eclairedelange

i write.

The Chef #93

Taehyung merasa seluruh tubuhnya melayang saat dua staf membantunya berdiri, mendudukannya di dekat loket karcis dan memberikannya sebotol air mineral. Dia tidak merespon apa pun; kepalanya berdentam dengan kuat hingga otaknya nyeri.

Dia yakin sesuatu yang fatal akan terjadi pada kepala Jungkook kali ini dan merasa menyesal mengapa dia tidak menyeret tunangannya untuk melakukan CT scan setelah benturan pertama. Dia sungguh tidak tahu Bali akan selalu melukai kekasihnya dengan cara yang sama.

Yoongi datang beberapa saat kemudian, wajahnya lebih pucat dari biasanya saat dengan tubuh mungilnya dia membantu Taehyung berdiri dan membimbingnya memasuki mobil. Mereka berkendara lumayan jauh menuju rumah sakit karena Yoongi baru saja menerima panggilan dari pihak rumah sakit yang menjemput Jungkook bahwa mereka tidak bisa menanggulangi cidera kepala karena kurangnya alat medis dan merujuk Jungkook langsung ke rumah sakit di Denpasar.

Maka mereka berkendara ke Denpasar.

Menembus lalu-lintas yang lumayan padat, cuaca yang panas dan hiruk-pikuk dengan Taehyung yang merasa seluruh tubuhnya kebas oleh rasa sakit. Dia meringkuk di kursi penumpang, memeluk kepalanya sendiri dan berusaha menelan asam lambung yang membakar ulu hatinya.

Saat mobil berhenti di Rumah Sakit Siloam, Taehyung langsung keluar dari mobil. Menghambur ke Unit Gawat Darurat, langsung mencari tubuh Jungkook yang terbaring di salah satu ranjang rumah sakit dengan tubuh bagian atasnya berlumuran darah dan collar neck membalut lehernya sehingga kepalanya tetap berada di posisi stabil. Seorang sudah merobek pakaian Jungkook dan mengelap darah dari tubuhnya dengan cekatan.

Namun hal yang membuat Taehyung agak lega, dia melihat Jungkook nampak berusaha keras mempertahankan kesadarannya.

Dia mengerang kecil saat perawat menyentuh tubuhnya dan kesadarannya merupakan kabar yang baik bagi tenaga medis yang mengurusnya. Taehyung menelan asam lambungnya saat melihat dan mencium darah anyir Jungkook memenuhi ruangan.

“Saya keluarga Jeon Jungkook,” katanya, tidak mengenali suaranya sendiri saat menghampiri dokter serta perawat yang mengelilingi Jungkook. Dia nyaris muntah saat melihat Jungkook terbaring tidak berdaya, setengah kepalanya basah oleh darah, begitu juga dada dan bagian leher pakaiannya.

Satu perawat dengan monitor alat-alat vital atau bedside monitor, mengecek tensi, nadi dan nafas Jungkook lalu memasangkan oksigen pada hidungnya. Jungkook menghela napas dengan tersiksa. Setelahnya, dia menyukur rambut Jungkook dengan perlahan, mencoba menyibakkan rambutnya yang lengket oleh darah untuk mengecek kerusakan di kepalanya.

“Clear, Dok.” Kata perawat yang menyelesaikan pengecekan alat-alat vital Jungkook, menyukur rambutnya di sekitar bagian luka dan mempersilakan dokter untuk maju.

Dokter mengangguk pada Taehyung dan perawat di sisinya, “Mundur sebentar, ya.” katanya dan Taehyung bergegas mundur, beberapa meter darinya lalu dokter menyentuh kelopak mata Jungkook, membukanya dan menyorotkan senter pada pupilnya. Mengecek dilatasi pupil Jungkook sebagai respon atas cahaya.

“Pak Jungkook? Anda bisa mendengar saya?” tanyanya lembut setelah menyimpan kembali senter di saku jasnya.

Jungkook sejenak diam, lalu mengerang keras hingga hati Taehyung terasa nyeri mendengarnya. Dokter mengangguk lalu menyentuh kepalanya dengan lembut. Menekannya hingga Jungkook terkesirap kecil, wajahnya berkerut menhan sakit.

“Sakit?” tanyanya dan Taehyung menatapnya dengan jengkel.

Tentu saja itu sakit! Kenapa dokter selalu menanyakan hal-hal bodoh? Dia datang berdarah-darah dan dokter masih menyentuh kepalanya dan bertanya: 'sakit?'.*

Benar-benar, deh!

Jungkook mengangguk dengan susah payah sementara perawat mulai menutup lukanya dengan kasa setelah membersihkannya.

“Siapa nama Anda?” tanyanya sekali lagi dengan serius dan Taehyung sudah tidak kuasa menahan diri untuk menghantam kepala dokter itu namun dia diam, meremas tangannya sendiri; yakin mereka faham apa yang mereka lakukan. Taehyung tidak tahu apa-apa tentang ini, maka dia akan memercayakan hidup Jungkook pada mereka.

Jungkook terengah, nampak sangat tersiksa. “Jeon...” katanya serak. “Jungkook.” Dia berdeguk lalu muntah; asam lambung meluncur dari sudut bibirnya, tercampur dengan darahnya dan seorang perawat dengan sigap menyeka muntahnya.

Dokter mengangguk lalu menoleh ke perawatnya. “Sudah berapa lama dia tidak sadar?” tanyanya.

Perawat itu bergegas membuka berkas rujukan yang dipegangnya. “Sekitar dua puluh hingga empat puluh menit sejak terbentur hingga tiba di rumah sakit pertama, lalu mulai sadar sebelum tiba di sini.”

Dokter kembali mengangguk. “Tolong dibersihkan dulu,” katanya pada perawat lalu menoleh pada Taehyung. “Anda keluarganya?” tanyanya.

“Ya, saya sendiri.” balas Taehyung serak. “Apa yang bisa saya lakukan? Seberapa parah lukanya?”

“Reaksi Pak Jungkook masih baik walaupun sudah pingsan selama empat puluh menit. Tapi saya merasa sebaiknya Pak Jungkook diperksa lebih lanjut dengan spesialis saraf dan melakukan pengecekan dengan kepalanya.” katanya.

“Sembari Anda menunggu, Pak Jungkook akan dibersihkan dan dijahit lukanya untuk sementara dan dipersiapkan melakukan CT scan. Setelah ini Anda akan diarahkan pada spesialis saraf kami.”

Dan kemudian Taehyung dipersilakan untuk duduk bersama Yoongi menemani Jungkook yang sudah bersih dan mulai tenang, dapat menahan sakit di kepalanya untuk menunggu dokter saraf mereka yang tiba beberapa saat dengan terburu-buru. Dia lalu mengangguk pada Taehyung, menerima laporan tentang cidera kepala Jungkook kemudian melakukan tes yang sama seperti dokter umum tadi.

Dia menyenteri mata Jungkook, mengajaknya mengobrol sebelum menatap Taehyung. “Apakah Pak Jungkook pernah terbentur sebelum ini?” tanyanya sambil menyentuh kepala Jungkook dan mengecek lukanya.

Taehyung merasa mual. “Pernah,” sahutnya mencicit.

“Ada keluhan setelah cidera itu?”

“Tidak,” Taehyung menggeleng. “Hanya cidera ringan dengan benjolan kecil. Kami sudah mengeceknya tapi menurut dokter tidak ada hal yang mengkhawatirkan.”

“Sudah berapa lama sejak benturan itu?”

“Sekitar satu bulan lebih.”

“Tidak ada keluhan sama sekali?”

Taehyung diam sejenak. Jungkook tidak pernah mengeluhkan apa pun tentang kepalanya, malah selalu mengomel tiap kali Taehyung bertanya tentang kepalanya. Dia tidak mengeluh pusing yang berlebihan, kehilangan orientasi atau hal-hal minor lainnya tentang kepalanya.

“Tidak.” sahutnya ragu-ragu.

Dokter menangkap nada itu. “Sebaiknya Anda menghubungi rekan kerja atau teman dekat pasien dulu untuk menanyakan keluhan yang mungkin luput Anda perhatikan, sementara itu kami akan mempersiapkan pasien untuk melakukan CT scan.”

Sementara Jungkook kemudian dibawa pergi dari sana, Taehyung merogoh ponselnya menekan nomor Jackson yang selalu disimpannya sama seperti Jungkook yang selalu menyimpan nomor Bogum sebagai orang kedua mereka di tempat kerja masing-masing.

Jungkook tidak terlalu banyak bicara, tidak terlalu fokus pada Taehyung juga selain memejamkan mata berusaha menghalau rasa sakit di kepalanya. Dia hanya menepuk tangan Taehyung lembut dan tersenyum; berusaha menghiburnya lalu mendesah keras saat sakit menyerang kepalanya.

“Bagaimana kejadiannya?” tanya Taehyung, baru kuasa menanyakan ini pada Yoongi saat mereka mengejar Jungkook yang dibawa ke ruang radiologi.

Yoongi berdeham, pucat dan khawatir. “Kami sedang naik ke lantai dua, Jungkook ingin mengecek bagian balkon melayang dan terpeleset di lantai. Kepalanya membentur lantai; suaranya tidak besar tapi kami semua langsung panik saat kepalanya mulai berdarah.

“Dia langsung kehilangan kesadaran dan aku menelepon rumah sakit terdekat meminta ambulan dikirimkan karena aku tidak yakin aku bisa membawanya dalam mobil dengan kondisi separah itu.

“Di tengah huru-hara kepanikan membawa Jungkook ke rumah sakit baru aku teringat kau tidak tahu apa-apa tentang ini. Jadi aku mengirim mandorku untuk menemani Jungkook di dalam ambulan dan menjemputmu.

“Mandorku bersama kami saat kejadian jadi aku yakin dia sudah memberitahu semuanya pada perawat.”

Taehyung mengangguk, berusaha mempertahankan ketenangannya yang mulai goyah. Di telepon, nada sambung terdengar. Apakah hari ini Jackson shift? Saat dia sudah nyaris kehilangan harapan, telepon di angkat.

“Halo, selamat siang?” sapa pemuda di seberang sana.

“Jackson, halo.” sapa Taehyung. “Ini aku, Taehyung. Tunangan Jungkook.”

“Ah, halo, Taehyung! Have a great time in Bali?” tanyanya ramah lalu mengatakan pada CDP-nya bahwa dia perlu waktu sebentar sebelum menjauh dari hot kitchen.

“Not really,” sahut Taehyung kering. “Aku butuh bantuanmu. Apakah Jungkook sering mengeluh pusing saat bekerja? Atau hal-hal tidak biasa lain yang dilakukannya sepulang kami dari Bali sebulan lalu? Apa saja, sekecil apa pun.”

Jackson diam sejenak, tidak faham dengan pertanyaan Taehyung. “Dia biasa mengeluh pusing jadi aku tidak tahu apakah itu spesial. Khususnya saat food flow sedang tinggi, biasanya dia akan marah-marah. Itu hal biasa...” Katanya perlahan, sambil berpikir.

Taehyung mengigit kukunya, berdiri di depan ruangan radiologi menunggu kekasihnya yang sedang di dalam melakukan CT scan untuk mengecek kepalanya.

“Ah,” kata Jackson kemudian. “Aku tidak tahu ini termasuk atau tidak tapi belakangan ini dia tidak terlalu percaya diri dengan rasa masakannya.”

Jantung Taehyung berdebar begitu kuat, menonjok rusuknya hingga dia harus menekannya dengan tangan untuk mencoba membuat sakitnya berkurang. “Maksudmu?” tanyanya mencicit.

“Dia... selalu membutuhkan pendapat kedua untuk masakan. Saus, bumbu. Hal-hal seperti itu. Dia selalu memintaku untuk menyicipinya setelah dia melakukannya. Dia biasanya melakukan itu sendiri, tidak pernah butuh dibantu. Dan Jungkook tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di hot kitchen lagi.

“Ada sesuatu yang salah dengannya tapi dia selalu meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja dan karena aku tidak punya nomormu, aku tidak yakin apakah aku harus memberitahumu tentang ini atau tidak. Kupikir kau pasti sudah tahu karena kalian tinggal bersama?”

Taehyung kemudian teringat hari itu, saat dia mengunjungi kitchen dan Jungkook mencicipi makanan.

“Asin,” begitu katanya hari itu sementara Jackson menyicipinya dan menukasnya, “Ini oke.”

Dan saat mereka memasak samosa, dia memakan masakannya lalu bertanya, “Apakah terlalu pedas?” dan dia juga meminta Taehyung bertanya pada Jimin apakah samosanya pedas.

Taehyung pikir itu hanyalah sikap sopan Jungkook, ingin memberikan makanan yang lezat untuk Jimin karena telah membantu mereka di masalah kemarin. Hanya bersikap sopan dan sedikit perfeksionis—persis Jungkook yang biasanya.

Sekarang dia merasa semuanya begitu membahayakan. Apakah itu ada kaitannya dengan kepalanya? Atau Taehyung hanya berpikir berlebihan? Dia menurunkan ponsel setelah berterima kasih pada Jackson lalu duduk di sana, termangu-mangu seperti orang bodoh sementara Yoongi berdiri di hadapannya, cemas.

“Ah, aku harus mengurus administrasi, ya...” Katanya linglung lalu berdiri, menyelipkan ponselnya dan menuju bagian pendaftaran radiologi.

Setelah menyelesaikan pendaftaran radiologi, pendaftaran pasien dan ruang inap, Jungkook kemudian dikembalikan ke UGD setelah CT scan sembari menunggu kamarnya siap. Taehyung meminta Yoongi menemani Jungkook sementara dia bertemu dengan dokter Jungkook untuk bersama-sama membaca hasil CT scan-nya.

“Pak Taehyung, silakan duduk.” kata dokter saraf itu, melambaikan tangan ke kursi di hadapan Jungkook. “Apakah Anda sudah mendapatkan info tentang efek samping yang Anda mungkin luput perhatikan? Sekecil apa pun akan sangat membantu kami.”

Taehyung menelan ludah. “Tunangan saya sering mengeluh pusing, tapi hal itu sudah tidak terlalu istimewa karena dia memang mudah pusing saat tertekan.”

Dokter itu mengangguk, mengeluarkan hasil ronsen kepala Jungkook dan menempelkannya di LED Film Viewer di sisi ruangannya dan menyalakannya. Hasil ronsen itu terdiri dari foto kepala Jungkook dari berbagai sisi dan juga otaknya dalam warna kelabu. Berjejer seperti bola-bola di dalam kertas film gelap.

Taehyung tidak faham sama sekali gambar itu tapi dokter yang membacanya mengamati gambar itu dengan serius.

“Ada tanda trauma di bagian temporalnya,” kata dokter menunjuk bagian samping kepala Jungkook dengan pulpen. “Jadi saya menyarankan Pak Jungkook melakukan MRI scan, untuk mengecek sarafnya. Pada benturan sebelumnya, bagian mana yang terhantam? Dan kejadiannya?”

“Bagian telinganya,” kata Taehyung, menyentuh bagian beberapa senti di atas telinganya. “Terbentur ke batu di Monkey Forest. Saat saya cek di hotel, hanya benjol ringan dan dia langsung tidur. Tidak mengalami efek apa pun dari benturan itu.” Dia bahkan menggendong Taehyung pulang ke hotel, dia ingin menambahkan.

“Temporal dua kali benturan; minor dan mayor.” Kata dokter Jungkook, kemudian mematikan lampu dan kembali duduk di kursinya. “Apakah ada keluhan lain? Saya lihat tunangan Anda seorang chef.

“Mungkin ada keluhan lain? Pada perasanya atau yang lainnya?”

Taehyung mengerjap, mulai mual. “Dia...,” mulainya perlahan, menatap dokter yang balas menatapnya. “Agak kesulitan mengenali rasa?” Dia bertanya ragu-ragu; mungkinkah itu berhubungan dengan kepalanya? “Dia merasa makanannya terlalu pedas atau terlalu asin...?”

Dokter itu menatapnya, seolah sudah menduga kata-kata Taehyung dan mengangguk. “Anda bisa mengurus administrasi untuk MRI scan. Hasilnya akan menentukan apa yang harus saya lakukan setelah ini.” Katanya berdiri dan itu adalah gestur untuk Taehyung meninggalkan ruangan.

