The Chef #19

“Tidak ada retak atau pendarahan dalam, Pak Taehyung tenang saja.”

Jungkook melirik kekasihnya yang melumer oleh rasa lega di kursinya seperti mentega yang dipanaskan saat akhirnya dokter menerangi hasil ronsen kepala Jungkook dan menunjukkan bahwa segalanya baik-baik saja.

“Tapi dia sempat merasa telinganya berdenging, itu bagaimana, Dok?” tanya Taehyung lagi dengan keras kepala dan Jungkook mendesah, bersandar di kursinya dengan tenang.

Saat dia akhirnya menceritakan apa yang dirasakannya saat kepalanya terbentur, Taehyung langsung tanpa basa-basi dan belas kasihan, memaksanya mengenakan pakaiannya dan menyeretnya ke lobi—meminta satu driver hotel untuk mengantarnya ke rumah sakit swasta terbaik di Bali.

Saat ditanya kenapa swasta karena rumah sakit umum daerah lebih dekat dari hotel, dia balik membentak driver hotel hingga Jungkook meringis: “Saya tidak suka tunangan saya harus menunggu antrian panjang pasien BPJS dan rujukan dari luar daerah. Saya mau swasta.”

Jungkook malu sendiri dan memint maaf diam-diam pada driver hotel yang wajahnya pucat karena kaget dibentak Taehyung. Dia menyelipkan seratus ribu untuk driver itu saat mereka turun di parkiran rumah sakit dan meminta beliau membeli makanan atau rokok sebelum Taehyung berteriak tidak sabar:

“By, ayo!”

Jungkook tersenyum, menatap tunangannya yang rewel itu dengan penuh sayang. Taehyung memang akan melakukan apa pun untuk memastikannya baik-baik saja, Jungkook menikmati sekali perhatiannya yang luar biasa berlimpah itu.

Dan sekarang mereka di sini, menyaksikan Taehyung mendebat diagnosis ahli tentang kepala Jungkook—persis seperti Taehyung-nya yang biasa.

“Telinga berdenging itu reaksi kepalanya atas benturannya dan sifatnya sementara,” kata dokter itu tenang, sudah terbiasa menghadapi pasien yang tidak terima dan kritis semacam Taehyung. “Kepala Bapak Jungkook baik-baik saja dari hasil ronsennya; tidak ada gumpalan darah atau retak sama sekali. Apakah benjol atau memar?” tanyanya pada Jungkook.

Jungkook menggeleng lalu mengaduh kecil saat Taehyung dengan mendadak menyentuh kepalanya, membuatnya menunduk agar dokter bisa melihat kepalanya.

“By, calm down!” seru Jungkook saat kekasihnya menyibakkan rambutnya, memaksa dokter untuk melihat kulit kepalanya.

Dokter itu mendenguskan senyuman profesional atas tingkah itu lalu menyentuh kepala Jungkook dengan lembut setelah menggumamkan permisi. “Tidak apa-apa,” katanya kemudian. “Tidak ada luka sama sekali, tidak ada reaksi dalam juga. Kepala kekasih Anda kuat,” katanya menghibur.

Taehyung menatap dokter di hadapannya. “Anda yakin?”

“Yakin.”

“Jika terjadi sesuatu saya akan menuntut Anda ke pengadilan.”

Mulut Jungkook terbuka, kaget. “By, demi Tuhan. Tidak perlu sejauh itu.”

Dokter itu menatap Taehyung tenang, tersenyum walaupun Taehyung sedang bersikap tidak sopan. “Anda bisa lihat sendiri hasil ronsennya,” katanya. “Jika Anda belum yakin, Anda bisa membawa hasil ini ke dokter lain sebagai pendapat kedua.”

“Tidak, tidak.” kata Jungkook tersenyum pada dokter itu. “Kami percaya pada kemampuan Anda dan saya sendiri merasa kepala saya baik-baik saja.”

“Tapi tetap,” kata dokter itu saat mereka akhirnya berdamai dan Taehyung berhasil dijinakkan. “Jika dalam satu minggu Anda merasakan nyeri atau migren yang menyiksa, kembali untuk diperiksa lebih lanjut, ya, Pak. Saya sarankan untuk melakukan CT-Scan lengkap untuk mengecek lebih lanjut.”

