The Chef #46

Jungkook menatap Taehyung yang masih duduk dengan tenang mendengarkannya. “Aku... mengencani gadis ini,” katanya perlahan. “Kami sama-sama menempuh pendidikan di sekolah yang sama; dia berkonsentrasi di pastry, aku di cuisine.

“Hubungan kami normal saja, sungguh. Persis dua anak muda anyar yang baru memahami cinta. Menjalani kisah yang normal sebagai sesama praktisi kuliner. Dia yang... mengajariku membuat croissant base yang baik hingga aku bisa sehebat ini. Dia... banyak membantuku,”

Dia menatap Taehyung yang masih diam.

“Silakan lanjutkan,” kata Taehyung tenang dan tersenyum. “Aku tidak akan cemburu hanya karena hubungan asmara masa mudamu indah, tenang saja. Jika aku memang cemburu pada mantan kekasihmu, Mingyu yang akan pertama kubanting ke lantai.”

Jungkook menelan ludah, “Masalahnya...,” dia berdeham gelisah. “Mingyu itu... bukan mantanku.”

Taehyung mengerjap, sekarang nampak kaget; senyumannya lenyap dan Jungkook merasa seperti baru saja dijotos di bagian ulu hatinya.

“Oke,” katanya perlahan, nampak mencerna pembicaraan ini dengan seksama. “Jadi sebanyak apa kebohongan yang kaupakai untuk menutupi rahasia ini?”

Reaksi Taehyung membuat perut Jungkook menegang. Dia tahu, dia seharusnya tahu. Dia seharusnya menceritakan ini di awal sebelum masalah ini semakin besar. Kenapa dia bersikap begitu bodoh dan tidak masuk akal?

“Nanti kita akan tiba di sana,” kata Jungkook perlahan. Dia memandang Taehyung lekat-lekat; mengamati bagaimana wajahnya berkerut oleh ceritanya.

“Setelah aku menyelesaikan pendidikanku, aku masuk ke hotel pertamaku sebagai commis karena aku menghabiskan masa trainee-ku di sana dan head chef-nya suka kinerjaku. Dia sendiri yang merekomendasikanku pada HRD untuk diterima. Di hotel itu juga aku meniti karir hingga akhirnya tiba di posisi demi chef the partie.

“Aku merasa sudah cukup oke dengan posisiku, sehingga aku....,” dia menelan ludah lagi. “Melamar kekasihku ini.”

Taehyung menatapnya, tanpa ekspresi sama sekali. “Apakah kita juga akan tiba di cerita bagaimana kau menjadi homoseksual? Atau kau memang biseks?”

Jungkook takut—untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa begitu kecil dan lemah di hadapan Taehyung. Bagaimana jika akhirnya Taehyung meninggalkannya? Bagaimana jika? Bagaimana jika...?

“Iya,” dia mengangguk perlahan. “Kita akan tiba di sana.”

“Oke, lanjutkan.”

“Setelah kami bertunangan, hubungan kami semakin baik. Semakin melaju ke arah yang benar. Karirku meningkat hingga akhirnya aku menjadi sous chef dalam waktu singkat karena kinerjaku dan juga head chef-ku yang selalu mengapresiasiku. Dan setelah aku menjadi sous chef, aku kemudian mengundurkan diri dan melamar di The Ritz menjadi second sous chef.

“Dalam waktu singkat juga, aku berhasil mengisi posisi head chef. Kau tidak akan bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Begitu luar biasa. Merangkak dari nol, hingga menjadi head chef di hotel bintang lima. Tantangannya, pendidikannya, gemblengan dari semua chef itu. Aku benar-benar di atas langit.

“Hingga mungkin akhirnya aku mabuk.

“Karena kemudian aku dihadapkan pada dua pilihan yang berat.” Dia mendesah lalu menunduk, meletakkan gelasnya di meja. Merasa terlalu mual untuk minum apa pun saat dia harus mengingat kejadian ini.

“Kau ingat saat di Starbucks dulu? Cerita tentang 150 pax?” tanyanya.

Taehyung mengangguk. “Yang juga ternyata adalah anniversary palsumu dengan Mingyu,” dia mendengus geli. “Dan aku menelan kebohonganmu mentah-mentah.”

“Bukan,” kata Jungkook pelan, tidak punya nyali lagi untuk menatap Taehyung. “Aku mengenal Mingyu bukan sebagai kekasih. Dia...,” Jungkook menelan ludah lalu memijat pelipisnya yang nyeri. “Dia sahabat kekasihku, tunanganku.”

