Tamasya #2

“Maaf, ya, tak tinggal sholat,”

Jungkook mendongak dari kesibukannya memfoto pemandangan di hadapannya dan tersenyum pada Taehyung yang sedang mengelap tangannya di saputangan dengan wajah segar sehabis wudhu dan dengan ujung-ujung rambut bagian depannya basah oleh air. Dia nampak begitu menyejukkan di bawah sinar matahari yang terik, nyaris sesejuk udara yang sejak tadi membelai wajahnya.

“Mas,” kata Jungkook saat Taehyung duduk di hadapannya, beraroma lembut sabun mandi yang mungkin digunakannya untuk cuci tangan setelah sholat tadi di mushola.

“Ya?” tanya Taehyung, yang sejenak tadi terdistraksi oleh pesan di ponsel esia hidayahnya. “Kenapa?” tanyanya mendongak lalu mengerjap, menunggu jawaban Jungkook.

Jungkook mengamati dengan lekat bentuk wajah Taehyung yang kurus dan runcing; bagaimana rambutnya yang setengah basah oleh air wudhu disisir naik dengan tangannya, beberapa anak rambut menjuntai di keningnya yang tinggi, titik-titik air yang tidak dihapus menghiasi keningnya, wajahnya yang memerah oleh suhu, bibirnya yang merah dan basah, matanya yang berbinar lembut, ekspresinya yang menenangkan.

Jungkook sungguh bisa gila.

“Kamu kok ganteng ya abis sholat?” bisiknya dengan tatapan terpesona yang lemah pada Taehyung.

Taehyung mengerjap, diam sejenak lalu tertawa tanpa suara. “Iya? Ganteng aja ato ganteng banget?” tanyanya juga berisik.

Jungkook tersenyum simpul. “Banget. Gak pake bohong.”

Taehyung mengulurkan tangan dan menepuk tangan Jungkook di meja dengan hangat dan cepat sebelum ada seseorang yang mengamati mereka. “Udahan? Ayo kita cari makan siang,” dia melirik jam tangannya.

“Hah?” ulang Jungkook saat Taehyung berdiri, merogoh saku belakang jins pudarnya yang dirobek modis di bagian lututnya dan mengeluarkan dompet. “Mau pulang?” tanyanya dengan wajah sedih.

Jungkook masih ingin bersama Taehyung.

Taehyung tersenyum, berdiri membelakangi Gunung Merapi yang gagah nampak begitu menyejukkan, ramah dan tenang menatap Jungkook. “Engga, kita pindah cari makan di bawah.”

“Bawah?”

“Bukan bawah di kasir loh, ya, maksudnya,” Taehyung terkekeh kecil karena saat ini mereka menikmati kopi dan sepiring tempe mendoan di lantai dua warung Kopi Merapi. “Kita turun ke Cangkringan.”

Jungkook belum benar-benar memikirkan arti perkataan Taehyung saat pemuda itu berbalik dan menuruni tangga sempit menuju kasir yang terletak di lantai satu. Mau tidak mau, Jungkook bergegas berdiri dan menyusulnya. Mereka kembali ke mobil setelah membayar makanan yang hanya menghabiskan lima puluh ribu rupiah dengan Jungkook yang menghabiskan dua piring mendoan lalu melanjutkan perjalanan.

Taehyung mengizinkan Jungkook membuka jendela dan membiarkan udara Kaliurang yang sejuk dan segar memenuhi kabin mobil. Jungkook memandang ke luar, membiarkan hidungnya diterpa udara segar yang sejuk. Mengamati Gunung Merapi yang perlahan menjauh dan mereka memasuki wilayah Kaliurang yang padat penduduk lagi.

Karena udara sudah mulai memanas memasuki kawasan pemukiman, Jungkook menaikkan jedelanya menutup lalu mengatur suhu penyejuk kabin dan bersandar, menikmati perjalanan mereka diiringi musik kekinian yang melantun di radio mobil.

Taehyung mengulurkan tangan, meremas tangan Jungkook lembut sejenak sebelum memindahkan gigi perseneling mobil.

