The Chef #92

Taehyung sedang menikmati lukisan di depannya, mencoba menguraikan ide yang dituang pelukisnya di atas kanvas. Karya itu merupakan karya lukisan tradisional Bali yang banyak menggunkan bentuk-bentuk supranatural di dalamnya seperti rangda, barong dan tokoh wayang.

Warnanya tidak sekaya karya-karya seni kontemporer yang aneh-aneh tapi Taehyung suka. Ada semacam jiwa di dalam lukisan itu, membuatnya nampak hidup dan hanya lukisan Jawa-Bali yang bisanya memiliki napas ini dalam lukisannya. Mungkin nanti dia bisa merengek lagi pada Jungkook agar diizinkan membeli satu lukisan rangda untuk dipajangnya di ruang tamu.

“Kenapa kau tidak membeli yang normal saja, sih? Bunga? Sawah?” tanya Jungkook hari itu, di pasar seni Ubud saat Taehyung memilih lukisan rangda yang magis oleh warna merah dan hitam.

“Itu lukisan murahan,” sahut Taehyung jengkel. “Dikerjakan secara massal untuk dijual murah. Aku tidak mau lukisan begitu dipajang di apartemen kita.”

Jungkook menatap lukisan di tangan kekasihnya dengan alis berkerut. “Tidak.” Katanya tegas kemudian. “Itu terlalu seram.”

“By—,” mulai Taehyung lagi dan Jungkook menggeleng. “Tidak, tidak.” Tukasnya tegas lalu berbalik dan berjalan menjauh.

Taehyung mengerang keras, meminta maaf pada pedagang yang mengangguk kecewa lalu mengejar kekasihnya. “Kau tidak asik,” keluhnya saat melangkah di sisi Jungkook.

“Jika kau membeli lukisan yang normal, aku akan izinkan.” Sahut Jungkook keras kepala dan Taehyung memutar bola matanya sebal; untuk apa membeli lukisan yang dijual secara massal yang akan ditemukannya di ruang tamu orang lain jika dia bisa membeli lukisan yang sakral itu?

Kali ini dia akan membeli lukisannya diam-diam, lalu mengirimkannya via ekspedisi ke apartemen mereka. Jungkook tidak perlu tahu semua transaksi kartu kreditnya, kan?

Taehyung nyengir, menemukan cara untuk membeli hal yang disukainya tanpa harus bersilat lidah dengan Jungkook saat kemudian teleponnya berdering. Dia melihat nama penelepon di layar dan terkekeh.

“Holaa?” sapanya ceria. “Kau sedang istirahat makan siang, ya? Anak-anak beli apa?”

“Kami memesan Burger King dan Kokumi,” sahut Jimin dari seberang sana. Terdengar suara keresak dan obrolan ringan sebagai latar belakang Jimin. “Kau sedang di mana? Mana Jungkook?”

Taehyung terkekeh, melangkah menyusuri lorong museum yang panjang dan beraroma usia. “Dia di lapangan, aku bosan. Jadi aku berkeliling dan menemukan Museum beberapa kilometer dari proyek. Not bad,” Taehyung berhenti di depan sebuah karya lukisan berukuran 2 x 1,75 meter.

“Jika aku memiliki hobi melihat lukisan dan mengunjungi museum, peluangku untuk menjadi chief accountant berapa persen?” tanya Jimin dan Taehyung terkekeh, senang mendapatkan teman mengobrol selama menjelajahi tempat baru karena tunangannya sibuk.

“Aku tidak tahu hobi memiliki kaitan erat dengan kesuksesan pekerjaan,” dia mengendikkan bahu, berpindah ke karya lain dan mengamatinya dengan tertarik. “Kau ingin oleh-oleh apa?”

“Hm...,” pikir Jimin sejenak. “Kau akan mampir ke mana saja memangnya?”

“Belum tahu,” sahut Taehyung ringan. “Mungkin aku akan berkeliling sendiri dengan mobil rental jika Jungkook terlalu sibuk di proyek. Aku sudah lihat-lihat Trip Advisor untuk menemukan tempat wisata sekitar hotel kami, sudah menyusun peta juga tapi belum mengajukannya pada Jungkook.”

