The Chef #24
“By,”
“Apa?!”
“Ya Tuhan, masih galak ternyata.”
Jungkook terkekeh geli, menatap Taehyung yang sedang duduk di teras depan kamar mereka, sibuk mengecek laporan dari Bogum yang akan digunakannya untuk Morning Briefing esok setibanya di Jakarta. Dia sudah menunduk ke laporannya sejak tadi sekembalinya mereka dari gym, memesan bir dan kacang tanah untuk bekerja yang membuat Jungkook geli.
Memang hanya kekasihnya ini yang meneggak alkohol seperti air putih.
Wajahnya ditekuk, alisnya berkerut dan dia menolak bicara dengan Jungkook. Padahal itu sama sekali bukan salah Jungkook jika saat dia sedang sibuk berolahraga, seorang gadis menghampirinya.
Taehyung duduk di sudut ruangan, mengunyah cemilan dan minum virgin mojito (“Sepagi ini?” tanya Jungkook tidak habis pikir dan Taehyung mengangguk, “Sepagi ini.” Lalu menambahkan satu shot vodka ke dalam minumannya. “Vodka, 'kan, air putih,” tambahnya dan Jungkook tertawa), mengamati bagaimana tubuh Jungkook bergerak saat berolahraga saat dia kemudian melihat gadis ini menghampiri Jungkook.
Dalam setelah yoganya yang ketat dan rambut setengah basah oleh keringat serta wajah sok seksinya yang nyaris saja ditampar Taehyung. Dia membawa botol minum, nampak baru saja menyelesaikan kelas yoga dan pilatesnya sebelum menyadari kehadiran Jungkook di gym itu; memancarkan aura seksi selayaknya dewa seks.
Dia hanya menghampiri Jungkook, tersenyum lalu bertanya: “Halo, aku baru melihatmu di sini, kau tamu baru, ya?” dia mengulurkan tangan. “Siapa tahu kita bisa jadi rekan gym selama di sini.”
Gadis itu memasang wajah menggoda yang sudah sangat familiar dengan Jungkook; senyuman lebar, menatap dari balik bulu mata palsunya dengan kerlip menggoda yang jika boleh diapresiasi, lumayan jika saja Jungkook menyukai perempuan.
Dia baru akan menolak gadis itu dengan halus—sudah terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini saat berolahraga saat seseorang tiba di sisi mereka; aroma Taehyung seperti stroberi, vodka dan daun mint dari minuman yang sedang digenggamnya. Matanya menatap gadis itu seolah dia adalah hama pengganggu yang harus dienyahkan dan Jungkook berdeham keras, menyamarkan tawanya.
“Ada kepentingan apa dengan tunangan saya, Mbak?” tanyanya seketika itu juga dengan nada setajam samurai yang membuat Jungkook kemudian berbatuk-batuk untuk menyamarkan tawanya lagi yang sekarang mulai tidak terkontrol.
Gadis itu mendongak, kaget. “Oh,” katanya kikuk. “Halo,” dia kemudian melirik Jungkook. “Ini tunanganmu?”
“Masih berani bertanya?” tanya Taehyung kemudian, suaranya meninggi. “Memangnya tidak bisa lihat cincin di tangannya??”
Jungkook mengulaskan senyuman sejuta watt-nya yang menyilaukan, menyentuh kekasihnya yang sudah akan meledak oleh emosi. “Saya baru saja akan memberitahu Anda bahwa tunangan saya tidak akan suka dengan ini,” dia mengangguk sopan. “Maaf, ya?” lalu dia meraih pinggang Taehyung.
“Ayo,” bisiknya, mencium pelipis Taehyung yang bersidekap, masih menoleh jengkel pada gadis yang sekarang merona hingga ke ubun-ubunnya, salah tingkah karena dilabrak kekasih lelaki yang coba dirayunya.
“Memangnya dia tidak bisa lihat cincin di tanganmu?” tanya Taehyung dengan suara keras sehingga seluruh gym menoleh pada mereka. “Bisa-bisanya menggoda lelaki milik orang lain. Mau jadi apa dia nanti besarnya,”
Jungkook berbatuk-batuk keras, menyamarkan tawanya karena jika dia benar-benar tertawa maka Taehyung akan membantingnya ke lantai. “Dia sudah besar,”
“Nah, dia memang sudah besar. Lalu kenapa masih bodoh?”
