The Chef #85
Taehyung membekap mulutnya, menahan diri agar tidak mendesah keras saat Jungkook berjongkok di hadapannya dengan wajah tenggelam ke kedua kakinya yang terbuka; ditahan di sisi-sisi bilik agar tidak terlihat ke luar toilet. Pose seperti seekor ayam panggang yang disajikan di atas piring, membuat kedua lututnya nyeri tapi seluruh sarafnya terlalu sibuk dengan kegiatan Jungkook.
Di luar sana, di urinal, para lelaki sedang berdeham, berbatuk dan bicara dengan satu sama lain. Semuanya normal; hanya toilet lelaki bandara yang ramai dan biasa saja kecuali bahwa di dalam bilik ada pemuda yang sedang duduk di atas toilet dengan pasangannya membenamkan wajah ke selangkangannya.
Sungguh normal.
Jungkook mengangkat wajahnya yang merah padam, rambutnya yang tadi rapi sekarang membentuk tirai magis di kedua sisi wajahnya. Dia menyunggingkan senyuman separonya yang menyilaukan. “Kau yang minta,” katanya tanpa suara, tangannya membelai tubuh Taehyung yang mendamba dengan lembut lalu memijatnya.
Taehyung harus mengigit tangannya agar tidak berteriak oleh sentuhan itu dan mendelik pada Jungkook yang tertawa, terhibur dengan ekspresi Taehyung. Pemuda itu melemparkan kepalanya ke belakang, berusaha kuat agar tidak berteriak saat Jungkook membelai tubuhnya dengan tangan serta lidahnya yang lihai.
Jungkook melirik jam tangannya. “Lima belas menit lagi sebelum boarding, let's make this quick.” Katanya lalu merunduk, kembali memeluk tubuh Taehyung dalam mulutnya dan melakukan manuver sinting yang melibatkan lidah dan gigi hingga Taehyung tercekat; suara desahan lirih lolos dari bibirnya.
Jungkook mendelik padanya, langsung berdiri lalu membekap mulut Taehyung dan mereka diam; berdebar menanti seseorang menyadari apa yang mereka lakukan. Quicky selalu menjadi semacam adrenaline rush bagi mereka—biasanya Jungkook yang ingin dan Taehyung dengan senang hati menolaknya.
Public sex—atau dalam kasus mereka sekarang, blowjob selalu bisa membuat Jungkook yang praktis adalah seorang adrenaline junkie teralihkan pikirannya, lebih fokus dan tenang. Hanya jika permen karet tidak berhasil. Dia suka bermain dengan risiko.
Mereka menunggu dalam diam selama dua menit, dan tidak ada yang curiga.
Jadi Jungkook kembali berjongkok dan menjilat dengan mata terkunci pada Taehyung yang nyaris menangis oleh keahliannya. Taehyung mengulurkan tangannya yang bebas lalu membelitkan rambutnya di jemarinya dan menjambaknya hingga Jungkook menghela napas tajam.
“Coming!” bisik Taehyung, jambakannya di kepala Jungkook menguat hingga chef muda itu meringis namun sama sekali tidak memelankan ritmenya; dia suka melihat Taehyung tersiksa, dia nampak cantik sekali.
Taehyung merasa pening; seluruh saraf dan perasanya terkunci di satu titik. Pada tubuhnya yang sedang dikulum Jungkook dengan lembut, dipijat dengan lidah dan giginya. Dia menahan napas, perutnya terasa mengejang dengan cara yang begitu mendebarkan hingga dia yakin dia akan berteriak.
Maka dia mengigit tangannya hingga nyeri, berusaha agar tidak mengeluarkan suara sama sekali saat tunangannya yang seksi itu bermanuver dengan mulut sialannya.
Sedikit lagi...
Taehyung mulai gila; dia tidak bisa menahannya lagi. Dia menarik rambut Jungkook dengan begitu kuat hingga beberapa helai tercabut dari kulit kepalanya dan chef muda di kakinya tidak nampak keberatan sama sekali.
Sedikit lagi.... Sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit—!
Dan ponsel Jungkook berdering, begitu keras hingga seluruh isi toilet terdiam dengan suara seragam.
