Bicara 2

Ruangan kerja Taehyung masih seperti yang diingat Jungkook saat kali terakhir mampir ke ruangan ini, hari dimana akhirnya mereka berdua mengungkapkan perasaan masing-masing dan menyerah pada kenormalan dunia dan memutuskan untuk menjadi tidak normal, melawan stigma masyarakat yang melekat pada mereka. Jungkook tidak akan lupa bagaimana lembutnya Taehyung saat membisikkan nama Jungkook dalam setia helaan napasnya yang berat, bagaimana bibirnya bergerak bersama Jungkook dalam ciuman mereka yang intim dan hangat serta genggaman tangannya.

Begitu indah dan begitu sureal. Jungkook takut ini semua hanyalah mimpi.

Taehyung duduk di sofa dan mengajak Jungkook duduk di sisinya. Mereka bersidiam, nampak sejenak merasa nyaman dengan keheningan yang menggantung berat dan rendah di sisi mereka. Jungkook menghela napas, memutuskan bahwa mereka memang harus bicara walaupun dia sesungguhnya tidak tahu harus memulai dari mana.

“Kalo memang Mas masih bingung sama hubungan kita, gapapa. Aku faham, kok.” katanya nyaris berbisik, nyaris tidak terdengar karena suara gemericik air buatan di taman belakang rumah Taehyung. “Maksudnya, aku faham Mas dulunya hetero—atau percaya bahwa Mas itu hetero dan hubungan sesama jenis gini mungkin emang suka bikin bingung di awal jadi—”

“Tapi, bukan Mas yang narik diri, kan?”

Jungkook mengerjap dan menoleh, menatap ke mata Taehyung yang anehnya nampak begitu terluka. Apakah dia baru saja melakukan hal yang salah? Apa yang baru saja dikatakannya yang mungkin membuat Taehyung terluka?

“Bukan Mas yang mendadak diam dan kabur, itu kamu. Kamu, Dek. Kamu yang bingung.”

Fakta itu menghantam Jungkook seperti sebuah banjir bah, membuatnya sejenak limbung hingga harus menyandarkan tubuhnya di sofa dan mempertahankan keseimbangannya di sofa dengan memegang pinggiran sofa. Dia tidak menatap Taehyung yang sekarang menatapnya, begitu lembut dan penyabar. Nyaris membuat Jungkook berguling ke lantai dan meringkuk membentuk bola untuk menangis keras-keras. Jantung Jungkook berdentam kuat dan memusingkan sementara otaknya yang malang memproses informasi baru yang diterimanya.

Benarkah begitu? Benarkah Jungkook yang menarik diri?

Kepalanya memutar ulang adegan pagi ini saat Jungkook keluar dari mobil dengan perasaan kacau, teringat ekspresi Taehyung yang kebingungan dan perasaannya sendiri yang kebingungan. Lalu pesan Taehyung yang bertanya apakah dia melakukan kesalahan dengan mencium Jungkook juga kue yang dibelikannya via ojek daring (yang sekarang dibawa Yugi pulang).

Ya. Taehyung tidak mundur, Taehyung juga tidak bingung.

Jungkook-lah yang merasa Taehyung akan mundur, yang berasumsi bahwa Taehyung bingung.

Jungkook pula lah yang merasakan ketakutan atas semua itu.

Dia yang belum percaya bahwa lelaki hetero seperti Taehyung akan meluncur ke dalam hubungan homoseksual tanpa mengalami masa kebingungan. Jungkook selalu menutup diri tentang rasa percaya, tentang hubungan, tentang cinta dan emosi-emosinya sendiri; dia tidak pernah percaya bahwa pada akhirnya seseorang dengan rela melepaskan jati dirinya, bahkan pekerjaannya hanya untuk bersama Jungkook.

Dan ketakutannya telah secara sadar dan tidak sadar telah menciptakan sebuah jarak, sebuah palung yang memisahkan hatinya dari Taehyung, membuat hubungan mereka yang masih rapuh, kini merenggang. Namun syukurlah Taehyung cukup dewasa untuk menyadari itu sehingga alih-alih membalasnya dengan bensin, dia memadamkan apinya; menuntun Jungkook menelusuri tiap pilihan dan tiap kata yang mereka ucapkan untuk mencari apa yang salah.

“Hei, hei, hei....”

Jungkook tidak tahu sejak kapan dia sudah mulai menangis, namun saat Taehyung meraihnya dan menyandarkan tubuhnya di dadanya yang hangat dan berdebar dengan lembut, Jungkook melepaskan segala kepenatan dan beban di dadanya, membiarkannya lolos bersama setiap air mata yang menetes di pipinya seraya terisak dalam hingga dadanya terasa berat dan nyeri.

Jungkook sungguh kebingungan atas rasa bingungnya sendiri.

“Mas gak ke mana-mana, Mas di sini. Tolong percaya, tolong bantu Mas; kita berjuang sama-sama.” Bisik Taehyung di rambutnya. “Mungkin mereka bakal mandang kita aneh, hanya karena kita gak normal. Tapi siapa yang menciptakan standar normal dan benar? Karena semuanya abu-abu. Yang kita anggap benar, belum tentu dianggap benar oleh orang lain. But it's OK, we don't need anyone's validation for our feelings, for our own lives.”

