The Chef #55
Yugyeom menatap Taehyung diam, terpana dan syok setelah mendengar cerita lengkap tentang kejadian itu. Dia tidak habis pikir sama sekali; mendesah panjang dia mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya di kursi; kepalanya di sandarkan di bagian atas sandaran punggung.
“Wow,” bisiknya dan Taehyung setuju.
'Wow' telah menggambarkan keseluruhan emosi mereka dengan sangat sempurna hingga terasa mengerikan.
“Sebanyak apa yang kautahu dari cerita ini?” tanya Taehyung kemudian sementara Yugyeom masih berusaha mengumpulkan akal sehatnya yang berceceran setelah mendengar cerita Taehyung.
Ini kopi Taehyung di gelas kedua dan dia mulai merasa seluruh tubuhnya bereaksi tidak enak pada kadar kafein yang mengisi darahnya dan stres; kepalanya pening, ulu hatinya nyeri dan dia ingin muntah. Tapi dia bertahan. Dia tidak bisa menatap makanan sekarang, dia benar-benar bisa muntah.
Mungkin dia seharusnya makan bubur yang dibelikan Jimin tadi? Tapi aromanya membuat Taehyung mual, apalagi bentuknya yang encer dan... sungguh, Taehyung tidak ingin memasukkan benda itu ke tubuhnya sama sekali.
“Aku hanya tahu bahwa gadis ini meninggal dan Mingyu bersikap bajingan,” kata Yugyeom kemudian, masih nampak tidak habis pikir. “Aku tidak tahu masalah Jungkook dan Mingyu sempat bersama dengan cara seperti itu dan bahwa Mingyu adalah sahabat gadis ini. Aku tahu Mingyu adalah sahabat Jungkook saat itu, kecewa berat padanya. Mengatainya dengan banyak hal lalu pergi dan tidak pernah kembali lagi.”
“Lalu bagaimana kau mengenal Mingyu?” tanya Taehyung kemudian, “Karena tadi kau langsung nampak tidak menyukainya bahkan sebelum mendengar ceritanya dengan lengkap,”
“Kami sempat berkenalan,” kata Yugyeom dengan alis berkerut. “Tidak terlalu jelas, hanya saja aku ingat dia mengontakku saat aku masih menempuh pendidikan di STP Nusa Dua dan dia memperkenalkan diri sebagai sahabat Jungkook: 'I'm Jungkook's second best man', begitu katanya.
“Lalu aku mulai sibuk training dan kami hilang kontak. Lagi. Aku tidak dengar banyak dari Jungkook dan Mingyu di masa-masa ini. Aku terlalu lelah saat kembali ke kosan dan langsung tidur; tidak punya kehidupan. Kau tahu bagaimana orang-orang menyebut pekerjaan chef sebagai pekerjaan orang kesepian?
“Karena kami sangat sibuk hingga tidak sempat mengabari keluarga, tidak sempat membina hubungan. Jika mereka pikir menjadi chef adalah sebuah hal yang gemilang, mereka hanya melihat bagaimana kami tersenyum di layar kaca sebagai chef artis; mereka tidak melihat babak-belurnya kami berusaha mengejar karir.”
Yugyeom menghela napas dan memijat kepalanya, Taehyung menatapnya. Lebih karena kafein dan stres mulai merajalela di tubuhnya dan dia mulai tidak bisa memfokuskan isi kepalanya yang berdenging.
“Akhirnya aku kembali ke Jakarta,” lanjut Yugyeom. “Dan bergabung ke sekolah pastry menjadi salah satu pengajar lepas mereka dan aku bertemu Jungkook lagi di sana; nampak seperti zombie dan benar-benar menyedihkan. Saat itu dia hanya memberitahuku bahwa Mingyu itu kekasihnya dan mereka putus karena 150 pax itu, jika kau ingat.”
“Jadi, dia membohongimu dua kali? Tiga kali hingga saat ini,” tanya Taehyung, mulai merasakan nyeri lain menyeruak di dadanya; di bagian belakang jantungnya yang berdenyut. Membuat setiap tarikan napasnya terasa panas.
