Diskusi

Jungkook tidak tahu dari mana namun dia sekarang duduk berhadapan dengan ayah Taehyung dan menatap langsung ke matanya tanpa sama sekali gentar. Ayah Taehyung pria bertubuh sedikit tambun dengan ekspresi keras dan wajah berkerut-kerut. Jika saja dia tidak selalu mengerutkan alisnya, jejak ketampanan masa mudanya yang menurun ke Taehyung mungkin akan nampak.

Namun sayang sekali, dia memutuskan untuk memberengut secara permanen.

“Kamu tau siapa saya?” Itulah pertanyaan pertamanya setelah Jungkook menatapnya tadi. Yugi duduk di sebelahnya, nampak sangat tidak nyaman sama sekali dalam duduknya.

“Tau,” balas Jungkook kalem. “Bapak ini Ayah Taehyung.”

Lelaki tua itu menatapnya, menilai betapa beraninya Jungkook karena tetap mempertahankan pandangan mereka berdua tanpa sekali pun menunduk rikuh. Duduknya tegak, serius namun rileks. Tidak menunjukkan sama sekali celah bahwa dia ketakutan atau terintimidasi oleh kehadiran ayah Taehyung.

“Sudah berapa lama kamu kenal anak saya?” tanyanya kemudian.

Jungkook sejenak berpikir sebelum kembali memandang ayah Taehyung. “Kurang lebih setengah tahun,” katanya. “Ketemu waktu saya main ke Kraton, Taehyung lagi ngobrol dengan beberapa wisatawan. Kami kenalan, terus berteman.”

Jeda sejenak yang membuat Yugi merasa perutnya mulas.

“Dan kami memutuskan kalo kami jatuh cinta lalu berpacaran.”

Yugi menalan ludah, melirik ayah Taehyung yang rahangnya mengencang atas jawaban Jungkook. Atmosfir di antara mereka nampak berat dan menggelisahkan selama satu menit penuh hingga ayah Taehyung berdeham serak.

“Memutuskan,” ulangnya dengan nada skeptis. “Atau kamu yang memengaruhi anak saya supaya belok gak normal kayak kamu?”

Sebuah hinaan yang sudah sering didengar Jungkook seolah saat dia menjadi seorang homoseksual, dia mendadak memiliki ilmu gaib tingkat tinggi untuk menghipnotis seseorang hingga menjadi seorang homoseksual juga. Atau melakukan praktik cuci otak seperti film-film lama. Lucu sekali.

Mengerikan bagaimana kemudian Jungkook terkekeh kecil. “Pak,” katanya dengan nada sopan yang membuat Yugi berharap ada lubang raksasa yang mendadak menganga di depannya dan dia bisa lompat ke dalamnya mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan manusianya yang menderita di bumi ini tanpa rasa sedih sama sekali.

“Kalo pun saya memang 'memengaruhi' anak Bapak, seperti bahasa yang Bapak gunakan, saya gak yakin Taehyung akan 'terpengaruh' kalo memang dasarnya dia tidak punya hasrat itu,” kata Jungkook kalem, tidak sama sekali melepaskan tatapannya dari ayah Taehyung. “Iya, saya memang jatuh cinta pada anak Bapak. Iya, saya memang suka ngajak Taehyung jalan bareng. Iya, saya akui iya. Tapi masalah apakah dia memang juga jatuh cinta sama saya, itu urusan yang sama sekali berbeda.

“Jauh di luar kuasa saya. Gimana caranya? Saya pelet?” Jungkook menambahkan tawa sarkasmenya lagi dan Yugi berharap dia bisa menyumpal mulut Jungkook dengan sepatu.

