eclairedelange

i write.

The Chef #51

“Siang, Pak.”

Taehyung mendongak dari Mac-nya dan bertemu mata dengan Mingyu—salah satu anak buahnya yang tidak pernah membuat masalah, selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan sempurna. Dia ingat pemuda ini masuk ke kantornya satu tahun setelah dia naik menjadi chief, dan kinerjanya begitu gemilang. Dia salah satu dari sekian banyak manusia yang Taehyung rasa oke untuk berada di sekitarnya.

“Silakan duduk,” katanya kemudian, melepaskan kacamatanya, menyelipkan benda itu di saku kemejanya dan menutup layar Mac-nya. “Kau ingin pesan sesuatu?” tanyanya kemudian. “My treat.”

“Tidak, Pak.” kata Mingyu lalu duduk di depannya dengan wajah tanpa ekspresi. “Dari nada pesan Bapak, saya rasa Bapak sudah tahu ceritanya?”

“Ya,” kata Taehyung berusaha menekan nyeri yang menyeruak kembali ke dadanya—mungkin Jimin benar, dia seharusnya istirahat dulu sebelum kembali mengonfrontasi orang-orang dengan masalah ini.

Tapi dia juga jengah atas ketidaktahuan. Dia tidak terbiasa menjadi tidak tahu, dia terbiasa mengetahui segalanya. Dan posisi ini membuatnya jengkel sehingga dia akhirnya berangkat untuk bertemu Mingyu.

“Saya kaget kau tidak datang dengan gaya petantang-petenteng yang galak seperti nada pesanmu pada Jungkook,” katanya saat Mingyu memperbaiki duduknya di hadapannya. “Kemana dirimu yang itu?”

“Diri saya yang itu memang tidak ada, Pak,” sahutnya, mengendikkan bahu. “Itu hanya saya lakukan agar Jungkook mau mengaku. Dia keras, maka satu-satunya cara untuk memaksanya adalah dengan bersikap keras juga...”

Taehyung menatapnya dengan alis berkerut. “Maksudmu, selama ini kau bersikap seperti bajingan tengik begitu hanya akting?”

Mingyu balas menatapnya dengan tenang seolah tidak melakukan kesalahan apa pun selama ini. “Saya hanya ingin kalian berdua mengobrol, itu saja, Pak. Saya menghormati Bapak dan saya juga menyayangi Jungkook.”

Kebodohan macam apa lagi ini.

Taehyung merasa pening sekali dengan emosi-emosi mereka. “Baiklah.” katanya kemudian, “Saya hanya akan bertanya: apa sebenarnya masalahmu dengan Jungkook?” tanyanya, menyandarkan diri ke kursinya agar tidak nampak tegang dan mual.

“Hubungan saya dan Jungkook itu sesuatu yang rumit. Kompleks.” kata Mingyu kemudian, menatap Taehyung lekat-lekat.

“Saya akui saya memang pernah menyukai Jungkook dan kami pernah... bersama. Tapi bukan seperti yang Bapak pikirkan sama sekali; kami sama-sama berduka, kami butuh satu sama lain untuk berpegangan. Kehilangan itu begitu hebatnya bagi kami hingga butuh waktu lama untuk kembali bangkit.

“Saya meninggalkan Jungkook, jika Bapak tahu ceritanya—,” Taehyung mengangguk dan Mingyu melanjutkan, “Karena saya merasa, dua orang yang terluka tidak bisa bersama. Kami hanya akan saling menghancurkan; saling berusaha untuk menghisap kehidupan masing-masing untuk bahagia.

“Jungkook itu tipe lelaki destruktif ke dirinya sendiri,” Mingyu mendesah. “Seperti yang Bapak mungkin sudah fahami, dia suka sekali menghukum dirinya dengan cara berlebihan. Dan saya rasa, jika kami terus berdekatan. Kami tidak menjalani hubungan pertemanan, kami sedang menjadi racun bagi satu sama lain.

“Dia orang yang secara emosi bergantung pada orang lain untuk menyembuhkannya. Saya tidak bisa terus bertahan di sisinya, mencoba mengobatinya padahal saya juga sedang berduka. Tidak ada lagi energi yang saya miliki atau cinta atau kasih yang cukup untuk saya bagi pada Jungkook.

“Kami sama-sama remuk oleh duka dan kekecewaan.

“Maka saya pergi. Saya berharap dengan saya pergi, dia akan mampu menata kembali hidupnya. Faham bahwa dia seharusnya mencari pertolongan dan mencoba bangkit kembali di atas kakinya dengan kemampuannya sendiri, tidak bergantung pada keberadaan orang lain lagi. Saya berharap dia bisa menjadi lebih baik, lebih kuat dan belajar dari kesalahannya di masa lalu.

“Sungguh, saat saya masuk ke dalam tim Bapak, saya sungguh tidak tahu bahwa Bapak adalah tunangan baru Jungkook jika saja Jimin tidak mengirim foto Jungkook ke grup,” Mingyu menatapnya, sekarang nampak bersalah dan berduka.

Taehyung merasa mungkin kedua orang ini memang sama-sama destruktif dan bagusnya hanyalah Mingyu masih memiliki akal sehat untuk menyadari bahwa hubungan mereka hanya akan berubah menjadi racun yang menggerogoti hidup mereka jika mereka terus bersama.

Namun dia juga tidak bisa setuju dengan cara Mingyu melakukannya. Mungkin itu sedikit agak terlalu keras karena posisi Jungkook juga sama hancur dan berdukanya dengan dia—bahkan mungkin jauh lebih berduka karena dia tidak sempat menatap gadis itu untuk yang terakhir kalinya.

“Lalu apakah kemudian kau merasa berhak menghancurkan hidupnya seperti ini? Bahkan setelah duka yang kalian lalui bersama itu?” tanya Taehyung kemudian.

Mingyu menatapnya, sejenak seperti hendak melempar konfrontasi lain; dia membuka mulutnya namun kemudian menutupnya kembali. Kebingungan dan Taehyung menahan napasnya, sudah bersiap untuk menerima ledakan emosi lain. Tetapi dia ragu dan akhirnya menyerah, menatapnya putus asa.

Taehyung menghembuskan napasnya.

“Jungkook memang keras, egois dan penuh harga diri. Tidak ada cara lain untuk membuatnya bicara dan jujur kecuali ancaman,” Mingyu menatapnya; pandangannya nampak menyerah kalah. “Saya benar-benar memohon maaf jika saya bertindak keterlaluan pada Bapak atau Jungkook. Tapi saya benar-benar tidak ingin Bapak atau Jungkook, mengalami hal yang sama. Lagi.

“Saya kaget sekali saat ternyata Bapak dan Jungkook sudah bertunangan. Jadi saya merasa, apakah dia sudah bicara? Apakah Bapak sudah tahu? Dan saya sangat yakin bahwa Bapak adalah pribadi yang cukup dewasa dalam menyikapi masalah semacam ini. Tapi saat saya mencoba mengonfrontasinya dan dari reaksinya, saya tahu.

“Dia sedang membuat bom waktu dalam hubungan Bapak dan dia. Maka saya rasa, saya harus melakukan sesuatu. Karena saya sayang padanya dan saya menghormati Bapak; saya tidak ingin hal ini mengganjal hubungan kalian dan menyebabkan kejatuhan.

“Maka saya menekannya agar bicara. Dan saya sungguh senang karena dia akhirnya bicara, akhirnya menerima bahwa ada hal-hal yang diluar kekuasaannya sebagai manusia. Bahwa dia tidak bisa membuat semuanya sempurna seperti bagaimana dia membuat makanan sempurna.

“Percayalah, kehendak saya tidak pernah lebih dari itu. Saya hanya ingin membantu dan saya tahu bagaimana Jungkook; saya tahu bagaimana untuk memaksanya bicara. Mungkin terlalu kasar, tapi dengan Jungkook; bujukan bukan jawabannya. Dan saya rasa dia sudah bicara?”

“Sudah,” kata Taehyung, mulai merasa pening. Maka dia meraih gelas kertas di mejanya dan menyesap kopinya untuk menenangkan seluruh sarafnya yang tegang dan nyeri. “Dan saya setuju.” kataya kemudian.

Mingyu menatapnya. “Maaf, Pak?” tanyanya.

“Saya setuju bagian 'dengan Jungkook; bujukan bukan jawaban.'” Taehyung menatap kopinya dengan lekat.

Jungkook adalah pemuda paling angkuh, paling keras kepala dan paling congkak di dunia. Dia tidak pernah mau merasa salah, tidak pernah mau disalahkan. Taehyung tidak pernah membujuknya, dia mengancam dan mendesak. Bahkn menyeretnya—hanya dengan itu Jungkook akan melakukannya. Maka Jungkook akan selalu berusaha melakukan segala sesuatunya dengan sempurna hingga tidak ada celah untuk orang lain menjegalnya.

Bayangkan bagaimana perasaannya saat dia mendapati malam itu; semua yang dia kerjakan, semua yang dia usahakan tidak menghasilkan sesuatu sesempurna apa yang diinginkannya.

Taehyung faham sekali posisi Jungkook dan sama sekali tidak menyalahkannya tentang kematian kekasihnya. Jika gadis itu meninggal karena keracunan gas, memangnya itu salah Jungkook? Bukan.

Yang membuatnya kecewa—sangat kecewa adalah fakta bahwa Jungkook sejak awal telah memanipulasinya. Menjebaknya dalam kehobongan dan tipuan simpati. Membangun sebuah kesempurnaan palsu dalam hubungan mereka; Taehyung sekarang mulai berpikir seberapa banyak hal yang Jungkook sembunyikan darinya?

Seberapa banyak kejujuran dan kebohongan dalam hubungan mereka selama ini?

Belum lagi fakta bahwa orang lain harus mengancam Jungkook sedemikian rupa hingga akhirnya Jungkook jujur pada Taehyung; jika Mingyu tidak mengancamnya, apakah dia akan bicara? Kapan?

Jika dia tahu cerita ini dari awal, Taehyung akan tetap bertahan. Mungkin akan merasa takut akan posisinya karena Jungkook dengan mudahnya meninggalkan kekasihnya demi pekerjaan. Hal yang sangat manusiawi.

Tapi sekali lagi, jika pun Jungkook datang ke rumah sakit; apa yang bisa dilakukannya? Dia punya satu tim yang timpang dan harus tetap menjaga food flow sesuai dengan standarnya. Jika masalah berduka, Taehyung yakin Jungkook sudah cukup keras menghukum dirinya sendiri; Taehyung tidak perlu ikut melakukannya.

Hanya saja, kebohongan itu—segala kebohongan itu.

Belum lagi fakta bahwa Jungkook adalah biseksual. Apakah jika hari itu Taehyung tidak di gym bersama Jungkook, pemuda itu akan menanggapi gadis bercelana yoga itu? Dia seorang biseksual; dia bisa saja berpaling, kan? Banyak hal yang Taehyung tidak bisa berikan seperti apa yang seorang gadis berikan.

Segala hal yang Taehyung letakkan di atas fondasi hubungan mereka terasa retak dan hancur berantakan sekarang. Rasa percaya itu seperti rumah kartu; sulit dibangun dan satu tiupan saja sudah cukup untuk menghancurkannya.

Bisakah Taehyung kembali percaya padanya?

“Jungkook adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab,” Mingyu kemudian melanjutkan dan Taehyung mengerjap, kembali fokus pada lelaki di hadapannya. “Saya hanya berharap malam itu, dia mungkin bisa... entahlah, menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat? Lalu ke rumah sakit? Dan meminta tolong profesional menyembuhkan dirinya?”

Taehyung menatapnya. “Jika itu kau,” katanya kemudian dengan nada setajam es. “Apa yang akan kaulakukan? Anak buahmu kocar-kacir menyiapkan menu, seluruh dapur sedang berantakan dan kau sama sekali belum makan seharian. Lalu tiba-tiba tunanganmu dikabarkan sekarat; yang mana yang akan kaupilih?”

“Saya faham posisinya,” kata Mingyu balas menatapnya. Nampak sangat bersalah hingga hati Taehyung merasa nyeri. “Saya faham apa yang harus dihadapi Jungkook. Saya... kecewa. Karena pada saat terakhir pun, dia tidak bisa menemani tunangannya. Bahkan setelah bertahun-tahun, dia juga belum berani untuk meminta tolong orang lain dengan lukanya.”

“Sekecewa itu hingga kau merasa layak menghukumnya dengan menyalahkannya atas kematian gadis itu?”

Mingyu mendongak, kaget dan benar-benar terluka. Lalu tertawa serak. Taehyung sudah akan marah karena takut Jungkook akan kembali membohonginya; sebagaimana dia melakukannya selama ini namun dia urung saat air mata meleleh dari mata Mingyu.

Terus-menerus hingga akhirnya dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis terisak-isak.

Taehyung menghela napas, bangkit. Meraih air mineral di dekat konter, memesankannya cokelat panas dengan ekstra espreso lalu membayarnya. Dia kemudian menaruh botol air itu di meja Mingyu dengan setumpuk tisu.

“Menangislah, kau dipersilakan menangis. Tapi saya masih membutuhkan jawaban.”

Taehyung menatap Mingyu yang terisak di hadapannya dengan tenang. Mengabaikan sepenuhnya tatapan store yang tertuju pada mereka, ke arah pemuda yang sedang membungkuk terisak di hadapan Taehyung; begitu rapuh dan terluka.

Mungkin, begitu pikir Taehyung saat mendengarkan cerita Jungkook. Mungkin jika saja hari itu mereka berdua berpikiran jernih, tidak saling kecewa dan menyalahkan diri sendiri; mereka akan mampu bahu-membahu melewati duka mereka.

Mungkin bahkan Jungkook tidak akan membutuhkan Taehyung sama sekali. Namun mereka memilih bersikap saling melukai, saling menghindar. Seperti dua bayi yang berebut mainan; sama-sama angkuh untuk mengakui kesalahan dan meminta bantuan.

Jungkook menolak meminta bantuan dan Mingyu merasa dia tidak boleh membantu Jungkook.

Mingyu meraih tisunya, mengelap wajahnya yang sembab dan nampak begitu kacau hingga Taehyung terenyuh. “Maaf,” katanya serak akibat ledakan emosinya.

“Tidak masalah,” kata Taehyung tenang. “Emosimu valid.”

“Itukah yang membuatnya selama ini merasa depresi?” tanya Mingyu kemudian, perlahan seolah sedang meniti jembatan yang rapuh.

“Dia percaya bahwa dirinya membunuh gadis itu dan tidak layak lagi membina hubungan dengan siapa pun.” Taehyung menatapnya dengan tenang walaupun hatinya terasa gemuruh. Nampaknya yang butuh bertemu malah Mingyu dan Jungkook, bukan dia dan Jungkook.

“Dan saya rasa, kau sama kecewanya atas kematian gadis ini hingga mengucapkan hal-hal yang mungkin tidak kau kehendaki sama sekali. Benar? Dan hingga detik ini kau sendiri tidak menyadari kalimatmu yang keliru ini?”

Mingyu menatapnya, dengan wajah kosong dan Taehyung mendesah. Menemukan ujung dari segala drama yang selama ini dipelihara Jungkook dan Mingyu hingga sebesar ini. Mereka sedang saling menyakiti dan tidak pernah bisa untuk menunduk dan meminta maaf; Jungkook dengan kekeras kepalaannya dan Mingyu dengan usahanya untuk melindungi dan menghindar.

Mingyu mungkin merasa dia sedang melindungi Jungkook, tapi dia hanya sedang berusaha menghancurkan mereka berdua. Taehyung faham apa yang sedang terjadi; faham alasan mereka berdua dan mengapa benang ini sekusut apa yang ditemukannya hari ini.

Tapi Taehyung sungguh tidak ingin menyalahkan siapa pun; mereka berdua adalah korban dari keadaan. Emosi-emosi mereka mentah dan muda, dan selama ini dipelihara dengan cara yang salah. Mingyu kecewa atas kematian gadis itu, kecewa ternyata Jungkook tidak sehebat apa yang dipikirkannya. Sementara Jungkook sendiri sudah cukup kecewa dengan dirinya sendiri dan masih harus menghadapi kekecewaan Mingyu padanya.

Mereka benar-benar sedang berusaha saling membunuh.

“Kalian harus bertemu.” katanya kemudian dengan tegas. “Saling memaafkan bahwa kejadian di masa lalu itu bukan salah kalian berdua. Ikhlaslah bahwa hidup dan mati gadis ini sama sekali bukan di tangan kalian. Dan jika malam itu pun Jungkook melepaskan pekerjaannya untuk datang ke rumah sakit, apa yang bisa dilakukannya?

“Dia percaya rumah sakit sudah melakukan yang terbaik. Hal yang tidak bisa dilakukannya sebagai seorang chef. Dengan kemampuannya, dia jauh akan lebih berguna di dapur bersama timnya yang merangkak berusaha menyelesaikan pesanan.

“Saya faham, maksudmu sekarang sangat baik untuk menghindarkan Jungkook dari kejadian yang sama. Untuk menghindarkan saya dari kejadian yang sama. Saya sangat mengapresiasi bantuanmu serta kejujuranmu. Walaupun saya sungguh tidak mengapresiasi cara bicaramu di masa lalu pada Jungkook.

“Kalian berdua masih memiliki dendam pada satu sama lain. Kau percaya bahwa Jungkook membunuh gadis itu dan Jungkook percaya dialah yang menyebabkan kematian itu. Masalah kalian hanya akan selesai jika kalian bertemu.” Dia mendesah panjang, mulai merasa pening.

Dia seharusnya makan dulu sebelum kemari.

“Dan saya berterima kasih,” katanya kemudian, menatap Mingyu yang membersit di hadapannya; nampak begitu patah hati dan remuk oleh pembicaraan hari ini. “Jika kau tidak menekannya, saya tidak akan tahu rahasia itu sama sekali. Terima kasih, telah menyelamatkan hubungan kami. Menyelamatkan saya, khususnya.”

Mingyu menatapnya. “Dia mencintai seperti orang gila,” tambahnya serak dan parau. “Dia sangat mencintai Bapak, saya bisa lihat itu. Maka saya berusaha menyelamatkannya dari rasa sakit yang sama; saat saya melihat reaksinya pada pesan saya, saya menyadari bahwa dia belum memberitahu kejadian sebenarnya.

“Saya takut, dia akan ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi sekali lagi.”

Taehyung mulai merasa mual; asam lambung terasa membakar tenggorokan dan kerongkongannya. Memenuhi rongga mulutnya dengan rasa pahit yang getir. Dia menelan ludahnya yang terasa memualkan dan tersenyum; lelah sekali.

“Jungkook sudah cukup menghukum dirinya sendiri, Mingyu. Tidak perlu ditambah dengan kemarahanmu atau kemarahan saya. Dia sudah cukup menderita. Saya pribadi tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak kau tidak juga Jungkook. Ini murni hanyalah ledakan emosi labil masing-masing yang salah tempat.

“Kalian harus saling memaafkan. Agar tidak ada kejadian seperti ini lagi di masa depan.”