“Wow.” kata Taehyung, “This is getting fishy.” tambahnya dingin; terhibur dengan cara yang begitu penuh hinaan yang dianggap Jungkook layak didapatkannya. “Apa yang terjadi pada malam 150 pax itu jika ternyata hubungan kita dari awal dilandasi kebohongan?”

Jungkook ingin muntah sekarang juga. Bisakah dia melanjutkan cerita ini tanpa benar-benar muntah dan mempertahankan Taehyung sekaligus di tangannya? Dia benar-benar merasa hubungan mereka yang selama ini solid dan kuat, mulai merebes dari sela-sela jemarinya seperti air. Mustahil untuk dihentikan, seerat apa pun Jungkook mengepalkan jemarinya.

Taehyung akan pergi, dia yakin.

“Malam itu, Mingyu meneleponku.” lanjutnya tercekat. Pusing saat mulai mengingat momen paling lemah dalam hidupnya, paling gelap dan paling tidak ingin diingatnya; tapi terus bercokol di belakang kepalanya seperti tumor. “Tunanganku... keracunan saat bekerja. Gas oven di pastry section bocor dan dia yang menghirup terlalu banyak...”

“Dan kau belari ke rumah sakit seperti seorang tunangan yang gentleman untuk menemaninya, kan?” Taehyung menatapnya, dengan matanya yang dingin dan wajahnya yang sekeras batu; sama sekali tidak ada simpati di wajahnya.

Jungkook mendongak, menatap mata Taehyung yang berkilat. Dia menyerah, membiarkan seluruh dirinya luruh bersama kenangan itu. Kepanikannya, kericuhan dapur; bagaimana semua orang berteriak pada satu sama lain dalam waktu yang sempit mempersiapkan five course menu untuk rombongan yang tidak habis-habis.

Dia ingat berteriak mengalahkan seluruh suara anak buahnya; meminta mereka semua fokus dan terus bekerja. Dia mengoreksi rasa, menata plating, meneriaki anak service yang terlalu lambat, meminta steward untuk bekerja lebih cepat. Bagaimana dia sendiri terpeleset di depan kulkas hingga tulang pinggulnya nyeri tapi dia tetap bekerja. Menahan semua sakitnya untuk nanti, setelah ini.

Dia ingat bagaimana Jackson saat itu berdiri di sisinya, saling bahu-membahu berusaha menyelesaikan menu mereka.

Mereka benar-benar kekurangan orang.

Jungkook tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menjaga kitchen tetap di jalurnya dan makanan tetap meluncur keluar. Dia tidak bisa diam, dia tidak bisa meminta siapa pun pulang malam itu. Karena jika satu saja orang lenyap, maka food flow akan macet. Tamu akan marah dan semuanya akan berimbas ke hotel.

Dia tidak suka itu terjadi di bawah pengawasannya.

Dia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit; saat dia menerima telepon Mingyu dan menatap kitchen yang kacau balau melalui jendela satu arah kantornya di dalam kitchen. Semua berteriak, semua kelelahan. Wajah anak-anak baik karyawan dan trainee yang harus overtime dari pagi hanya demi reservasi mendadak ini—bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan timnya dalam keadaan compang-camping begini?

Dia head-nya. Dia pemimpin mereka.

Dia tidak bisa.

Jungkook merasa pening dan mual. Dia, Jackson dan semua CDP* serta DCDP*-nya sama sekali belum menyentuh makanan sejak pagi. Mereka terus menunduk di atas set list menu; men-saute ikan, menakar bumbu, mem-plating makanan. Tidak ada istirahat. Tidak ada bernapas lebih dari yang dibutuhkan. Mereka semua seperti mesin yang sudah berasap. Hanya berharap malam ini bisa segera selesai dan mereka bisa makan.

Bahkan tidak ada waktu hanya untuk sekadar minum air.

Maka Jungkook memilih.

Dan pilihannya masih sangat disesalinya hingga hari ini.

Dia berpikir rumah sakit sudah melakukan yang terbaik, dia akan segera menyelesaikan menunya lalu cepat-cepat lari dari sana. Dia bisa menyelesaikan ini; dia mampu. Tidak ada yang harus dikorbankan karena dia Jeon Jungkook.

Dia bisa melakukan segalanya.

Saat akhirnya dia menempelkan ibu jarinya di mesin pindai sidik jari untuk pulang, dia langsung berlari ke parkiran. Memacu mobilnya gila-gilaan mengabaikan semua lampu merah dan mengklakson marah tiap mobil yang mencoba menghalanginya hingga dia tiba di rumah sakit. Hanya untuk melihat tunangannya dimasukkan ke dalam peti jenazah.

Dia terlambat, berjam-jam yang lalu.