“Cinta itu bukan ilmu sains, Pak, gak ada yang bisa ngatur. Saya ataupun Bapak gak bisa ngatur dengan siapa Taehyung akan jatuh cinta. Itu hak dia, dasar sebagai seorang manusia. Kalo itu saya, saya senang. Kalo itu bukan saya, saya juga senang. Karena saya menghormati hak dan perasaan Taehyung sendiri. Gak ada yang memiliki Taehyung seperti dia memiliki dirinya sendiri.”

“Kamu pasti terus-terusan ngajak jalan, mencuci otak anak saya dan bikin dia jadi... kayak kamu. Sakit dan gak normal. Penjelasannya apa lagi?” balas ayah Taehyung dan Jungkook harus menahan sakit yang menyusup ke hatinya saat mendengar kata terakhir ayah Taehyung.

Setidaknya dia tidak menyebut kata 'homoseksual' dengan nada jijik itu.

“Saya selalu diajarkan untuk menjadi apa adanya, orangtua saya selalu mendukung sema keputusan saya; salah atau benar itu menurut mereka, terserah saya. Karena hanya dengan begitu saya belajar mana yang benar dan mana yang salah. Bayi gak tau bahwa jatuh itu sakit hanya dengan diberi tau, mereka harus jatuh. Harus merasakan sendiri sakitnya untuk belajar.”

“Gak perlu ngajarin saya,” tukas ayah Taehyung dengan nada yang sedikit naik.

“Saya gak ngajarin Bapak,” balas Jungkook dengan padangan yang tidak lepas dari ayah Taehyung; hanya agar dia tahu jika dia ingin menggunakan power-play dan dominasinya pada Jungkook, dia tidak berhasil.

“Saya cuma sharing hal yang saya tau. Bahwa perasaan Taehyung itu sama validnya dengan perasaan Bapak. Kenapa tiba-tiba dia hanya boleh merasakan perasaan yang Bapak diktekan? Jatuh cinta pada si A, baik pada si B, tidak boleh marah, tidak boleh kesal?

“Saya cuma mau mengingatkan Bapak, bahwa Taehyung itu manusia. Dia punya perasaan, punya hati, punya emosi. Tolong berhenti bersikap otoriter pada hidup Taehyung. Itu punya dia, hidup dia itu punya dia.”

Hening kembali dan Yugi menahan napasnya, mungkin dia seharusnya pergi? Bukankah pembicaraan ini terlalu pribadi untuk Yugi menyusup di dalamnya? Apakah dia boleh bermain ponsel? Atau itu akan nampak tidak sopan?

“Tau apa kamu tentang Taehyung?” sahut Ayah Taehyung kemudian; terengah-engah oleh emosi dan pembuluh darah di pelipisnya berkedut. Hal itu memukul mundur Jungkook karena takut masalah kesehatan mungkin akan membahayakan ayah Taehyung dalam keadaan marah. “Sampai kamu ngerasa kamu berhak menguliahi saya hal-hal semacam ini? Memangnya saya lupa bahwa anak saya juga manusia?”

“Pak, saya gak mau ribut.” balas Jungkook. “Kalo Bapak kemari cuma mau menghina-hina saya, menyalahkan saya atas hal yang sama sekali bukan kesalahan saya, maaf. Saya tidak punya waktu. Silakan cap saya tidak sopan, tapi saya merasa saya tidak wajib untuk bersikap lebih sopan dari ini ke Bapak.

“Dan, ya. Saya tau lebih banyak tentang Taehyung dari Bapak.” Jungkook menatap langsung ke mata lelaki di hadapannya. Dia sudah sering melakukan ini, menyatakan perasaan dan emosinya pada ayahnya. Dia tahu bagaimana membuat orangtua membuka pandangannya pada hal yang lebih besar.

Dia tahu bagaimana mendebat mereka. Sesimpel karena dia memang bisa, ini hak kehidupan Taehyung yang sedang dieksploitasi oleh ayahnya sendiri. Sedang dikeruk dan dimanfaatkan; emosinya, rasa hormatnya, rasa sayangnya—sedang dieksploitasi untuk menguntungkan ayah Taehyung sendiri.

