The Chef #51
“Siang, Pak.”
Taehyung mendongak dari Mac-nya dan bertemu mata dengan Mingyu—salah satu anak buahnya yang tidak pernah membuat masalah, selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan sempurna. Dia ingat pemuda ini masuk ke kantornya satu tahun setelah dia naik menjadi chief, dan kinerjanya begitu gemilang. Dia salah satu dari sekian banyak manusia yang Taehyung rasa oke untuk berada di sekitarnya.
“Silakan duduk,” katanya kemudian, melepaskan kacamatanya, menyelipkan benda itu di saku kemejanya dan menutup layar Mac-nya. “Kau ingin pesan sesuatu?” tanyanya kemudian. “My treat.”
“Tidak, Pak.” kata Mingyu lalu duduk di depannya dengan wajah tanpa ekspresi. “Dari nada pesan Bapak, saya rasa Bapak sudah tahu ceritanya?”
“Ya,” kata Taehyung berusaha menekan nyeri yang menyeruak kembali ke dadanya—mungkin Jimin benar, dia seharusnya istirahat dulu sebelum kembali mengonfrontasi orang-orang dengan masalah ini.
Tapi dia juga jengah atas ketidaktahuan. Dia tidak terbiasa menjadi tidak tahu, dia terbiasa mengetahui segalanya. Dan posisi ini membuatnya jengkel sehingga dia akhirnya berangkat untuk bertemu Mingyu.
“Saya kaget kau tidak datang dengan gaya petantang-petenteng yang galak seperti nada pesanmu pada Jungkook,” katanya saat Mingyu memperbaiki duduknya di hadapannya. “Kemana dirimu yang itu?”
“Diri saya yang itu memang tidak ada, Pak,” sahutnya, mengendikkan bahu. “Itu hanya saya lakukan agar Jungkook mau mengaku. Dia keras, maka satu-satunya cara untuk memaksanya adalah dengan bersikap keras juga...”
Taehyung menatapnya dengan alis berkerut. “Maksudmu, selama ini kau bersikap seperti bajingan tengik begitu hanya akting?”
Mingyu balas menatapnya dengan tenang seolah tidak melakukan kesalahan apa pun selama ini. “Saya hanya ingin kalian berdua mengobrol, itu saja, Pak. Saya menghormati Bapak dan saya juga menyayangi Jungkook.”
Kebodohan macam apa lagi ini.
Taehyung merasa pening sekali dengan emosi-emosi mereka. “Baiklah.” katanya kemudian, “Saya hanya akan bertanya: apa sebenarnya masalahmu dengan Jungkook?” tanyanya, menyandarkan diri ke kursinya agar tidak nampak tegang dan mual.
“Hubungan saya dan Jungkook itu sesuatu yang rumit. Kompleks.” kata Mingyu kemudian, menatap Taehyung lekat-lekat.
“Saya akui saya memang pernah menyukai Jungkook dan kami pernah... bersama. Tapi bukan seperti yang Bapak pikirkan sama sekali; kami sama-sama berduka, kami butuh satu sama lain untuk berpegangan. Kehilangan itu begitu hebatnya bagi kami hingga butuh waktu lama untuk kembali bangkit.
“Saya meninggalkan Jungkook, jika Bapak tahu ceritanya—,” Taehyung mengangguk dan Mingyu melanjutkan, “Karena saya merasa, dua orang yang terluka tidak bisa bersama. Kami hanya akan saling menghancurkan; saling berusaha untuk menghisap kehidupan masing-masing untuk bahagia.
“Jungkook itu tipe lelaki destruktif ke dirinya sendiri,” Mingyu mendesah. “Seperti yang Bapak mungkin sudah fahami, dia suka sekali menghukum dirinya dengan cara berlebihan. Dan saya rasa, jika kami terus berdekatan. Kami tidak menjalani hubungan pertemanan, kami sedang menjadi racun bagi satu sama lain.