Jungkook mengangguk, mengepit hasil ronsennya yang dimasukkan ke map kertas tebal. “Baik, Dokter. Terima kasih.”

“Jika terjadi sesuatu padamu kedepannya, aku akan menuntut dokternya.” kata Taehyung seraya melangkah ke arah vila mereka setibanya di hotel setelah membentak bell boy yang membukakan pintu untuk mereka dan Jungkook terpaksa harus meminta maaf pada pemuda polos itu, yang mengangguk faham.

“Dokter bukan Tuhan,” hibur Jungkook mengejar kekasihnya dan meremas tangannya. “Mereka butuh waktu untuk melihat hasil yang benar. Kau dengar sendiri tadi dokter memintaku untuk memeriksakan kepalaku setelah satu minggu.

“Mereka memeriksa berdasarkan reaksi tubuh, dan jika sekarang tubuhku belum bereaksi dan mereka tidak menemukan apa pun—bagaimana bisa jika seminggu kemudian tubuhku bereaksi itu jadi salah mereka? That's unfair.”

Taehyung membuka kamar mereka dan menghambur masuk, mengabaikan Jungkook yang mendesah panjang, menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan. Kamar mereka sudah rapi setelah Jungkook memesan House Keeping untuk membereskannya di Front Office tadi karena dia merasa Taehyung mungkin akan merasa lebih baik jika kamar mereka bersih.

Dia juga memesan bunga di meja diganti dengan bunga baru dan dengan puas dia melihat seikat besar mawar diletakkan di atas vas yang tadinya terisi anggrek sintetis. Aroma lembut mawar sudah menguar memenuhi ruangan.

Sulit sekali jika Taehyung sudah bersikap dramatis seperti sekarang. Dia hanya akan bersikap seperti ini saat merasa tertekan dan bingung. Uring-uringan dan mustahil dijinakkan. Jungkook sudah meminta maaf pada lima staff selama perjalanan mereka ke kamar karena terkena bentakan Taehyung yang segalak macan.

“Hei, hei,” bisik Jungkook, meletakkan hasil ronsennya di atas meja lalu meraih tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya. Mengecup tengkuknya dengan lembut dan intim. “Jangan marah-marah, oke?” bisiknya serak. “Aku baik-baik saja,”

Taehyung mengerang, “Aku takut sekali,” katanya kemudian, tangannya mengenggam tangan Jungkook yang dikaitkan di atas perutnya. “Aku takut terjadi sesuatu padamu,”

“Aku baik-baik saja, aku masih di sini,” Jungkook menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung lalu mengulum telinganya dengan lembut hingga Taehyung mendesah kecil. “Tenang, tenang....” bisiknya mendayu-dayu, menjulurkan lidahnya dan menjilat cuping telinga Taehyung yang memerah.

“Kau tidak akan kehilanganku,” katanya mengecup pelipis Taehyung dan menempelkan tubuhnya yang mendamba ke tubuh Taehyung yang langsung meresponnya dengan lenguhan kecil yang mengirimkan sensasi ke seluruh tubuh Jungkook.

Taehyung menggeliat, “Kau memang bangsat manipulatif,” keluhnya saat berbalik menghadap Jungkook yang meraupnya lalu menggendongnya, mengaitkan kaki Taehyung di pinggangnya yang sekuat batu dan menarik ciuman panas malas dari dagu hingga ke tulang selangkanya.

“Kau mau selai stroberi atau cokelat?” tanyanya saat menempelkan tubuh Taehyung ke dinding, membelai dada Taehyung melalui pakaiannya dengan lidahnya yang panas.

“Hmm...,” pikir Taehyung terengah, kepalanya bersandar di dinding dengan bibir terkuak. Otaknya terasa meleleh; jika benturan tadi tidak merusak kepala Jungkook sama sekali, maka ciuman Jungkook-lah yang merusak kepala Taehyung. “Apa saja,” balasnya menyedihkan. “Tolong segera...”

“Bagaimana jika... aku menjejerkan stroberi di tubuhmu dan memakannya langsung dari sana?” bisik Jungkook rendah dan Taehyung mengerang keras oleh suaranya. “Kau suka itu?”

