eclairedelange

i write.

Sidang

Mereka berhenti di halaman parkir Pengadilan Tinggi Kota Yogyakarta dan Jungkook langsung melihat ibu Taehyung berdiri di selasar gedung bersama Taehwan, berpakaian rapi. Ibu Taehyung nampak awet muda dan sehat, terbalut celana jeans dan blouse putih yang menarik.

Jungkook menarik rem tangan, setelah tadi mereka bersikukuh siapa yang mengemudi karena pesawat Taehyung mendarat pukul tujuh pagi dan sidang dimulai pukul delapan pagi sehingga pemuda itu otomatis tiba dalam keadaan jetlag dan lelah. Jungkook memenangkan pertandingan suit mereka dan akhirnya mengemudikan mobil ke pengadilan, jelas tidak tega membiarkan kekasihnya yang teler mengemudi.

Mereka keluar dari mobil dan Taehyung nampak sejenak gelisah karena kehadiran Taehwan dan ibunya; ini pertemuan pertama mereka setelah sekian hari dan Jungkook bisa melihat dari bahasa tubuh Taehwan bahwa hal ini sama tidak menyenangkannya untuk dia.

“Assalamualaikum, Ibu,” Taehyung menghampiri ibunya dan menempelkan punggung tangan ibunya di keningnya, dia memejamkan mata lalu meraih ibunya dalam pelukannya. “Masyallah,” bisiknya lalu tersenyum dengan mata masih terpejam. “Ibu sehat?”

Ibunya membalas pelukan Taehyung, sama eratnya dan sama rindunya. “Sehat, Mas. Gimana kerjaan Mas?”

Melepaskan pelukannya, Taehyung meraih tangan ibunya dan menggenggamnya (terus begitu hingga selesai sidang) dengan erat, “Alhamdulillah lancar, Ibu. Kerjaan Mas gak beda sama kerjaan kemarin jadi enak,” dia lalu menatap adiknya. “Dek,” katanya.

Hening sejenak, Jungkook menatap mereka bertiga ragu-ragu lalu akhirnya mendesah lega saat Taehwan meluncur ke pelukan Taehyung dan pemuda itu tertawa. Mereka bertiga berpelukan erat, seperti keluarga lama yang dipisahkan. Jungkook berdiri beberapa meter dari mereka, enggan merusak momen bahagia itu.

“Hei,” kata Taehyung lembut, menatapnya dengan tatapan seolah Jungkook adalah dewa yang sedang dipujanya. “Ayo sini,”

Jungkook tersenyum dan mengangguk, menghampiri keluarga itu. “Halo, Tante,” katanya mengikuti Taehyung dengan menyalimi tangan ibunya yang beraroma kuat bumbu masak dan sedikit kasar. “Saya Jungkook.”

Ibu Taehyung tersenyum. “Maaf, ya,” katanya dengan logat Jogja yang bahkan lebih kental dan tebal dari Taehyung. “Ketemunya dalam momen seperti ini, Tante belum sempat kenal kamu juga sebelum ini,”

Jungkook nyengir, “Gak apa-apa Tante,” katanya. “Sekarang kan udah kenal, hehe.”

Sidang berlangsung dengan lancar, tidak ada hal yang menyulitkan. Hakim membaca berkas-berkasnya, bertanya apa alasan Taehyung ingin mengganti namanya; pada bagian ini Taehyung menjelaskan keinginannya untuk melepaskan gelar bangsawannya dan diiringi oleh dukungan penuh sang Ibu. Tidak ada bahasan tentang ayah Taehyung, hanya bagaimana Taehyung merasa ingin melepaskan diri dari kebangsawanannya dan dia merasa itu haknya sepenuhnya untuk melakukan itu dengan restu penuh ibunya.

Hakim sejenak menimbang-nimbang lalu meminta para saksi dan Taehyung untuk menunggu, sidang keputusannya akan dibacakan jam dua siang. Tidak memiliki tujuan, karena sedang bulan puasa sehingga Jungkook tidak yakin ke mana mereka harus pergi, mereka akhirnya hanya duduk di balai-balai kecil di sudut halaman pengadilan dan mengobrol.

Tentang suasana rumah setelah Taehyung pergi, tentang keadaan ayahnya yang sekarang semakin sering marah-marah dan sulit diajak bicara. Sudah seminggu ibunya tidak tidur bersama ayahnya karena tidak kuat menghadapi mood swing-nya yang tidak masuk akal. Selama itu juga, Taehyung tidak melepaskan tangan ibunya. Dia memijatnya, menggenggamnya erat, menciuminya; nampak begitu rindu dan sayang.

Jungkook dan Taehwan duduk agak jauh, berdua saja.

“Makasih ya Kak Jung,”

“Buat?”

Taehwan menatap sepatunya. “Buat semua kebaikan Kak ke keluargaku,” dia tersenyum. “Kami deket banget sama Ibuk,” katanya melirik Taehyung yang sekarang sedang mendengarkan cerita ibunya sambil memijat kakinya.

“Pas hari pertama Mas gak ada di rumah, Ibuk nangis. Kangen. Gak ada yang ngerecokin, gak ada yang pulang buka sepatu berisik terus minta dibuatin wedang uwuh...”

Jungkook tersenyum. “Terus Ayah?”

Taehwan mendesah berat. “Bad mood terus,” desahnya. “Habis Kak dan Mas pergi, temen Ayah itu pulang dengan keadaan masih syok. Sepenangkepanku, anaknya itu naksir Mas Tae, anak UGM FISIPOL juga tapi gak pernah ditanggepin jadi dia pro sama perjodohan itu.” Dia terkekeh. “Kak harus liat mukanya pas pulang karena perjodohannya batal dan Mas Tae ternyata homo, kasian banget.”

Jungkook tersenyum simpul, menikmati tawa Taehwan yang lepas. “Tanggepan Ayah?”

“Ya ngamuk,” Taehwan mengendikkan bahu. “Nyalahin Kak Jung,sih garis besarnya,” dia melemparkan tatapan meminta maaf pada Jungkook yang tersenyum memaafkan.

“Tapi gak ada yang dengerin. Ibuk itu sayang banget sama Mas, jadi menurutku mau Mas nikah sama alien tanpa jenis kelamin pun Ibuk pasti ngerestuin.” Taehwan tersenyum kecil, memainkan sebatang ranting di tangannya.

“Kadang aku suka iri,” katanya lambat-lambat. “Mas itu keren banget. Pinter, berbakat, berwibawa, ganteng... Kayak semuanya dibawa Mas. Ibuk dan Ayah sayang banget sama Mas; apa-apa pasti Mas, semuanya pasti Mas. Kadang aku ngerasa kayak... bayangan?” dia memainkan kedua kakinya. “Kalo aja aku cewek, mungkin Ayah bakal sayang aku,”

“Gak boleh mikir gitu ayo. Mas itu sayang kok sama kamu,” kata Jungkook lembut. “Sayang banget. Kamu gak usah sedih. Jadikan itu sebagai bahan bakarmu untuk sukses. Mas Tae mungkin bisa mencapai sekian, maka kamu bisa melampaui Mas. Jangan dipake untuk sedih, jadikan penyemangat, ya? Kamu bisa kok jadi seperti bahkan lebih dari Mas. Percaya, deh,”

Taehwan menatapnya sejenak lalu tersenyum. “Iya,” katanya. “Aku mau belajar yang bener. Aku mau jadi PNS. Aku mau jadi lebih dari Mas Tae,”

Mimpi yang rasional sekali, tapi Jungkook menghargainya. Siapa yang tidak mau jaminan kesejahteraan hingga meninggal? “Ayah juga sayang kamu kok,” kata Jungkook meremas bahunya akrab. “Sekarang cuma lagi kecewa sama pilihan Mas Tae, nanti juga terbiasa. Nanti juga keadaan bakal lebih baik.

“Tolong jangan berhenti berpengharapan, ya?” bisik Jungkook lalu menyandarkan kepalanya ke kepala Taehwan; menghirup aroma matahari di rambutnya dan merasakan kasih sayang yang melimpah pada Taehwan.

Berjarak sangat jauh dengan kakak lelakinya membuat Jungkook asing dengan keberadaan saudara. Saat dia mulai membutuhkan sosok kakak, kakak lelakinya sudah bekerja sebagai akuntan di Swiss dan bertemu dengannya nyaris mustahil; Jungkook hanya memiliki kehadiran kakaknya lewat barang-barang mahal yang dikirim lewat ekspedisi dan videocall.

Memeluk Taehwan terasa seperti kemewahan. Adik kecil yang tidak dimiliki Jungkook.

“Ayo, denger keputusan.”

Jungkook dan Taehwan mendongak, bertemu pandang dengan Taehyung yang tersenyum lembut pada mereka berdua. Jungkook dan Taehwan bergegas bangkit dan menyusul mereka menuju ruang sidang lagi.

Tidak banyak, hakim mengabulkan permintaan Taehyung dan memberikan surat keterangan pengubahan nama hasil keputusan sidang di Pengadilan Tinggi yang nantinya akan digunakan untuk mengurus surat-surat resmi lainnya termasuk akta lahir, KTP, SIM dan Ijazah.

Membawa surat keputusan itu keluar, Taehyung mendesah lega. “Berarti harus kamu yang ngurus ya, Dek?” katanya pada Jungkook setelah berpisah dengan ibu dan Taehwan karena mereka harus di rumah untuk berbuka dan takut ayah curiga dan tahu mereka kemana.

“Mau sekarang juga gapapa sih, Mas,” kata Jungkook tersenyum di kursi pengemudi, siap kembali. “Belum terlalu sore juga. Aku baca di Google kalo udah bawa surat keputusan cepet kok,” Dia melirik ke spion tengah saat mundur untuk keluar dari gedung pengadilan.

“Ya udah kita ke Disdukcapil dulu deh sekalian biar Mas gak izin-izin lagi,” kata Taehyung dan Jungkook mengangguk, “Siap, Kak. Sesuai titik, ya?” sahutnya dan Taehyung tertawa.

Ajaib bagaimana hubungan seks telah menjadikan hubungan mereka jadi jauh lebih akrab; seolah ada ikatan batin yang kuat. Mereka terasa begitu intim dan menyenangkan. Jungkook merasa jauh lebih nyaman berada di sekitar Taehyung. Merasa damai dan akrab seolah Taehyung sudah berada di hidupnya selama bertahun-tahun, alih-alih beberapa bulan.

“Btw,” kata Jungkook saat mengemudi menuju Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. “Siapa nama barunya?” dia melirik Taehyung yang bersandar di kursinya dengan nyaman. “Jadi pake nama dariku?”

Taehyung tersenyum lebar, “Jadi,” katanya. “Semua nama aku lepas karena itu semua gelar bangsawan. Raden Mas itu gelar, Bawono Pragowoaji itu nama keluarga, ya akhirnya cuma sisa Taehyung aja dan dengan nama-nama dari kamu, jadinya,”

Dia mengeluarkan surat keputusan di map dan memamerkannya seperti anak kecil yang memamerkan piagam lomba tarik tambangnya ke Jungkook yang tertawa kecil oleh tingkahnya,

“Ardiman Taehyung Ajiwira.” cengirnya lalu mendesah panjang. “Rasanya seperti lahir kembali. Rasanya lebih ringan. Mas udah bukan bangsawan lagi....”

“Selamat, Mantan Bangsawan,” Jungkook tertawa saat memasang sein untuk membelok. “Berarti sekarang aman, yaa, mau buat skandal?” Dia mengerling Taehyung penuh godaan.

Satu lagi efek seks, mereka jadi lebih mudah melemparkan guyonan dan tidak ada yang tersinggung. Guyonan-guyonan nakal yang membuat mereka tertawa intim, bertukar pandangan penuh arti dan senyuman kecil adalah hal-hal baru yang memercikkan api luar biasa ke hubungan mereka. Jungkook begitu asing dengan perasaan nyaman sehebat ini.

Taehyung meliriknya dengan kerlingan yang sama, “Aman buat post foto bareng di Twitter,”

Jungkook tertawa lepas. “Dari semua hal yang orang biasa bisa lakukan, Mas pengen post foto berdua di Twitter.” dia tersengal, “Oke, siap, Raden Mas,” katanya lalu berpura-pura terkejut.

“Eh maaf,” katanya jahil. “Mas Ardiman Taehyung Ajiwira.” dia menyecap nama baru itu di lidahnya dan menyukai bagaimana nama itu terasa begitu sederhana dan kuat. Dia tersenyum lebar, “Selamat datang di kasta sosial terendah.”

Bali D-2 ps. careful it may break your heart.

Jungkook sedang berbaring di ranjang, bermain game saat Taheyung keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan aroma sabun yang menyenangkan, menyeruak mengisi seluruh ruangan kosan. Menghirupnya dalam-dalam, Jungkook menjeda permainannya dan menoleh ke Taehyung yang sedang membersit dan menggantung handuknya di jemuran.

“Mas?”