“Dia orang yang secara emosi bergantung pada orang lain untuk menyembuhkannya. Saya tidak bisa terus bertahan di sisinya, mencoba mengobatinya padahal saya juga sedang berduka. Tidak ada lagi energi yang saya miliki atau cinta atau kasih yang cukup untuk saya bagi pada Jungkook.
“Kami sama-sama remuk oleh duka dan kekecewaan.
“Maka saya pergi. Saya berharap dengan saya pergi, dia akan mampu menata kembali hidupnya. Faham bahwa dia seharusnya mencari pertolongan dan mencoba bangkit kembali di atas kakinya dengan kemampuannya sendiri, tidak bergantung pada keberadaan orang lain lagi. Saya berharap dia bisa menjadi lebih baik, lebih kuat dan belajar dari kesalahannya di masa lalu.
“Sungguh, saat saya masuk ke dalam tim Bapak, saya sungguh tidak tahu bahwa Bapak adalah tunangan baru Jungkook jika saja Jimin tidak mengirim foto Jungkook ke grup,” Mingyu menatapnya, sekarang nampak bersalah dan berduka.
Taehyung merasa mungkin kedua orang ini memang sama-sama destruktif dan bagusnya hanyalah Mingyu masih memiliki akal sehat untuk menyadari bahwa hubungan mereka hanya akan berubah menjadi racun yang menggerogoti hidup mereka jika mereka terus bersama.
Namun dia juga tidak bisa setuju dengan cara Mingyu melakukannya. Mungkin itu sedikit agak terlalu keras karena posisi Jungkook juga sama hancur dan berdukanya dengan dia—bahkan mungkin jauh lebih berduka karena dia tidak sempat menatap gadis itu untuk yang terakhir kalinya.
“Lalu apakah kemudian kau merasa berhak menghancurkan hidupnya seperti ini? Bahkan setelah duka yang kalian lalui bersama itu?” tanya Taehyung kemudian.
Mingyu menatapnya, sejenak seperti hendak melempar konfrontasi lain; dia membuka mulutnya namun kemudian menutupnya kembali. Kebingungan dan Taehyung menahan napasnya, sudah bersiap untuk menerima ledakan emosi lain. Tetapi dia ragu dan akhirnya menyerah, menatapnya putus asa.
Taehyung menghembuskan napasnya.
“Jungkook memang keras, egois dan penuh harga diri. Tidak ada cara lain untuk membuatnya bicara dan jujur kecuali ancaman,” Mingyu menatapnya; pandangannya nampak menyerah kalah. “Saya benar-benar memohon maaf jika saya bertindak keterlaluan pada Bapak atau Jungkook. Tapi saya benar-benar tidak ingin Bapak atau Jungkook, mengalami hal yang sama. Lagi.
“Saya kaget sekali saat ternyata Bapak dan Jungkook sudah bertunangan. Jadi saya merasa, apakah dia sudah bicara? Apakah Bapak sudah tahu? Dan saya sangat yakin bahwa Bapak adalah pribadi yang cukup dewasa dalam menyikapi masalah semacam ini. Tapi saat saya mencoba mengonfrontasinya dan dari reaksinya, saya tahu.
“Dia sedang membuat bom waktu dalam hubungan Bapak dan dia. Maka saya rasa, saya harus melakukan sesuatu. Karena saya sayang padanya dan saya menghormati Bapak; saya tidak ingin hal ini mengganjal hubungan kalian dan menyebabkan kejatuhan.
“Maka saya menekannya agar bicara. Dan saya sungguh senang karena dia akhirnya bicara, akhirnya menerima bahwa ada hal-hal yang diluar kekuasaannya sebagai manusia. Bahwa dia tidak bisa membuat semuanya sempurna seperti bagaimana dia membuat makanan sempurna.
“Percayalah, kehendak saya tidak pernah lebih dari itu. Saya hanya ingin membantu dan saya tahu bagaimana Jungkook; saya tahu bagaimana untuk memaksanya bicara. Mungkin terlalu kasar, tapi dengan Jungkook; bujukan bukan jawabannya. Dan saya rasa dia sudah bicara?”
