Keputusan
Jungkook sedang berada di awang-awang, tidak yakin apakah dia sedang sadar atau tidak saat dibalik awan gelap yang samar-samar menutupi matanya, dia melihat Taehyung bangkit dari sisinya nyaris tanpa suara dan beranjak ke pantry kecilnya di sudut ruangan, meraih tasnya dan mengeluarkan sebungkus mie instan.
Kebingungan, dengan kepala berat dan rasa kantuk yang mustahil dilawan, dia mencoba bangkit dari selubung yang membelenggunya lalu bertanya dengan suara seperti sedang berkumur: “Ng'pain?”
Taehyung menoleh lalu tersenyum. Wajahnya nampak bengkak akibat tangisan dan amarah, pucat pasi dan bibirnya pecah-pecah. Dia terlihat begitu menyedihkan dan anehnya begitu manusiawi; lebih manusia dari Taehyung yang dikenal Jungkook berlindung di balik topeng ketenangan dan kelembutan surgawinya. Sekarang dia nampak kacau, seperti seonggok zombie yang tidak memiliki kehidupan. Apakah dia akan tetap nampak seperti itu besok pagi? Jungkook merasakan sengatan rasa perih di hatinya.
Dia tidak pernah melihat Taehyung menunjukkan emosi lain selain ketenangan dan kelembutan, ketika melihatnya, Jungkook merasakan sakit seolah dirinya sendiri yang telah melukai Taehyung. Bagaimana bisa ada manusia yang menyakiti orang lain dengan cara seperti ini? Dan lebih buruknya lagi, dia adalah ayah kandung Taehyung.
Pemuda itu meletakkan kemasan mie instannya di pantry lalu beranjak ke sisi Jungkook, duduk di sisinya dan membelai kepalanya dengan lembut, menggiring selubung kantuk kembali menjalari otaknya yang macet. “Maaf, Mas bangunin kamu, ya? Mas cuma mau sahur, kamu tidur lagi aja.”
”'Pa?”
Taehyung terkekeh dalam suara parau yang terdengar seperti monster rawa. “Sahur. Mas sahur, hari ini puasa. Udah kamu tidur aja,” katanya menepuk kepala Jungkook, menggumamkan nada menenangkan hingga akhirnya Jungkook pasrah pada kegelapan yang menangkupnya; terlelap.
Dan saat dia terbangun setelahnya, Taehyung baru aja menyelesaikan sholatnya. Masih mengenakan sarung dan pecinya. Cahaya matahari menyusup dari jendela yang hanya dibuka setengah tirainya, sudah lumayan terik. Suara-suara berisik gedebuk-gedebuk khas kosan lelaki terdengar sayup-sayup dari kamar-kamar sekitar Jungkook. Ada suara musik Linkin Park dan Maroon 5 yang saling tumpang-tindih, siulan, guyuran air. Dunia sudah beraktivitas dan normal.
Menyisakan Jungkook yang masih kebingungan. Sejenak tidak mengenali kamarnya sendiri dan bertanya-tanya mengapa Taehyung ada di kamarnya? Dan nampak begitu nyaman? Lalu dia teringat masalah mereka semalam; pukulan Taehyung ke dinding, air matanya, suara gemetarnya yang lemah saat bercerita.
'Maka kamu tidak diterima lagi di sini. Selesai. Buat Ayah kamu mati.'
Jungkook langsung terduduk saat hantaman memori itu membuat seluruh sarafnya seketika siaga. “Ini jam berapa?” tanyanya nyaris panik dan Taehyung terkekeh.
Di atas meja belajar Jungkook sudah ada laptop yang menyala dengan pekerjaan, dua ponsel Taehyung dan beberapa buku. Taehyung sedang mengerjakan skripsinya saat Jungkook masih tertidur pulas. Taehyung melepas sarung dan pecinya, melipat sajadah yang dibawanya dan meletakkannya dengan rapi di pojokan kasur Jungkook.
“Jam 12, Mas baru kelar sholat. Kamu tidur lama banget jadi Mas gak bangunin. Kamu kalo mau makan pesen aja, ya? Mas puasa soalnya.” Taehyung melangkah ke meja belajar Jungkook lalu berhenti. “Oh, ya, tadi habis subuhan Mas coba bersihin dindingnya pake air sama lap, bisa. Tapi gak bersih-bersih banget, sih...”