Mingyu mendongak, menatapnya kaget dengan mulut terbuka. Mencerna kalimat Taehyung dengan perlahan. “Maksudnya...?” tanyanya dengan suara gemetar.

Taehyung mendesah. “Saya butuh waktu untuk mempertimbangkan apakah saya masih cukup berbesar hati untuk memaafkannya kembali,” dia tersenyum lemah. “Saya butuh waktu; berbeda dengan kalian, saya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tidak saling meneriaki satu sama lain seperti bayi berebut mainan.

“Tapi saya sungguh,” kata Taehyung kemudian. “Saya berterima kasih banyak padamu, karena telah menekan Jungkook hingga akhirnya menceritakan rahasianya. Jika bukan karena caramu itu, sampai saat ini saya mungkin masih buta atas fakta itu.”

Mingyu menatapnya. “Jika saja,” dia berkata perlahan. “Jika saja dari awal Jungkook menceritakan semuanya pada Bapak, apakah Bapak akan menerimanya apa adanya dia?”

Taehyung tertawa, merasa nyeri di hatinya. Cintanya yang berlimpah untuk Jungkook terasa menyakitinya kini. “He's such a jerk, a sexy jerk. Dan ya,” dia mengangguk tegas. “Jika saja dia menceritakan ini sejak awal tanpa embel-embel kebohongan semacam itu, saya akan tetap mencintainya karena menurut saya dia sudah melakukan yang terbaik.

“Dan saya tahu dia juga sudah menghukum dirinya sedemikian rupa dan saya rasa saya cukup mencintainya untuk tidak menambah hukuman itu.” Taehyung kemudian mendesah. “Yah, jika saja...”

Mereka membiarkan kata itu menggantung di udara dalam nadanya yang pasrah namun anehnya penuh ancaman.

“Apakah kau masih menyukai Jungkook?” tanya Taehyung kemudian saat minuman Mingyu datang, “Maksud saya, romantically?”

Mingyu menatapnya. “Saya tidak pernah benar-benar memikirkannya lagi sekarang. Jika dia bahagia, maka saya juga bahagia. Walaupun iya, saya rasa saya sudah tidak layak untuk itu. Saya benar-benar mengacau, kan?”

“Tidak juga,” kata Taehyung. “Kalian bisa bertemu, membicarakan masalah ini dengan kepala dingin dan jika Jungkook masih sangat merindukanmu, kalian mungkin bisa bersama.”

“Apakah tidak ada yang saya bisa lakukan untuk membuat Bapak berubah pikiran?” tanya Mingyu dengan wajah pucat pada kalimat Taehyung.

“Saya pasti berubah pikiran, saya cukup mencintai Jungkook untuk berharap saya bisa berubah pikiran,” sahut Taehyung lembut, sekarang benar-benar letih karena semalaman dia berusaha memahami cerita Jungkook dan memutuskan bahwa dia butuh waktu untuk sendirian dan memandang cerita ini secara objektif.

“Tapi, jika Jungkook yang lebih dulu berubah pikiran tentang hubungan kalian, maka saya rasa kalian berhak mendapatkan kesempatan itu. Kalian sudah terlalu lama saling menyakiti dan berbohong pada satu sama lain.

“Jadi saya minta tolong,” katanya serak, mulai merasa sangat pening dan ingin berbaring. “Bertemulah dan bicara dengan kepala dingin. Setelah kalian memutuskan, saya akan memikirkan apa yang bisa saya lakukan.”

Dan dia sangat berharap Jungkook sangat mencintainya hingga saat Mingyu datang memohon maafnya dan membagi duka hebat itu sekali lagi bersamanya untuk diselesaikan dan dilepaskan, dia tidak akan goyah.

“Dan Mingyu?”

“Ya, Pak?”

“Lain kali, jangan bersikap seperti bajingan tengik lagi untuk membuatnya bicara, oke? I know you love him and you only want to save him. Thank you, really. He may be a jerk, but you don't have to always be a jerk to face a jerk. You owe him an apologize too, for everything.”

*

The Chef #46

Jungkook menatap Taehyung yang masih duduk dengan tenang mendengarkannya. “Aku... mengencani gadis ini,” katanya perlahan. “Kami sama-sama menempuh pendidikan di sekolah yang sama; dia berkonsentrasi di pastry, aku di cuisine.

“Hubungan kami normal saja, sungguh. Persis dua anak muda anyar yang baru memahami cinta. Menjalani kisah yang normal sebagai sesama praktisi kuliner. Dia yang... mengajariku membuat croissant base yang baik hingga aku bisa sehebat ini. Dia... banyak membantuku,”

Dia menatap Taehyung yang masih diam.

“Silakan lanjutkan,” kata Taehyung tenang dan tersenyum. “Aku tidak akan cemburu hanya karena hubungan asmara masa mudamu indah, tenang saja. Jika aku memang cemburu pada mantan kekasihmu, Mingyu yang akan pertama kubanting ke lantai.”

Jungkook menelan ludah, “Masalahnya...,” dia berdeham gelisah. “Mingyu itu... bukan mantanku.”

Taehyung mengerjap, sekarang nampak kaget; senyumannya lenyap dan Jungkook merasa seperti baru saja dijotos di bagian ulu hatinya.

“Oke,” katanya perlahan, nampak mencerna pembicaraan ini dengan seksama. “Jadi sebanyak apa kebohongan yang kaupakai untuk menutupi rahasia ini?”

Reaksi Taehyung membuat perut Jungkook menegang. Dia tahu, dia seharusnya tahu. Dia seharusnya menceritakan ini di awal sebelum masalah ini semakin besar. Kenapa dia bersikap begitu bodoh dan tidak masuk akal?

“Nanti kita akan tiba di sana,” kata Jungkook perlahan. Dia memandang Taehyung lekat-lekat; mengamati bagaimana wajahnya berkerut oleh ceritanya.

“Setelah aku menyelesaikan pendidikanku, aku masuk ke hotel pertamaku sebagai commis karena aku menghabiskan masa trainee-ku di sana dan head chef-nya suka kinerjaku. Dia sendiri yang merekomendasikanku pada HRD untuk diterima. Di hotel itu juga aku meniti karir hingga akhirnya tiba di posisi demi chef the partie.

“Aku merasa sudah cukup oke dengan posisiku, sehingga aku....,” dia menelan ludah lagi. “Melamar kekasihku ini.”

Taehyung menatapnya, tanpa ekspresi sama sekali. “Apakah kita juga akan tiba di cerita bagaimana kau menjadi homoseksual? Atau kau memang biseks?”

Jungkook takut—untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa begitu kecil dan lemah di hadapan Taehyung. Bagaimana jika akhirnya Taehyung meninggalkannya? Bagaimana jika? Bagaimana jika...?

“Iya,” dia mengangguk perlahan. “Kita akan tiba di sana.”

“Oke, lanjutkan.”

“Setelah kami bertunangan, hubungan kami semakin baik. Semakin melaju ke arah yang benar. Karirku meningkat hingga akhirnya aku menjadi sous chef dalam waktu singkat karena kinerjaku dan juga head chef-ku yang selalu mengapresiasiku. Dan setelah aku menjadi sous chef, aku kemudian mengundurkan diri dan melamar di The Ritz menjadi second sous chef.

“Dalam waktu singkat juga, aku berhasil mengisi posisi head chef. Kau tidak akan bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Begitu luar biasa. Merangkak dari nol, hingga menjadi head chef di hotel bintang lima. Tantangannya, pendidikannya, gemblengan dari semua chef itu. Aku benar-benar di atas langit.

“Hingga mungkin akhirnya aku mabuk.

“Karena kemudian aku dihadapkan pada dua pilihan yang berat.” Dia mendesah lalu menunduk, meletakkan gelasnya di meja. Merasa terlalu mual untuk minum apa pun saat dia harus mengingat kejadian ini.

“Kau ingat saat di Starbucks dulu? Cerita tentang 150 pax?” tanyanya.

Taehyung mengangguk. “Yang juga ternyata adalah anniversary palsumu dengan Mingyu,” dia mendengus geli. “Dan aku menelan kebohonganmu mentah-mentah.”

“Bukan,” kata Jungkook pelan, tidak punya nyali lagi untuk menatap Taehyung. “Aku mengenal Mingyu bukan sebagai kekasih. Dia...,” Jungkook menelan ludah lalu memijat pelipisnya yang nyeri. “Dia sahabat kekasihku, tunanganku.”

“Wow.” kata Taehyung, “This is getting fishy.” tambahnya dingin; terhibur dengan cara yang begitu penuh hinaan yang dianggap Jungkook layak didapatkannya. “Apa yang terjadi pada malam 150 pax itu jika ternyata hubungan kita dari awal dilandasi kebohongan?”

Jungkook ingin muntah sekarang juga. Bisakah dia melanjutkan cerita ini tanpa benar-benar muntah dan mempertahankan Taehyung sekaligus di tangannya? Dia benar-benar merasa hubungan mereka yang selama ini solid dan kuat, mulai merebes dari sela-sela jemarinya seperti air. Mustahil untuk dihentikan, seerat apa pun Jungkook mengepalkan jemarinya.

Taehyung akan pergi, dia yakin.

“Malam itu, Mingyu meneleponku.” lanjutnya tercekat. Pusing saat mulai mengingat momen paling lemah dalam hidupnya, paling gelap dan paling tidak ingin diingatnya; tapi terus bercokol di belakang kepalanya seperti tumor. “Tunanganku... keracunan saat bekerja. Gas oven di pastry section bocor dan dia yang menghirup terlalu banyak...”

“Dan kau belari ke rumah sakit seperti seorang tunangan yang gentleman untuk menemaninya, kan?” Taehyung menatapnya, dengan matanya yang dingin dan wajahnya yang sekeras batu; sama sekali tidak ada simpati di wajahnya.

Jungkook mendongak, menatap mata Taehyung yang berkilat. Dia menyerah, membiarkan seluruh dirinya luruh bersama kenangan itu. Kepanikannya, kericuhan dapur; bagaimana semua orang berteriak pada satu sama lain dalam waktu yang sempit mempersiapkan five course menu untuk rombongan yang tidak habis-habis.

Dia ingat berteriak mengalahkan seluruh suara anak buahnya; meminta mereka semua fokus dan terus bekerja. Dia mengoreksi rasa, menata plating, meneriaki anak service yang terlalu lambat, meminta steward untuk bekerja lebih cepat. Bagaimana dia sendiri terpeleset di depan kulkas hingga tulang pinggulnya nyeri tapi dia tetap bekerja. Menahan semua sakitnya untuk nanti, setelah ini.

Dia ingat bagaimana Jackson saat itu berdiri di sisinya, saling bahu-membahu berusaha menyelesaikan menu mereka.

Mereka benar-benar kekurangan orang.

Jungkook tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menjaga kitchen tetap di jalurnya dan makanan tetap meluncur keluar. Dia tidak bisa diam, dia tidak bisa meminta siapa pun pulang malam itu. Karena jika satu saja orang lenyap, maka food flow akan macet. Tamu akan marah dan semuanya akan berimbas ke hotel.

Dia tidak suka itu terjadi di bawah pengawasannya.

Dia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit; saat dia menerima telepon Mingyu dan menatap kitchen yang kacau balau melalui jendela satu arah kantornya di dalam kitchen. Semua berteriak, semua kelelahan. Wajah anak-anak baik karyawan dan trainee yang harus overtime dari pagi hanya demi reservasi mendadak ini—bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan timnya dalam keadaan compang-camping begini?

Dia head-nya. Dia pemimpin mereka.

Dia tidak bisa.

Jungkook merasa pening dan mual. Dia, Jackson dan semua CDP* serta DCDP*-nya sama sekali belum menyentuh makanan sejak pagi. Mereka terus menunduk di atas set list menu; men-saute ikan, menakar bumbu, mem-plating makanan. Tidak ada istirahat. Tidak ada bernapas lebih dari yang dibutuhkan. Mereka semua seperti mesin yang sudah berasap. Hanya berharap malam ini bisa segera selesai dan mereka bisa makan.

Bahkan tidak ada waktu hanya untuk sekadar minum air.

Maka Jungkook memilih.

Dan pilihannya masih sangat disesalinya hingga hari ini.

Dia berpikir rumah sakit sudah melakukan yang terbaik, dia akan segera menyelesaikan menunya lalu cepat-cepat lari dari sana. Dia bisa menyelesaikan ini; dia mampu. Tidak ada yang harus dikorbankan karena dia Jeon Jungkook.

Dia bisa melakukan segalanya.

Saat akhirnya dia menempelkan ibu jarinya di mesin pindai sidik jari untuk pulang, dia langsung berlari ke parkiran. Memacu mobilnya gila-gilaan mengabaikan semua lampu merah dan mengklakson marah tiap mobil yang mencoba menghalanginya hingga dia tiba di rumah sakit. Hanya untuk melihat tunangannya dimasukkan ke dalam peti jenazah.

Dia terlambat, berjam-jam yang lalu.

Jungkook berdiri di sana, dengan keadaan lelah luar biasa hingga seluruh tulangnya terasa meleleh dan ototnya berubah menjadi mentega di ruang jenazah menatap peti mati yang memeluk tubuh tunangannya yang kaku dan beku. Meninggal karena terlalu banyak menghirup gas, tidak berhasil diselamatkan.

Dan mereka bertanya apakah dia Jeon Jungkook? Karena gadis itu menitipkan cincin tunangannya untuk dikembalikan.

Maaf, katanya. Tidak bisa menemani hingga Jungkook berhasil menjadi head chef restorannya sendiri. Dan semoga Jeon Jungkook menemukan gadis lain yang sanggup menemaninya hingga tiba di puncak.

Lalu dia bertemu Mingyu di sana, duduk di depan ruang jenazah dengan wajah memerah. Sembab oleh air mata dan kelelahan. Menatapnya lalu bangkit, hanya untuk mengatakan dua kata:

“Kau terlambat.”

*

Tahun-tahun selanjutnya digunakan Jungkook untuk bekerja seperti orang kesetanan. Dia bekerja dan terus bekerja; mengambil double shift, menolak pulang hanya untuk bernapas dengan paru-paru yang kosong dan hati yang hampa. Dia menolak pulang untuk berhenti dan berpikir.

Dia tidak mau berpikir, dia tidak mau mengingat.

Dia bertemu lagi dengan Mingyu malam itu, dalam keadaan mabuk berat dan menangis. Memohon ampun, meminta maafnya. Mencoba menjelaskan posisinya dan apa yang dipikirkannya saat itu; dan bagaimana dia seharusnya tidak disalahkan.

Kata Mingyu, “Kau bedebah bangsat.” Dia menatap Jungkook jijik. “Bagaimana bisa kau membela diri setelah benar-benar membuangnya di saat-saat terakhir hidupnya? Kau memilih timmu daripada kekasihmu sendiri. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Jeon Jungkook? Karena aku sungguh tidak faham.”

Lalu dia berdiri, “Terima saja fakta itu. Kau dan sikap sokmu. Kau dan superhero syndrome-mu bahwa kau bisa menyelamatkan semuanya. Kau bisa menyelamatkan dapur, kau bisa menyelamatkan tunanganmu. Tapi tidak, kau tidak menyelamatkan siapa pun.”

Benar, karena walaupun sudah sebagaimana pun kerasnya tim Jungkook bekerja; tetap ada yang tidak sempurna. Mereka kekurangan orang, mau bagaimana lagi? Umpan balik diberikan oleh tamu mereka, makanan mereka dikritik dan Jungkook menghabiskan morning briefing hari selanjutnya mendengarkan General Manager menghabisinya di ruangan meeting.

“Mulailah belajar melepaskan itu, Jeon, jika kau berharap bisa menemukan kekasih yang akan menerimamu apa adanya. Tentukan prioritasmu. Tidak semua bisa kaukerjakan sendiri; kau harus minta tolong. Kau harus menyerah kalah, tundukkan harga dirimu yang terlalu mahal itu.

“Atau kau akan kehilangan semuanya lagi, persis seperti hari ini.”

Dalam keadaan berduka hebat setelah kehilangan tunangannya.

“Aku memaafkanmu bukan karena aku sayang padamu, tapi karena aku menghormati kematiannya. Dia berhak mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Dan bagaimana selama ini aku menyimpan rasa padamu karena aku berpikir kau adalah sosok kekasih yang sempurna.

“Kau membuatnya bahagia, Jeon.” kata Mingyu pedih. “Sangat bahagia hingga dia bersinar. Aku selalu kagum dengan bagaimana caramu membuatnya bahagia. Aku iri; bagaimana jika aku yang dibuat bahagia hingga bersinar? Bertahun-tahun rasa iri itu bercokol di kepalaku. Tapi tidak, sekarang tidak lagi. Untukku, kau sudah mati.

“Good luck for your life ahead, Jeon.” Lalu dia meninggalkan Jungkook di sana.

Itulah pukulan telak bagi hidup Jungkook dan keseluruhan dinasti yang coba dibangunnya di atas kecongkakan dan keangkuhan. Kepercayaan diri yang terlalu besar hingga dia akhirnya tidak menyelamatkan salah satunya; dia kehilangan keduanya.

Dia mendapat surat teguran dari General Manager-nya, disertai peringatan untuk bersikap profesional.

Lalu dia memutuskan untuk kembali mengambil kelas pastry. Untuk mengisi jam malamnya karena HRD Manager sudah menegurnya tentang jam bekerja yang gila-gilaan itu walaupun Jungkook menolak dibayarkan atas tambahan jamnya. Dia mengisi seluruh waktu kosongnya hingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk berpikir.

Di sanalah dia kemudian berkenalan dengan Yugyeom.

Yugyeom yang menemaninya, mendengarkan ceritanya. Namun dia tidak cukup berani untuk menceritakan kisah sebenarnya. Dia menggunakan cerita mantan dan 150 pax itu untuk mendapatkan simpati; bersikap manipulatif agar Yugyeom ada di pihaknya.

Berteman dengannya walaupun dia adalah seorang pembunuh.

Sampai dia kemudian bertemu lagi dengan Mingyu, dalam kebetulan aneh yang membuat Jungkook merasa hidup mungkin sedang mempermainkannya dengan ceria seperti bayi yang bermain dengan maianan barunya. Jungkook benar-benar tidak ingat bagaimana hingga akhirnya mereka berciuman dan mereka menangis bersama; atas duka yang mereka bagi bersama, atas orang yang mereka sayangi.

Atas hidup yang begitu tidak adil.

“Bertahun-tahun,” katanya bergetar. “Aku berusaha menyakinkan diriku bahwa aku seharusnya berhenti memikirkanmu. Tapi tidak, hidup tidak semudah itu karena aku masih memikirkanmu....”

Namun keesokan harinya, setelah mereka kembali berciuman dengan air mata di wajah mereka, ciuman asin dan lengket oleh kesedihan dan duka; Mingyu menghilang.

Lagi.

Seluruh kontaknya lenyap, Jungkook tidak bisa menghubunginya sama sekali. Tidak ada yang bisa. Dia hilang bagai ditelan bumi. Apartemennya kosong, semua sosial medianya hilang. Dan Jungkook sendirian lagi.

Dengan siapa dia harus membagi duka yang tidak kunjung sembuh ini?

