Lari _
You and I just have a dream to find our love a place, where we can hide away. You and I were just made to love each other now, forever and a day. _
Saat mendengar derum mobil Taehyung yang khas, Jungkook langsung melompat bangun dan berlari ke arah pintu, membantingnya terbuka lalu menuruni tangga dua-dua menuju lantai bawah seperti seorang sprinter yang hidupnya tergantung oleh apakah dia memenangkan perlombaan ini.
Tiba di pintu utama gedung kosan, dia melihat Taehyung sedang menarik ranselnya keluar dan nampak.... murka. Ekspresi itu membuat Jungkook berhenti mendadak, nyaris terantuk langkahnya sendiri dan terjerembab. Terlalu terkejut dengan bagaimana ekspresi anyar itu nampak sangat natural di wajah Taehyung. Rahangnya keras dan nampak siap menghantamkan tinjunya ke siapa saja yang berani menganggunya atau bahkan bernapas terlalu dekat dengannya.
Jungkook belum pernah melihat Taehyung semarah ini. Bahkan kata 'murka' sendiri melemahkan emosi yang terpampang di wajah Taehyung saat ini.
Untuk pertama kalinya semenjak mengenal dan berpacaran dengan Taehyung, Jungkook merasakan rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya. Terasa seperti seember air es yang disiramkan ke punggungnya, Jungkook terasa mengkerut saat dia menyingkir dari pintu, menatap wajah keras Taehyung yang menatapnya.
“Mas... oke?” tanyanya, praktis mencicit ketakutan oleh kemurkaan Taehyung yang asing dan nyaris seperti... binatang buas yang teritorinya diganggu.
Emosi itu nampak begitu asing dan eksotis di wajah Taehyung yang selalu penuh ketenangan dan kelembutan. Begitu mengerikan apa yang bisa dilakukan amarah pada seseorang yang selalu sabar dan tenang. Jungkook bersumpah dia akan berusaha menjaga perdebatan-perdebatan mereka di masa depan dalam lingkup diskusi berkepala dingin.
“Gak.” balas Taehyung lalu meraih tangannya, mencengkram tangan Jungkook lebih tepatnya dan menariknya naik. Beberapa anak kos yang sedang asik di ruang tamu menoleh lalu memalingkan wajah dengan sopan.
Di kamar, Taehyung melempar tasnya ke lantai hingga Jungkook berjengit kaget lalu melakukan hal paling manusiawi selanjutnya ke dinding kamar Jungkook; menghantamkan kepalan tangannya ke sana hingga dinding bergetar dan kulit arinya sobek. Suara dentuman dan jejak darah yang muncul di dinding itu kemudian akan menjadi masalah antara Jungkook dan pengelola kos, tapi itu bukan masalah utama malam ini.
“Maaf,” desahnya dan Jungkook memijat kepalanya. Bahkan dia masih sempat meminta maaf atas emosinya sendiri? Hal yang begitu konyol. Kenapa dia harus meminta maaf atas emosinya? Atas perasaannya? Apakah ini yang dilakukan orang-orang? Menghapuskan jati diri seseorang dengan melarangnya merasakan emosi? Menyalahkan mereka atas amarah mereka?
Jungkook benar-benar muak.
“Jangan minta maaf, silakan marah.” kata Jungkook tenang, mendudukan dirinya di ranjang mengamati Taehyung yang berdiri di tengah ruangan; aura amarahnya mendominasi dan mengungkung Jungkook dalam udara yang terasa berat dan beraroma tengik amarah mentah. “Aku tunggu.”
Taehyung memejamkan mata, menghela napas dalam-dalam, nampak begitu kesakitan dengan emosinya yang tidak bisa dilampiaskannya. Entah karena dia begitu bermoral untuk marah atau apa, Jungkook tidak faham. Wajahnya berkerut-kerut penuh rasa nyeri yang mengirimkan rasa sakit ke hati Jungkook hingga akhirnya dia berdiri.
Meraih Taehyung ke dalam pelukannya, membiarkan emosi Taehyung lumer seperti cokelat yang dipanaskan; lengket di setiap jengkal tubuh Jungkook.
“Gapapa, gapapa. Dilepasin aja. Gapapa, marah aja.” bisik Jungkook sementara Taehyung mengaitkan tangannya ke pinggangnya, gemetar dan kebingungan. Asing akan emosinya sendiri, perasaan aneh yang menjalari punggungnya dan membuat kepalanya terasa kesemutan dan pusing. “Kalo ditahan tar jadi penyakit.”
Setelah akhirnya Taehyung agak tenang, Jungkook mengajaknya duduk di ranjang. Meraih tangannya dan mendesah saat kerusakannya ternyata jauh lebih parah dari yang diperkirakannya. Tangan Taehyung kurus dan panjang, hingga hantaman minimal sekali pun bisa membuka kulitnya hingga tulangnya nampak.
Jungkook menatap Taehyung. “Mas mau cerita?” tanyanya lembut. “Aku obatin dulu, ya,” dia bangkit lalu meraih kotak obat pribadinya yang dibuatkan ibunya lalu mengeluarkan pembersih luka, kain kasa, perekat serta obat merah.
“Maaf,” bisik Taehyung parau.
“No need,” balas Jungkook seketika itu juga, tersenyum lembut. “Mas berhak marah. Berhak merasakan emosi apa pun yang Mas rasakan. Gak boleh minta maaf atas emosi-emosi Mas sendiri, oke? Itu valid.” Dia meraih tangan Taehyung dengan perlahan, meletakannya di pahanya sendiri lalu mulai mengobatinya.
“Take your time, aku tunggu sampe Mas siap cerita. Aku maksa kalo yang ini, karena masalahnya kita, kalo masalahnya cuma tentang Mas dan Ayah, aku mungkin bakal diem dan biarin Mas kelarin sendiri senyaman Mas.” Jungkook meletakkan kapas bekas yang digunakannya untuk membersihkan luka Taehyung lalu menatapnya.
“Jadi, mari bekerja sama.”