Jungkook menoleh ke dinding yang semalam harus menanggung amarah Taehyung dan melihat bercak kecokelatan pudar tempat punggung tangan Taehyung menghantamnya. “Gpapa,” katanya pusing. “Nanti aku bilang ke pengurus kos.”
“Mandi dulu, gih.” kata Taehyung tenang, menarik kursinya dan kembali menenekuni pekerjaannya di layar. “Kamu pasti capek.”
Memandangi punggung Taehyung yang membungkuk ke laptop, bagaimana dia bekerja dengan ekspresi wajah tenang yang steril seperti Taehyung yang biasanya mengirimkan rasa nyeri aneh ke hati Jungkook.
Apakah dia sudah kembali menjadi Taehyung dengan topeng emosi lamanya?
“Mas?”
Taehyung menoleh. “Ya?”
Jungkook menatapnya dalam-dalam. “Emangnya Mas gak capek?”
“Capek? Capek ap—”
Jungkook menyelanya dengan gema, “Bersikap tenang.” katanya. “Lembut. Kalem. Mas berhak marah, Mas berhak sedih. Mas berhak ambil satu hari untuk istirahat dari kerjaan dan apa pun yang Mas lagi kerjakan. Semua emosi yang Mas rasakan itu valid; Mas gak butuh validasi siapa-siapa buat ngerasain itu. Gak validasiku dan jelas bukan validasi keluarga Mas.”
Taehyung menatapnya lalu menghela napas dalam-dalam. “Hei, hei,” katanya. “Kenapa kamu jadi marah-marah, to? Mas gak apa-apa, Mas gak suka marah-marah. Bikin kepala jadi pusing, kalo bisa ditenangkan mending Mas menenangkan diri. Kan udah marah-marahnya kemarin, masa mau marah-marah terus?”
Jungkook terduduk di sana, tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki di hadapannya bersikap begitu jauh dari standar manusia yang dimiliki Jungkook. Bagaimana dia bisa bersikap begitu tenang bahkan di dalam kondisi seperti ini? Tidakkah dia takut? Kebingungan? Marah? Sedih?
“Mas sedih, Mas marah; tapi Mas gak yakin emosi itu bisa membantu Mas buat saat ini, kan?”
Mengehela napas, Jungkook menyerah. Mungkin benar kata orang jika tidak semua orang harus menyelesaikan masalahnya dengan cara Jungkook. Mereka punya waktu dan cara sendiri; punya coping mechanism yang beragam. Mingyu selalu mengingatkan Jungkook tentang ini; untuk tidak memaksakan coping mechanism-nya sendiri ke orang lain yang jelas-jelas memiliki cara mereka sendiri. Jungkook akhirnya mengendikkan bahu, menyerah berusaha meminta Taehyung melampiaskan amarahnya. Ya sudahlah, pikirnya.
“Tapi, terima kasih.” kata Taehyung kemudian, terenyum tulus dan begitu tampan. Jika saja tidak sedang puasa, Jungkook ingin sekali memeluknya; menenangkannya, meyakinkannya bahwa apa pun yang terjadi, bahkan jika seluruh dunia memalingkan wajah dari Taehyung, Jungkook akan tetap di sisinya. Mencintainya dan mendukung segala keputusannya.
“Terima kaih sudah menemani Mas kemarin malam, Mas seneng karena Mas melakukan hal yang benar dengan dateng ke kamu.”
Jungkook membuka mulutnya, akan menjawab dengan ceria betapa dia tidak keberatan untuk direpotkan. Bagaimana Taehyung adalah kekasihnya dan sudah sepantasnya pasangan bersikap saling mendukung dalam keadaan bagaimana pun. Jungkook hanya menjalankan bagiannya dalam hubungan mereka. Dia senang bisa membantu; dan dia akan terus membantu Taehyung sepanjang perjuangan ini. Sampai ayahnya kembali menerimanya menjadi anak.
Jungkook berjanji.
Namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Taehyung melanjutkan, “Hari ini Mas mau ke kantor, agak sorean nanti. Mas mau nyerahin surat pengunduran diri, mau minta akun Twitter di-take down.” Taehyung kembali fokus ke pekerjaannya dan sebelum Jungkook sempat menjawab lagi, dia melanjutkan, menolak menatap Jungook saat kembali bicara, kali ini dengan getar luka di suaranya:
“Setelahnya Mas berangkat ke Bali. Mas gak bisa terus di sini, cuma bakal gangguin kamu belajar aja. Kita... pisah sebentar, ya?”