“Sudah,” kata Taehyung, mulai merasa pening. Maka dia meraih gelas kertas di mejanya dan menyesap kopinya untuk menenangkan seluruh sarafnya yang tegang dan nyeri. “Dan saya setuju.” kataya kemudian.
Mingyu menatapnya. “Maaf, Pak?” tanyanya.
“Saya setuju bagian 'dengan Jungkook; bujukan bukan jawaban.'” Taehyung menatap kopinya dengan lekat.
Jungkook adalah pemuda paling angkuh, paling keras kepala dan paling congkak di dunia. Dia tidak pernah mau merasa salah, tidak pernah mau disalahkan. Taehyung tidak pernah membujuknya, dia mengancam dan mendesak. Bahkn menyeretnya—hanya dengan itu Jungkook akan melakukannya. Maka Jungkook akan selalu berusaha melakukan segala sesuatunya dengan sempurna hingga tidak ada celah untuk orang lain menjegalnya.
Bayangkan bagaimana perasaannya saat dia mendapati malam itu; semua yang dia kerjakan, semua yang dia usahakan tidak menghasilkan sesuatu sesempurna apa yang diinginkannya.
Taehyung faham sekali posisi Jungkook dan sama sekali tidak menyalahkannya tentang kematian kekasihnya. Jika gadis itu meninggal karena keracunan gas, memangnya itu salah Jungkook? Bukan.
Yang membuatnya kecewa—sangat kecewa adalah fakta bahwa Jungkook sejak awal telah memanipulasinya. Menjebaknya dalam kehobongan dan tipuan simpati. Membangun sebuah kesempurnaan palsu dalam hubungan mereka; Taehyung sekarang mulai berpikir seberapa banyak hal yang Jungkook sembunyikan darinya?
Seberapa banyak kejujuran dan kebohongan dalam hubungan mereka selama ini?
Belum lagi fakta bahwa orang lain harus mengancam Jungkook sedemikian rupa hingga akhirnya Jungkook jujur pada Taehyung; jika Mingyu tidak mengancamnya, apakah dia akan bicara? Kapan?
Jika dia tahu cerita ini dari awal, Taehyung akan tetap bertahan. Mungkin akan merasa takut akan posisinya karena Jungkook dengan mudahnya meninggalkan kekasihnya demi pekerjaan. Hal yang sangat manusiawi.
Tapi sekali lagi, jika pun Jungkook datang ke rumah sakit; apa yang bisa dilakukannya? Dia punya satu tim yang timpang dan harus tetap menjaga food flow sesuai dengan standarnya. Jika masalah berduka, Taehyung yakin Jungkook sudah cukup keras menghukum dirinya sendiri; Taehyung tidak perlu ikut melakukannya.
Hanya saja, kebohongan itu—segala kebohongan itu.
Belum lagi fakta bahwa Jungkook adalah biseksual. Apakah jika hari itu Taehyung tidak di gym bersama Jungkook, pemuda itu akan menanggapi gadis bercelana yoga itu? Dia seorang biseksual; dia bisa saja berpaling, kan? Banyak hal yang Taehyung tidak bisa berikan seperti apa yang seorang gadis berikan.
Segala hal yang Taehyung letakkan di atas fondasi hubungan mereka terasa retak dan hancur berantakan sekarang. Rasa percaya itu seperti rumah kartu; sulit dibangun dan satu tiupan saja sudah cukup untuk menghancurkannya.
Bisakah Taehyung kembali percaya padanya?
“Jungkook adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab,” Mingyu kemudian melanjutkan dan Taehyung mengerjap, kembali fokus pada lelaki di hadapannya. “Saya hanya berharap malam itu, dia mungkin bisa... entahlah, menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat? Lalu ke rumah sakit? Dan meminta tolong profesional menyembuhkan dirinya?”
