The Chef #42

“Hei,”

Taehyung tersenyum saat mobil Jungkook berhenti di lobi kantornya dan dia melambai ramah pada satpam yang sejak tadi menemaninya mengobrol. Dia menyelipkan tubuhnya ke dalam mobil yang beraroma tajam rempah Indonesia yang menguar dari tubuh Jungkook.

Perbedaan mendasar dari mereka adalah mobil Taehyung selalu beraroma seperti parfumnya dan juga pengharum sintetis mobilnya. Segar dan harum. Namun mobil Jungkook selalu beraroma berbeda setiap hari; rempah Indonesia, rempah India yang pedas, vanila, mentega, lada hitam....

Walaupun Jungkook selalu mandi sebelum pulang, aromanya tetap menempel di bawah aroma sabun yang digunakannya. Apalagi hari ini saat Taehyung memasuki mobil dan mencium aroma tajam rempah Bali dan dia merasa bahwa kekasihnya pasti buru-buru untuk menjemputnya dan tidak sempat mandi di lokernya.

Itu membuatnya semakin penasaran pada rahasia apa yang disembunyikan Jungkook darinya.

“Kau sudah makan?” tanya Taehyung saat mengaitkan sabuk pengaman. “Boleh mampir beli makan? Chinese food depan sana saja, aku sedang ingin makan sapo tahu. Kau mau?”

Jungkook yang mengemudi dengan raut wajah gelisah mengangguk, “Aku mau ifumie,” sahutnya. Dia menatap jalanan saat menginjak gas, luar biasa tegang lalu berdeham. “Sayang...,” katanya.

“Ssst,” sahut Taehyung melambaikan tangan. “Nanti. Kita makan dulu lalu mandi. Setelahnya aku akan mendengarkan, oke? Kau butuh relaksasi sebentar.” Dia menjulurkan tangan lalu meremas tangan Jungkook yang berada di atas kepala perseneling.

Jungkook menghela napas dalam-dalam, mencengkram roda kemudi hingga buku-bukunya memutih. “Aku minta maaf—,”

“Tidak, tidak,” tukas Taehyung tersenyum. “Nanti, oke? Kau harus makan dulu lalu mandi. Lalu kita bicara. Gunakanlah waktunya untuk menata isi kepalamu, jangan tersulut oleh apa pun. Aku ingin kita bicara dengan kepala dingin.”

Maka Jungkook diam.

Taehyung memutar lagu mendayu-dayu di audio mobil Jungkook. Membiarkan alunan musik lembut itu membelai seluruh saraf Jungkook hingga dia merasa rileks. Saat Taehyung turun untuk membeli makanan mereka, Jungkook menyandarkan diri pada kursinya.

Menatap ke luar jendela, ke Taehyung yang duduk di kursi depan kasir warung makanan Chinese dalam balutan kemeja dan celana pullover yang rapi, menunggu pesanan mereka. Nampak sangat tampan dan nyaman. Dia sedang mengobrol dengan ibu kasir; persis Taehyung biasanya yang selalu cepat akrab dengan orang-orang.

Jungkook mengerang.

Dia seharusnya menceritakan ini sejak awal dan tidak menunggu hingga orang lain menggunakannya sebagai senjata untuk menjatuhkan Jungkook. Ini memang salahnya—karena sejak perselisihan itu, dia dan Mingyu sudah tidak saling kontak.

Dia tidak tahu bahwa sekarang Mingyu bekerja bersama Taehyung. Dia bahkan lupa dulu Mingyu bekerja dimana karena dia benar-benar ingin melupakan masalah itu.

Dan dia sama sekali tidak tahu bahwa kemudian dia bertemu dengan Taehyung. Dan jatuh cinta padanya. Dan memintanya menikahi Jungkook.

Hidup memang sebercanda itu.

“Ayo,”

Jungkook terkesirap, menoleh saat pintu terbuka dan Taehyung sedang memasuki mobil dengan plastik di tangannya yang beraroma tajam bumbu dan kehangatan. Pemuda itu membalik diri ke jok belakang, meletakkan makanan di atas kursi lalu memasang sabuk pengamannya.

“Kau masih punya Varlhona tidak di rumah?” tanya Taehyung kemudian.