Maka Taehyung berdiri, mengangguk sopan pada dokter saraf Jungkook dan bersiap meninggalkan ruangn saat dokter itu menambahkan dengan nada lemah.

“Saya sangat berharap dugaan saya salah, Pak Taehyung.”

*

*Dokter sedang melakukan Glassglow comma scale: mengecek dilatasi pupil, respon pasien terhadap rasa sakit dan responnya pada pertanyaan (Mata-Motorik-Verbal). Jika skalanya setidaknya di angka 3-5-4 maka pasien aman. Standar penanganan saat menghadapi pasien dengan head trauma.

*Apa bedanya? CT Scan: melihat kerusakan di tengkorak dan otak. MRI Scan: melihat kerusakan syaraf.

The Chef #92

Taehyung sedang menikmati lukisan di depannya, mencoba menguraikan ide yang dituang pelukisnya di atas kanvas. Karya itu merupakan karya lukisan tradisional Bali yang banyak menggunkan bentuk-bentuk supranatural di dalamnya seperti rangda, barong dan tokoh wayang.

Warnanya tidak sekaya karya-karya seni kontemporer yang aneh-aneh tapi Taehyung suka. Ada semacam jiwa di dalam lukisan itu, membuatnya nampak hidup dan hanya lukisan Jawa-Bali yang bisanya memiliki napas ini dalam lukisannya. Mungkin nanti dia bisa merengek lagi pada Jungkook agar diizinkan membeli satu lukisan rangda untuk dipajangnya di ruang tamu.

“Kenapa kau tidak membeli yang normal saja, sih? Bunga? Sawah?” tanya Jungkook hari itu, di pasar seni Ubud saat Taehyung memilih lukisan rangda yang magis oleh warna merah dan hitam.

“Itu lukisan murahan,” sahut Taehyung jengkel. “Dikerjakan secara massal untuk dijual murah. Aku tidak mau lukisan begitu dipajang di apartemen kita.”

Jungkook menatap lukisan di tangan kekasihnya dengan alis berkerut. “Tidak.” Katanya tegas kemudian. “Itu terlalu seram.”

“By—,” mulai Taehyung lagi dan Jungkook menggeleng. “Tidak, tidak.” Tukasnya tegas lalu berbalik dan berjalan menjauh.

Taehyung mengerang keras, meminta maaf pada pedagang yang mengangguk kecewa lalu mengejar kekasihnya. “Kau tidak asik,” keluhnya saat melangkah di sisi Jungkook.

“Jika kau membeli lukisan yang normal, aku akan izinkan.” Sahut Jungkook keras kepala dan Taehyung memutar bola matanya sebal; untuk apa membeli lukisan yang dijual secara massal yang akan ditemukannya di ruang tamu orang lain jika dia bisa membeli lukisan yang sakral itu?

Kali ini dia akan membeli lukisannya diam-diam, lalu mengirimkannya via ekspedisi ke apartemen mereka. Jungkook tidak perlu tahu semua transaksi kartu kreditnya, kan?

Taehyung nyengir, menemukan cara untuk membeli hal yang disukainya tanpa harus bersilat lidah dengan Jungkook saat kemudian teleponnya berdering. Dia melihat nama penelepon di layar dan terkekeh.

“Holaa?” sapanya ceria. “Kau sedang istirahat makan siang, ya? Anak-anak beli apa?”

“Kami memesan Burger King dan Kokumi,” sahut Jimin dari seberang sana. Terdengar suara keresak dan obrolan ringan sebagai latar belakang Jimin. “Kau sedang di mana? Mana Jungkook?”

Taehyung terkekeh, melangkah menyusuri lorong museum yang panjang dan beraroma usia. “Dia di lapangan, aku bosan. Jadi aku berkeliling dan menemukan Museum beberapa kilometer dari proyek. Not bad,” Taehyung berhenti di depan sebuah karya lukisan berukuran 2 x 1,75 meter.

“Jika aku memiliki hobi melihat lukisan dan mengunjungi museum, peluangku untuk menjadi chief accountant berapa persen?” tanya Jimin dan Taehyung terkekeh, senang mendapatkan teman mengobrol selama menjelajahi tempat baru karena tunangannya sibuk.

“Aku tidak tahu hobi memiliki kaitan erat dengan kesuksesan pekerjaan,” dia mengendikkan bahu, berpindah ke karya lain dan mengamatinya dengan tertarik. “Kau ingin oleh-oleh apa?”

“Hm...,” pikir Jimin sejenak. “Kau akan mampir ke mana saja memangnya?”

“Belum tahu,” sahut Taehyung ringan. “Mungkin aku akan berkeliling sendiri dengan mobil rental jika Jungkook terlalu sibuk di proyek. Aku sudah lihat-lihat Trip Advisor untuk menemukan tempat wisata sekitar hotel kami, sudah menyusun peta juga tapi belum mengajukannya pada Jungkook.”

Jimin diam sejenak, “Apa saja yang ingin kauberikan untukku akan kuterima. Apalagi nomor kontraktor ganteng Jungkook itu.” Katanya mendesah penuh damba dan Taehyung memutar bola matanya geli. “Kau yakin dia..., yah, setidaknya biseks jadi aku punya kesempatan?”

Taehyung tertawa. Hari saat Jungkook menerima panggilan Yoongi untuk presentasi desain restorannya via Zoom, Jimin kebetulan sedang mampir untuk membantu Taehyung menghabiskan nasi goreng bumbu Bali yang dibuatkan Jungkook lengkap dengan ayam suwir goreng kering yang renyah.

Dan dia tidak sengaja mengintip, menemukan pemuda serius dengan wajah putih pucat yang sedang menatap Jungkook dengan fokus dan jatuh cinta (“Aku jatuh cinta! Pada pandangan pertama, Taehyung! Dan kau tidak diizinkan untuk mengejekku!” katanya dan Taehyung menatapnya jijik). Dan tidak berhenti merongrong Taehyung untuk mengenalkan mereka.

“Akan kusampaikan salammu pada Yoongi nanti jika itu membuatmu senang,” Taehyung melangkah keluar dari gedung pertama dan menghirup udara; menikmati suasana musem yang damai dan menemukan sepasang pengantin yang sedang melakukan pra-wedding.

Taehyung mengulum senyumnya, mengamati rombongan itu dengan tertarik lebih karena pakaian adat Bali yang mereka gunakan nampak tradisional sekaligus megah. Hiasan kepala gadis itu nampak menyakitkan karena begitu tinggi dan menyiksa, namun selebihnya dia nampak begitu memesona.

“Kenalkan aku padanya saat aku ikut ke Bali, oke??”

Taehyung tertawa lagi, memalingkan wajahnya dari pasangan itu. “Oke. Siap. Gampang,” katanya lalu berhenti saat nada dering lain terdengar. Dia menurunkan ponsel dan menemukan nama Jungkook di layar. “Hei, sebentar ada panggilan masuk dari Jungkook.” Katanya pada Jimin.

Dia menekan hold pada panggilan Jimin lalu mengangkat panggilan konvensional Jungkook. “Halo, Sayang? Aku sedang di Museum, aku akan kembali sekarang jangan mengomel.” sahutnya bergegas menuruni tangga menuju pintu keluar karena sudah menyimpulkan bahwa Jungkook pasti sudah menunggunya untuk pulang.

Bayangkan betapa kagetnya dia saat berdiri di pintu keluar dan yang bicara dari seberang sana bukanlah Jungkook, melainkan Yoongi.

“Taehyung?” tanyanya tegang, di belakangnya terdengar suara sirine yang menjauh dan ini membuat ulu hati Taehyung terasa dijotos. “Maaf saya lancang menggunakan ponsel Jungkook tapi saya akan menjemput Anda sekarang ke sana dan kita akan ke rumah sakit.”

Hati Taehyung mencelos hingga ke dasar perutnya dan dia berpegangan ke pohon di sisinya, tidak percaya pada lututnya terasa lemas untuk menopang tubuhnya dan beberapa karyawan museum yang melihatnya bergegas menghampirinya dengan sigap.

“Apa... yang terjadi?” tanyanya, menelan asam lambungnya dan mengabaikan dua karyawan yang menatapnya cemas dan bertanya; namun Taehyung tidak mendengarnya sama sekali—telinganya berdenging.

Sesuatu terjadi pada Jungkook. Dia yakin.

”... Kepalanya terbentur keras—,”

Hanya butuh hal itu untuk membuat Taehyung kehilangan seluruh kontrol atas tubuhnya, terhuyung dan tersungkur di tanah dengan lututnya. Ponselnya terlepas dari tangannya, terguling ke tanah di sisinya dan dia membungkuk, berdeguk keras seperti seekor kucing yang tersedak lalu muntah dengan suara berisik ke rerumputan empuk di kakinya.

*

The Chef #90

Taehyung menutup pintu mobil di belakangnya dan mendesah saat udara Ubud menerpa wajahnya. Dia selalu suka saat memandang lembah di hadapannya, melihat Campuhan di kejauhan dan hamparan bukit rendah yang hijau di sekitarnya.

Tanah ini luar biasa sekali dan dengan soft branding yang dijalankan tim PR via sosial media dan website (mewah sekali, Taehyung sendiri terpana melihat betapa indah, canggih dan mulus website restoran Jungkook itu terpampang di layar Mac-nya). Sejauh ini, beberapa rekan chef Jungkook sudah menghubunginya; meminta disiapkan satu kursi dalam soft dan grand opening-nya.

Taehyung suka melihat bagaimana Jungkook nampak bersinar oleh perasaan bahagianya saat menerima telepon-telepon itu.

Sekarang kekasihnya itu sudah melangkah menuju restoran yang sudah berjalan 10%. Beberapa tukang bangunan sedang bekerja dengan giat di bawah sinar matahari, mengerjakan sesuai dengan arahan dari mandor yang melepaskan helmnya untuk mengobrol dengan Jungkook dan Yoongi.

Dia langsung tenggelam dalam pembicaraan teknis tentang bangunan dan lain-lain. Mengangguk-angguk dengan man-bun berantakannya yang seksi dan wajahnya yang belum dicukur—permintaan Taehyung mumpung mereka cuti Jumat ini.

Taehyung tidak tertarik dengan tumpukan semen, bata dan pasir jadi dia berjalan-jalan ke sekitar lokasi yang terasa akrab walaupun Taehyung praktis adalah orang asing. Beberapa orang yang lewat tersenyum ramah pada Taehyung yang buru-buru dibalasnya dengan senyuman kikuk lebih karena kaget menerima keramahan dari orang asing. Menikmati suasana Ubud yang asri dan sangat meneduhkan; ada pasar tradisional beberapa kilometer dari restoran Jungkook.

Maka dia berteriak meminta izin pada Jungkook lalu melangkah ke sana tanpa menunggu jawaban Jungkook. Dia bertemu dengan segelintir pedagang yang masih buka di pasar yang mulai sepi, melihat-lihat buah yang kisut oleh sinar matahari dan kue tradisional Bali yang dibelinya dengan rasa penasaran. Dia membeli rengginang dan beberapa panganan lain yang menarik matanya, memasukannya ke dalam tasnya.

Jalanan cukup ramai tapi tidak seperti jalanan Jakarta yang penuh sesak. Satu-dua kendaraan melintas di jalan yang besar dan ramah; anak-anak bersepeda, ibu-ibu mengobrol di warung. Suasana yang menyenangkan sekali dengan matahari yang bersinar di langit biru permen. Taehyung menikmati jalanan yang rindang oleh pohon beringin raksasa yang meneduhkan sambil mengudap kue yang dibelinya di pasar.

Taehyung tidak benar-benar memikirkan ke mana kakinya melangkah karena dia sudah menyimpan lokasi restoran Jungkook di maps agar mudah menemukan jalan kembali—semuanya sudah menenangkan berkat Google Maps. Dia menyusuri jalanan yang mulai padat dan menemukan gedung yang membuatnya tersenyum lebar.

Museum Puri Lukisan.

Menghabiskan camilan yang sedang dikunyahnya, Taehyung bergegas menghampiri bangunan dengan gaya kental Bali itu dengan dua candi bentar* raksasa mengapit pintu masuknya dan tersenyum lebar.

*

Candi Bentar: pintu masuk bangunan khas Bali, mengapit gerbang masuk. Umumnya pada Pura.

The Chef #85

Taehyung membekap mulutnya, menahan diri agar tidak mendesah keras saat Jungkook berjongkok di hadapannya dengan wajah tenggelam ke kedua kakinya yang terbuka; ditahan di sisi-sisi bilik agar tidak terlihat ke luar toilet. Pose seperti seekor ayam panggang yang disajikan di atas piring, membuat kedua lututnya nyeri tapi seluruh sarafnya terlalu sibuk dengan kegiatan Jungkook.

Di luar sana, di urinal, para lelaki sedang berdeham, berbatuk dan bicara dengan satu sama lain. Semuanya normal; hanya toilet lelaki bandara yang ramai dan biasa saja kecuali bahwa di dalam bilik ada pemuda yang sedang duduk di atas toilet dengan pasangannya membenamkan wajah ke selangkangannya.

Sungguh normal.

Jungkook mengangkat wajahnya yang merah padam, rambutnya yang tadi rapi sekarang membentuk tirai magis di kedua sisi wajahnya. Dia menyunggingkan senyuman separonya yang menyilaukan. “Kau yang minta,” katanya tanpa suara, tangannya membelai tubuh Taehyung yang mendamba dengan lembut lalu memijatnya.

Taehyung harus mengigit tangannya agar tidak berteriak oleh sentuhan itu dan mendelik pada Jungkook yang tertawa, terhibur dengan ekspresi Taehyung. Pemuda itu melemparkan kepalanya ke belakang, berusaha kuat agar tidak berteriak saat Jungkook membelai tubuhnya dengan tangan serta lidahnya yang lihai.

Jungkook melirik jam tangannya. “Lima belas menit lagi sebelum boarding, let's make this quick.” Katanya lalu merunduk, kembali memeluk tubuh Taehyung dalam mulutnya dan melakukan manuver sinting yang melibatkan lidah dan gigi hingga Taehyung tercekat; suara desahan lirih lolos dari bibirnya.

Jungkook mendelik padanya, langsung berdiri lalu membekap mulut Taehyung dan mereka diam; berdebar menanti seseorang menyadari apa yang mereka lakukan. Quicky selalu menjadi semacam adrenaline rush bagi mereka—biasanya Jungkook yang ingin dan Taehyung dengan senang hati menolaknya.

Public sex—atau dalam kasus mereka sekarang, blowjob selalu bisa membuat Jungkook yang praktis adalah seorang adrenaline junkie teralihkan pikirannya, lebih fokus dan tenang. Hanya jika permen karet tidak berhasil. Dia suka bermain dengan risiko.

Mereka menunggu dalam diam selama dua menit, dan tidak ada yang curiga.

Jadi Jungkook kembali berjongkok dan menjilat dengan mata terkunci pada Taehyung yang nyaris menangis oleh keahliannya. Taehyung mengulurkan tangannya yang bebas lalu membelitkan rambutnya di jemarinya dan menjambaknya hingga Jungkook menghela napas tajam.

“Coming!” bisik Taehyung, jambakannya di kepala Jungkook menguat hingga chef muda itu meringis namun sama sekali tidak memelankan ritmenya; dia suka melihat Taehyung tersiksa, dia nampak cantik sekali.

Taehyung merasa pening; seluruh saraf dan perasanya terkunci di satu titik. Pada tubuhnya yang sedang dikulum Jungkook dengan lembut, dipijat dengan lidah dan giginya. Dia menahan napas, perutnya terasa mengejang dengan cara yang begitu mendebarkan hingga dia yakin dia akan berteriak.

Maka dia mengigit tangannya hingga nyeri, berusaha agar tidak mengeluarkan suara sama sekali saat tunangannya yang seksi itu bermanuver dengan mulut sialannya.

Sedikit lagi...

Taehyung mulai gila; dia tidak bisa menahannya lagi. Dia menarik rambut Jungkook dengan begitu kuat hingga beberapa helai tercabut dari kulit kepalanya dan chef muda di kakinya tidak nampak keberatan sama sekali.