Jungkook berdiri di sana, dengan keadaan lelah luar biasa hingga seluruh tulangnya terasa meleleh dan ototnya berubah menjadi mentega di ruang jenazah menatap peti mati yang memeluk tubuh tunangannya yang kaku dan beku. Meninggal karena terlalu banyak menghirup gas, tidak berhasil diselamatkan.

Dan mereka bertanya apakah dia Jeon Jungkook? Karena gadis itu menitipkan cincin tunangannya untuk dikembalikan.

Maaf, katanya. Tidak bisa menemani hingga Jungkook berhasil menjadi head chef restorannya sendiri. Dan semoga Jeon Jungkook menemukan gadis lain yang sanggup menemaninya hingga tiba di puncak.

Lalu dia bertemu Mingyu di sana, duduk di depan ruang jenazah dengan wajah memerah. Sembab oleh air mata dan kelelahan. Menatapnya lalu bangkit, hanya untuk mengatakan dua kata:

“Kau terlambat.”

*

Tahun-tahun selanjutnya digunakan Jungkook untuk bekerja seperti orang kesetanan. Dia bekerja dan terus bekerja; mengambil double shift, menolak pulang hanya untuk bernapas dengan paru-paru yang kosong dan hati yang hampa. Dia menolak pulang untuk berhenti dan berpikir.

Dia tidak mau berpikir, dia tidak mau mengingat.

Dia bertemu lagi dengan Mingyu malam itu, dalam keadaan mabuk berat dan menangis. Memohon ampun, meminta maafnya. Mencoba menjelaskan posisinya dan apa yang dipikirkannya saat itu; dan bagaimana dia seharusnya tidak disalahkan.

Kata Mingyu, “Kau bedebah bangsat.” Dia menatap Jungkook jijik. “Bagaimana bisa kau membela diri setelah benar-benar membuangnya di saat-saat terakhir hidupnya? Kau memilih timmu daripada kekasihmu sendiri. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Jeon Jungkook? Karena aku sungguh tidak faham.”

Lalu dia berdiri, “Terima saja fakta itu. Kau dan sikap sokmu. Kau dan superhero syndrome-mu bahwa kau bisa menyelamatkan semuanya. Kau bisa menyelamatkan dapur, kau bisa menyelamatkan tunanganmu. Tapi tidak, kau tidak menyelamatkan siapa pun.”

Benar, karena walaupun sudah sebagaimana pun kerasnya tim Jungkook bekerja; tetap ada yang tidak sempurna. Mereka kekurangan orang, mau bagaimana lagi? Umpan balik diberikan oleh tamu mereka, makanan mereka dikritik dan Jungkook menghabiskan morning briefing hari selanjutnya mendengarkan General Manager menghabisinya di ruangan meeting.

“Mulailah belajar melepaskan itu, Jeon, jika kau berharap bisa menemukan kekasih yang akan menerimamu apa adanya. Tentukan prioritasmu. Tidak semua bisa kaukerjakan sendiri; kau harus minta tolong. Kau harus menyerah kalah, tundukkan harga dirimu yang terlalu mahal itu.

“Atau kau akan kehilangan semuanya lagi, persis seperti hari ini.”

Dalam keadaan berduka hebat setelah kehilangan tunangannya.

“Aku memaafkanmu bukan karena aku sayang padamu, tapi karena aku menghormati kematiannya. Dia berhak mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Dan bagaimana selama ini aku menyimpan rasa padamu karena aku berpikir kau adalah sosok kekasih yang sempurna.

“Kau membuatnya bahagia, Jeon.” kata Mingyu pedih. “Sangat bahagia hingga dia bersinar. Aku selalu kagum dengan bagaimana caramu membuatnya bahagia. Aku iri; bagaimana jika aku yang dibuat bahagia hingga bersinar? Bertahun-tahun rasa iri itu bercokol di kepalaku. Tapi tidak, sekarang tidak lagi. Untukku, kau sudah mati.

“Good luck for your life ahead, Jeon.” Lalu dia meninggalkan Jungkook di sana.

Itulah pukulan telak bagi hidup Jungkook dan keseluruhan dinasti yang coba dibangunnya di atas kecongkakan dan keangkuhan. Kepercayaan diri yang terlalu besar hingga dia akhirnya tidak menyelamatkan salah satunya; dia kehilangan keduanya.

Dia mendapat surat teguran dari General Manager-nya, disertai peringatan untuk bersikap profesional.

Lalu dia memutuskan untuk kembali mengambil kelas pastry. Untuk mengisi jam malamnya karena HRD Manager sudah menegurnya tentang jam bekerja yang gila-gilaan itu walaupun Jungkook menolak dibayarkan atas tambahan jamnya. Dia mengisi seluruh waktu kosongnya hingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk berpikir.

