yang membelai wajahnya terasa sejuk nyaris mengigit. Suhu yang membingungkan itu sejenak membuatnya bergidik menyesuaikan diri. Lalu dua, pemandangan lereng yang tersaji di depannya serta Gung Merapi yang gagah dan angkuh menantang langit membuat Jungkook bahkan lebih terpesona lagi.

Dia menoleh ke depan, melihat betapa warung kecil yang nampak sederhana bahkan tidak terurus itu penuh oleh pengunjung. Anak-anak muda yang asik minum kopi seraya mengabadikan momen itu untuk diunggah ke sosial media.

Jungkook menoleh, tersenyum lebar. “Ayo, ngopi!” katanya dan Taehyung terkekeh.

Bicara 2

Ruangan kerja Taehyung masih seperti yang diingat Jungkook saat kali terakhir mampir ke ruangan ini, hari dimana akhirnya mereka berdua mengungkapkan perasaan masing-masing dan menyerah pada kenormalan dunia dan memutuskan untuk menjadi tidak normal, melawan stigma masyarakat yang melekat pada mereka. Jungkook tidak akan lupa bagaimana lembutnya Taehyung saat membisikkan nama Jungkook dalam setia helaan napasnya yang berat, bagaimana bibirnya bergerak bersama Jungkook dalam ciuman mereka yang intim dan hangat serta genggaman tangannya.

Begitu indah dan begitu sureal. Jungkook takut ini semua hanyalah mimpi.

Taehyung duduk di sofa dan mengajak Jungkook duduk di sisinya. Mereka bersidiam, nampak sejenak merasa nyaman dengan keheningan yang menggantung berat dan rendah di sisi mereka. Jungkook menghela napas, memutuskan bahwa mereka memang harus bicara walaupun dia sesungguhnya tidak tahu harus memulai dari mana.

“Kalo memang Mas masih bingung sama hubungan kita, gapapa. Aku faham, kok.” katanya nyaris berbisik, nyaris tidak terdengar karena suara gemericik air buatan di taman belakang rumah Taehyung. “Maksudnya, aku faham Mas dulunya hetero—atau percaya bahwa Mas itu hetero dan hubungan sesama jenis gini mungkin emang suka bikin bingung di awal jadi—”

“Tapi, bukan Mas yang narik diri, kan?”

Jungkook mengerjap dan menoleh, menatap ke mata Taehyung yang anehnya nampak begitu terluka. Apakah dia baru saja melakukan hal yang salah? Apa yang baru saja dikatakannya yang mungkin membuat Taehyung terluka?

“Bukan Mas yang mendadak diam dan kabur, itu kamu. Kamu, Dek. Kamu yang bingung.”

Fakta itu menghantam Jungkook seperti sebuah banjir bah, membuatnya sejenak limbung hingga harus menyandarkan tubuhnya di sofa dan mempertahankan keseimbangannya di sofa dengan memegang pinggiran sofa. Dia tidak menatap Taehyung yang sekarang menatapnya, begitu lembut dan penyabar. Nyaris membuat Jungkook berguling ke lantai dan meringkuk membentuk bola untuk menangis keras-keras. Jantung Jungkook berdentam kuat dan memusingkan sementara otaknya yang malang memproses informasi baru yang diterimanya.

Benarkah begitu? Benarkah Jungkook yang menarik diri?

Kepalanya memutar ulang adegan pagi ini saat Jungkook keluar dari mobil dengan perasaan kacau, teringat ekspresi Taehyung yang kebingungan dan perasaannya sendiri yang kebingungan. Lalu pesan Taehyung yang bertanya apakah dia melakukan kesalahan dengan mencium Jungkook juga kue yang dibelikannya via ojek daring (yang sekarang dibawa Yugi pulang).

Ya. Taehyung tidak mundur, Taehyung juga tidak bingung.

Jungkook-lah yang merasa Taehyung akan mundur, yang berasumsi bahwa Taehyung bingung.

