The Chef #68

Ini bukan pertama kalinya Jungkook membawa Taehyung ke dapur dan meminta kekasihnya menunggu di kantornya sementara dia berkeliling mengecek preparation dari anak-anaknya.

Tapi hari ini terasa berbeda karena Jungkook bersikap begitu protektif padanya; mengagungkannya seolah Taehyung adalah pangeran atau apa. Dia membukakan pintu mobil untuknya, menggandeng tangannya dengan erat bahkan memperkenalkannya pada seluruh timnya yang sedang melakukan briefing sore.

Walaupun Taehyung sama sekali tidak keberatan.

Ruangan Jungkook tidak besar, hanya terisi satu meja dan satu laptop saja. Ada foto Taehyung dalam balutan jas rapi berlatar biru (foto yang disiapkannya untuk profil daringnya) di sisi laptop dalam bingkai kecil yang selalu dipandanginya ketika lelah dan ada sebuah papan buletin dimana dia menempel banyak catatan, resep-resep baru, hack memasak dalam tulisan Jungkook yang berantakan dan hasil pencapaian anak-anaknya dalam satu bulan dalam grafik KPI.

Dinding bagian baratnya merupakan kaca satu-arah tempat Jungkook mengawasi anak buahnya jika harus berkutat dengan laporan cost kitchen yang sangat dibencinya—dia gemar mengirim laporan itu ke gmail pribadinya dan meminta bantuan Taehyung untuk mengeceknya dengan cepat.

“Jika punya tunangan yang kebetulan chief accountant, harus dimanfaatkan,” begitu katanya dan mendapatkan cubitan di putingnya dari Taehyung karena mengatakan itu.

Di sanalah sekarang Taehyung duduk, di kursi Jungkook yang berderit kurang oli menatap ke luar kaca. Ke arah Jungkook yang sedang berdiri di tengah pusaran anak kitchen. Mereka sedang mempersiapkan menu wedding yang akan dilaksanakan petang ini selepas senja; menunya ada lima, termasuk menu buffet dan dessert-nya.

Tadi Taehyung sudah mengintip ke pastry section dan menemukan demi chef the partie pastry sedang mengomando anak-anaknya untuk membuat ratusan eclairs mini yang nampak menggemaskan dan gendut, ratusan bite-size carrot cake, mini fruit tart dan pelbagai panganan yang membuat Taehyung gemas karena ukurannya begitu mungil.

Namun karena menyadari dirinya adalah penyusup, Taehyung bergegas memasuki kantor Jungkook sebelum terpeleset karena sepatu ketsnya tidak bersahabat dengan lantai dapur atau menabrak seseorang yang sibuk memindahkan tray-tray raksasa terisi makanan ke chiller.

Dia suka mengamati Jungkook bekerja.

Dia tadi pergi ke loker, melapisi kausnya dengan chef jacket-nya lalu mengganti sepatu kets-nya dengan safety shoes yang bersol tebal agar tidak slip atau terkena minyak panas.

Jungkook sedang berdiri di hot kitchen, mengamati chef de partie-nya menyiapkan menu dengan chef hat-nya yang tinggi membungkus rambut gondrongnya yang telah dikuncir rapi lalu dilapisi dengan harnet tipis agar tidak mengontaminasi makanan. Dia nampak luar biasa seksi dengan tengkuk dan kening terpapar di udara, tato yang melapisi lengannya namun wajahnya berkerut seperti penderita wasir.

Apakah para head chef memang selalu berwajah sepat?

Entahlah, Taehyung tidak terlalu peduli dengan head chef lain selain tunangannya.

Jungkook bergerak dengan dinamis, efisien. Seluruh anak buahnya bergerak dengan luas; tidak mengambil tempat lebih dari apa yang mereka butuhkan dan nampak seperti puzzle yang tepat. Mereka bekerja dengan seragam, terkadang bertukar tawa dan guyonan ditingkahi suara api dari hot kitchen atau dentang peralatan memasak mereka. Berteriak-teriak merupakan salah satunya—dengan suara keras namun tidak marah. Begitulah cara penghuni kitchen berkomunikasi; berteriak-teriak untuk mengalahkan suara api dan denting peralatan memasak lainnya.

Sudah berkali-kali Taehyung melihat Jungkook memasak, namun selalu ada sensasi berbeda saat dia menyaksikan kekasihnya dalam balutan seragam chef dan mengenakan topi tinggi putih itu, mengayunkan frying pan di atas api yang mendesis keras di hot kitchen.