Dia bekerja, terus bekerja seperti mesin. Mengabaikan kesehatannya, mengabaikan jam tidurnya, mengabaikan makannya; dia terus bergerak. Terus memaksa seluruh tubuhnya cukup sibuk hingga saat dia pulang, dia akan jatuh ke kasur dan terlelap kelelahan.

Dan pagi sebelum dia sempat berpikir, dia sudah berangkat kembali ke kitchen. Bekerja dan terus bekerja. Yugyeom kemudian membantunya untuk memperlambat semuanya; menemaninya sebagai sahabat yang suportif. Mengajarinya hal-hal untuk mendistraksi kepalanya tanpa perlu membunuh dirinya.

Jungkook mulai ke gym, berolahraga dengan sehat. Makan dengan baik dan mulai kembali aktif bersosial media. Mencari hiburan disela-sela waktunya yang sibuk, mencoba kembali menemukan ritme hidup lamanya sebelum badai kemarin menerjang. Berusaha mengubur kenangan lama yang bersarang di kepalanya sepanjang hidupnya.

Hingga akhirnya dia bertemu Kim Taehyung.

Dan hidup berubah jauh lebih baik, walaupun ketakutan itu terus menghantuinya.

Apakah dia akan mengulang kesalahan yang sama? Sudah siapkah dia untuk hubungan baru? Sudahkah dia belajar sesuatu dari penderitaannya kemarin untuk membahagiakan Kim Taehyung?

Setelah tahun-tahun sendirian yang dilewatkannya selama ini; bisakah dia? Layakkah Kim Taehyung mendapatkan kekasih seperti dirinya?*

Toh akhirnya Jeon Jungkook merengkuh risiko yang ditawarkan hidup itu padanya, menelannya bulat-bulat. Dia akan membuat Kim Taehyung begitu bahagia hingga dia tidak sempat memikirkan masa lalunya. Dia menggunakan cinta dan kasih sayang Taehyung untuk mengobati lukanya sendiri alih-alih mengobatinya sendiri; menempel pada keceriaan dan cinta Taehyung seperti hama, menghisapnya untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Dia sudah membohongi Taehyung dari awal hubungan mereka dibina. Dia melandasi hubungan mereka dengan kebohongan sementara Taehyung melandasinya dengan rasa percaya; hubungan mereka yang nampak solid itu ternyat teramat rapuh karena keangkuhan Jeon Jungkook sendiri.

Dan sekarang dia faham kesalahannya.

Maka saat dia terbangun tengah malam dengan ranjang kosong di sisinya dan setengah isi lemari Kim Taehyung lenyap, dia tahu.

Dia layak mendapatkan ini.

________________________ *CDP: Chef de Partie *DCDP: Demi Chef de Partie *cek prekuel story: Sop Kemiri x

The Chef #42

“Hei,”

Taehyung tersenyum saat mobil Jungkook berhenti di lobi kantornya dan dia melambai ramah pada satpam yang sejak tadi menemaninya mengobrol. Dia menyelipkan tubuhnya ke dalam mobil yang beraroma tajam rempah Indonesia yang menguar dari tubuh Jungkook.

Perbedaan mendasar dari mereka adalah mobil Taehyung selalu beraroma seperti parfumnya dan juga pengharum sintetis mobilnya. Segar dan harum. Namun mobil Jungkook selalu beraroma berbeda setiap hari; rempah Indonesia, rempah India yang pedas, vanila, mentega, lada hitam....

Walaupun Jungkook selalu mandi sebelum pulang, aromanya tetap menempel di bawah aroma sabun yang digunakannya. Apalagi hari ini saat Taehyung memasuki mobil dan mencium aroma tajam rempah Bali dan dia merasa bahwa kekasihnya pasti buru-buru untuk menjemputnya dan tidak sempat mandi di lokernya.

Itu membuatnya semakin penasaran pada rahasia apa yang disembunyikan Jungkook darinya.

“Kau sudah makan?” tanya Taehyung saat mengaitkan sabuk pengaman. “Boleh mampir beli makan? Chinese food depan sana saja, aku sedang ingin makan sapo tahu. Kau mau?”

Jungkook yang mengemudi dengan raut wajah gelisah mengangguk, “Aku mau ifumie,” sahutnya. Dia menatap jalanan saat menginjak gas, luar biasa tegang lalu berdeham. “Sayang...,” katanya.

“Ssst,” sahut Taehyung melambaikan tangan. “Nanti. Kita makan dulu lalu mandi. Setelahnya aku akan mendengarkan, oke? Kau butuh relaksasi sebentar.” Dia menjulurkan tangan lalu meremas tangan Jungkook yang berada di atas kepala perseneling.

Jungkook menghela napas dalam-dalam, mencengkram roda kemudi hingga buku-bukunya memutih. “Aku minta maaf—,”

“Tidak, tidak,” tukas Taehyung tersenyum. “Nanti, oke? Kau harus makan dulu lalu mandi. Lalu kita bicara. Gunakanlah waktunya untuk menata isi kepalamu, jangan tersulut oleh apa pun. Aku ingin kita bicara dengan kepala dingin.”

Maka Jungkook diam.

Taehyung memutar lagu mendayu-dayu di audio mobil Jungkook. Membiarkan alunan musik lembut itu membelai seluruh saraf Jungkook hingga dia merasa rileks. Saat Taehyung turun untuk membeli makanan mereka, Jungkook menyandarkan diri pada kursinya.

Menatap ke luar jendela, ke Taehyung yang duduk di kursi depan kasir warung makanan Chinese dalam balutan kemeja dan celana pullover yang rapi, menunggu pesanan mereka. Nampak sangat tampan dan nyaman. Dia sedang mengobrol dengan ibu kasir; persis Taehyung biasanya yang selalu cepat akrab dengan orang-orang.

Jungkook mengerang.

Dia seharusnya menceritakan ini sejak awal dan tidak menunggu hingga orang lain menggunakannya sebagai senjata untuk menjatuhkan Jungkook. Ini memang salahnya—karena sejak perselisihan itu, dia dan Mingyu sudah tidak saling kontak.

Dia tidak tahu bahwa sekarang Mingyu bekerja bersama Taehyung. Dia bahkan lupa dulu Mingyu bekerja dimana karena dia benar-benar ingin melupakan masalah itu.

Dan dia sama sekali tidak tahu bahwa kemudian dia bertemu dengan Taehyung. Dan jatuh cinta padanya. Dan memintanya menikahi Jungkook.

Hidup memang sebercanda itu.

“Ayo,”

Jungkook terkesirap, menoleh saat pintu terbuka dan Taehyung sedang memasuki mobil dengan plastik di tangannya yang beraroma tajam bumbu dan kehangatan. Pemuda itu membalik diri ke jok belakang, meletakkan makanan di atas kursi lalu memasang sabuk pengamannya.

“Kau masih punya Varlhona tidak di rumah?” tanya Taehyung kemudian.

“Hm, kau mau buat chaud?”

“Yap. Kau sepertinya butuh yang manis-manis.”

Jungkook menelan ludah; sepertinya malah Taehyung yang akan membutuhkan minuman manis setelah mendengar ceritanya. “Berjanjilah padaku apa pun yang aku ceritakan, tidak akan mengubah pandanganmu padaku.” katanya mengabaikan fakta bahwa Taehyung sudah memperingatkannya.

Taehyung mendongak, menatapnya langsung ke mata dan mendesah lembut. Dan hal itu malah membuat perut Jungkook mengejang oleh rasa takut dan trauma.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” katanya setenang biksu, dengan nada kalah telak yang membuat Jungkook ingin muntah.

“Tapi aku akan berusaha memahamimu. Maka tolong berceritalah dengan kepala dingin jadi aku bisa memahamimu.”

Mereka tiba di apartemen dengan bersidiam. Taehyung memasuki apartemen, menyalakan lampu dan meletakkan makanan di meja. Meminta Jungkook untuk mandi sementara dia menghangatkan makanan mereka. Jungkook mengguyur dirinya di bawah shower; memejamkan mata dan menyiapkan mentalnya.

Bertahun-tahun.

Bertahun-tahun dia sudah menyimpan rahasia ini hanya untuk dirinya sendiri dan pernah dengan ceroboh membocorkannya pada Mingyu dalam keadaan mabuk dan patah hati. Dia seharusnya faham bahwa dia harus memberitahu Taehyung rahasia ini—tunangannya tidak pernah merahasiakan apa pun darinya.

Jadi mengapa Jungkook merahasiakan ini?

Dia menyeka rambutnya ke belakang. Bernapas melalui mulutnya.

Yugyeom benar—dia berusaha menjebak Taehyung. Membuat situasi dimana sudah cukup terlambat untuk Taehyung untuk mundur. Dia ingin mengikat Taehyung dalam pernikahan sebelum dia jujur pada lelaki itu.

Dia memang seegois itu. Seangkuh itu. Sekeras kepala itu.

Mingyu benar.

Dia seharusnya mulai mengevaluasi dirinya jika dia tidak mau kehilangan Taehyung selamanya.

Jungkook mematikan kran air lalu beranjak keluar dari boks shower dan menemukan Taehyung berdiri di dalam kamar mandi dalam celana boksernya. Lelaki itu menatapnya melalui cermin lalu berbalik.

Dalam diam dia menghampiri Jungkook, merengkuh lelaki itu dalam pelukannya lalu menciumnya. Jungkook berdeguk, merasakan kesedihan dalam ciuman itu hingga seluruh sarafnya menegang ketakutan.

Apakah Taehyung sudah tahu? Apakah Mingyu memberitahunya? Itukah mengapa Taehyung bersikap tenang? Apakah dia sudah siap meninggalkan Jungkook? Atau dia akan memberi waktu untuk Jungkook sekadar membela diri dan menjelaskan?

Atau mengikhlaskannya?

Taehyung meraih lehernya, mengaitkan kedua lengannya di tengkuk Jungkook membuat rambutnya yang basah menempel ke lengannya dan memperdalam ciuman mereka. Jungkook melepaskan tangannya dari handuknya yang meluruh ke lantai dan meraih pinggang Taehyung.

Jika memang Taehyung sudah tahu, jika memang dia sudah memutuskan; maka Jungkook akan menciumnya untuk terakhir kalinya. Membiarkan seluruh inderanya merasakan Taehyung untuk terakhir kalinya sebelum dia kehilangan aroma tubuh Taehyung di ranjangnya tiap pagi, senyumannya setiap hari, suaranya setiap saat.

Jungkook nyeri saat mengingat masa-masa itu; saat dia merangkak dengan tangan dan kaki yang berdarah berusaha menggapai tali kehidupan yang menggantung terlalu tinggi.

Bertanya haruskah dia tetap hidup? Kenapa dia tidak mati saja?

Akankah dia merasakan hal yang sama lagi?

Saat ciuman mereka lepas dengan handuk Jungkook teronggok di kaki mereka. Taehyung tersenyum; begitu indah dan menyejukkan hingga hati Jungkook terasa diremas-remas.

“Aku mandi dulu, oke?” katanya tersenyum lebar, menepuk pipi lembab Jungkook dan menyeka rambutnya yang menempel di wajahnya. “Kenakan bajumu yang nyaman dan hangat, dan tunggu aku.”

Dan saat Jungkook duduk di sofa ruang tamu dengan Netflix menyala namun tidak sama sekali ditontonnya, Taehyung keluar dengan piyama kesayangannya yang bergambar gajah-gajah mungil berwarna toska. Rambutnya disisir rapi dan dia nampak segar sekali dengan wajah yang halus setelah bercukur.

“Ayo makan,” ajaknya ceria sementara di kursi, Jungkook merasa perutnya melilit.

Kenapa Taehyung belum mengamuk juga? Apakah dia sengaja menyiksa Jungkook?

Mereka makan dalam keheningan. Taehyung menonton televisi dengan ceria, menyuap makanannya dengan lahap dan nampak begitu nyaman hingga Jungkook ingin memeluknya begitu erat. Jadi dia menggeser kursinya, menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung dan melanjutkan makannya tanpa rasa berdosa.

Taehyung membelai pipinya sambil makan dan menonton televisi.

Jungkook berharap mereka bisa begini selamanya, namun akhirnya saat Taehyung menyeduh cokelat dan Jungkook menyelesaikan cucian piringnya. Mereka beranjak ke kursi dengan masing-masing mug di tangan mereka beraroma tajam cokelat murni dan rempah lezat yang kental dan lengket.

“Nah,” kata Taehyung kemudian. “Jadi, apa rahasianya?”

Jungkook mengerjap. “Kau.... belum tahu?”

Taehyung mengendikkan bahu. “Belum.” katanya. “Mingyu berusha memberitahuku tapi aku menolaknya. Menurutku rasanya lebih layak saat aku tahu langsung darimu. Sekalian, sebenarnya hubunganmu dengan Mingyu apa? Dan kenapa aku baru tahu sekarang?

“Jangan pikir aku tidak marah dan sakit hati,” kata Taehyung lembut dan Jungkook menatapnya, terpesona oleh bagaimana Taehyung bisa begitu tenang menghadapi ini saat dia merasa begitu mual oleh rasa tegang. “Aku sungguh sakit hati karena kau merahasiakan sesuatu dariku dan ternyata mengenal Mingyu selama ini tapi aku tidak tahu.

“Tapi,” katanya lagi. “Aku yakin kau pasti punya alasan. Maka, tolong. Buat aku mengerti, oke?”

Jungkook memainkan mugnya yang terasa hangat lalu menelan salivanya dengan tercekat. “Bisakah kau mendengarkannya hingga selesai sebelum.... entahlah, memutuskan pertunangan kita?”

Taehyung mengerjap. “Kedengarannya serius,” sahutnya lalu membenahi duduknya, meraih tangan Jungkook yang dingin dan meremasnya. “Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha. Jadi, buat aku mengerti, oke?”

Chef muda itu mendongak, menatap dalam ke mata Taehyung yang berkerlip penuh kasih dan kesabaran. Bagaimana dia bisa dianugerahi lelaki sebaik dan selembut Taehyung setelah apa yang dilakukannya di masa lalu?

Dia mendesah panjang, dia menatap tangannya yang digenggam oleh Taehyung di pangkuannya dengan nyeri; akankah Taehyung tetap menggenggam tangannya seperti ini setelah mendengar ceritanya?

“Semuanya akan berkaitan hingga ke bagaimana aku mengenal Mingyu. Dan aku... berbohong tentang beberapa hal.” Jungkook menatap Taehyung, mencoba menguraikan wajahnya—mencoba mencari kerut tidak setuju atau amarah. Tapi tunangannya menatapnya dengan tenang.

“Lalu?” tanyanya.

Cincin tunangan mereka terasa dingin di telapak tangan Jungkook saat dia dengan perlahan mulai membuka laci ingatan yang sudah berusaha dikuburnya selama ini. Bersama Taehyung dan oleh Taehyung.

Namun dia seharusnya menyelesaikan dulu masalahnya di masa lalu sebelum memulai lembaran baru, kan?

“Kejadiannya saat aku masih di sekolah kulinari...”

*

The Chef #24

“By,”

“Apa?!”

“Ya Tuhan, masih galak ternyata.”

Jungkook terkekeh geli, menatap Taehyung yang sedang duduk di teras depan kamar mereka, sibuk mengecek laporan dari Bogum yang akan digunakannya untuk Morning Briefing esok setibanya di Jakarta. Dia sudah menunduk ke laporannya sejak tadi sekembalinya mereka dari gym, memesan bir dan kacang tanah untuk bekerja yang membuat Jungkook geli.

Memang hanya kekasihnya ini yang meneggak alkohol seperti air putih.

Wajahnya ditekuk, alisnya berkerut dan dia menolak bicara dengan Jungkook. Padahal itu sama sekali bukan salah Jungkook jika saat dia sedang sibuk berolahraga, seorang gadis menghampirinya.

Taehyung duduk di sudut ruangan, mengunyah cemilan dan minum virgin mojito (“Sepagi ini?” tanya Jungkook tidak habis pikir dan Taehyung mengangguk, “Sepagi ini.” Lalu menambahkan satu shot vodka ke dalam minumannya. “Vodka, 'kan, air putih,” tambahnya dan Jungkook tertawa), mengamati bagaimana tubuh Jungkook bergerak saat berolahraga saat dia kemudian melihat gadis ini menghampiri Jungkook.

Dalam setelah yoganya yang ketat dan rambut setengah basah oleh keringat serta wajah sok seksinya yang nyaris saja ditampar Taehyung. Dia membawa botol minum, nampak baru saja menyelesaikan kelas yoga dan pilatesnya sebelum menyadari kehadiran Jungkook di gym itu; memancarkan aura seksi selayaknya dewa seks.

Dia hanya menghampiri Jungkook, tersenyum lalu bertanya: “Halo, aku baru melihatmu di sini, kau tamu baru, ya?” dia mengulurkan tangan. “Siapa tahu kita bisa jadi rekan gym selama di sini.”

Gadis itu memasang wajah menggoda yang sudah sangat familiar dengan Jungkook; senyuman lebar, menatap dari balik bulu mata palsunya dengan kerlip menggoda yang jika boleh diapresiasi, lumayan jika saja Jungkook menyukai perempuan.

Dia baru akan menolak gadis itu dengan halus—sudah terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini saat berolahraga saat seseorang tiba di sisi mereka; aroma Taehyung seperti stroberi, vodka dan daun mint dari minuman yang sedang digenggamnya. Matanya menatap gadis itu seolah dia adalah hama pengganggu yang harus dienyahkan dan Jungkook berdeham keras, menyamarkan tawanya.

“Ada kepentingan apa dengan tunangan saya, Mbak?” tanyanya seketika itu juga dengan nada setajam samurai yang membuat Jungkook kemudian berbatuk-batuk untuk menyamarkan tawanya lagi yang sekarang mulai tidak terkontrol.

Gadis itu mendongak, kaget. “Oh,” katanya kikuk. “Halo,” dia kemudian melirik Jungkook. “Ini tunanganmu?”

“Masih berani bertanya?” tanya Taehyung kemudian, suaranya meninggi. “Memangnya tidak bisa lihat cincin di tangannya??”

Jungkook mengulaskan senyuman sejuta watt-nya yang menyilaukan, menyentuh kekasihnya yang sudah akan meledak oleh emosi. “Saya baru saja akan memberitahu Anda bahwa tunangan saya tidak akan suka dengan ini,” dia mengangguk sopan. “Maaf, ya?” lalu dia meraih pinggang Taehyung.

“Ayo,” bisiknya, mencium pelipis Taehyung yang bersidekap, masih menoleh jengkel pada gadis yang sekarang merona hingga ke ubun-ubunnya, salah tingkah karena dilabrak kekasih lelaki yang coba dirayunya.

“Memangnya dia tidak bisa lihat cincin di tanganmu?” tanya Taehyung dengan suara keras sehingga seluruh gym menoleh pada mereka. “Bisa-bisanya menggoda lelaki milik orang lain. Mau jadi apa dia nanti besarnya,”

Jungkook berbatuk-batuk keras, menyamarkan tawanya karena jika dia benar-benar tertawa maka Taehyung akan membantingnya ke lantai. “Dia sudah besar,”

“Nah, dia memang sudah besar. Lalu kenapa masih bodoh?”

