The Chef #90

Taehyung menutup pintu mobil di belakangnya dan mendesah saat udara Ubud menerpa wajahnya. Dia selalu suka saat memandang lembah di hadapannya, melihat Campuhan di kejauhan dan hamparan bukit rendah yang hijau di sekitarnya.

Tanah ini luar biasa sekali dan dengan soft branding yang dijalankan tim PR via sosial media dan website (mewah sekali, Taehyung sendiri terpana melihat betapa indah, canggih dan mulus website restoran Jungkook itu terpampang di layar Mac-nya). Sejauh ini, beberapa rekan chef Jungkook sudah menghubunginya; meminta disiapkan satu kursi dalam soft dan grand opening-nya.

Taehyung suka melihat bagaimana Jungkook nampak bersinar oleh perasaan bahagianya saat menerima telepon-telepon itu.

Sekarang kekasihnya itu sudah melangkah menuju restoran yang sudah berjalan 10%. Beberapa tukang bangunan sedang bekerja dengan giat di bawah sinar matahari, mengerjakan sesuai dengan arahan dari mandor yang melepaskan helmnya untuk mengobrol dengan Jungkook dan Yoongi.

Dia langsung tenggelam dalam pembicaraan teknis tentang bangunan dan lain-lain. Mengangguk-angguk dengan man-bun berantakannya yang seksi dan wajahnya yang belum dicukur—permintaan Taehyung mumpung mereka cuti Jumat ini.

Taehyung tidak tertarik dengan tumpukan semen, bata dan pasir jadi dia berjalan-jalan ke sekitar lokasi yang terasa akrab walaupun Taehyung praktis adalah orang asing. Beberapa orang yang lewat tersenyum ramah pada Taehyung yang buru-buru dibalasnya dengan senyuman kikuk lebih karena kaget menerima keramahan dari orang asing. Menikmati suasana Ubud yang asri dan sangat meneduhkan; ada pasar tradisional beberapa kilometer dari restoran Jungkook.

Maka dia berteriak meminta izin pada Jungkook lalu melangkah ke sana tanpa menunggu jawaban Jungkook. Dia bertemu dengan segelintir pedagang yang masih buka di pasar yang mulai sepi, melihat-lihat buah yang kisut oleh sinar matahari dan kue tradisional Bali yang dibelinya dengan rasa penasaran. Dia membeli rengginang dan beberapa panganan lain yang menarik matanya, memasukannya ke dalam tasnya.

Jalanan cukup ramai tapi tidak seperti jalanan Jakarta yang penuh sesak. Satu-dua kendaraan melintas di jalan yang besar dan ramah; anak-anak bersepeda, ibu-ibu mengobrol di warung. Suasana yang menyenangkan sekali dengan matahari yang bersinar di langit biru permen. Taehyung menikmati jalanan yang rindang oleh pohon beringin raksasa yang meneduhkan sambil mengudap kue yang dibelinya di pasar.

Taehyung tidak benar-benar memikirkan ke mana kakinya melangkah karena dia sudah menyimpan lokasi restoran Jungkook di maps agar mudah menemukan jalan kembali—semuanya sudah menenangkan berkat Google Maps. Dia menyusuri jalanan yang mulai padat dan menemukan gedung yang membuatnya tersenyum lebar.

Museum Puri Lukisan.

Menghabiskan camilan yang sedang dikunyahnya, Taehyung bergegas menghampiri bangunan dengan gaya kental Bali itu dengan dua candi bentar* raksasa mengapit pintu masuknya dan tersenyum lebar.

*

Candi Bentar: pintu masuk bangunan khas Bali, mengapit gerbang masuk. Umumnya pada Pura.