Kemudian, Taehyung membelok ke jalan aspal kecil dengan palang “Kopi Klotok” berwarna kuning. Jungkook menoleh ke Taehyung yang mengemudi dengan tenang, ujung rambutnya masih sedikit basah dan dia masih nampak segar.

“Kenapa?” tanya Taehyung saat menghentikan mobilnya, membunyikan klakson pada penjaga parkir yang memintanya berhenti sejenak karena ada mobil yang akan keluar dan jalan yang mereka lewati terlalu sempit untuk dua mobil berpapasan dua arah.

“Mas,” kata Jungkook dan Taehyung menoleh, saat dia membuka mulut untuk bicara, Jungkook meraih bagian belakang kepalanya dan membenamkan bibirnya ke bibir Taehyung yang membuka.

Rasanya manis dan pahit, seperti kopi. Dengan sedikit jejak saliva Taehyung dan Jungkook sendiri. Bibirnya bergerak dengan lembut, Taehyung membalasnya. Menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Jungkook yang mengerang kecil dan merengek; tangannya meremas bagian rambut di tengkuk Taehyung, berusaha menarik Taehyung lebih dekat lagi...

Lebih dekat.... Lebih dan lebih dekat lagi...

“Mas?!”

Keduanya tersentak dan mundur, seorang tukang parkir berdiri di pintu Taehyung, berusaha mengintip ke dalam mobil yang syukurnya berjendela gelap dan mengetuk jendelanya lembut.

“Maju, Mas,” katanya dan Taehyung bergegas mengusap bibirnya lalu menurunkan jendelanya sedikit.

“Siap, Mas,” balasnya. “Maaf, njih.” katanya tersenyum ramah pada tukang parkir yang balas tersenyum lalu maju, mengarahkan mobilnya ke dalam tempat parkir warung sederhana yang lebih nampak seperti rumah seseorang alih-alih restoran seperti yang dikatakan Taehyung.

Hal yang Jungkook heran adalah tempat parkirannya begitu penuh. Mobil diparkir begitu dekat dengan satu sama lain, motor-motor berjejer penuh sesak. Manusia-manusia berjejalan di ruang sempit yang tersedia dan Jungkook menoleh ke Taehyung yang masih fokus memarkir mobilnya diarahkan oleh tukang parkir yang berteriak di belakangnya.

Ada sebuah halaman lapang di bagian belakang rumah itu, terisi oleh tikar-tikar anyaman yang terisi beberapa rombongan yang sedang tertawa dan bercengkrama dengan makanan di dalam lingkaran mereka. Jungkook mengamati bagaimana asri dan sejuk tempat itu terasa; ramah dan begitu terbuka. Mengundang siapa saja untuk merasakan atmosfir “homey” yang menenangkan. Seolah jika Jungkook mengintip ke dapur, dia akan menemukan neneknya seseorang yang ramah dan baik hati sedang memasak telur dadar favoritnya.

“Ini... rame banget?” katanya sedikit kebingungan pada Taehyung yang menarik rem tangannya. “Makan apa di sini?”

Taehyung terkekeh. “Selamat datang di Kopi Klotok,” katanya kalem. “Mas suka nongkrong di sini dulu sama anak-anak. Kamu harus cobain pisang gorengnya dulu, baru komentar, oke?” dia kemudian membuka pintunya. “Ayo, kita makan siang.”

Jungkook bergegas mengikutinya.

Rumah itu bahkan lebih ramai lagi di bagian dalam. Orang-orang berdesakan hingga mustahil bisa berjalan tanpa bergesekan dengan orang lain. Jungkook menyambar bagian belakang kaus Taehyung yang berjalan mulus melewati orang-orang dan menuju halaman belakang yang berupa teras terbuka ke arah persawahan yang sedang terisi padi yang mulai rimbun.

Taehyung, syukurnya menemukan meja kosong dan meminta Jungkook duduk di sana. “Kamu mau minum apa? Ada kopi klotok, ada teh tubruk. Mau makan juga?”