“Bangsat!” ludah Jungkook kaget, buru-buru berdiri dan meraih ponselnya. Menatap layar ponsel dengan marah, dia melihat nama kontraktornya. “Halo?” sapanya dengan gusar, menatap Taehyung yang sekarang memijat dirinya sendiri dengan kesal; suasana hati tunangannya tidak akan baik sebelum mendapatkan segelas vodka on the rock atau seks luar biasa.
Dan dari ekspresinya, Jungkook tahu dia harus memberi Taehyung keduanya.
“Saya baru di bandara, satu jam lagi. Ya. Belum boarding,” katanya mengulurkan tangan, meraih tubuh Taehyung dan memijatnya dengan lembut berusaha menghibur tunangannya yang sudah jengkel secara resmi. “Ya, ya. Oke. Sampai ketemu.”
Dia menurunkan ponsel dan membuka mulut untuk bicara saat pengumuman berkumandang; memanggil penumpang Garuda Indonesia tujuan Denpasar, Bali untuk segera menaiki pesawat.
“Maaf,” desah Jungkook dan Taehyung merengek tanpa suara. “Kita lanjutkan di hotel, oke?”
“Oke.” balas Taehyung tanpa suara.
Jungkook mengintip ke luar toilet untuk mengecek keadaan sebelum keluar dan menemukan seorang bapak-bapak berdiri di wastafel sedang mencuci tangan dengan santai. Dia memberi tanda untuk Taehyung menunggu dengan kaki terbuka.
Bapak itu meraih saku kemejanya, bersiul tenang lalu menyisir rambutnya yang tipis—menikmati waktunya berdandan. Menata penampilannya hingga Jungkook ingin sekali berteriak padanya; mereka bisa ketinggalan pesawat!
Kemudian hanya untuk membuat suasana semakin menegangkn siku Taehyung tidak sengaja memencet tombol flush hingga suara air tersiram terdengar nyaring dalam ruangan yang sepi. Jungkook menoleh dengan mata mendelik; kenapa dia malah mengumumkan keberadaan mereka??
Taehyung meringis, “Maaf!” dia berkata tanpa suara. “Kakiku sakit!” tambahnya berbisik terdesak, “Cepat!”
Suara pengumuman terdengar lagi dan Jungkook nyaris menendang pintu ini terbuka dan mengusir bapak itu. Namun saat dia mengintip kembali, pria paruh baya itu sudah lenyap. Hanya butuh beberapa menit sebelum cleaning service masuk dan membersihkan toilet maka dia tidak menyia-nyiakan momentum, Jungkook menyelipkan tubuhnya keluar.
Berdeham keras dan merapikan pakaiannya, satu detik sebelum seorang cleaning service memasuki ruangan. Jungkook mengamati bilik yang mereka gunakan sambil menyuci tangan sebelum berbatuk keras tiga kali; kode mereka jika salah satu keluar dari toilet dan yang lain harus menyusulnya setelah hitungan kesepuluh.
Dia bergegas keluar dari toilet dengan tua tas, berjalan cepat mengeluarkan boarding pass mereka ke arah barisan penumpang yang sudah menipis dan menoleh, menemukan Taehyung berlari menyusulnya dengan wajah merona sambil merapikan pakaiannya dan saat mereka bertemu pandang, keduanya nyengir.
“Hampir saja!” seru Taehyung saat mereka duduk di kursi pesawat mereka dan mendesah panjang. “Tolong, aku nyeri sekali. Besok sebelum kita melakukan quicky, sebaiknya kau mematikan nada dering ponselmu.” Dia mendelik pada ponsel Jungkook—mengutuknya.
“Dan kau sebaiknya memberitahuku lima menit sebelum mulai merengek minta digagahi sehingga aku memiliki waktu untuk bersiap, oke?” balas Jungkook merunduk ke arahnya, berbisik.
Taehyung menjulurkan lidah. “Aku mau vodka on the rock setibanya di hotel.”
“Siap, Your Majesty. Apa lagi?”
“Seks. Yang lama.”
Jungkook menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah dan tersenyum, menyapukan tatapan kurang ajar ke seluruh tubuh Taehyung hingga pemuda itu merinding lalu berkata dengan serak, “Dengan senang hati.”
*