“Ya, begitulah,” Yugyeom tersenyum, nampak lelah namun sama sekali tidak marah mendengar bahwa sahabatnya telah membohonginya. “Tapi aku tahu Jungkook, aku tahu apa yang dialaminya dan selama kebohongannya tidak berkaitan tentangku atau hubungan kami, kurasa dia layak mendapatkan kesempatan kedua.
“Dia berbohong mungkin karena dia memang sangat tidak siap menceritakan kisah itu. Kau ingat saat malam itu kau menguncinya di luar apartemen?”
Taehyung tertawa serak; kerjadian itu terasa seperti bertahun-tahun lalu saat Jungkook mengerjainya dengan alasan ponselnya ketinggalan. Wajah Jungkook saat dia akhirnya diizinkan masuk dan bagaimana dia langsung meraup Taehyung dalam gendongannya dan menciuminya dengan gila; Taehyung tertawa ceria hari itu, berhasil mengerjai tunangannya balik dan mereka berbaikan setelah seks yang luar biasa serta daging lezat buatan Jungkook.
Betapa sederhananya hubungan mereka saat itu, semudah bernapas dan Taehyung mual memikirkannya.
Sungguh, seberapa banyak bagian kejujuran dalam hubungan mereka dan seberapa banyak kebohongan yang Jungkook berikan padanya?
“Hari itu dia datang ke apartemenku dan akhirnya menceritakan semuanya dalam keadaan kebingungan dan ketakutan atas reaksimu pada kebohongan kecilnya; sesuatu yang dianggapnya sebagai sebuah lelucon. Hal ini membuat kenangan lamanya kembali hidup dan dia harus bicara. Dan dia bicara padaku. Dia takut kau mungkin akan berubah pikiran jika kau mendengar cerita ini.
“Tentu saja aku marah karena dibohongi,” kata Yugyeom kemudian, memasang pose menyerah. “Itu alami sekali, tapi kemudian aku mendesaknya agar bicara. Memberikannya ultimantum bahwa dia harus memberitahumu sebelum kalian melangkah ke jenjang yang lebih serius.
“Tidak kusangka dia benar-benar tidak melakukannya.”
“Apa yang ada di kepala Jungkook hanya difahami oleh Jungkook.” sahut Taehyung dan Yugyeom mengangguk setuju.
“Bagaimana menurutmu?” kata Yugyeom kemudian menatap Taehyung lekat-lekat. “Apakah kau sudah bisa memutuskan tentang hubungan kalian?”
Taehyung meraih gelasnya, meneguk kopinya walaupun seluruh tubuhnya memberontak oleh kadar kafein yang mulai mengalir deras di darahnya hingga jantungnya berdebar melenceng dari nada biasanya. Dia mengenggam gelasnya agar Yugyeom tidak melihat tangannya yang gemetar.
“Entah,” katanya. “Aku masih belum bisa memutuskan. Jika memang Jungkook dan Mingyu sudah berbaikan dan memutuskan semuanya, barulah aku akan memutuskan. Mereka layak mendapatkan kesempatan kedua.”
“Kau tahu,” kata Yugyeom dan Taehyung menatapnya, dia balas menatap Taehyung. “Jika kau selalu bersikap terlalu baik, maka kau nantinya akan dimanfaatkan. Harga dirimu akan diinjak-injak.”
“Kataku,” tambahnya sebelum Taehyung sempat memproses kata-katanya karena otaknya menjadi selamban siput oleh kafein. “Jika kau memang mencintai Jungkook sebesar itu, kau seharusnya memperjuangkan hubungan kalian. Bukannya melepaskannya dengan alasan: jika dia bahagia maka aku bahagia.
“Omong kosong,” Yugyeom terkekeh serak penuh sarkasme yang meleleh dari sudut bibirnya. “Tidak ada orang yang bisa mengikhlaskan cintanya berbahagia dengan orang lain. Jangan bersikap sok berbesar hati. Apalagi orang semacam dirimu; aku tahu, kau tidak akan suka melihat hal yang bisa kaulakukan sendiri, dilakukan orang lain.”