Bagaimana saat dia melakukan flambe, dia nampak seperti sosok dewa perang muda yang begitu rupawan. Taehyung tidak suka menggunakan frying pan Jungkook; terlalu berat dan membuat dia faham mengapa para chef harus selalu menjaga kondisi fisiknya dan berolahraga secara teratur.

Sungguh. Frying pan mereka seberat barbel yang biasa Taehyung gunakan untuk berolahraga ringan di apartemen—jika tidak malas, yang berarti jarang sekali.

Dia kemudian memberikan frying pan di tangannya ke salah satu anak buahnya lalu berpindah ke yang lainnya. Mengecek hasil potongan sayur salah satu commis-nya, lalu pergi ke butcher untuk mengecek daging bersama Jackson, ke pastry untuk mengecek dessert-dessert cantik mewah yang dipindahkan ke chiller dalam loyang-loyang raksasa yang berkilauan.

Dia nampak seksi sekali.

Taehyung termangu di mejanya, menatap bagaimana kekasihnya bergerak dengan efisien di dapur didampingi Jackson yang nyaris seperti bulan yang mengorbit di sekitarnya. Selalu siap kapan pun Jungkook menemukan kesalahan kecil dalam persiapannya.

”... F&B dan Banquet bagaimana?” tanyanya kemudian, mendorong pintu ruangannya terbuka dan memasukinya bersama Jackson.

Aroma kedua chef muda itu seperti rempah Indonesia yang menusuk namun segar dan membuat Taehyung hangat oleh rasa lapar.

“Sudah siap, Chef.” sahut Jackson mengecek catatan di sakunya lalu meraih pulpen yang terselip di bagian lengan bajunya. “Peralatan kateringnya sudah disiapkan anak Banquet, itu sudah jadi urusan F&B. Piring, sendok dan gelas sudah diangkut naik Steward untuk dipoles selepas jam makan siang tadi. Makanan akan keluar pukul 5 sore dan dihangatkan sebelum jamuan makan dimulai pukul 6 sore.”

Jungkook mengangguk. “Tolong dicek rasa dan kondisinya sebelum keluar, Jack, khususnya eclairs mini-nya karena pastry cream-nya sensitif dan tolong sebelum naik didiamkan di suhu ruangan beberapa saat dulu agar tidak 'berkeringat' di permukaan cokelatnya. Bapak GM tidak suka itu.” Katanya lalu melirik jam tangannya.

“Vanilla croquembouche tower-nya juga tolong dijaga agar tidak rusak; sampaikan ke pastry. Wedding kemarin belum berlangsung setengah acara tapi rasa makanannya sudah tidak karuan,” Jungkook mendesah. “Aku ingin bertemu dengan FBM dulu sebentar setelah ini,”

“Noted, Chef.” Jackson mengangguk, mencegah Jungkook pergi. “Dan aku juga sudah bertemu beliau tadi karena beliau turun ke Kitchen sebelum mengurus FB dan sudah membicarakan semuanya karena kebetulan tadi Chef belum datang. Sekarang beliau sedang menemani mempelai di kamar berhias.”

Jungkook mangut-mangut. “Baiklah, jika memang begitu.” dia melepas topinya lalu menoleh, menemukan Taehyung mengamati mereka berdua seperti seekor kucing di dalam kardus. Jungkook tertawa serak, “Kau bosan?” tanyanya.

“Tidak,” sahut Taehyung seketika. “Seperti menonton Hell's Kitchen dalam VR,”

Jackson tertawa. “Jika kau ingin menonton yang mirip, kau harus ada di sini saat wedding berjalan dan tunanganmu in charge, dia persis seperti Gordon.” katanya dan Jungkook tertawa serak.

“Dia jarang tertawa,” Jackson menambahkan dengan sedikit nada takjub dan menggoda dalam suaranya. “Kehadiranmu pastilah sangat istimewa.”

“Lebih dari sekadar istimewa,” Jungkook menatap langsung ke Taehyung yang tersenyum. “Aku akan menyicipi sampel makanan dulu lalu kita akan pulang, oke?” katanya, menghampiri Taehyung dalam tiga langkah besar lalu mengecup puncak kepalanya sebelum kembali mengenakan topinya dan beranjak.

“Bolehkah aku ke pastry? Aku ingin menonton mereka membuat churros-churros mini itu,” tanya Taehyung dan Jungkook berhenti sejenak dan menatapnya.