Jungkook akhirnya tertawa, suaranya jernih dan keras. Benar-benar terhibur. “Sudah, sudah, ayo kembali ke kamar?” dia membimbing Taehyung menjauh dari gym, beberapa tamu terkekeh geli melihat pertunjukan drama mereka.

Dan Jungkook memilih untuk menjinakkan macannya di kamar daripada harus diusir oleh staf gym karena membuat kegaduhan.

“Besok kalau kau akan pergi ke gym, aku ikut.”

Jungkook tertawa. “Untuk apa?”

“Melindungi hak milikku lah, apa lagi?”

Jungkook menyerah, dia meraih Taehyung ke dalam pelukannya.

Menyapu kakinya hingga Taehyung terkesirap kaget dan menangkapnya dalam lengannya yang kuat sebelum jatuh menghantam lantai dengan punggungnya, membaringkannya turun melayang di udara selayaknya gerakan final dansa lalu mencium bibirnya. Dramatis sekali, persis seperti Taehyung. Mereka berciuman di lorong hotel dan membuat beberapa staf terpaksa harus berputar balik dengan panik dan malu agar tidak menganggu mereka.

“Sudah?” tanya Jungkook mendayu-dayu dengan tubuh Taehyung masih melayang di atas lengannya.

Taehyung menatapnya, senyuman kecil bermain di bibirnya. “Kau membuatku malu,” keluhnya pura-pura kesal.

“Memangnya kau tidak?”

“Jadi maksudmu aku ini—!”

Jadi, dia menciumnya lagi; apa saja agar Taehyung diam.

Jungkook tersenyum simpul, mengamati tunangannya dari atas ranjang. “Taeby...” panggilnya dengan nada menggoda. “Tadi, 'kan, sudah tidak apa-apa. Kenapa ngambek lagi, sih?”

“Bacot.”

“Aduh, aku dimarahi.” keluh Jungkook geli, wajahnya berkerut dengan topeng palsu. “Padahal aku sama sekali tidak menanggapi gadis tadi, loh?”

“Iya, karena aku melihatnya. Coba jika tidak?”

Jungkook tertawa, lalu melompat bangun dari kasur yang berderit. Dia hanya mengenakan celana boksernya setelah mandi sepulang dari gym, menggendong Taehyung dalam lengannya—bayaran agar tidak ngambek. Memamerkan otot bagian atas tubuhnya yang menakjubkan serta tatonya. Kakinya melangkah ke arah Taehyung lalu merangkulnya dari belakang, mencium pelipisnya sayang.

“Masa aku harus mengangkatmu ke dinding lagi agar dimaafkan?” tanyanya di telinga Taehyung lalu menciumnya. “Aku bersumpah tidak ada gadis yang kutanggapi. Kau bisa tanya Yugyeom. Dimaafkan, tidak?”

Taehyung menatapnya dengan mata memicing. “Aku tidak percaya padamu.”

Jungkook mengendikkan bahunya. “Percaya itu sama Tuhan,” katanya lalu mengaduh keras saat Taehyung mencubit puting dadanya. “Sakit, By!” serunya mengusap dadanya yang nyeri.

“Ayo ganti baju,” kata Taehyung kemudian, meletakkan Mac-nya di atas meja. “Kita pergi. Masa hari terakhir di Bali kita hanya akan bermalas-malasan di kamar seperti babi?”

“Aku 'kan habis olahraga.”

“Terserah. Ayo, reservasiku pukul 1 siang.”

“Wah, kita akan makan apa, Chief?” tanyanya pada punggung Taehyung yang sekarang membuka lemari, mencari pakaian untuk dikenakan.

“Makanan enak.” sahut kekasihnya sekenanya, kepalanya terkubur dalam lemari rotan kamar mereka.

“Selain makananku?”

“Bersikaplah congkak sekali lagi, aku akan membantingmu ke lantai.”

“Aw, kita nanti boleh mampir ke supermarket tidak?”

“Mau beli apa?”

“Ovomaltine.”

“Nope, nope. Nope.”

“By....?”

“Hah. Whatever.”

“Yes!”

*

The Chef #19

“Tidak ada retak atau pendarahan dalam, Pak Taehyung tenang saja.”

Jungkook melirik kekasihnya yang melumer oleh rasa lega di kursinya seperti mentega yang dipanaskan saat akhirnya dokter menerangi hasil ronsen kepala Jungkook dan menunjukkan bahwa segalanya baik-baik saja.

“Tapi dia sempat merasa telinganya berdenging, itu bagaimana, Dok?” tanya Taehyung lagi dengan keras kepala dan Jungkook mendesah, bersandar di kursinya dengan tenang.

Saat dia akhirnya menceritakan apa yang dirasakannya saat kepalanya terbentur, Taehyung langsung tanpa basa-basi dan belas kasihan, memaksanya mengenakan pakaiannya dan menyeretnya ke lobi—meminta satu driver hotel untuk mengantarnya ke rumah sakit swasta terbaik di Bali.

Saat ditanya kenapa swasta karena rumah sakit umum daerah lebih dekat dari hotel, dia balik membentak driver hotel hingga Jungkook meringis: “Saya tidak suka tunangan saya harus menunggu antrian panjang pasien BPJS dan rujukan dari luar daerah. Saya mau swasta.”

Jungkook malu sendiri dan memint maaf diam-diam pada driver hotel yang wajahnya pucat karena kaget dibentak Taehyung. Dia menyelipkan seratus ribu untuk driver itu saat mereka turun di parkiran rumah sakit dan meminta beliau membeli makanan atau rokok sebelum Taehyung berteriak tidak sabar:

“By, ayo!”

Jungkook tersenyum, menatap tunangannya yang rewel itu dengan penuh sayang. Taehyung memang akan melakukan apa pun untuk memastikannya baik-baik saja, Jungkook menikmati sekali perhatiannya yang luar biasa berlimpah itu.

Dan sekarang mereka di sini, menyaksikan Taehyung mendebat diagnosis ahli tentang kepala Jungkook—persis seperti Taehyung-nya yang biasa.

“Telinga berdenging itu reaksi kepalanya atas benturannya dan sifatnya sementara,” kata dokter itu tenang, sudah terbiasa menghadapi pasien yang tidak terima dan kritis semacam Taehyung. “Kepala Bapak Jungkook baik-baik saja dari hasil ronsennya; tidak ada gumpalan darah atau retak sama sekali. Apakah benjol atau memar?” tanyanya pada Jungkook.

Jungkook menggeleng lalu mengaduh kecil saat Taehyung dengan mendadak menyentuh kepalanya, membuatnya menunduk agar dokter bisa melihat kepalanya.

“By, calm down!” seru Jungkook saat kekasihnya menyibakkan rambutnya, memaksa dokter untuk melihat kulit kepalanya.

Dokter itu mendenguskan senyuman profesional atas tingkah itu lalu menyentuh kepala Jungkook dengan lembut setelah menggumamkan permisi. “Tidak apa-apa,” katanya kemudian. “Tidak ada luka sama sekali, tidak ada reaksi dalam juga. Kepala kekasih Anda kuat,” katanya menghibur.

Taehyung menatap dokter di hadapannya. “Anda yakin?”

“Yakin.”

“Jika terjadi sesuatu saya akan menuntut Anda ke pengadilan.”

Mulut Jungkook terbuka, kaget. “By, demi Tuhan. Tidak perlu sejauh itu.”

Dokter itu menatap Taehyung tenang, tersenyum walaupun Taehyung sedang bersikap tidak sopan. “Anda bisa lihat sendiri hasil ronsennya,” katanya. “Jika Anda belum yakin, Anda bisa membawa hasil ini ke dokter lain sebagai pendapat kedua.”

“Tidak, tidak.” kata Jungkook tersenyum pada dokter itu. “Kami percaya pada kemampuan Anda dan saya sendiri merasa kepala saya baik-baik saja.”

“Tapi tetap,” kata dokter itu saat mereka akhirnya berdamai dan Taehyung berhasil dijinakkan. “Jika dalam satu minggu Anda merasakan nyeri atau migren yang menyiksa, kembali untuk diperiksa lebih lanjut, ya, Pak. Saya sarankan untuk melakukan CT-Scan lengkap untuk mengecek lebih lanjut.”

Jungkook mengangguk, mengepit hasil ronsennya yang dimasukkan ke map kertas tebal. “Baik, Dokter. Terima kasih.”

“Jika terjadi sesuatu padamu kedepannya, aku akan menuntut dokternya.” kata Taehyung seraya melangkah ke arah vila mereka setibanya di hotel setelah membentak bell boy yang membukakan pintu untuk mereka dan Jungkook terpaksa harus meminta maaf pada pemuda polos itu, yang mengangguk faham.

“Dokter bukan Tuhan,” hibur Jungkook mengejar kekasihnya dan meremas tangannya. “Mereka butuh waktu untuk melihat hasil yang benar. Kau dengar sendiri tadi dokter memintaku untuk memeriksakan kepalaku setelah satu minggu.

“Mereka memeriksa berdasarkan reaksi tubuh, dan jika sekarang tubuhku belum bereaksi dan mereka tidak menemukan apa pun—bagaimana bisa jika seminggu kemudian tubuhku bereaksi itu jadi salah mereka? That's unfair.”

Taehyung membuka kamar mereka dan menghambur masuk, mengabaikan Jungkook yang mendesah panjang, menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan. Kamar mereka sudah rapi setelah Jungkook memesan House Keeping untuk membereskannya di Front Office tadi karena dia merasa Taehyung mungkin akan merasa lebih baik jika kamar mereka bersih.

Dia juga memesan bunga di meja diganti dengan bunga baru dan dengan puas dia melihat seikat besar mawar diletakkan di atas vas yang tadinya terisi anggrek sintetis. Aroma lembut mawar sudah menguar memenuhi ruangan.

Sulit sekali jika Taehyung sudah bersikap dramatis seperti sekarang. Dia hanya akan bersikap seperti ini saat merasa tertekan dan bingung. Uring-uringan dan mustahil dijinakkan. Jungkook sudah meminta maaf pada lima staff selama perjalanan mereka ke kamar karena terkena bentakan Taehyung yang segalak macan.

“Hei, hei,” bisik Jungkook, meletakkan hasil ronsennya di atas meja lalu meraih tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya. Mengecup tengkuknya dengan lembut dan intim. “Jangan marah-marah, oke?” bisiknya serak. “Aku baik-baik saja,”

Taehyung mengerang, “Aku takut sekali,” katanya kemudian, tangannya mengenggam tangan Jungkook yang dikaitkan di atas perutnya. “Aku takut terjadi sesuatu padamu,”

“Aku baik-baik saja, aku masih di sini,” Jungkook menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung lalu mengulum telinganya dengan lembut hingga Taehyung mendesah kecil. “Tenang, tenang....” bisiknya mendayu-dayu, menjulurkan lidahnya dan menjilat cuping telinga Taehyung yang memerah.

“Kau tidak akan kehilanganku,” katanya mengecup pelipis Taehyung dan menempelkan tubuhnya yang mendamba ke tubuh Taehyung yang langsung meresponnya dengan lenguhan kecil yang mengirimkan sensasi ke seluruh tubuh Jungkook.

Taehyung menggeliat, “Kau memang bangsat manipulatif,” keluhnya saat berbalik menghadap Jungkook yang meraupnya lalu menggendongnya, mengaitkan kaki Taehyung di pinggangnya yang sekuat batu dan menarik ciuman panas malas dari dagu hingga ke tulang selangkanya.

“Kau mau selai stroberi atau cokelat?” tanyanya saat menempelkan tubuh Taehyung ke dinding, membelai dada Taehyung melalui pakaiannya dengan lidahnya yang panas.

“Hmm...,” pikir Taehyung terengah, kepalanya bersandar di dinding dengan bibir terkuak. Otaknya terasa meleleh; jika benturan tadi tidak merusak kepala Jungkook sama sekali, maka ciuman Jungkook-lah yang merusak kepala Taehyung. “Apa saja,” balasnya menyedihkan. “Tolong segera...”

“Bagaimana jika... aku menjejerkan stroberi di tubuhmu dan memakannya langsung dari sana?” bisik Jungkook rendah dan Taehyung mengerang keras oleh suaranya. “Kau suka itu?”

“Suka...” sahutnya tercekat saat tubuh mereka yang saling menebal menggelisahkan bergesekan melalui serat celana mereka dan akal sehat Taehyung menggelincir dari tempatnya, jatuh pecah berantakan. “Tolong segera,” katanya terengah. “Sekarang.”

“Hm...,” kata Jungkook, tehibur. “Masih bisa galak ternyata...” dia menjulurkan lidahnya, menjilat sisi leher Taehyung yang terbuka dan membuat pemuda di pelukannya terengah seperti binatang, mendambakan lebih dan lebih lagi sentuhannya.

“Kita lihat saat kau di ranjang dengan stroberi di atas tubuhmu, apakah kau masih bisa galak,” dia melempar Taehyung ke ranjang yang berderit lalu meraih telepon. Menghubungi in room dining, memesan stroberi dan Nutella dan meminta agar makanannya diletakkan di depan pintu saja.

Jungkook merangkak ke ranjang, ke atas Taehyung yang mengerut oleh gairah. Dia menaungi kekasihnya yang mengerang. “Sabar.” katanya lembut. “Makanannya belum datang, aku tidak mau memulai apa pun tanpa makanan di tubuhmu...”

“Kau bedebah bangsat,” gerutu Taehyung, pusing oleh gairahnya yang tidak tertahankan. “Kau dan food kink sialanmu...”

“Hmm..., galaknya,” Jungkook terkekeh serak, terhibur oleh bagaimana Taehyung berubah begitu garang dan kasar saat keinginannya tidak dipenuhi dan jika mau jujur, itulah salah satu alasan mengapa dia selalu turn on setiap kali melihat Taehyung bersikap galak dan tegas pada semua orang.

“Bagaimana dengan muscle dan tattoo kink-mu, itu dihitung tidak?” tanyanya lembut, membelai tubuh Taehyung dengan punggung tangannya tanpa benar-benar menyentuhnya dan menatap dengan terhibur bagaimana rambut di tangan Taehyung menegak oleh sentuhannya.

Dia membuat jiwa alfa Jungkook tertantang, untuk menundukkannya, membuatnya mengerang di kaki Jungkook dan menyebutkan namanya saat orgasme. Dia menyukai sensasi dominasi itu; menjinakkan lelaki segalak Taehyung, membuatnya menurut.

“Aku akan membiarkanmu mengoleskan Nutella di tatoku dan menjilatnya hari ini, apakah itu akan membuat suasana hatimu membaik?” rayunya dengan suara semanis madu yang menetes-netes hingga Taehyung tidak sanggup lagi bahkan hanya bernapas dengan teratur.

Sebelum Taehyung sempat meludahkan umpatan lain, bel pintu ditekan dan pintu diketuk tiga kali—sesuai standar internasional. “In room dining, Sir.” kata salah satu staff Food and Beverage yang membawakan pesanan mereka dari balik pintu. Dia memberi jeda sepuluh detik sebelum kembali mengulang bel dan ketukannya.

“In room dining, Sir. I left it here for you to collect.” katanya lalu berlalu.

Jungkook menatap tunangannya dengan alis terangkat sebelah dan lidahnya menyodok bagian dalam pipinya. “Kau siap, Sayang?” Senyuman bermain di bibirnya dan Taehyung meraih kepalanya, menciumnya dengan suara keras lalu mengigit bibirnya.

“OW!” seru Jungkook tertawa serak saat rasa darah meleleh di bibirnya. “Galak sekali,” katanya dengan nada tidak setuju. “Kenapa kau galak sekali, Baby?”

Taehyung nyaris meludahi wajah congkaknya. “Bawa makanan bangsat itu kemari,” dia berdeguk oleh gairah. “Sebelum aku benar-benar meludahimu,”

Jungkook tertawa, “Oh, Sayang, kau seksi sekali,” dia merunduk, mencium bibir Taehyung dengan malas; melumatnya perlahan seperti sedang menyicipi makanan mahal dan merasakan teksturnya di lidahnya.

“Marah-marahlah, aku suka sekali. Barks at me, it turns me on,” dia menjilat bibir Taehyung yang terkuak sebelum turun dari ranjang, melepas kausnya dan celananya seraya berjalan ke pintu untuk mengambil makanan mereka.

Setidaknya sekarang pikiran Taehyung terlalu sibuk untuk sekadar memikirkan kepala Jungkook.

*

The Chef #15

Jungkook menyelipkan dompetnya kembali ke celana setelah membayar tiket masuk mereka.

Mereka berjalan sekitar 30 menit dari pusat Ubud ke Monkey Forest yang ternyata dekat sekali. Dengan kemacetan yang mustahil diuraikan di jalanan kecil Ubud yang padat, Google Maps sudah melaksanakan tugas yang luar biasa dengan menginformasikan mereka bahwa akan lebih cepat jika mereka berjalan kaki saja.

“Mohon untuk menjaga barang bawaannya, ya, Pak, khususnya tas dan kamera. Dan tolong melepas aksesoris seperti kacamata dan anting sebelum memasuki tempat wisata karena rawan dicuri monyet-monyet,”

Jungkook mengangguk, berterima kasih pada penjaga loket tiket yang mengingatkan mereka lalu menunjuk ke arah pinggir pintu masuk, menggiring Taehyung ke sana untuk menyimpan kacamata mereka ke dalam tas dan Jungkook melepas antingnya lalu menyelipkannya ke kantung celana.

“Aneh rasanya,” dia mengusap-usap cuping telinganya yang terasa ringan setelah melepas anting-antingnya.

“It's okay,” Taehyung merangkulnya sayang. “Karena sangat tidak lucu jika nanti ada monyet yang menyambar antingmu lalu telingamu sobek,”

“By,” Jungkook mendelik pada arah pembicaraan tunangannya dan Taehyung tertawa.

“Apa?” katanya geli. “Itu fakta, oke?”

Mereka kemudian mengikuti alur masuk wisatawan dari pintu masuk. Tempat itu sejuk dan asri dengan pepohonan tinggi dan monyet-monyet liar yang berlarian ke sana kemari. Nampak sangat tenang berada di sekitar manusia yang asik memfoto mereka atau duduk di dekat mereka. Ada banyak penjual buah-buahan bagi mereka yang ingin memberi makan para monyet.

Taehyung membeli sesisir pisang.

“Perhatian sekali pada kaummu, ya?” komentar Jungkook, berdiri agak jauh saat Taehyung dengan berani menghampiri monyet-monyet yang duduk di pinggir jalan dan menawarkan buah-buahannya.

“Iya,” balas Taehyung memutar bola matanya pada lelucon basi Jungkook saat monyet-monyet di hadapannya menerima buah-buahannya. “Supaya mereka merestui hubungan kita. Kau tahu tidak, jika mereka tidak setuju mereka bisa menyerangmu? Kau bisa dicakar-cakar sampai habis,” Dia menoleh ke Jungkook yang meringis mendengarnya.

“Makanya, sini, minta restu.” katanya.