Taehyung menatapnya. “Jika itu kau,” katanya kemudian dengan nada setajam es. “Apa yang akan kaulakukan? Anak buahmu kocar-kacir menyiapkan menu, seluruh dapur sedang berantakan dan kau sama sekali belum makan seharian. Lalu tiba-tiba tunanganmu dikabarkan sekarat; yang mana yang akan kaupilih?”
“Saya faham posisinya,” kata Mingyu balas menatapnya. Nampak sangat bersalah hingga hati Taehyung merasa nyeri. “Saya faham apa yang harus dihadapi Jungkook. Saya... kecewa. Karena pada saat terakhir pun, dia tidak bisa menemani tunangannya. Bahkan setelah bertahun-tahun, dia juga belum berani untuk meminta tolong orang lain dengan lukanya.”
“Sekecewa itu hingga kau merasa layak menghukumnya dengan menyalahkannya atas kematian gadis itu?”
Mingyu mendongak, kaget dan benar-benar terluka. Lalu tertawa serak. Taehyung sudah akan marah karena takut Jungkook akan kembali membohonginya; sebagaimana dia melakukannya selama ini namun dia urung saat air mata meleleh dari mata Mingyu.
Terus-menerus hingga akhirnya dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis terisak-isak.
Taehyung menghela napas, bangkit. Meraih air mineral di dekat konter, memesankannya cokelat panas dengan ekstra espreso lalu membayarnya. Dia kemudian menaruh botol air itu di meja Mingyu dengan setumpuk tisu.
“Menangislah, kau dipersilakan menangis. Tapi saya masih membutuhkan jawaban.”
Taehyung menatap Mingyu yang terisak di hadapannya dengan tenang. Mengabaikan sepenuhnya tatapan store yang tertuju pada mereka, ke arah pemuda yang sedang membungkuk terisak di hadapan Taehyung; begitu rapuh dan terluka.
Mungkin, begitu pikir Taehyung saat mendengarkan cerita Jungkook. Mungkin jika saja hari itu mereka berdua berpikiran jernih, tidak saling kecewa dan menyalahkan diri sendiri; mereka akan mampu bahu-membahu melewati duka mereka.
Mungkin bahkan Jungkook tidak akan membutuhkan Taehyung sama sekali. Namun mereka memilih bersikap saling melukai, saling menghindar. Seperti dua bayi yang berebut mainan; sama-sama angkuh untuk mengakui kesalahan dan meminta bantuan.
Jungkook menolak meminta bantuan dan Mingyu merasa dia tidak boleh membantu Jungkook.
Mingyu meraih tisunya, mengelap wajahnya yang sembab dan nampak begitu kacau hingga Taehyung terenyuh. “Maaf,” katanya serak akibat ledakan emosinya.
“Tidak masalah,” kata Taehyung tenang. “Emosimu valid.”
“Itukah yang membuatnya selama ini merasa depresi?” tanya Mingyu kemudian, perlahan seolah sedang meniti jembatan yang rapuh.
“Dia percaya bahwa dirinya membunuh gadis itu dan tidak layak lagi membina hubungan dengan siapa pun.” Taehyung menatapnya dengan tenang walaupun hatinya terasa gemuruh. Nampaknya yang butuh bertemu malah Mingyu dan Jungkook, bukan dia dan Jungkook.
“Dan saya rasa, kau sama kecewanya atas kematian gadis ini hingga mengucapkan hal-hal yang mungkin tidak kau kehendaki sama sekali. Benar? Dan hingga detik ini kau sendiri tidak menyadari kalimatmu yang keliru ini?”
Mingyu menatapnya, dengan wajah kosong dan Taehyung mendesah. Menemukan ujung dari segala drama yang selama ini dipelihara Jungkook dan Mingyu hingga sebesar ini. Mereka sedang saling menyakiti dan tidak pernah bisa untuk menunduk dan meminta maaf; Jungkook dengan kekeras kepalaannya dan Mingyu dengan usahanya untuk melindungi dan menghindar.
