The Chef #78

Melihat dua orang chef bekerja di dapur apartemen medium mungkin bukanlah pemandangan sehari-hari semua orang dan jelas bukan juga pemandangan untuk para akuntan yang sekarang duduk di konter, menyaksikan cuisine head chef dan sahabat lamanya yang juga pastry chef bekerja sama untuk membuat strawberry shortcake.

Keduanya bekerja dalam ritme yang mengesankan; Yugyeom tahu apa yang dibutuhkan Jungkook dan sudah mengulurkannya bahkan sebelum head chef itu meminta atau mengulurkan tangan. Mereka bekerja dengan cekatan, tanpa banyak bicara dan tanpa banyak interaksi selain meminta alat dan bahan.

Mingyu dan Jimin duduk berdampingan, mengamati mereka berdua bekerja seperti sedang menonton reality show. Termangu dan terpesona sambil mengunyah tortilla. Aroma stroberi dan buttermilk tercium ke seluruh penjuru ruangan bersama fresh cream milk.

“Bisakah kalian setidaknya mengobrol? Membosankan sekali,” keluh Taehyung dengan Bubble di pangkuannya dalam balutan piyama polkadot yang menggemaskan; anak anjing itu menguap lalu kembali lelap di bawah belaian lembut Taehyung.

“Chef tidak pernah bicara selain untuk memerintah,” sahut Yugyeom menguleni adonannya dengan cekatan tanpa mendongak. “Apalagi Jungkook.”

“Aku sangat berpengalaman masalah Jungkook dan amukannya. Trims,” Taehyung menggendong Bubble lalu beranjak ke dapur, menyusup ke tengah Yugyeom dan Jungkook untuk menganggu.

Yugyeom sedang membuat adonan buttermilk cookies sementara Jungkook mengurus stroberi dan membuat whip cream untuk kuenya. Saat mereka tiba tadi, Jungkook sedang sibuk mengurus seekor ayam yang dimarinasi dengan bumbu beraroma rempah dan kunyit yang dominan, memasukkannya ke dalam mangkuk lalu membungkusnya dengan plastik wrap sebelum menyimpannya ke dalam kulkas.

“Menu makan malam,” katanya ceria, mengelap konter dengan lapnya. “Kalian belum makan, kan?”

Bubble menyalak saat mencium aroma stroberi dan Jungkook terkekeh. Dia meraih sepotong stroberi dan menyerahkannya pada Taehyung yang langsung menerimanya dan menyuapi Bubble potongan buah itu lalu tertawa saat Bubble menjilat wajahnya.

“Kalian ingat tidak kami bertiga ini jomblo?” tanya Yugyeom setelah menata buttermilk cookies-nya di atas loyang, menaburkan turbinado sugar ke atasnya dan siap memasukannya ke oven yang sedang dipanaskan. “Tolong jangan pamer kemesraan.”

Taehyung menyomot stroberi dan memakannya. “Kalian membosankan sekali, kenapa kalian bekerja dalam diam? Kenapa kalian tidak lebih interaktif? Pantas saja kalian tidak jadi celebrity chef, kalian tidak punya bakat.”

“Memangnya siapa juga yang mau jadi celebrity chef?” balas Yugyeom memutar bola mata, mengenakan sarung tangan oven Jungkook untuk membuka oven dan memasukkan loyang yang terisi dua belas cookies.

“Siapa juga yang mau menawari kalian?” balas Taehyung mendelik.

“RCTI,” sahut Jungkook menyombong dengan kalem. “Kau lihat proposalnya kemarin dan langsung menolaknya, berarti sebenarnya aku ini berbakat.”

Taehyung memutar bola matanya, memberi potongan stroberi lain ke Bubble yang menerimanya dengan ceria. “Kau cuma mau bertemu Chef Renata karena dia seksi. Kau, 'kan, biseks.”

Kalimat Taehyung membisukan satu ruangan seketika itu juga, seperti televisi yang dimatikan. Dan Taehyung mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol kata-katanya sendiri.