Sedikit lagi.... Sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit—!

Dan ponsel Jungkook berdering, begitu keras hingga seluruh isi toilet terdiam dengan suara seragam.

“Bangsat!” ludah Jungkook kaget, buru-buru berdiri dan meraih ponselnya. Menatap layar ponsel dengan marah, dia melihat nama kontraktornya. “Halo?” sapanya dengan gusar, menatap Taehyung yang sekarang memijat dirinya sendiri dengan kesal; suasana hati tunangannya tidak akan baik sebelum mendapatkan segelas vodka on the rock atau seks luar biasa.

Dan dari ekspresinya, Jungkook tahu dia harus memberi Taehyung keduanya.

“Saya baru di bandara, satu jam lagi. Ya. Belum boarding,” katanya mengulurkan tangan, meraih tubuh Taehyung dan memijatnya dengan lembut berusaha menghibur tunangannya yang sudah jengkel secara resmi. “Ya, ya. Oke. Sampai ketemu.”

Dia menurunkan ponsel dan membuka mulut untuk bicara saat pengumuman berkumandang; memanggil penumpang Garuda Indonesia tujuan Denpasar, Bali untuk segera menaiki pesawat.

“Maaf,” desah Jungkook dan Taehyung merengek tanpa suara. “Kita lanjutkan di hotel, oke?”

“Oke.” balas Taehyung tanpa suara.

Jungkook mengintip ke luar toilet untuk mengecek keadaan sebelum keluar dan menemukan seorang bapak-bapak berdiri di wastafel sedang mencuci tangan dengan santai. Dia memberi tanda untuk Taehyung menunggu dengan kaki terbuka.

Bapak itu meraih saku kemejanya, bersiul tenang lalu menyisir rambutnya yang tipis—menikmati waktunya berdandan. Menata penampilannya hingga Jungkook ingin sekali berteriak padanya; mereka bisa ketinggalan pesawat!

Kemudian hanya untuk membuat suasana semakin menegangkn siku Taehyung tidak sengaja memencet tombol flush hingga suara air tersiram terdengar nyaring dalam ruangan yang sepi. Jungkook menoleh dengan mata mendelik; kenapa dia malah mengumumkan keberadaan mereka??

Taehyung meringis, “Maaf!” dia berkata tanpa suara. “Kakiku sakit!” tambahnya berbisik terdesak, “Cepat!”

Suara pengumuman terdengar lagi dan Jungkook nyaris menendang pintu ini terbuka dan mengusir bapak itu. Namun saat dia mengintip kembali, pria paruh baya itu sudah lenyap. Hanya butuh beberapa menit sebelum cleaning service masuk dan membersihkan toilet maka dia tidak menyia-nyiakan momentum, Jungkook menyelipkan tubuhnya keluar.

Berdeham keras dan merapikan pakaiannya, satu detik sebelum seorang cleaning service memasuki ruangan. Jungkook mengamati bilik yang mereka gunakan sambil menyuci tangan sebelum berbatuk keras tiga kali; kode mereka jika salah satu keluar dari toilet dan yang lain harus menyusulnya setelah hitungan kesepuluh.

Dia bergegas keluar dari toilet dengan tua tas, berjalan cepat mengeluarkan boarding pass mereka ke arah barisan penumpang yang sudah menipis dan menoleh, menemukan Taehyung berlari menyusulnya dengan wajah merona sambil merapikan pakaiannya dan saat mereka bertemu pandang, keduanya nyengir.

“Hampir saja!” seru Taehyung saat mereka duduk di kursi pesawat mereka dan mendesah panjang. “Tolong, aku nyeri sekali. Besok sebelum kita melakukan quicky, sebaiknya kau mematikan nada dering ponselmu.” Dia mendelik pada ponsel Jungkook—mengutuknya.

“Dan kau sebaiknya memberitahuku lima menit sebelum mulai merengek minta digagahi sehingga aku memiliki waktu untuk bersiap, oke?” balas Jungkook merunduk ke arahnya, berbisik.

Taehyung menjulurkan lidah. “Aku mau vodka on the rock setibanya di hotel.”

“Siap, Your Majesty. Apa lagi?”

“Seks. Yang lama.”

Jungkook menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah dan tersenyum, menyapukan tatapan kurang ajar ke seluruh tubuh Taehyung hingga pemuda itu merinding lalu berkata dengan serak, “Dengan senang hati.”

*

The Chef #80

Jungkook yakin dia sebentar lagi akan meninggal, atau setidaknya gila.

Dia mengerang keras, membenamkan kepalanya lebih dalam ke bantal dengan mata terpejam tidak kuasa mengendalikan dirinya sendiri saat Taehyung terengah di atasnya; menggerakkan pinggulnya dengan liar. Tangannya mencengkram pinggul Taehyung dengan kencang, seolah berusaha menahan akal sehatnya agar tidak jatuh tergelincir dari tempatnya.

Dia pening. Taehyung nampak begitu luar biasa dengan wajah merah padam dan mata sayunya yang berkabut gairah serta mabuk.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia meladeni Taehyung yang mabuk dan sensasi ini begitu mengejutkan, dia lupa betapa kewalahannya dia meladeni Taehyung dan gairahnya saat mabuk. Pertama kali tunangannya mabuk, ketika Enseval menggelar residential meeting di The Ritz.

Dia ingat menerima BEO (Banquet Event Order) yang di-CC ke emailnya dan menemukan arrangement untuk residential meeting Enseval. Lalu bagaimana tunangannya turun ke kantornya di kitchen di tengah-tengah meeting untuk memberinya blowjob singkat yang hanya bisa ditandingi oleh malaikat di surga sebelum bergegas kembali naik ke ruangan meeting seolah tidak terjadi apa pun.

Lalu malamnya sebelum dia pulang, seorang commis-nya yang mendapat giliran untuk mengisi show cook di restoran menginformasikan Jungkook bahwa tunangannya sedang mabuk di bar.

Masih dengan seragam chef-nya, Jungkook naik ke bar. Mengangguk pada beberapa tamu yang mengenalinya karena topi chef tinggi di kepalanya dan beberapa anak FB lalu mengintip ke bar, menemukan Taehyung sedang menandaskan isi gelasnya yang entah keberapa dengan anak FB yang menatapnya memohon bantuan.

Jungkook menghampiri kekasihnya lalu dengan lembut menyentuh bahunya. Taehyung mendongak, memicingkan mata berusaha mengenalinya lalu tersenyum lebar. “Terima kasih,” katanya pada anak FB dibalik konter bar lalu menuntun Taehyung berdiri. “Masukkan ke city ledger saya, ya?” tambahnya.

Dia membawa Taehyung melewati lorong khusus karyawan dan mengabaikan tatapan tidak setuju FBM yang akhirnya tiba di lorong kamar Taehyung. Jungkook mendesah saat merogoh saku Taehyung yang mulai teler oleh alkohol dan membuka kamarnya.

Taehyung bukan tipe pemabuk yang berisik, dia hanya akan diam dan memejamkan mata seolah tidur. Tapi Jungkook di masa lalu tidak tahu bahwa di balik pintu tertutup, tunangannya bisa sangat berubah.

Dia baru saja meletakkan Taehyung di ranjang dan bersiap untuk mengambil pakaiannya di loker sebelum naik kembali ke kamar ini saat Taehyung menyambar tangannya, menciumnya dengan cara yang belum pernah dilakukannya selama ini.

Dia begitu.... menuntut dan mendominasi. Liar dan sangat menggairahkan dengan wajah memerah dan mata sayu sialannya itu. Dan Jungkook sama sekali tidak keberatan untuk bottom on top sama sekali.

Sama seperti hari ini.

“Oh!” kata Jungkook serak, penuh kenikmatan saat Taehyung menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang berbeda.

Membuat seluruh dirinya merinding oleh gairah; dia menyentuh pinggul Taehyung, menggerakkannya seperti apa yang diinginkannya dan Taehyung menurut. Menambah ritmenya hingga Jungkook mengerang keras, kepalanya pening oleh kenikmatan. Dia bisa gila, dia bisa mampus. Jungkook meraih tengkuk Taehyung, menariknya untuk menciumnya tapi pemuda itu menepisnya.

“No.” sahutnya dengan nada mengantuk yang menggemaskan.

“Sialan,” erang Jungkook, terengah. Paru-parunya terasa mengerut saat dia berusaha menghela napas untuk membuat otaknya bekerja di balik selubung gairah yang melumpuhkannya.

Taehyung mengangkat pinggulnya dengan perlahan hingga Jungkook mengerang keras bagaimana tubuh Taehyung memeluknya dengan begitu kuat hingga dia merasa otaknya mati. Lalu tanpa aba-aba, Taehyung terjun bebas. Mempersilakan Jungkook memasuki tubuhnya dengan begitu dalam dan lepas.

“Astaga!” seru Jungkook, mengerang keras dan panjang saat tunangannya menjulurkan tubuh, berbaring di dadanya sementara pinggulnya terus bergerak. “Ya Tuhan,” erang Jungkook. “Taehyung...” dia mendesah keras, nyaris gila. Hampir gila. Sedikit lagi gila...

“Taehyung, Taehyungtaehyung....”

Beberapa detik sebelum dia lebur bersama orgasme, Taehyung bangkit dengan tiba-tiba lalu tertawa serak, menikmati permainannya sendiri dan Jungkook kehilangan momentumnya dengan suara frustasi yang memilukan. Dia berguling, menyentuh bagian tubuhnya yang berkedut nyeri oleh kegagalan mereka lalu sebelum bisa berbicara, Taehyung kembali menaiki tubuhnya.

Mendorongnya terlentang, mengangkangi perutnya lalu membalut Jungkook dalam mulutnya yang basah dan hangat dengan cara paling menakjubkan yang membuat seluruh tubuh Jungkook berdenyar—sungguh berdenyar dan kepalanya terasa lepas dari lehernya.

Dia berbaring di ranjang, mulutnya terbuka dan matanya terpejam saat seluruh tubuhnya kesemutan oleh rasa nikmat dan bokong Taehyung yang indah terpapar di wajahnya. Dia mengangkat lehernya, membenamkan wajahnya di pantat Taehyung yang selembut cream cheese lalu menjulurkan lidahnya.

“OH!” Taehyung mengerang keras, berhenti melakukan pekerjaannya hanya untuk gemetar dan mendesah keras. Menikmati manuver lidah panas Jungkook di bagian dirinya yang intim.

Haruskah dia membuat Taehyung mabuk setiap hari untuk ini?

“Kenapa berhenti?” tanya Jungkook, menyelipkan jarinya dan melakukan gerakan melingkar yang dibalas dengan teriakan tertahan yang begitu indah. Seluruh tubuh Taehyung bergetar oleh kenikmatan, dia terengah.

Mulutnya terbuka dengan wajah merah padam yang membuat Jungkook sungguh ingin bercinta dengannya hingga dia mabuk, berteriak dan mendesah. Menyebutkan nama Jungkook dalam momen orgasmenya. Dia ingin Taehyung meledak dalam kenikmatan.

“Lanjutkan.” kata Jungkook, menyelipkan satu jari lagi dan menikmati permainan. “Aku tidak memintamu berhenti, Baby.”

Taehyung mengerang lagi lalu merunduk, kembali memeluk Jungkook dengan mulutnya dan bergerak perlahan. Terdistraksi oleh lidah Jungkook di bagian bawah tubuhnya, dan tangan Jungkook yang membalut bagian tubuhnya yang menegang—memijatnya lembut dan ahli. Mengusap ujungnya dengan jemari hingga Taehyung gemetaran.

Dan untuk membuat otak Taehyung lebih menderita lagi, lidah Jungkook kembali.

Menyapu akal sehatnya hingga luluh lantak.

“Bedebah bangsat,” ludah Taehyung marah dan gemetaran. Jungkook tersenyum separo dengan puas.

Ini dia.

Bagian lain yang sangat disukai Jungkook saat Taehyung mabuk adalah bagaimana dia bicara dengan kasar. Mengumpat, mengata-katai Jungkook, menyalak padanya seperti seekor kucing yang marah dan itu membuat Jungkook semakin bergairah.

Dia pernah meminta Taehyung melakukan ini saat tidak mabuk dan tunangannya tidak bisa melakukannya senatural seperti ketika dia mabuk.

“Hmm...” kata Jungkook malas, jemarinya memijat Taehyung dengan ahli—sudah faham bagian mana dari tubuh Taehyung yang harus disentuhnya agar tunangannya senang. “Kau baru saja mengataiku, ya?” tanyanya terhibur.

Jarinya yang dingin menyelip masuk kembali, bergerak dengan lembut namun menuntut hingga Taehyung mengerang keras.

Untuk membalaskan dendamnya, Taehyung merunduk. Menyapukan lidahnya ke paha Jungkook; ke atas tatonya yang terpapar ke udara. Jungkook mengerang, tidak pernah bisa menolak sensasi yang diberikan Taehyung saat dia melakukannya.

Taehyung mengamati dengan puas saat seluruh kuduk Jungkook meremang oleh sentuhan lidahnya dan bagaimana pinggulnya terangkat merespon lidah Taehyung di pahanya. Taehyung mengecup tatonya, menarik ciuman malas yang panas dan basah hingga Jungkook mengigil di pinggir jurang kewarasannya.

“Berapa botol yang kauminum?” tanya Jungkook nyaris mengigit lidahnya sendiri saat berusaha bicara lalu kemudian mengerang keras—sangat keras hingga Taehyung yakin (dengan puas) tetangga mereka akan mendengar suara ini saat Taehyung mengulumnya; menghadiahinya dengan gigitan-gigitan kecil dan lembut.

Dia bisa merasakan seluruh tubuh Jungkook bergetar oleh kenikmatan dan dia kehilangan seluruh kendali atas akal sehatnya.

“Oh, ya Tuhan...” erang Jungkook terengah, kepalanya terkulai di bantal dengan rambut ikalnya yang menyebar di atas seprai. Saat mulut Taehyung melepaskannya, Jungkook tidak menyia-nyiakan waktu itu.

Dia membalik keadaan dengan cepat; tidak membuang waktu sedetik pun. Mendorong Taehyung turun dari atas tubuhnya dan melompat berdiri seluwes cheetah sebelum meraup tubuh Taehyung yang terkesirap kaget, menggendongnya dengan kedua lengannya dan menyatuhkan tubuh mereka hingga keduanya mendesah keras.

Oh, Taehyung suka ini.

Dia suka jika tetangga mendengar betapa hebat seks yang bisa diberikan tunangannya.

Jungkook menciumnya dengan suara marah yang keras, rasa frustasi mewarnai ciuman itu saat dia bergerak membawa tubuh mereka ke dinding, menyandarkan punggung Taehyung di sana lalu menggerakkan pinggulnya dengan tiba-tiba hingga Taehyung terkesirap keras.

Kepalanya terlempar ke belakang, membentur dinding dengan suara keras tapi tidak ada yang terlalu peduli saat seluruh saraf dan indera mereka berpusat di pertemuan tubuh mereka yang begitu panas dan memusingkan.

Taehyung mengerang, terus dan terus sementara Jungkook bergerak dengan liar. Tidak lagi bersikap penuh kelembutan seperti sebelumnya; dia mengandalkan seluruh insting kelelakiannya, tidak mengizinkan akal sehat atau hati nurani bergabung dalam seks mereka.

Jungkook menatap Taehyung yang terpejam dengan tatapannya yang tajam, wajahnya nampak lebih gelap dan bergairah. Dia nampak luar biasa seksi dengan rambut setengah basah dan wajah merah padam serta ekspresi tidak sabar yang frustasi yang membuat garis rahangnya menegas oleh emosi itu.

Chef muda itu tidak berhenti bahkan untuk bernapas, dia terus bergerak seperti mesin. Taehyung tidak tahu harus mengutuk atau bersyukur atas kegilaan Jungkook pada aktivitas fisik hingga dia bisa menahan beban tubuh Taehyung dan juga menggerakkan pinggulnya sekaligus tanpa terlihat kesulitan sama sekali.

Belum lagi saat Jungkook mulai mengerang, beberapa detik sebelum orgasme saat dia mulai bergerak jauh lebih liar dan cepat. Membenamkan wajahnya ke bahu Taehyung, mengigitnya keras lalu melenguh keras bersamaan dengan Taehyung.