“Dalem?”

Jungkook tersenyum lebar, “Udah buka, kan? Mau peluk, boleh?”

Taehyung terkekeh lalu mengenakan kausnya dan menghampiri Jungkook yang duduk di ranjang dengan kedua tangan dibentangkan; Taehyung meraihnya ke dalam pelukannya dan Jungkook mendesah panjang.

Pelukan Taehyung selalu terasa menenangkan dan melegakan, seperti opium yang disuntikkan ke dalam aliran darah membuat Jungkook seketika merasa damai dan tenang. Dia mengaitkan kedua tangannya di punggung Taehyung hingga lelaki di pelukannya terkekeh oleh gerakan itu.

Taehyung mengecup puncak kepalanya lalu menggeliat. “Bentar, sik bener dulu. Pinggang Mas sakit,” katanya geli lalu Jungkook melepaskan pelukannya dan membiarkan Taehyung berbaring di ranjang sebelum menyusup ke pelukannya.

Bersandar di dada Taehyung yang dingin dan harum sabun membuat Jungkook tersenyum. “Mas,”

“Dalem, sayang?”

“I love you.”

Taehyung tertawa lembut. “I love you too,” katanya. “Makasih hari ini udah nemenin Mas mondar-mandir dan beresin kosan, ya? Tiket buat besok malem udah beli? Kita jadi gak bisa main-main ya? Mas juga gak tau mana-mana di sini,”

Jungkook menggeleng di dada Taehyung. “Gapapa, aku lebih suka deket-deket Mas aja, gak kemana-mana juga seneng,” dia nyengir. “Mainnya besok-besok aja kalo Mas udah hafal tempat, biar gak kecapekan juga hari pertama kerja,”

Taehyung mengecup puncak kepalanya. Jungkook meremang oleh sentuhan itu. Ini pertama kalinya mereka berada di ruangan yang tertutup tanpa siapa pun yang mungkin menganggu mereka, pertama kalinya berpelukan tanpa perasaan berat dan resah seperti yang selalu mereka rasakan di kosan Jungkook.

Pertama kalinya....

Jungkook mengerjap lalu menelan ludah sebelum membulatkan tekadnya dan mendongak. Taehyung sedang menyandarkan kepalanya di dinding di belakangnya, matanya terpejam dan dia bersenandung lirih. Merasa malu, Jungkook urung melakukan apa pun dan akhirnya kembali menunduk dan menyusupkan wajahnya di dada Taehyung.

'Mas gak pernah sama sekali berpikiran seperti itu tentang kamu,' kata Taehyung kemarin di bandara saat mereka menunggu taksi dan kalimat itu membuat Jungkook merona.

Dia pun tidak. Dia tidak pernah membayangkan akan... membiarkan Taehyung menyentuhnya sedemikian rupa karena menurutnya, hubungan mereka sekarang sudah sangat sempurna tanpa apa pun. Tapi kalimat Mingyu kemarin membuatnya menyadari hal itu. Dia mengutuk sahabatnya ke neraka jahanam.

Sudah entah berapa kali mereka berbaring bersebelahan di ranjang dan sama sekali tidak memikirkan itu?

Tapi saat teringat ciuman mereka di mobil hari mereka berkunjung ke Kopi Klotok, bagian dasar perut Jungkook terasa geli. Bagaimana Taehyung mendesah dan mengerang; suaranya membuat Jungkook nyaris gila. Dia tidak bisa melakukan ini. Bagaimana jika Taehyung tidak suka? Bagaimana jika dia menolak? Bagaimana jika hanya Jungkook yang berpikiran tidak sopan? Sementara Taehyung sudah jelas tentang pendiriannya sendiri?

”... Apa?”

Jungkook membuka matanya, “Hah?” tanyanya serak, mendongak menatap Taehyung yang menatapnya geli. “Apa?”

“Kamu mikirin apa? Mas ajak ngobrol diem?”

Jungkook menggeleng, “Gapapa,” katanya melirik bibir Taehyung yang terkuak dan merasa malu karena telah berpikiran begitu kotor. “Gapapa, gapapa!” katanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Berhenti, Jungkook!' serunya pada otaknya sendiri yang sekarang mengerang karena tidak diberi apa yang diinginkannya.

Taehyung menatapnya lalu terkekeh serak. Ragu-ragu sedetik lalu, “Kamu.... sadar, gak?”

“Apa?” tanya Jungkook masih merasa pening oleh jalan pikirannya sendiri yang tidak sopan.

“Ini pertama kalinya kita di satu ranjang tanpa ngerasa sedih atau kacau? Dengan pintu kekunci? Gak ada yang kenal kita di sini....” katanya lalu seolah menyadari kata-katanya sendiri, Taehyung menelan ludah gugup. “Maksudnya—!” tambahnya setengah panik. “Kalo kamu gak mau, gapapa, maksudnya gimana ya, itu.... Mas bilang Mas gak mikir kayak gitu, iya tapi maksudnya—”

Muak oleh celotehan mabuk Taehyung, Jungkook akhirnya memberanikan diri untuk merangkuh tengkuk Taehyung, meraih pipinya dan mengunci wajah Taehyung sebelum menciumnya dengan keras hingga keduanya mendesah. Menakjubkan bagaimana ciuman itu mengirimkan perasaan aneh ke dasar perut Jungkook, membuat setiap inci kulitnya berdenyar penuh kenikmatan. Dia merinding dan merasa haus.

Mengeratkan pelukannya, dia memperdalam ciumannya dan merasakan tangan Taehyung di tengkuknya, membelai tubuhnya dengan gerakan lembut terus turun hingga ke pinggangnya. Jungkook mengejang; sentuhan itu mengirimkan aliran listrik aneh yang membuatnya mendesah.

“Astaghfirullah, Jungkook....” bisik Taehyung serak dan parau, lima kali lebih seksi saat Jungkook melepaskan ciuman mereka untuk bernapas. Namun, sebelum Jungkook berhasil menarik napas, Taehyung meraihnya kembali dan menariknya berguling hingga menimpanya di ranjang.

Tubuh mereka bertemu dengan cara yang mendebarkan; Jungkook terkejut bagaimana bagian-bagian tubuhnya bereaksi terhadap bagian tubuh Taehyung dan merasa malu karena begitu menikmatinya. Taehyung kembali menciumnya semakin dalam, dan semakin dalam. Membelai tubuhnya dengan lembut dan ragu-ragu, malu untuk menjelajah lebih jauh.

Menggemaskan sekaligus membuat Jungkook frustasi.

”... Mas gak... yakin?” sengalnya saat ciuman mereka berhenti; mereka berdua tersengal dan kamar terasa begitu panas saat tubuh mereka bertautan di ranjang. “Mas gak tau... caranya?”

Jungkook terkekeh parau. “Mas pikir aku tau?” balasnya tersengal. Wajahnya merah padam, rambutnya menjuntai di keningnya, matanya yang biasanya bersinar penuh keceriaan sekarang redup dan sayu—begitu menggoda dan membuat Jungkook nampak sepuluh kali lebih indah dan tampan dari biasanya hingga Taehyung mengerang.

“Ikuti insting aja,” kata Jungkook terengah saat ciuman Taehyung menggelincir ke lehernya, membelai kulitnya dan denyut pembuluh darahnya dengan ciuman sehalus sayap kupu-kupu. Dia merasa seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan, menggelepar-gelepar menyedihkan. “Ikuti... insting....”

Dan saat Taehyung menariknya hingga berbaring di ranjang dan menaunginya dengan wajah merah padam yang begitu tampan hingga Jungkook bisa saja menangis karenanya, Jungkook faham bahwa mereka tidak perlu bicara. Tubuh mereka tahu apa yang mereka butuhkan. Mereka hanya perlu membiarkannya terjadi sesuai dengan apa yang tubuh mereka inginkan.

Taehyung membelai wajah Jungkook dengan punggung tangannya, Jungkook terpejam. Menikmati sensasi memabukkan itu seperti kucing yang mabuk catnip, mulutnya terbuka sebagai reaksi atas kurangnya aliran oksigen yang masuk ke otak karena hidung bodohnya tidak menghirup cukup banyak untuk mecerna semuanya.

Setelah bisikan menyerah lain yang sangat seksi, Taehyung kembali menciumnya dan itulah saat dimana otak Jungkook berhenti berfungsi dan seluruh insting binatangnya mengambil alih segalanya....

Bali D-1

Jungkook baru saja mengganti bajunya setelah mandi saat dari jendela kamarnya, dia melihat Taehyung sedang duduk di teras rumah. Rumah kawan Taehyung sangat kental dengan model Bali terletak di kawasan Sanur; terdiri atas satu rumah induk dan beberapa bangunan-bangunan lain yang terpisah. Kamar mandinya ada di bangunan yang terpisah, dapurnya pun terpisah sehingga menyiptakan ruangan yang cukup luas untuk halaman.

Ada dua pohon kamboja besar yang meneduhkan halaman. Bunga-bunganya berguguran di halaman dan menghamparkan aroma lembut yang khas Bali. Orangtua kawan Taehyung begitu ramah pada mereka dan langsung menawari mereka makan yang diiyakan Jungkook karena dia begitu lapar dan tidak sahur seperti Taehyung.

Setelahnya mereka dipersilakan untuk beristirahat di salah satu bangunan yang ternyata adalah satu kamar lengkap dengan jendela dan teras kecil dekat dengan satu pohon kenanga yang aromanya begitu menenangkan. Jungkook suka di sini. Dia baru saja bangun dari tidur siangnya yang lama dan panjang untuk mandi sementara Taehyung memeriksa isi emailnya; entah melakukan apa, mungkin menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa kemarin.

Jungkook menempati satu kamar di sudut rumah dengan Taehyung, sementara sekarang Taehyung sedang duduk di teras kecil kamar mereka, menatap halaman tanah yang terisi sisa-sisa sesaji umat Hindu yang berantakan dirusak ayam-ayam peliharaan keluarga yang berdeguk-deguk lucu tiap kali Jungkook memanggilnya.

Bergegas menggantung handuknya di jemuran kecil di depan kamar, Jungkook kemudian meraih sesuatu dari tasnya dan menghampiri Taehyung. Aroma sabun mandinya membuat Taehyung menoleh dan tersenyum kecil.

“Udah mandi?” katanya kembali menatap langit yang mulai gelap dan berwarna jingga. Kawan Taehyung sedang bekerja, shift sore sehingga mereka memiliki waktu untuk mengobrol berdua dulu.

Rencananya besok Taehyung akan mengajak Jungkook ke kosannya dan menentukan kira-kira mereka butuh apa saja sebelum Taehyung bekerja besok Senin.

“Udah,” Jungkook tersenyum lebar. “Mas lagi mikirin apa?”

Taehyung mendesah. “Yah... Kadang rasanya berat kalo ninggal rumah yang udah lama ditempatin, kan?” Dia menatap Jungkook lalu tersenyum kecil sebelum kembali menatap langit. “Mas sudah tinggal di sana bertahun-tahun, aneh rasanya sekarang kalo diinget-inget Mas udah gak punya rumah buat pulang.”

“Gak.” kata Jungkook menggeleng. “Mas tetep akan pulang ke rumah itu kok, anggep aja Mas lagi merantau ini kayak aku ke Jogja,” tambahnya meraih tangan Taehyung dan meremasnya hangat. “Mas masih bagian keluarga itu. Gak ada orangtua yang tega ngusir anaknya sendiri dan aku yakin pas Ayah udah tenang, beliau pasti bisa diajak bicara.”

Taehyung mendenguskan tawa. “Kamu gak tau Ayah,” katanya menatap tangan mereka yang bertautan. “Ayah itu kolot.” katanya dengan nada yang mengenang jauh seolah ayahnya sudah mati. “Gak suka kalo harga dirinya tercoreng, too prideful. Dia gak suka hal yang gak sesuai dengan kehendak dan standarnya.” Taehyung menyusupkan jemarinya ke tangan Jungkook.

“Dan Mas secara harfiah udah ngerusak semuanya, kan?” Taehyung mengendikkan bahu. “Mas ragu Ayah bakal melunak dalam waktu dekat tapi Alhamdulillah Ibu masih mau disusahin buat surat-surat itu,” lalu diam sejenak hingga dia berbisik, “Menurutmu dosa gak...?”

Jungkook menatapnya. “Apanya?”

Taehyung menghela napas dalam-dalam. “Ngelawan orangtua?” katanya. “Menurutmu Mas dosa, gak?”

“Karena apa? Karena memperjuangkan hak Mas sebagai manusia yang selama ini diinjak-injak oleh Ayah dengan tameng “sayang” dan “balas budi”?”

Taehyung terenyak dan Jungkook sejenak mengutuki mulutnya yang tidak tahu diri dan tidak sensitif tentang hal-hal semacam ini, dia bergegas merevisi bahasanya, “Maksudku,” katanya menghela napas.