“Hm, kau mau buat chaud?”

“Yap. Kau sepertinya butuh yang manis-manis.”

Jungkook menelan ludah; sepertinya malah Taehyung yang akan membutuhkan minuman manis setelah mendengar ceritanya. “Berjanjilah padaku apa pun yang aku ceritakan, tidak akan mengubah pandanganmu padaku.” katanya mengabaikan fakta bahwa Taehyung sudah memperingatkannya.

Taehyung mendongak, menatapnya langsung ke mata dan mendesah lembut. Dan hal itu malah membuat perut Jungkook mengejang oleh rasa takut dan trauma.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” katanya setenang biksu, dengan nada kalah telak yang membuat Jungkook ingin muntah.

“Tapi aku akan berusaha memahamimu. Maka tolong berceritalah dengan kepala dingin jadi aku bisa memahamimu.”

Mereka tiba di apartemen dengan bersidiam. Taehyung memasuki apartemen, menyalakan lampu dan meletakkan makanan di meja. Meminta Jungkook untuk mandi sementara dia menghangatkan makanan mereka. Jungkook mengguyur dirinya di bawah shower; memejamkan mata dan menyiapkan mentalnya.

Bertahun-tahun.

Bertahun-tahun dia sudah menyimpan rahasia ini hanya untuk dirinya sendiri dan pernah dengan ceroboh membocorkannya pada Mingyu dalam keadaan mabuk dan patah hati. Dia seharusnya faham bahwa dia harus memberitahu Taehyung rahasia ini—tunangannya tidak pernah merahasiakan apa pun darinya.

Jadi mengapa Jungkook merahasiakan ini?

Dia menyeka rambutnya ke belakang. Bernapas melalui mulutnya.

Yugyeom benar—dia berusaha menjebak Taehyung. Membuat situasi dimana sudah cukup terlambat untuk Taehyung untuk mundur. Dia ingin mengikat Taehyung dalam pernikahan sebelum dia jujur pada lelaki itu.

Dia memang seegois itu. Seangkuh itu. Sekeras kepala itu.

Mingyu benar.

Dia seharusnya mulai mengevaluasi dirinya jika dia tidak mau kehilangan Taehyung selamanya.

Jungkook mematikan kran air lalu beranjak keluar dari boks shower dan menemukan Taehyung berdiri di dalam kamar mandi dalam celana boksernya. Lelaki itu menatapnya melalui cermin lalu berbalik.

Dalam diam dia menghampiri Jungkook, merengkuh lelaki itu dalam pelukannya lalu menciumnya. Jungkook berdeguk, merasakan kesedihan dalam ciuman itu hingga seluruh sarafnya menegang ketakutan.

Apakah Taehyung sudah tahu? Apakah Mingyu memberitahunya? Itukah mengapa Taehyung bersikap tenang? Apakah dia sudah siap meninggalkan Jungkook? Atau dia akan memberi waktu untuk Jungkook sekadar membela diri dan menjelaskan?

Atau mengikhlaskannya?

Taehyung meraih lehernya, mengaitkan kedua lengannya di tengkuk Jungkook membuat rambutnya yang basah menempel ke lengannya dan memperdalam ciuman mereka. Jungkook melepaskan tangannya dari handuknya yang meluruh ke lantai dan meraih pinggang Taehyung.

Jika memang Taehyung sudah tahu, jika memang dia sudah memutuskan; maka Jungkook akan menciumnya untuk terakhir kalinya. Membiarkan seluruh inderanya merasakan Taehyung untuk terakhir kalinya sebelum dia kehilangan aroma tubuh Taehyung di ranjangnya tiap pagi, senyumannya setiap hari, suaranya setiap saat.

Jungkook nyeri saat mengingat masa-masa itu; saat dia merangkak dengan tangan dan kaki yang berdarah berusaha menggapai tali kehidupan yang menggantung terlalu tinggi.

Bertanya haruskah dia tetap hidup? Kenapa dia tidak mati saja?

Akankah dia merasakan hal yang sama lagi?

Saat ciuman mereka lepas dengan handuk Jungkook teronggok di kaki mereka. Taehyung tersenyum; begitu indah dan menyejukkan hingga hati Jungkook terasa diremas-remas.