Jungkook diam meresponnya, tangannya yang cekatan berhenti bergerak dengan whisking tool-nya. Keheningan ini membuat seluruh orang di ruangan itu seketika merasa kikuk.

Jungkook kemudian tertawa serak dan tegang, seluruh ruangan menyadari suara tawa ini dan Taehyung meringis karena bercandanya mungkin sangat keterlaluan kali ini.

“Kau baca sendiri pasanganku Juna dan Arnold,” katanya kembali memasak, menolak menatap semua orang di ruangan itu.

Yang mungkin saja adalah sahabatnya dan juga sahabat Taehyung, tahu segalanya tentang rahasia masa lalunya yang kelam bahkan sebelum tunangannya tapi mendengar Taehyung menggunakan itu sebagai lelucon membuat seluruh tubuh Jungkook terasa aneh.

Dia malu, kikuk dan bersalah. Rasanya nyaris melumpuhkan tapi dia berusaha mengendalikan diri; tidak membiarkan kenangan itu berkuasa atas dirinya hari ini. Apalagi dalam suasana berkumbul yang akrab ini. Dia bisa bicara dengan Taehyung nanti tentang ini.

Seluruh orang menatapnya, menilai reaksinya sebelum Taehyung melepaskan Bubble yang langsung menggonggong ceria ke arahnya, menyelip ke kaki Jungkook—mencoba menghiburnya dengan mendengking dan menjilati kakinya.

“Maaf,” kata Taehyung memeluk pinggangnya dan mengecup bahunya, “Maaf bercandaku kelewatan.” Dia mengistirahatkan kepalanya di bahu Jungkook dan mendesah.

Jungkook kembali tertawa, gerakan mengocoknya melenceng dari gerakan sebelumnya; menandakan betapa anxious-nya dia dan itu membuat Taehyung merasa sangat bersalah. “Tidak,” sahutnya. “Kau benar, aku memang biseks. Tapi,” tambahnya kemudian, menoleh pada Taehyung yang membuka mulut untuk bicara.

“Kau tidak harus berpikir serendah itu tentangku, oke?”

Taehyung menatapnya, mengerjapkan mata lalu tersenyum menyesal. “Maaf,” katanya. “Maafkan aku, sungguh.”

Jungkook tersenyum, menjulurkan lehernya untuk mengecup kening Taehyung dan mengusap rambutnya sayang. “Baiklah, sekarang menjauhlah dari sini,” dia mendelik, berpura-pura marah dengan senyuman di bibirnya. “Karena para profesional harus menyelesaikan makanan kalian sebelum malam.”

Seluruh ruangan menghembuskan napas setelahnya lalu Jimin, Mingyu dan Taehyung memilih untuk ke ruang keluarga, menonton Netflix seraya mengunyah tortilla chips dan guacamole serta membiarkan para chef mempersiapkan makanan mereka daripada mengganggu.

Yugyeom menyelesaikn shortcake mereka dengan buttermilk cookies yang beraroma tajam mentega hangat yang menakjubkan. Membentuknya menjadi menara-menara kukis mungil dengan limpahan potongan stroberi yang dibagi menjadi enam porsi. Sementara itu Jungkook mengeluarkan ayam yang sudah dimarinasi dari dalam kulkas dan mulai memasak.

Dia menunjukkan kebolehannya dalam Indonesian food dengan memasak ayam taliwang Lombok yang aromanya membuat seluruh penonton yang sejak tadi sibuk menonton Netflix, tergoda untuk kembali ke dapur dan mempersiapkan diri untuk makan karena aroma rempahnya yang hangat dan kaya. Membuat mereka semua bersin-bersin saat Jungkook menumis bumbunya.

“Kau ingat ayam taliwang yang kita makan di Lombok kapan itu tidak?” tanya Taehyung saat Jungkook membawa makanan mereka ke meja makan. “Aroma bumbumu ini jauh lebih lezat lagi, padahal ayam kemarin sudah yang terlezat untukku.”