“Mas selama ini sudah 'dijajah' secara emosional. Ancaman-ancaman yang dipake Ayah buat bikin Mas nurut itu gak bener. Iya, aku tau dia orang yang besarin Mas, ngurus Mas dari bayi; tapi menurutku fakta itu gak valid buat digunakan sebagai ancaman hanya supaya Mas ngelakuin apa yang dia mau.”

“Dan, gak,” Jungkook menggeleng tegas. “Menurutku Mas gak dosa atau durhaka. Mas sedang memperjuangkan kebahagiaan Mas. Ayah juga bertahan dengan konsep beliau tentang bahagia Mas. Kalian cuma lagi punya dua konsep yang berbeda tentang kebahagiaan Mas sendiri.

“Aku yakin masih ada cara lain untuk Mas dan orangtua ngerasa sama-sama bahagia. Kalian cuma perlu bicara. Tapi Ayah gak pernah mau kerja sama,” tambah Jungkook.

Taehyung menatapnya. Dan Jungkook tersenyum lebar padanya, menyemangati dan meremas bahunya hangat.

“Itu konsep yang jelas gak masuk di kepala Mas sekarang,” kata Jungkook tersenyum kecil. “Aku juga gak bisa menerima konsep itu pada awalnya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi; benar juga. Aku kan manusia, sama manusianya dengan mereka. Kenapa aku gak bisa berbahagia sesuai dengan pilihanku seperti mereka? Kenapa kalo mereka gagal, aku yang harus berhasil padahal ketertarikanku gak sama dengan mereka?

“Kenapa kalo mereka diperlakukan A dan mereka tidak suka itu, aku juga harus ngerasain perlakuan A itu? Rasanya seperti obyek balas dendam gak, sih?” Jungkook tersenyum kecil. “Maksudnya, mereka gak suka kalo disuruh belajar sama ortu mereka misalnya. Terus kenapa mereka juga harus maksa kita belajar? Biar ngerasain apa yang mereka rasain? Loh, kok gitu??

Aneh aja buatku konsep kayak gitu. Sekarang setelah aku tau apa yang salah dari cara orangtuaku mendidikku, itulah saatnya aku memutus rantainya dan menghindari melakukan kesalahan itu pada anakku kelak,”

“Tapi aku juga gak marah sama Papah atau Mama,” Jungkook nyengir. “Mereka keliru, wajar. Gak ada sekolah buat jadi orangtua, mereka juga sama clueless-nya dengan aku di dunia ini. Jadi sama-sama belajar, aja. Aku kasih tau mereka apa yang aku tau tentang kemauanku dan mereka kasih tau aku apa yang mereka mau. Cari jalan tengahnya,”

“Gapapa, this is just a bad day, not a bad life.” tambahnya meremas tangan Taehyung hangat. “Dulu aku pikir juga kayak hidupku berakhir pas Papah marah karena aku homoseksual. Aku juga kabur, sama kayak Mas. Rasanya kek... semuanya berakhir. Aku gak punya rumah, aku dibuang. Tapi toh kemudian akhirnya Papah melunak dan akhirnya kami baikan. Papah terima aku apa adanya aku,”

“It takes time.” Jungkook menepuk tangannya. “For both you and Ayah to understand that sometime you have different perspectives and that's totally fine. Inget, a smooth ocean never made a skilled sailor,”

Taehyung terdiam, mencerna kata-kata Jungkook dalam keheningan menanti adzan Maghrib yang lebih malam di Bali. Merogoh sakunya, Jungkook mengeluarkan rokok. “Mau?” tawarnya. “Ini cadangan khusus kalo aku mumet. Aku jarang ngerokok, tapi menuruku ini hari spesial untuk bersikap tidak bertanggung jawab.”

Taehyung menatap rokok di tangan Jungkook dan menggeleng. “Kayaknya engga,” sahutnya dan tersenyum. “Kamu aja, silakan.”

Jungkook mengangguk dan meraih sebatang. “Gak usah takut pandangan orang gimana lagi, loh, ya,” dia mematik rokoknya dan menghirupnya ringan. “Mas udah bukan public figure.” tambahnya nyengir. “Gak usah takut aku juga, aku anaknya selo. Mau merokok, silakan. Aku gak suka ngelarang-larang. Mas udah gede, aku yakin Mas tau risiko dari pilihan-pilihan Mas sendiri.”

“What did I do in the past to even deserve you as a present?”

Jungkook terbatuk oleh asap rokoknya. “Hah?” tanyanya menoleh kaget.

Taehyung tersenyum. “Mas juga gak suka ngelarang-larang,” dia menyentuh tangan Jungkook. “Kalo kamu mau ngerokok, silakan. Mas yakin kamu udah tau risikonya.”

Jungkook nyengir. “That's my boyfriend.”

“Mas gak ngerokok karena gak kuat asapnya aja sih sebenernya,”

Jungkook tersedak lagi, lalu bergegas mematikan rokoknya dan memandang Taehyung yang terkekeh serak dengan tatapan sebal. “Bilang dong!” katanya tidak terima dan Taehyung tertawa lepas. “Aku kan gatau,” keluhnya. “Maaf, ya?”

Setidaknya, Taehyung bisa tertawa. Jungkook tersenyum, menatap bagaimana kekasihnya yang dua hari ini nampak begitu kelelahan dan pucat sekarang terlihat begitu lepas dan hidup. Dalam tawa lepas pertamanya dan Jungkook akan berusaha lebih kuat lagi untuk mempertahankan tawa itu di wajahnya.

Adzan berkumandang dengan suara sayup-sayup dan Taehyung mendesahkan rasa syukurnya tapi tidak merasa ingin memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya. Jadi dia menatap Jungkook dan mengeratkan genggaman tangannya.

Jungkook menatapnya, “Kuambilin cemilan yang dibeli tadi, ya?” katanya berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamar, keluar kembali dengan kantung belanja mini market yang berkeresak. Dia mengeluarkan sebotol air dan memberikannya pada Taehyung.

Membisikkan doa berbuka, Taehyung kemudian meminum airnya dan mendesah penuh syukur. Lalu meletakkan botol air mineralnya. “Tadi kamu bilang mau ngehindarin kesalahan ortumu ke anakmu?”

“Ehm-hm,” balas Jungkook sibuk mencoba membuka kemasan camilan di tangannya. “Kenapa?”

Taehyung menggeleng. “Cuma kepo,” katanya setenang samudera. “Suatu hari nanti di masa depan, pas kehidupan udah stabil dan tenang,” dia menghela napas, menatap Jungkook yang sekarang sibuk memindahkan isi kemasan camilan ke mulutnya yang bergerak berisik seperti mesin penghancur.

“Mau adopsi anak bareng Mas gak?”

Ikut?

Jungkook menutup pintu mobilnya dengan sebuah map di tangannya terisi setumpuk berkas lalu melambai ramah pada keamanan di dekat gerbang. Dia baru saja kembali dari SMA Taehwan yang adalah SMA Negeri favorit di Jogja, apa lagi yang diharapkan Jungkook? Untuk mengambil berkas-berkas ketentuan sidang pergantian nama Taehyung di Pengadilan Negeri.

Pagi tadi Taehyung sudah ke Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta sesuai alamat KTP-nya untuk menanyakan syarat-syaratnya dan kemudian, melawan kehendaknya sendiri, memutuskan untuk menelepon ibunya untuk meminta bantuan beliau menyiapkan berkas-berkas asli yang dibutuhkan karena saat dia kabur, Taehyung tidak sempat membawa akta kelahiran dan ijazah lainnya serta memohon ibunya berkenan menjadi saksi dalam perkaranya.

Jungkook menaiki tangga ke arah kamarnya, bersenandung ringan seraya berpikir mengapa Taehwan menolak bertemu kakaknya. Dari wajahnya yang sembab dan tidak sehat, mungkin dia menghabiskan malamnya untuk menangisi pertengkaran hebat semalam.

Lagi pula, prospek bertemu Taehwan juga sama tidak menariknya bagi Taehyung sehingga Jungkook menyerah; mungkin kakak-beradik itu butuh waktu untuk menenangkan diri masing-masing dan berangkat bertemu Taehwan sendirian. Jungkook tidak bisa menyalahkan siapa pun, semalam benar-benar mengerikan.

Taehyung tiba di kosan Jungkook dengan wajah merah padam dan mata sembab. Tidak kuasa melakukan apa pun namun Jungkook berhasil memaksanya makan, memintanya mandi dan sholat. Agar jiwanya terasa sedikit lebih tenang dan pemuda itu melakukannya dengan taat nyaris tanpa benar-benar menyadarinya. Setelah sholat yang jauh lebih lama dari biasanya, dia kemudian nampak jauh lebih baik.

Suaranya masih parau saat dia akhirnya makan sisa makanannya dengan sedikit lebih lahap dan memutuskan bahwa dia akan tidur lebih awal. Pagi ini, dia nampak sangat baik dan Jungkook bersyukur atas itu.

Dia mendesah saat berhenti di depan pintu, mendengar dari dalam sana suara Taehyung yang lembut sedang mengaji. Tersenyum, Jungkook membuka pintu dengan suara sekecil mungkin dan menyelipkan dirinya masuk ke ruangan.

Dia menunggu hingga Taehyung menyelesaikan kegiatannya dan mengusap wajah sebelum mengumumkan kedatangannya. “Surat-suratnya lengkap,” kata Jungkook dan Taehyung menoleh, nampak segar setelah mandi, sholat dan mengaji. “Aku sudah fotokopi juga, mau dibawa ke Pos Bantuan Hukum sekarang? Mumpung belum sore? Jadi kasusnya cepat masuk.”

Jungkook meletakkan map di atas meja. Dia akan datang sebagai salah satu saksi bersama Ibu Taehyung untuk menguatkan perkara penggantian nama yang dibawa Taehyung ke pengadilan. Alasannya sesederhana melepaskan gelar bangsawannya dan Jungkook yakin pengadilan akan mengabulkan permohonan perkara itu.

“Makasih, Sayang,” kata Taehyung berdiri dan membereskan sajadahnya, melipatnya dengan rapi lalu meletakkannya di ranjang Jungkook. “KTP Ibu juga sudah?”

Jungkook mengangguk, membuka map di meja dan membiarkan Taehyung mengeceknya sendiri. “KTP Mas, KTP-ku dan KTP Ibu sebagai saksi. Tapi punya Ibu aku balikin habis fotokopi tadi ke Taehwan biar dibawa pas sidang aja,” Jungkook membiarkan Taehyung bekerja mengeceknya dengan tenang. “Kartu Keluarga dan akta lahir Mas, asli dan fotokopian rangkap 5 semua. Tadi mampir ke kantor pos juga buat legalisir sekalian jalan, jadi tinggal masukin semuanya ke Posbakum,”

Taehyung mengangguk, memisahkan dokumen asli dan fotokopian lalu memasukkan semua berkas fotokopi ke dalam map lain. “Mas bawa sekarang aja, biar bisa segera maju.” Dia kemudian mendesah.

“Tapi nanti surat panggilannya Mas alamatkan ke kamu, gapapa? Katanya paling lambat satu minggu udah dipanggil. Jadi tar begitu panggilan sidang, baru Mas balik ke Jogja. Soalnya Mas dipanggil kerja mulai Senin, jadi Mas mau settle dulu di kosannya.

“Terus tar bikin surat kuasa bermaterai juga buat kamu ngurusin semua surat-surat yang namanya diganti ke Disdukcapil kali, ya?” Taehyung menatap dokumen-dokumen di tangannya dengan ketenangan seorang profesional.

“Ato tar abis sidang, begitu surat keterangan pengadilan selesai langsung ke Disdukcapil? Mas minta excuse apa, ya sehari....” sisanya adalah gumaman Taehyung yang merencanakan kehidupannya sendiri hingga Jungkook tersenyum kecil mengamatinya menggumam seraya merapikan berkas. “Ngurus keluarnya Mas dari KK yang ini juga ya....”

“Mas,”

“Dalem?”

Jungkook duduk di ranjangnya, mengamati Taehyung yang membereskan dan mengklip berkas-berkasnya. “Mas.... gak nyesel?”

Taehyung berhenti. “Maksudnya?”

Jungkook mengendikkan bahunya ringan, menunduk saat dia melanjutkan. “Nyesel karena udah keluar dari rumah dan memutuskan untuk keluar dari keluarga ningrat? Maksudnya, isn't it too much? Mas terlalu banyak berkorban.” Dia bergegas menambahkan. “Bukannya aku geer kalo Mas ngelakuin ini biar bisa sama-sama aku, tapi tetep aja. Terlepas dari itu, Mas bener-bener..... nekat?”

Taehyung diam sejenak lalu menghela napas. “Sebenernya bukan buat kamu,” katanya menoleh dan tersenyum lembut. “Tapi karena kamu,” tambahnya. Meletakkan berkas-berkasnya lalu menghampiri Jungkook dan duduk di sisinya.

