Dinner

Jungkook mendesah kekenyangan saat akhirnya mereka kembali memasuki mobil setelah makan malam dengan begitu lezat. Dia tidak menyangka bahwa hari ini akan berakhir dengan sangat indah.

Tadi, saat ibunya terkejut oleh salam Taehyung, Jungkook bersyukur bahwa ibunya tidak seketika itu menampakkan ketidaksetujuannya. Alih-alih mereka mengobrol dengan akrab, seperti teman lama. Ibunya nampak menikmati pembicaraan mereka namun dari pesan yang dikirimkan ayah Jungkook, dia tahu ibunya tetap saja terkejut mengenai fakta agama Taehyung.

Syukurlah orangtua Jungkook sudah menerima begitu banyak kejutan dari anaknya sehingga mereka menyikapi perbedaan agama ini dengan lebih kalem. Teringat bagaimana ayahnya nampak kaget, terluka dan kebingungan saat Jungkook muncul di hadapannya, mengaku dengan tegas bahwa dia seorang homoseksual.

Mereka tidak bicara selama satu bulan penuh dan Jungkook memilih untuk tinggal bersama Mingyu daripada berada di bawah satu atap dengan orangtuanya yang menatapnya seolah Jungkook sudah meninggal. Lalu entah apa yang terjadi, ayahnya menghubunginya. Meminta maaf atas sikapnya yang tidak menghormati pilihan Jungkook lalu memintanya kembali pulang.

Butuh satu minggu hingga akhirnya Jungkook kembali, dan ayahnya memeluknya erat. Mengatakan padanya bahwa dia salah karena tidak menghormati pilihan anaknya, lupa bahwa anaknya adalah juga individu dengan perasaan yang valid dan mandiri. Jungkook tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya, sungguh karena kemudian dia menyerahkan kebahagiaan Jungkook di tangan Jungkook.

“Papah hanya akan berdiri di sini, kalo Adek salah dan ingin pulang, maka pintu rumah akan selalu terbuka untuk Adek kembali.”

Namun yang menjadi masalahnya sekarang bukan lagi orangtua Jungkook, melainkan orangtua Taehyung.

Pikiran ini mengirimkan rasa mual ke dasar perut Jungkook dan dia menoleh pada Taehyung yang memasuki mobil, membenahi spion tengah mobil dan tersenyum cerah padanya. Hari ini dia nampak ceria; jauh lebih manusiawi daripada hari pertama Jungkook bertemu dengannya.

Dia tidak lagi mengenakan topeng ketenangan dan kelembutan ningrat yang digunakannya sejak dahulu. Dia lebih banyak tertawa, lebih banyak tersenyum, menjadi jujur tentang emosi-emosinya; menikmati waktu yang dengan cara manusia normal. Nampak kebingungan, nampak ketakutan. Emosi-emosi yang membuat Jungkook tersentuh.

Taehyung akhirnya memecahkan cangkang stigma yang mengungkungnya selama puluhan tahun dan menjadi jauh lebih manusia daripada sebelumnya.

Emosi-emosi baru itu menciptakan banyak ekspresi baru yang jauh lebih memesona di wajahnya, menciptakan banyak percikan-percikan baru di dada Jungkook; dia kembali jatuh cinta, lagi dan lagi pada setiap emosi baru yang muncul di wajah Taehyung.

Bagaimana bibirnya membentuk persegi panjang saat tersenyum, matanya yang menyipit, wajahnya yang memerah.... Taehyung nampak lebih vulgar dengan emosi barunya, jauh dari sterilisasi keturunan ningratnya namun nampak jauh lebih tampan dan memesona.

“I love you,” kata Jungkook meraih tangan Taehyung di perseneling dan meremasnya lembut. “Makasih udah bawa aku ke tempat-tempat baru yang keren.”

“I love you too,” balas Taehyung membalik telapak tangannya hingga tangan Jungkook berada dalam genggamannya lalu meremasnya lembut. “Maaf tadi Mas keceplosan sama Mama, serius Mas kira kamu udah cerita ke ortu. Harusnya Mas tanya dulu, ya?”

Jungkook terkekeh kecil. “Gapapa, Mama emang gitu tapi tar juga baikan kalo beliau tau betapa baiknya Mas, betapa bertanggung jawab dan pedulinya Mas ke aku. Orangtua mana yang gak berbahagia atas kebahagiaan anaknya?”

Taehyung menatapnya dengan tatapan lembut yang begitu menyihir Jungkook lalu membawa tangan Jungkook ke wajahnya, membenamkannya di telapak tangan Jungkook lalu menghirup aromanya dalam-dalam. Gestur intim yang selalu mengirimkan ledakan ke dasar perut Jungkook.

“Makasih.”

“Kembali kasih.”

“Karena sudah datang ke kehidupan Mas dan membuatnya jauh lebih baik.”

Jungkook ingin waktu berhenti saat itu juga lagi, dengan wajah ceria Taehyung di sisinya, lagu Scorpions bermain di audio mobil, suasana malam jalanan Jogja yang magis, tangan mereka bertautan, pembicaraan kecil tentang masa depan yang tidak nyata...

Jungkook bahagia, sangat bahagia. Hingga dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dan mungkin pikiran sekilas itulah yang kemudian membuat kebahagiaannya retak lalu hancur berantakan. Dia mungkin seharusnya mendengarkan Mingyu dengan berhenti. Put a stop in his racing mind about everything. Tapi dia tidak memahaminya, masih tidak.

Saat Taehyung menurunkannya di kosan dan melambai padanya. Berlalu meninggalkan Jungkook yang penuh oleh rasa bahagia tapi anxious, takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Rasa anxious itu juga yang menghantui tiap langkahnya menuju kamar, langkahnya saat mandi dan segalanya. Dia berusaha menenangkan diri, mencoba berhenti memikirkan hal buruk.

Taehyung akan tiba di rumah dengan selamat. Tidak akan terjadi apa-apa. Dia bahkan mulai menulis jurnal hal-hal yang akan dilakukannya saat Mingyu akhirnya kembali berkunjung ke Jogja, membayangkan hal-hal seru yang mereka bisa lakukan; lava tour, rafting, mendaki Merapi.... Jungkook akan bertemu Taehyung lagi besok, sama bahagia dan sama penuh cintanya. Jungkook berdoa untuk kebahagiaan mereka berdua, untuk kehidupan yang jauh lebih nyaman dan menyenangkan.

Dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Namun permintaan yang salah.