Croissant Breakfast

Jungkook terombang-ambing dalam keadaan sadar dan tidak sadar saat telinganya menangkap suara rintik hujan yang sayup-sayup. Dia membuka matanya, menemukan wajah lelap damai Taehyung di pelukannya lalu mendesah panjang; mengumpulkan kesadarannya dan mendesak otaknya yang berkabut untuk fokus.

Dia mengerjap dan melirik jam di nakas sebelah ranjang mereka; pukul 4.30 pagi. Terlalu sering berangkat bekerja subuh membuat pola tidur Jungkook berubah. Dia terbiasa terbangun pukul sekian dan memilih untuk langsung berolahraga atau membuat sarapan karena sulit sekali jika dia ingin kembali tidur.

Dia mengusap wajahnya yang terasa bengkak oleh tidur lalu melirik Taehyung yang terlelap di atas lengannya yang mulai terasa mati rasa. Dia terkekeh kecil, merunduk dan mengecup kening Taehyung lalu perlahan menarik tangannya. Taehyung merengek samar sebelum kembali lelap saat Jungkook mengganti dirinya dengan bantal.

Perlahan, dia menyingkap selimut dan membawa dirinya duduk di pinggir ranjang. Dia hanya mengenakan celana training tipis dan kaus singlet. Menatap ke jendela kamar mereka yang tertutup tirai dan mendengar suara hujan lebih keras seraya mengibas-kibaskan tangannya yang mati rasa setelah semalaman digunkana sebagai bantalan kepala Taehyung.

Pagi akhir pekan yang indah dimulai dengan hujan deras.

Jungkook mendesah lalu bangkit, menoleh ke ranjang menemukan Taehyung sedang bergelung dengan bantal di pelukannya, dia meraih selimut; merapikannya di sekitar tubuh Taehyung lalu menegakkan tubuhnya. Dia melakukan peregangan kecil sebelum beranjak ke kamar mandi.

Menyalakan kran, dia mulai mencuci wajahnya. Menyisir rambutnya dan menyikat gigi. Dia kemudian meninggalkan kamar masih dalam keadaan gelap agar tidur Taehyung tidak terganggu dan menyalakan lampu ruang tengah. Seingatnya dia memiliki sisa croissant dan beberapa pastry line yang dibuatnya untuk sewaktu-waktu. Dia beranjak ke lemari es, benda paling agung di apartemennya selain kompornya dan membuka salah satu dari pintu gandanya.

Membungkuk ke dalamnya, Jungkook mengeluarkan mangkuk kaca terbalut plastik wrap yang terisi croissant line beraroma lembut mentega dan meletakkannya di konter dapur. Suara hujan semakin deras dan mengirimkan ketenangan ke seluruh tubuh Jungkook. Dia suka suara hujan dan dia suka memasak; mengombinasikan keduanya mengirimkan sensasi serupa orgasme ke sistem tubuh Jungkook.

Taehyung selalu suka musim hujan, dia suka bergelung di kasur. Menolak turun dari selimutnya dan makan di ranjang. Saat-saat seperti itulah yang terasa seperti kemewahan bagi Jungkook. Bagaimana mereka menatap ke jendela yang basah oleh air hujan dan menikmati sarapan.

Maka karena Jungkook tidak bisa kembali tidur, dia akan membuatkan Taehyung breakfast in bed seperti biasanya.

Jungkook meraih apronnya, mengabaikan pakaiannya dan mengenakannya lalu menyelipkan satu lap di celananya. Apron itu didapatkannya saat lulus sekolah kulinari. Berwarna hitam dengan bordiran namanya di sisi kanan dan sudah agak lusuh karena selalu digunakan Jungkook saat di rumah. Dia kemudian menguncir rambutnya yang agak gondrong, lalu mencuci tangannya sebelum beralih ke croissant line yang menantinya di meja konter.

Menaburkan terigu ke konter, Jungkook kemudian memipihkan croissant line-nya dengan rolling pin. Perlahan agar mendapatkan ketebalan yang sempurna sebelum merapikan pinggirannya agar membentuk persegi panjang sempurna sebelum memotongnya menjadi bentuk segitiga.

Taehyung tidak suka croissant dengan isian, dia lebih suka croissant mentega yang kemudian dicelupkannya ke selai stroberi; maka Jungkook langsung menggulung line-nya membentuk croissant mungil yang gemuk. Menjajarkannya di loyang yang telah dilapisinya dengan kertas roti, dia kemudian membiarkan adonannya di konter. Mengistirahatkannya dalam suhu ruangan agar dapat mengembang dengan sempurna saat dipanggang.

Melepas apronnya dan membereskan kekacauannya, Jungkook kemudian memilih untuk membereskan apartemen sebentar; dia terbiasa menjaga seluruh bagian apartemennya tetap rapi dan sesuai dengan kehendaknya. Hal ini kadang membuat Taehyung jengkel di awal mereka hidup bersama namun sekarang mereka sudah melakukannya dalam sinkronisasi yang alami. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, Taehyung tidak akan bangun sebelum pukul 6 pagi.

Jadi dia memilih untuk melakukan olahraga ringan di ruang tamu, dialasi matras dan diiringi lantunan lagu setelah menutup pintu kamar rapat-rapat agar Taehyung tidak terganggu. Setelah satu jam, dia memindahkan croissant-croissant gemuknya ke dalam kulkas untuk resting kembali selama satu jam.

Digunakannya waktu itu untuk mandi dan kemudian menghangatkan muffin-muffin yang dibelinya semalam. Dia menyusun muffin-nya di loyang lain lalu memasukkannya ke dalam microwave, mengatur timer-nya dia kemudian kembali ke kulkas.