“Menurut Mas hidup jadi bangsawan itu monotun. Mas kerja, Mas ketemu orang-orang, bersosialisasi, menjadi public figur; bahagia, iya. Cuma ada sesuatu yang terasa kosong. Mas gak tau jawabannya apa. Tiap kali Mas pulang, selalu ada yang kurang. Ruang gerak rasanya terbatas banget, sesek.

“Belum lagi perjodohan-perjodohan, standar hidup.... Perjodohan kemarin itu bukan yang pertama, kok.” Taehyung terkekeh serak saat Jungkook menatapnya ngeri. “Mas udah dijodohin sejak usia 19 tahun, oke?” tambahnya dan Jungkook memberikannya tatapan ngeri lain yang membuat Taehyung tertawa kecil.

“Saking seringnya sampe Mas sendiri lupa berapa kali.” Dia mengendikkan bahu, melepas pecinya dan melipatnya. “Tapi Mas selalu berhasil menghindar. Tapi rasanya lama-lama Mas capek, muak banget. Apa itu prestasi paling membanggakan di mata Ayah? Mas menikah dan punya anak? Mas pengen lebih tapi hidup sebagai bangsawan gak bisa ngasih kebebasan itu buat Mas.

“Jadi,” Taehyung menatap Jungkook lekat-lekat. “Pas ketemu kamu, pas liat bagaimana kamu menyikapi hidup, bagaimana kamu mengatur hidupmu sendiri; Mas terinspirasi. Haruskah? Maksudnya, perlukah Mas pergi dari rumah itu? Pergi dari cengkraman Ayah? Jadi sedikit lebih bebas eksplor hidup?

“Dan puncaknya, kata-kata Ayah tentang kamu, tentang Mas dan kita bikin Mas ngerasa, 'ya, Mas harus pergi dari sini'.” Dia memejamkan mata dan memegang pecinya sedikit lebih kuat. Jungkook hendak meraih tangannya, namun urung. “Dan akhirnya keputusan Mas bulat untuk keluar. Mas gak mau hidup di bawah bayang ningrat keluarga Ayah lagi, capek. Mas ingin jadi diri sendiri dan syukurnya, Mas punya rekan seperti kamu.”

Jungkook menatapnya dan tersenyum. “Emang gak takut suatu hari kita putus gitu? Terus gimana kalo gitu?”

“Gak.” sahut Taehyung tegas, tidak ada keraguan sama sekali di suaranya. “Mas yakinkan kamu, gak bakal ada yang bisa mencintai kamu seperti Mas mencintai kamu. Saking bahagianya kamu sama Mas, kamu gak bakal sempet mikir buat cari orang lain. Percaya, deh.”

“Kamu pacar pertama Mas setelah dua puluh lima taun, kamu pikir Mas bakal lepasin kamu gitu aja?”

Cheesy, pikir Jungkook geli sejenak. Namun bagaimana tekad dan kasih yang berkobar di mata Taehyung, membuat mata Jungkook terasa panas, sehingga dia menyamarkannya dengan terkekeh serak. Pemuda ini serius dan Jungkook lemah oleh tekadnya. “Oke, deal. To be fair karena Mas juga pacar pertamaku,” katanya tersenyum lebar. “Mari bekerja sama,”

Tersenyum lembut, Taehyung mengangguk. “Mari.”

“Berarti besok Jumat Mas balik ke Bali?” tanyanya.

Taehyung mengangguk, “Kenapa?”

Jungkook berpikir sejenak sebelum akhirnya nyengir. “Ikut, ya?”

Sekarang Taehyung menoleh dengan alis berkerut, “Lha? Kuliahmu?”

“Ada jatah bolos ini, cuma sehari, kan? Nanti Minggu malem aku balik Jogja.” Jungkook setengah merajuk. “Boleh, ya? Aku bantu-bantu Mas beli isi kos ato apa gitu? Ya?”

Taehyung menatapnya, sejenak ragu sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Oke, jangan lupa izin Mama dan Papah,”

“Yes!”

Bubrah note: percakapan dalam bahasa formal berarti dilakukan dalam bahasa Jawa.

“Taehyung,” kata ayahnya ramah, melambai ringan ke arah lelaki paruh baya ramah di hadapannya yang tersenyum lebar pada Taehyung dan Jungkook. Tersenyum lebar dan superior, mengirimkan sensasi menggelegak aneh penuh kemarahan di dasar perut Jungkook.

“Kemari, Nak, kenalkan. Ini teman ayah dan calon istrimu. Menunggu kamu datang, Ayah sudah menentukan tanggal pernikahannya. Ayo, kemari.”

Taehyung diam selama satu menit penuh sebelum akhirnya untuk pertama kalinya selama mengenal Jungkook dan bahkan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup Taehyung selama dua puluh lima tahun yang dipenuhi norma kesopanan dan kesantunan, dia mengatakan:

“Asu.”

Lirih namun jernih dan penuh racun. Efeknya begitu luar biasa karena kata itu membungkam satu ruangan. Ayah Taehyung nampak seperti baru saja terkena penyempitan pembunuh darah, tidak jauh berbeda dengan temannya yang sekarang berdiri, terlalu kaget untuk bahkan bereaksi apa pun. Seluruh ruangan diam, semuanya menatap Taehyung yang berdiri di sisi Jungkook nampak begitu murka dan sakit hati.

Ayahnya menatapnya dengan alis berkerut tidak setuju. Aura mendominasinya mengirimkan getar ke tangan Taehyung namun pemuda itu bergeming. “Minta maaf,” katanya mendesis dengan nada suara sama beracunnya dengan Taehyung, dia nampak marah dan tidak terima. “Katakan kamu menyesal.”

Taehyung menatap ayahnya lurus tepat di matanya dan Jungkook tahu dari ekspresi wajah ayahnya, itu pertama kalinya Taehyung berdiri sama tinggi dengan ayahnya. “Tidak.” balasnya dingin. “Ayah yang minta maaf pada saya.”

“Apa—?!”

“Ayah minta maaf. Pada saya.”

Ayahnya nampak seperti akan menampar Taehyung namun masih memiliki sisa harga diri untuk menahan tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya. “Kenapa—” geramnya dan Taehyung kembali memotongnya.

“Karena telah merampas semua hak saya sebagai manusia. Menentukan perjodohan yang bahkan Ayah belum bicarakan dengan saya dan tidak menghormati pilihan saya.”

Dan untuk menambah amarah ayahnya, Taehyung meraih tangan Jungkook dan meremasnya. Tangan Taehyung terasa dingin dan keras hingga Jungkook terkesirap oleh genggaman itu. “Saya sudah memilih dengan siapa saya akan menghabiskan waktu. Dan Ayah sebaiknya mulai belajar menghormati itu.”

Ayahnya tertawa, serak dan mengejek. “Kamu cuma lagi kesemsem aja, nanti juga ilang. Sekarang kamu lagi gak bisa mikir jernih, kamu dipengaruhi dia. Dicuci otaknya. Nanti kamu akan berterima kasih sama Ayah.” katanya lalu mendelik pada Taehyung. “Ayo, bersikap yang baik dan beradab.” Dia mendesis. “Sebelum Ayah marah, Taehyung.”

Ancaman, Jungkook mendengar ancaman itu. Kental sekali dan dia juga bisa merasakan bagaimana nada itu mengirimkan getaran di tangan Taehyung namun dia bergeming. Dia tetap menatap ayahnya dengan dendam dan amarah berkobar di matanya.

“Tidak. Saya tidak mau lagi.” Taehyung kemudian mengalihkan pandangan pada teman ayahnya yang sekarang berdiri. “Maafkan saya,” katanya dengan ketenangan seorang biksu bahkan dengan tangannya yang dingin dan berkeringat di telapak tangan Jungkook. “Saya tidak akan bisa jadi suami yang baik untuk anak Bapak karena saya seorang homoseksual. Dan dia ini pacar saya, Gabriel Jungkook Sandjaya Hirmansyah.” Dia meraih Jungkook mendekat dengan aura posesif dan kebanggaan yang membuat Jungkook sejenak terenyuh.

Taehyung tidak mengizinkan siapa pun bicara selama dia bicara, dengan kemampuan persuasinya dia berhasil membungkam satu ruangan dalam nada suaranya yang jernih, keras dan tegas. Mereka semua terlalu syok untuk bisa menanggapi apa yang baru saja dikatakan Taehyung.

“Saya tidak menyatakan persetujuan apa pun pada perjodohan ini dan saya merasa saya berhak penuh sebagai pemuda berusia di atas 21 tahun dengan hak asasi, untuk menolaknya. Secara hukum saya dinyatakan sudah dewasa untuk menentukan sendiri apa yang saya inginkan tanpa wali. Jika Bapak memiliki keberatan, maka itu semua adalah urusan Bapak dengan Ayah saya.”

Dia menatap perempuan manis yang duduk di sisi ayahnya, sekarang mendongak dengan bibir terkuak kaget dalam balutan pakaian Jawa-nya yang manis. Jika Jungkook mau berpikir sejenak, perempuan itu sangat cantik. Jenis kecantikan eksotis tanah Jawa; magis dan mengundang tapi sayangnya di mata Taehyung hal itu luput sama sekali.

“Maaf,” katanya juga pada perempuan itu. “Saya tidak tahu apakah kamu pro atau kontra pada perjodohan ini, apa pun itu saya tidak bisa jadi suamimu. Kamu berhak menentukan sendiri siapa teman hidupmu nanti.”

Lalu dia menoleh ke ayahnya; lurus ke matanya tanpa berkedip sedikit pun. “Sekarang berhenti menganggu saya, berhenti ikut campur dalam kehidupan saya. Apa pun yang saya lakukan itu bukan urusan Ayah lagi.” katanya tenang walaupun denyut nadi di tangannya yang mengenggam Jungkook terasa begitu liar.

“Jika menurut Ayah saya sudah mati, maka anggaplah saya mati. Tenang saja,” tambahnya. “Besok saya akan ke Kantor Catatan Sipil, nama pemberian Ayah akan saya lepaskan. Silakan hapus saya dari kartu keluarga. Saya hanya akan membawa barang-barang yang saya beli sendiri dari hasil keringat saya; semua pemberian Ayah yang hanya nama dan identitas, akan saya kembalikan.”

Dan hal terakhir yang didengar Jungkook saat Taehyung berbalik dan menariknya pulang adalah teriakan ancaman dari ayah Taehyung dengan suara dalamnya yang otoriter:

“Kamu akan menyesal! Kamu akan pulang ke rumah ini membawa malu dan aib! Dan Ayah tidak akan menerima kamu kembali! Kita lihat siapa yang lebih berkuasa saat itu.”

“Karepmu.” balas Taehyung dan Jungkook berjengit oleh nada itu.

Mereka sudah berada di sisi mobil saat ayah Taehyung melangkah keluar diikuti oleh istrinya yang berusaha menahannya, nampaknya belum puas karena Taehyung tidak meladeni ledakan emosinya sesuai dengan yang diinginkannya jadi dia mengangkat tangannya, ,menyerang hal paling berharga bagi anaknya selain dirinya sendiri dengan menunjuk langsung ke Jungkook.

“Kamu!” seru ayah Taehyung penuh racun dan amarah. “Kamu bajingan tidak tahu diri! Datang ke rumah saya, meracuni anak saya dan membuatnya terpengaruh jadi sama seperti kamu! Kotor dan menjijikkan! Orang homo seperti kamu tidak pantas menginjakkan kaki di rumah saya! Orang homo sepertimu—”

Dan itulah puncaknya, Taehyung berbalik secara mendadak hingga Jungkook tidak sempat menahannya sama sekali dan menghampiri ayahnya dalam tiga langkah besar lalu menyarangkan satu pukulan mentah ke rahang ayahnya. Suara gedebuk keras daging bertemu daging membuat Jungkook mual. Taehyung berdiri tegak dengan tangan masih terancung ke udara saat ayahnya terkesirap kaget oleh pukulannya.

“MAS!” seru ibunya dengan tatapan syok, menangkap ayahnya yang terhuyung mundur dan menahan putra pertamanya agar tidak menghabisi ayahnya sendiri dalam kemarahan. “Mas, sudah!”

“Sekali lagi Ayah bicara tidak sopan ke Jungkook....,” geramnya melalui rahangnya yang terkatup rapat, bahunya naik-turun dan wajahnya merah padam. Amarah menggelegak di dalam dirinya dan Jungkook yakin dia tidak akan pernah ingin membuat keributan dengan Taehyung yang ini. “Sekali lagi.....”

“Kamu pergi saja, ya? Pergi. Jangan pulang dulu untuk sementara.” kata ibunya, menatap anaknya dengan kepedihan nyata di matanya lalu perempuan paruh baya itu menoleh ke Jungkook yang berjengit kaget oleh tatapan itu. “Ya? Tolong.”

“Tolong.” katanya lirih dan Jungkook mengangguk. Dia baru saja akan melangkah saat ayah Taehyung memutuskan bahwa itu saatnya dia meledakkan bom emosional lain pada Taehyung yang sudah gemetar menahan amarahnya.