Di sanalah dia kemudian berkenalan dengan Yugyeom.

Yugyeom yang menemaninya, mendengarkan ceritanya. Namun dia tidak cukup berani untuk menceritakan kisah sebenarnya. Dia menggunakan cerita mantan dan 150 pax itu untuk mendapatkan simpati; bersikap manipulatif agar Yugyeom ada di pihaknya.

Berteman dengannya walaupun dia adalah seorang pembunuh.

Sampai dia kemudian bertemu lagi dengan Mingyu, dalam kebetulan aneh yang membuat Jungkook merasa hidup mungkin sedang mempermainkannya dengan ceria seperti bayi yang bermain dengan maianan barunya. Jungkook benar-benar tidak ingat bagaimana hingga akhirnya mereka berciuman dan mereka menangis bersama; atas duka yang mereka bagi bersama, atas orang yang mereka sayangi.

Atas hidup yang begitu tidak adil.

“Bertahun-tahun,” katanya bergetar. “Aku berusaha menyakinkan diriku bahwa aku seharusnya berhenti memikirkanmu. Tapi tidak, hidup tidak semudah itu karena aku masih memikirkanmu....”

Namun keesokan harinya, setelah mereka kembali berciuman dengan air mata di wajah mereka, ciuman asin dan lengket oleh kesedihan dan duka; Mingyu menghilang.

Lagi.

Seluruh kontaknya lenyap, Jungkook tidak bisa menghubunginya sama sekali. Tidak ada yang bisa. Dia hilang bagai ditelan bumi. Apartemennya kosong, semua sosial medianya hilang. Dan Jungkook sendirian lagi.

Dengan siapa dia harus membagi duka yang tidak kunjung sembuh ini?

Dia bekerja, terus bekerja seperti mesin. Mengabaikan kesehatannya, mengabaikan jam tidurnya, mengabaikan makannya; dia terus bergerak. Terus memaksa seluruh tubuhnya cukup sibuk hingga saat dia pulang, dia akan jatuh ke kasur dan terlelap kelelahan.

Dan pagi sebelum dia sempat berpikir, dia sudah berangkat kembali ke kitchen. Bekerja dan terus bekerja. Yugyeom kemudian membantunya untuk memperlambat semuanya; menemaninya sebagai sahabat yang suportif. Mengajarinya hal-hal untuk mendistraksi kepalanya tanpa perlu membunuh dirinya.

Jungkook mulai ke gym, berolahraga dengan sehat. Makan dengan baik dan mulai kembali aktif bersosial media. Mencari hiburan disela-sela waktunya yang sibuk, mencoba kembali menemukan ritme hidup lamanya sebelum badai kemarin menerjang. Berusaha mengubur kenangan lama yang bersarang di kepalanya sepanjang hidupnya.

Hingga akhirnya dia bertemu Kim Taehyung.

Dan hidup berubah jauh lebih baik, walaupun ketakutan itu terus menghantuinya.

Apakah dia akan mengulang kesalahan yang sama? Sudah siapkah dia untuk hubungan baru? Sudahkah dia belajar sesuatu dari penderitaannya kemarin untuk membahagiakan Kim Taehyung?

Setelah tahun-tahun sendirian yang dilewatkannya selama ini; bisakah dia? Layakkah Kim Taehyung mendapatkan kekasih seperti dirinya?*

Toh akhirnya Jeon Jungkook merengkuh risiko yang ditawarkan hidup itu padanya, menelannya bulat-bulat. Dia akan membuat Kim Taehyung begitu bahagia hingga dia tidak sempat memikirkan masa lalunya. Dia menggunakan cinta dan kasih sayang Taehyung untuk mengobati lukanya sendiri alih-alih mengobatinya sendiri; menempel pada keceriaan dan cinta Taehyung seperti hama, menghisapnya untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Dia sudah membohongi Taehyung dari awal hubungan mereka dibina. Dia melandasi hubungan mereka dengan kebohongan sementara Taehyung melandasinya dengan rasa percaya; hubungan mereka yang nampak solid itu ternyat teramat rapuh karena keangkuhan Jeon Jungkook sendiri.

Dan sekarang dia faham kesalahannya.

Maka saat dia terbangun tengah malam dengan ranjang kosong di sisinya dan setengah isi lemari Kim Taehyung lenyap, dia tahu.

Dia layak mendapatkan ini.

________________________ *CDP: Chef de Partie *DCDP: Demi Chef de Partie *cek prekuel story: Sop Kemiri x