The Chef #10
“Kita akan berangkat jam berapa?”
Jungkook mendongak dari ponselnya, menatap Taehyung yang sedang melakukan peregangan dalam balutan celana renang ketatnya yang menonjolkan bagian-bagian menarik dari tubuhnya. Jungkook bersiul kurang ajar lalu meletakkan ponselnya, menoleh sepenuhnya ke kekasihnya yang berdiri di pinggir kolam renang pribadi kamar mereka.
Mereka sedang menikmati pagi di Ubud dengan cahaya matahari lembut setelah sarapan. Taehyung merasa tidak tahan melihat kolam renang mereka yang berada di pinggir tebing dengan pinggiran kaca yang langsung menatap lepas ke lembah yang hijau dan sejuk. Dari kejauhan, Taehyung bisa melihat kegiatan padat penduduk Ubud yang sedang bergerak memulai aktivitas mereka.
Namun dia di sini, di resor mewah bersama kekasihnya yang sedang berbaring di tempat berjemur hanya dalam balutan celana boksernya, memamerkan otot tubuh bagian atasnya, mengenakan kacamata hitam, rambutnya diikat menjadi man bun berantakan yang seksi dan bagaimana tato di lengan dan kakinya terpapar ke udara.
Jungkook is the sexiest man alive, those who disagreeing with this fact can fight Taehyung to death.
“Berangkat ke mana?” tanya Jungkook, sekarang duduk di pinggir kursinya dengan kedua lengan ditumpukan di atas lututnya; menatap intens ke tubuh langsing Taehyung dari balik kacamata hitamnya.
Taehyung menoleh, balas menatapnya dengan jengah. “Kita kemari untuk mengecek tanah, ingat? Bukannya sejak tadi notaris dan pengacaramu sudah sibuk menghubungimu jam berapa bisa ditemui?”
“Oh, iya,” balas Jungkook, menaikkan kacamatanya lalu mengerling Taehyung. Dia bangkit, menghampiri Taehyung lalu memeluk pinggangnya yang langsing dan mengecup lehernya yang terbuka; menarik ciuman malas sepanjang leher dan tulang bahunya. “Aku sudah bilang pada mereka untuk datang jam 11 siang nanti sekalian makan siang lalu kita berangkat ke lokasinya,”
Taehyung gemetar, menggelengkan kepalanya berusaha menjernihkan isi kepalanya akibat ciuman Jungkook. Chef muda itu mengistirahatkan kepalanya di bahu Taehyung, nampak nyaman dan manja sementara tubuh mereka menempel dengan cara yang menggelisahkan.
“Kau bisa mundur sedikit, tidak?” kata Taehyung kering, jika terus begini dia mungkin berakhir dengan memohon untuk digagahi.
“Kenapa, hm?” balas Jungkook dengan suara mendayu-dayu yang membuat seluruh kuduk Taehyung meremang. “Tidak ada yang melihat.”
Taehyung memutar bola matanya, gusar. “Bisakah hari ini aku bergerak bebas?”
“Jadi maksudmu aku membatasi gerakmu?” Jungkook menatapnya, ngambek.
“Mulai deh,” balas Taehyung lalu menggeliat dalam pelukan Jungkook hingga dia berbalik menghadap tunangannya yang menatapnya gusar dan menggemaskan. Dia mengecup hidung Jungkook. “Jangan dramatis begitu,” kekehnya. “Kita masih bisa bercinta nanti malam, oke?”
“But,” Jungkook menempelkan kening mereka dan berbisik di bibir Taehyung dengan suara beratnya yang selalu digunakannya saat merajuk, “Day light will make it clearer...,”
“Males deh,” Taehyung tertawa ceria dan mengalungkan lengannya di leher Jungkook yang terkekeh. “Nanti, ya? Aku berenang dulu.” Dia kemudian mencubit puting Jungkook hingga pemuda itu berteriak kesakitan dan kaget.
“Ya sudah,” balas Jungkook kemudian, melepaskan Taehyung sebal; mengusap putingnya yang berdenyut setelah dicubit. “Nanti.”
Taehyung tersenyum simpul. “Nanti.”
“Janji?”