Jungkook tertawa, sudah faham bahwa jika dia berusaha melemparkan ejekan pada Taehyung maka pemuda itu akan menemukan cara untuk membalikkan ejekannya dengan mulus. Dia akhirnya menghampiri Taehyung yang sedang berjongkok di jalan dan berjongkok di sisinya.

Meraih sepotong pisang dan mengulurkannya ke monyet bayi yang menatapnya dengan curiga sebelum dengan takut-takut menjulurkan tangan.

“Tidak apa-apa,” kata Jungkook seperti menghadapi bayi manusia dan membuat Taehyung nyaris terguling di tanah tertawa. “Ayo, diambil. Aku tidak akan mengigitmu,”

Dia menggeleng tidak habis pikir dan berdiri, menunduk menatap kekasihnya yang masih berusaha merayu monyet kecil dengan sepotong pisang. Nampak seperti anak kecil yang berusaha merayu kucing liar untuk makan roti yang disobek dari bekal makan siangnya.

Jungkook juga begitu saat hari dimana Taehyung membawa Bubble pulang. Dia nampak seperti baru saja menang lotere satu milyar, wajahnya bersinar cerah oleh rasa bahagia dan langsung bersila di depan kandang Bubble yang masih mendengking ketakutan karena dipindahkan dari tempat lamanya.

“Tidak apa-apa,” katanya hari itu, dengan nada penuh sayang yang sama persis dan mengulurkan makanan anjing dalam mangkuk. “Ayo, berteman. Aku tidak akan mengigitmu.”

Walaupun sebenarnya potensi Jungkook yang digigit lebih besar tapi Taehyung merasa tingkah itu menggemaskan sekali.

Monyet kecil itu akhirnya menyambar pisang di tangan Jungkook sebelum bergegas berlari kembali ke ibunya yang mendesis marah pada Jungkook yang langsung berdiri dengan posisi menyerah.

“Oke, oke, tenang. Tidak ada yang disakiti!” serunya pada si ibu monyet yang masih memamerkan seluruh gigi depan tajamnya pada Jungkook, merasa terancam dan Taehyung tertawa.

“Ini sebenarnya kaumku atau kaummu, By? Kau kelihatan jauh lebih akrab dengan mereka,” Taehyung tertawa lalu meraih tangannya dan menggenggamnya erat. “Ayo, lanjut.”

“Kita akan memberi makan monyet lagi, tidak?”

Taehyung memutar bola matanya, dasar bayi besar bertato. “Nanti,” katanya. “Mereka baru habis diberi makan, takut obesitas.”

Jungkook menatapnya dengan alis berkerut. “Memangnya begitu?”

Taehyung nyaris menepuk keningnya. “Kau ini benar-benar,” katanya tertawa. “Ayo, jalan-jalan! Nanti kubelikan monyet untuk dipelihara,”

Mereka kemudian menelusuri Monkey Forest yang ramai dan sejuk. Matahari Bali mengintip dari awan sementara angin yang bertiup di dalam hutan itu terasa sejuk sehingga hawa panas tidak terlalu terasa. Mereka mengikuti jalur masuk yang licin, menuju beberapa pusat wisatawan yang adalah Pura di tengah hutan.

Ada sungai kering di bawahnya dan banyak wisatawan yang mengantri untuk berfoto di atas jembatan itu karena naganya sangat menakjubkan dengan hamparan lumut di atasnya dan akar-akar gantung pohon beringin raksasa di atasnya; menambah kesan magis seluruh tempat yang mereka kunjungi.

Taehyung berhenti di depannya, mengantri untuk berfoto dan melihat sesaji yang masih harum dan basah di atasnya. Dia mengamati benda itu, menghirup aromanya yang harum dan menenangkan dan menoleh pada Jungkook untuk memberitahunya penemuan barunya yang unik ini.

Tetapi dia batal mengatakannya saat melihat pemandangan di belakang Jungkook dengan geli. Pemandangan keluarga muda dengan anak bayi di pelukan sang ibu. Ada anak kecil yang sedang menjerit dramatis, menangis dan mengamuk karena keinginannya tidak dipenuhi dan melempar botol minuman di tangannya ke arah Jungkook yang berdiri membelakanginya.

“By, awas di belakangmu,” katanya, masih tersenyum melambaikan tangan pada Jungkook yang berdiri beberapa meter darinya, langsung merespon gerakannya dengan menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat apa yang harus dihindarinya.

Hal yang tidak diperhitungkan Taehyung adalah saat momentum itu membuat kepala Jungkook malah membentur bagian sisi naga yang mengapit pintu masuk itu dengan suara keras yang menyakitkan.

Seluruh orang di sekitar mereka terkesirap kaget dengan suara seragam saat Jungkook mengerang keras oleh benturan itu.

“Astaga!” seru Taehyung, seluruh wisatawan yang ada di sekitar mereka langsung menoleh dengan kaget atas suara itu. Taehyung menghampiri tunangannya yang langsung merosot ke tanah sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya, mengerang.

Botol yang dilempar anak itu meleset melewati kepala Jungkook dan terjun bebas ke sungai di bawah mereka dengan suara keresak keras saat menghantam dedaunan dan air. Wisatawan-wisatawan di seberang jembatan menoleh, menjulurkan kepalanya berusaha melihat hal apa yang terjadi di seberang sana.

“By, astaga!” Dia langsung mengusap bagian kepala Jungkook yang terbentur, mencari darah dengan panik. Namun tangannya terasa kering dan dia bersyukur atas itu. “Kau oke?” tanyanya, tegang—asam lambungnya naik saat memikirkan kepala Jungkook dan suara benturannya yang memualkan tadi.

“Kau baik-baik saja? Pusing? Maafkan aku, sungguh, maaf!”

Orang-orang di sekitar mereka langsung berisik dan mulai mengerumuni Jungkook. Taehyung yang menyadari hal ini langsung mengibaskan tangannya; meminta mereka semua mundur. “Maaf, tolong beri ruang, Bapak-Ibu, maaf!” serunya pada wisatawan yang langsung beringsut mundur.

“Ya Tuhan,” orangtua bayi itu menghampiri mereka dan Taehyung melirik dengan matanya saat ibu si bayi mencubitnya karena bersikap nakal; bayi itu menangis semakin keras tapi ibunya mendelik dan mengatakan hal semacam dia telah bersikap nakal dan membuat orang lain kesakitan.

Ayah si bayi menghampiri Jungkook, panik luar biasa. Dari wajahnya, dia tidak mungkin lebih tua dari Jungkook. “Anda baik-baik saja? Saya antar ke rumah sakit, ya?” tawarnya dengan nada khawatir yang kental.

Jungkook meringis, lalu membuka matanya. Mengerjap saat pandangannya berkunang-kunang merespon benturan mendadak itu. Telinganya berdenging sejenak, namun dia bergegas menggelengkan kepalanya. Berusaha mengenyahkan dengingnya lalu tersenyum pada si ayah yang khawatir.

Dia tidak merasakan sakit yang berarti di kepalanya, hanya denging di telinganya karena benturan itu mengenai sisi dekat telinganya. Tapi selebihnya dia merasa baik-baik saja; tidak merasakan darah atau bengkak.

“Saya baik-baik saja,” katanya serak dan menenangkan. “Tidak apa-apa,” Dia menyentuh kepalanya lagi yang sekarang mulai terasa baik-baik saja; pengliatannya dan pendengarannya mulai jernih kembali. “Hanya syok, tidak apa-apa.”

Ayah si bayi menatapnya cemas, “Saya minta maaf, sungguh. Anak saya tidak pernah senakal ini sebelumnya,” dia membentuk gestur meminta maaf yang tulus. “Jika Anda ingin ke rumah sakit, tolong beritahu saya. Saya akan mengganti biayanya.”

“Kau baik-baik saja?” tanya Taehyung di sisinya, membantu Jungkook berdiri. Pemuda itu mengerjap, memegang kepalanya dan menggeleng ringan berusaha mengenyahkan suara denging di kepalanya. “Kau mau ke rumah sakit? Kita cek kepalamu, ya?”

Jungkook memberi tanda pada Taehyung untuk diam sebentar sementara dia berusaha menata isi kepalanya yang kacau. Saat dia berusaha berdiri, kepalanya kembali berdenging dan dia meringis. Terhuyung sehingga Taehyung bergegas menggunakan tubuhnya untuk menyangga Jungkook. Dia mengeluarkan botol minum yang tadi dijejalkannya ke tas mereka, lalu menawarkannya pada Jungkook.

Sementara pemuda itu minum, Taehyung menumpukan berat tubuh Jungkook padanya seraya membimbingnya duduk di pembatas jalan sementara orangtua bayi itu berdiri di dekat mereka dan kerumunan wisatawan mengamati mereka dari jarak beberapa meter. Seorang petugas Monkey Forest yang mengenakan jarik dan udeng menghampiri mereka dengan panik.

Taehyung kemudian mengecek kepala Jungkook yang terbentur. Dia melepas ikatan man bun Jungkook lalu menyingkap rambutnya dengan lembut, dengan ujung jemari dia memijat kulit kepala Jungkook dengan sayang.

“Katakan jika ada yang sakit, oke?” katanya lembut pada Jungkook yang sekarang terduduk, menunduk dengan kedua tangannya ditumpukan di kakinya yang terbuka. Dia mengangguk tanpa suara.

“Saya antarkan ke rumah sakit saja, ya?” tawar petugas Monkey Forest itu dengan logat Bali. “Cek kepala yang terbentur,”

“Tidak, tidak,” kata Jungkook, mendongak dan tersenyum menenangkan semua orang yang menatapnya cemas dan penasaran. “Ini tidak apa-apa, hanya memar. Nanti kami sendiri yang akan ke rumah sakit,” dia lalu menoleh ke orangtua bayi yang cemas di hadapan mereka. “Tidak apa-apa, sungguh. Saya baik-baik saja.”

Lalu dia menoleh ke Taehyung yang menatapnya cemas, meraih tangannya dan meremasnya lembut. “It's okay,” katanya. “Kepalaku oke, pusingnya sudah hilang. Tidak sekeras suaranya kok, tenang saja.”

“Sungguh?” tanya Taehyung lagi, masih cemas.

“Sungguh,” balas Jungkook tegas. “Ayo, kita jalan-jalan lagi.”

Taehyung menatapnya tidak percaya lalu akhirnya mendesah. “Kita tetap harus ke rumah sakit, jika nanti kepalamu sakit.” Tukasnya tidak bisa diganggu gugat.

Mereka kemudian menerima permintaan maaf orangtua si bayi yang masih berusaha ingin mengganti biaya periksa tapi Jungkook menolak dengan ramah dan memberi pesan mereka untuk menjaga bayi mereka lebih baik lagi di tempat ramai karena takutnya membahayakan orang lain khususnya adegan melempar botol itu. Mereka meminta maaf lagi, dengan penuh rasa bersalah sebelum akhirnya mereka berpisah setelah Taehyung akhirnya memberikan mereka kartu namanya untuk dihubungi lebih lanjut dan sang ayah bayi memberikan nomornya pada Taehyung.

Kerumunan dibubarkan oleh petugas yang masih berusaha menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit tapi Jungkook menolaknya karena kepalanya sudah terasa baik-baik saja sekarang. Tidak ada hal yang salah sama sekali.

Taehyung berjalan di sisinya, masih khawatir. “Kau oke?” tanyanya lagi, meremas tangan Jungkook.

“Sangat oke,” sahut Jungkook menepuk tangan Taehyung lalu membawa tangan mereka ke bibirnya, mengecupnya lembut. “Aku masih bisa menggendongmu kembali ke hotel jika kau mau,”

Taehyung tertawa serak, namun masih dengan nada khawatir di ujung tawanya. “Tidak perlu bersikap terlalu Hercules begitu,” katanya. “Kita kembali saja ke hotel, oke? Lalu ke rumah sakit,”

“Tidak perlu ke rumah sakit,” desah Jungkook. “Kepalaku oke,” dia mengusap rambutnya naik dan menggunakan karetnya untuk menguncir rambutnya yang berantakan. “Paling hanya benjol, nanti kita kompres.”

“Tapi jika kau merasa pusing atau apa, kita harus tetap ke dokter, oke? Aku tidak terima debat. Aku akan menyeretmu jika perlu,” balas Taehyung dan Jungkook tertawa serak.

“Trims, Sayang.” katanya lalu merangkul pinggangnya, menariknya mendekat ke tubuhnya lalu mengecup pelipisnya sayang. “Aku sangat mencintaimu,”

Taehyung tertawa. “Aku juga, Bayi Besar. Aku juga,” balasnya, membelai pipi Jungkook lembut. Merasa mual oleh rasa cemas yang sejak tadi bercokol di perutnya dan sekarang perlahan mulai meluruh karena Jungkook nampak baik-baik saja. Kepalanya juga kering oleh darah—mungkin benar, tidak separah suaranya.

“Bagaimana jika rumah sakitnya diganti dengan aku berbaring di pangkuanmu, dimanja dan diciumi?”

“Tentu saja boleh.”

“Some sex too?”

Taehyung memutar bola matanya, tersenyum. “Anything.”

Mereka keluar dari Monkey Forest, mengecek maps dan menemukan bahwa hotel mereka hanya tiga kilometer jauhnya lalu memutuskan untuk berjalan kaki saja sembari menyegarkan kepala dan menikmati suasana Ubud yang begitu kental dengan budaya Bali. Terasa ramah dan membuat betah.

Setengah perjalanan saat Jungkook kemudian tanpa aba-aba berhenti dan berjongkok di depan Taehyung yang menatapnya bingung.

Mereka sedang di jalanan sibuk Ubud yang ramai oleh wisatawan dan penduduk lokal; jajaran restoran, toko pakaian dan cinderamata berjejer di jalanan. Lalu-lintas yang ramai dan juga pejalan kaki yang menoleh saat melewati mereka karena menghambat perjalanan mereka.

“Naik,” katanya menoleh dan tersenyum, melakukan gerakan lidah sialnya itu lagi hingga Taehyung tergoda sekali untuk menendang wajah congkaknya yang tampan kemudian menciumnya. “Aku akan menggendongmu sampai hotel.”

Tapi toh akhirnya Taehyung tertawa lalu naik ke atas punggung Jungkook yang sekeras batu. Tidak pernah meragukan kekuatan punggung dan lengan Jungkook karena dia sudah melakukan banyak hal dalam seks mereka untuk membuktikan betapa kuat fisiknya. Taehyung menyelipkan kedua kakinya ke lengan Jungkook yang kemudian menyangga pahanya.

“Kuanggap itu tantangan,” katanya saat Jungkook tertawa membenahi posisi mereka sebelum bersiap berdiri.

“Huf!” kata Jungkook saat beban Taehyung terasa di punggungnya lalu berdiri.

Taehyung mengalungkan kedua lengannya di leher Jungkook dengan tawa ceria di bibirnya sementara Jungkook kemudian melangkah dengan mantap seolah Taehyung seringan bulu.

“Ayo berangkat!” serunya ceria, mengabaikan tatapan para wisatawan dan penduduk lokal di sekitar mereka. “Aku tidak akan turun sebelum kita tiba di kamar, kau harusnya faham risiko itu!”

“Memangnya kaupikir aku akan menurunkanmu sebelum tiba di ranjang? Yang benar saja,” dengus chef muda di bawahnya.

Chef Jungkook memang tidak bisa hidup tanpa menjadi pusat perhatian, Taehyung tahu itu. Dia mengaitkan kakinya di perut Jungkook yang kencang dan menyandarkan kepalanya di tengkuk Jungkook, menghirup aroma samponya yang tercampur oleh keringat.

Merasa sangat bahagia.

*

The Chef #10

“Kita akan berangkat jam berapa?”

Jungkook mendongak dari ponselnya, menatap Taehyung yang sedang melakukan peregangan dalam balutan celana renang ketatnya yang menonjolkan bagian-bagian menarik dari tubuhnya. Jungkook bersiul kurang ajar lalu meletakkan ponselnya, menoleh sepenuhnya ke kekasihnya yang berdiri di pinggir kolam renang pribadi kamar mereka.

Mereka sedang menikmati pagi di Ubud dengan cahaya matahari lembut setelah sarapan. Taehyung merasa tidak tahan melihat kolam renang mereka yang berada di pinggir tebing dengan pinggiran kaca yang langsung menatap lepas ke lembah yang hijau dan sejuk. Dari kejauhan, Taehyung bisa melihat kegiatan padat penduduk Ubud yang sedang bergerak memulai aktivitas mereka.

Namun dia di sini, di resor mewah bersama kekasihnya yang sedang berbaring di tempat berjemur hanya dalam balutan celana boksernya, memamerkan otot tubuh bagian atasnya, mengenakan kacamata hitam, rambutnya diikat menjadi man bun berantakan yang seksi dan bagaimana tato di lengan dan kakinya terpapar ke udara.

Jungkook is the sexiest man alive, those who disagreeing with this fact can fight Taehyung to death.

“Berangkat ke mana?” tanya Jungkook, sekarang duduk di pinggir kursinya dengan kedua lengan ditumpukan di atas lututnya; menatap intens ke tubuh langsing Taehyung dari balik kacamata hitamnya.

Taehyung menoleh, balas menatapnya dengan jengah. “Kita kemari untuk mengecek tanah, ingat? Bukannya sejak tadi notaris dan pengacaramu sudah sibuk menghubungimu jam berapa bisa ditemui?”

“Oh, iya,” balas Jungkook, menaikkan kacamatanya lalu mengerling Taehyung. Dia bangkit, menghampiri Taehyung lalu memeluk pinggangnya yang langsing dan mengecup lehernya yang terbuka; menarik ciuman malas sepanjang leher dan tulang bahunya. “Aku sudah bilang pada mereka untuk datang jam 11 siang nanti sekalian makan siang lalu kita berangkat ke lokasinya,”

Taehyung gemetar, menggelengkan kepalanya berusaha menjernihkan isi kepalanya akibat ciuman Jungkook. Chef muda itu mengistirahatkan kepalanya di bahu Taehyung, nampak nyaman dan manja sementara tubuh mereka menempel dengan cara yang menggelisahkan.

“Kau bisa mundur sedikit, tidak?” kata Taehyung kering, jika terus begini dia mungkin berakhir dengan memohon untuk digagahi.

“Kenapa, hm?” balas Jungkook dengan suara mendayu-dayu yang membuat seluruh kuduk Taehyung meremang. “Tidak ada yang melihat.”

Taehyung memutar bola matanya, gusar. “Bisakah hari ini aku bergerak bebas?”

“Jadi maksudmu aku membatasi gerakmu?” Jungkook menatapnya, ngambek.

“Mulai deh,” balas Taehyung lalu menggeliat dalam pelukan Jungkook hingga dia berbalik menghadap tunangannya yang menatapnya gusar dan menggemaskan. Dia mengecup hidung Jungkook. “Jangan dramatis begitu,” kekehnya. “Kita masih bisa bercinta nanti malam, oke?”

“But,” Jungkook menempelkan kening mereka dan berbisik di bibir Taehyung dengan suara beratnya yang selalu digunakannya saat merajuk, “Day light will make it clearer...,”

“Males deh,” Taehyung tertawa ceria dan mengalungkan lengannya di leher Jungkook yang terkekeh. “Nanti, ya? Aku berenang dulu.” Dia kemudian mencubit puting Jungkook hingga pemuda itu berteriak kesakitan dan kaget.