“Kau harus lebih sering mabuk,” kata Jungkook kemudian saat mereka berdua menempel di dalam boks shower yang menyala dengan air hangat kuku. “Menakjubkan sekali.”

Taehyung memutar bola matanya. Menepis tangan Jungkook yang mulai membelai tubuhnya yang basah dan licin oleh sabun.

Setelah orgasme bersama dengan begitu intens dalam posisi koala, Taehyung kemudian bergegas turun dan muntah. Memuntahkan semua kemabukannya dan kemudian kembali merasa jauh lebih baik setelahnya sehingga saat Jungkook menggendongnya untuk mandi, Taehyung menyerah.

“Besok tubuhku akan remuk dan aku tidak akan bisa fokus bekerja. Aku tidak melihat itu sebagai sesuatu yang menakjubkan,” keluhnya lalu mendesah kecil saat tangan Jungkook yang bersabun mulai menyentuh tubuhnya. “By,” keluhnya. “Aku lelah sekali, oke?”

“Hmm...,” bisik Jungkook dengan suara serak seksinya yang terkutuk. “Please. Sekali lagi, ya?” desaknya mulai mencium bagian sisi lehernya dan mengulum cuping telinganya dengan intim hingga dia bergidik; tidak kuasa menolak godaan itu. Maka dia menyerah.

Dan saat tangan Jungkook meraih kakinya—dengan bibir masih sibuk di lehernya, membukanya untuk memulai seks lain, Taehyung bersumpah; dia tidak akan mabuk lagi setelah ini. Apa pun alasannya.

Sungguh.

*

Glossarium:

a. BEO (Banquet Event Order): biasanya dibuat oleh Convention Coordinator atau Sales Executive yg isinya detail acara dari klien. Meeting di ruangan apa, set-up meeting nya (Letter-U, classroom, dst), menunya juga harganya. Ini diinfokan ke bagian operasional untuk disekskusi; yg terima biasanya Chef (utk menu), FB (utk setting dan banquet), Sales (sbg penerima pertama order utk dicek), FO (kalo ada kamarnya), Akunting (utk cek jumlah dan metode payment) dan GM (sbg tembusan).

b. Residential meeting: meeting tapi peserta meeting itu juga nginep di hotel tempat mereka meeting. Biar bisa meeting 24 jam /ga. Jadi selain ada arrangement meeting, juga ada arrangement kamar. Biasanya yg jabatan2 tinggi 1 kamar sendiri (kayak Tae makanya bisa nyelundupin JK ke kamarnya hehe) dan peserta lain sekamar berdua.

c. City ledger: izin untuk ngutang sih kasarnya haha biasanya dipake tamu, tp di beberapa hotel kayak di hotelku dulu (gatau hotel lain), Department Head (termasuk Chef) itu punya hak utk pay later kalo makan di hotel. Jadi tar dipotong gaji gt. Jadi Tae minum, trs disistem dimasukin ke tagihan JK dan pas gajian, jumlah utang itu dipotong dari gaji JK.

The Chef #78

Melihat dua orang chef bekerja di dapur apartemen medium mungkin bukanlah pemandangan sehari-hari semua orang dan jelas bukan juga pemandangan untuk para akuntan yang sekarang duduk di konter, menyaksikan cuisine head chef dan sahabat lamanya yang juga pastry chef bekerja sama untuk membuat strawberry shortcake.

Keduanya bekerja dalam ritme yang mengesankan; Yugyeom tahu apa yang dibutuhkan Jungkook dan sudah mengulurkannya bahkan sebelum head chef itu meminta atau mengulurkan tangan. Mereka bekerja dengan cekatan, tanpa banyak bicara dan tanpa banyak interaksi selain meminta alat dan bahan.

Mingyu dan Jimin duduk berdampingan, mengamati mereka berdua bekerja seperti sedang menonton reality show. Termangu dan terpesona sambil mengunyah tortilla. Aroma stroberi dan buttermilk tercium ke seluruh penjuru ruangan bersama fresh cream milk.

“Bisakah kalian setidaknya mengobrol? Membosankan sekali,” keluh Taehyung dengan Bubble di pangkuannya dalam balutan piyama polkadot yang menggemaskan; anak anjing itu menguap lalu kembali lelap di bawah belaian lembut Taehyung.

“Chef tidak pernah bicara selain untuk memerintah,” sahut Yugyeom menguleni adonannya dengan cekatan tanpa mendongak. “Apalagi Jungkook.”

“Aku sangat berpengalaman masalah Jungkook dan amukannya. Trims,” Taehyung menggendong Bubble lalu beranjak ke dapur, menyusup ke tengah Yugyeom dan Jungkook untuk menganggu.

Yugyeom sedang membuat adonan buttermilk cookies sementara Jungkook mengurus stroberi dan membuat whip cream untuk kuenya. Saat mereka tiba tadi, Jungkook sedang sibuk mengurus seekor ayam yang dimarinasi dengan bumbu beraroma rempah dan kunyit yang dominan, memasukkannya ke dalam mangkuk lalu membungkusnya dengan plastik wrap sebelum menyimpannya ke dalam kulkas.

“Menu makan malam,” katanya ceria, mengelap konter dengan lapnya. “Kalian belum makan, kan?”

Bubble menyalak saat mencium aroma stroberi dan Jungkook terkekeh. Dia meraih sepotong stroberi dan menyerahkannya pada Taehyung yang langsung menerimanya dan menyuapi Bubble potongan buah itu lalu tertawa saat Bubble menjilat wajahnya.

“Kalian ingat tidak kami bertiga ini jomblo?” tanya Yugyeom setelah menata buttermilk cookies-nya di atas loyang, menaburkan turbinado sugar ke atasnya dan siap memasukannya ke oven yang sedang dipanaskan. “Tolong jangan pamer kemesraan.”

Taehyung menyomot stroberi dan memakannya. “Kalian membosankan sekali, kenapa kalian bekerja dalam diam? Kenapa kalian tidak lebih interaktif? Pantas saja kalian tidak jadi celebrity chef, kalian tidak punya bakat.”

“Memangnya siapa juga yang mau jadi celebrity chef?” balas Yugyeom memutar bola mata, mengenakan sarung tangan oven Jungkook untuk membuka oven dan memasukkan loyang yang terisi dua belas cookies.

“Siapa juga yang mau menawari kalian?” balas Taehyung mendelik.

“RCTI,” sahut Jungkook menyombong dengan kalem. “Kau lihat proposalnya kemarin dan langsung menolaknya, berarti sebenarnya aku ini berbakat.”

Taehyung memutar bola matanya, memberi potongan stroberi lain ke Bubble yang menerimanya dengan ceria. “Kau cuma mau bertemu Chef Renata karena dia seksi. Kau, 'kan, biseks.”

Kalimat Taehyung membisukan satu ruangan seketika itu juga, seperti televisi yang dimatikan. Dan Taehyung mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol kata-katanya sendiri.

Jungkook diam meresponnya, tangannya yang cekatan berhenti bergerak dengan whisking tool-nya. Keheningan ini membuat seluruh orang di ruangan itu seketika merasa kikuk.

Jungkook kemudian tertawa serak dan tegang, seluruh ruangan menyadari suara tawa ini dan Taehyung meringis karena bercandanya mungkin sangat keterlaluan kali ini.

“Kau baca sendiri pasanganku Juna dan Arnold,” katanya kembali memasak, menolak menatap semua orang di ruangan itu.

Yang mungkin saja adalah sahabatnya dan juga sahabat Taehyung, tahu segalanya tentang rahasia masa lalunya yang kelam bahkan sebelum tunangannya tapi mendengar Taehyung menggunakan itu sebagai lelucon membuat seluruh tubuh Jungkook terasa aneh.

Dia malu, kikuk dan bersalah. Rasanya nyaris melumpuhkan tapi dia berusaha mengendalikan diri; tidak membiarkan kenangan itu berkuasa atas dirinya hari ini. Apalagi dalam suasana berkumbul yang akrab ini. Dia bisa bicara dengan Taehyung nanti tentang ini.

Seluruh orang menatapnya, menilai reaksinya sebelum Taehyung melepaskan Bubble yang langsung menggonggong ceria ke arahnya, menyelip ke kaki Jungkook—mencoba menghiburnya dengan mendengking dan menjilati kakinya.

“Maaf,” kata Taehyung memeluk pinggangnya dan mengecup bahunya, “Maaf bercandaku kelewatan.” Dia mengistirahatkan kepalanya di bahu Jungkook dan mendesah.

Jungkook kembali tertawa, gerakan mengocoknya melenceng dari gerakan sebelumnya; menandakan betapa anxious-nya dia dan itu membuat Taehyung merasa sangat bersalah. “Tidak,” sahutnya. “Kau benar, aku memang biseks. Tapi,” tambahnya kemudian, menoleh pada Taehyung yang membuka mulut untuk bicara.

“Kau tidak harus berpikir serendah itu tentangku, oke?”

Taehyung menatapnya, mengerjapkan mata lalu tersenyum menyesal. “Maaf,” katanya. “Maafkan aku, sungguh.”

Jungkook tersenyum, menjulurkan lehernya untuk mengecup kening Taehyung dan mengusap rambutnya sayang. “Baiklah, sekarang menjauhlah dari sini,” dia mendelik, berpura-pura marah dengan senyuman di bibirnya. “Karena para profesional harus menyelesaikan makanan kalian sebelum malam.”

Seluruh ruangan menghembuskan napas setelahnya lalu Jimin, Mingyu dan Taehyung memilih untuk ke ruang keluarga, menonton Netflix seraya mengunyah tortilla chips dan guacamole serta membiarkan para chef mempersiapkan makanan mereka daripada mengganggu.

Yugyeom menyelesaikn shortcake mereka dengan buttermilk cookies yang beraroma tajam mentega hangat yang menakjubkan. Membentuknya menjadi menara-menara kukis mungil dengan limpahan potongan stroberi yang dibagi menjadi enam porsi. Sementara itu Jungkook mengeluarkan ayam yang sudah dimarinasi dari dalam kulkas dan mulai memasak.

Dia menunjukkan kebolehannya dalam Indonesian food dengan memasak ayam taliwang Lombok yang aromanya membuat seluruh penonton yang sejak tadi sibuk menonton Netflix, tergoda untuk kembali ke dapur dan mempersiapkan diri untuk makan karena aroma rempahnya yang hangat dan kaya. Membuat mereka semua bersin-bersin saat Jungkook menumis bumbunya.

“Kau ingat ayam taliwang yang kita makan di Lombok kapan itu tidak?” tanya Taehyung saat Jungkook membawa makanan mereka ke meja makan. “Aroma bumbumu ini jauh lebih lezat lagi, padahal ayam kemarin sudah yang terlezat untukku.”

Jungkook mendengus lalu menyugar rambutnya setelah meletakkan lauk mereka di tengah meja; hangat, berempah dan menggugah selera lengkap dengan sambal dan kacang tanah. “Aku ini lulusan sekolah kulinari, berkonsentrasi di Indonesian food dan salah satu finalis Chef of the Year; tentu saja aku bisa membuat yang jauh lebih enak.”

“Cukup, cukup.” Mingyu melambaikan tangan dengan kesal sambil mengambil piring untuk mulai makan. “Kesombongan membuat nafsu makanku lenyap. Kau sebaiknya diam saja.”

Setelah makan ayam taliwang dengan kenyang, menikmati seporsi strawberry shortcake yang buttermilk cookies-nya begitu lembut seperti mentega saat digigit, mereka menyadari bahwa dikelilingi chef yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan mereka, yang memang memilih menjadi chef karena kecintaannya pada dunia kilinari merupakan sebuah anugerah.

“Karena kami bisa makan lezat tanpa keluar uang,” Jimin berbaring di karpet bersama Bubble yang juga baru saja makan. “Perutku begah sekali. Terima kasih atas makanannya, para Chef.”

Jungkook dan Yugyeom sedang di konter, masing-masing memegang sebotol bir dan menikmati waktu istirahat mereka setelah memberi makan teman-temannya dengan sisa tortilla chips buatan Jungkook dalam mangkuk di antara mereka. Taehyung duduk di sebelah Jungkook, dengan botol birnya sendiri yang ditambah satu shot vodka, kesukaannya.

“Kembali kasih, Budak Korporat,” balas Jungkook, melambaikan botol birnya dan Jimin mengerang; terlalu kekenyangan hingga tidak bisa bergerak. Yugyeom tertawa, meneguk birnya dengan khidmat.

“Kau bisa membuka usaha rice bowl dengan ayam taliwang itu dan makanan itu akan laku keras,” komentar Mingyu yang sama kenyangannya di atas sofa, memejamkan mata—mengantuk oleh rasa kenyang.

“Aku sedang membangun restoran oke,” Jungkook terkekeh. “Kalian bisa datang saat soft opening-nya sebagai undangan dan mencicipi semua menunya,” dia lalu teringat sesuatu dan menoleh ke Yugyeom yang menjejalkan segenggam tortilla ke mulutnya.

“Apakah kau punya kontak chef-chef Bali yang mungkin tertarik bergabung denganku?” Lalu melanjutkan bicara mereka dengan membicarakan jumlah orang di kitchen mereka nantinya.

Mereka bersantai di apartemen Jungkook hingga lepas jam 10 malam dan membubarkan diri karena masih harus bekerja keesokan harinya. Jungkook menutup pintu dan menghela napas panjang, merasa agak pening karena terlalu banyak minum, namun tidak ada apa-apanya dengan Taehyung yang menenggak bir seperti air putih karena amis ayam yang dimakannya.

Sudah lama tunangannya meminta izin untuk menjadi vegan tapi entah bagaimana dia belum juga mulai. Namun belakangan ini, makan daging untuk Taehyung terasa begitu menyiksa. Amis, begitu katanya. Bahkan jika Jungkook membuat tortelini atau telur ceplok untuk sarapan mereka, tunangannya akan mengerang tidak suka.

Jungkook kembali ke dalam ruangan, menemukan Taehyung sedang membereskan meja makan. Dan saat dia menoleh dengan piring kotor di tangannya, Jungkook tahu kekasihnya itu mabuk.

“Hei, Sayang,” katanya menatap Taehyung yang wajahnya merah padam dan matanya menatapnya sayu; tatapan mengantuk tidak fokus yang seksi sekali. Jungkook mengulum senyumannya—malam ini akan sangat menyenangkan.

Karena banyak sekali hal 'menarik' yang akan terjadi jika Kim Taehyung sedang mabuk.

*

The Chef #71

Taehyung tersenyum dalam pelukan Jungkook, merasakan bagaimana jemari Jungkook membelai punggung telanjangnya dengan ujung-ujungnya. Petang yang malas setelah mereka bercinta cukup lama dan liar; tubuh Taehyung terasa lengket oleh saliva dan cokelat, dia butuh mandi segera tapi dia masih terlalu nyaman dalam pelukan Jungkook yang terasa kokoh dan hangat hingga dia merasa meleleh seperti cokelat yang di-temper.

“I love you,” bisik Jungkook lalu mengecup kepalanya. “I love you.”

Taehyung tersenyum, menyusup semakin nyaman ke dalam lekukan lengan atas Jungkook. “I love you too,” balasnya tersenyum. Merasa sangat bahagia dan sempurna saat ini.

“I like you more, the world may know but don't be scared, cause I'm falling deeper—Baby, be prepared.”

Jungkook terkekeh serak. “Cheesy,” dia meraih dagu Taehyung dengan telunjuknya lalu mengecup bibirnya dengan lembut; seolah sedang menyicipi kelopak mawar yang dikristalisasi.

Bibirnya yang lembab bergerak lembut di bibir Taehyung, membuatnya mabuk lalu mengangkat wajahnya; mata mereka bertemu dan keduanya mendesah sebelum memeluk satu sama lain dengan begitu erat.

Tidak ada yang perlu mereka katakan karena mereka faham, mereka berkomunikasi tentang bagaimana mereka saling mencintai, bersyukur karena saling memiliki dengan bahasa yang bahkan kata 'cinta' sekali pun takkan sanggup menggambarkannya.