Jungkook pula lah yang merasakan ketakutan atas semua itu.

Dia yang belum percaya bahwa lelaki hetero seperti Taehyung akan meluncur ke dalam hubungan homoseksual tanpa mengalami masa kebingungan. Jungkook selalu menutup diri tentang rasa percaya, tentang hubungan, tentang cinta dan emosi-emosinya sendiri; dia tidak pernah percaya bahwa pada akhirnya seseorang dengan rela melepaskan jati dirinya, bahkan pekerjaannya hanya untuk bersama Jungkook.

Dan ketakutannya telah secara sadar dan tidak sadar telah menciptakan sebuah jarak, sebuah palung yang memisahkan hatinya dari Taehyung, membuat hubungan mereka yang masih rapuh, kini merenggang. Namun syukurlah Taehyung cukup dewasa untuk menyadari itu sehingga alih-alih membalasnya dengan bensin, dia memadamkan apinya; menuntun Jungkook menelusuri tiap pilihan dan tiap kata yang mereka ucapkan untuk mencari apa yang salah.

“Hei, hei, hei....”

Jungkook tidak tahu sejak kapan dia sudah mulai menangis, namun saat Taehyung meraihnya dan menyandarkan tubuhnya di dadanya yang hangat dan berdebar dengan lembut, Jungkook melepaskan segala kepenatan dan beban di dadanya, membiarkannya lolos bersama setiap air mata yang menetes di pipinya seraya terisak dalam hingga dadanya terasa berat dan nyeri.

Jungkook sungguh kebingungan atas rasa bingungnya sendiri.

“Mas gak ke mana-mana, Mas di sini. Tolong percaya, tolong bantu Mas; kita berjuang sama-sama.” Bisik Taehyung di rambutnya. “Mungkin mereka bakal mandang kita aneh, hanya karena kita gak normal. Tapi siapa yang menciptakan standar normal dan benar? Karena semuanya abu-abu. Yang kita anggap benar, belum tentu dianggap benar oleh orang lain. But it's OK, we don't need anyone's validation for our feelings, for our own lives.”

Belaian Taehyung di punggungnya membuat isakan Jungkook semakin keras, dia berusaha bicara namun tersedak oleh air mata dan napasnya sendiri hingga dia akhirnya menyerah. Dia hanya ingin Taehyung tahu, bahwa dia benar-benar bahagia; sungguh bahagia hingga kata 'bahagia' itu sendiri tidak terdengar cukup kuat utuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Mungkin mereka memang tidak normal; aneh, menyimpang, tidak sehat bahkan pada pandangan ekstrimis, mereka berdosa. Tapi apakah benar mereka berdosa jika Tuhan itu sendiri yang menganugerahi mereka dengan cinta yang bahkan tidak mereka fahami? Apakah Tuhan bermain dengan cara securang itu bersama manusia? Menciptakan hal yang mustahil untuk dielakkan hanya untuk dicap sebagai dosa dan mengirim manusia langsung pada hukuman?

“Mas mungkin cuma butuh waktu untuk terbiasa,” bisik Taehyung lagi di rambutnya. “Mas belum pernah pacaran, belum tau gimana caranya membahagiakan orang lain. Mas gak tau harus ngelakuin apa biar kamu bahagia; biar kamu ngerasain apa yang Mas rasakan tiap kali Mas liat kamu senyum. Mas ingin kamu ngerasain cinta ini, perasaan Mas; bagaimana kamu bikin hidup Mas yang monotun dan monokromatis, sekarang jauh lebih membahagiakan dan berwarna.

“You bring a lot of colors into my life, you bring a lot of adventures. Thank you for finding me. I don't know life could be this better if it was not you who brought the life to me; infusing more energy and taste into my food.”

“Mari belajar sama-sama, mari berjuang sama-sama; jalannya berat, Mas tau, tapi Mas juga yakin selama kita bersama, gak ada jalan yang terlalu berat untuk dijalani bersama. Ayo, kita bekerja sama untuk hubungan kita sendiri.”