“Kapan terakhir kali Bapak benar-benar duduk bersama Taehyung mendengarkan ceritanya tentang pekerjaan atau kuliahnya? Menanyakan apakah dia sehat? Apakah dia makan dengan baik? Apakah skripsinya lancar?” lanjut Jungkook, menemukan keberaniannya sendiri dan memutuskan untuk maju terus.

“Kalo Bapak tanya saya, itu kemarin.”

Ayah Taehyung diam, menatapnya dengan dada naik-turun nampak akan marah namun entah bagaimana dia tidak juga bangun memukul Jungkook atau apa. Dia tetap duduk di tempatnya, mengatur napasnya dengan gerakan terengah-engah khas orang tua yang sejenak membuat Jungkook khawatir apakah beliau memiliki asma atau penyakit komplikasi lain yang membahayakan?

“Saya gak berniat ribut, Pak, demi Tuhan.” kata Jungkook merendahkan ritme bicara dan nadanya. “Saya cuma terima diskusi berkepala dingin. Karena terkadang, Pak, maaf sekali, orangtua juga bisa salah. Gak melulu kesalahan itu ada di posisi anak. To be fair, gak ada sekolah untuk orangtua dan gak ada juga sekolah untuk jadi anak; saya, Taehyung, Bapak dan kedua orangtua saya—kita sama-sama belajar di sini.

“Taehyung menghormati Bapak, sayang sekali sama Bapak. Tapi gak ada yang memengaruhi atau dipengaruhi dalam hubungan saya dan Taehyung; kami berdua sadar atas perasaan kami masing-masing.”

“Bapak ke sini mau ngata-ngatain saya aja?” tanya Jungkook kemudian. “Mau melimpahkan kesalahan bahwa anak Bapak tidak senormal standar normal Bapak ke saya? Mohon maaf, saya gak terima, Pak.”

Ayah Taehyung membuka mulutnya untuk bicara namun dering ponselnya membuatnya urun menjawab. Dia meraih ke saku celananya dan mengeluarkan ponsel, menggunakan kacamata baca yang terselip di saku depan kemejanya, dia kemudian menatap layar, membaca nama penelepon.

Alisnya berkerut lalu dia menoleh pada Jungkook yang masih menatapnya dengan tenang lalu mengangkat teleponnya.

“Taehyung?”

Hati Jungkook mencelos mendengar nama itu. Bagaimana Taehyung tahu? Bagaimana dia bisa menelepon ayahnya? Apakah dia tahu ayahnya sedang bicara dengannya? Lalu kenyataan menghantam Jungkook seperti sebuah deja-vu, dia langsung menoleh pada Yugi yang balas menatapnya horor; nampak seperti akan menangis kapan saja.

“Aku ndak ngapa-ngapain...,” bisik Yugi gemetar dan menggeleng-geleng takut. “Dia yang ngotot mau nelepon ayahnya...”

Jungkook ingin sekali memukul Yugi sekarang karena melaporkan hal ini pada Taehyung namun dia merasa mungkin memang seharusnya masalah ini diselesaikan Taehyung dan ayahnya. Mungkin memang harus Taehyung yang bicara dengan ayahnya, bukan Jungkook.

Dia perlahan merasakan ketakutan mulai menyeruak di dadanya, keberaniannya tadi mulai berangsur-angsur memudar jadi dia menghela napas dalam-dalam; mencoba mempertahankan keberanian itu untuk selama apa ayah Taehyung berada di depannya.

“Ya,” kata ayah Taehyung kemudian lalu menutup ponselnya, menatap Jungkook yang sekarang mulai ketar-ketir ketakutan. “Awalnya saya gak bisa telepon dia, bagaimana....?”