Meraih beberapa buah-buahan dia mengupasnya dan menatanya di dalam mangkuk putih. Tidak lupa juga menuang segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri dan juga Taehyung. Dia meneguk jusnya hingga tandas setelah berolahraga, meraih segenggam anggur hijau dan langsung menyuapnya. Kunyahan yang segar dan ledakan rasa anggur yang manis dalam rongga mulutnya menemaninya saat mengeluarkan croissant mentahnya dari kulkas dan mulai memanaskan oven.

Seraya menanti oven panas, dia mengocok telur dan susu untuk olesan permukaan croissant. Dengan kuas, dia mengoles campuran itu di permukaan croissant yang gendut dan menarik lalu tersenyum saat menyaksikan kue buatannya nampak seperti apa yang diharapkannya.

Akhirnya dia memasukkan croissant itu ke dalam oven. Menyetel timer-nya, dia kemudian menata muffin hangat di atas piring dan memindahkannya ke tray andalan mereka. Menambahkan dua jus jeruk, satu cup selai stroberi kesukaan Taehyung dan juga mangkuk buah-buahan yang disiapkannya.

Tepat saat croissant matang dan Jungkook sedang meraih pintu oven, ponselnya berbunyi. Dia melirik ke ponselnya di konter, menemukan pesan Taehyung dan terkekeh. Tunangannya memang selalu malas untuk berteriak saja padahal mereka berada di ruangan yang sama.

Dia membalas pesannya, lalu melanjutkan pekerjaannya. Meletakkan croissant hangat dan renyah di atas piring bersisian dengan muffin. Dia kemudian membereskan dapur, menyapu bersih sisa-sisa kegiatannya sebagai semacam reaksi spontan dan kebiasaan.

Selama sekolah kulinari, Jungkook selalu terbiasa untuk mengelap konternya bersih tiap kali selesai melakukan sesuatu. Makanya dia selalu memiliki satu lap yang disangkutkan di celananya untuk diraih sewaktu-waktu. Tangannya akan selalu otomatis meraih lap itu tiap kali menyelesaikan tahapan memasak.

Setelahnya, dia melipat apronnya dan membawa nampan ke kamar yang gelap. Dia menemukan Taehyung berbaring di ranjang, di atas tumpukan bantal yang nyaman dan hangat. Nampak seperti bayi dalam tumpukan benda-benda empuk hangat kesayangannya. Menggemaskan sekali.

“Aku mencium aroma croissant,” katanya serak menatap Jungkook dengan mata mengantuk dan rambut yang mencuat-cuat. Ada jejak bekas tidur di sepanjang tulang pipinya saat dia melongok ke Jungkook. “Kau baru saja memanggang croissant?”

“Yep,” balas Jungkook meletakkan nampan di ranjang dan melirik jam. “Sudah jam setengah tujuh, boleh kubuka tirainya?”

Taehyung dalam balutan selimut tebal, nampak seperti burrito menggemaskan sekarang menjulurkan tangan ke tray, meraih croissant gendut pertama dan membawanya ke mulutnya. Menyuapnya besar dan mengunyah dengan desahan lembut.

“Silakan,” katanya sambil mengunyah. “Croissant buatanmu selalu enak,” desahnya menatap croissant separo termakan di tangannya dengan takjub seolah hal itu adalah sebuah harta karun sebelum menjejalkannya ke mulut dan mengunyah dengan pipi menggelembung.

Jungkook menyentakkan tirai terbuka, menampilkan langit Jakarta yang kelabu dengan titik-titik air yang menghiasi permukaan jendela mereka. Cuaca begitu kelabu dan mustahil untuk meninggalkan ranjang dengan suasana seperti ini. Dia menoleh dan menemukan Taehyung sedang bersila di kasur, dengan nampan di pangkuannya dengan selimut membalut tubuhnya.

Dia sedang membuka selai dengan giginya dan menyelupkan ujung croissant kedua ke dalamnya. “Apakah kau masih punya croissant lagi?” tanyanya lalu menjejalkan croissant kedua ke mulutnya yang penuh dan dia mendesah panjang saat rasa renyah pastry, mentega yang gurih dan selai stroberi yang segar memenuhi mulutnya.

Sempurna.

Jungkook, tidak bisa menahan dirinya sendiri, meraih Taehyung dan mengecup keningnya lembut. “Aku punya banyak. Kuambilkan dulu,”

Namun sebelum dia beranjak, Taehyung meraihnya dan menariknya hingga duduk di ranjang. Nampan makanan disingkirkan dari ranjang sehingga ada cukup ruang untuk Jungkook.

Terkekeh, Jungkook memeluknya. “Kenapa, sih?” tanyanya saat Taehyung menyusup ke pelukannya, meletakkan wajahnya di ceruk leher Jungkook dan menghela napas dalam-dalam.

“Kau selalu beraroma lezat tiap kali selesai memanggang pastry. Aku suka,” katanya teredam di kulit Jungkook. Aroma Jungkook seperti sabun mandi, mentega lembut serta croissant hangat. Menyenangkan dan menenangkan seluruh saraf Taehyung. Dia menghirup napas dalam-dalam; memenuhi seluruh inderanya dengan aroma itu.

Chef muda itu terkekeh lalu merengkuh burrito-nya ke pelukannya. “Sayang,” bisiknya penuh pemujaan lalu memejamkan matanya dengan kepala bersandar di puncak kepala Taehyung yang beraroma khas Taehyung dan parfumnya.

Pagi yang indah, dengan croissant hangat, jus jeruk dan buah-buahan, serta tunangannya yang manja. Jungkook merasa lengkap, utuh dan sempurna.

***