Perasaan nyaman dan damai yang didapatkan mereka dalam pelukan satu sama lain adalah candu yang selalu membuat mereka kembali, tidak peduli sejauh apa pun mereka berusaha menghindar. Hubungan mereka telah melewati banyak naik-turun dan turunan yang tajam berkerikil; semakin berat, semakin Taehyung merasa bahwa dia mungkin bisa mempercayakan hidupnya pada Jungkook.

Lengan kokoh lelaki itu sanggup menahannya dalam kewarasan, ciumannya mampu menarik Taehyung kembali dari kegilaan; seluruh diri Jungkook adalah hal yang dibutuhkan Taehyung.

Dia juga cukup egois untuk mempertahankan Jungkook bagi dirinya sendiri—seperti apa yang dikatakan Yugyeom tempo hari.

“Aku lapar,” keluh Jungkook kemudian. “Kau mau makan cemilan? Aku bahan samosa di kulkas,”

Taehyung terkekeh. “Boleh,” katanya dengan malas. “Omong-omong, apakah sudah ada info dari kepala proyekmu tentang restoran?”

Jungkook mengangguk, menarik dirinya bangkit dari tubuh Taehyung yang terasa lengket seperti magnet. “Sudah, arsitekku memberitahuku bahwa mereka akan mulai bekerja minggu depan. Jadi setiap akhir minggu satu kali sebulan aku akan ke Bali untuk mengecek pengerjaannya,”

“Oke,” sahut Taehyung menggeliat lalu kembali bergelung. “Aku ikut.” katanya, tidak meminta izin sama sekali karena dia akan ikut, tidak peduli apa kata Jungkook.

Dia menyapukan pandangannya pada Taehyung yang bergelung di ranjang seperti bayi lalu meregangkan tubuhnya; membuat otot-ototnya tertarik dengan cara yang indah hingga Jungkook mendesah, merunduk menyapukan ciuman pada perutnya yang lembut.

Taehyung merespon ciuman itu dengan tawa serak, melilitkan jemarinya pada rambut ikal Jungkook.

“Kita mau samosa, ingat?” godanya pada Jungkook yang mengerang lalu mengangkat wajahnya. Memandang Taehyung dengan cinta yang begitu berlimpah hingga perut Taehyung mengejang oleh rasa nikmat.

“Kita punya tuna,” kata Jungkook kemudian, membawa dirinya turun dari ranjang dan meregangkan tubuhnya. Taehyung duduk di ranjang, mengamati tubuh Jungkook yang tinggi dan penuh oleh otot matang yang seksi.

Garis tato ditarik dari lengan atasnya hingga ke ujung pergelangan dan punggung tangannya, otot punggungnya begitu mengagumkan dengan bentuk segitiga yang sempurna, otot perutnya yang keras, pahanya yang kekar; belum lagi tato di bagian kakinya yang menutupi hingga pangkal pahanya....

Taehyung ingin melompat ke punggungnya lalu mengigit ototnya.

“Hei, Seksi,” goda Taehyung bersiul kurang ajar dan Jungkook menoleh.

“Kau memanggil dirimu sendiri?” tanyanya dan Taehyung tersenyum lebar. Dia menuruni ranjang dan memeluk Jungkook dari belakang, menarik ciuman malas di bahunya yang telanjang, merasakan tiap lentur ototnya dengan bibirnya yang sensitif.

“Lihat dirimu,” katanya menatap tubuh mereka di cermin. “Luar biasa. Ares sendiri pasti malu berdiri di hadapanmu,” tangan Taehyung bergerak membelai perut Jungkook yang keras dan chef muda itu terkekeh.

“Kita mau makan, ingat?” godanya dan Taehyung mengerang.

Taehyung mendengus. “Baiklah, baiklah,” lalu menurunkan kedua lengannya dan tertawa ceria saat Jungkook menciumnya dengan suara keras.

Jungkook meraih boksernya, melemparkan celana pendek Taehyung padanya lalu mengikat rambutnya menjadi man-bun menggemaskan sebelum membuka pintu kamar dan berseru 'auch!' keras karena Bubble melompat ke gendongannya.

“Are you hungry??” tanyanya sambil menggaruk telinga Bubble yang mendengking-dengking ceria, menjilati lehernya. “Alright, alright. Let's have some food!”

Taehyung menyusul ke dapur, mengamati saat Jungkook menuang dry food ke mangkuk makanan Bubble sementara anjing mereka menyalak ceria lalu menjilat wajah Jungkook sekali lagi seolah mengucapkan terima kasih dan mulai makan dengan lahap.

“Poor boy,” Taehyung berjongkok di sisinya, membelai kepalanya dengan sayang. “You must be starving waiting for us, yes?” dia tersenyum lebar sementara Jungkook mengenakan apron di atas tubuh atasnya yang telanjang.

“Kau ingin tuna dalam samosa-mu?” tanyanya membuka salah satu pintu ganda kulkas.

“Boleh,” sahut Taehyung membelai Bubble yang sibuk makan dengan suara kraus-kraus yang menenangkan lalu memfotonya dan terkekeh. “Dengan apa samosa-nya disajikan?” tanyanya, menatap dengan tertarik bagaimana apron kumal Jungkook nampak sangat menggoda saat digunakan tanpa pelapis di bawahnya.

“Imli sauce.” Jungkook mengelurkan tuna dari freezer ikan dan mulai mengolahnya. “Bolehkah kau membantuku untuk merebus kentang untuk isiannya?” dia melambaikan seplastik kentang dan Taehyung berdiri.

“Aku mengawasimu di dapur, jadi tidak masalah.” Tmbahnya tersenyum dengan mata sudah fokus dengan bahan-bahan di hadapannya. Dia menyampurkan bahan kering ke dalam mangkuk kesukaannya dan mulai meracik adonan kulit samosa dengan fokus.

Taehyung tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi dia meraih kentang dan membawanya ke tempat cuci. Membilasnya lalu mengupasnya dengan hati-hati menggunakan pengupas, saat dia membawa kentang yang bersih untuk direbus Jungkook sudah menyelesaikan adonannya, menutup mangkuk dengan kain membiarkan adonannya beristirahat lalu meraih kentangnya.

“Trims, Sayang,” dia mengecup pipi Taehyung lalu melakukan semuanya sendiri seperti pusaran tornado yang alih-alih merusak, menghasilkan segitiga-segitiga pastry gendut yang beraroma tajam rempah eksotis India.

Taehyung berakhir duduk di konter dengan Bubble di pangkuannya, dagu Bubble beristirahat di atas konter beberapa meter dari adonan samosa mentah. Tidak punya pekerjaan apa pun saat Jungkook menguasai dapur.

Selalu begitu, tiap kali Jungkook mengajaknya memasak bersama Taehyung akan berakhir tidak melakukan apa pun karena Jungkook terlalu efisien hingga mengerikan. Kemampuannya untuk melakukan multitasking begitu mengangumkan; itulah mengapa dia tidak betah menunduk ke layar laptop mengecek angka-angka excel seperti yang dilakukan Taehyung.

Taehyung terbiasa bekerja fokus pada satu hal; laporan yang bisa menyita seharian untuk dicek dan dirapikan. Taehyung bahkan jarang membalas pesan atau mengangkat teleponnya saat sedang bekerja jika tidak benar-benar terdesak.

Tapi Jungkook berbeda; dia bisa merebus kentang sambil menumis tuna, bisa menguleni adonan sambil mengawasi tumisan bumbu—dia bisa melakukan banyak hal sekaligus. Belum lagi bagaimana dia dengan otomatis meraih lap yang disangkutkannya di karet celananya untuk mengelap konternya setelah bekerja.

Dia kemudian menggoreng samosa sambil menyiapkan saus. Mengawasi minyak panas dengan mata kirinya sementara mata kanannya mengawasi tangannya yang bekerja dengan bahan saus.

“Kau pernah tidak memasak dengan damai?” tanya Taehyung iseng, dan Bubble menyalak sekali seperti sedang bertanya hal yang sama. “Maksudku, mengerjakan A lalu B lalu C, bukan mengerjakan ABC dalam satu waktu?”

Jungkook yang punggungnya menghadap Taehyung, mengendikkan bahu. “Terlalu lambat, aku kesal.” katanya lalu melirik ke balik bahunya dan nyengir. “Kau terlalu lambat untuk bekerja di kitchen,”

Taehyung memutar bola matanya. “Baiklah, Mr Chef,” gerutunya. “Sajikan saja samosa-nya, aku hanya akan diam.”

Jungkook menyeberangi ruang kosong dapur dalam satu langkah dan mendaratkan ciuman di bibir Taehyung yang tersenyum lebar. Bubble menyalak pada mereka, melarang mereka bersikap mesra saat ada dirinya di antara mereka.

“Galak sekali,” Jungkook berkomentar lalu sedetik kemudian sudah meraih spatula dan membalik samosa-nya yang bergoyang di atas minyak panas lalu detik kemudian sudah mengaduk saus yang beraroma asam Jawa.

Semenit kemudian, sepiring samosa sudah disajikan di konter sementara Jungkook membereskan tempat kerjanya dengan gerakan efisien yang cekatan. Taehyung mengamatinya sambil meraih sepotong samosa, membaginya dua lalu mendesah saat aroma tuna dan rempah India menerpa hidungnya.

Dia menyuap sepotong dan mematahkan kulit samosa untuk Bubble yang makan dari tangannya. “Luar biasa,” katanya mendesah. “Tunanganku hanya butuh 50 menit untuk menyiapkan samosa yang lezat.”

Jungkook menyampirkan lap basahnya di pegangan laci bawah konter lalu menyopot apronnya sebelum bergabung di kursi konter. Dia meraih sepotong samosa lalu menyuapnya dalam satu suapan besar dan mengunyah lahap.

“Sempurna,” katanya lalu mendecap, “Tidak terlalu pedas, kan?” tanyanya pada Taehyung yang sibuk memisahkan kulit samosa dengan isinya untuk Bubble.

“Tidak,” Taehyung menggeleng tanpa mendongak dari Bubble yang makan dengan berisik di pangkuannya sehingga dia tidak menyadari ekspresi Jungkook sama sekali. “Rasanya sempurna, seperti semua masakanmu biasanya.”

Jungkook menatap samosa-nya, berpikir sejenak lalu meraih sepotong lagi dan mengigitnya setengah. Kali ini merasakan gigitannya dengan lebih perlahan. Membiarkan seluruh inderanya mengenali rasa isiannya dan mendesah.

“Sempurna,” ulangnya kemudian setuju dengan pasrah, menyuap sisa makanannya.

Mungkin hanya perasaannya saja.

*

The Chef #68

Ini bukan pertama kalinya Jungkook membawa Taehyung ke dapur dan meminta kekasihnya menunggu di kantornya sementara dia berkeliling mengecek preparation dari anak-anaknya.

Tapi hari ini terasa berbeda karena Jungkook bersikap begitu protektif padanya; mengagungkannya seolah Taehyung adalah pangeran atau apa. Dia membukakan pintu mobil untuknya, menggandeng tangannya dengan erat bahkan memperkenalkannya pada seluruh timnya yang sedang melakukan briefing sore.

Walaupun Taehyung sama sekali tidak keberatan.

Ruangan Jungkook tidak besar, hanya terisi satu meja dan satu laptop saja. Ada foto Taehyung dalam balutan jas rapi berlatar biru (foto yang disiapkannya untuk profil daringnya) di sisi laptop dalam bingkai kecil yang selalu dipandanginya ketika lelah dan ada sebuah papan buletin dimana dia menempel banyak catatan, resep-resep baru, hack memasak dalam tulisan Jungkook yang berantakan dan hasil pencapaian anak-anaknya dalam satu bulan dalam grafik KPI.

Dinding bagian baratnya merupakan kaca satu-arah tempat Jungkook mengawasi anak buahnya jika harus berkutat dengan laporan cost kitchen yang sangat dibencinya—dia gemar mengirim laporan itu ke gmail pribadinya dan meminta bantuan Taehyung untuk mengeceknya dengan cepat.

“Jika punya tunangan yang kebetulan chief accountant, harus dimanfaatkan,” begitu katanya dan mendapatkan cubitan di putingnya dari Taehyung karena mengatakan itu.

Di sanalah sekarang Taehyung duduk, di kursi Jungkook yang berderit kurang oli menatap ke luar kaca. Ke arah Jungkook yang sedang berdiri di tengah pusaran anak kitchen. Mereka sedang mempersiapkan menu wedding yang akan dilaksanakan petang ini selepas senja; menunya ada lima, termasuk menu buffet dan dessert-nya.

Tadi Taehyung sudah mengintip ke pastry section dan menemukan demi chef the partie pastry sedang mengomando anak-anaknya untuk membuat ratusan eclairs mini yang nampak menggemaskan dan gendut, ratusan bite-size carrot cake, mini fruit tart dan pelbagai panganan yang membuat Taehyung gemas karena ukurannya begitu mungil.

Namun karena menyadari dirinya adalah penyusup, Taehyung bergegas memasuki kantor Jungkook sebelum terpeleset karena sepatu ketsnya tidak bersahabat dengan lantai dapur atau menabrak seseorang yang sibuk memindahkan tray-tray raksasa terisi makanan ke chiller.

Dia suka mengamati Jungkook bekerja.

Dia tadi pergi ke loker, melapisi kausnya dengan chef jacket-nya lalu mengganti sepatu kets-nya dengan safety shoes yang bersol tebal agar tidak slip atau terkena minyak panas.

Jungkook sedang berdiri di hot kitchen, mengamati chef de partie-nya menyiapkan menu dengan chef hat-nya yang tinggi membungkus rambut gondrongnya yang telah dikuncir rapi lalu dilapisi dengan harnet tipis agar tidak mengontaminasi makanan. Dia nampak luar biasa seksi dengan tengkuk dan kening terpapar di udara, tato yang melapisi lengannya namun wajahnya berkerut seperti penderita wasir.

Apakah para head chef memang selalu berwajah sepat?

Entahlah, Taehyung tidak terlalu peduli dengan head chef lain selain tunangannya.

Jungkook bergerak dengan dinamis, efisien. Seluruh anak buahnya bergerak dengan luas; tidak mengambil tempat lebih dari apa yang mereka butuhkan dan nampak seperti puzzle yang tepat. Mereka bekerja dengan seragam, terkadang bertukar tawa dan guyonan ditingkahi suara api dari hot kitchen atau dentang peralatan memasak mereka. Berteriak-teriak merupakan salah satunya—dengan suara keras namun tidak marah. Begitulah cara penghuni kitchen berkomunikasi; berteriak-teriak untuk mengalahkan suara api dan denting peralatan memasak lainnya.

Sudah berkali-kali Taehyung melihat Jungkook memasak, namun selalu ada sensasi berbeda saat dia menyaksikan kekasihnya dalam balutan seragam chef dan mengenakan topi tinggi putih itu, mengayunkan frying pan di atas api yang mendesis keras di hot kitchen.

Bagaimana saat dia melakukan flambe, dia nampak seperti sosok dewa perang muda yang begitu rupawan. Taehyung tidak suka menggunakan frying pan Jungkook; terlalu berat dan membuat dia faham mengapa para chef harus selalu menjaga kondisi fisiknya dan berolahraga secara teratur.

Sungguh. Frying pan mereka seberat barbel yang biasa Taehyung gunakan untuk berolahraga ringan di apartemen—jika tidak malas, yang berarti jarang sekali.

Dia kemudian memberikan frying pan di tangannya ke salah satu anak buahnya lalu berpindah ke yang lainnya. Mengecek hasil potongan sayur salah satu commis-nya, lalu pergi ke butcher untuk mengecek daging bersama Jackson, ke pastry untuk mengecek dessert-dessert cantik mewah yang dipindahkan ke chiller dalam loyang-loyang raksasa yang berkilauan.

Dia nampak seksi sekali.

Taehyung termangu di mejanya, menatap bagaimana kekasihnya bergerak dengan efisien di dapur didampingi Jackson yang nyaris seperti bulan yang mengorbit di sekitarnya. Selalu siap kapan pun Jungkook menemukan kesalahan kecil dalam persiapannya.

”... F&B dan Banquet bagaimana?” tanyanya kemudian, mendorong pintu ruangannya terbuka dan memasukinya bersama Jackson.