Jungkook meledak dalam tangis yang bahkan lebih hebat lagi; dadanya terasa sesak, tiap tarikan napasnya hanya membuat paru-parunya semakin mengerut dan sulit bernapas. Dia terisak-isak, Taehyung terkekeh lembut dan memeluknya semakin erat. Pelukannya terasa begitu mantap, hangat dan mengayomi. Jungkook rasanya ingin meledak dalam perasaan penuh cinta ini.

“Ya Allah,” bisiknya lembut dan sedikit geli hingga jika saja Jungkook tidak sedang menangis terisak-isak, dia pasti akan marah pada nada itu. “Astaghfirullah,” ulangnya berkali-kali di rambut Jungkook dan membelai punggungnya lembut. “Udahan, yuk, nangis terus tar dadamu sakit. Matamu perih, tar malah ditanya Tekwan kamu kenapa.”

“Maaf,” kata Jungkook parau dan tercekik akhirnya. “Aku belum bisa sepenuhnya percaya Mas gak bakal pergi, Mas gak bakal berubah pikiran tentang hubungan ini. Aneh rasanya, maksudku.... Mas bisa nikah dengan cewek cantik pertama yang Mas mau dan Mas milih buat jadi... 'berdosa' sama aku.”

“Jangan minta maaf. Dosa atau tidak itu, kan, urusan manusia dan Tuhan,” balas Taehyung dengan suara beratnya yang menyejukkan, Jungkook tercekat napasnya sendiri. “Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha dan menjalani. Jangan biarkan sesama manusia mengajari atau menghakimi kamu tentang dosa yang dia sendiri bahkan belum fahami secara benar.

Lagi pula, apa memang dosa bahkan saat Tuhan sendiri yang menghadiahi kita perasaan ini untuk dirasakan? Apa cinta sesama jenis itu satu-satunya dosa paling kejam yang pernah dilakukan manusia? Lebih kejam dari pembunuhan? Masokistik? Begal? Mutilasi? Perampokan? Cuma karena bentuknya yang gak seperti apa yang orang-orang lain rasakan? Kayaknya engga. Mas gak percaya itu.”

Taehyung mengeratkan pelukannya, “Jangan terlalu keras pada diri sendiri, gak baik. Kita jalan bersama, jangan ragu dan jangan takut. Semua masalah, dibicarakan. Jangan disimpan sendiri, oke? Mas gak suka. Komunikasi kita harus jalan terus, supaya berhasil. Jangan sampai masalah dari dalam hubungan kita, ngerusak kita sendiri sementara tantangan di luar sana masih berat juga.”

Dalam pelukan hangat Taehyung, mendengarkan debaran jantungnya yang lembut dan teratur, menenangkan sekali. Jungkook mengeratkan pelukannya, terisak dan mengangguk. Hatinya terasa penuh; penuh oleh emosinya sendiri, penuh oleh cinta dan kebingungan. Namun, dia mendorong jauh-jauh perasaan bingung itu. Seperti sang Buddha sendiri: live in the present.

Maka Jungkook akan memeluk erat setiap detik kehidupannya, berusaha untuk mempertahankan pikirannya untuk tetap di masa sekarang. Tidak boleh ada kekhawatiran untuk hal-hal yang belum terjadi. Jungkook harus bisa bahagia dengan dirinya sendiri, maka hubungannya dengan Taehyung akan menjadi sama bahagianya.

“Mas gak mau kehilangan kamu.” Taehyung mendaratkan satu ciuman di puncak kepala Jungkook dan memejamkan matanya; menghirup dalam-dalam aroma Jungkook yang mulai akrab dengan seluruh indera tubuhnya.

Dan jika memang hubungan mereka ini adalah dosa, lalu untuk apa Tuhan menganugerahkan cinta yang mereka rasakan?