Jungkook menelan ludah, teringat bahwa di balik semua topeng kemarahan dan otoriternya, dia tetap adalah seorang ayah dan Taehyung tetap adalah anak kesayangannya seperti kata Taehwan. Dia mungkin begitu merindukan Taehyung hingga kaget bagaimana bisa Jungkook membuat anaknya menghubunginya saat dirinya sendiri, sang ayah, tidak bisa?

“Saya cuma ingin Bapak dan Taehyung duduk berdua dan bicara dengan kepala dingin. Ini urusan Bapak dan Taehyung, saya bukan siapa-siapa, Pak.” kata Jungkook dengan sisa keberaniannya yang tidak logis tadi. “Tapi, saya cuma mau mengingatkan; Taehyung itu manusia. Tolong perlakukan dia seperti manusia.”

Hening lagi yang jauh lebih menyiksa sebelum ayah Taehyung menyimpan ponselnya dengan gerakan perlahan lalu menatapnya.

“Kamu akan bicara begitu ke ayahmu sendiri?” tanyanya.

Jungkook mengangguk tegas. “Saya selalu bicara begitu ke ayah saya sendiri. Kami saling belajar menjadi ayah dan anak; umpan balik apa pun akan sangat diapresiasi oleh saya dan ayah saya.”

“Kamu keras kepala, ya?” kata ayah Taehyung kemudian dengan wajah masam dan Jungkook tertawa kecil, serak dan mulai kehilangan segenap keberaniannya. Dia ingin berguling di lantai dan menangis saja.

“Hanya jika saya benar,” sahutnya.

Ayah Taehyung menatapnya sejenak lalu mendesah. “Taehyung itu anak kesayangan saya. Paling membanggakan, paling berprestasi; selalu paling pintar, paling sopan, nurut dengan orangtua.... Saya berharap banyak sama anak itu.”

“Pak, maaf kalo saya lancang,” balas Jungkook lembut, sejenak melawan keinginan impulsifnya untuk meraih tangan ayah Taehyung dan menggenggamnya hangat; sebagaimana dia selalu melakukannya pada ayahnya sendiri saat beliau merasa gagal menjalankan perannya menjadi seorang ayah untuk Jungkook. “Anak itu bukan aset, bukan juga semacam alat untuk mewujudkan ambisi masa lalu orangtua; kami manusia. Sama manusianya dengan Bapak, kami bisa merasakan. Kami punya pilihan kami sendiri....”

Ayah Taehyung menatapnya. “Kamu bilang begitu ke ayahmu?”

“Ya.” Jungkook akhirnya tersenyum, tulus. “Bapak gak perlu percaya saya, Pak. Saya anak ingusan, cuma saya berharap Bapak dan Taehyung bisa bekerja sama untuk bicara berdua dengan kepala dingin. Diselesaikan dengan kekeluargaan. Saya yakin Taehyung sayang Bapak sama seperti Bapak sayang Taehyung.”

Hening kembali. Yugi sudah siap untuk meninggal di tempat saat ayah Taehyung akhirnya tersenyum. Sungguhan tersenyum hingga Jungkook dan Yugi terpaku di tempatnya; terlalu kaget untuk bereaksi apa pun pada senyuman itu yang sekilas nampak seperti Taehyung jika saja Taehyung berusia enam puluh tahun dan menderita sembelit permanen.

Namun senyum itu lenyap secepat kemunculannya. Ayah Taehyung menghela napas dengan suara dengus serak khas orang tua lalu, “Baik,” kata pria paruh baya itu kemudian dan berdiri. “Saya pamit dulu.”

Lalu beliau pergi, begitu saja bahkan tanpa menoleh lagi. Menyisakan Jungkook dan Yugi yang bersandar lemas di sofa, terengah-engah dan merasa seolah baru saja menyelesaikan lari maraton 10K tanpa training dan pemanasan.

“Gusti Allah....” bisik Yugi dengan suara gemetar dan Jungkook mengangguk, “Gusti Allah...” timpalnya dengan nada yang sama persis.