Taehyung memutar bola matanya. “Iya, janji.”
Akhirnya Taehyung melompat ke dalam air, berenang dengan lincah beberapa laps sebelum menyembul ke permukaan dan menyeka rambutnya ke belakang. Dia menoleh ke teras vila mereka dan menemukan Jungkook sudah mandi, mengenakan kemejanya dan menyentuh jam tangannya dengan telunjuk sebagai tanda bahwa waktu Taehyung sudah habis.
Terkekeh, Taehyung membersitkan air keluar dari telinganya lalu menumpukan kedua lengannya di pinggir kolam renang dan menarik tubuhnya keluar. Air menguar dari dalam kolam saat dia bangkit dan berdiri.
“Lihat dirimu sendiri,” kata Jungkook mendesah panjang. “Kau seksi sekali.”
Taehyung tertawa seraya melangkah dari kolam menghampiri kekasihnya yang sekarang menyerahkan handuk putih berat padanya. “Kau sudah bercermin belum?” katanya, mengecup bibir Jungkook. “Kau jauh lebih seksi.”
Dengan kakinya, dia membelai tato di bagian sisi kaki Jungkook dan meninggalkan sensasi dingin mengigit yang membuat Jungkook mengerang. “Aku suka celana pendek,” dia mengedip lalu sebelum Jungkook sempat berpikir, Taehyung berlari ke kamar mandi mereka seraya tertawa.
“Kau harus membayar itu nanti, Taehyung!” seru Jungkook dari luar kamar mandi dan Taehyung tertawa ceria seraya menyalakan shower-nya.
“Aku tunggu, Chef!”
*
Lokasi restoran Jungkook nantinya di bagian sudut Ubud dengan pemandangan lembah Campuhan yang benar-benar menakjubkan.
Taehyung turun dari mobil, melepas kacamatanya dan mendesah saat melihat betapa indahnya tempat itu. Dari rancangan kasar yang diintipnya di Mac Jungkook saat bekerja dengan arsiteknya, mereka akan punya bagian balkon berlantai kaca yang menjorok di atas lembah; memberikan dining experience yang mendebarkan seperti Potato Head yang berdiri di tengah laut.
Ada saran untuk menambah bungee jumping dan swing juga, tapi Jungkook tidak suka konsep itu. Maka dananya akan dialokasikan untuk memperkokoh bagian rooftop bar dan balkon di atas permukaanya. Taehyung tidak pernah faham sudah berapa lama Jungkook menabung untuk mimpinya ini.
Dan saat akhirnya dia perlahan-lahan mulai mewujudkannya, Taehyung merasa sangat bangga atas pencapaiannya. Jungkook langsung sibuk dengan notaris, kuasa hukum dan arsiteknya di lapangan sementara Taehyung berkeliling mengamati penjuru tanah.
Beberapa orang sedang bekerja memasang patok-patok kayu yang menandakan batas tanah yang dibeli Jungkook. Tanahnya berada di daerah terpencil namun dengan jalan aspal yang bisa dilalui mobil. Jungkook sudah merencakan berapa marketing plan untuk menarik tamu ke restorannya walaupun tempatnya terpencil.
Taehyung bukan anak marketing, tapi dia sudah mengenalkan Jungkook pada salah satu rekannya—teman kuliahnya dulu yang sekarang sudah memiliki PR Agency sendiri. Dan sudah memberikan Jungkook marketing plan yang disukai Jungkook untuk restorannya, beberapa plannya sudah mulai dilaksanakan dengan memulai soft branding via sosial media; untuk membentuk antusiasme pasar menyambut restorannya.
Banyak uang yang digelontorkan chef muda itu untuk mimpinya ini dan Taehyung sendiri dengan senang hati menyisihkan gajinya sendiri setiap bulan untuk membantu Jungkook walaupun chef itu tidak pernah mau menerimanya tapi dia tidak akan sadar jika Taehyung langsung mentrasfernya ke rekening tabungannya, kan?
“Kau suka?!”
Taehyung menoleh dari kegiatannya melongok ke lembah di hadapannya dan bertemu mata dengan Jungkook yang sekarang menggulung lengan bajunya hingga siku, memamerkan tato seksinya. “Suka!” serunya lalu bergegas berbalik dan menghampiri tunangannya.