Dia berpikir sejenak. “Jangan menganggu, oke? Berdirilah di pojokan. Kau tidak mengenakan safety shoes. Jangan dekat-dekat oven. Pergi saja ke chocolate room, di sana lebih aman dan menyenangkan, ada pastry chef-ku. Jangan lupa cuci tangan sebelum masuk dan jangan sentuh apa pun,”

“Bawel,” kata Taehyung pada punggung Jungkook yang beranjak keluar dan Jackson tertawa tanpa suara.

Jackson melambai kecil padanya yang langsung dibalas Taehyung dengan ceria sebelum bergegas mengekor Jungkook kembali ke kitchen. Mereka langsung meluncur ke hot kitchen, berdiskusi di sebelah kompor yang menyala tanpa sedikit pun terganggu lalu commis-nya menyerahkan sepiring makanan untuk Jungkook yang langsung disendoknya dengan sigap.

Taehyung keluar dari kantor, menatap kekasihnya dan tersenyum saat seorang daily worker melewatinya dengan senampan cheese stick hangat yang beraroma tajam keju yang membuat Taehyung mendesah.

Dia menoleh saat Jungkook menyuap makanannya sedikit lalu merasakannya dengan saksama. “Asin,” katanya dengan alis berkerut dan bagaimana komentar itu membuat commis-nya panik dan meraih sendok.

Jackson melakukan hal yang sama dan mereka berdua menyicipi makanan itu berbarengan. “Ini oke, Chef,” kata Jackson mendecap makanannya tanpa suara.

Jungkook mengerutkan alis. Dia menyendok lagi makanan itu dan menyicipinya namun Taehyung tidak mendengar komentarnya karena dia akhirnya memasuki pastry section yang terasa seperti negeri dongeng.

Aroma vanila dan mentega leleh menggantung rendah di udara. Aroma legit stroberi, jeruk mandarin dan buah-buahan lain juga terasa pekat. Belum lagi aroma berloyang-loyang kulit pastry yang matang merekah dikeluarkan dari oven-oven raksasa di sudut ruangan.

Tempat itu terasa lebih damai dan tenang daripada hot kitchen yang panas dan terburu-buru. Lebih dingin dan terang. Anak-anak pastry nampak sangat cantik dan luwes saat bekerja. Mereka menunduk di atas adonan-adonan dan mendongak saat Taehyung memasuki ruangan. Mereka mengangguk dan tersenyum pada Taehyung.

“Kalian sedang membuat apa?” tanyanya, melongok dari balik tubuh demi chef the partie-nya yang tertawa kecil dari balik maskernya.

“Churros,” sahut perempuan itu menatapnya. “Anda suka churros?”

Taehyung mengangguk, mengamati bagaimana dia menguleni adonan dengan lihai. “Dengan apa benda itu disajikan?” tanyanya.

“Setengah dengan cokelat dan setengahnya lagi dengan cinnamon powder,” sahutnya melambai ke arah mangkuk terisi bubuk cinnamon yang berkilauan. “Pergi saja ke chocolate room, mereka sedang men-temper cokelat untuk dibuat cemilan. CDP-nya sedang di sana,”

Taehyung mengangguk lalu melangkah perlahan agar tidak menyentuh atau merusak apa pun dan membuka pintu ke arah chocolate room yang beraroma pekat kokoa dan susu. Dia bertemu mata dengan CDP Jungkook.

Siapa tadi namanya?

Ah, ya. Seokjin.

“Halo,” sapa pemuda itu dengan ramah dengan alat di tangannya. Dia sedang berdiri di tengah ruangan, berhadapan dengan konter dengan sebaskom cokelat yang beraroma manis memabukkan. “Kau ingin melihat caraku men-temper cokelat?”

Taehyung tersenyum. Senang sekali dengan penyambutan itu dan bagaiman dia bersikap santai pada Taehyung. “Apa itu temper?” tanyanya.

Seokjin menatap cokelat di bawah tangannya yang memegang Spackle knife dan offset spatula dan tersenyum. “Melelehkan coklat secara tepat pada suhu yang diperlukan oleh lemak coklat untuk membentuk kristalisasi atau pembekuan yang sempurna, agar hasilnya mengkilap dan kering.

“Dan cokelat terasa nikmat dan lembut, dapat dipatahkan dengan mudah dan meleleh di lidah dengan sempurna. Jika tidak di-temper, cokelat akan nampak kusam dengan banyak serpih-serpihan putih di permukaannya. Tidak cantik.

“Jika kau mau tahu bedanya, belilah cokelat dari atelier cokelat dan cokelat kemasan di pasaran. Biarkan keduanya di suhu ruangan. Permukaan cokelat kemasan produksi massal akan dipenuhi bintik-bintik putih, namun cokelat yang sudah di-temper akan tetap mulus.”