“Aku mandi dulu, oke?” katanya tersenyum lebar, menepuk pipi lembab Jungkook dan menyeka rambutnya yang menempel di wajahnya. “Kenakan bajumu yang nyaman dan hangat, dan tunggu aku.”

Dan saat Jungkook duduk di sofa ruang tamu dengan Netflix menyala namun tidak sama sekali ditontonnya, Taehyung keluar dengan piyama kesayangannya yang bergambar gajah-gajah mungil berwarna toska. Rambutnya disisir rapi dan dia nampak segar sekali dengan wajah yang halus setelah bercukur.

“Ayo makan,” ajaknya ceria sementara di kursi, Jungkook merasa perutnya melilit.

Kenapa Taehyung belum mengamuk juga? Apakah dia sengaja menyiksa Jungkook?

Mereka makan dalam keheningan. Taehyung menonton televisi dengan ceria, menyuap makanannya dengan lahap dan nampak begitu nyaman hingga Jungkook ingin memeluknya begitu erat. Jadi dia menggeser kursinya, menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung dan melanjutkan makannya tanpa rasa berdosa.

Taehyung membelai pipinya sambil makan dan menonton televisi.

Jungkook berharap mereka bisa begini selamanya, namun akhirnya saat Taehyung menyeduh cokelat dan Jungkook menyelesaikan cucian piringnya. Mereka beranjak ke kursi dengan masing-masing mug di tangan mereka beraroma tajam cokelat murni dan rempah lezat yang kental dan lengket.

“Nah,” kata Taehyung kemudian. “Jadi, apa rahasianya?”

Jungkook mengerjap. “Kau.... belum tahu?”

Taehyung mengendikkan bahu. “Belum.” katanya. “Mingyu berusha memberitahuku tapi aku menolaknya. Menurutku rasanya lebih layak saat aku tahu langsung darimu. Sekalian, sebenarnya hubunganmu dengan Mingyu apa? Dan kenapa aku baru tahu sekarang?

“Jangan pikir aku tidak marah dan sakit hati,” kata Taehyung lembut dan Jungkook menatapnya, terpesona oleh bagaimana Taehyung bisa begitu tenang menghadapi ini saat dia merasa begitu mual oleh rasa tegang. “Aku sungguh sakit hati karena kau merahasiakan sesuatu dariku dan ternyata mengenal Mingyu selama ini tapi aku tidak tahu.

“Tapi,” katanya lagi. “Aku yakin kau pasti punya alasan. Maka, tolong. Buat aku mengerti, oke?”

Jungkook memainkan mugnya yang terasa hangat lalu menelan salivanya dengan tercekat. “Bisakah kau mendengarkannya hingga selesai sebelum.... entahlah, memutuskan pertunangan kita?”

Taehyung mengerjap. “Kedengarannya serius,” sahutnya lalu membenahi duduknya, meraih tangan Jungkook yang dingin dan meremasnya. “Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha. Jadi, buat aku mengerti, oke?”

Chef muda itu mendongak, menatap dalam ke mata Taehyung yang berkerlip penuh kasih dan kesabaran. Bagaimana dia bisa dianugerahi lelaki sebaik dan selembut Taehyung setelah apa yang dilakukannya di masa lalu?

Dia mendesah panjang, dia menatap tangannya yang digenggam oleh Taehyung di pangkuannya dengan nyeri; akankah Taehyung tetap menggenggam tangannya seperti ini setelah mendengar ceritanya?

“Semuanya akan berkaitan hingga ke bagaimana aku mengenal Mingyu. Dan aku... berbohong tentang beberapa hal.” Jungkook menatap Taehyung, mencoba menguraikan wajahnya—mencoba mencari kerut tidak setuju atau amarah. Tapi tunangannya menatapnya dengan tenang.

“Lalu?” tanyanya.

Cincin tunangan mereka terasa dingin di telapak tangan Jungkook saat dia dengan perlahan mulai membuka laci ingatan yang sudah berusaha dikuburnya selama ini. Bersama Taehyung dan oleh Taehyung.

Namun dia seharusnya menyelesaikan dulu masalahnya di masa lalu sebelum memulai lembaran baru, kan?

“Kejadiannya saat aku masih di sekolah kulinari...”

*