Taehyung tertawa serak. “Apakah itu pandanganmu padaku?” katanya tenang. “Lalu apa yang harus kulakukan menurutmu? Setelah bertahun-tahun dibohongi dengan cerita itu dan bahkan dia tidak memiliki itikad untuk memberitahuku jika saja Mingyu tidak menekan dan mengancamnya,”
“Jangan pikir aku tidak sama kecewanya denganmu,” sahut Yugyeom. “Seperti kataku tadi, jika kebohongan itu tidak concern tentangku—,”
“Tentu saja itu concern tentangku,” tukas Taehyung dingin, dia menatap Yugyeom dengan matanya yang tajam dan kemarahan yang akhirnya menggelegak di dasar perutnya.
“Tunanganku biseksual,” katanya sedingin dan setajam untaian es yang membeku. “Dan kebetulan menarik perhatian perempuan-perempuan di gym setiap saat. Dan kebetulan memiliki mantan kekasih lelaki dan perempuan. Tidak ada jaminan jika aku tidak bersamanya di sana, dia akan menanggapi para gadis itu, kan? Toh dia dulu punya tunangan seorang gadis yang kebetulan saja meninggal. Jika gadis itu tidak meninggal, aku tidak akan pernah ada di hidupnya sama sekali.
“Menurutmu bagaimana itu tidak concern tentangku?”
Yugyeom diam, menatap Taehyung dan dengan sopan membiarkan pemuda itu melepaskan seluruh amarah yang telah ditahannya sejak tadi.
“Menurutmu bagaimana seharusnya aku menyikapi fakta itu? Bersikap tenang dan 'hore, dia menjadi homoseksual karenaku' padahal sebenarnya dia menjadi homoseksual karena temannya yang baru kukenal sekarang?
“Aku dibohongi di banyak sekali level, Kim Yugyeom.” katanya kemudian dengan bahu naik-turun oleh emosi. “Sampai sekarang pun aku tidak yakin seberapa banyak kejujuran dan kebohongan dalam hubungan kami.”
“Berarti kau tidak percaya—,” kata Yugyeom kembali mencoba dan Taehyung kali ini murka, sungguh murka hingga dia yakin dia bisa menonjok Yugyeom saat itu juga di sana.
“Tentu saja aku percaya padanya!” tukasnya dengan nada naik hingga beberapa orang menoleh padanya dan berbisik-bisik. “Kaupikir kenapa lagi semua ini terasa begitu menyakitkan?” tanyanya dengan suara rendah dan gemetar liar. “Karena aku mempercayakan seluruh hidupku padanya hanya untuk menyadari bahwa semuanya kebohongan.”
“Dengarkan aku, Kim Taehyung,” tukas Yugyeom seketika itu juga, meyondongkan tubuhnya pada Taehyung yang sekarang nampak gemetar oleh amarah, nampak dua kali lebih menyeramkan dari Taehyung yang biasanya. “Dengarkan aku sebentar.”
Taehyung diam, rahangnya mengencang.
“Dia mencintaimu seperti orang gila, kau dengar aku?” Yugyeom menatapnya, sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Taehyung. “Seperti orang gila.” ulangnya.
“Jika kau tanya apakah aku kecewa padanya karena dia membohongimu, tentu saja aku kecewa. Tidak ada yang lebih kecewa dari aku karena aku sahabatnya. Aku tahu apa yang dialaminya, aku tahu dia siapa. Aku faham dia siapa, aku faham Jungkook itu siapa dan bagaimana.
“Dia sudah belajar banyak dari kejadian lalu. Dia sudah menghukum dirinya dengan begitu keras hingga dia nyaris sinting, kau lihat sendiri bagaimana dia. Aku di sana hari dimana dia merangkak berdarah oleh duka berusaha menghukum dirinya dengan layak—mungkin agar mampus sekalian. Ditekan oleh sahabatnya sendiri, koyak oleh lukanya sendiri. Dan menurutmu apakah dia akan selamat jika kau juga meninggalkannya?
“Jika kau memang percaya dan cinta padanya, bisakah kau... entahlah, berusaha percaya sekali lagi padanya? Dan jika kau bertanya-tanya seberapa besar kebohongan dalam hubungan kalian; kukatakan padamu, dia hanya berbohong tentang kejadian itu. Sisanya, dia melakukan sesuai apa yang ingin dilakukannya.