“Ya sudah,” balas Jungkook kemudian, melepaskan Taehyung sebal; mengusap putingnya yang berdenyut setelah dicubit. “Nanti.”

Taehyung tersenyum simpul. “Nanti.”

“Janji?”

Taehyung memutar bola matanya. “Iya, janji.”

Akhirnya Taehyung melompat ke dalam air, berenang dengan lincah beberapa laps sebelum menyembul ke permukaan dan menyeka rambutnya ke belakang. Dia menoleh ke teras vila mereka dan menemukan Jungkook sudah mandi, mengenakan kemejanya dan menyentuh jam tangannya dengan telunjuk sebagai tanda bahwa waktu Taehyung sudah habis.

Terkekeh, Taehyung membersitkan air keluar dari telinganya lalu menumpukan kedua lengannya di pinggir kolam renang dan menarik tubuhnya keluar. Air menguar dari dalam kolam saat dia bangkit dan berdiri.

“Lihat dirimu sendiri,” kata Jungkook mendesah panjang. “Kau seksi sekali.”

Taehyung tertawa seraya melangkah dari kolam menghampiri kekasihnya yang sekarang menyerahkan handuk putih berat padanya. “Kau sudah bercermin belum?” katanya, mengecup bibir Jungkook. “Kau jauh lebih seksi.”

Dengan kakinya, dia membelai tato di bagian sisi kaki Jungkook dan meninggalkan sensasi dingin mengigit yang membuat Jungkook mengerang. “Aku suka celana pendek,” dia mengedip lalu sebelum Jungkook sempat berpikir, Taehyung berlari ke kamar mandi mereka seraya tertawa.

“Kau harus membayar itu nanti, Taehyung!” seru Jungkook dari luar kamar mandi dan Taehyung tertawa ceria seraya menyalakan shower-nya.

“Aku tunggu, Chef!”

*

Lokasi restoran Jungkook nantinya di bagian sudut Ubud dengan pemandangan lembah Campuhan yang benar-benar menakjubkan.

Taehyung turun dari mobil, melepas kacamatanya dan mendesah saat melihat betapa indahnya tempat itu. Dari rancangan kasar yang diintipnya di Mac Jungkook saat bekerja dengan arsiteknya, mereka akan punya bagian balkon berlantai kaca yang menjorok di atas lembah; memberikan dining experience yang mendebarkan seperti Potato Head yang berdiri di tengah laut.

Ada saran untuk menambah bungee jumping dan swing juga, tapi Jungkook tidak suka konsep itu. Maka dananya akan dialokasikan untuk memperkokoh bagian rooftop bar dan balkon di atas permukaanya. Taehyung tidak pernah faham sudah berapa lama Jungkook menabung untuk mimpinya ini.

Dan saat akhirnya dia perlahan-lahan mulai mewujudkannya, Taehyung merasa sangat bangga atas pencapaiannya. Jungkook langsung sibuk dengan notaris, kuasa hukum dan arsiteknya di lapangan sementara Taehyung berkeliling mengamati penjuru tanah.

Beberapa orang sedang bekerja memasang patok-patok kayu yang menandakan batas tanah yang dibeli Jungkook. Tanahnya berada di daerah terpencil namun dengan jalan aspal yang bisa dilalui mobil. Jungkook sudah merencakan berapa marketing plan untuk menarik tamu ke restorannya walaupun tempatnya terpencil.

Taehyung bukan anak marketing, tapi dia sudah mengenalkan Jungkook pada salah satu rekannya—teman kuliahnya dulu yang sekarang sudah memiliki PR Agency sendiri. Dan sudah memberikan Jungkook marketing plan yang disukai Jungkook untuk restorannya, beberapa plannya sudah mulai dilaksanakan dengan memulai soft branding via sosial media; untuk membentuk antusiasme pasar menyambut restorannya.

Banyak uang yang digelontorkan chef muda itu untuk mimpinya ini dan Taehyung sendiri dengan senang hati menyisihkan gajinya sendiri setiap bulan untuk membantu Jungkook walaupun chef itu tidak pernah mau menerimanya tapi dia tidak akan sadar jika Taehyung langsung mentrasfernya ke rekening tabungannya, kan?

“Kau suka?!”

Taehyung menoleh dari kegiatannya melongok ke lembah di hadapannya dan bertemu mata dengan Jungkook yang sekarang menggulung lengan bajunya hingga siku, memamerkan tato seksinya. “Suka!” serunya lalu bergegas berbalik dan menghampiri tunangannya.

“Pembangunannya akan dimulai bulan depan,” kata Jungkook mencium pelipisnya saat Taehyung tiba di sisinya lalu menatap notarisnya. “Bulan depan sudah bisa siap surat-suratnya, kan, Pak?” tanyanya.

Notarisnya mengangguk. “Sudah, Pak.” sahutnya dengan tegas. “Tinggal menyelesaikan urusan di pengadilan dan beberapa hal lagi. Surat kepemilikannya akan saya kirim ke Pak Jungkook begitu selesai?”

“Tidak, tidak.” kata Jungkook. “Saya yang akan mengambilnya sendiri, terlalu riskan untuk dikirim. Lagi pula saya akan mulai memantau pembangunannya begitu dimulai jadi saya akan lebih sering di Bali.”

Pembicaraan ini sudah dilakukan mereka semalam setibanya di Bali. Jungkook akan mengajukan one month notice untuk pengunduran dirinya di The Ritz, untuk fokus membenahi dan membentuk tim kitchen barunya di Bali.

Sementara itu, dia akan bergabung dengan temannya di restorannya di wilayah Seminyak menjadi chef sementara untuk mengisi waktu luangnya saat tidak mengurus proyek restorannya. Juga beberapa undangan untuk menjadi chef tamu di resor dan hotel bintang lima di Bali.

Selama bertahun-tahun melanglang buana dalam dunia kulinari, Jungkook sudah berhasil menancapkan namanya bersama chef-chef profesional lain di puncak tertinggi. Belum lagi bagaimana dua tahun lalu dia berangkat ke Amerika menjadi salah satu finalis Chef of the Year dan walaupun kalah, setidaknya itu sudah memberikan paparan luar biasa ke popularitas Jungkook di antara para chef profesional Indonesia.

Bulan lalu dia bahkan mendapat tawaran untuk menjadi salah satu chef juri di Master Chef Indonesia bersama Chef Arnold dan Chef Juna, namun dia menolaknya karena merasa tidak nyaman berada dalam reality show dan menjadi semacam chef artis—dia lebih suka memasak dan terus mengasah kemampuannya.

Taehyung juga tidak suka membayangkan tunangannya akan menjadi chef artis—dia yakin gadis-gadis akan menggandrunginya seperti bagaimana mereka melakukannya ke Chef Juna. Dan dia sangat mendukung penolakan Jungkook.

Jadi, tentu saja restoran mana pun akan sangat senang mendapatkan Chef Jungkook sebagai chef tamu mereka.

Sementara itu, Taehyung akan tetap di Jakarta hingga restoran berdiri dan siap untuk dijalankan. Barulah giliran Taehyung untuk mengajukan one month notice sebelum menyusul Jungkook ke Bali dan mulai menata hidup di Bali.

Risikonya adalah hubungan jarak jauh, tapi mereka sungguh tidak masalah dengan ini. Cinta mereka terlalu kuat untuk dikalahkan jarak dan waktu. Dan mereka mungkin juga akan menikah di Bali.

“Baik, Pak,” sahut notarisnya dengan logat Bali yang kental. “Berarti sudah oke, ya? Kita lanjutkan pembicaraan di kantor saya saja, agar lebih nyaman.”

Jungkook mengangguk. “Sudah.” katanya lalu menatap Taehyung. “Kau masih ingin melihat-lihat?”

Menggeleng, Taehyung tersenyum pada notaris mereka. “Tidak, terima kasih.” dia menatap Jungkook yang kemudian memimpin mereka kembali ke mobil.

Sebelum memasuki mobil, Taehyung menoleh ke lembah indah itu sekali lagi dan mendesah.

Mimpi Jungkook akan menjadi kenyataan, harus. Dia akan merangkak di sisi tunangannya itu jika perlu. Mereka akan menjadi satu tim yang solid demi mewujudkan restoran ini, menjadikannya restoran paling mewah dan berkelas di Bali.

Ini mimpi Jungkook sepanjang hidupnya, Taehyung bersumpah tidak akan ada yang bisa merusaknya.

*

The Chef #7

“Apa yang sedang kau kerjakan?”

Taehyung mendesah keras, menunduk ke Mac-nya yang disandarkannya di pangkuannya. Ruang tunggu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta tidak pernah sepi, banyak orang berlalu-lalang dengan barang-barang mereka, belum lagi aroma makanan yang menyeruak dari restoran-restoran di sekitar mereka dan aroma parfum Jungkook yang menusuk.

Dia harus membelikan parfum baru untuk Jungkook, dia tidak sudi menyium aroma itu setiap saat apalagi dengan keadaan pening seperti sekarang ini.

Kepala Taehyung terasa akan meledak oleh aroma parfum Jungkook. “Parfum mana yang kau kenakan hari ini?” tanyanya, terganggu.

Jungkook mengerjap. Dia meraih kerah bajunya lalu menghirup aroma parfumnya. “Tidak,” katanya kebingungan. “Aku tidak pakai parfum. Hanya deodoran. Itu juga yang kau pilihkan. Memangnya ada apa? Aromanya tidak enak?”

Taehyung mengerang, kembali menatap deretan angka di excel-nya. “Aromanya membuatku pening,” katanya berusaha memokuskan seluruh perhatiannya pada laporan di hadapannya alih-alih Jungkook yang sekarang bersandar di sisinya, lengannya beristirahat dengan nyaman di sandaran kursi Taehyung.

Aroma parfumnya mengungkung Taehyung dengan begitu menyesakkan.

“Oke,” kata Jungkook kemudian berdiri. “Diam di sini sebentar, oke?”

Taehyung mendongak. “Kemana?” tanyanya dengan alis berkerut.

Jungkook meraih ranselnya dan tersenyum. “Aku akan pergi ke toilet sebentar, mengganti bajuku dan membilas deodoranku. Agar kau nyaman bekerja saat penerbangan. Itu laporan penting, kan?”

Taehyung menatapnya, terpana oleh perhatian kekasihnya. Lalu memicingkan mata curiga. “Jangan pikir dengan bersikap malaikat seperti itu aku kemudian akan memaafkan seluruh rencana perjalanan mendadak ini, ya? Aku tidak semudah itu.”

Tertawa, Jungkook mengusap rambutnya lalu mengecup keningnya sayang. “Iya, iya. Sebentar, ya, Bawel.” katanya lalu beranjak pergi seraya menyugar rambut gondrongnya yang meluruh kembali di rahangnya seperti air terjun.

Taehyung berhenti bekerja, menatap dengan terpesona punggung tunangannya yang berlalu darinya dalam balutan pakaian serba-hitam, mengenakan tas ransel di bahunya dan killer boots andalannya. Rambut gondrongnya meriap di lehernya saat dia bergerak melawan angin, figur tubuhnya nampak luar biasa hasil bekerja selama belasan jam dengan frying pan yang terasa seberat barbel dan kegilaannya pada gym.

Dia nampak luar biasa lezat Taehyung mungkin akan menyusulnya hanya untuk mengajaknya make out di salah satu bilik toilet.

Mendesah, Taehyung memalingkan wajah dari Jungkook karena dia punya laporan yang harus diselesaikan dan dikirim sebelum mereka lepas landas. Dia sudah mengirimkan email pada bosnya tentang keterlambatan laporan dan sudah menggertak seluruh anak buahnya di grup agar segera mengirimkan laporan yang dibutuhkan—peduli setan jika ada yang menangis lagi.

Bogum, wakilnya sudah mengirimkan semua laporan dalam bentuk excel yang disatukan jadi Taehyung hanya tinggal membacanya, mengoreksinya lalu mengirimkannya ke bos mereka. Mata Taehyung fokus ke angka-angka kecil dan rumus-rumus excel; berusaha menguraikan pola pikir Bogum lewat alur pelaporannya.

Dia mengangguk-angguk saat laporannya benar lalu mengerang saat menemukan rumus yang salah (“Bagaimana bisa dia jadi akunting dengan laporan seperti ini?!”) lalu membenahinya dengan jengkel. Dia seharusnya tidak perlu bekerja sekeras ini jika saja anak-anaknya pintar membagi waktunya untuk bekerja dan tunangannya tidak gemar memberikannya kejutan.

Tiba di halaman kedua, dia menyadari bahwa tunangannya pergi terlalu lama.

Dia mengangkat wajah, menatap ke seluruh ruang tunggu. Dia masih sendirian. Menoleh ke arah toilet, dia tidak menemukan lelaki tinggi besar yang mengenakan pakaian serba-hitam. Dia mulai cemas.

“Ke mana lagi manusia ini,” keluhnya sebal lalu meraih ponselnya. Memencet speed dial #2 milik Jungkook dan langsung tersambung. Diangkat di dering kedua. “Kau dimana, sih?” sambarnya sebelum Jungkook bahkan sempat menyapanya.

Chef muda itu terkekeh, “Maaf, maaf, aku sedang membelikanmu kopi. Maaf, oke?”

“Kau sedang apa?” tanyanya, meragukan pendengarannya sendiri.

“Membelikanmu kopi?”

“Karena?”

“Kau nampak sedang kusut sekali dan aku bersalah karena telah menyeretmu ke Bali tanpa memberitahumu apa-apa sebelumnya sehingga kau terpaksa membawa pekerjaanmu ke bandara dan sekarang nampak sekusut kertas bekas bungkus gorengan,”

Taehyung tersenyum mendengarnya. “Good. You learnt fast.”

Sebuah paper cup Starbucks disodorkan ke arahnya dari belakang dan Taehyung mendongak, bertemu mata dengan Jungkook yang tersenyum dengan ponsel masih menempel di telinganya. Nampak luar biasa dengan rambut setengah basah, baju baru yang beraroma pengharum pakaian alami dan keringatnya.

“Kau rewel sekali,” katanya di telepon dan tersenyum lebar. “Silakan kopinya, Chief?”

Taehyung tersenyum lebar, menurunkan ponselnya lalu mematikan sambungan telepon. Menyelipkan ponselnya kembali ke saku celanannya, dia kemudian menerima gelas kopi yang diberikan Jungkook—aroma Americano menyeruak dari dalam gelas dan membuat seluruh saraf Taehyung nyaman.

Jungkook mengulurkan paperbag yang terlipat dengan aroma tajam metega harum yang hangat ke arah Taehyung yang sedang memejamkan mata, menyesap kopinya, “Croissant? Tidak seenak buatanku, jelas tapi setidaknya itu butter croissant, standar nasional Indonesia.”

Taehyung membuka sebelah matanya, mengerling Jungkook yang balas menatapnya. “Kau begini hanya agar aku memaafkanmu, kan?”

Jungkook berdecak, “Salah,” katanya, membuka sebungkus permen karet lalu menjejalkannya ke dalam mulut, mengunyahnya dengan berisik.

Satu kebiasaan Jungkook yang disadari Taehyung setelah mereka tinggal bersama. Chef itu tidak bisa diam. Dia selalu akan mencari kegiatan setiap kali mereka harus duduk diam—dia akan menghabiskan waktu liburnya untuk pergi ke gym atau memanggang sesuatu atau memasak makanan yang membutuhkan waktu seharian untuk marinating (beef stroganoff). Dia tidak pernah menggunakan liburnya untuk tidur seharian seperti Taehyung, dia selalu saja bergerak.

Seperti anak penderita GPPH—gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Membereskan apartemen, berjalan-jalan keluar, lari, membereskan kebun hidroponik mereka di atap apartemen, menyiangi kebun hidroponik dalam ruangannya yang dibelikan Taehyung—ada saja, selalu saja. Dia bahkan memohon pada Taehyung agar dia bisa memelihara anjing jadi dia akan memiliki kegiatan untuk dilakukan saat libur; mengajaknya jalan-jalan, memandikannya.

Taehyung merasa itu tidak masalah sama sekali, maka dia mengizinkan Jungkook membawa pulang satu anjing golden retriever manis si gemar menyalak dan bermain lempar tangkap, diberi nama Bubble yang sekarang dititipkan ke pet shop langganan mereka.

Dan saat dia terjebak harus duduk dan tidak bisa melakukan apa pun, dia akan mengunyah permen karet. Duduk dengan kaki digoyangkan, gelisah sepanjang waktu. Dia terbiasa bergerak dengan dinamis di dapur, tidak pernah diam; mengecek ini, menyicipi itu, memasak ini, plating itu sehingga tiap kali dipaksa diam, dia akan mencari cara untuk mengakali seluruh energi dan sarafnya yang terbiasa bekerja dalam tekanan.

“Aku melakukan ini karena aku sayang padamu dan ingin kau tetap nyaman dalam perjalanan.”

Taehyung tersenyum lalu menyentuh kaki Jungkook yang bergoyang-goyang gelisah di lantai. “Yes, Chef.” katanya lembut. “Sekarang bisakah aku mengerjakan laporanku dulu sebentar?”

Dengan rahang bergerak-gerak mengunyah permen karet, Jungkook memberikan tanda agar Taehyung melanjutkan pekerjaannya dengan tangannya. “Silakan, Chief.”

Taehyung menatapnya penuh cinta sejenak sebelum kembali menunduk ke layar Mac-nya, memokuskan seluruh perhatiannya pada laporan anak-anaknya sementara Jungkook di sisinya menggumamkan lagu kesukaannya. Lengannya diistirahatkan di bahu Taehyung dan jemarinya dengan tanpa sadar memainkan rambut di bagian tengkuk Taehyung.

Mereka bersidiam dengan tenang, Jungkook memberikan waktu sepenuhnya untuk Taehyung menyelesaikan laporannya. Dan tepat saat Taehyung mengirim email ke bosnya setelah menelepon Bogum untuk memarahinya tentang kekacauan laporan di halaman terakhir (“Tidak, kau tidak perlu memperbaikinya. Aku sudah memperbaikinya dan akan kukirimkan padamu untuk dibaca. Bulan depan, aku mau laporannya begitu, oke? Kau faham? Thank you, Bogum.”), panggilan mereka untuk boarding berkumandang.

“Sudah?” tanya Jungkook saat Taehyung mendesah panjang dan menutup Mac-nya.

Orang-orang di sekitar mereka bergerak untuk pergi ke gate dan memasuki badan pesawat. Cuaca cerah sekali hari itu, langit berkilau oleh bintang yang gemerlap dan hawa panas menerpa mereka saat pintu gate dibuka. Antrian mulai mengular saat mereka berdiri dan siap bergabung ke antrian menuju pesawat mereka. Pengumuman saling sahut-sahutan di pengeras suara, bercampur suara obrolan orang-orang yang menunggu pesawat mereka.

“Ayo,” Taehyung tersenyum dan memasukkan Mac-nya ke dalam tas kerjanya dan menggendong tas itu di bahunya, menerima tangan Jungkook yang terjulur padanya dan menggenggamnya. “Maaf aku harus bekerja.”