Jungkook akhirnya tertawa, suaranya jernih dan keras. Benar-benar terhibur. “Sudah, sudah, ayo kembali ke kamar?” dia membimbing Taehyung menjauh dari gym, beberapa tamu terkekeh geli melihat pertunjukan drama mereka.
Dan Jungkook memilih untuk menjinakkan macannya di kamar daripada harus diusir oleh staf gym karena membuat kegaduhan.
“Besok kalau kau akan pergi ke gym, aku ikut.”
Jungkook tertawa. “Untuk apa?”
“Melindungi hak milikku lah, apa lagi?”
Jungkook menyerah, dia meraih Taehyung ke dalam pelukannya.
Menyapu kakinya hingga Taehyung terkesirap kaget dan menangkapnya dalam lengannya yang kuat sebelum jatuh menghantam lantai dengan punggungnya, membaringkannya turun melayang di udara selayaknya gerakan final dansa lalu mencium bibirnya. Dramatis sekali, persis seperti Taehyung. Mereka berciuman di lorong hotel dan membuat beberapa staf terpaksa harus berputar balik dengan panik dan malu agar tidak menganggu mereka.
“Sudah?” tanya Jungkook mendayu-dayu dengan tubuh Taehyung masih melayang di atas lengannya.
Taehyung menatapnya, senyuman kecil bermain di bibirnya. “Kau membuatku malu,” keluhnya pura-pura kesal.
“Memangnya kau tidak?”
“Jadi maksudmu aku ini—!”
Jadi, dia menciumnya lagi; apa saja agar Taehyung diam.
Jungkook tersenyum simpul, mengamati tunangannya dari atas ranjang. “Taeby...” panggilnya dengan nada menggoda. “Tadi, 'kan, sudah tidak apa-apa. Kenapa ngambek lagi, sih?”
“Bacot.”
“Aduh, aku dimarahi.” keluh Jungkook geli, wajahnya berkerut dengan topeng palsu. “Padahal aku sama sekali tidak menanggapi gadis tadi, loh?”
“Iya, karena aku melihatnya. Coba jika tidak?”
Jungkook tertawa, lalu melompat bangun dari kasur yang berderit. Dia hanya mengenakan celana boksernya setelah mandi sepulang dari gym, menggendong Taehyung dalam lengannya—bayaran agar tidak ngambek. Memamerkan otot bagian atas tubuhnya yang menakjubkan serta tatonya. Kakinya melangkah ke arah Taehyung lalu merangkulnya dari belakang, mencium pelipisnya sayang.
“Masa aku harus mengangkatmu ke dinding lagi agar dimaafkan?” tanyanya di telinga Taehyung lalu menciumnya. “Aku bersumpah tidak ada gadis yang kutanggapi. Kau bisa tanya Yugyeom. Dimaafkan, tidak?”
Taehyung menatapnya dengan mata memicing. “Aku tidak percaya padamu.”
Jungkook mengendikkan bahunya. “Percaya itu sama Tuhan,” katanya lalu mengaduh keras saat Taehyung mencubit puting dadanya. “Sakit, By!” serunya mengusap dadanya yang nyeri.
“Ayo ganti baju,” kata Taehyung kemudian, meletakkan Mac-nya di atas meja. “Kita pergi. Masa hari terakhir di Bali kita hanya akan bermalas-malasan di kamar seperti babi?”
“Aku 'kan habis olahraga.”
“Terserah. Ayo, reservasiku pukul 1 siang.”
“Wah, kita akan makan apa, Chief?” tanyanya pada punggung Taehyung yang sekarang membuka lemari, mencari pakaian untuk dikenakan.
“Makanan enak.” sahut kekasihnya sekenanya, kepalanya terkubur dalam lemari rotan kamar mereka.
“Selain makananku?”
“Bersikaplah congkak sekali lagi, aku akan membantingmu ke lantai.”
“Aw, kita nanti boleh mampir ke supermarket tidak?”
“Mau beli apa?”
“Ovomaltine.”
“Nope, nope. Nope.”
“By....?”
“Hah. Whatever.”
“Yes!”
*