Video Call Bucans

Taehyung menurunkan ponselnya, menatap layarnya yang tersambung ke nomor Jungkook namun dengan pemberitahuan bahwa Jungkook sedang berada di panggilan lain. Taehyung mendesah, melirik jam tangannya dengan kecewa. Mereka tidak akan mencapai tempat yang direncakanannya tepat waktu jika begini.

Berusaha untuk tetap tenang, Taehyung akhirnya memarkir mobilnya di halaman parkir kos ekslusif Jungkook dan keluar. Para satpam yang sudah mengenalnya langsung menyapanya.

“Pak, Jungkook kamar 2-B ada, njih?” katanya seraya menutup pintu mobil.

“Ada, Mas, ada.” sahut satpam itu. “Langsung mawon naik, Mas, dari tadi belum keluar lagi, kok dari kamarnya.”

Taehyung mengangguk dan tersenyum berterima kasih sebelum memasuki gedung kosan dan menaiki tangga menuju lantai dua, kamar Jungkook. Setibanya di depan pintu kamar, Taehyung mengetuk pintu kamar Jungkook dengan lembut. Setelah kunjungan ketiga akhirnya para satpam kosan mengenal akrab Taehyung sehingga tiap kali dia berkunjung maka para satpam akan langsung mengizinkannya naik ke kamar Jungkook tanpa perlu dijemput oleh penghuni kos yang bersangkutan.

Tidak ada yang menjawab ketukan Taehyung tapi dia bisa mendengar sayup-sayup suara Jungkook di dalam kamar, jadi dia membuka pintu perlahan dan langsung bertemu mata dengan Jungkook yang sedang menerima panggilan video di atas ranjangnya.

Jungkook bergegas melambaikan tangannya, meminta Taehyung menunggu jadi Taehyung akhirnya menutup pintu lalu menunggu di meja belajar Jungkook yang terisi buku-buku kuliah.

“Mama, udah dulu, ya? Adek mau keluar nih.” kata Jungkook pada ponselnya dan Taehyung terkekeh mendengar nada bicara Jungkook yang manis. Dia dengan sopan mengalihkan pandangannya dari Jungkook, memberikan privasi bagi pembicaraan ibu dan anak itu.

Sebagian hati Taehyung ingin mengobrol dengan ibu Jungkook, apalagi setelah mendengar bahwa Jungkook sudah come out sejak lama kepada kedua orangtuanya. Taehyung ingin dikenalkan sebagai kekasih Jungkook, ingin dikenalkan sebagai seseorang yang menjaga Jungkook di Jogja.

Tapi dia juga menghormati keputusan Jungkook; jika dia belum ingin, maka Taehyung tidak akan memaksanya. Semuanya butuh waktu.

“Sama siapa?” tanya Mama Jungkook dari seberang sana dan Taehyung melirik ke arah Jungkook yang balas meliriknya dari atas ponsel yang digenggamnya. “Sama pacar Adek, ya? Teyung?”

“Taehyung, Ma,” ulang Jungkook melirik Taehyung lagi.

“Lagi di kosan Adek, ya? Mama boleh ngobrol?”

'Astaghfirullah,' pikir Taehyung kemudian dengan tenggorokan tercekat. Dia memang baru saja berharap bisa bicara dengan ibu Jungkook, tapi tidak dengan cara seperti ini. Terlalu cepat, Taehyung bahkan tidak yakin pada apa yang harus dikatakannya pada ibu Jungkook. Pasangan itu diam, saling melirik dengan kikuk—tidak yakin pada apa yang harus mereka lakukan.

“Dek?” ulang ibu Jungkook dengan nada tidak sabar. “Gak boleh, ya?” Sepercik nada sedih yang membuat wajah Jungkook berkerut oleh rasa tidak enak dan kesedihan karena tidak memberikan apa yang ibunya inginkan.

Jungkook mengendikkan dagu pada Taehyung, memintanya mendekat dan pemuda itu akhirnya mendesah dan berdiri, “Sini,” katanya dengan kelembutan darah ningratnya yang membuat Jungkook terpesona jutaan tahun lalu.

Ini memang haru dihadapi, pikir Taehyung teringat nada sedih perempuan paruh baya itu dan bagaimana hal itu mengirimkan rasa sedih ke Jungkook juga. Mereka memang sudah terlambat ke lokasi yang diinginkan Taehyung, jadi ya sudah. Sekalian saja.

Dia berdiri di sisi Jungkook dan mengulurkan tangan, meminta ponsel Jungkook yang masih menyala, menayangkan wajah kebingungan ibunda Jungkook. Jungkook mendongak, menatapnya sejenak dan Taehyung mengangguk—menyemangatinya sehingga akhirnya pemuda manis itu mendesah panjang.

“Yaudah, ini. Tapi, jangan galak-galak, loh,” kata Jungkook memberengut manja ke ibunya yang menjawab 'Iya, iya,' dengan nada gemas penuh sayang sebelum menyerahkan ponsel ke Taehyung yang menghela napas dalam-dalam dan tersenyum pada wajah di ponsel.

Dia nampak seperti Jungkook, cantik dan menenangkan. Jenis wajah yang akan membuatmu seketika merasa semuanya baik-baik saja, jenis wajah keibuan yang akan memasakkan makanan kesukaanmu tiap kali kau memenangkan lomba, yang akan menemanimu hingga tertidur. Aura keibuan kuat yang membuat Taehyung terenyuh. Gurat usia nampak di wajahnya, namun dengan senyuman ramah di bibirnya, dia nampak awet muda. Persis Jungkook; senyumnya, binar matanya, garis wajahnya...

“Halo, Taehyung.” sapa perempuan paruh baya di hadapannya dan Taehyung tersenyum ramah.

Jungkook menatap interaksi itu dengan perut mengejang cemas. Apakah akan baik-baik saja? Apakah ini benar-benar saat yang tepat untuk keduanya bertemu? Ataukah Jungkook seharusnya menunggu lebih lama lagi sebelum mengenalkan keduanya? Apakah seharusnya Jungkook mem-briefing Taehyung sebelum menerima teleponnya?

Kekhawatiran Jungkook terjawab saat Taehyung melemparkan senyuman memesona sejuta watt-nya yang menyilaukan lalu menjawab sapaan ibu Jungkook dengan kalimat yang sangat normal jika saja tidak dalam konteks saat ini, namun mengingatkan Jungkook tentang detail kecil fundamental ini:

“Assalamualaikum, Tante.”

Ibunya belum tahu bahwa Taehyung itu muslim.