Mingyu mungkin merasa dia sedang melindungi Jungkook, tapi dia hanya sedang berusaha menghancurkan mereka berdua. Taehyung faham apa yang sedang terjadi; faham alasan mereka berdua dan mengapa benang ini sekusut apa yang ditemukannya hari ini.
Tapi Taehyung sungguh tidak ingin menyalahkan siapa pun; mereka berdua adalah korban dari keadaan. Emosi-emosi mereka mentah dan muda, dan selama ini dipelihara dengan cara yang salah. Mingyu kecewa atas kematian gadis itu, kecewa ternyata Jungkook tidak sehebat apa yang dipikirkannya. Sementara Jungkook sendiri sudah cukup kecewa dengan dirinya sendiri dan masih harus menghadapi kekecewaan Mingyu padanya.
Mereka benar-benar sedang berusaha saling membunuh.
“Kalian harus bertemu.” katanya kemudian dengan tegas. “Saling memaafkan bahwa kejadian di masa lalu itu bukan salah kalian berdua. Ikhlaslah bahwa hidup dan mati gadis ini sama sekali bukan di tangan kalian. Dan jika malam itu pun Jungkook melepaskan pekerjaannya untuk datang ke rumah sakit, apa yang bisa dilakukannya?
“Dia percaya rumah sakit sudah melakukan yang terbaik. Hal yang tidak bisa dilakukannya sebagai seorang chef. Dengan kemampuannya, dia jauh akan lebih berguna di dapur bersama timnya yang merangkak berusaha menyelesaikan pesanan.
“Saya faham, maksudmu sekarang sangat baik untuk menghindarkan Jungkook dari kejadian yang sama. Untuk menghindarkan saya dari kejadian yang sama. Saya sangat mengapresiasi bantuanmu serta kejujuranmu. Walaupun saya sungguh tidak mengapresiasi cara bicaramu di masa lalu pada Jungkook.
“Kalian berdua masih memiliki dendam pada satu sama lain. Kau percaya bahwa Jungkook membunuh gadis itu dan Jungkook percaya dialah yang menyebabkan kematian itu. Masalah kalian hanya akan selesai jika kalian bertemu.” Dia mendesah panjang, mulai merasa pening.
Dia seharusnya makan dulu sebelum kemari.
“Dan saya berterima kasih,” katanya kemudian, menatap Mingyu yang membersit di hadapannya; nampak begitu patah hati dan remuk oleh pembicaraan hari ini. “Jika kau tidak menekannya, saya tidak akan tahu rahasia itu sama sekali. Terima kasih, telah menyelamatkan hubungan kami. Menyelamatkan saya, khususnya.”
Mingyu menatapnya. “Dia mencintai seperti orang gila,” tambahnya serak dan parau. “Dia sangat mencintai Bapak, saya bisa lihat itu. Maka saya berusaha menyelamatkannya dari rasa sakit yang sama; saat saya melihat reaksinya pada pesan saya, saya menyadari bahwa dia belum memberitahu kejadian sebenarnya.
“Saya takut, dia akan ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi sekali lagi.”
Taehyung mulai merasa mual; asam lambung terasa membakar tenggorokan dan kerongkongannya. Memenuhi rongga mulutnya dengan rasa pahit yang getir. Dia menelan ludahnya yang terasa memualkan dan tersenyum; lelah sekali.
“Jungkook sudah cukup menghukum dirinya sendiri, Mingyu. Tidak perlu ditambah dengan kemarahanmu atau kemarahan saya. Dia sudah cukup menderita. Saya pribadi tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak kau tidak juga Jungkook. Ini murni hanyalah ledakan emosi labil masing-masing yang salah tempat.
“Kalian harus saling memaafkan. Agar tidak ada kejadian seperti ini lagi di masa depan.”