Aroma kedua chef muda itu seperti rempah Indonesia yang menusuk namun segar dan membuat Taehyung hangat oleh rasa lapar.

“Sudah siap, Chef.” sahut Jackson mengecek catatan di sakunya lalu meraih pulpen yang terselip di bagian lengan bajunya. “Peralatan kateringnya sudah disiapkan anak Banquet, itu sudah jadi urusan F&B. Piring, sendok dan gelas sudah diangkut naik Steward untuk dipoles selepas jam makan siang tadi. Makanan akan keluar pukul 5 sore dan dihangatkan sebelum jamuan makan dimulai pukul 6 sore.”

Jungkook mengangguk. “Tolong dicek rasa dan kondisinya sebelum keluar, Jack, khususnya eclairs mini-nya karena pastry cream-nya sensitif dan tolong sebelum naik didiamkan di suhu ruangan beberapa saat dulu agar tidak 'berkeringat' di permukaan cokelatnya. Bapak GM tidak suka itu.” Katanya lalu melirik jam tangannya.

“Vanilla croquembouche tower-nya juga tolong dijaga agar tidak rusak; sampaikan ke pastry. Wedding kemarin belum berlangsung setengah acara tapi rasa makanannya sudah tidak karuan,” Jungkook mendesah. “Aku ingin bertemu dengan FBM dulu sebentar setelah ini,”

“Noted, Chef.” Jackson mengangguk, mencegah Jungkook pergi. “Dan aku juga sudah bertemu beliau tadi karena beliau turun ke Kitchen sebelum mengurus FB dan sudah membicarakan semuanya karena kebetulan tadi Chef belum datang. Sekarang beliau sedang menemani mempelai di kamar berhias.”

Jungkook mangut-mangut. “Baiklah, jika memang begitu.” dia melepas topinya lalu menoleh, menemukan Taehyung mengamati mereka berdua seperti seekor kucing di dalam kardus. Jungkook tertawa serak, “Kau bosan?” tanyanya.

“Tidak,” sahut Taehyung seketika. “Seperti menonton Hell's Kitchen dalam VR,”

Jackson tertawa. “Jika kau ingin menonton yang mirip, kau harus ada di sini saat wedding berjalan dan tunanganmu in charge, dia persis seperti Gordon.” katanya dan Jungkook tertawa serak.

“Dia jarang tertawa,” Jackson menambahkan dengan sedikit nada takjub dan menggoda dalam suaranya. “Kehadiranmu pastilah sangat istimewa.”

“Lebih dari sekadar istimewa,” Jungkook menatap langsung ke Taehyung yang tersenyum. “Aku akan menyicipi sampel makanan dulu lalu kita akan pulang, oke?” katanya, menghampiri Taehyung dalam tiga langkah besar lalu mengecup puncak kepalanya sebelum kembali mengenakan topinya dan beranjak.

“Bolehkah aku ke pastry? Aku ingin menonton mereka membuat churros-churros mini itu,” tanya Taehyung dan Jungkook berhenti sejenak dan menatapnya.

Dia berpikir sejenak. “Jangan menganggu, oke? Berdirilah di pojokan. Kau tidak mengenakan safety shoes. Jangan dekat-dekat oven. Pergi saja ke chocolate room, di sana lebih aman dan menyenangkan, ada pastry chef-ku. Jangan lupa cuci tangan sebelum masuk dan jangan sentuh apa pun,”

“Bawel,” kata Taehyung pada punggung Jungkook yang beranjak keluar dan Jackson tertawa tanpa suara.

Jackson melambai kecil padanya yang langsung dibalas Taehyung dengan ceria sebelum bergegas mengekor Jungkook kembali ke kitchen. Mereka langsung meluncur ke hot kitchen, berdiskusi di sebelah kompor yang menyala tanpa sedikit pun terganggu lalu commis-nya menyerahkan sepiring makanan untuk Jungkook yang langsung disendoknya dengan sigap.

Taehyung keluar dari kantor, menatap kekasihnya dan tersenyum saat seorang daily worker melewatinya dengan senampan cheese stick hangat yang beraroma tajam keju yang membuat Taehyung mendesah.

Dia menoleh saat Jungkook menyuap makanannya sedikit lalu merasakannya dengan saksama. “Asin,” katanya dengan alis berkerut dan bagaimana komentar itu membuat commis-nya panik dan meraih sendok.

Jackson melakukan hal yang sama dan mereka berdua menyicipi makanan itu berbarengan. “Ini oke, Chef,” kata Jackson mendecap makanannya tanpa suara.

Jungkook mengerutkan alis. Dia menyendok lagi makanan itu dan menyicipinya namun Taehyung tidak mendengar komentarnya karena dia akhirnya memasuki pastry section yang terasa seperti negeri dongeng.

Aroma vanila dan mentega leleh menggantung rendah di udara. Aroma legit stroberi, jeruk mandarin dan buah-buahan lain juga terasa pekat. Belum lagi aroma berloyang-loyang kulit pastry yang matang merekah dikeluarkan dari oven-oven raksasa di sudut ruangan.

Tempat itu terasa lebih damai dan tenang daripada hot kitchen yang panas dan terburu-buru. Lebih dingin dan terang. Anak-anak pastry nampak sangat cantik dan luwes saat bekerja. Mereka menunduk di atas adonan-adonan dan mendongak saat Taehyung memasuki ruangan. Mereka mengangguk dan tersenyum pada Taehyung.

“Kalian sedang membuat apa?” tanyanya, melongok dari balik tubuh demi chef the partie-nya yang tertawa kecil dari balik maskernya.

“Churros,” sahut perempuan itu menatapnya. “Anda suka churros?”

Taehyung mengangguk, mengamati bagaimana dia menguleni adonan dengan lihai. “Dengan apa benda itu disajikan?” tanyanya.

“Setengah dengan cokelat dan setengahnya lagi dengan cinnamon powder,” sahutnya melambai ke arah mangkuk terisi bubuk cinnamon yang berkilauan. “Pergi saja ke chocolate room, mereka sedang men-temper cokelat untuk dibuat cemilan. CDP-nya sedang di sana,”

Taehyung mengangguk lalu melangkah perlahan agar tidak menyentuh atau merusak apa pun dan membuka pintu ke arah chocolate room yang beraroma pekat kokoa dan susu. Dia bertemu mata dengan CDP Jungkook.

Siapa tadi namanya?

Ah, ya. Seokjin.

“Halo,” sapa pemuda itu dengan ramah dengan alat di tangannya. Dia sedang berdiri di tengah ruangan, berhadapan dengan konter dengan sebaskom cokelat yang beraroma manis memabukkan. “Kau ingin melihat caraku men-temper cokelat?”

Taehyung tersenyum. Senang sekali dengan penyambutan itu dan bagaiman dia bersikap santai pada Taehyung. “Apa itu temper?” tanyanya.

Seokjin menatap cokelat di bawah tangannya yang memegang Spackle knife dan offset spatula dan tersenyum. “Melelehkan coklat secara tepat pada suhu yang diperlukan oleh lemak coklat untuk membentuk kristalisasi atau pembekuan yang sempurna, agar hasilnya mengkilap dan kering.

“Dan cokelat terasa nikmat dan lembut, dapat dipatahkan dengan mudah dan meleleh di lidah dengan sempurna. Jika tidak di-temper, cokelat akan nampak kusam dengan banyak serpih-serpihan putih di permukaannya. Tidak cantik.

“Jika kau mau tahu bedanya, belilah cokelat dari atelier cokelat dan cokelat kemasan di pasaran. Biarkan keduanya di suhu ruangan. Permukaan cokelat kemasan produksi massal akan dipenuhi bintik-bintik putih, namun cokelat yang sudah di-temper akan tetap mulus.”

Taehyung mengamati bagaimana tangan Seokjin yang kurus dan lentik bergerak dengan begitu akrab dengan cairan cokelat di tangannya. Menghamparkannya di atas konter dengan offset spatula-nya, lalu menggunakan Spackle knife-nya untuk membawa adonan itu ke tengah konter lalu kembali menyebarkannya.

“Aku sedang mendinginkan suhu baru lelehnya di 122 derajat Fahrenheit ke suhu 80 derajat Fahrenheit,” kata Seokjin sambil bekerja. “Lalu akan dipanaskan lagi hingga suhu 82 derajat untuk mendapatkan hasil yang sempurna.”

Aroma kokoa hangat membuat Taehyung mengantuk. Dia mengamati tangan Seokjin yang bekerja dengan cekatan, mendinginkan cokelat di atas konter. Mereka bersidiam; Seokjin fokus dengan cokelatnya dan Taehyung fokus menontonnya. Mengamati gerakannya yang seperti pelukis, menghamparkan warna di atas kanvas.

“Sudah berapa lama kau bertunangan dengan Chef?” tanyanya ditingkai suara spatula yang beradu.

“Setahun lebih,” sahut Taehyung sopan dan Seokjin tersenyum.

“Dia bersikap baik padamu?”

Taehyung tertawa. “Sepanjang waktu,”

Seokjin menatapnya. “Syukurlah,” katanya. “Kapan-kapan kita bisa makan bersama jika kau mau? Aku tahu toko cokelat enak di Jakarta,” dia kemudian menambahkan saat melihat ekspersi Taehyung dengan geli. “Tentu saja kau harus mengajak Chef, tunanganku, Namjoon akan sangat senang mendapatkan double date.”

Taehyung menghembuskan napas lega dan tersenyum. “Tentu,” katanya ceria lalu sebelum mereka sempat kembali bicara karena Seokjin sibuk mengembalikan cokelat ke mangkuk besar untuk dicek suhunya, Jungkook melongok ke dalam chocolate room.

“Sudah kuduga kau di sini,” katanya. “Kudengar Seokjin sedang men-temper cokelat, kurasa itu akan jadi sebuah tontonan mengedukasi untukmu.”

Taehyung tersenyum. “Yap,” sahutnya. “Dan aku juga mendapat ajakan double date,”

Jungkook mendengus. “Kau akhirnya menancapkan kukumu pada tunanganku, ya, Kak?” katanya dan Seokjin terkekeh.

“Tidak bisa tidak.” Dia mengendikkan bahu. “Maafkan aku, Sayang.” Dia tersenyum dan nampak sangat indah saat melakukannya.

“Dia orang lama,” kata Jungkook saat mereka keluar dari pintu karyawan ke arah basement parkir saat Taehyung bertanya tentang Seokjin.

“Dia sudah bekerja di sana sebagai pastry chef saat aku masuk ke The Ritz pertama kali sebagai second sous chef dan dia menyaksikan perjuangan karirku meningkat. Jadi kami semacam sahabat, dia sangat mendukung perjuangan karirku hingga tiba di posisi head chef.” Jungkook mengusap buku jemari Taehyung dengan jempolnya.

“Dia nampak hebat dengan pekerjaannya,” puji Taehyung tulus lalu mendesah penuh damba; mengingat aroma pastry section yang luar biasa tadi, “Aku berharap bisa mampir ke kitchen setiap hari; menontonmu marah-marah dalam balutan seragam chef itu, sungguh.”

Jungkook meraih pinggulnya dan meremas pantatnya dengan intim. “Bagaimana jika malam ini aku mengenakan seragamku untuk bercinta, kau suka itu?” bisiknya merunduk mengecup telinga Taehyung.

“Hmmm....,” balas Taehyung dengan mata berkilat. Membayangkan bagaimana panasnya jika chef itu mengerang di bawahnya saat Taehyung menunjukkan kehebatan pinggulnya di atasnya, “Bolehkah kau tetap mengenakannya selama kita bercinta?”

“Apa saja untukmu,” balas Jungkook kemudian membimbing kekasihnya ke pintu penumpang, membukakan pintunya untuk Taehyung yang tertawa terhibur.

Sebelum masuk, dia berbalik menghadap Jungkook yang berdiri mengungkungnya dengan satu lengan di letakkan di atas kap mobil dan satu lengannya di pintu yang terbuka, merangkulkan lengannya di leher Jungkook untuk menciumnya.

Di sana, di parkiran karyawan.

*

The Chef #64

“Welcome home.”

Jungkook membiarkan pintu terbuka dan mempersilakan Taehyung memasuki ruangan. Tunangannya tersenyum, meletakkan tasnya di lantai dan mendesah. Menghirup aroma Jungkook yang menempel di setiap sudut ruangan dan betapa familiarnya aroma after-shave pemuda itu bagi seluruh indera Taehyung; menakjubkan.

Jungkook berdiri di sisinya, beraroma keringat karena dia langsung meluncur ke apartemen Jimin setelah selesai berolahraga tanpa mandi terlebih dahulu karena begitu bersemangat akan bertemu Taehyung lagi dan membuat mobilnya beraroma tajam seperti keringatnya.

Dan Taehyung tidak keberatan sama sekali.

“Aku mandi dulu, oke?” kata Jungkook, mengulurkan tangan akan meraih dan mencium pelipisnya sebelum kemudian dengan kikuk membiarkan tangannya jatuh terkulai di kedua sisi tubuhnya; gerakan yang nyaris tidak disadarinya sama sekali.

“Oke,” ulangnya lalu beranjak ke kamar mandi sementara Taehyung menatapnya, tersenyum.

Dia sangat merindukan Taehyung rasanya seperti akan meledak oleh emosinya sendiri. Bagaimana selama ini dia hidup bersamanya terasa begitu mudah, semudah bernapas. Namun apakah lelaki itu siap untuk menerimanya kembali?

Berdiri sedekat itu dengan Taehyung tanpa diperbolehkan untuk menyentuhnya akan menjadi hukuman penyiksaan hingga mati yang tepat bagi Jungkook.

Jungkook membiarkan air mengguyur tubuhnya yang rileks setelah berolahraga rutin. Dia menyabuni seluruh tubuhnya seraya membiarkan otaknya rileks dengan gerakan mandinya yang sederhana. Beberapa bagian ototnya terasa nyeri oleh gerakan yang dilakukannya terlalu berlebihan hari ini. Besok akan memar tapi dia tidak masalah.

Dia menjangkau seluruh bagian tubuhnya, mencoba menenangkan setiap saraf dan otot yang tegang. Setelah mandi, dia menyugar rambut gondrongnya yang basah dan menyikat giginya, mengeringkan rambut dengan handuk lalu keluar.

Di ranjang ada Taehyung, duduk di pinggir kasur sedang memilah bajunya untuk dirapikan kembali ke lemari mereka.

Dan entah mengapa, Jungkook merasa kikuk. Dia berdeham, memegang handuknya dengan lebih erat lalu beranjak ke lemari mereka. Taehyung menatapnya, tanpa ekspresi sama sekali hingga Jungkook merasa jengah.

Jadi dia bergegas meraih pakaian dalam dan baju ganti lalu beranjak ke kamar mandi lagi.

“Tumben,” kata Taehyung dan membuat Jungkook berhenti di tengah jalan dan menoleh, rambut gondrongnya yang membentuk tirai ikal di kedua sisi wajahnya bergerak merespon gerakan kepalanya.

“Maksudnya?” tanya Jungkook; untuk pertama kalinya setelah bersama selama beberapa tahun, malu berhadapan dengan Taehyung dalam keadaan setengah telanjang dengan handuk menutupi bagian pinggang ke bawah.

“Kau ganti baju di kamar mandi,” sahut Taehyung dengan senyuman kecil bermain di bibirnya. “Biasanya kau keluar dari sana telanjang saja dan tidak pernah merasa malu,”

Jungkook merona; kenapa dia begitu menyedihkan?? “Itu, 'kan, saat kita...” dia menggaruk pelipisnya, bingung. Apakah mereka sekarang bertunangan?

Dia melirik tangan Taehyung, cincinnya masih melingkar di jemarinya. Nampak berkilau oleh cahaya matahari dan agung pada jemari Taehyung yang kurus dan panjang. Dia sendiri yang memilih cincin itu; membayangkan bagaimana cincin itu akan semakin menonjolkan bentuk jemari Taehyung yang indah.

Dan benar. Pilihannya memang tidak pernah salah.

Yah. Pernah, sekali. Dan dia tidak berencana untuk mengulanginya lagi.

“Memangnya sekarang kita tidak bertunangan?” balas Taehyung dengan sepotong baju di pangkuannya, menatap matanya lalu menyapukan tatapan ke seluruh tubuh Jungkook yang terbuka dan membuat Jungkook merinding.

