Tamasya #1
Jungkook nyengir saat melihat mobil Taehyung memasuki halaman fakultasnya, dia bergegas menghampiri mobil dan melambai pada Yugi yang sedang asik mengunyah batagor yang dibelinya dari tukang batagor keliling yang selalu berjualan di depan fakultas hukum.
Yugi melambaikan tusukan makanannya dengan pipi menggelembung terisi makanan dan tersenyum lebar saat Taehyung membunyikan klaksonnya lembut tanda mengenalinya. “Yo, ati-ati, ya!” serunya dengan mulut penuh.
Jungkook membuka pintu penumpang dan tersenyum lebar pada lelaki di balik kemudi yang nampak segar dan cerah setelah mandi; aroma sabun dan aftershave-nya memenuhi udara mobil, Jungkook menyondongkan tubuhnya untuk memeluknya serta menghirup aroma Taehyung dalam-dalam.
“Gimana kelasmu?” tanya Taehyung memutar mobil dan sekali lagi membunyikan klakson pada Yugi yang masih berdiri di parkiran, sekarang mengobrol dengan temannya masih mengunyah batagor. Yugi melambai ceria membalas klakson Taehyung. “Lancar?”
Jungkook mengangguk, mengeluarkan ponsel dan dompet dari tasnya lalu melemparnya ke jok belakang. “Lancar-lancar aja, banyak tugas lumayan. Kayaknya karna bentar lagi UTS jadi pada gencar ngasih tugas,” Jungkook mengulurkan tangan ke radio di dalam mobil Taehyung dan mulai mencari-cari siaran radio.
“Oh, ya, bentar lagi puasa, ya?” kata Jungkook saat iklan Ramadhan menggema di saluran radio lokal kesukaannya. “Biasanya ada acara apa yang khas di Jogja?”
Taehyung yang mengemudi sejenak berpikir. “Paling ya buka bersama di Masjid Gedhe Kauman ato di Jogokaryan. Kenapa? Oh iya, nyari takjil tuh seru di pasar sore Jogokaryan ato Kauman. Besok Mas ajak, ya?” Dia menoleh sejenak dan tersenyum. “Legend banget itu buat wisatawan, kayak belum lengkap hidup di Jogja kalo belum ke sana pas bulan Puasa.”
“Oke!” serunya ceria. “Ajak Taehwan juga, ya??”
“Biasanya dia gasuka sih, tapi ya gapapa coba aja. Dia anaknya mageran kalo diajak desek-desekan gitu. Tapi kalo kamu yang ngajak kali aja mau anaknya,” Taehyung menoleh dan tersenyum.
“Siap,” Jungkook tersenyum hingga kerutan menggemaskan muncul di pangkal hidungnya. “Btw kita mau kemana, Mas?” tanyanya ceria.
“Ini?” tanya Taehyung mengemudi lurus ke utara, membelah Jalan Kaliurang mendekat ke lereng Gunung Merapi. “Kita mau ngopi,” katanya terkekeh.
“Ngopi?” ulang Jungkook. “Ngopi mah di Jakal banyak kali Mas, buat apa ke sini?” Jungkook mengamati jalanan di sekitarnya, mereka mulai meninggalkan hiruk-pikuk Jalan Kaliurang yang padat dan sumpek dan menuju ke jalanan yang lebih kecil dan halus, dihiasi oleh hamparan sawah dan semak.
“Aku baru pernah ke sini,” aku Jungkook kemudian, dengan wajah menempel di jendela, mengamati pemandangan baru ini. “Ini masih Jakal??” tanyanya. “Kok sepi?”
“Lha, jelas. Ini kilometer 10 ke atas,” kekeh Taehyung mengemudi dengan mulus di jalanan sempit dua arah. “Belum pernah naik ke Jakal, to? Ini nanti ujungnya di lereng Merapi, ada banyak wahana wisata sebenernya, tapi Mas mau ngajak kamu kulineran dulu. Sisanya bisa belakangan lah kalo kamu libur.”
“Ada apa emangnya?” tanya Jungkook, masih mengamati hamparan sawah di sisi jalanan.
“Ada lava tour, kamu naik jeep gitu diajak menelusuri jalur laharnya Merapi, asik. Off-road. Full tour-nya bisa ke rumahnya Mbah Marjan di kaki Merapi persis,” kata Taehyung memasukkan perseneling dan menginjak gas lebih dalam karena jalanan mereka mulai menanjak. “Bungker Kaliadem, Museum Mini yang isinya barang-barang peninggalan letusan Merapi; banyak. Tar next kita main, ya?”