“Tidak peduli seberapa bajingannya dia di matamu, Jungkook tetap lelaki paling tulus, paling murni dan paling menyenangkan yang pernah kukenal. Dia melakukan kesalahan, semua manusia melakukannya. Dan hanya sekali, lalu apakah menurutmu dia layak untuk dihukum sepanjang hidupnya?
“Karena kesalahan yang bahkan bukan tanggung jawabnya?”
Yugyeom diam, membiarkan kalimatnya menguar di udara mereka dan menyesap ke dalam paru-paru Taehyung sebagai sesuatu yang harus dipikirkan.
“Kau percaya bahwa dia jauh lebih berguna di dapur saat itu, dia sudah memilih hal yang benar untuk bertahan bersama timnya, memercayakan seluruh hidup kekasihnya pada tangan profesional—para dokter tahu apa yang mereka kerjakan. Tapi dia juga hanya manusia biasa, dia tidak tahu bahwa dia akan kehilangan kekasihnya.
“Dia hanya tahu dia harus menyelesaikan pesanan malam itu dan menyusul kekasihnya, dia tidak pernah berpikir dokter akan kehilangan tunangannya. Akan gagal melaksanakan tugas mereka karena Tuhan berkehendak lain.
“Jika satu kesalahan layak membuat manusia dihukum sepanjang hidupnya, tidak akan ada satu pun dokter di dunia ini. Mereka semua akan meninggal oleh hukuman sosial setiap kali gagal menyelamatkan nyawa seseorang yang murni memang tidak bertahan karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
“Now you tell me, Taehyung. Does he deserve that?”
Taehyung menatapnya, tubuhnya terasa terbakar sekarang. Napasnya mulai pendek-pendek, jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya sakit dan dia tidak bisa berpikir lagi. Otaknya terasa berubah menjadi bubur.
Dia menyentuh dadanya, berusaha memaksa paru-parunya mengembang untuk bernapas. Dan Yugyeom akhirnya menyadari ada yang tidak beres dengan Taehyung.
“Taehyung?” tanya Yugyeom, kali ini dengan nada cemas. “Kau oke?” tanyanya lagi, berdiri dan menghampirinya. “Astaga, kau pucat sekali! Kau sudah makan?? Kau tinggal di mana sekarang? Kuantar pulang, ayo. Kita bicara lagi besok.”
Taehyung tidak mendengarkan sama sekali; telinganya berdenging dan dia ingin muntah. Seluruh ruangan terasa bergoyang oleh vertigo. Terlalu banyak kafein dan perutnya sama sekali belum terisi, dia juga belum tidur semalaman. Terlalu banyak, tubuhnya tidak sanggup lagi.
“Jangan...,” katanya berdiri dan terhuyung. Salah seorang barista langsung menghampiri mereka. Mulutnya terbuka dan mengatakan sesuatu tapi Taehyung tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya sama sekali.
Yugyeom sudah merangkulnya, menggunakan tubuhnya sendiri untuk menahan bobot Taehyung dan bicara dengan wajah cemas ke barista di hadapannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan Taehyung menggeleng.
“Jangan...,” katanya lagi, gemetaran dan dia yakin dia pasti akan mati sekarang. Seluruh tubuhnya terasa dipelintir ke arah yang salah; jantung, lambung, kepala dan paru-parunya terasa nyeri. Dia butuh berbaring, dia butuh memuntahkan semua kafein yang ditenggaknya...
Dia butuh Jungkook. “Jangan hubungi Jungkook.”
Lalu terdengar suara terkesirap keras yang nyaris seragam dan mulut Yugyeom yang terbuka entah mengatakan apa—dia tidak bisa menangkapnya sama sekali, Taehyung akhirnya melepaskan seluruh kontrol dirinya yang berusaha bertahan dan dalam keadaan mabuk kafein, dia melihatnya.
Apakah itu Jungkook?
Mata kaburnya melihat saat pemuda itu menghambur memasuki ruangan dengan wajah pucat. Mulutnya terbuka dan matanya menatap langsung ke Taehyung. Apakah itu Mingyu di sisinya? Mereka berbaikan? Syukurlah...
Namun otak malang Taehyung sudah tidak sudi bertahan sehingga dia akhirnya membiarkan seluruh tubuhnya beristirahat dan semuanya gelap.
*