Dia sungguh sangat merindukan Taehyung dia bisa saja meraup tunangannya itu dalam pelukannya dan bercinta dengannya hingga pagi tapi tidak, mereka harus bicara.

“Kita sedang.... bertengkar?” cobanya dan Taehyung terkekeh.

“Ganti baju saja di sini,” kata Taehyung lembut, tersenyum. “Ini kan apartemenmu,”

“Kita,” koreksinya seketika dan Taehyung tersenyum.

Akhirnya Jungkook mengganti bajunya di sana dengan kikuk membelakangi Taehyung sementara pemuda itu melipat pakaiannya di ranjang. Menyimpannya kembali di sisi lemarinya dan membuat jantung Jungkook melonjak hingga menonjok tenggorokannya; dia tidak akan pergi lagi, kan?

Mereka berbaikan, kan?

“Hei,”

Jungkook mendongak dari kesibukannya berusaha melepaskan sisir yang tersangkut di rambutnya. “Apa?” tanyanya dengan tangan di depan wajahnya, sisir yang menyangkut di rambutnya dan ekspresi bodoh yang membuat Taehyung terkekeh.

“Sini,” katanya menghampiri Jungkook, meraih sisir Jungkook dan dengan lembut mengurai rambut Jungkook yang tersangkut di geligi sisir.

Taehyung hanya pergi selama dua hari, namun ketidakhadirannya benar-benar berpengaruh besar pada hidup Jungkook. Dia benci terbangun dengan keadaan kosong dan sendirian, dengan sisi ranjang yang dingin. Membuatnya teringat masa-masa kelam saat dia mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya hanya agar tidak memikirkan apa pun.

Dia takut, dia benci sendirian.

Tapi dia teringat apa yang dikatakan Mingyu saat mereka bertemu kemarin sementara Taehyung menyisir rambutnya dengan gerakan selembut penari.

“Kau tidak bisa terus-terusa menggantungkan hidup dan emosimu pada Taehyung. Kau tidak bisa menumpukan harapanmu pada manusia; mereka berubah, mereka dinamis. Kau tidak bisa terus berharap Taehyung akan selamanya ada di sisimu.

“Dia bisa saja berubah pikiran,” Mingyu menatapnya. “Aku tidak bermaksud mengancammu lagi, tapi kumohon. Kau harus meminta pertolongan profesional, kau harus melangkah dari kenangan lalu itu dan menjadi bahagia dengan dirimu sendiri sehingga saat bersama Taehyung; kalian akan membagi kebahagiaan kalian masing-masing bersama alih-alih mencoba saling membahagiakan.

“Karena bahagia itu pilihan, Jungkook. Jika kau tidak memilih untuk jadi bahagia, maka apa pun yang Taehyung lakukan untuk membuatmu bahagia tidak akan pernah membuatmu bahagia.

“Maka berbahagialah dengan dirimu sendiri sehingga kalian bisa berbahagia bersama.”

“By,” panggilnya saat Taehyung masih menyisir rambutnya.

“Hm?” sahut Taehyung lalu menghela napas. “Sudah,” dia meletakkan sisir di meja lalu menatap Jungkook melalui cermin. “Kau ingin makan sesuatu?”

Jungkook balas menatapnya. “Aku yang masak,” katanya dan Taehyung mengangguk.

“Tadi kenapa?” tanya Taehyung.

“Aku...” katanya lamat-lamat, “Apakah menurutmu aku harus bertemu profesional?”

Taehyung menatapnya lalu mendesah, mengulurkan tangan dan memeluk leher Jungkook. Membungkuk hingga kepalanya bersandar di leher Jungkook lalu mengecup lehernya lembut. “Tergantung,” katanya masih menatap Jungkook dari cermin. “Bagaimana perasaanmu tentang kejadian itu,”

“Apakah kau masih merasa bahwa itu adalah salahmu?” tanya Taehyung kemudian.

Jungkook menggeleng. “Setelah berbicara dengan Mingyu dan saling memaafkan, hatiku terasa lebih ringan.” Dia kemudian menatap Taehyung. “Aku sungguh minta maaf karena telah membohongimu. Aku tidak punya pembelaan diri apa pun untukmu karena aku memang secara sadar membohongimu.

“Memang berencana membohongimu.”

Jungkook diam, menatap Taehyung yang masih bersandar di bahunya dengan tenang. Dia menyentuh tangan Taehyung di tulang belikatnya lalu meraihnya, mengecupnya dalam.

“Saat aku bertemu denganmu, aku tidak menyangka aku akan merasakan hal yang sangat berbeda bahkan dari apa yang kurasakan dengan tunanganku di masa lalu dan Mingyu.

“Dengan mantan tunanganku, semuanya terasa meledak-ledak, semua adrenaline rush yang memusingkan. Hubungan kami naik-turun dengan ekstrim. Tapi kami bahagia, memiliki satu sama lain dengan keposesifan anak muda.

“Sementara dengan Mingyu, itu adalah duka. Kami saling melukai, kami saling menghisap kehidupan masing-masing untuk bertahan. Mungkin seperti kata mereka, 'licking each other wounds' tapi menurut Mingyu itu sama sekali tidak berhasil.

“Kami selalu lelah menghadapi satu sama lain. Menghadapi duka yang sama bersama terkadang tidak membuat duka itu terasa lebih ringan; malah semakin berat karena tidak ada satu orang yang cukup rasional untuk menyadarkan ketika kami tenggelam.

“Tidak ada yang menarik kami keluar dari sumur jika kami sama-sama tenggelam di sana; kami hanya akan saling membunuh.”

“Setuju,” bisik Taehyung lembut lalu menegakkan tubuh. Lalu mengial pada Jungkook untuk beranjak ke ranjang mereka, Taehyung membaringkan tubuhnya dan Jungkook dengan otomatis—nyaris diluar kendalinya sendiri, meraih Taehyung hingga pemuda itu bergelung seperti seekor kucing di pelukannya.

“Tapi denganmu,” bisik Jungkook kemudian setelah mereka nyaman dalam pelukan masing-masing lalu mendesah. “Demi Tuhan, bersamamu semuanya begitu berbeda,” dia merunduk, mencium puncak kepala Taehyung dalam-dalam, menghirup aromanya dan memenjarakan aroma itu di kepalanya.

Dia sangat merindukan Taehyung hingga seluruh ototnya nyeri, seluruh organnya ngilu.

“Bersamamu semuanya terasa baru. Ledakan adrenalin itu, rasa nyaman, rasa percaya, masa depan terasa membentang dan aku sama sekali tidak takut menghadapi apa pun. Kau membuatku kuat, kau membuatku luar biasa.

“Kau lelaki luar biasa; paling menakjubkan, paling kuat, paling mandiri dan paling galak yang pernah kutemui. Kau membuatku nyaman dengan diriku sendiri, membuatku bahagia hanya dengan bernapas; membuat hidup ini terasa lebih baik—jauh lebih baik.

“Maka aku takut,” dia berbisik lirih, gemetar dan mengeratkan pelukannya pada Taehyung yang membelai lengannya dengan ujung jemarinya. “Aku takut kau akan meninggalkanku maka aku... membohongimu. Aku cukup egois untuk melakukan apa saja demi memilikimu untuk diriku sendiri.

“Aku bajingan besar kepala dan egois yang tidak pernah merasakan kegagalan sama sekali dalam hidupku kecuali hari itu. Maka aku benar-benar tidak mau kehilanganmu, tidak sudi melihatmu memilih orang lain.

“Tidak sudi,” ulangnya, membiarkan kalimat itu menggantung di udara sebelum melanjutkan. “Maka aku menipumu. Menarikmu ke dalam jebakanku dengan iming-iming, mempermainkan rasa percaya dan empatimu agar kau terjebak selamanya dalam pelukanku; seperti venus filtrap,”

“Bukan,” Taehyung terkekeh serak. “Kau ini semacam macan tutul eksotis dan aku nampaknya dengan senang hati melangkah ke sarangmu untuk dikunyah habis.” Jemarinya membelai permukaan perut Jungkook yang keras oleh ototnya yang terlatih.

“Jika aku tidak berhasil menahanmu sekarang, maka aku tidak yakin lagi pada apa yang harus kulakukan dengan hidupku...” bisik Jungkook, memeluk Taehyung semakin erat hingga Taehyung tercekik geli.

“Tentu saja ada banyak hal yang bisa kaulakukan dengan hidupmu; restoranmu? Karirmu? Kau bisa jadi apa saja yang kauinginkan dengan kekeraskepalaanmu, egoismemu.... Kau hanya terlalu menggantungkan emosimu padaku,” Taehyung membelai wajahnya lembut.

“Jangan pikir aku tidak marah,” kata Taehyung kemudian. “Aku marah sekali, aku jengkel. Terluka dan merasa dikhianati. Tapi,” dia bergegas menambahkan saat Jungkook membuka mulut untuk bicara menukasnya. “Kata-kata Yugyeom tempo hari membuatku berpikir. Bahwa kau mungkin memang layak untuk diberikan kesempatan kedua.

“Dan kau menyadari kesalahanmu. Kau menyesal atas itu. Dan menurutku, itu sudah cukup...” Taehyung menatapnya. “Dan... mungkin, butuh waktu untukku hingga benar-benar percaya lagi padamu, kuharap kau mengerti itu?”

Jungkook mentapnya, terpana. “Maksudmu...?” bisiknya pecah dan Taehyung bisa merasakan tubuhnya yang besar gemetar oleh semangat.

Taehyung tersenyum. “Aku memaafkanmu kali ini,” katanya. “Tapi kukatakan padamu sekarang, bahwa aku tidak memaafkan orang dengan kesalahan yang sama dua kali, oke? Kuharap kau benar-benar memahami bahwa kesempatanmu ini sangat langka.

“Semua karena aku sangat mencintaimu hingga hatiku pedih berjauhan denganmu, bahkan dalam pelukanmu pun aku merasa begitu merindukanmu,” Taehyung menyusupkan tubuhnya lebih dekat lagi dengan Jungkook seakan hal itu mungkin untuk dilakukan.

“Tolong jangan menyakitiku lagi dengan cara itu, ya?” dia menatap Jungkook yang masih terpana. “Dan kurasa besok kita bisa cari konselor yang cocok untukmu dan mulai sesinya? Kita tentukan setelah satu sesi apakah hal itu nyaman untukmu, ya?”

“Kau memafkanku?”

“Kurasa aku baru saja mengatakannya, ya. Aku memaafkanmu.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

Jungkook menatapnya. “Tidak akan meninggalkanku sendirian lagi?”

“Tidak,” Taehyung menatap Jungkook yang sekarang nampak seperti bayi berusia tiga tahun yang baru saja dijanjikan permen jika dia bersikap baik.

Bagaimana lelaki setinggi seratus tujuh puluh lebih dengan otot dewasa yang sempurna, tato disekujur tubuhnya dan aura mendominasi yang melelehkan siapa saja bisa bersikap semanis, semenggemaskan dan selucu ini.

Taehyung merasa seluruh tubuhnya mekar oleh perasaan cinta.

Kemdian Jungkook kemudian meledak dalam tangis yang mengangetkan hingga Taehyung terkesirap. Dia memeluk Taehyung, membenamkan wajahnya pada dada Taehyung dan terisak-isak. Memeluk pemuda itu dengan kedua lengannya, melingkarkannya di pinggang langsing Taehyung dan tidak sudi melepaskannya kembali.

“Sayangku,” bisik Taehyung lembut di kepalanya. “Sayangku, Jungkook-ku.... Aku di sini, oke? Maaf aku meninggalkanmu kemarin...”

“Percayalah padaku bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu lagi,” bisik Jungkook terisak, terbenam di dada Taehyung dan pemuda itu terkekeh. “Aku sangat mencintaimu sungguh; dengan setiap tarikan napas dan detak jantungku.”

“Aku juga mencintaimu,” balas Taehyung dan merasa lega oleh kalimat itu; merasa seperti beban langit baru saja diangkat dari bahunya yang terbakar oleh rasa nyeri. “Aku juga mencintaimu. Dan... aku belum bisa percaya sepenuhnya padamu, tapi aku cukup mencintaimu untuk kembali belajar bersamamu.”

Maka saat Jungkook kemudian menarik dirinya, wajahnya memerah dan sembab oleh air mata, Taehyung membiarkan dirinya meleleh dalam sentuhan Jungkook dan menangkup wajahnya lalu menciumnya.

Seolah mereka belum pernah berciuman sebelumnya.

Tangan Jungkook terasa begitu asing dan baru di tubuh Taehyung saat meluncur turun dari bahunya, mengikuti lekuknya dengan mulus hingga berhenti di pinggulnya sementara bibirnya sibuk menyecap rasa Taehyung hingga pemuda itu merasa pening dan kepalanya terlepas dari lehernya.

Seperti hari itu saat dia merasakan caffeine hangover untuk pertama kalinya, namun ciuman Jungkook terasa jauh lebih memabukkan dari kafein dan Taehyung merengek saat Jungkook menarik wajahnya; tangannya yang buta meraih tengkuk Jungkook dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Jungkook.

Dia ingin lagi, dan lagi.

Terus hingga seluruh tubuhnya tidak sanggup lagi menangguhkan cintanya pada Jungkook.

Dia gemetar, merasa bingung dan tersesat dalam ciuman pertama mereka yang begitu mendebarkan. Jungkook menatapnya, matanya yang sayu dan nampak mengantuk membuat Taehyung kembali meleleh; dia meraih pemuda itu kembali dan menciumnya.

“Aku sangat merindukanmu,” bisiknya saat mereka berhenti berciuman dan membiarkan bibir Jungkook menggelincir turun dari bibirnya ke lehernya yang terbuka; melukiskan jejak api yang membuat seluruh tubuh Taehyung berdenyar nikmat.

“Tidak ada yang merindukanmu sehebat aku melakukannya,” bisik Jungkook teredam di kulit Taehyung yang selembut cream cheese; memabukkan dan seperti candu. Dia terus menciumi setiap permukaan kulit Taehyung yang terpapar seperti orang yang tidak pernah makan.

Dia tidak bisa berhenti.

“Maka jangan berhenti,” bisik Taehyung, terengah mabuk oleh gairah dan kerinduan. “Jangan berhenti menciumku,” katanya, menyusupkan jemarinya ke rambut Jungkook dan menjambaknya. “Jangan berhenti menciumku; tolong...” mohonnya.

“Kau bajingan besar kepala dan egois yang kebetulan seksi,” Taehyung meraihnya dan membelai seluruh kulitnya yang terbuka hingga Jungkook menggeram—seperti seekor macan tutul eksotis yang membuat seluruh saraf Taehyung menegang oleh gairah. “Jika kau bersikap tidak sopan lagi padaku, pada perasaanku dan pada cintaku; aku akan membunuhmu.

“Kita sepakat?”

Jungkook menatapnya, menyodokkan lidahnya ke bagian dalam pipinya dan tersenyum separo. Nampak sungguh serupa bajingan congkak sebagaimana dia sesungguhnya. “Sepakat,” katanya serak dengan bibir menempel di sudut bibir Taehyung.

“Sekarang, bisakah aku bercinta denganmu? Kumohon?” bisiknya masih di bibir Taehyung dengan nada yang gemetar oleh keinginan hingga Taehyung merasa dia bisa saja orgasme hanya dengan nada dan suara Jungkook.

“Menjijikkan,” balas Taehyung memejamkan mata saat bibir Jungkook mencium jakunnya yang berdeguk oleh gairah. “Apakah kepalamu isinya hanya bercinta?”

“Sayangku,” bisik Jungkook, menjilat lehernya dengan lidahnya yang panas. “Jika itu tentangmu, aku hanya akan selalu memikirkan bagaimana indahnya kau saat mengerang di bawahku dalam sebelas detik orgasmemu....”

Maka Taehyung menyerah, membiarkan Jungkook membimbingnya menuju sebelas detik orgasme yang membuatnya pening.

*

The Chef #55

Yugyeom menatap Taehyung diam, terpana dan syok setelah mendengar cerita lengkap tentang kejadian itu. Dia tidak habis pikir sama sekali; mendesah panjang dia mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya di kursi; kepalanya di sandarkan di bagian atas sandaran punggung.