Jungkook mendengus lalu menyugar rambutnya setelah meletakkan lauk mereka di tengah meja; hangat, berempah dan menggugah selera lengkap dengan sambal dan kacang tanah. “Aku ini lulusan sekolah kulinari, berkonsentrasi di Indonesian food dan salah satu finalis Chef of the Year; tentu saja aku bisa membuat yang jauh lebih enak.”

“Cukup, cukup.” Mingyu melambaikan tangan dengan kesal sambil mengambil piring untuk mulai makan. “Kesombongan membuat nafsu makanku lenyap. Kau sebaiknya diam saja.”

Setelah makan ayam taliwang dengan kenyang, menikmati seporsi strawberry shortcake yang buttermilk cookies-nya begitu lembut seperti mentega saat digigit, mereka menyadari bahwa dikelilingi chef yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan mereka, yang memang memilih menjadi chef karena kecintaannya pada dunia kilinari merupakan sebuah anugerah.

“Karena kami bisa makan lezat tanpa keluar uang,” Jimin berbaring di karpet bersama Bubble yang juga baru saja makan. “Perutku begah sekali. Terima kasih atas makanannya, para Chef.”

Jungkook dan Yugyeom sedang di konter, masing-masing memegang sebotol bir dan menikmati waktu istirahat mereka setelah memberi makan teman-temannya dengan sisa tortilla chips buatan Jungkook dalam mangkuk di antara mereka. Taehyung duduk di sebelah Jungkook, dengan botol birnya sendiri yang ditambah satu shot vodka, kesukaannya.

“Kembali kasih, Budak Korporat,” balas Jungkook, melambaikan botol birnya dan Jimin mengerang; terlalu kekenyangan hingga tidak bisa bergerak. Yugyeom tertawa, meneguk birnya dengan khidmat.

“Kau bisa membuka usaha rice bowl dengan ayam taliwang itu dan makanan itu akan laku keras,” komentar Mingyu yang sama kenyangannya di atas sofa, memejamkan mata—mengantuk oleh rasa kenyang.

“Aku sedang membangun restoran oke,” Jungkook terkekeh. “Kalian bisa datang saat soft opening-nya sebagai undangan dan mencicipi semua menunya,” dia lalu teringat sesuatu dan menoleh ke Yugyeom yang menjejalkan segenggam tortilla ke mulutnya.

“Apakah kau punya kontak chef-chef Bali yang mungkin tertarik bergabung denganku?” Lalu melanjutkan bicara mereka dengan membicarakan jumlah orang di kitchen mereka nantinya.

Mereka bersantai di apartemen Jungkook hingga lepas jam 10 malam dan membubarkan diri karena masih harus bekerja keesokan harinya. Jungkook menutup pintu dan menghela napas panjang, merasa agak pening karena terlalu banyak minum, namun tidak ada apa-apanya dengan Taehyung yang menenggak bir seperti air putih karena amis ayam yang dimakannya.

Sudah lama tunangannya meminta izin untuk menjadi vegan tapi entah bagaimana dia belum juga mulai. Namun belakangan ini, makan daging untuk Taehyung terasa begitu menyiksa. Amis, begitu katanya. Bahkan jika Jungkook membuat tortelini atau telur ceplok untuk sarapan mereka, tunangannya akan mengerang tidak suka.

Jungkook kembali ke dalam ruangan, menemukan Taehyung sedang membereskan meja makan. Dan saat dia menoleh dengan piring kotor di tangannya, Jungkook tahu kekasihnya itu mabuk.

“Hei, Sayang,” katanya menatap Taehyung yang wajahnya merah padam dan matanya menatapnya sayu; tatapan mengantuk tidak fokus yang seksi sekali. Jungkook mengulum senyumannya—malam ini akan sangat menyenangkan.

Karena banyak sekali hal 'menarik' yang akan terjadi jika Kim Taehyung sedang mabuk.

*