Belaian Taehyung di punggungnya membuat isakan Jungkook semakin keras, dia berusaha bicara namun tersedak oleh air mata dan napasnya sendiri hingga dia akhirnya menyerah. Dia hanya ingin Taehyung tahu, bahwa dia benar-benar bahagia; sungguh bahagia hingga kata 'bahagia' itu sendiri tidak terdengar cukup kuat utuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Mungkin mereka memang tidak normal; aneh, menyimpang, tidak sehat bahkan pada pandangan ekstrimis, mereka berdosa. Tapi apakah benar mereka berdosa jika Tuhan itu sendiri yang menganugerahi mereka dengan cinta yang bahkan tidak mereka fahami? Apakah Tuhan bermain dengan cara securang itu bersama manusia? Menciptakan hal yang mustahil untuk dielakkan hanya untuk dicap sebagai dosa dan mengirim manusia langsung pada hukuman?

“Mas mungkin cuma butuh waktu untuk terbiasa,” bisik Taehyung lagi di rambutnya. “Mas belum pernah pacaran, belum tau gimana caranya membahagiakan orang lain. Mas gak tau harus ngelakuin apa biar kamu bahagia; biar kamu ngerasain apa yang Mas rasakan tiap kali Mas liat kamu senyum. Mas ingin kamu ngerasain cinta ini, perasaan Mas; bagaimana kamu bikin hidup Mas yang monotun dan monokromatis, sekarang jauh lebih membahagiakan dan berwarna.

“You bring a lot of colors into my life, you bring a lot of adventures. Thank you for finding me. I don't know life could be this better if it was not you who brought the life to me; infusing more energy and taste into my food.”

“Mari belajar sama-sama, mari berjuang sama-sama; jalannya berat, Mas tau, tapi Mas juga yakin selama kita bersama, gak ada jalan yang terlalu berat untuk dijalani bersama. Ayo, kita bekerja sama untuk hubungan kita sendiri.”

Jungkook meledak dalam tangis yang bahkan lebih hebat lagi; dadanya terasa sesak, tiap tarikan napasnya hanya membuat paru-parunya semakin mengerut dan sulit bernapas. Dia terisak-isak, Taehyung terkekeh lembut dan memeluknya semakin erat. Pelukannya terasa begitu mantap, hangat dan mengayomi. Jungkook rasanya ingin meledak dalam perasaan penuh cinta ini.

“Ya Allah,” bisiknya lembut dan sedikit geli hingga jika saja Jungkook tidak sedang menangis terisak-isak, dia pasti akan marah pada nada itu. “Astaghfirullah,” ulangnya berkali-kali di rambut Jungkook dan membelai punggungnya lembut. “Udahan, yuk, nangis terus tar dadamu sakit. Matamu perih, tar malah ditanya Tekwan kamu kenapa.”

“Maaf,” kata Jungkook parau dan tercekik akhirnya. “Aku belum bisa sepenuhnya percaya Mas gak bakal pergi, Mas gak bakal berubah pikiran tentang hubungan ini. Aneh rasanya, maksudku.... Mas bisa nikah dengan cewek cantik pertama yang Mas mau dan Mas milih buat jadi... 'berdosa' sama aku.”

“Jangan minta maaf. Dosa atau tidak itu, kan, urusan manusia dan Tuhan,” balas Taehyung dengan suara beratnya yang menyejukkan, Jungkook tercekat napasnya sendiri. “Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha dan menjalani. Jangan biarkan sesama manusia mengajari atau menghakimi kamu tentang dosa yang dia sendiri bahkan belum fahami secara benar.

Lagi pula, apa memang dosa bahkan saat Tuhan sendiri yang menghadiahi kita perasaan ini untuk dirasakan? Apa cinta sesama jenis itu satu-satunya dosa paling kejam yang pernah dilakukan manusia? Lebih kejam dari pembunuhan? Masokistik? Begal? Mutilasi? Perampokan? Cuma karena bentuknya yang gak seperti apa yang orang-orang lain rasakan? Kayaknya engga. Mas gak percaya itu.”

Taehyung mengeratkan pelukannya, “Jangan terlalu keras pada diri sendiri, gak baik. Kita jalan bersama, jangan ragu dan jangan takut. Semua masalah, dibicarakan. Jangan disimpan sendiri, oke? Mas gak suka. Komunikasi kita harus jalan terus, supaya berhasil. Jangan sampai masalah dari dalam hubungan kita, ngerusak kita sendiri sementara tantangan di luar sana masih berat juga.”

Dalam pelukan hangat Taehyung, mendengarkan debaran jantungnya yang lembut dan teratur, menenangkan sekali. Jungkook mengeratkan pelukannya, terisak dan mengangguk. Hatinya terasa penuh; penuh oleh emosinya sendiri, penuh oleh cinta dan kebingungan. Namun, dia mendorong jauh-jauh perasaan bingung itu. Seperti sang Buddha sendiri: live in the present.

Maka Jungkook akan memeluk erat setiap detik kehidupannya, berusaha untuk mempertahankan pikirannya untuk tetap di masa sekarang. Tidak boleh ada kekhawatiran untuk hal-hal yang belum terjadi. Jungkook harus bisa bahagia dengan dirinya sendiri, maka hubungannya dengan Taehyung akan menjadi sama bahagianya.

“Mas gak mau kehilangan kamu.” Taehyung mendaratkan satu ciuman di puncak kepala Jungkook dan memejamkan matanya; menghirup dalam-dalam aroma Jungkook yang mulai akrab dengan seluruh indera tubuhnya.

Dan jika memang hubungan mereka ini adalah dosa, lalu untuk apa Tuhan menganugerahkan cinta yang mereka rasakan?