“Kalo Ayah bicara ke anak bangsat ini memangnya kenapa? Kamu mau pukul Ayah lagi? Kamu lupa siapa yang membesarkan kamu? Siapa yang membiayai sekolah kamu? Ngurus kamu sampai umur segini? Bukannya berterima kasih, apa yang udah kamu kasih ke Ayah sebagai balasan? Jawab!

“Kamu cuma bikin malu keluarga ini; kamu dengar?! KAMU CUMA BIKIN MALU! Kamu cacat! Kamu gak normal! Kamu aneh! Ayah gak sudi punya anak seperti kamu! Najis!”

Dalam satu detik; begitu banyak yang terjadi dalam mode cepat hingga otak Jungkook nyeri berusaha memprosesnya. Ibu Taehyung menjerit liar dan Jungkook harus melompati kap sedan Taehyung dalam usahanya untuk meluncur meraih Taehyung yang sudah mengejang akan menyarangkan satu pukulan lagi ke ayahnya.

Dia berlari ke arah Taehyung dan langsung meraihnya serta mengunci kedua lengan Taehyung dengan lengannya, menyeret pemuda itu mundur. Bersyukur bahwa tubuh Jungkook lebih kuat secara fisik dari tubuh langsing dan lentur Taehyung.

“LEPAS!” seru Taehyung dengan suara parau yang sama sekali tidak dikenali Jungkook. Memberontak liar dalam pegangan Jungkook berusaha untuk menghampiri ayahnya yang berdiri pongah di depan pintu dengan satu tangan di rahangnya dan istrinya yang menangis di sisinya. Keluarga calon jodoh Taehyung berdiri beberapa meter di baliknya, menatap drama keluarga itu dengan takjub.

“Mas udah!” seru Jungkook meningkahi suara jeritan dan tangisan ibu Taehyung melindungi suaminya dari amukan putra sulungnya yang jika saja dia mau berpikir, disebabkan oleh suaminya sendiri. Jungkook sama sekali tidak bersimpati. “Mas, sudah! Jangan ngelakuin hal-hal yang bakal Mas seselin nanti!”

“Bawa pergi Jungkook, tolong!” seru ibu Taehyung berusaha menahan ayah Taehyung agar tidak menghampiri anaknya dan Jungkook selama dua detik penuh terkejut dan tertegun bagaimana ibu Taehyung tahu dan mengucapkan namanya dengan nada penuh permohonan.

Dia menatap perempuan paruh baya yang sedang menangis itu lalu menoleh ke Taehwan yang gemetar saat dia mengangguk meminta Jungkook membawa kakaknya pergi. Maka Jungkook mengangguk, mengucapkan salam perpisahan samar lalu menarik Taehyung ke mobil. Taehyung berhenti di sisi sedan, Jungkook menahan tubuhnya takut dia akan kembali meledak namun Taehyung menggeleng.

Dia menghela napas dalam-dalam lalu mengangguk, menyatakan bahwa dia sudah cukup tenang. Namun, Jungkook tetap menunggu hingga Taehyung masuk ke kursi pengemudi dan memakai sabuk pengamannya sebelum dia sendiri berlari kecil mengitari mobil dan memasuki sisi penumpang.

Mobil menderum marah saat Taehyung menginjak gas, memasukkan perseneling lalu meluncur mulus pergi dari rumah itu tanpa menoleh. Sekian ratus meter dari rumah, Taehyung mulai menangis tanpa suara.

Mengerikan bagaimana air mata Taehyung mengirimkan tusukan-tusukan nyeri melumpuhkan ke hati Jungkook. Pemuda itu terus menginjak gas, nyaris seperti robot sementara air mata meleleh di pipinya. Jungkook menyentuh roda kemudi lalu meremas tangannya, dia menjulurkan tangan dan menyetel lampu sein ke kiri lalu menyentuh paha Taehyung lembut.

“Ayo menepi,” bisiknya lembut. “Menepi sebentar, ya? Nanti nabrak, Mas.”

Dan Taehyung menyerah, dia membiarkan mobil meluncur ke sisi kiri jalan dan berhenti total di bawah lampu jalan yang temaram. Tangannya meluncur turun dari roda kemudi dan dia mulai menangis dengan suara menyayat hati.

Di sisi jendela Jungkook lalu-lintas tetap bising, kota menggeliat karena panggilan adzan Maghrib; orang-orang menikmati kemerdekaan mereka setelah menyelesaikan satu hari puasa lagi. Bercengkrama menikmati segelas minuman, menikmati kudapan manis; berkumpul bersama keluarga mereka yang hangat, menyukuri nikmat hidup yang masih bisa mereka nikmati bersama.

Namun di sisi Jungkook yang lainnya, seorang anak manusia sedang menangis. Entah menangisi kebebasannya yang didapatkan dengan cara agresif atau menangisi fakta bahwa dia baru saja melepaskan keluarganya; melangkahkan kaki keluar dari kedua orang yang membesarkannya.

Dari rumah yang selalu menantinya untuk pulang. Adik lelakinya dan seluruh identitas yang dipercayainya sebagai dirinya selama dua puluh lima tahun. Dia sendirian, tercabik-cabik.

Raden Mas Taehyung Bawono Pragowoaji baru saja keluar dari medan pertempuran dengan babak-belur; batinnya, emosinya, hatinya dan jiwanya terkoyak oleh kejadian barusan. Dia baru saja kehilangan identitasnya, jati dirinya dan segalanya.

Jungkook mencondongkan tubuhnya melewati pembatas dan memeluk Taehyung yang terisak-isak liar. Seluruh hidupnya baru saja pecah berantakan seperti mangkuk kaca antik yang selama ini dipajangnya, dipolesnya hingga mengilap. Benda itu jatuh ke lantai, remuk oleh ayahnya sendiri.

“Ssshh.... Gapapa, gapapa,” bisik Jungkook di rambutnya sementara di dadanya, Taehyung terisak-isak menyakitkan. “Gapapa, dilepaskan. Dilepaskan. Jangan lupa bernapas,” bisiknya memejamkan mata; membiarkan tubuhnya menyerap semua rasa sakit yang dirasakan Taehyung.

“Mas. Aku di sini. Mas gak sendirian, oke?” Jungkook mengecup puncak kepalanya dan memejamkan matanya. Berusaha menahan sakit di hatinya sendiri karena Taehyung membutuhkannya.

“Gapapa.... You're fine and you're going to be fine; I got your back.”

Rencana

Jungkook menghela napas dalam-dalam sementara mereka melaju membelah jalanan menuju rumah Taehyung. Baru beberapa hari, tapi Jungkook merasa dia sudah begitu lama tidak menyusuri jalanan Prawirotaman yang penuh dengan wisatawan asing dan bar-bar yang berpenerangan lampu-lampu mungil bercahaya kuning keemasan.

Cahaya lampu, aroma masakan Italia dan juga cengkrama mereka terdengar begitu akrab di telinga Jungkook ditingkahi suara-suara menjelang Maghrib dari masjid sekitar.

Taehyung meraih tangannya, meremasnya lembut. “Gapapa, tenang aja. Ayah gak apa-apa.” katanya menenangkan Jungkook yang sesungguhnya sama sekali tidak mengkhawatirkan ayah Taehyung. Dia malah mengkhawatirkan reaksi Taehyung terhadap ayahnya.

Jungkook sudah belajar mengendalikan emosinya dengan baik; sudah belajar bahwa dia tidak bisa mengubah siapa pun maka dia harus mengontrol bagaimana dia bersikap atas sikap orang itu. Bagaimana dia bereaksi terhadap emosi negatif orang di sekitarnya. Tapi dia tidak yakin Taehyung tahu caranya mengingat bagaimana dia memandang ayahnya begitu tinggi melebihi dirinya sendiri—hal paling berharga bagi Taehyung.

“Gapapa, aku gak takut sama Ayah.” Jungkook tersenyum, membalikkan telapak tangannya sehingga tangan Taehyung kini dalam genggamannya, meremasnya singkat sebelum melepaskannya untuk memasukkan perseneling. “Aku cuma takut Mas bakal sedih lagi, nangis lagi. Watching you crying is a literal hell for me.”

Taehyung menoleh sejenak lalu kembali menatap jalanan, tersenyum kecil. “Terima kasih,” bisiknya lembut. “Terima kasih sudah menemukan Mas dan menyelamatkan Mas.”

“I didn't save you,” balas Jungkook tersenyum. “You saved yourself. Only you can save yourself—no one can save you. Not even me. Hanya karena Mas berusaha untuk bangkit dari lubang itulah Mas selamat. Kalo aku cuma teriak-teriak, narik Mas buat bangkit tapi Mas sendiri gak mau bangkit; nihil. Mas akan tetep di dalam lubang. So, please appreciate yourself. You've done so much and I'm so proud of you.”

Taehyung nyaris menangis; belum pernah dalam hidupnya selama dua puluh lima tahun seseorang menyatakan padanya betapa bangganya ia pada pencapaian Taehyung; hal seremeh untuk bangkit dan bicara pada ayahnya, memperjuangkan haknya. Hal yang tidak besar—tidak sebesar prestasinya menjadi PR Yogyakarta yang dikenal semua orang.

Tidak.

Jungkook mengapresiasi bahkan tiap tarikan napasnya, tiap detak jantungnya; seolah Taehyung adalah orang yang sangat berharga. Layak mendapatkan kehidupan yang sekarang dimilikinya. Orang yang hebat.

Taehyung sangat mengapresiasi itu. Prestasi kecil yang tidak pernah dirasakannya bagaimana dia tetap bertahan hidup adalah semua anugerah bagi sebagian orang; bagaimana dia tetap bernapas, jantungnya tetap berdetak, adalah sebuah hadiah bagi orang lain. Bagi Taehyung sendiri sebagai manusia. Dia mungkin tidak pernah memikirkan itu, tapi sekarang dengan Jungkook di sisinya—dia faham. Betapa berharganya hidup ini, tidak hanya bagi Jungkook tapi bagi Taehyung sendiri.

Dia ingin tetap hidup, ingin tetap menjadi dirinya sendiri. Mengejar hal-hal yang belum pernah dicobanya dan ingin terus bersama Jungkook. Tidak ada—tidak ada yang bisa menghalangi Taehyung dari dirinya sendiri.

Mobilnya membelok ke rumah Taehyung yang menyala, ada dua mobil lain di halaman yang sejenak membuat Taehyung berpikir tapi kemudian mengabaikannya. Mungkin klien Ayah, begitu pikirnya. Dia memarkir mobilnya, menarik rem tangan dan baru saja akan bicara saat adzan berkumandang. Dia terlambat pulang tapi lalu kenapa? Ayahnya bisa marah sesukanya, Taehyung tidak peduli.

“Ah, udah adzan!” seru Jungkook, meraih tasnya dan mengeluarkan sebotol air mineral. “Dibatalin dulu, cepet.” katanya mengangsurkan botol itu ke arah Taehyung yang menepis tangannya dengan lembut dan meraih tengkuknya dengan telapak tangannya yang hangat.

Persis seperti siang tadi, hanya saja sekarang Taehyung tidak terkesirap kaget. Dia membenamkan bibirnya yang terasa selembut mentega ke bibir Jungkook yang terkuak. Sisa-sisa puasanya hari itu; bibir kering dan napasnya yang beraroma asam lambung membuat Jungkook tersenyum. Manusiawi, sangat manusiawi. Beginilah dia mencintai Taehyung—tidak ada hal buruk, hanya ada hal yang harus diterima dan dimaklumi.

Dia meraih tengkuk Taehyung dan memperdalam ciuman mereka. Rindu dan kasih sayang menyeruak ke dalam ciuman itu, membanjiri mereka dengan perasaan tak terhingga yang menyesakkan. Baik Jungkook dan Taehyung belum pernah merasakan cinta sehebat ini, kasih sekuat ini; perasaan berani menghadapi apa pun demi kasih mereka, demi orang yang mereka cintai.

Jungkook selalu merasa kisah-kisah romantis terlalu membesar-besarkan arti cinta, terlalu mendramatisasi keadaan. Tidak ada cinta semeledak-ledak Romeo dan Juliet; tidak masuk akal. Namun sekarang, saat dia meleleh dalam rengkuhan dan ciuman Taehyung yang terasa seindah mimpi, Jungkook akhirnya tersadar.

Tidak ada cinta yang terlalu didramatisasi, memang begitulah cinta saat berada di pelukan orang yang tepat.

Taehyung menarik diri, terengah dan tersenyum. “Udah,” katanya parau. Suaranya beberapa tingkat lebih rendah dan mengirimkan sensasi berdenyar aneh ke seluruh tubuh Jungkook dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Mas udah batalin puasanya,” dia meraih botol air di tangan Jungkook lalu meneguknya.