Jungkook terpana. “Hah?” katanya, tidak memahami bahasa yang digunakan Taehyung. Lalu pemuda itu tertawa. “Oh, maaf, maaf,” katanya tersenyum. “Kamu kan tadi udah ngopi ya, Mas pesenin es teh ya? Sama pisang goreng.”

Tanpa menunggu jawaban Jungkook, Taehyung memanggil seorang pelayan yang nampak seperti akan pingsan kelelahan dan memesan minuman sebelum memberi tanda pada Jungkook.

“Mas ambil makan dulu, ya? Kamu diem di sana. Jagain kursinya.”

Jungkook membuka mulut untuk protes, namun Taehyung sudah lenyap ke dalam rumah penuh sesak itu. Tidak punya pilihan lain, Jungkook bersandar ke kursinya dan memberengut. Kebingungan, kelaparan dan kesal. Kemudian Taehyung kembali dengan dua piring di tangannya terisi makanan dengan lauk lengkap.

“Ini... dari mana?” tanya Jungkook saat makanan di letakkan di hadapannya.

“Di Jogja emang gini,” Taehyung tersenyum. “Banyak tempat-tempat makan yang punya konsep rumahan kayak gini. Jadi kamu tar ambil sendiri aja makanannya, terus bayar dan makan deh. Makanannya prasmanan di meja tadi di dalem, kayaknya kamu gak liat. Mas taunya kamu gak suka lele? Jadi Mas ambilin tempe sama ini ada sayur lodeh dan telur krispi yang enak banget.”

Jungkook menatap Taehyung yang sedang membenahi posisi duduknya, keringat terbit di keningnya. Mungkin karena berdesakan mengambil makanan untuk Jungkook. Dia mengusap keringatnya dengan punggung tangan, nyaris tidak menyadari gerakan itu sementara meraih ponselnya yang berdering. Dia membaca pesannya, lalu mengabaikannya.

“Ayo, makan,” katanya pada Jungkook yang sedang mengamatinya. “Malah bengong,” tambahnya terkekeh lalu meraih sendoknya sendiri dan mulai makan. “Enak loh, makanannya. Mas suka.” Dia mengunyah dengan khidmat dan lahap. “Pisang gorengnya Mas pesenin empat piring, soalnya bener-bener enak. Mas yakin kamu suka,”

Jungkook meraih piringnya dan mulai makan juga mengikuti Taehyung. “Pst, Mas!” katanya dan Taehyung mendongak dari kesibukannya memotong-motong telur agar Jungkook lebih mudah memakannya.

“Ya?” sahutnya.

“I love you.” bisik Jungkook lalu nyengir. “Makasih udah bawa aku ke tempat-tempat baru kayak gini.”

Taehyung tersenyum. “Kembali kasih,” balasnya. “Besok kalo mau nyium,” katanya memelankan suaranya hingga dia yakin hanya Jungkook yang mendengarnya di tengah kebisingan Kopi Klotok yang ramai. “Tolong jangan pas lagi mau parkir, ya?”

Jungkook tertawa ceria. “Maaf, habis siapa suruh ganteng,” balasnya tersenyum lebar dan Taehyung tidak bisa tidak membalas senyumannya.

“Dimaafkan.” katanya setenang samudera. “Ayo, dihabisin maemnya.”

Jungkook ingin sekali masa-masa indah ini abadi, tidak berlalu sama sekali. Dia ingin waktu berhenti saat ini, saat Taehyung memotong-motong telur mereka agar mudah dimakan Jungkook, saat Taehyung membantunya makan, saat Taehyung begitu melayaninya dengan sepenuh hati.

Saat Taehyung menatapnya penuh cinta, memberikan segalanya yang mungkin Jungkook butuhkan, memberikan seluruh dunianya pada Jungkook.

Jungkook ingin mereka selamanya begini; sederhana dan bahagia.

“Amin,” bisik Jungkook lalu kembali makan. Seperti kata Mingyu, Jungkook harus hidup di masa sekarang dan menikmati segala yang dimilikinya hari ini. Maka, dia akan menikmati hari ini dengan penuh kebahagiaan hingga kesedihan apa pun tidak akan bisa menyakitinya.