Jungkook mengendikkan bahunya ringan. Rambutnya disisir naik, memamerkan keningnya yang tinggi dan memesona sementarar rahangnya yang tajam masih bergerak mengunyah permen karet. “Tidak masalah,” katanya ringan.

“Toh akhir pekan ini,” dia mengerling Taehyung dengan tatapannya yang selalu bisa membuat Taehyung merasa dia sedang dibakar hidup-hidup dan panas oleh gairah. “Kau sepenuhnya milikku.”

Taehyung harus menahan seluruh dirinya agar tidak melenting ke arahnya dan mencium bibir Jungkook. Mereka bahkan bisa saja bercinta di sana—di kursi tunggu jika benar-benar mau.

“Sure, Chef. How would you like your fiance to be served?” bisik Taehyung dalam suara rendah sementara mereka mengantri di pintu keberangkatan dengan boarding pass di tangan mereka.

Lidah Jungkook melakukan hal yang selalu membuat perut Taehyung terasa dipelintir dengan menyodok bagian pipinya seraya tersenyum menggoda. Matanya berkilat jahil dan Taehyung merasa perutnya baru saja dijotos. Bisakah mereka tiba di Bali sekarang juga sehingga mereka bisa bercinta? “Fresh and naked,” balasnya rendah. “With a lot of strawberry jams.”

“Your kink gives me a lot of trouble, Chef,” kata Tehyung sementara boarding pass mereka dicek dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah pesawat yang menanti mereka. “Kau tahu tidak benda itu membuat tubuhku lengket??”

“Hmm, begitukah?” tanya Jungkook, merangkul pinggang Taehyung dan mengeratkannya hingga Taehyung tertawa kecil. “Padahal aku sudah yakin aku selalu menjilatnya habis. Lain kali aku akan menjilatnya dua kali, agar kau yakin tubuhmu sudah bersih. Bagaimana?”

“Stop,” keluh Taehyung, mengerang oleh efek yang diberikan suara serak rendah Jungkook ke seluruh tubuhnya. “My dick's suffering down there.”

“Aw, poor baby,” Jungkook memasang wajah kasihan yang mengejek dan Taehyung menampar pantatnya dengan keras. Jungkook tertawa, “I love you,”

Taehyung kemudian mencubit pantat Jungkook yang terbalut celana jins gelap dan membuat chef muda itu tertawa serak. “I love you too, dickhead. Jangan berharap aku akan berbelas kasih padamu setelah ini,”

“Syukurlah,” Jungkook menatapnya; lidahnya kembali menyodok bagian dalam pipinya dan Taehyung terasa seperti baru saja dipukuli. “Karena aku tidak suka belas kasihan.” Dia tersenyum separo, nampak seperti bajingan kelas kakap dan Taehyung bersumpah dia bisa saja orgasme di sana, sekarang juga.

*

Taekook Oneshot: Palmier

Jungkook seharusnya tahu dia tidak boleh berangkat ke Prancis sendirian.

Dia seharusnya minta ditemani, apalagi dengan fakta bahwa satu-satunya kalimat dalam bahasa Prancis yg diketahuinya hanya: “Je ne parler pas Français.” I do not speak French.

Sekarang jungkook benar-benar berada di dalam masalah besar karena dia tiba di Charles de Gaulle terlalu malam akibat penerbangan yang delay, uang Euro-nya hanya cukup untuk taksi dari bandara dan dia tidak bisa menemukan apartemen Yoongi.

Ditambah lagi ponsel bodoh sialannya mati kehabisan baterai.

Mendudukan dirinya di salah satu tempat kosong di fountain Place de la République bersama beberapa warga lokal, Jungkook mendesah panjang dan meletakkan ranselnya di sisinya. Square itu terasa ramai, banyak pasangan muda-mudi yang bercengkrama. Malam masih awal di Prancis tapi Jungkook sudah kelaparan dan merasa begitu menyedihkan.

Semua seharusnya lancar dan mudah. Gampang. Hingga Jungkook merasa dia tidak perlu ditemani Seokjin yang hanya akan rewel merecokinya seperti induk semang menyebalkan. Maka dia mengatakan pada Seokjin bahwa dia, dalam usianya sudah cukup dewasa untuk melakukan penerbangan lintas benua sendirian.

Dia hanya perlu duduk di pesawat yang terbang dari Incheon ke Charles de Gaulle, memesan taksi dan menuju apartemen Yoongi. Tiba di sana, mandi lalu makan dan tidur sebelum mengurus administrasi kuliahnya besok. Mudah sekali, kan? Dia juga sudah mengantongi alamat Yoongi dalam notes di ponselnya. Dia lebih dari sekadar siap.

Tapi tidak.

Hidup tidak semudah itu karena sopir taksinya salah membaca alamat yang Jungkook sendiri tidak bisa ucapkan dan menurunkannya di antah-berantah seperti ini. Jungkook yang tidak faham apa pun membayar mahal untuk taksinya dan tidak tiba di tempat yang diinginkannya.

Lalu ponselnya mati sehingga dia tidak bisa mengecek alamat Yoongi karena dia lupa mengecasnya beberapa jam sebelum landing karena tertidur dengan pemutar musik menyala terus-menerus. Dia pikir dia akan tiba di apartemen Yoongi sebelum ponselnya mati. Tapi ternyata dia berakhir terdampar di sebuah square di Paris, sendirian dan kelaparan.

Menyedihkan.

Jungkook mengerang keras hingga beberapa orang menoleh kaget padanya.

Dia melotot ke ponselnya, “Bagaimana bisa kau memutuskan untuk jadi tidak berguna hari ini??” gerutunya kesal. Jika dia berusaha bertanya pun, tidak akan ada yang bisa dilakukan karena 1) Jungkook tidak berbicara bahasa Prancis dan 2) dia tidak hafal alamat Yoongi.

Bagaimana caranya meminjam power-bank dalam bahasa Prancis? Apakah orang Prancis punya power-bank?

Dia mungkin bisa saja masuk kafe, mengecas ponselnya dan memesan croissant serta chocolat chaud lalu menelepon Yoongi saat ponselnya sudah menyala serta mengirimi kakaknya itu live location-nya. Dan dia tinggal menunggu dijjemput Yoongi. Tapi tidak, uangnya habis. Dia hanya punya beberapa lembaran Won, kartu kredit yang tidak berguna karena sedang limit dan tidak yakin apakah ada money changer di sekitar sini?

Jungkook baru saja menghabiskan stok kesialannya dalam satu hari.

Jungkook duduk di sana, sama sekali kehabisan akal. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya seraya mengamati manusia-manusia yang lalu-lalang dengan pasangan mereka. Tertawa dan bercengkrama. Mengobrol akrab dan intim. Malam musim panas yang terasa terlambat dan lengket, tubuh Jungkook yang lelah setelah penerbangan lintas benua, perutnya yang kelaparan.

Dia menatap ponselnya. Sekarang pasti semuanya sedang sibuk mencoba menghubunginya.

Jungkook sungguh ingin menangis saja.

“Bonsoir,” Good evening.

Tepat saat Jungkook sudah ingin berguling ke tanah dan meringkuk untuk menangisi kebodohannya, seseorang menyapanya dengan ramah dan saat dia mendongak untuk memastikan apakah orang itu sedang bicara padanya, dia bertemu mata dengan lelaki kurus, berambut biru elektrik yang tampan sekali.

Jungkook mengerjap. Dia nampak seperti orang Prancis pada umumnya; indah dengan tongue roll-nya dalam mengucapkan R khas Prancis yang terdengar seperti orang berkumur yang seksi. Pakaiannya modis, dipadu-padankan dengan sempurna dan dia beraroma seperti mentega dan vanila. Dia membawa tas di bahu kanannya dan kantung kertas di tangan kirinya. Nampak lelah namun juga segar.

“Êtes-vous d'accord, Monsieur?” Are you okay, Sir?

Jungkook mengerjap, kebingungan. Apa yang dikatakannya??? “Pardon,” katanya mengetes bahasa Prancis-nya sendiri yang terdengar begitu buruk hingga dia meringis.

Bagaimana orang Prancis menciptakan suara sengau seksi itu saat menyebut “ng”? Jungkook dan lidah Korea-nya tidak pernah tahu.

“Je ne parler pas Français.” katanya meringis, berharap pemuda itu faham apa yang dikatakannya. “English?” tambahnya.

Merasa seperti orang tuli yang berbicara dengan orang bisu. Mereka bertatapan, tidak faham bahasa satu sama lain dan Jungkook terlalu lapar untuk berpikir dalam bahas lain selain bahasa Korea. Dia berdoa pada Tuhan berharap dia masih punya sisa amal perbuatan baik yang bisa ditukarnya dengan keberuntungan bahwa pemuda ini setidaknya bisa bahasa Inggris.

Dan Tuhan memberikannya yang jauh lebih baik lagi.

“Ah,” pemuda itu tersenyum dan Jungkook nyaris menciumnya karena lega dia memahami maksud Jungkook. “I heard Korean accent. Kau orang Korea?”

“Ya Tuhan!” seru Jungkook nyaris menangis dan benar-benar ingin memeluk pemuda itu dan menciumnya tepat di bibir. “Ya Tuhan, ya Tuhan!” katanya mulai menangis. “Kau orang Korea!”

Pemuda di hadapannya tertawa kecil. “Ya, aku orang Korea dan ini tahun keenamku di Prancis, jadi yah aku agak kesulitan berbahasa Korea karena jarang digunakan.” Dia menatap Jungkook yang sekarang menyeka air matanya dengan sudut lengan hoodie yang digunakannya. “Apa yang terjadi padamu? Kau tersesat?”

Menggeser tasnya, Jungkook membiarkan pemuda itu duduk di sisinya. “Aku seharusnya tiba di apartemen kakakku, tapi sayangnya aku terlalu bodoh untuk membaca alamat dalam bahasa Prancis, dan sopir taksiku juga sama bodohnya. Dia menurunkanku beberapa meter dari sini dan merampok semua uangku—maksudnya, harga argonya mahal sekali bukan dirampok secara harfiah,” dia bergegas menambahkan saat pemuda itu menatapnya ngeri.

“Dan sekarang ponselku mati, aku tidak punya uang dan tidak punya tempat untuk bernaung. Dan demi Tuhan, aku lapar sekali.”

Kemudian sebuah kotak beraroma mentega lembut diulurkan ke arahnya dan Jungkook menatap benda itu kaget lalu menatap pemberinya yang tersenyum dan mengangguk, mempersilakannya mengambil kotak itu.

“Aku bekerja di restoran beberapa blok dari sini dan aku suka membeli pastry di pâtisserie sebelum kembali ke studioku,” dia menjelaskan ramah dan lembut. “Tapi nampaknya kau jauh lebih butuh pastry-nya,”

Karena Jungkook tidak juga menerima makanan itu, pemuda itu tertawa serak dan meraihnya kembali; membuka kemasannya, menyingkap kertas roti yang memeluk pastry-nya lalu mengeluarkan sepotong palmier—pastry berbentuk hati yang renyah dan lembut.

Dia meraih tangan Jungkook, meletakkan makanan itu di tangannya. “Silakan di makan,” katanya sopan. “Tidak apa-apa, itu tidak beracun. Kau lihat sendiri aku baru membuka segelnya, kan?”

Jungkook menatap pastry hangat di tangannya dan matanya mulai terasa panas lagi. “Terima kasih,” bisiknya tercekat lalu membawa makanan itu ke mulutnya. Dia mengigit pastry rapuh dengan ratusan layer itu dan mendesah saat rasa mentega dan telur khas makanan Prancis meledak di mulutnya.

Remah-remah palmier berjatuhan dari bibirnya ke pangkuannya, tapi dia tidak peduli. Dia terus menjejalkan palmier ke mulutnya, mengunyah nyaris tanpa bernapas dan menelannya. Dia mendesah, dia butuh lebih banyak lagi. Tapi terlalu malu untuk meminta makanan orang asing ramah di hadapannya.

Seolah membaca pikirannya, pemuda itu tertawa serak dan meletakkan kotak makanan di pangkuan Jungkook. “Silakan makan,” katanya lembut. “Kau nampak lapar sekali.”

Dan Jungkook melakukannya tanpa basa-basi lagi, dia menghabiskan selusin palmier untuk dirinya sendiri dan masih mendecap-decap merindukan nasi dan mie instan. Tapi lumayan, setidaknya perutnya tidak lagi terasa nyeri karena rasa lapar.

“Aku tidak tahu namamu,” kata Jungkook kemudian, menyapu remah palmier dari pangkuannya. Masih cukup beradab untuk bersikap malu karena telah menggasak makanan orang asing pertama yang menyapanya.

“Taehyung,” kata pemuda itu ramah. “Kim Taehyung. Tapi di sini mereka memanggilku Vincent.”

Jungkook tersenyum. “Aku Jeon Jungkook.” katanya mengulurkan tangan dan pemuda itu, Taehyung membalasnya dengan hangat.

“Halo, Jungkook.” katanya. “Ini sudah malam,” tambah Taehyung kemudian. “Kau mau mampir ke studioku dulu? Kau bisa mandi dan mengisi daya ponselmu sebelum menelepon kakakmu untuk menjemputmu.”

Jungkook mendongak ke langit malam. “Memangnya ini jam berapa?” tanyanya, menilai dari langit yang masih keunguan Jungkook yakin ini baru selepas jam 7 malam atau setidaknya delapan malam.

“Sudah hampir pukul sebelas malam,” sahut Taehyung membuat Jungkook nyaris menyemburkan palmier yang sudah dimakannya. “Ini musim panas, malam bergerak lebih lambat di sini.” jelasnya.

“Dan tidak baik untukmu berada di Place de la République semalam ini, kau sasaran empuk pencopet.” Dia berdiri, menyapu kotoran dari celana baggie-nya dan tersenyum. “Ayo, Bung. Ini bukan Asia, mereka tidak terlalu bersikap sopan pada orang asing tersesat di sini.”

Menatap tangan yang terjulur ke arahnya, Jungkook mendesah lalu meraihnya dan berdiri. Mengambil tasnya, dia kemudian mengekor Taehyung yang berjalan keluar dari Place de la République yang semakin ramai. Mereka menelusuri jalanan yang ramai dengan toko-toko berarsitektur kental Prancis.

Jungkook nampak begitu lusuh dan lelah saat dia menatap bayangannya sendiri di salah satu etalase toko pakaian dan mendesah. “Hei, Taehyung?” panggilnya pada pemuda di sisinya yang berjalan santai dengan dua tangan tenggelam di sakunya.

“Ya?”

“Aku boleh menumpang mandi di tempatmu?”

Taehyung terkekeh. “Tentu. Silakan,” katanya.

Mereka kemudian tiba di lingkungan yang lebih ramah dengan jalan berbatu, lampu jalanan redup dan beberapa tanaman rambat menghiasi dindingnya. Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan kunci saat berhenti di sebuah gedung yang nampak tua namun bersih terawat dan membuka gerbang besi di depannya. Nampak anak tangga menuju atas dan dia memimpin Jungkook menaiki tangga yang hanya cukup untuk satu orang dan berhenti di lantai tertinggi.

Dia berjalan melalui lorong yang terang dan berhenti di depan pintu. “Selamat datang,” katanya ramah lalu membuka pintu dan membiarkan Jungkook masuk.

Studio yang dimaksud Taehyung adalah sebuah kamar dengan dapur kecil dan kamar mandi. Jendelanya terbuka dan memberikan pemandangan kota yang cantik. Menara Eifel berdenyar di kejauhan, nampak begitu mungil. Ada satu ranjang ukuran tunggal di sudut ruangan, sofa empuk berwarna tanah di dekat jendela, rak buku yang penuh sesak serta meja kecil yang terisi gelas kosong sisa kopi.

Aromanya akrab dan melegakan, Jungkook menghela napas dalam-dalam dan melangkah masuk. Membiarkan Taehyung menutup pintu di belakangnya dan bergegas ke dapurnya yang kecil dan membuka kulkas.

“Aku punya lasanya sisa semalam, kau mau makan sebelum mandi?” tanyanya membawa loyang sedang ke konter dapur. “Dari caramu menghabiskan palmier-ku, aku yakin kau belum kenyang.”

Jungkook masih berdiri kikuk di tengah ruangan, tidak yakin harus melakukan apa sementara empunya rumah sedang sibuk menghangatkan makanan. Dia menatap ke sekitar tempat itu, menemukan majalah mode terbuka di atas kasur yang rapi. Beberapa potong kain perca dan mesin jahit portable di meja yang terletak di dekat jendela. Dia menatap benda itu dengan tertarik.

“Kau suka menjahit?”

Taehyung menoleh, menemukan Jungkook yang sedang menatap mesin jahitnya. “Ah, ya begitulah,” katanya terkekeh serak. “Aku suka menjahit pakaianku sendiri, merajut syal dan sarung tangan juga,” Dia mengendikkan bahu saat memasukkan loyang ke dalam microwave dan mengatur timer-nya. “Hobi yang aneh, kan untuk lelaki?”

Jungkook menggeleng. “Tidak, itu keren.” katanya dengan tulus. “Aku selalu ingin belajar merajut tapi terlalu tidak sabaran dalam prosesnya.”

Taehyung mencuci tangannya, mengelapnya di lap tangan lalu melambaikan tangan ke sofa. “Silakan letakkan barangmu di sana, anggap saja rumah sendiri.” katanya meraih pakaian kotor yang disampirkan di kursi. “Maaf berantakan,” dia melempar pakaian itu ke keranjang cucian.

“Kau bisa mengisi daya ponselmu di sini,” tambahnya menunjuk stop kontak di sisi sofa. “Semakin cepat kau bisa menghubungi kakakmu, kan? Tidak bermaksud mengusirmu tapi aku tahu kau pasti ketakutan sekali,”

Jungkook mengangguk, merogoh ponsel sialannya dan duduk di sofa. Dia meraih tasnya, mengobrak-abrik isinya dan menarik keluar pengisi daya ponselnya. Dia menyolokkannya di stop kontak dan mendesah lega saat ponselnya mulai mengisi daya.

“Syukurlah aku sudah sempat mengganti nomorku dengan nomor Prancis dan menginfokan nomor ini ke kakakku sebelum dia mati,” desah Jungkook menatap ponselnya sendu. Di hadapannya, Taehyung duduk dan menatapnya tenang.

“Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tidak bertemu denganmu,” kata Jungkook seraya menanti ponselnya menyala dan memproses programnya. “Aku mungkin terpaksa tidur di jalanan. Aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa,”

Taehyung tertawa serak. “Aku juga tidak faham,” katanya. “Aku tidak biasanya pulang lewat situ; terlalu jauh memutar. Namun malam ini aku tiba-tiba ingin membeli pastry di dekat Place, dan tidak sengaja melihatmu.” tambahnya.