“Ayo masuk,” katanya, meletakkan botol di pintu lalu membuka pintu. Dia menanti dengan sabar di sisi pintu hingga Jungkook ada di sisinya, menjulurkan tangan dan menggenggamnya erat—hangat dan intim. Memabukkan.

Mereka melangkahi halaman menuju pintu ganda yang terbuka, ada suara tawa dan aroma masakan yang menguar dari celah yang terbuka. Hangat dan penuh kekeluargaan. Terlalu ramai untuk keluarga Taehyung saja sehingga Jungkook sejenak merasa, mereka pasti punya tamu, menilik dari jumlah mobil yang terparkir di halaman.

“Siap?” bisik Taehyung di sisinya sebelum melangkah ke dalam cahaya.

“Siap.” balas Jungkook, meremas tangan Taehyung dan mengizinkan Taehyung menariknya ke dalam kungkungan hangat ruangn keluarga rumah Taehyung yang berlangit-langit tinggi.

Wajah pertama yang dilihat Jungkook adalah Taehwan yang duduk di sofa dengan batik dan celana pullover, setengah geli bagaimana dia menyambut kakaknya dengan formal dan sudah akan menyapanya dengan ceria saat dia menyadari ada yang salah. Tangannya lepas dari genggaman Taehyung saat dia menangkap ekspresi wajah Taehwan yang nampak seperti menahan rasa sakit yang sangat; bersalah? Kecewa? Sedih?

Di sana, di ruang keluarga Taehyung, ada dua keluarga. Di hadapan ayah Taehyung yang mengenakan setelan batik rapi, ada satu keluarga lagi. Ayah, ibu, satu anak lelaki dan anak perempuan yang duduk menunduk dengan kebaya sopan dan rambut disanggul longgar. Anak rambutnya menjuntai menutupi setengah wajahnya hingga Jungkook tidak bisa melihat wajahnya dengan benar. Jungkook mendadak mual, dia nampaknya faham apa yang sedang terjadi dan merasa bodoh karena berpikir ayah Taehyung semudah itu dikalahkan oleh anak ingusan seperti Jungkook.

Sebelum dia sempat mencerna apa pun dan bahkan menoleh pada Taehyung yang membeku di sisinya, nyaris tidak bernapas entah oleh rasa amarah, sedih atau dikhianati—mereka bahkan belum sempat mengucapkan salam saat ayah Taehyung berdiri dengan senyuman lebar di bibirnya lalu berkata;

“Taehyung,” katanya ramah, melambai ringan ke arah lelaki paruh baya ramah di hadapannya yang tersenyum lebar pada Taehyung dan Jungkook. “Kemari, Nak, kenalkan. Ini teman ayah dan calon istrimu. Menunggu kamu datang, Ayah sudah menentukan tanggal pernikahannya. Ayo, kemari.”

Dunia Jungkook terasa runtuh dari langit-langit dan berserak di kakinya.

Terima kasih.

Taehyung mendesah dan Jungkook mendongak dari kesibukannya menyetel kameranya yang sudah lama tidak digunakannya. Taehyung masih bersikeras menggunakan masker dan topinya agar tidak banyak wisatawan yang mengenalinya dan Jungkook hanya bisa mengangguk pasrah saat lelaki itu mengenakan maskernya tadi.

“Kenapa?” tanya Jungkook, mengerjap; mendadak mencemaskan kesehatan kekasihnya yang nampak lemas dan tidak bersemangat. “Capek? Mau balik ke kosan aja?”

Taehyung menatapnya dari balik kacamata yang digunakannya. “Maaf, ya?” katanya selembut sutera hingga Jungkook mengernyit oleh nada lembutnya. “Kita kayaknya berbuka di rumah, gapapa?”

Hati Jungkook mencelos. Kekecewaan kental menyeruak ke hatinya dan membuat tiap tarikannya terasa berat dan pahit. Tapi mau bagaimana lagi? Taehyung memang kembali untuk ayahnya—untuk bicara bersama beliau. Apa yang Jungkook harapkan? Dia menelan kekecewaannya bulat-bulat, mengabaikan rasanya yang pahit dan tersenyum lebar;

“Tapi habis itu kita kulineran malem lagi, oke? Gapapa kan? Jangan kenyang-kenyang makannya di rumah.”

Dan ekspresi Taehyung menyatakan segalanya; bagaimana Taehyung nampak sangat lega karena alih-alih merajuk, Jungkook datang dengan sebuah pemahaman sendiri dan siap membuat rencana cadangan yang akan membuat mereka berdua nyaman. Jungkook bersyukur dia menelan kekecewaannya dan memberikan solusi lain untuk acara mereka alih-alih merajuk sepanjang hari.

Dia hanya bisa bersama Taehyung dua hari; dia harus memanfaatkan masa-masa itu dengan baik. Tidak boleh merajuk; hanya akan membuang-buang waktu mereka yang berharga.

“Peluk-ciumnya nanti ya,” kata Taehyung menepuk dan meremas bahu Jungkook hangat lalu membiarkan tangannya jatuh ke sisi tubuhnya lagi. “Kalo gitu sekarang,” dia melirik jam tangan. “Kita bisa di sini sejam. Kamu mau jalan ke mana?” tanyanya. “Jam segini belum ada pengamen jalanan, belum rame. Nanti malem baru asik.”

“Telusuri Malioboro aja kalo gitu,” Jungkook nyengir. “Nanti sampai di ujung kita balik lagi, olahraga sekalian.”

Taehyung mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, apa saja agar tidak meraih Jungkook dan memeluknya. Betapa pemuda itu sudah bersikap begitu dewasa, terbuka, adil dan komunikatif; membuat Taehyung begitu nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa embel-embel ningratnya yang menyulitkannya bernapas. Jungkook datang serupa matahari; menerangi seluruh kehidupan Taehyung dan Taehyung benar-benar berharap dia tidak segera tenggelam.

Taehyung bisa gila dalam kegelapan setelah sekian lama berada dalam limpahan cahaya matahari.

“Kamu kenapa suka sama Mas?” tanyanya tiba-tiba tanpa mengizinkan dirinya sendiri berpikir. Dan sejenak berdebar menanti jawabannya, dia menatap Jungkook yang sedang sibuk menyesuaikan layar kamera.

Jungkook berhenti dan mendongak dari kameranya. “Hah?” katanya dan Taehyung terkekeh kecil.

“Kenapa suka sama Mas kalo bukan karena ningratnya?”

Jungkook berpikir sejenak. “Kalo mau jujur, pandangan pertama yaa karena Mas ganteng? Terus waktu itu aku mikirnya Mas pangeran jadi kayak... keren banget gitu. Jujur aja ya,” dia terkekeh.

“Tapi kemudian aku menemukan banyak hal baru tentang Mas. Gak suka kuning telor, gak suka teh, baik, perhatian, penyayang; banyak kualitas-kualitas pribadi Mas yang ketutupan gelar ningrat. Orang-orang cenderung langsung fokus ke Raden Mas-nya daripada ke pribadi Mas sendiri sebagai manusia.

“Dan setelah lama sama Mas, baru aku bisa fokus di diri Mas sendiri. Aku gak mau bohong, peres gitu bilang kalo awal ketemu aku udah jatuh cinta sama pribadi Mas. Halah.” Jungkook tertawa lagi, mengarahkan kameranya ke jalanan. “Yang pertama kuliat jelas fisik. Jelas wajah. Dan itu wajar; gada salahnya. Namanya juga first impression—jelas fisik, gak mungkin yang lain. Orang ngobrol aja belum,”

Jungkook mendongak dan melemparkan senyuman sejuta watt-nya ke Taehyung yang balas tersenyum secara otomatis.

“Begitu ngobrol, dekat, saling kenal; baru aku sayang. Suka dan sayang itu kan beda level,” Jungkook mengarahkan kameranya ke Taehyung lalu menangkap ekspresi bahagia di wajahnya dengan sempurna. “Sekarang, jelek dan bagusnya Mas udah kuterima. Gak ada pikiran bahwa itu jelek atau bagus; di mataku semua itu Mas. Semua itu baik,”

Taehyung menatap bagaimana pemuda itu tersenyum cerah padanya dan bertanya-tanya; apakah dia sudah menyelamatkan suatu negara di kehidupan sebelumnya sehingga Tuhan berpkir bahwa dia berhak mendapatkan Jungkook sebagai kekasihnya?

Pemuda manis, apa adanya yang sebaik malaikat ini. Tidak pernah menjatuhkan Taehyung, tidak pernah menyalahkannya tiap kali ada masalah; selalu berusaha positif dan bekerja sama dengannya untuk mencari jalan keluar. Komunikatif, atraktif dan enerjik.

Apa pun hal baik yang dirinya di masa lalu telah lakukan sehingga Jungkook ditakdirkan untuknya sebagai imbalannya—Taehyung bersyukur. Dan berjanji akan bersikap baik sehingga dia akan mendapatkan Jungkook lagi di kehidupan setelah ini.

“Terima kasih,” kata Taehyung dan Jungkook tersenyum lebar.

“Kembali kasih.” balasnya ceria.

Kedatangan

Jungkook berdiri di depan pintu kedatangan Bandara Internasional Adisutjipto dengan senyuman lebar ear-to-ear andalannya hingga keamanan yang berdiri di dekat pintu kedatangan menatapnya dengan tatapan aneh dan curiga. Di tangannya ada segelas Americano dingin dengan dolce sauce yang dibelinya dari gerai Starbucks di hadapannya. Niatnya untuk Taehyung tapi begitu selesai membayar, dia baru ingat bahwa Taehyung sedang puasa. Jadi, dia memilih meminumnya sendiri saja.

Merasa bodoh dan tidak sopan karena terus-terusan melupakan fakta bahwa teman-teman muslimnya sedang menjalankan ibadah puasa.

Dia menatap televisi yang menayangkan jam kedatangan dan tersenyum semakin lebar. Pesawat dari Denpasar sudah mendarat dan dia tinggal menunggu penumpang datang ke terminal kedatangan. Dia menjulurkan tubuh atasnya melewati pagar pembatas, menanti penampakan Taehyung yang tidak mungkin tidak dilihatnya.

“Mas, maaf, mundur sedikit, njih, Mas.”

Jungkook menatap petugas keamanan yang baru saja memintanya mundur dengan sebal lalu menurutinya dengan mundur. Namun kepalanya tetap melongok ke dalam terminal kedatangan Adisutjipto yang kecil dan sempit; menanti dan dia menemukannya. Petugas keamanan yang menyerah akhirnya mendesah dan membiarkan Jungkook.

Jungkook melihat Taehyung yang berjalan keluar dari kamar mandi dengan tangan yang setengah basah setelah dicuci dan langsung melambaikan tangannya dengan semangat ke arahnya. Taehyung menggunakan masker dan topi yang dipadankan dengan luaran formal santai yang cocok sekali melekat di tubuhnya yang langsing dan ramping. Dia memakai tas selempang di bahunya dan balas melambai ke Jungkook dan memberi tanda bahwa dia harus menunggu tasnya di ban berjalan.

Jungkook mengangguk, terlalu bersemangat hingga kepalanya terasa pusing oleh gerakan itu. Dia menanti dengan sabar, tanpa melepaskan pandangan dari Taehyung yang tersenyum padanya; mengamati bagaimana dia tidak sabar untuk memeluk Taehyung, seolah jika dia tidak menatap Taehyung pemuda itu akan lenyap menjadi uap air.

Kaki Jungkook bergerak-gerak, tidak betah menanti sama sekali. Maka ketika Taehyung akhirnya menjulurkan tubuh meraih tali tas ranselnya dari ban berjalan dan mengeluarkan boarding pass-nya untuk menyocokkan nomor seri bagasinya dan tiketnya, Jungkook bergerak dari balik pagar besi yang digunakannya untuk bersandar sejak tadi ke bagian depan lorong.

Taehyung terkekeh lalu bergegas menyampirkan tasnya di bahunya yang kosong dan menghampiri Jungkook; tanpa aba-aba dia menjulurkan lengannya dan sudah akan merengkuh Jungkook dalam pelukan yang kemudian secara drastis berubah menjadi uluran tangan. Jungkook dengan tangan terkembang siap menerima pelukannya, terbatuk-batuk, berdeham keras lalu meraih jabatan tangannya.

“Selamat datang, Pak Bupati,” katanya menahan tawa dan Taehyung menatapnya dengan tatapan merana. “Sabar, ya? Bentar lagi buka,” kekehnya setengah berbisik pada Taehyung yang nampak merana.

“Ya Allah, Mas kangen banget,” bisiknya lalu melepaskan tangan mereka yang bertautan. “Ayo,” ajaknya. “Kamu udah makan? Mau beli makan?”

Jungkook menatapnya dengan wajah terpana, masih tidak menyangka bahwa akhirnya Taehyung berdiri lagi di hadapannya in flesh dan nyengir. “Siap, aku tadi udah makan gausah lah nanti aja pas buka beli bareng,” balasnya. “Tadi aku beli ini niatnya buat Mas,” dia memperlihatkan kopi di tangannya lalu mendesah, “Lupa Mas puasa, buatku ya? Nanti buka aku beliin lagi.”