“Pembangunannya akan dimulai bulan depan,” kata Jungkook mencium pelipisnya saat Taehyung tiba di sisinya lalu menatap notarisnya. “Bulan depan sudah bisa siap surat-suratnya, kan, Pak?” tanyanya.
Notarisnya mengangguk. “Sudah, Pak.” sahutnya dengan tegas. “Tinggal menyelesaikan urusan di pengadilan dan beberapa hal lagi. Surat kepemilikannya akan saya kirim ke Pak Jungkook begitu selesai?”
“Tidak, tidak.” kata Jungkook. “Saya yang akan mengambilnya sendiri, terlalu riskan untuk dikirim. Lagi pula saya akan mulai memantau pembangunannya begitu dimulai jadi saya akan lebih sering di Bali.”
Pembicaraan ini sudah dilakukan mereka semalam setibanya di Bali. Jungkook akan mengajukan one month notice untuk pengunduran dirinya di The Ritz, untuk fokus membenahi dan membentuk tim kitchen barunya di Bali.
Sementara itu, dia akan bergabung dengan temannya di restorannya di wilayah Seminyak menjadi chef sementara untuk mengisi waktu luangnya saat tidak mengurus proyek restorannya. Juga beberapa undangan untuk menjadi chef tamu di resor dan hotel bintang lima di Bali.
Selama bertahun-tahun melanglang buana dalam dunia kulinari, Jungkook sudah berhasil menancapkan namanya bersama chef-chef profesional lain di puncak tertinggi. Belum lagi bagaimana dua tahun lalu dia berangkat ke Amerika menjadi salah satu finalis Chef of the Year dan walaupun kalah, setidaknya itu sudah memberikan paparan luar biasa ke popularitas Jungkook di antara para chef profesional Indonesia.
Bulan lalu dia bahkan mendapat tawaran untuk menjadi salah satu chef juri di Master Chef Indonesia bersama Chef Arnold dan Chef Juna, namun dia menolaknya karena merasa tidak nyaman berada dalam reality show dan menjadi semacam chef artis—dia lebih suka memasak dan terus mengasah kemampuannya.
Taehyung juga tidak suka membayangkan tunangannya akan menjadi chef artis—dia yakin gadis-gadis akan menggandrunginya seperti bagaimana mereka melakukannya ke Chef Juna. Dan dia sangat mendukung penolakan Jungkook.
Jadi, tentu saja restoran mana pun akan sangat senang mendapatkan Chef Jungkook sebagai chef tamu mereka.
Sementara itu, Taehyung akan tetap di Jakarta hingga restoran berdiri dan siap untuk dijalankan. Barulah giliran Taehyung untuk mengajukan one month notice sebelum menyusul Jungkook ke Bali dan mulai menata hidup di Bali.
Risikonya adalah hubungan jarak jauh, tapi mereka sungguh tidak masalah dengan ini. Cinta mereka terlalu kuat untuk dikalahkan jarak dan waktu. Dan mereka mungkin juga akan menikah di Bali.
“Baik, Pak,” sahut notarisnya dengan logat Bali yang kental. “Berarti sudah oke, ya? Kita lanjutkan pembicaraan di kantor saya saja, agar lebih nyaman.”
Jungkook mengangguk. “Sudah.” katanya lalu menatap Taehyung. “Kau masih ingin melihat-lihat?”
Menggeleng, Taehyung tersenyum pada notaris mereka. “Tidak, terima kasih.” dia menatap Jungkook yang kemudian memimpin mereka kembali ke mobil.
Sebelum memasuki mobil, Taehyung menoleh ke lembah indah itu sekali lagi dan mendesah.
Mimpi Jungkook akan menjadi kenyataan, harus. Dia akan merangkak di sisi tunangannya itu jika perlu. Mereka akan menjadi satu tim yang solid demi mewujudkan restoran ini, menjadikannya restoran paling mewah dan berkelas di Bali.
Ini mimpi Jungkook sepanjang hidupnya, Taehyung bersumpah tidak akan ada yang bisa merusaknya.
*