“Wow,” bisiknya dan Taehyung setuju.

'Wow' telah menggambarkan keseluruhan emosi mereka dengan sangat sempurna hingga terasa mengerikan.

“Sebanyak apa yang kautahu dari cerita ini?” tanya Taehyung kemudian sementara Yugyeom masih berusaha mengumpulkan akal sehatnya yang berceceran setelah mendengar cerita Taehyung.

Ini kopi Taehyung di gelas kedua dan dia mulai merasa seluruh tubuhnya bereaksi tidak enak pada kadar kafein yang mengisi darahnya dan stres; kepalanya pening, ulu hatinya nyeri dan dia ingin muntah. Tapi dia bertahan. Dia tidak bisa menatap makanan sekarang, dia benar-benar bisa muntah.

Mungkin dia seharusnya makan bubur yang dibelikan Jimin tadi? Tapi aromanya membuat Taehyung mual, apalagi bentuknya yang encer dan... sungguh, Taehyung tidak ingin memasukkan benda itu ke tubuhnya sama sekali.

“Aku hanya tahu bahwa gadis ini meninggal dan Mingyu bersikap bajingan,” kata Yugyeom kemudian, masih nampak tidak habis pikir. “Aku tidak tahu masalah Jungkook dan Mingyu sempat bersama dengan cara seperti itu dan bahwa Mingyu adalah sahabat gadis ini. Aku tahu Mingyu adalah sahabat Jungkook saat itu, kecewa berat padanya. Mengatainya dengan banyak hal lalu pergi dan tidak pernah kembali lagi.”

“Lalu bagaimana kau mengenal Mingyu?” tanya Taehyung kemudian, “Karena tadi kau langsung nampak tidak menyukainya bahkan sebelum mendengar ceritanya dengan lengkap,”

“Kami sempat berkenalan,” kata Yugyeom dengan alis berkerut. “Tidak terlalu jelas, hanya saja aku ingat dia mengontakku saat aku masih menempuh pendidikan di STP Nusa Dua dan dia memperkenalkan diri sebagai sahabat Jungkook: 'I'm Jungkook's second best man', begitu katanya.

“Lalu aku mulai sibuk training dan kami hilang kontak. Lagi. Aku tidak dengar banyak dari Jungkook dan Mingyu di masa-masa ini. Aku terlalu lelah saat kembali ke kosan dan langsung tidur; tidak punya kehidupan. Kau tahu bagaimana orang-orang menyebut pekerjaan chef sebagai pekerjaan orang kesepian?

“Karena kami sangat sibuk hingga tidak sempat mengabari keluarga, tidak sempat membina hubungan. Jika mereka pikir menjadi chef adalah sebuah hal yang gemilang, mereka hanya melihat bagaimana kami tersenyum di layar kaca sebagai chef artis; mereka tidak melihat babak-belurnya kami berusaha mengejar karir.”

Yugyeom menghela napas dan memijat kepalanya, Taehyung menatapnya. Lebih karena kafein dan stres mulai merajalela di tubuhnya dan dia mulai tidak bisa memfokuskan isi kepalanya yang berdenging.

“Akhirnya aku kembali ke Jakarta,” lanjut Yugyeom. “Dan bergabung ke sekolah pastry menjadi salah satu pengajar lepas mereka dan aku bertemu Jungkook lagi di sana; nampak seperti zombie dan benar-benar menyedihkan. Saat itu dia hanya memberitahuku bahwa Mingyu itu kekasihnya dan mereka putus karena 150 pax itu, jika kau ingat.”

“Jadi, dia membohongimu dua kali? Tiga kali hingga saat ini,” tanya Taehyung, mulai merasakan nyeri lain menyeruak di dadanya; di bagian belakang jantungnya yang berdenyut. Membuat setiap tarikan napasnya terasa panas.

“Ya, begitulah,” Yugyeom tersenyum, nampak lelah namun sama sekali tidak marah mendengar bahwa sahabatnya telah membohonginya. “Tapi aku tahu Jungkook, aku tahu apa yang dialaminya dan selama kebohongannya tidak berkaitan tentangku atau hubungan kami, kurasa dia layak mendapatkan kesempatan kedua.

“Dia berbohong mungkin karena dia memang sangat tidak siap menceritakan kisah itu. Kau ingat saat malam itu kau menguncinya di luar apartemen?”

Taehyung tertawa serak; kerjadian itu terasa seperti bertahun-tahun lalu saat Jungkook mengerjainya dengan alasan ponselnya ketinggalan. Wajah Jungkook saat dia akhirnya diizinkan masuk dan bagaimana dia langsung meraup Taehyung dalam gendongannya dan menciuminya dengan gila; Taehyung tertawa ceria hari itu, berhasil mengerjai tunangannya balik dan mereka berbaikan setelah seks yang luar biasa serta daging lezat buatan Jungkook.

Betapa sederhananya hubungan mereka saat itu, semudah bernapas dan Taehyung mual memikirkannya.

Sungguh, seberapa banyak bagian kejujuran dalam hubungan mereka dan seberapa banyak kebohongan yang Jungkook berikan padanya?

“Hari itu dia datang ke apartemenku dan akhirnya menceritakan semuanya dalam keadaan kebingungan dan ketakutan atas reaksimu pada kebohongan kecilnya; sesuatu yang dianggapnya sebagai sebuah lelucon. Hal ini membuat kenangan lamanya kembali hidup dan dia harus bicara. Dan dia bicara padaku. Dia takut kau mungkin akan berubah pikiran jika kau mendengar cerita ini.

“Tentu saja aku marah karena dibohongi,” kata Yugyeom kemudian, memasang pose menyerah. “Itu alami sekali, tapi kemudian aku mendesaknya agar bicara. Memberikannya ultimantum bahwa dia harus memberitahumu sebelum kalian melangkah ke jenjang yang lebih serius.

“Tidak kusangka dia benar-benar tidak melakukannya.”

“Apa yang ada di kepala Jungkook hanya difahami oleh Jungkook.” sahut Taehyung dan Yugyeom mengangguk setuju.

“Bagaimana menurutmu?” kata Yugyeom kemudian menatap Taehyung lekat-lekat. “Apakah kau sudah bisa memutuskan tentang hubungan kalian?”

Taehyung meraih gelasnya, meneguk kopinya walaupun seluruh tubuhnya memberontak oleh kadar kafein yang mulai mengalir deras di darahnya hingga jantungnya berdebar melenceng dari nada biasanya. Dia mengenggam gelasnya agar Yugyeom tidak melihat tangannya yang gemetar.

“Entah,” katanya. “Aku masih belum bisa memutuskan. Jika memang Jungkook dan Mingyu sudah berbaikan dan memutuskan semuanya, barulah aku akan memutuskan. Mereka layak mendapatkan kesempatan kedua.”

“Kau tahu,” kata Yugyeom dan Taehyung menatapnya, dia balas menatap Taehyung. “Jika kau selalu bersikap terlalu baik, maka kau nantinya akan dimanfaatkan. Harga dirimu akan diinjak-injak.”

“Kataku,” tambahnya sebelum Taehyung sempat memproses kata-katanya karena otaknya menjadi selamban siput oleh kafein. “Jika kau memang mencintai Jungkook sebesar itu, kau seharusnya memperjuangkan hubungan kalian. Bukannya melepaskannya dengan alasan: jika dia bahagia maka aku bahagia.

“Omong kosong,” Yugyeom terkekeh serak penuh sarkasme yang meleleh dari sudut bibirnya. “Tidak ada orang yang bisa mengikhlaskan cintanya berbahagia dengan orang lain. Jangan bersikap sok berbesar hati. Apalagi orang semacam dirimu; aku tahu, kau tidak akan suka melihat hal yang bisa kaulakukan sendiri, dilakukan orang lain.”

Taehyung tertawa serak. “Apakah itu pandanganmu padaku?” katanya tenang. “Lalu apa yang harus kulakukan menurutmu? Setelah bertahun-tahun dibohongi dengan cerita itu dan bahkan dia tidak memiliki itikad untuk memberitahuku jika saja Mingyu tidak menekan dan mengancamnya,”

“Jangan pikir aku tidak sama kecewanya denganmu,” sahut Yugyeom. “Seperti kataku tadi, jika kebohongan itu tidak concern tentangku—,”

“Tentu saja itu concern tentangku,” tukas Taehyung dingin, dia menatap Yugyeom dengan matanya yang tajam dan kemarahan yang akhirnya menggelegak di dasar perutnya.

“Tunanganku biseksual,” katanya sedingin dan setajam untaian es yang membeku. “Dan kebetulan menarik perhatian perempuan-perempuan di gym setiap saat. Dan kebetulan memiliki mantan kekasih lelaki dan perempuan. Tidak ada jaminan jika aku tidak bersamanya di sana, dia akan menanggapi para gadis itu, kan? Toh dia dulu punya tunangan seorang gadis yang kebetulan saja meninggal. Jika gadis itu tidak meninggal, aku tidak akan pernah ada di hidupnya sama sekali.

“Menurutmu bagaimana itu tidak concern tentangku?”

Yugyeom diam, menatap Taehyung dan dengan sopan membiarkan pemuda itu melepaskan seluruh amarah yang telah ditahannya sejak tadi.

“Menurutmu bagaimana seharusnya aku menyikapi fakta itu? Bersikap tenang dan 'hore, dia menjadi homoseksual karenaku' padahal sebenarnya dia menjadi homoseksual karena temannya yang baru kukenal sekarang?

“Aku dibohongi di banyak sekali level, Kim Yugyeom.” katanya kemudian dengan bahu naik-turun oleh emosi. “Sampai sekarang pun aku tidak yakin seberapa banyak kejujuran dan kebohongan dalam hubungan kami.”

“Berarti kau tidak percaya—,” kata Yugyeom kembali mencoba dan Taehyung kali ini murka, sungguh murka hingga dia yakin dia bisa menonjok Yugyeom saat itu juga di sana.

“Tentu saja aku percaya padanya!” tukasnya dengan nada naik hingga beberapa orang menoleh padanya dan berbisik-bisik. “Kaupikir kenapa lagi semua ini terasa begitu menyakitkan?” tanyanya dengan suara rendah dan gemetar liar. “Karena aku mempercayakan seluruh hidupku padanya hanya untuk menyadari bahwa semuanya kebohongan.”

“Dengarkan aku, Kim Taehyung,” tukas Yugyeom seketika itu juga, meyondongkan tubuhnya pada Taehyung yang sekarang nampak gemetar oleh amarah, nampak dua kali lebih menyeramkan dari Taehyung yang biasanya. “Dengarkan aku sebentar.”

Taehyung diam, rahangnya mengencang.

“Dia mencintaimu seperti orang gila, kau dengar aku?” Yugyeom menatapnya, sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Taehyung. “Seperti orang gila.” ulangnya.

“Jika kau tanya apakah aku kecewa padanya karena dia membohongimu, tentu saja aku kecewa. Tidak ada yang lebih kecewa dari aku karena aku sahabatnya. Aku tahu apa yang dialaminya, aku tahu dia siapa. Aku faham dia siapa, aku faham Jungkook itu siapa dan bagaimana.

“Dia sudah belajar banyak dari kejadian lalu. Dia sudah menghukum dirinya dengan begitu keras hingga dia nyaris sinting, kau lihat sendiri bagaimana dia. Aku di sana hari dimana dia merangkak berdarah oleh duka berusaha menghukum dirinya dengan layak—mungkin agar mampus sekalian. Ditekan oleh sahabatnya sendiri, koyak oleh lukanya sendiri. Dan menurutmu apakah dia akan selamat jika kau juga meninggalkannya?

“Jika kau memang percaya dan cinta padanya, bisakah kau... entahlah, berusaha percaya sekali lagi padanya? Dan jika kau bertanya-tanya seberapa besar kebohongan dalam hubungan kalian; kukatakan padamu, dia hanya berbohong tentang kejadian itu. Sisanya, dia melakukan sesuai apa yang ingin dilakukannya.

“Tidak peduli seberapa bajingannya dia di matamu, Jungkook tetap lelaki paling tulus, paling murni dan paling menyenangkan yang pernah kukenal. Dia melakukan kesalahan, semua manusia melakukannya. Dan hanya sekali, lalu apakah menurutmu dia layak untuk dihukum sepanjang hidupnya?

“Karena kesalahan yang bahkan bukan tanggung jawabnya?”

Yugyeom diam, membiarkan kalimatnya menguar di udara mereka dan menyesap ke dalam paru-paru Taehyung sebagai sesuatu yang harus dipikirkan.

“Kau percaya bahwa dia jauh lebih berguna di dapur saat itu, dia sudah memilih hal yang benar untuk bertahan bersama timnya, memercayakan seluruh hidup kekasihnya pada tangan profesional—para dokter tahu apa yang mereka kerjakan. Tapi dia juga hanya manusia biasa, dia tidak tahu bahwa dia akan kehilangan kekasihnya.

“Dia hanya tahu dia harus menyelesaikan pesanan malam itu dan menyusul kekasihnya, dia tidak pernah berpikir dokter akan kehilangan tunangannya. Akan gagal melaksanakan tugas mereka karena Tuhan berkehendak lain.

“Jika satu kesalahan layak membuat manusia dihukum sepanjang hidupnya, tidak akan ada satu pun dokter di dunia ini. Mereka semua akan meninggal oleh hukuman sosial setiap kali gagal menyelamatkan nyawa seseorang yang murni memang tidak bertahan karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan.

“Now you tell me, Taehyung. Does he deserve that?”

Taehyung menatapnya, tubuhnya terasa terbakar sekarang. Napasnya mulai pendek-pendek, jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya sakit dan dia tidak bisa berpikir lagi. Otaknya terasa berubah menjadi bubur.

Dia menyentuh dadanya, berusaha memaksa paru-parunya mengembang untuk bernapas. Dan Yugyeom akhirnya menyadari ada yang tidak beres dengan Taehyung.

“Taehyung?” tanya Yugyeom, kali ini dengan nada cemas. “Kau oke?” tanyanya lagi, berdiri dan menghampirinya. “Astaga, kau pucat sekali! Kau sudah makan?? Kau tinggal di mana sekarang? Kuantar pulang, ayo. Kita bicara lagi besok.”

Taehyung tidak mendengarkan sama sekali; telinganya berdenging dan dia ingin muntah. Seluruh ruangan terasa bergoyang oleh vertigo. Terlalu banyak kafein dan perutnya sama sekali belum terisi, dia juga belum tidur semalaman. Terlalu banyak, tubuhnya tidak sanggup lagi.

“Jangan...,” katanya berdiri dan terhuyung. Salah seorang barista langsung menghampiri mereka. Mulutnya terbuka dan mengatakan sesuatu tapi Taehyung tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya sama sekali.

Yugyeom sudah merangkulnya, menggunakan tubuhnya sendiri untuk menahan bobot Taehyung dan bicara dengan wajah cemas ke barista di hadapannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan Taehyung menggeleng.

“Jangan...,” katanya lagi, gemetaran dan dia yakin dia pasti akan mati sekarang. Seluruh tubuhnya terasa dipelintir ke arah yang salah; jantung, lambung, kepala dan paru-parunya terasa nyeri. Dia butuh berbaring, dia butuh memuntahkan semua kafein yang ditenggaknya...

Dia butuh Jungkook. “Jangan hubungi Jungkook.”

Lalu terdengar suara terkesirap keras yang nyaris seragam dan mulut Yugyeom yang terbuka entah mengatakan apa—dia tidak bisa menangkapnya sama sekali, Taehyung akhirnya melepaskan seluruh kontrol dirinya yang berusaha bertahan dan dalam keadaan mabuk kafein, dia melihatnya.

Apakah itu Jungkook?

Mata kaburnya melihat saat pemuda itu menghambur memasuki ruangan dengan wajah pucat. Mulutnya terbuka dan matanya menatap langsung ke Taehyung. Apakah itu Mingyu di sisinya? Mereka berbaikan? Syukurlah...

Namun otak malang Taehyung sudah tidak sudi bertahan sehingga dia akhirnya membiarkan seluruh tubuhnya beristirahat dan semuanya gelap.

*