“Gampanglah kopi nanti bisa beli online ini, kamu minum aja. Makasih ya, niatnya,” kata Taehyung dari balik masker lalu melemparkan senyuman lebar dan eye-smile-nya yang menyilaukan ke Jungkook. “Ya sudah kalo gitu. Ayo pulang,” katanya tersenyum tulus seraya melangkah ke arah pintu keluar menuju tempat parkir. “Kamu bawa mobil Mas, kan?”

“Yap,” Jungkook mengeluarkan kunci mobil Taehyung dan mengambil alih tas ransel Taehyung dari bahunya. “Gapapa Mas yang nyetir?”

“Gapapa lah, lagian Mas udah lama gak bawa mobil,” dia mengangkat tangannya saat mereka menuruni lantai berjalan dan mengusap rambut Jungkook sayang lalu meringis saat melihat poster A3 wajahnya masih dipasang di titik kedatangan. “Kenapa belum dicabut, sih?” gerutunya dan Jungkook bergegas mengeluarkan ponsel, memoto poster itu.

“Dulu pas aku lewat sini baru sampe Jogja aku gak kenal itu siapa, sekarang aku kenal jadi harus difoto,” katanya saat Taehyung membuka mulut untuk protes. “Diem, gausah protes.”

Taehyung menyerah dengan senyuman di bibirnya. Mereka berjalan melewati lorong dan satu lagi lantai berjalan menuju eskalator, menyeberangi halte Transjog sampai tiba di lapangan parkir bandara. Taehyung langsung mengenali sedannya dan memimpin jalan ke arah mobilnya, dia menekan tombol unlock dan mobilnya berbunyi merespon perintah itu.

“Astaga kangennya,” kata Taehyung saat akhirnya duduk di dalam mobil dan melepas topi serta maskernya, dia melepas kancing luarnnya dan mengibaskan rambutnya yang agak basah di bagian ujung-ujungnya dengan lega. Mengarahkan pendingin kabin ke wajahnya seraya menyetel ulang tempat duduk pengemudi yang diatur Jungkook sebelumnya.

Jungkook di sisinya melempar tas Taehyung ke kursi belakang dan menyalakan radio mobil dengan satu tangan sementara tangan lainnya memasang sabuk pengaman. “Kita mau jalan-jalan dulu, gak? Mas nginep di kosku, gak? Ato mau pulang ke rumah?”

“Hei,” kata Taehyung dan Jungkook mendongak, lalu Taehyung menjulurkan tangannya ke tengkuk Jungkook dan nyaris menciumnya jika saja dia tidak teringat sesuatu dan mundur mendadak, nyaris terantuk bagian atas mobilnya sendiri serta berseru tertahan. “Astaghfirullah,” katanya melepaskan Jungkook yang tertawa ceria karena kejadian barusan. “Puasa, Taehyung, puasa. Astaghfirullah, Astaghfirullah...” bisiknya dengan mata terpejam dan menakupkan kedua tangannya ke wajah; nampak sangat menyesal hingga Jungkook terenyuh.

Jungkook masih tertawa saat menjawab, “Bukan salahku, loh, ya?? Aku gak ngapa-ngapain,” Dia nyengir, menghadiahi Taehyung yang lelah dan kurang tidur dengan senyuman lebar serta kerut lucu di pangkal hidungnya.

Taehyung menepuk kepalanya sayang sekali lagi dan mendesah. “Kangen banget gimana, dong?” katanya setengah merengek hingga Jungkook kembali terkekeh.

“Sabar,” balas Jungkook mendelik penuh canda. “Sekarang ke kosku, kan?” tanyanya ceria.

“Ya, Mas mau ganti sama mandi, terus ayo kita ngabuburit ke Malioboro.” balas Taehyung memasang sabuk pengaman dan melepas rem tangan kemudian menyalakan mobilnya yang berderum lembut.

“Yay!” seru Jungkook saat mobil melaju. Pelukan dan ciumannya bisa nanti, setelah berbuka, pikirnya saat menatap Taehyung yang sedang mengemudi dengan serius. Yang penting sekarang, Taehyung di sini bersamanya.

“Mas,”

“Ya?”

“I love you.”

Tersenyum, “I love you more.”

“I love you most!”

“Jangan bikin Mas batal puasa nyium kamu, ya?”

“Lah loh kok?? Aku gak ngapa-ngapain????”

“Kamu gemes.”

“Ya maap?? Bakat alami sedari lahir,”

Taehyung tertawa tinggi dan Jungkook memejamkan mata—berpikir bahwa dia rela mengorbankan apa saja hanya agar dia bisa mendengarkan Taehyung tertawa seceria ini selamanya.

Apa saja.

Diskusi

Jungkook tidak tahu dari mana namun dia sekarang duduk berhadapan dengan ayah Taehyung dan menatap langsung ke matanya tanpa sama sekali gentar. Ayah Taehyung pria bertubuh sedikit tambun dengan ekspresi keras dan wajah berkerut-kerut. Jika saja dia tidak selalu mengerutkan alisnya, jejak ketampanan masa mudanya yang menurun ke Taehyung mungkin akan nampak.

Namun sayang sekali, dia memutuskan untuk memberengut secara permanen.

“Kamu tau siapa saya?” Itulah pertanyaan pertamanya setelah Jungkook menatapnya tadi. Yugi duduk di sebelahnya, nampak sangat tidak nyaman sama sekali dalam duduknya.

“Tau,” balas Jungkook kalem. “Bapak ini Ayah Taehyung.”

Lelaki tua itu menatapnya, menilai betapa beraninya Jungkook karena tetap mempertahankan pandangan mereka berdua tanpa sekali pun menunduk rikuh. Duduknya tegak, serius namun rileks. Tidak menunjukkan sama sekali celah bahwa dia ketakutan atau terintimidasi oleh kehadiran ayah Taehyung.

“Sudah berapa lama kamu kenal anak saya?” tanyanya kemudian.

Jungkook sejenak berpikir sebelum kembali memandang ayah Taehyung. “Kurang lebih setengah tahun,” katanya. “Ketemu waktu saya main ke Kraton, Taehyung lagi ngobrol dengan beberapa wisatawan. Kami kenalan, terus berteman.”

Jeda sejenak yang membuat Yugi merasa perutnya mulas.

“Dan kami memutuskan kalo kami jatuh cinta lalu berpacaran.”

Yugi menalan ludah, melirik ayah Taehyung yang rahangnya mengencang atas jawaban Jungkook. Atmosfir di antara mereka nampak berat dan menggelisahkan selama satu menit penuh hingga ayah Taehyung berdeham serak.

“Memutuskan,” ulangnya dengan nada skeptis. “Atau kamu yang memengaruhi anak saya supaya belok gak normal kayak kamu?”

Sebuah hinaan yang sudah sering didengar Jungkook seolah saat dia menjadi seorang homoseksual, dia mendadak memiliki ilmu gaib tingkat tinggi untuk menghipnotis seseorang hingga menjadi seorang homoseksual juga. Atau melakukan praktik cuci otak seperti film-film lama. Lucu sekali.

Mengerikan bagaimana kemudian Jungkook terkekeh kecil. “Pak,” katanya dengan nada sopan yang membuat Yugi berharap ada lubang raksasa yang mendadak menganga di depannya dan dia bisa lompat ke dalamnya mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan manusianya yang menderita di bumi ini tanpa rasa sedih sama sekali.

“Kalo pun saya memang 'memengaruhi' anak Bapak, seperti bahasa yang Bapak gunakan, saya gak yakin Taehyung akan 'terpengaruh' kalo memang dasarnya dia tidak punya hasrat itu,” kata Jungkook kalem, tidak sama sekali melepaskan tatapannya dari ayah Taehyung. “Iya, saya memang jatuh cinta pada anak Bapak. Iya, saya memang suka ngajak Taehyung jalan bareng. Iya, saya akui iya. Tapi masalah apakah dia memang juga jatuh cinta sama saya, itu urusan yang sama sekali berbeda.

“Jauh di luar kuasa saya. Gimana caranya? Saya pelet?” Jungkook menambahkan tawa sarkasmenya lagi dan Yugi berharap dia bisa menyumpal mulut Jungkook dengan sepatu.

“Cinta itu bukan ilmu sains, Pak, gak ada yang bisa ngatur. Saya ataupun Bapak gak bisa ngatur dengan siapa Taehyung akan jatuh cinta. Itu hak dia, dasar sebagai seorang manusia. Kalo itu saya, saya senang. Kalo itu bukan saya, saya juga senang. Karena saya menghormati hak dan perasaan Taehyung sendiri. Gak ada yang memiliki Taehyung seperti dia memiliki dirinya sendiri.”

“Kamu pasti terus-terusan ngajak jalan, mencuci otak anak saya dan bikin dia jadi... kayak kamu. Sakit dan gak normal. Penjelasannya apa lagi?” balas ayah Taehyung dan Jungkook harus menahan sakit yang menyusup ke hatinya saat mendengar kata terakhir ayah Taehyung.

Setidaknya dia tidak menyebut kata 'homoseksual' dengan nada jijik itu.

“Saya selalu diajarkan untuk menjadi apa adanya, orangtua saya selalu mendukung sema keputusan saya; salah atau benar itu menurut mereka, terserah saya. Karena hanya dengan begitu saya belajar mana yang benar dan mana yang salah. Bayi gak tau bahwa jatuh itu sakit hanya dengan diberi tau, mereka harus jatuh. Harus merasakan sendiri sakitnya untuk belajar.”

“Gak perlu ngajarin saya,” tukas ayah Taehyung dengan nada yang sedikit naik.

“Saya gak ngajarin Bapak,” balas Jungkook dengan padangan yang tidak lepas dari ayah Taehyung; hanya agar dia tahu jika dia ingin menggunakan power-play dan dominasinya pada Jungkook, dia tidak berhasil.

“Saya cuma sharing hal yang saya tau. Bahwa perasaan Taehyung itu sama validnya dengan perasaan Bapak. Kenapa tiba-tiba dia hanya boleh merasakan perasaan yang Bapak diktekan? Jatuh cinta pada si A, baik pada si B, tidak boleh marah, tidak boleh kesal?

“Saya cuma mau mengingatkan Bapak, bahwa Taehyung itu manusia. Dia punya perasaan, punya hati, punya emosi. Tolong berhenti bersikap otoriter pada hidup Taehyung. Itu punya dia, hidup dia itu punya dia.”

Hening kembali dan Yugi menahan napasnya, mungkin dia seharusnya pergi? Bukankah pembicaraan ini terlalu pribadi untuk Yugi menyusup di dalamnya? Apakah dia boleh bermain ponsel? Atau itu akan nampak tidak sopan?

“Tau apa kamu tentang Taehyung?” sahut Ayah Taehyung kemudian; terengah-engah oleh emosi dan pembuluh darah di pelipisnya berkedut. Hal itu memukul mundur Jungkook karena takut masalah kesehatan mungkin akan membahayakan ayah Taehyung dalam keadaan marah. “Sampai kamu ngerasa kamu berhak menguliahi saya hal-hal semacam ini? Memangnya saya lupa bahwa anak saya juga manusia?”

“Pak, saya gak mau ribut.” balas Jungkook. “Kalo Bapak kemari cuma mau menghina-hina saya, menyalahkan saya atas hal yang sama sekali bukan kesalahan saya, maaf. Saya tidak punya waktu. Silakan cap saya tidak sopan, tapi saya merasa saya tidak wajib untuk bersikap lebih sopan dari ini ke Bapak.

“Dan, ya. Saya tau lebih banyak tentang Taehyung dari Bapak.” Jungkook menatap langsung ke mata lelaki di hadapannya. Dia sudah sering melakukan ini, menyatakan perasaan dan emosinya pada ayahnya. Dia tahu bagaimana membuat orangtua membuka pandangannya pada hal yang lebih besar.

Dia tahu bagaimana mendebat mereka. Sesimpel karena dia memang bisa, ini hak kehidupan Taehyung yang sedang dieksploitasi oleh ayahnya sendiri. Sedang dikeruk dan dimanfaatkan; emosinya, rasa hormatnya, rasa sayangnya—sedang dieksploitasi untuk menguntungkan ayah Taehyung sendiri.

“Kapan terakhir kali Bapak benar-benar duduk bersama Taehyung mendengarkan ceritanya tentang pekerjaan atau kuliahnya? Menanyakan apakah dia sehat? Apakah dia makan dengan baik? Apakah skripsinya lancar?” lanjut Jungkook, menemukan keberaniannya sendiri dan memutuskan untuk maju terus.

“Kalo Bapak tanya saya, itu kemarin.”

Ayah Taehyung diam, menatapnya dengan dada naik-turun nampak akan marah namun entah bagaimana dia tidak juga bangun memukul Jungkook atau apa. Dia tetap duduk di tempatnya, mengatur napasnya dengan gerakan terengah-engah khas orang tua yang sejenak membuat Jungkook khawatir apakah beliau memiliki asma atau penyakit komplikasi lain yang membahayakan?