“Maaf,” dia mendesah. “Kau nampak benar-benar seperti bukan orang Prancis. Aku jadi cemas karena Place de la République itu sarangnya pencopet. Prancis tidak secantik apa yang kaubaca di kisah-kisah. Di sini berbahaya untukmu yang adalah orang asing dengan pengetahuan nol tentang Prancis. Lalu kuputuskan untuk menghampirimu dan saat mendengar bahasa Prancismu, aku semakin yakin kau bukan orang Prancis.

“Aku tidak membayangkan apa yang terjadi jika bukan aku yang menemukanmu.”

Jungkook mengerang dan membuka mulut untuk bicara saat microwave berdenting. Taehyung bergegas bangkit dan menghampiri benda itu, mengelurkan lasagna dan menyendok seporsi untuknya dan juga untuk Jungkook. Aroma saus tomat dan bechamel memenuhi ruangan dalam kehangatan yang membuat Jungkook lapar. Dia yakin dia bisa menghabiskan lasanya itu sekaligus berserta loyangnya.

Tapi dia ingat ini bukan rumahnya dan meminta perutnya yang barbar untuk bersabar. Begitu dia tiba di apartemen Yoongi, dia akan menjejali organ sial itu dengan begitu banyak makanan hingga dia tidak akan berisik lagi.

Dia membawa dua piring itu ke sofa, menyerahkan satu ke Jungkook yang menerimanya dengan tatapan berbinar seperti menemukan harta karun dan mulai memakannya dengan lahap. Taehyung tertawa menatap tamu barunya yang nampak menggemaskan seperti anjing kecil.

Ponsel Jungkook di sofa sudah menyala dan sekarang mulai berisik dengan nada notifikasinya yang banjir. Jungkook bergegas meletakkan piringnya yang isinya sudah akan habis dan meraihnya dalam kecepatan cahaya. Dia belum melakukan apa pun saat dering panggilan membuat baik Jungkook dan Taehyung tersentak kaget dan Jungkook nyaris menjatuhkan ponselnya.

Dia nyaris menangis lagi saat menjawab teleponnya. “Yoongi-hyung!” rengeknya seketika itu juga dengan nada lega yang nyaris seperti menangis. “Aku tersesat! Tolong aku! Kau boleh memarahiku tapi nanti, sekarang tolong jemput aku!”

Taehyung tersenyum lebar menatap Jungkook yang bersila di sofanya, menempelkan ponsel di telinganya dalam balutan hoodie hitam dan jins belel gelap dengan noda saus lasanya di sudut bibirnya. Rambutnya mencuat-cuat akibat angin malam Prancis dan dia nampak begitu lelah.

“Aku ada di... rumah seseorang yang baik hati memungutku di jalan,” kata Jungkook merengek ke ponsel dan Taehyung tidak bisa menahan tawanya. “Dia memberiku makanan. Listrik untuk ponselku dan air untukku mandi. Dia dewa, Hyung. Dewa.”

Lalu terdengar dengungan keras dari ponsel dan Jungkook harus menjauhkan ponsel dari telinganya dengan ngeri. “Maafkan aku!” serunya. “Uangku habis dan ponselku memutuskan untuk tidak berguna saat aku turun dari taksi. Sopirnya tidak bisa membaca alamatmu dengan baik, Hyung!” Jungkook diam, mendengarkan lalu mendesah. “Baiklah.” katanya lega. “Aku akan mengirimkanmu alamatnya.”

Dia lalu meletakkan ponsel dan menatap Taehyung yang dengan sopan mengalihkan pandangan dari pembicaraan Jungkook dengan mengunyah makanan seraya membalik majalah mode. “Bolehkah aku meminta alamatmu? Kakakku akan menjemputku di sini.”

Taehyung menoleh dan mengangguk, “Tentu,” sahutnya lalu menjabarkan alamatnya pada Jungkook yang mengetikkan pesan untuk kakaknya. “Tambahkan dengan share location, orang-orang terkadang sulit menemukan lokasi studio ini.”

Jungkook mengangguk, memberikan location-nya pada Yoongi yang mengiriminya pesan bahwa dia akan tiba sekitar setengah jam jika tidak macet. Jungkook mendesah lalu meletakkan ponselnya.

“Kakakku akan tiba setengah jam lagi,” katanya tersenyum. “Terima kasih banyak atas makanan dan kebaikanmu menampungku,”

Taehyung tertawa. “Kembali kasih,” sahutnya. “Anggap saja karena kita sama-sama dari Korea.” Dia tersenyum. “Kau ke Prancis untuk bekerja?”

“Tidak,” Jungkook menggeleng. “Aku akan kuliah. Beasiswa.” Dia tersenyum cerah dan bangga pada Taehyung yang menatapnya kagum.

“Wow,” komentarnya tulus. “Di universitas?”

“Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne,” Jungkook berhenti sejenak. “Pelafalanku benar?” tanyanya kikuk.

Taehyung tertawa, “Tidak masalah,” hiburnya. “Butuh waktu lama juga untukku hingga bisa melafalkan bahasa Prancis dengan benar.” dia tersenyum ramah. “Di jurusan?”

“Di Institut Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Teknik.”

“Wow.” ulang Taehyung, dengan kekaguman yang tulus. “Kau bocah pintar ternyata.”

Jungkook nyengir. “Sebenarnya aku tidak ingin ke Prancis,” katanya entah mengapa ingin terus mengobrol dengan Taehyung yang auranya begitu hangat dan menenangkan. Seperti palmier yang tadi dimakannya.

“Tapi karena kakakku sudah lama tinggal di Prancis, aku jadi tergoda untuk ikut dengannya. Selama ini aku hanya tinggal sendirian di Korea sejak dia berangkat ke Prancis.” Dia mengendikkan bahu. “Jadi aku mencoba peruntunganku dengan memasukkan lamaran beasiswa ke Universitas Paris.”

“Dan kau beruntung karena diterima,” balas Taehyung menyemangatinya. “Hanya saja kurang beruntung saat tiba di Paris.”

Jungkook mengerang lalu menatap Taehyung, menemukan sesuatu yang membuatnya berbinar lagi hingga Taehyung ingin sekali mencubitnya. “Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” dia lalu mengendikkan bahu kikuk. “Maksudnya, nanti aku harus mengganti palmier-mu yang kuhabiskan, kan?”

Taehyung tertawa serak. “Sebenarnya tidak usah pun tidak apa-apa,” katanya.

“Kalau begitu anggap saja aku butuh teman selama kakakku bekerja. Maksudku, kau bisa mengontakku saat kau libur dan kau bisa mengajakku berjalan-jalan, kan? Kau sudah enam tahun di sini,”

Taehyung menatapnya dan mengangguk. “Baiklah,” katanya lalu menyebutkan nomornya yang langsung dicatat Jungkook dengan patuh. “Kau boleh menghubungiku saat kau bosan,” tambahnya. “Aku akan mengajakmu ke tempat favoritku,”

Jungkook menatapnya dengan mata berbinar. “Baiklah, sudah diputuskan!” katanya lalu mengulurkan tangan, bertukar high-five dengan Taehyung yang tertawa.

Saat akhirnya kakak Jungkook tiba, pemuda itu langsung memeluk adiknya erat. Nyaris mengoyaknya dengan gigi karena marah. Dia kemudian menawarkan sejumlah uang sebagai imbalan terima kasih atas bantuannya pada Taehyung yang langsung menolaknya karena dia membantu murni karena ingin, bukan karena uang.

Dia juga senang bertemu orang Korea lain di Paris sehingga kehidupannya setelah ini mungkin tidak lagi semonotun studio-tempat kerja-studio. Dia tahu restoran Korea enak di Rue de la Croix Nivert dan sekarang senang dia tidak akan makan sendirian di sana.

Jungkook masuk ke dalam mobil kakaknya yang nampak sangat lega menemukannya kembali, dia melambai ramah pada Taehyung dan Yoongi juga tersenyum ramah padanya setelah berterima kasih ribuan kali karena telah menyelamatkan adiknya di Place.

“Senang bertemu denganmu, Taehyung-hyung! Jangan kapok berbuat baik, ya! Because you saved my life!”

Taehyung tertawa dan balas melambai pada Jungkook saat mobil mulai melaju pergi dengan perlahan. “Terima kasih kembali,” katanya dan mendesah panjang saat mobil itu lenyap di belokan.

Dia akan bertemu Jungkook lagi di hari lain. Fakta itu membuatnya berdebar.

***

Croissant Breakfast

Jungkook terombang-ambing dalam keadaan sadar dan tidak sadar saat telinganya menangkap suara rintik hujan yang sayup-sayup. Dia membuka matanya, menemukan wajah lelap damai Taehyung di pelukannya lalu mendesah panjang; mengumpulkan kesadarannya dan mendesak otaknya yang berkabut untuk fokus.

Dia mengerjap dan melirik jam di nakas sebelah ranjang mereka; pukul 4.30 pagi. Terlalu sering berangkat bekerja subuh membuat pola tidur Jungkook berubah. Dia terbiasa terbangun pukul sekian dan memilih untuk langsung berolahraga atau membuat sarapan karena sulit sekali jika dia ingin kembali tidur.

Dia mengusap wajahnya yang terasa bengkak oleh tidur lalu melirik Taehyung yang terlelap di atas lengannya yang mulai terasa mati rasa. Dia terkekeh kecil, merunduk dan mengecup kening Taehyung lalu perlahan menarik tangannya. Taehyung merengek samar sebelum kembali lelap saat Jungkook mengganti dirinya dengan bantal.

Perlahan, dia menyingkap selimut dan membawa dirinya duduk di pinggir ranjang. Dia hanya mengenakan celana training tipis dan kaus singlet. Menatap ke jendela kamar mereka yang tertutup tirai dan mendengar suara hujan lebih keras seraya mengibas-kibaskan tangannya yang mati rasa setelah semalaman digunkana sebagai bantalan kepala Taehyung.

Pagi akhir pekan yang indah dimulai dengan hujan deras.

Jungkook mendesah lalu bangkit, menoleh ke ranjang menemukan Taehyung sedang bergelung dengan bantal di pelukannya, dia meraih selimut; merapikannya di sekitar tubuh Taehyung lalu menegakkan tubuhnya. Dia melakukan peregangan kecil sebelum beranjak ke kamar mandi.

Menyalakan kran, dia mulai mencuci wajahnya. Menyisir rambutnya dan menyikat gigi. Dia kemudian meninggalkan kamar masih dalam keadaan gelap agar tidur Taehyung tidak terganggu dan menyalakan lampu ruang tengah. Seingatnya dia memiliki sisa croissant dan beberapa pastry line yang dibuatnya untuk sewaktu-waktu. Dia beranjak ke lemari es, benda paling agung di apartemennya selain kompornya dan membuka salah satu dari pintu gandanya.

Membungkuk ke dalamnya, Jungkook mengeluarkan mangkuk kaca terbalut plastik wrap yang terisi croissant line beraroma lembut mentega dan meletakkannya di konter dapur. Suara hujan semakin deras dan mengirimkan ketenangan ke seluruh tubuh Jungkook. Dia suka suara hujan dan dia suka memasak; mengombinasikan keduanya mengirimkan sensasi serupa orgasme ke sistem tubuh Jungkook.

Taehyung selalu suka musim hujan, dia suka bergelung di kasur. Menolak turun dari selimutnya dan makan di ranjang. Saat-saat seperti itulah yang terasa seperti kemewahan bagi Jungkook. Bagaimana mereka menatap ke jendela yang basah oleh air hujan dan menikmati sarapan.

Maka karena Jungkook tidak bisa kembali tidur, dia akan membuatkan Taehyung breakfast in bed seperti biasanya.

Jungkook meraih apronnya, mengabaikan pakaiannya dan mengenakannya lalu menyelipkan satu lap di celananya. Apron itu didapatkannya saat lulus sekolah kulinari. Berwarna hitam dengan bordiran namanya di sisi kanan dan sudah agak lusuh karena selalu digunakan Jungkook saat di rumah. Dia kemudian menguncir rambutnya yang agak gondrong, lalu mencuci tangannya sebelum beralih ke croissant line yang menantinya di meja konter.

Menaburkan terigu ke konter, Jungkook kemudian memipihkan croissant line-nya dengan rolling pin. Perlahan agar mendapatkan ketebalan yang sempurna sebelum merapikan pinggirannya agar membentuk persegi panjang sempurna sebelum memotongnya menjadi bentuk segitiga.

Taehyung tidak suka croissant dengan isian, dia lebih suka croissant mentega yang kemudian dicelupkannya ke selai stroberi; maka Jungkook langsung menggulung line-nya membentuk croissant mungil yang gemuk. Menjajarkannya di loyang yang telah dilapisinya dengan kertas roti, dia kemudian membiarkan adonannya di konter. Mengistirahatkannya dalam suhu ruangan agar dapat mengembang dengan sempurna saat dipanggang.

Melepas apronnya dan membereskan kekacauannya, Jungkook kemudian memilih untuk membereskan apartemen sebentar; dia terbiasa menjaga seluruh bagian apartemennya tetap rapi dan sesuai dengan kehendaknya. Hal ini kadang membuat Taehyung jengkel di awal mereka hidup bersama namun sekarang mereka sudah melakukannya dalam sinkronisasi yang alami. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, Taehyung tidak akan bangun sebelum pukul 6 pagi.

Jadi dia memilih untuk melakukan olahraga ringan di ruang tamu, dialasi matras dan diiringi lantunan lagu setelah menutup pintu kamar rapat-rapat agar Taehyung tidak terganggu. Setelah satu jam, dia memindahkan croissant-croissant gemuknya ke dalam kulkas untuk resting kembali selama satu jam.

Digunakannya waktu itu untuk mandi dan kemudian menghangatkan muffin-muffin yang dibelinya semalam. Dia menyusun muffin-nya di loyang lain lalu memasukkannya ke dalam microwave, mengatur timer-nya dia kemudian kembali ke kulkas.

Meraih beberapa buah-buahan dia mengupasnya dan menatanya di dalam mangkuk putih. Tidak lupa juga menuang segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri dan juga Taehyung. Dia meneguk jusnya hingga tandas setelah berolahraga, meraih segenggam anggur hijau dan langsung menyuapnya. Kunyahan yang segar dan ledakan rasa anggur yang manis dalam rongga mulutnya menemaninya saat mengeluarkan croissant mentahnya dari kulkas dan mulai memanaskan oven.

Seraya menanti oven panas, dia mengocok telur dan susu untuk olesan permukaan croissant. Dengan kuas, dia mengoles campuran itu di permukaan croissant yang gendut dan menarik lalu tersenyum saat menyaksikan kue buatannya nampak seperti apa yang diharapkannya.

Akhirnya dia memasukkan croissant itu ke dalam oven. Menyetel timer-nya, dia kemudian menata muffin hangat di atas piring dan memindahkannya ke tray andalan mereka. Menambahkan dua jus jeruk, satu cup selai stroberi kesukaan Taehyung dan juga mangkuk buah-buahan yang disiapkannya.

Tepat saat croissant matang dan Jungkook sedang meraih pintu oven, ponselnya berbunyi. Dia melirik ke ponselnya di konter, menemukan pesan Taehyung dan terkekeh. Tunangannya memang selalu malas untuk berteriak saja padahal mereka berada di ruangan yang sama.

Dia membalas pesannya, lalu melanjutkan pekerjaannya. Meletakkan croissant hangat dan renyah di atas piring bersisian dengan muffin. Dia kemudian membereskan dapur, menyapu bersih sisa-sisa kegiatannya sebagai semacam reaksi spontan dan kebiasaan.

Selama sekolah kulinari, Jungkook selalu terbiasa untuk mengelap konternya bersih tiap kali selesai melakukan sesuatu. Makanya dia selalu memiliki satu lap yang disangkutkan di celananya untuk diraih sewaktu-waktu. Tangannya akan selalu otomatis meraih lap itu tiap kali menyelesaikan tahapan memasak.

Setelahnya, dia melipat apronnya dan membawa nampan ke kamar yang gelap. Dia menemukan Taehyung berbaring di ranjang, di atas tumpukan bantal yang nyaman dan hangat. Nampak seperti bayi dalam tumpukan benda-benda empuk hangat kesayangannya. Menggemaskan sekali.

“Aku mencium aroma croissant,” katanya serak menatap Jungkook dengan mata mengantuk dan rambut yang mencuat-cuat. Ada jejak bekas tidur di sepanjang tulang pipinya saat dia melongok ke Jungkook. “Kau baru saja memanggang croissant?”

“Yep,” balas Jungkook meletakkan nampan di ranjang dan melirik jam. “Sudah jam setengah tujuh, boleh kubuka tirainya?”

Taehyung dalam balutan selimut tebal, nampak seperti burrito menggemaskan sekarang menjulurkan tangan ke tray, meraih croissant gendut pertama dan membawanya ke mulutnya. Menyuapnya besar dan mengunyah dengan desahan lembut.

“Silakan,” katanya sambil mengunyah. “Croissant buatanmu selalu enak,” desahnya menatap croissant separo termakan di tangannya dengan takjub seolah hal itu adalah sebuah harta karun sebelum menjejalkannya ke mulut dan mengunyah dengan pipi menggelembung.

Jungkook menyentakkan tirai terbuka, menampilkan langit Jakarta yang kelabu dengan titik-titik air yang menghiasi permukaan jendela mereka. Cuaca begitu kelabu dan mustahil untuk meninggalkan ranjang dengan suasana seperti ini. Dia menoleh dan menemukan Taehyung sedang bersila di kasur, dengan nampan di pangkuannya dengan selimut membalut tubuhnya.

Dia sedang membuka selai dengan giginya dan menyelupkan ujung croissant kedua ke dalamnya. “Apakah kau masih punya croissant lagi?” tanyanya lalu menjejalkan croissant kedua ke mulutnya yang penuh dan dia mendesah panjang saat rasa renyah pastry, mentega yang gurih dan selai stroberi yang segar memenuhi mulutnya.

Sempurna.

Jungkook, tidak bisa menahan dirinya sendiri, meraih Taehyung dan mengecup keningnya lembut. “Aku punya banyak. Kuambilkan dulu,”

Namun sebelum dia beranjak, Taehyung meraihnya dan menariknya hingga duduk di ranjang. Nampan makanan disingkirkan dari ranjang sehingga ada cukup ruang untuk Jungkook.

Terkekeh, Jungkook memeluknya. “Kenapa, sih?” tanyanya saat Taehyung menyusup ke pelukannya, meletakkan wajahnya di ceruk leher Jungkook dan menghela napas dalam-dalam.

“Kau selalu beraroma lezat tiap kali selesai memanggang pastry. Aku suka,” katanya teredam di kulit Jungkook. Aroma Jungkook seperti sabun mandi, mentega lembut serta croissant hangat. Menyenangkan dan menenangkan seluruh saraf Taehyung. Dia menghirup napas dalam-dalam; memenuhi seluruh inderanya dengan aroma itu.

Chef muda itu terkekeh lalu merengkuh burrito-nya ke pelukannya. “Sayang,” bisiknya penuh pemujaan lalu memejamkan matanya dengan kepala bersandar di puncak kepala Taehyung yang beraroma khas Taehyung dan parfumnya.

Pagi yang indah, dengan croissant hangat, jus jeruk dan buah-buahan, serta tunangannya yang manja. Jungkook merasa lengkap, utuh dan sempurna.

***