Jimin diam sejenak, “Apa saja yang ingin kauberikan untukku akan kuterima. Apalagi nomor kontraktor ganteng Jungkook itu.” Katanya mendesah penuh damba dan Taehyung memutar bola matanya geli. “Kau yakin dia..., yah, setidaknya biseks jadi aku punya kesempatan?”

Taehyung tertawa. Hari saat Jungkook menerima panggilan Yoongi untuk presentasi desain restorannya via Zoom, Jimin kebetulan sedang mampir untuk membantu Taehyung menghabiskan nasi goreng bumbu Bali yang dibuatkan Jungkook lengkap dengan ayam suwir goreng kering yang renyah.

Dan dia tidak sengaja mengintip, menemukan pemuda serius dengan wajah putih pucat yang sedang menatap Jungkook dengan fokus dan jatuh cinta (“Aku jatuh cinta! Pada pandangan pertama, Taehyung! Dan kau tidak diizinkan untuk mengejekku!” katanya dan Taehyung menatapnya jijik). Dan tidak berhenti merongrong Taehyung untuk mengenalkan mereka.

“Akan kusampaikan salammu pada Yoongi nanti jika itu membuatmu senang,” Taehyung melangkah keluar dari gedung pertama dan menghirup udara; menikmati suasana musem yang damai dan menemukan sepasang pengantin yang sedang melakukan pra-wedding.

Taehyung mengulum senyumnya, mengamati rombongan itu dengan tertarik lebih karena pakaian adat Bali yang mereka gunakan nampak tradisional sekaligus megah. Hiasan kepala gadis itu nampak menyakitkan karena begitu tinggi dan menyiksa, namun selebihnya dia nampak begitu memesona.

“Kenalkan aku padanya saat aku ikut ke Bali, oke??”

Taehyung tertawa lagi, memalingkan wajahnya dari pasangan itu. “Oke. Siap. Gampang,” katanya lalu berhenti saat nada dering lain terdengar. Dia menurunkan ponsel dan menemukan nama Jungkook di layar. “Hei, sebentar ada panggilan masuk dari Jungkook.” Katanya pada Jimin.

Dia menekan hold pada panggilan Jimin lalu mengangkat panggilan konvensional Jungkook. “Halo, Sayang? Aku sedang di Museum, aku akan kembali sekarang jangan mengomel.” sahutnya bergegas menuruni tangga menuju pintu keluar karena sudah menyimpulkan bahwa Jungkook pasti sudah menunggunya untuk pulang.

Bayangkan betapa kagetnya dia saat berdiri di pintu keluar dan yang bicara dari seberang sana bukanlah Jungkook, melainkan Yoongi.

“Taehyung?” tanyanya tegang, di belakangnya terdengar suara sirine yang menjauh dan ini membuat ulu hati Taehyung terasa dijotos. “Maaf saya lancang menggunakan ponsel Jungkook tapi saya akan menjemput Anda sekarang ke sana dan kita akan ke rumah sakit.”

Hati Taehyung mencelos hingga ke dasar perutnya dan dia berpegangan ke pohon di sisinya, tidak percaya pada lututnya terasa lemas untuk menopang tubuhnya dan beberapa karyawan museum yang melihatnya bergegas menghampirinya dengan sigap.

“Apa... yang terjadi?” tanyanya, menelan asam lambungnya dan mengabaikan dua karyawan yang menatapnya cemas dan bertanya; namun Taehyung tidak mendengarnya sama sekali—telinganya berdenging.

Sesuatu terjadi pada Jungkook. Dia yakin.

”... Kepalanya terbentur keras—,”

Hanya butuh hal itu untuk membuat Taehyung kehilangan seluruh kontrol atas tubuhnya, terhuyung dan tersungkur di tanah dengan lututnya. Ponselnya terlepas dari tangannya, terguling ke tanah di sisinya dan dia membungkuk, berdeguk keras seperti seekor kucing yang tersedak lalu muntah dengan suara berisik ke rerumputan empuk di kakinya.

*