“Saya gak berniat ribut, Pak, demi Tuhan.” kata Jungkook merendahkan ritme bicara dan nadanya. “Saya cuma terima diskusi berkepala dingin. Karena terkadang, Pak, maaf sekali, orangtua juga bisa salah. Gak melulu kesalahan itu ada di posisi anak. To be fair, gak ada sekolah untuk orangtua dan gak ada juga sekolah untuk jadi anak; saya, Taehyung, Bapak dan kedua orangtua saya—kita sama-sama belajar di sini.

“Taehyung menghormati Bapak, sayang sekali sama Bapak. Tapi gak ada yang memengaruhi atau dipengaruhi dalam hubungan saya dan Taehyung; kami berdua sadar atas perasaan kami masing-masing.”

“Bapak ke sini mau ngata-ngatain saya aja?” tanya Jungkook kemudian. “Mau melimpahkan kesalahan bahwa anak Bapak tidak senormal standar normal Bapak ke saya? Mohon maaf, saya gak terima, Pak.”

Ayah Taehyung membuka mulutnya untuk bicara namun dering ponselnya membuatnya urun menjawab. Dia meraih ke saku celananya dan mengeluarkan ponsel, menggunakan kacamata baca yang terselip di saku depan kemejanya, dia kemudian menatap layar, membaca nama penelepon.

Alisnya berkerut lalu dia menoleh pada Jungkook yang masih menatapnya dengan tenang lalu mengangkat teleponnya.

“Taehyung?”

Hati Jungkook mencelos mendengar nama itu. Bagaimana Taehyung tahu? Bagaimana dia bisa menelepon ayahnya? Apakah dia tahu ayahnya sedang bicara dengannya? Lalu kenyataan menghantam Jungkook seperti sebuah deja-vu, dia langsung menoleh pada Yugi yang balas menatapnya horor; nampak seperti akan menangis kapan saja.

“Aku ndak ngapa-ngapain...,” bisik Yugi gemetar dan menggeleng-geleng takut. “Dia yang ngotot mau nelepon ayahnya...”

Jungkook ingin sekali memukul Yugi sekarang karena melaporkan hal ini pada Taehyung namun dia merasa mungkin memang seharusnya masalah ini diselesaikan Taehyung dan ayahnya. Mungkin memang harus Taehyung yang bicara dengan ayahnya, bukan Jungkook.

Dia perlahan merasakan ketakutan mulai menyeruak di dadanya, keberaniannya tadi mulai berangsur-angsur memudar jadi dia menghela napas dalam-dalam; mencoba mempertahankan keberanian itu untuk selama apa ayah Taehyung berada di depannya.

“Ya,” kata ayah Taehyung kemudian lalu menutup ponselnya, menatap Jungkook yang sekarang mulai ketar-ketir ketakutan. “Awalnya saya gak bisa telepon dia, bagaimana....?”

Jungkook menelan ludah, teringat bahwa di balik semua topeng kemarahan dan otoriternya, dia tetap adalah seorang ayah dan Taehyung tetap adalah anak kesayangannya seperti kata Taehwan. Dia mungkin begitu merindukan Taehyung hingga kaget bagaimana bisa Jungkook membuat anaknya menghubunginya saat dirinya sendiri, sang ayah, tidak bisa?

“Saya cuma ingin Bapak dan Taehyung duduk berdua dan bicara dengan kepala dingin. Ini urusan Bapak dan Taehyung, saya bukan siapa-siapa, Pak.” kata Jungkook dengan sisa keberaniannya yang tidak logis tadi. “Tapi, saya cuma mau mengingatkan; Taehyung itu manusia. Tolong perlakukan dia seperti manusia.”

Hening lagi yang jauh lebih menyiksa sebelum ayah Taehyung menyimpan ponselnya dengan gerakan perlahan lalu menatapnya.

“Kamu akan bicara begitu ke ayahmu sendiri?” tanyanya.

Jungkook mengangguk tegas. “Saya selalu bicara begitu ke ayah saya sendiri. Kami saling belajar menjadi ayah dan anak; umpan balik apa pun akan sangat diapresiasi oleh saya dan ayah saya.”

“Kamu keras kepala, ya?” kata ayah Taehyung kemudian dengan wajah masam dan Jungkook tertawa kecil, serak dan mulai kehilangan segenap keberaniannya. Dia ingin berguling di lantai dan menangis saja.

“Hanya jika saya benar,” sahutnya.

Ayah Taehyung menatapnya sejenak lalu mendesah. “Taehyung itu anak kesayangan saya. Paling membanggakan, paling berprestasi; selalu paling pintar, paling sopan, nurut dengan orangtua.... Saya berharap banyak sama anak itu.”

“Pak, maaf kalo saya lancang,” balas Jungkook lembut, sejenak melawan keinginan impulsifnya untuk meraih tangan ayah Taehyung dan menggenggamnya hangat; sebagaimana dia selalu melakukannya pada ayahnya sendiri saat beliau merasa gagal menjalankan perannya menjadi seorang ayah untuk Jungkook. “Anak itu bukan aset, bukan juga semacam alat untuk mewujudkan ambisi masa lalu orangtua; kami manusia. Sama manusianya dengan Bapak, kami bisa merasakan. Kami punya pilihan kami sendiri....”

Ayah Taehyung menatapnya. “Kamu bilang begitu ke ayahmu?”

“Ya.” Jungkook akhirnya tersenyum, tulus. “Bapak gak perlu percaya saya, Pak. Saya anak ingusan, cuma saya berharap Bapak dan Taehyung bisa bekerja sama untuk bicara berdua dengan kepala dingin. Diselesaikan dengan kekeluargaan. Saya yakin Taehyung sayang Bapak sama seperti Bapak sayang Taehyung.”

Hening kembali. Yugi sudah siap untuk meninggal di tempat saat ayah Taehyung akhirnya tersenyum. Sungguhan tersenyum hingga Jungkook dan Yugi terpaku di tempatnya; terlalu kaget untuk bereaksi apa pun pada senyuman itu yang sekilas nampak seperti Taehyung jika saja Taehyung berusia enam puluh tahun dan menderita sembelit permanen.

Namun senyum itu lenyap secepat kemunculannya. Ayah Taehyung menghela napas dengan suara dengus serak khas orang tua lalu, “Baik,” kata pria paruh baya itu kemudian dan berdiri. “Saya pamit dulu.”

Lalu beliau pergi, begitu saja bahkan tanpa menoleh lagi. Menyisakan Jungkook dan Yugi yang bersandar lemas di sofa, terengah-engah dan merasa seolah baru saja menyelesaikan lari maraton 10K tanpa training dan pemanasan.

“Gusti Allah....” bisik Yugi dengan suara gemetar dan Jungkook mengangguk, “Gusti Allah...” timpalnya dengan nada yang sama persis.

Pulang

Sudah jam dua siang, tapi Taehyung belum juga mengirimi Jungkook pesan apa pun. Apakah interview-nya memang selama itu? Jungkook melirik jam tangannya dan mendesah, ini sudah jam 3 sore di Bali dan seharusnya Taehyung pasti sholat. Dia tidak pernah melewatkan sholat dimana pun dia berada; bahkan saat mereka berdua bertamasya ke Kaliurang, dia akan mampir ke masjid atau musholla yang mereka lewati untuk sholat.

Jungkook mulai merasa uring-uringan; tidak hanya karena pesan aneh Taehwan tapi juga karena dia cemas sesuatu terjadi pada Taehyung.

“Yug, mau main ke kosku gak?” katanya saat sedang membereskan buku siap-siap untuk pulang setelah dosen membubarkan kelas mereka. “Ayo, main Overwatch,”

Yugi menoleh dengan alis naik keheranan oleh permintaan Jungkook yang tidak seperti biasanya. “Tumben?” katanya. “Emange kenapa? Biasane juga arep istirahat kamu, gak suka digangguin?”

Sejenak bimbang, Jungkook memutuskan untuk jujur. Dia menceritakan semua kejadian yang terjadi semalam dan juga pesan dari Taehwan, dia takut terjadi sesuatu padanya dan bagaimana Taehyung belum juga mengabarinya setelah seharian. Mendengarkan dengan tenang dan tekun, Yugi akhirnya setuju. Mereka berdua pulang ke kosan Jungkook.

“Tapi menurutku, yo, Jek,” kata Yugi di dalam mobil menuju kosan Jungkook yang sebenarnya searah dengan kosan Yugi hanya saja berbeda gang. “Kalo pun bapaknya Mas Tae muncul, aku kok ndak yakin dia bakal marah-marah, ya? Maksudku, nek nginget cerita Taehwan tentang sayange si bapak sama Mas Tae, loh, ya?”

Jungkook memijat pelipisnya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menggenggam kemudi dengan kuat. “Gak faham deh,” katanya lemah. “Aku gak berani ngarep apa-apa, gak berani mikir apa-apa. Semoga sampe kos gak ada yang aneh-aneh aja aku udah seneng,”

“Amin.” timpal Yugi dengan tulus. “Tenang, ada aku, Jek. Kamu ndak sendirian. Kalo aneh-aneh, tinggal telepon polisi.” Dia menepuk bahu Jungkook hangat. “Terus Mas Tae masih gak ada kabar?”

“Masih, astaga.” Jungkook menghela napas setengah frustasi. Sekarang sudah pukul dua lebih dan masih belum ada kabar dari Taehyung. “Emang kalo interview kerja selama itu, ya?”

“Yo ndak tau, Jek, belom pernah ikut interview.” balas Yugi tidak membantu sama sekali dengan ekspresi bersalah yang kental padahal itu sama sekali bukan salahnya. “Tapi, tenangno pikirmu, sik. Kalo panik gak nyelesain apa-apa, Mas Tae pasti aman kok.”

Jungkook memasang sein dan membelok ke gang kosannya, membunyikan klakson dengan lembut sebagai tanda untuk satpam membukakan pintu untuknya memasuki parkiran lalu menunggu hingga gerbang terbuka sepenuhnya dan menurunkan jendelanya; menyapa ramah satpam kos yang biasa membukakan gerbang untuknya.

“Mari, Pak,” katanya ceria.

“Kosanmu ki mewah banget, ya? Sebulannya berapa bayarnya?” tanya Yugi mengamati gedung kosan Jungkook yang menjulang tiga lantai lengkap dengan ruang tamu, ruang belajar bersama, kamar mandi dalam dan WIFI. “Tapi aku gak kepingin banget tau sih, nanti engap aku.”

Terkekeh, Jungkook menjawab, “Gak tau, yang bayar Mama.” Dia memarkir mobilnya di garasi dengan hati yang terasa agak ringan; tidak ada siapa pun yang menunggu di kosnya jadi mungkin itu hanya pikirannya yang paranoid. Taehwan mungkin hanya bertanya biasa tanpa niat apa pun dan Jungkook telah menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan hal yang tidak penting.

Dia tersenyum lalu menyebutkan puji syukur pada Tuhan sebelum melepas sabuk pengamannya.

“Ayo, turun.” ajaknya pada Yugi yang bergegas melepas sabuk pengaman dan membuka pintu di sisinya untuk keluar.

Jungkook mengunci mobilnya, menyampirkan tas di bahunya dan melangkah ke gedung kosan. Melambai ramah pada satpam yang mengangguk padanya. “Mau gofut gak, Yug? Sekalian puasa udah batal,” kekehnya mengeluarkan ponsel dan mengecek apakah Taehyung sudah mengabarinya atau belum; nihil. “PHD? Ato Domino yang baru di Godean itu?”

Namun Yugi tidak menjawab dan berhenti di sisinya, Jungkook ikut berhenti lalu menoleh ke arahnya. Sejenak kebingungan oleh ekspresi Yugi lalu mendadak pemahaman melintas di kepalanya. Hatinya mencelos hingga ke dasar perutnya dan entah apakah mitos yang menyatakan semakin lama durasi pertemanan maka akan semakin menguatkan peluang keduanya berkomunikasi via telepati itu benar atau tidak, tapi saat mereka bertemu mata Jungkook tahu.

Dia tahu.

Sial. Dia terlalu cepat merasa tenang.

Dia belum sempat mempersiapkan hatinya sama sekali, saat suara berat khas pria paruh baya dengan otoritas besar menyela diskusi telepatinya dengan Yugi. Suara keresak pakaian dan sofa ruang tamu kosan mengikuti suara itu dan juga suara sepatu kulit yang menyentuh lantai.

Bodoh, Jungkook. Bodoh, bodoh! Dia seharusnya mengabari Taehyung tentang kedatangan dan pesan Taehwan secepatnya alih-alih bersikap sok berani dengan menghadapinya sendirian karena dia sama sekali tidak siap menghadapi ini.

Apa yang harus dilakukannya?!

“Jungkook?”

Tuhan Yesus.