Mingyu mendongak, menatapnya kaget dengan mulut terbuka. Mencerna kalimat Taehyung dengan perlahan. “Maksudnya...?” tanyanya dengan suara gemetar.
Taehyung mendesah. “Saya butuh waktu untuk mempertimbangkan apakah saya masih cukup berbesar hati untuk memaafkannya kembali,” dia tersenyum lemah. “Saya butuh waktu; berbeda dengan kalian, saya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tidak saling meneriaki satu sama lain seperti bayi berebut mainan.
“Tapi saya sungguh,” kata Taehyung kemudian. “Saya berterima kasih banyak padamu, karena telah menekan Jungkook hingga akhirnya menceritakan rahasianya. Jika bukan karena caramu itu, sampai saat ini saya mungkin masih buta atas fakta itu.”
Mingyu menatapnya. “Jika saja,” dia berkata perlahan. “Jika saja dari awal Jungkook menceritakan semuanya pada Bapak, apakah Bapak akan menerimanya apa adanya dia?”
Taehyung tertawa, merasa nyeri di hatinya. Cintanya yang berlimpah untuk Jungkook terasa menyakitinya kini. “He's such a jerk, a sexy jerk. Dan ya,” dia mengangguk tegas. “Jika saja dia menceritakan ini sejak awal tanpa embel-embel kebohongan semacam itu, saya akan tetap mencintainya karena menurut saya dia sudah melakukan yang terbaik.
“Dan saya tahu dia juga sudah menghukum dirinya sedemikian rupa dan saya rasa saya cukup mencintainya untuk tidak menambah hukuman itu.” Taehyung kemudian mendesah. “Yah, jika saja...”
Mereka membiarkan kata itu menggantung di udara dalam nadanya yang pasrah namun anehnya penuh ancaman.
“Apakah kau masih menyukai Jungkook?” tanya Taehyung kemudian saat minuman Mingyu datang, “Maksud saya, romantically?”
Mingyu menatapnya. “Saya tidak pernah benar-benar memikirkannya lagi sekarang. Jika dia bahagia, maka saya juga bahagia. Walaupun iya, saya rasa saya sudah tidak layak untuk itu. Saya benar-benar mengacau, kan?”
“Tidak juga,” kata Taehyung. “Kalian bisa bertemu, membicarakan masalah ini dengan kepala dingin dan jika Jungkook masih sangat merindukanmu, kalian mungkin bisa bersama.”
“Apakah tidak ada yang saya bisa lakukan untuk membuat Bapak berubah pikiran?” tanya Mingyu dengan wajah pucat pada kalimat Taehyung.
“Saya pasti berubah pikiran, saya cukup mencintai Jungkook untuk berharap saya bisa berubah pikiran,” sahut Taehyung lembut, sekarang benar-benar letih karena semalaman dia berusaha memahami cerita Jungkook dan memutuskan bahwa dia butuh waktu untuk sendirian dan memandang cerita ini secara objektif.
“Tapi, jika Jungkook yang lebih dulu berubah pikiran tentang hubungan kalian, maka saya rasa kalian berhak mendapatkan kesempatan itu. Kalian sudah terlalu lama saling menyakiti dan berbohong pada satu sama lain.
“Jadi saya minta tolong,” katanya serak, mulai merasa sangat pening dan ingin berbaring. “Bertemulah dan bicara dengan kepala dingin. Setelah kalian memutuskan, saya akan memikirkan apa yang bisa saya lakukan.”
Dan dia sangat berharap Jungkook sangat mencintainya hingga saat Mingyu datang memohon maafnya dan membagi duka hebat itu sekali lagi bersamanya untuk diselesaikan dan dilepaskan, dia tidak akan goyah.
“Dan Mingyu?”
“Ya, Pak?”
“Lain kali, jangan bersikap seperti bajingan tengik lagi untuk membuatnya bicara, oke? I know you love him and you only want to save him. Thank you, really. He may be a jerk, but you don't have to always be a jerk to face a jerk. You owe him an apologize too, for everything.”
*