Taehyung mengamati bagaimana tangan Seokjin yang kurus dan lentik bergerak dengan begitu akrab dengan cairan cokelat di tangannya. Menghamparkannya di atas konter dengan offset spatula-nya, lalu menggunakan Spackle knife-nya untuk membawa adonan itu ke tengah konter lalu kembali menyebarkannya.

“Aku sedang mendinginkan suhu baru lelehnya di 122 derajat Fahrenheit ke suhu 80 derajat Fahrenheit,” kata Seokjin sambil bekerja. “Lalu akan dipanaskan lagi hingga suhu 82 derajat untuk mendapatkan hasil yang sempurna.”

Aroma kokoa hangat membuat Taehyung mengantuk. Dia mengamati tangan Seokjin yang bekerja dengan cekatan, mendinginkan cokelat di atas konter. Mereka bersidiam; Seokjin fokus dengan cokelatnya dan Taehyung fokus menontonnya. Mengamati gerakannya yang seperti pelukis, menghamparkan warna di atas kanvas.

“Sudah berapa lama kau bertunangan dengan Chef?” tanyanya ditingkai suara spatula yang beradu.

“Setahun lebih,” sahut Taehyung sopan dan Seokjin tersenyum.

“Dia bersikap baik padamu?”

Taehyung tertawa. “Sepanjang waktu,”

Seokjin menatapnya. “Syukurlah,” katanya. “Kapan-kapan kita bisa makan bersama jika kau mau? Aku tahu toko cokelat enak di Jakarta,” dia kemudian menambahkan saat melihat ekspersi Taehyung dengan geli. “Tentu saja kau harus mengajak Chef, tunanganku, Namjoon akan sangat senang mendapatkan double date.”

Taehyung menghembuskan napas lega dan tersenyum. “Tentu,” katanya ceria lalu sebelum mereka sempat kembali bicara karena Seokjin sibuk mengembalikan cokelat ke mangkuk besar untuk dicek suhunya, Jungkook melongok ke dalam chocolate room.

“Sudah kuduga kau di sini,” katanya. “Kudengar Seokjin sedang men-temper cokelat, kurasa itu akan jadi sebuah tontonan mengedukasi untukmu.”

Taehyung tersenyum. “Yap,” sahutnya. “Dan aku juga mendapat ajakan double date,”

Jungkook mendengus. “Kau akhirnya menancapkan kukumu pada tunanganku, ya, Kak?” katanya dan Seokjin terkekeh.

“Tidak bisa tidak.” Dia mengendikkan bahu. “Maafkan aku, Sayang.” Dia tersenyum dan nampak sangat indah saat melakukannya.

“Dia orang lama,” kata Jungkook saat mereka keluar dari pintu karyawan ke arah basement parkir saat Taehyung bertanya tentang Seokjin.

“Dia sudah bekerja di sana sebagai pastry chef saat aku masuk ke The Ritz pertama kali sebagai second sous chef dan dia menyaksikan perjuangan karirku meningkat. Jadi kami semacam sahabat, dia sangat mendukung perjuangan karirku hingga tiba di posisi head chef.” Jungkook mengusap buku jemari Taehyung dengan jempolnya.

“Dia nampak hebat dengan pekerjaannya,” puji Taehyung tulus lalu mendesah penuh damba; mengingat aroma pastry section yang luar biasa tadi, “Aku berharap bisa mampir ke kitchen setiap hari; menontonmu marah-marah dalam balutan seragam chef itu, sungguh.”

Jungkook meraih pinggulnya dan meremas pantatnya dengan intim. “Bagaimana jika malam ini aku mengenakan seragamku untuk bercinta, kau suka itu?” bisiknya merunduk mengecup telinga Taehyung.

“Hmmm....,” balas Taehyung dengan mata berkilat. Membayangkan bagaimana panasnya jika chef itu mengerang di bawahnya saat Taehyung menunjukkan kehebatan pinggulnya di atasnya, “Bolehkah kau tetap mengenakannya selama kita bercinta?”

“Apa saja untukmu,” balas Jungkook kemudian membimbing kekasihnya ke pintu penumpang, membukakan pintunya untuk Taehyung yang tertawa terhibur.

Sebelum masuk, dia berbalik menghadap Jungkook yang berdiri mengungkungnya dengan satu lengan di letakkan di atas kap mobil dan satu lengannya di pintu yang terbuka, merangkulkan lengannya di leher Jungkook untuk menciumnya.

Di sana, di parkiran karyawan.

*