“Suka...” sahutnya tercekat saat tubuh mereka yang saling menebal menggelisahkan bergesekan melalui serat celana mereka dan akal sehat Taehyung menggelincir dari tempatnya, jatuh pecah berantakan. “Tolong segera,” katanya terengah. “Sekarang.”

“Hm...,” kata Jungkook, tehibur. “Masih bisa galak ternyata...” dia menjulurkan lidahnya, menjilat sisi leher Taehyung yang terbuka dan membuat pemuda di pelukannya terengah seperti binatang, mendambakan lebih dan lebih lagi sentuhannya.

“Kita lihat saat kau di ranjang dengan stroberi di atas tubuhmu, apakah kau masih bisa galak,” dia melempar Taehyung ke ranjang yang berderit lalu meraih telepon. Menghubungi in room dining, memesan stroberi dan Nutella dan meminta agar makanannya diletakkan di depan pintu saja.

Jungkook merangkak ke ranjang, ke atas Taehyung yang mengerut oleh gairah. Dia menaungi kekasihnya yang mengerang. “Sabar.” katanya lembut. “Makanannya belum datang, aku tidak mau memulai apa pun tanpa makanan di tubuhmu...”

“Kau bedebah bangsat,” gerutu Taehyung, pusing oleh gairahnya yang tidak tertahankan. “Kau dan food kink sialanmu...”

“Hmm..., galaknya,” Jungkook terkekeh serak, terhibur oleh bagaimana Taehyung berubah begitu garang dan kasar saat keinginannya tidak dipenuhi dan jika mau jujur, itulah salah satu alasan mengapa dia selalu turn on setiap kali melihat Taehyung bersikap galak dan tegas pada semua orang.

“Bagaimana dengan muscle dan tattoo kink-mu, itu dihitung tidak?” tanyanya lembut, membelai tubuh Taehyung dengan punggung tangannya tanpa benar-benar menyentuhnya dan menatap dengan terhibur bagaimana rambut di tangan Taehyung menegak oleh sentuhannya.

Dia membuat jiwa alfa Jungkook tertantang, untuk menundukkannya, membuatnya mengerang di kaki Jungkook dan menyebutkan namanya saat orgasme. Dia menyukai sensasi dominasi itu; menjinakkan lelaki segalak Taehyung, membuatnya menurut.

“Aku akan membiarkanmu mengoleskan Nutella di tatoku dan menjilatnya hari ini, apakah itu akan membuat suasana hatimu membaik?” rayunya dengan suara semanis madu yang menetes-netes hingga Taehyung tidak sanggup lagi bahkan hanya bernapas dengan teratur.

Sebelum Taehyung sempat meludahkan umpatan lain, bel pintu ditekan dan pintu diketuk tiga kali—sesuai standar internasional. “In room dining, Sir.” kata salah satu staff Food and Beverage yang membawakan pesanan mereka dari balik pintu. Dia memberi jeda sepuluh detik sebelum kembali mengulang bel dan ketukannya.

“In room dining, Sir. I left it here for you to collect.” katanya lalu berlalu.

Jungkook menatap tunangannya dengan alis terangkat sebelah dan lidahnya menyodok bagian dalam pipinya. “Kau siap, Sayang?” Senyuman bermain di bibirnya dan Taehyung meraih kepalanya, menciumnya dengan suara keras lalu mengigit bibirnya.

“OW!” seru Jungkook tertawa serak saat rasa darah meleleh di bibirnya. “Galak sekali,” katanya dengan nada tidak setuju. “Kenapa kau galak sekali, Baby?”

Taehyung nyaris meludahi wajah congkaknya. “Bawa makanan bangsat itu kemari,” dia berdeguk oleh gairah. “Sebelum aku benar-benar meludahimu,”

Jungkook tertawa, “Oh, Sayang, kau seksi sekali,” dia merunduk, mencium bibir Taehyung dengan malas; melumatnya perlahan seperti sedang menyicipi makanan mahal dan merasakan teksturnya di lidahnya.

“Marah-marahlah, aku suka sekali. Barks at me, it turns me on,” dia menjilat bibir Taehyung yang terkuak sebelum turun dari ranjang, melepas kausnya dan celananya seraya berjalan ke pintu untuk mengambil makanan mereka.

Setidaknya sekarang pikiran Taehyung terlalu sibuk untuk sekadar memikirkan kepala Jungkook.

*