“Naik jip?”
“Yap. Tar diajak off-road di Kalikuning juga sampe basah. Seru banget.”
Tidak ada jawaban, jadi Taehyung menoleh dan terkekeh melihat Jungkook yang menatapnya dengan mata berbinar. Melepaskan tangan dari roda kemudi, Taehyung mengulurkan tangan dan mengusap lembut kepala Jungkook.
“Nanti, ya, kalo kamu libur. Ajak Yugi sama Mingyu juga. Rame-rame. Jipnya muat untuk enam orang sampe supir, kok. Oke?”
“Janji?”
Taehyung terkekeh. “Janji.”
Mereka melewati gerbang retribusi dan melanjutkan perjalanan setelah Taehyung membayar harga karcis masuk. Jalanan semakin sepi dan hijau, begitu pula suhu yang menurun karena mereka memasuki kawasan daratan tinggi. Setelah melewati satu lagi gerbang retribusi, mereka membelok ke jalan yang rusak.
“Ini... seriusan, jalannya??” tanya Jungkook berpegangan erat saat mobil Taehyung melaju perlahan di jalanan yang rusak dengan bebatuan tajam. “Hati-hati, loh, Mas, kasian bannya.”
“Ya, namanya juga jalan buat jip, jelas rusak,” kata Taehyung santai, mengemudi dengan perlahan agar ban mobil mereka tidak mengenai bebatuan yang tajam dan membiarkan jip menyalip mereka. “Tuh, kayak gitu tuh, lava tour.” Taehyung memberi tanda ke jip yang menyalip mereka.
Ada lima orang di atas mobil, satu duduk di sisi pengemudi dan tiga lainnya berdiri di bagian belakang jip. Menggunakan standar keselamatan helm dan masker, mereka diajak untuk melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang rusak. Jeritan penuh adrenalin mereka lolos hingga ke dalam mobil dan Jungkook terserang rasa iri yang teramat sangat. Jip sengaja dikemudikan dengan kecepatan tinggi, menerjang jalur yang tidak rata hingga berguncang-guncang dan begitu menegangkan. Jungkook mengamati bagaimana penumpang di belakang berpegangan erat pada besi jip, menjerit dan tertawa.
JUNGKOOK. JUGA. MAU.
“Iya, sabar.” kekeh Taehyung dan Jungkook merona karena dia pasti tidak sengaja menyuarkan pikirannya keras-keras hingga Taehyung menjawabnya dengan geli. “Itu enaknya pagi, jadi udaranya dingin dan debunya gak banyak. Jam segini panas, nanti kamu sakit.”
Jungkook mengamati jip-jip yang melewati mereka dengan perasaan iri hati yang kental lalu menoleh saat mobil mereka berhenti. Taehyung menarik rem tangan. “Sudah sampai,” kata Taehyung mengendikkan dagunya pada warung kecil di depan mereka.
“Ini Kopi Merapi,” kata Taehyung bersiap turun. “Biasa aja? Emang. Tapi kopinya juara, belum lagi...,” dia menekan tombol di pintu kendali dan membuat jendela di sisi Jungkook turun dan menampilkan pemandangan menakjubkan Gunung Merapi dari puncak hingga kaki. “Pemandangannya.”
Jungkook menoleh dan terpana. Satu karena hawa panas yang sejuk menerpa wajahnya hingga dia terkesirap kaget sejenak. Matahari bersinar terik tapi udara yang membelai wajahnya terasa sejuk nyaris mengigit. Suhu yang membingungkan itu sejenak membuatnya bergidik menyesuaikan diri. Lalu dua, pemandangan lereng yang tersaji di depannya serta Gung Merapi yang gagah dan angkuh menantang langit membuat Jungkook bahkan lebih terpesona lagi.
Dia menoleh ke depan, melihat betapa warung kecil yang nampak sederhana bahkan tidak terurus itu penuh oleh pengunjung. Anak-anak muda yang asik minum kopi seraya mengabadikan momen itu untuk diunggah ke sosial media.
Jungkook menoleh, tersenyum lebar. “Ayo, ngopi!” katanya dan Taehyung terkekeh.